Senin, 02 April 2012

"Berwudhu Tanpa Melepas Kerudung"

     "Bagaimanakah cara ber"wudhu" bagi wanita yang memakai "kerudung" (berjilbab)?"



W "Wudhu" telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 6: 

"H Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur."
     
1.   Wamsahuu biruusikum (sapulah kepalamu), para ulama berbeda pandangan dalam mengartikan imsah:
a.     Bisa berarti menyapu seluruh kepala sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid yang diriwayatkan oleh Jamaah: Nabi SAW. menyapu kepala dengan kedua tangannya, lalu beliau menggerakkan kedua tangannya dari muka hingga ke belakang. Maksudnya beliau SAW. menyapukan kedua tangannya yang telah dilekatkan ke kepala mulai dari bagian depan kepalanya, lalu beliau menarik kedua tangannya ke arah pundak, kemudian ditarik kembali hingga ke tempat permulaan memulai sapuan kepala.

b.  Bisa berarti menyapu bagian surban saja sebagaimana dalam hadits Amar bin Umaiyah, "Saya melihat Rasulullah SAW. menyapu surban dan kedua sepatunya – ketika ber"wudhu"." (HR Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah). Dalam riwayat Bilal, Nabi SAW. bersabda, "Sapulah kedua sepatumu dan khimar–"kerudung" atau penutup kepala." (HR Ahmad)

            c. Bisa berarti menyapu ubun-ubun serta surban sebagaimana hadits Mughiroh bin Syubah, bahwa Nabi SAW. ber"wudhu" lalu beliau menyapu ubun-ubun, surbannya, dan demikian pula kedua sepatunya. (HR Muslim)
            
 D  Dari penjelasan ini, muslimah yang memakai "kerudung" bisa saja mengusap kepalanya/ubun-ubunnya, lalu mengusap juga "kerudung"nya ketika ber"wudhu" di luar rumah.


D   Hadits lain ada yang menjelaskan bahwasanya Ummu Salamah ra. dulu pernah ber"wudhu" dengan tetap memakai "kerudung"nya dan beliau mengusap "kerudung"nya. Ummu Salamah adalah istri dari Rasulullah SAW., maka apakah Ummu Salamah akan melakukannya (mengusap "kerudung") tanpa izin dari Nabi  SAW.? Apabila mengusap "kerudung" ketika ber"wudhu" tidak diperbolehkan, tentunya Rasulullah  SAW. akan melarang Ummu Salamah melakukannya.

Ib  Ibnu Mundzir rahimahumullah dalam Al Mughni (1/132) mengatakan, “Adapun kain penutup kepala wanita ("kerudung") maka boleh mengusapnya karena Ummu Salamah sering mengusap "kerudung"nya.”
     
      Syaikh Al-Utsaimin rahimahumullah berkata, “(Pendapat) yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad, bahwasanya seorang wanita mengusap "kerudung"nya jika menutupi hingga di bawah lehernya, karena mengusap semacam ini terdapat contoh dari sebagian istri-istri para sahabat ra. Bagaimana pun, jika hal tersebut (membuka "kerudung") menyulitkan, baik karena udara yang amat dingin atau sulit untuk melepas "kerudung" dan memakainya lagi, maka bertoleransi dalam hal seperti ini tidaklah mengapa. Jika tidak, maka yang lebih utama adalah mengusap kepala secara langsung.”

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumullah mengatakan, “Adapun jika tidak ada kebutuhan akan hal tersebut (ber"wudhu" dengan tetap memakai "kerudung" -pen) maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama (yaitu boleh ber"wudhu" dengan tetap memakai "kerudung" ataukah harus melepas "kerudung" -pen).”

     Dengan demikian, jika membuka "kerudung" itu menyulitkan misalnya karena udara yang amat dingin, "kerudung" sulit untuk dilepas dan sulit untuk dipakai kembali, dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membuka "kerudung" karena dikhawatirkan akan terlihat auratnya oleh orang lain, atau udzur yang lain, maka tidaklah mengapa untuk tidak membuka "kerudung" ketika ber"wudhu". Namun, jika memungkinkan untuk membuka "kerudung", maka yang lebih utama adalah membukanya sehingga dapat mengusap kepalanya secara langsung.

Re Referensi:
1.  1. www.ummi-online.com/berita-55-berwudhu-tanpa-melepas-kerudun...
12 2. remajaislam.com/.../49-mengusap-jilbab-ketika-berwudhu-bolehkah....



1.


Minggu, 01 April 2012

"Keutamaan Puasa Hari Senin dan Kamis"

"Puasa Senin-Kamis" adalah jenis "puasa" yang sering diamalkan Nabi Muhammad SAW., para sahabatnya, dan tentu menjadi tradisi bagi umatnya". 
Namun, tidak semua orang tahu akan jenis amalan sunah ini. Meskipun tahu, tapi tidak semua menyadari keajaiban-keajaiban yang ada di balik "puasa Senin-Kamis". Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW. selalu menunggu-nunggu kehadiran hari "Senin" dan "Kamis", untuk melaksanakan "puasa".

“Rasulullah saw sering berpuasa pada setiap bulannya (minggu pertama) pada hari "Kamis" dan hari "Senin". Pada minggu kedua ber"puasa" hari "Senin".” (HR An-Nasa`I dari Hafsah ra)

Diakui atau tidak, realitas membuktikan bahwa "puasa Senin-Kamis" telah sukses "mengubah" kondisi-kondisi manusia dari ketidakbaikan kepada kebaikan yang diharapkan. "Puasa Senin-Kamis" telah mengubah kepribadian yang "kumuh" menjadi kepribadian yang "cantik dan menawan."

Semua ini tentu berawal dari segala keistimewaan serta kelebihan, maupun manfaat yang begitu dahsyat yang terkandung dalam "puasa Senin-Kamis" bagi kehidupan manusia.

Supaya lebih yakin melaksanakan "puasa Senin-Kamis",  berikut ini ada beberapa hadits shohih yang menjadi dasar atau dalil melakukan "puasa Senin-Kamis".

1. Dari Abu Qotadah Al Anshori ra., Rasulullah SAW., pernah ditanya mengenai "puasa" pada hari "Senin", lantas beliau menjawab,
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya :
Dari Abu Qotadah r.a,  sesungguhnya Rosululullah SAW ditanya tentang "puasa Senin".  Maka beliau menjawab : "Hari "Senin" adalah hari lahirku,  hari aku mulai diutus atau hari mulai diturunkannya wahyu". (HR Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW., bersabda,
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya :
Dari Abi Hurairoh r.a,  dari Rosululullah SAW. bersabda : "Seluruh amal disetor pada hari "Senin" dan "Kamis",  maka aku lebih menyukai saat setor amal tersebut dalam keadaan ber"puasa" (HR Turmuudzi).

3. Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
Artinya :
Dari 'Aisyah r.a berkata, Rasulullah SAW. biasa menaruh pilihan ber"puasa" pada hari "Senin" dan "Kamis". (HR Turmudzi).

Dengan ber"puasa" di hari "Senin" dan "Kamis", secara tidak langsung kita melakukan maintenance untuk diri kita secara rutin baik dari segi spiritual maupun jasmani.

Lalu, apakah keutamaan "puasa" yang berkelanjutan seperti "puasa Senin-Kamis" ini ? Keutamaan yang pertama ialah karena "puasa Senin-Kamis" melatih kita secara teratur untuk menghindarkan diri dari pekerjaan dosa. Kalau ada latihan efektif untuk 'anger management' atau latihan kesabaran, maka itulah "puasa".

Karena itu, cocoklah jika dikatakan bahwa "puasa" adalah zakat jiwa, dimana pada saat "puasa", kita membuang perangai buruk. Sehingga sesudah "puasa", emosi dan spiritual kita menjadi lebih bersih.

''Segala sesuatu itu ada zakatnya, sedang zakat jiwa itu adalah ber"puasa". Dan "puasa" itu separuh kesabaran''.(HR. Ibnu Majah).

Dengan menghilangnya perangai buruk kita, minimal seminggu dua kali, maka bisa juga dikatakan bahwa ''Puasa" adalah benteng yang membentengi seseorang dari api neraka yang membara''.{HR.Ahmad dan Baihaqi}.

Keutamaan yang kedua ialah karena "puasa Senin-Kamis" bisa meningkatkan amalan kita. Biasanya, seseorang yang kekenyangan dan keenakan cenderung malas beribadah. "Puasa" menjadikan kita lebih produktif dalam beribadah karena selain kita tidak lagi dalam posisi keenakan, orang yang ber"puasa" juga cenderung ingin beribadah ekstra. Disamping itu, "puasa" dapat  melembutkan  hati. Ini  karena dengan "puasa", kita cenderung lebih berempati dengan orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Karena itu, "puasa" dapat  menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan lebih bertakwa. Tidaklah salah kalau dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa "puasa" diperintahkan pada kita dan orang-orang sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertakwa (Al-Baqarah 183).
  
Selain dari keuntungan dari segi emosional spiritual seperti yang dijelaskan diatas, "puasa" juga memiliki keutamaan dari segi kesehatan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini sudah ada banyak riset yang menyimpulkan bahwa "puasa" yang teratur itu baik untuk kesehatan. Manfaat kesehatan dari "puasa" yang paling populer adalah "puasa" dapat dikatakan sebagai cara ampuh untuk membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita. Dalam Islam dan bidang kedokteran, dianjurkan untuk tidak makan berlebihan, karena makanan yang berlebih dan tidak sehat bisa menimbulkan penyakit. Lihat saja masyarakat di negara makmur yang makanannya berlimpah. Selain tingkat obesitas tinggi, masyarakat negara-negara tersebut banyak yang mengidap diabetes dan jantung yang notabene sering dijuluki sebagai penyakit orang kaya. Dengan "puasa Senin-Kamis", paling tidak, dalam dua kali seminggu, kita membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita.
Manfaat lain dari "puasa" ditinjau dari segi kesehatan yang juga banyak dipopulerkan adalah fungsi pembersihan dan penyembuhan. Dengan istirahatnya sistem pencernaan kita selama ber"puasa", maka memungkinkan sistem-sistem lain di tubuh kita untuk bekerja dengan lebih baik, misalnya sistem imunitas. Inilah sebabnya mengapa orang yang sakit atau binatang yang terluka suka menolak makan. Andaikata kita tidak sedang sakit pun, polisi imunitas bekerja keras saat kita ber"puasa". Jika polisi-polisi ini mendeteksi hal-hal yang kira-kira nanti dapat membuat kita sakit atau hal-hal abnormal, seperti tumbuhnya kista atau tumor, maka pada hari kita ber"puasa", mereka bisa memberantasnya.

Sistem detoksifikasi tubuh juga bekerja lebih lancar jika kita tidak menerima asupan lagi. Disini, mungkin kita dapat membayangkan sistem pembersihan tubuh kita seperti pegawai yang kewalahan mengerjakan tugasnya kalau tugas datang bertubi-tubi. Akibatnya, fungsi pembersihan tubuh tidak terkerjakan dengan maksimal dan sangat mungkin luput mengeliminasi beberapa zat-zat yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan berhentinya asupan, maka tugas dari sistem pembersihan tubuh kita menjadi lebih manageable sehingga kinerjanya menjadi lebih maksimal.

Sistem peremajaan juga bekerja dengan maksimal saat kita "puasa" karena Allah mendesain tubuh kita untuk mengeluarkan hormon yang erat kaitannya dengan anti-aging kala kita ber"puasa". Karena itu tidaklah mengherankan jika pada suatu eksperimen ditemukan bahwa cacing yang ber"puasa" bisa hidup 19 generasi lebih lama dibanding cacing yang tidak ber"puasa".

Kalau ada obat anti aging yang ampuh, itulah "puasa". Bisa jadi "puasa Senin-Kamis" secara teratur nantinya menjadikan kita awet muda dan bebas penyakit di hari tua. Lalu bagaimana dengan orang yang sering mengeluhkan tidak dapat bekerja karena kelaparan dan lemas pada saat "puasa" seperti yang terlihat jelas di Indonesia dimana kinerja orang menjadi turun saat ber"puasa"? Apabila hal ini terjadi, bisa jadi kelaparan itu terjadi karena kita tidak bekerja dengan baik atau kurang konsentrasi.

Yang jelas, "puasa" tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap otak dan daya pikir kita. Malahan, sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa "puasa" malah meningkatkan daya pikir kita.

Masih banyak lagi manfaat kesehatan dari "puasa", misalnya "puasa" dapat menghindari atau mengurangi diabetes dan penyakit vascular seperti jantung.

Yang jelas, kala Sang Pencipta kita mewajibkan kita "puasa" minimum setahun sekali selama Ramadhan , Dia tahu bahwa "puasa" itu baik bagi kita.

Bayangkan dahsyatnya "puasa" kala kita bisa merutinkannya seminggu dua kali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Walaupun begitu, perlu diingat dan digarisbawahi bahwa semua amal tergantung niat. Jika niat "puasa" kita hanyalah dari segi kesehatan, maka itulah yang kita dapat. Namun kala niat "puasa" kita adalah dalam rangka meningkatkan kualitas spiritualitas kita dan mendekatkan diri pada Allah maka tidak hanya kita mendapat fisik yang prima, namun juga ridha Allah dan keselamatan dunia akhirat.

Referensi:
1. 10107369.blog.unikom.ac.id/keistimewaan-puasa.1t7
2. yugaz.mywapblog.com/keistimewaan-dari-puasa-senin-kamis.xhtml

Sabtu, 31 Maret 2012

"Keutamaan Membaca Surat At-Tabaarak"

"Surat At Tabaarak"  adalah nama lain dari "Surat" Al-Mulk (Surat ke-67 dari Al-Qur'an), yang berarti kerajaan." 


Dinamakan "Surat At Tabaarak" diambil dari kata "Tabaarak" yang terdapat pada ayat pertama  "Surat" ini  yang berarti Maha Suci. "Surat" ini  tergolong "Surat" Makkiyah, terdiri atas 30 ayat.

Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Muhammad dan Ibnu Ja'far, keduanya berkata: Telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Qatadah dari 'Abbas al Jusyami dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW., beliau bersabda:

"Sesungguhnya ada satu "Surat" yang berjumlah tiga puluh ayat yang memberikan syafa'at kepada yang menghafalkannya sampai ia diampuni, itu adalah Surat "At Tabaarak" (Al Mulk)."
Hadits di atas diriwayatkan oleh penyusun kitab Sunan yang empat dari hadits Syu'bah. Dan Imam at Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab ash Shalah bab Ayat AyatAl Qur'an (II/57, no. 1400); at Tirmidzi dalam Sunannya, kitab Keutamaan Al Qur'an bab Keutamaan "Surat" Al Mulk (V/151, no. 2890); an Nasa-i dalam Sunannya, kitab 'Amalul Yaum wal Lailah bab Keutamaan Membaca Surat at Tabaarak (al Mulk), hal. 433, no. 310; Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Adab, bab Pahala al Qur'an (II/1244, no. 3786), Ahmad dalam Musnad (II/299), al Hakim dalam al Mustadrak (II/398), dan beliau berkata, "Hadits ini sanadnya shahih hanya saja Imam al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya."Dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi).

Imam ath Thabrani dan al Hafizh adh Dhiya' al Maqdisi meriwayatkan dari jalan Salam bin Miskin dari Tsabit dari Anas, ia berkata, "Rasulullah SAW., bersabda,

"Ada satu "Surat" dalam Al Qur'an yang akan berdebat membela yang menghafalkannya sehingga akan bisa memasukkannya ke dalam Surga, yaitu "Surat At Tabaarak" (al Mulk)."

Hadits ini disebutkan oleh Imam as Suyuthi dalam ad Durrul Mantsur (VI/246), al Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id (VII/1231) dari Anas bin Malik. Beliau berkata, "Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam al Mu'jamush Shaghiir dan al Mu'jamul Ausath dan para perawinya adalah para perawi shahih.").
Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah SAW. bersabda, "Surat Tabaarak" (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur." (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na'im, Hadis di atas sahih).
Dari Ibnu Abbas r.a berkata : Seorang laki-laki mendirikan kemah diatas kuburan yang tidak disadarinya. Lalu ia mendengar suara manusia tengah membaca "Surat" Al-Mulk / "At-Tabaarak" hingga selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW. dan menceritakan kejadiannya “Wahai Rasulullah saya mendirikan kemah di atas sebuah kuburan, tapi saya tidak menyadari kalau itu adalah kuburan. Lalu saya mendengar suara seseorang tengah membaca "Surat" Al-Mulk hingga selesai. Rasulullah saw. bersabda “Itu adalah penghalang yang akan menyelamatkan pemiliknya dari azab kubur.”
Salah satu hadist dalam kitab Riyadlus Shalihin:
”Barang siapa membaca tiga puluh ayat "Surat At-Tabaarak", maka ia akan mendapatkan syafaat, sehingga diampunilah dosa-dosanya.”


Salah satu keterangan dalam Kitab Ruhul Ma’ani menceritakan, satu hari Rasulullah bersama para sahabat melakukan ziarah di makam para syuhada. Di tengah-tengah ziarah, Umar bin Khathab mendengar suara seseorang yang sedang membaca sebuah "Surat". Sahabat Umar pun berusaha mencermati bacaan itu. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahwa "Surat" yang didengarnya adalah "Surat At-Tabaarak". Beliau lantas mencari asal suara itu. Alangkah terkejutnya beliau saat tahu bahwa suara itu ternyata berasal dari balik makam seorang sahabat yang telah lama meninggal. Sungguh, ini hal yang aneh bagi sahabat Umar. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mati dan dikubur sekian lama masih bisa melantunkan ayat-ayat al-Qur’an di liang kuburnya? Umar bin Khathab pun menemui Rasulullah, menyampaikan keanehan yang baru saja dialaminya. Mendengar penuturan sahabat Umar, Rasulullah SAW. tersenyum. Beliau menerangkan, semasa hidupnya sahabat tersebut selalu istiqomah membaca "At-Tabaarak" setiap hari. Allah pun meridhai dan memberinya kemurahan untuk terus istiqamah hingga di alam kubur.
Referensi:
1. id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Mulk
2. saga-islamicnet.blogspot.com › kajian
3. id.shvoong.com/.../1967070-keutamaan-beberapa-surat-dan-ayat/
4. tarisya-tarisya.blogspot.com/p/keutamaan-surat-al-mulk.html 
5. ulfatkhan.wordpress.com/2009/11/21/motivator-2/ 

Selasa, 27 Maret 2012

"Pengertian dan Pengamanan Kas"

  "Kas" adalah salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Semakin besar jumlah "Kas" yang ada di dalam perusahaan menyebabkan semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan yang bersangkutan".


Ini berarti bahwa perusahaan mempunyai resiko yang kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya. Tetapi ini tidak berarti bahwa perusahaan harus berusaha untuk mempertahankan persediaan "Kas" yang besar, karena semakin besar "Kas" berarti semakin banyak uang yang menganggur, sehingga akan memperkecil kesempatan perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Sebaliknya apabila perusahaan hanya mengejar keuntungan saja, maka perusahaan cenderung berusaha agar semua persediaan "Kas"nya menjadi aset yang produktif, sehingga hal tersebut akan menempatkan perusahaan itu dalam keadaan yang tidak likuid apabila sewaktu-waktu ada kewajiban yang harus segera dibayar.

PENGERTIAN "KAS".

"Pengertian" "Kas"  sendiri dalam arti sempit adalah seluruh uang tunai baik kertas maupun logam yang ada di perusahaan (cash on hand) yang masih berlaku sebagai alat pembayar yang sah. "Pengertian""Kas"  dalam arti luas adalah selain uang tunai yang ada, "Kas"  juga meliputi saldo simpanan di Bank yang dapat dengan mudah/segera dapat dicairkan, seperti rekening simpanan dalam bentuk Giro, Tabungan dan lain-lain. 

Sedangkan menurut Standar Akuntansi Pemerintah,  "Pengertian" "Kas" adalah uang tunai dan saldo simpanan di Bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah.

Ciri-ciri "Kas" adalah dapat digunakan segera sebagai alat bayar sebesar nilai nominalnya, sedangkan alat bayar yang tidak dapat digunakan segera sebagai alat bayar dan tidak sesuai dengan nilai nominalnya tidak dapat digolongkan sebagai "Kas", seperti : Cek mundur, deposito berjangka, surat berharga dan lain-lain.

Sedangkan Fungsi "Kas" dalam suatu perusahaan sangat penting, karena hampir setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan selalu berkaitan dengan "Kas". Maka tanpa "Kas" perusahaan tidak akan berjalan  dengan lancar.

Pengelolaan "Kas" adalah teknis-teknis bagaimana menata kerjakan "Kas" supaya selalu dalam keadaan mencukupi, dalam arti tidak kekurangan sehingga kelancaran pembayaran kewajiban finansial terjamin, serta tidak berkelebihan yang akan mengakibatkan terjadinya dana yang menganggur (idle money).

Sedangkan tujuan pengelolaan "Kas" adalah:
1. Perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam melakukan pembayaran.
2. Untuk menghindari terjadinya "Kas" yang akan mengakibatkan terjadinya dana yang menganggur (idle money).


PENGAMANAN "KAS"


Untuk mencegah terjadinya penyalah-gunaan sisa "Kas" perusahaan yang belum disetorkan ke Bank, perlu diatur pengamanannya sebagai berikut:


1. Sisa "Kas" perusahaan pada akhir hari harus dibuatkan perincian "Kas" yang dibuat oleh "Kas"ir dan harus telah diperiksa kebenarannya oleh manajer perusahaan.


2. Sisa "Kas" akhir hari harus disimpan dalam peti besi (brandkast).


3. Peti besi (brandkast) harus menggunakan 2 kunci, 1 dipegang "Kas"ir dan yang 1 dipegang Pembuku.


4. Duplikat kedua kunci tersebut dimasukkan dalam sampul tertutup dipegang oleh Manajer perusahaan.


5. Setiap membuka peti besi harus dilakukan bersama oleh kedua orang pemegang kunci ("Kas"ir dan Pembuku).


6. Pengambilan dan penyetoran "Kas" dari dan ke bank seyogyanya dilakukan oleh dua orang petugas.


7. Penanda-tanganan untuk pengambilan dana dari Bank harus sesuai dengan specimen (kartu contoh tanda-tangan) dan dilakukan oleh yang berhak. (Manajer perusahaan diserti 2 orang petugas).
Referensi:
1. Pedoman Teknis Pengelolaan "Kas"  UPK - PNPM Perkotaan - Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Cipta Karya.
2.  e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd.../view&id=234...
3. Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintah - Nomor 2 - Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah. 

Minggu, 25 Maret 2012

"Allah Maha Pengampun"

"Allah" itu "Maha Pengampun" sebanyak apa pun dosa kita. Layanan "ampun"an dari "Allah" terbuka 24 jam, tidak peduli siang ataupun malam".


Salah satu sifat "Allah" dalam Asmaul Husna adalah "Maha Pengampun" --- Al-Ghaffur. "Allah" itu "Maha Pengampun" sebanyak apa pun dosa kita. Apabila kita berbuat salah terus menerus kepada orang lain, lalu kita datang dengan maksud ingin meminta maaf, kemungkinan besar orang tidak mau memaafkan. Apalagi bila kita sudah berulangkali melakukan kesalahan itu. Namun "Allah" tidak, seberapa pun luasnya lautan dosa hamba-Nya yang bertaubat memohon "ampun"an.

Layanan "ampun"an dari "Allah" selalu terbuka 24 jam, tidak peduli siang ataupun malam, tidak memerlukan perantara, tidak ada istilah tutup untuk sementara, apalagi cuti nasional. Sangat senang dengan keluhan dan permintaan "ampun"an dari hamba-hamba-Mya. Gratis --- Berbeda dengan layanan manusia yang mengenal istilah tutup sementara, istirahat, dan terbatas dalam memberikan servicenya pada manusia.

Sebuah Hadits Qudsi, menjelaskan: Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ary ra., dari Nabi SAW., beliau bersabda: "Sesungguhnya "Allah" Ta'ala itu membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan "Allah" membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat."

Panjangnya kesempatan untuk bertaubat bagi orang yang berbuat dosa adalah sampai matahari terbit dari barat, artinya sampai hari Kiamat. Dan sebelum ajal sampai di tenggorokan atau meninggal. Artinya pintu taubat itu senantiasa terbuka, tidak mengenal waktu. Siang ataupun malam, sore ataupun pagi. Kapan pun dimana pun. Kalau kita mengetahui  dan percaya betapa "Maha Pengampun"nya "Allah" , maka tidak ada istilah putus asa dalam kehidupan ini.

Hadits Riwayat Imam Tirmidzi dan ia berkata (ini) Hadits Hasan Sahih, dari Anas ra. telah berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: 'Telah berfirman "Allah" SWT., 'Wahai Anak Adam! Selagi engkau meminta dan berharap dari-Ku, maka Aku akan "ampun"i dosa-dosa yang sudah terlanjur darimu dan tidak Aku pedulikan lagi. Wahai Anak Adam! Walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian engkau minta "ampun" kepada-Ku, niscaya Aku beri "ampun" padamu. Wahai Anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepadat bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku memberimu "ampun"an sepenuh bumi pula."

"Allah"   sangat sayang kepada kita, hamba-Nya. Bahkan "Allah" sayang pada kita jauh melebihi rasa sayang orangtua kita pada kita serta sayang kita terhadap diri kita sendiri. Maka adakah rasa sedih dan putus asa agi hamba yang memiliki Tuhan sepengasih ini?

"Allah" SWT. berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 74:
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada "Allah" dan memohon "ampun" kepada-Nya? Padahal "Allah Maha Pengampun" lagi "Maha" Penyayang.”

"Allah" SWT. juga berfirman dalam Surat Al-Zumar Ayat 53:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat "Allah" Sesungguhnya "Allah" meng"ampun"i dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang "Maha Pengampun" lagi "Maha" Penyayang.”

 "Allah" SWT adalah dzat yang "Maha Pengampun" kepada Hamba-Nya yang benar-benar ingin bertaubat. Tidak ada manusia yang tidak punya dosa, karena manusia selalu dihinggapi dosa. Dan manusia yang baik bukanlah manusia yang tanpa dosa, tetapi manusia yang apabila dia melakukan dosa, dia menyadari kesalahan dan bertaubat kepada "Allah" Oleh karena itu sebelum terlambat, marilah kita memohon "ampun" kepada"Allah" , sering-seringlah beristighfar. Mudah-mudahan semua dosa kita bisa di"ampun"i oleh "Allah" SWT. Amien Ya Robbal Alamin........
Referensi: 
1. "Orang Berdosa Rindukan Surga". Oleh Syailendra Putra.
2. www.dudung.net/artikel-islami/"allah"-"maha"-"pengampun".html
3. sites.google.com/site/sunudata/pengetahuan/tuhan-"maha"-"pengampun"

Sabtu, 24 Maret 2012

"Taubat Untuk Menggapai Surga"

"Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail."


Apakah orang yang berdosa berhak memasuki "Surga"? Jelas, berhak! Namun, sebelum memasuki "Surga", diri orang berdosa harus terlebih dahulu dicuci. Dicuci dengan apa? Dengan "Taubatun" Nashuha atau "Taubat" sebenarnya. Allah telah menjamin dalam Al-Qur'an akan memberikan "Surga" dan kemuliaan bagi orang yang ber"Taubat" dan kembali ke jalan Allah.

Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail. Artinya, selagi kita masih diberi nafas dalam kehidupan ini, pintu "Taubat" masih dibuka oleh Allah.

Jadi, untuk dapat menggapai "Surga", seseorang harus ber"Taubat" kepada Allah atas dosa-dosanya dan kembali ke jalan Allah. Serta dengan semangat berusaha untuk memiliki amalan unggulan yang dilaksanakan dengan kontinyu.

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.

"Salah Satu Kisah Hidup Ahli Surga"

"Salah satu kunci yang membuat Sahabat Nabi Muhammad SAW. sebagai "Ahli Surga" adalah mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam."


Pada suatu ketika, pada zaman  Rasulullah  SAW. ketika  sedang  berkumpul dengan  para  sahabat, lewatlah  seorang sahabat lain. Kemudian Rasulullah SAW. segera berkata kepada para sahabatnya yang sedang mengelilinginya, "Dia (maksudnya yang baru lewat itu) adalah "Ahli Surga". Lalu ada seorang sahabat lain yang penasaran, apa gerangan amal istimewa sahabat itu sampai-sampai Rasulullah menyebutkan bahwa dia adalah "Ahli Surga".

Maka berangkatlah sahabat yang ingin tahu tersebut ke rumah sahabat yang dikatakan sebagai "Ahli Surga". Supaya penyamarannya tidak terbongkar dia membuat alasan kepada tuan rumah. dikatakannya bahwa dia sedang berselisih paham dengan keluarganya, dan untuk itu bersumpah tidak bertegur sapa selama 3 hari dengan sang ayah. Sahabat yang disebut "Ahli Surga" itupun dengan senang hati menerima kedatangannya dan segera memperlakukan dia sebagai tamu yang harus dihormati sebagaimana mestinya.

Misi pun berjalan. Sang sahabat segera mengadakan aksi intelegennya terhadap sahabat "Ahli Surga". Semua perilaku "Ahli Surga" tersebut diamati sampai yang sekecil-kecilnya. Semua ibadahnya baik siang maupun malam, tak terkecuali ketika sedang berdagang di pasar di siang hari maupun malam. Tidak ada yang luput dari pengamatannya. Atas rasa penasarannya apakah amalan istimewa yang dilakukan sahabat "Ahli Surga" sehingga Rasulullah memberinya gelar "Ahli Surga".

Namun, sampai hari ketiga sahabat yang menyeidiki sahabat "Ahli Surga" belum berhasil menemukan amalan apa yang istimewa pada diri "Ahli Surga" ini. Dalam pandangannya, sahabat "Ahli Surga" ini tidak memiliki amalan istimewa tertentu. Ibadahnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Malah dia kadang melihat "Ahli Surga" ini tidur sampai Subuh dan tidak melaksanakan Tahajud. Malah, menurut sang sahabat, rasanya banyak sahabat yang lebih baik ibadahnya dari segi kuantitas dari pada "Ahli Surga" ini.

Pada hari ketiga, sahabat ini buka kartu kepada tuan rumah. Dikatakannya, bahwa dia sebenarnya tidak saling berjauh-jauhan dengan orang tuanya, tetapi hanya ingin menyelidi sahabat tersebut. Namun, ketika dia bertanya apakah amalan unggulan yang dimilikinya, dia menjawab tidak ada. Lalu sang sahabat yang kecewa karena berharap tahu tersebut segera pamit ingin pulang. Tapi, baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah sahabat "Ahli Surga", sahabat "Ahli Surga" memanggil. "Tunggu dulu", kata sahabat "Ahli Surga". "Memang aku tidak mempunyai amalan yang istimewa yang membuatku berbeda dengan sahabat-sahabat yang lain. Namun, aku mempunyai satu kebiasaan. Setiap malam menjelang tidur aku tak pernah mengingat-ingat kesalahan kaum muslimin yang lainnya. Aku memaafkan dan mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan mereka padaku. Aku tak pernah menyimpan dendam kepada saudara-saudara muslim."

Tercenganglah sahabat ini mendengar ungkapan tersebut. Ini dia jawabannya yang selama ini membuat dia penasaran. Ternyata inilah kunci yang membuat sahabat itu dikategorikan sebagai "Ahli Surga". Hanya dengan mengikhlaskan dan tidak menyimpan dendam. Sederhana, namun ini hal yang sulit. Coba bayangkan saja, siapa yang gampang berlapang dada dan memaafkan ketika ada orang lain menyakitimya? Bukan hal yang mudah memaafkan orang yang sudah mendzalimi kita begitu saja. Namun inilah yang menjadi amal unggulan sahabat tersebut. Dan itu juga yang mengantarkannya menjadi "Ahli Surga".

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.


MusicPlaylistView Profile