Tampilkan postingan dengan label KEKASIH ALLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEKASIH ALLAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2018

TAHAPAN MENUJU NIKMATNYA TILAWAH (MEMBACA AL-QUR'AN)

Ada 4 tahapan untuk menuju nikmatnya Tilawah (Membaca Al-Qur'an), yaitu:

1. DIPAKSA.
Paksakan diri untuk terus bisa Tilawah tiap hari, suka atau tidak, ringan ataupun berat, cepat atau lambat asal jangan terlewat. Terus paksakan diri.

2. KEBIASAAN
Beberapa  bentuk paksaan akan berubah menjadi kebiasaan. Kita akan merasa aneh jika tidak Tilawah sehari saja.

3. KEBUTUHAN
Kebiasaan yang terus dilakukan akan berubah menjadi kebutuhan. Pada tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta Tilawah, atau merasa rugi jika tidak bisa Tilawah.

4. KENIKMATAN
Pada tahap ini Tilawah sudah menjadi 'candu'. Tilawah berlama-lama adalah 'kenikmatan'. Sedangkan ketika terlewat tidak bisa Tilawah akan membuat diri resah.

Yang perlu kita lakukan adalah 'istiqomah dan mengajak memotivasi diri dan saudara-saudara lainnya untuk terus semangat dalam Tilawah agar mereka dapat merasakan nikmatnya berTilawah.

Yang perlu diingat bahwa kebaikan itu seperti pantulan bola, semakin semangat kita memangulkannya kepada yang lain, maka akan semakin kencang semangat yang akan kita terima.

Allah berfirman dalam Surat Shaad (38), ayat 29, yang artinya:
"Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran"

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (HR. Tirmidzi no. 2915), yang artinya:
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah , baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan 'alif laam mim' itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Mim satu huruf".

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat memotivasi diri kita masing-masing untuk bisa menikmati berTilawah.

Sumber: MUHASABAH (dari Habaib Alwi Husin)


Selasa, 24 Juli 2018

MANFAAT MEMBACA AL-QUR'AN

Ada beberapa Hadts yang menjelaskan tentang manfaat membaca Al-Qur'an bagi pembacanya, antara  lain:


Berkata Abdul Malik bin Umair:
"Satu-satunya manusia yang tidak tua (awet muda) dan  tidak pelupa adalah orang yang selalu membaca Al-Qur'an"

"Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-Qur'an"

Berkata Al-Imam Qurtubi:
"Barang siapa yang membaca Al-Qur'an, maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun'"

Imam Besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat kepada muridnya Abbas bin Abdi Daim Rahimahullah:
"Perbanyaklah membaca Al-Qur'an jangan pernah kau tinggalkan, karena sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan dimudahkan setara dengan yang kamu baca"

Berkata Ibnu Solah:
"Bahwasanya para malaikat tidak diberi keutamaan untuk membaca Al-Qur'an, maka oleh karena itu para malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari bacaan manusia"

Berkata Abu Zaenal:
"Di tengah malam, aku keluar menuju Masjid Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, sungguh tidak
satu rumahpun yang aku lewati melainkan padanya ada yang membaca Al-Qur'an".

Berkata sebagian Ahli Tafsir:
"Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-Qur'an, maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan dunia",

"Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqnya kepada kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Al-Qur'an dan mengamalkan kandungannya".

Jadikanlah Al-Qur'an sebagai teman di dunia dan penolong di akhirat.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua......

Jumat, 20 Maret 2015

"BAYI DAN ANAK-ANAK YANG MENINGGAL DUNIA SEBELUM BALIGH AKAN MASUK SURGA"

"Berbahagialah kita yang memiliki "anak meninggal dunia" yang masih "bayi" atau "sebelum baligh"


Bagi para orang tua beriman yang mengalami "anak"nya yang "belum baligh" sudah "meninggal dunia" sebaiknya jangan bersedih hati karena akan jadi tameng yang akan bisa menolong orang tuanya untuk "masuk surga". Semoga para orang tua gembira dengan hal ini. 


Saya sendiri mengalami hal ini. "Anak" pertama saya (Isa Anja Asmara Bungin), "meninggal dunia" pada usia lima hari. Siapa yang tidak bersedih ditinggal oleh buah hatinya, namun tidak boleh berlarut-larut. Kita harus sabar dan ikhlas menerima takdirNYA. Innalillahi wainna ilaihi raji'un.......

Seorang ibu beriman yang mempunyai banyak "anak" akan wajib "masuk surga" karena sudah mendapatkan pahala yang begitu besar yaitu pahala waktu hamil, waktu melahirkan dan waktu menyusui. Demikian pula bagi orang tua yang
"anak"nya "meninggal dunia" pada waktu masih "bayi" atau "sebelum baligh", Allah memperkenankan "anak" itu untuk mengajak orang tuanya me"masuk"i "surga"NYA.

Keutamaan "Anak" Kecil Yang "Meninggal Dunia Sebelum Baligh":

1.Akan langsung "masuk surga".
2.Akan bisa menolong orang tuanya kalau orang tuanya orang beriman.
3.Jadi pelayan penduduk "surga" sebagaimana berlian yang disebar

"Bayi Meninggal" Menolong Orang Tuanya

"Bayi" itu dilahirkan suci dan bersih. Kelak di alam mahsyar, ia menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Namun perlu diingat, "anak" itu hanya bisa menolong orang tuanya kalau mereka masih berada dalam jalan Islam. Kalau mereka sudah menyimpang dari jalan Islam atau berbagai peraturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-NYA, pertolongan itu akan batal dengan sendirinya.

Contoh, orang tuanya telah meninggalkan shalat lima waktu hingga ajalnya tiba. Lebih-lebih mereka dengan kekayaannya yang berlimpah tidak mau menjalankan ibadah haji. Sekali lagi, "anak" tersebut hanya bisa menolong orang tuanya, sebatas jika orang tuanya juga mentaati perintah Allah dan Rasul-NYA. Orang yang ditinggalkan tidaklah wajib menahlilkan. Jadi, ditahlilkan boleh, tidak juga tidak apa-apa. Sebab "anak" itu suci, langsung "masuk surga".
Yang dimaksud dengan "bayi" atau "anak" kecil adalah "anak" yang "belum baligh". Batasannya mungkin sekitar 10 tahun. Sedang dalam ilmu fikih, yang disebut "belum baligh", bagi perempuan "sebelum" haid, dan bagi lelaki "belum" pernah mengalami ihtilam (mimpi basah).

Berita Gembira Untuk Orang Tua yang "Anak"nya meninggal Dunia.

Apa yang anda rasakan ketika "anak", orang tua, saudara atau kerabat dekat Anda tiba-tiba saja dipanggil oleh sang Khaliq? Tentu sedih dan mungkin putus asa karena kehilangan seseorang yang kita sayangi dan bahkan menjadi tumpuan hidup kita. Kehilangan orang tercinta memang sungguh menyedihkan tapi taukah anda, ada berkah di balik setiap peristiwa, pun kematian tentu jika kita mampu menyikapinya secara bijak, penuh kesabaran dan keikhlasan.

”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan pasti kita akan kembali kepada pemilik kita, Allah SWT.

Nah, ada kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh
"anak"nya , apa itu?.

Baiklan, coba kita dengarlah sabda Rasulullah SAW. berikut ini: ’Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata : ”Rasulullah SAW. bersabda, tidaklah seorang muslim kematian tiga "anak"nya yang "belum baligh", kecuali, Allah pasti akan me"masuk"kannya ke dalam "surga" berkat kasih sayang-Nya kepada
"anak"-"anak"nya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).

Ada beberapa hal yang mesti diketahui oleh orang tua pun kita, agar kematian tersebut bisa menjadi berkah dan mengantarkan kita menuju "surga" Allah. Diantaranya, adalah sebagai berikut:

1. Sabar Dan Ikhlas

Orang tua mesti sabar dan ikhlas menerima kepergian sang
"anak", tidak meratapi kepergiannya secara berlebihan boleh menangis dan bersedih asal tidak berlarut-larut sehingga dapat menimbulkan keburukan bagi kesehatannya.

2. Sadar dan memuja Allah

Yaitu dengan mengucapkan kalimat istirja (innaa lillahi wa inna ilaihi raji'un) dan merenungi kandungan maknanya. Kita,
"anak" kita, dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita semuanya adalah milik Allah. "Anak" adalah amanah, titipan dari Allah, yang mesti kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya. Karena "anak" ibarat barang titipan tentu suatu saat jika sang pemilik akan mengambil kembali miliknya tersebut kita harus berlapang dada menyerahkan barang titipan tersebut kepada sang pemilik

3. Mengharap pahala atas kematian sang
"anak".

Kematian seorang
"anak" bukanlah suatu musibah melainkan himpunan berkah yang mesti dipetik oleh orang yang ditinggalkan. Orang tua semestinyalah memohon pahala dan keberkahan dari peristiwa tersebut, maka dengan senang hati Allah akan melimpahkan banyak kebaikan dan pahala kepada hambanya yang meminta dengan setulus hati.
Nah, bukankah hal ini merupakan kabar gembira bagi orang tua yang ditinggal mati oleh "anak"-"anak"nya yang "belum baligh" dan janji Allah tersebut merupakan bukti karunia dan kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan jika pun mendatangi neraka, itu hanya bagian dari janji Allah yang telah menjadi ketetapannya.
Lho, menetapi janji apa? mungkin saudara bertanya-tanya akan hal ini. Janji ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat Maryam (19): 71 ”dan tidak seorang pun dari kalian, melainkan dia pasti mendatangi neraka itu ”.

Belum jelas? Maksud mendatangi disini adalah menyeberanginya di atas shiraat, yaitu sebuah jembatan yang dibentengkan di atas neraka jahanam, bukanlah untuk mencapai pintu "surga", seorang hamba mesti melewati jembatan tersebut? Dan ketahuilah wahai para orang tua,
"anak"-"anak" anda yang telah "meninggal"kan anda terlebih dahulu tersebut, kelak akan menunggu anda di pintu "surga" tersebut. 
Sebuah Hadits menjelaskan bahwa, Rasullulah SAW bersabda yang artinya: “Ketika aku mi'raj ke langit, tiba-tiba aku mendengar suara kanak-kanak. Aku bertanya : “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab: “Mereka adalah "anak" cucu orang Islam yang "meninggal dunia sebelum baligh". Mereka itu diasuh oleh Nabi Ibrahim AS sampai orang tuanya datang.” (HR. Abu Daud)


"Anak"-"anak" orang Islam yang "meninggal dunia" pada waktu kecil, di alam Barzakh dia dikumpulkan pada suatu tempat di bawah penjagaan Nabi Ibrahim as. Setelah kiamat tiba, mereka langsung dipindahkan ke dalam "surga". Jadi mereka tidak melalui Mahsyar, Hisab, Mizan dan sebagainya.


Sabda Rasullullah SAW yang artinya: “Tiap-tiap "anak" orang Islam yang mati "sebelum baligh" akan dimasukkan ke dalam "surga" dengan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah dipindahkan ke dalam "surga", maka "anak"-"anak" kecil ini lupa kepada kehidupan dunia. Mereka lupa kedua ibu bapanya, lupa kepada kampung halamannya dan sebagainya.


Tiba-tiba pada suatu hari, ketika mereka sedang bermain-main menikmati kesenangan "surga", maka ada malaikat yang memberitahukannya: “Wahai Wildan, lupakah kamu kepada kedua orang tuamu? Sekarang mereka sudah berada di pintu "surga". “Ketika itulah baru mereka tahu dan ingat kembali kepada ayah bunda mereka yang selama ini mereka lupakan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh malaikat itu, dalam keadaan menangis dan membawa air dengan segera mereka berlari menuju ke pintu "surga". Sesampainya di sana, mereka melihat Hurul-aini sedang tegak berbaris sepanjang jalan dengan memakai pakaian dan perhiasan yang serba indah.


Setelah pintu "surga" terbuka, dengan diiringi nyanyian merdu Hurul-aini, maka orang-orang pun berebut "masuk" ke dalamnya, dan ketika itulah "anak"-"anak" kecil ini sibuk mencari kedua ibu bapanya. Mereka mencari ke sana ke mari, tetapi tidak berjumpa. Sambil menangis dan memegang air di tangan maka pergilah mereka kepada malaikat serta bertanya: “Wahai malaikat, mana ayah dan ibu kami?”


Menjawab malaikat: Wahai Wildan, sungguh malang nasib kamu, kedua orang tua kamu terjatuh ke dalam neraka.” Mendengar ungkapan yang demikian itu, maka "anak" kecil tadi menangis sejadi-jadinya, menangis menghiba dengan ratapan yang menyayat hati: “Wahai ibuku, wahai ayahku,apakah kesalahanmu, apakah dosamu sehingga kamu terjatuh ke dalam neraka? Begitulah ratapan mereka.


Berkata Malaikat: “Wahai wildan jangan menangis, pergilah kamu memohon bantuan kepada Nabi Muhammad SAW.” Setelah "anak" kecil ini mengadu kepada Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad pun mengangkat kedua tangannya berdoa, lalu dikeluarkanlah orang-orang mukmin yang berada dalam neraka itu. Inilah syafaat Nabi Muhammad SAW yang ketiga di akhirat.


Petama pada waktu ditimbang antara dosa dan pahala, yang kedua pada waktu meniti Shiratul Mustaqim yang ketiga ketika mengeluarkan orang dari dalam neraka. Maka ketika itu bertemulah antara "anak"-"anak" kecil tadi dengan kedua orang tuanya dengan perasaan gembira.


Firman Allah SWT yang artinya : “Pada hari itu mereka berjumpa dengan perasaan gembira. ” (Ad-Dahr: 11)


Menurut Hadist Qudsi:

Allah SWT berfirman pada hari kiamat pada "anak"-"anak":
“Masuklah kalian ke dalam
"surga".”

"Anak"-"anak" itu berkata:
“Ya Rabbi, kami menunggu hingga Ayah Ibu kami
"masuk".”

Lalu mereka mendekati pintu "surga", tetapi tidak mau "masuk" ke dalamnya. Allah Berfirman lagi,
“Mengapa aku lihat mereka enggan "masuk"?
"masuk"lah kalian ke dalam "surga"

Mereka menjawab,
“Tetapi bagaimana dengan orang tua kami?”

Allah pun berfirman,
"masuk"lah kalian ke dalam "surga" bersama orang tua kalian.”

(Hadis Qudsi Riwayat Ahmad dari Syurahbil Bin Syuaah yang bersumberkan dari sahabat Nabi SAW)


Istilah “al-wildan” dalam Hadits Qudsi diatas adalah kata jama mufradnya (kata tunggalnya) adalah “al-walid”, artinya "anak" yang baru dilahirkan, yaitu bayi atau "anak" kecil yang belum akil "baligh". Jadi maksudnya ialah "anak" kecil yang "meninggal dunia". Hal itu diterangkan dalam Hadits lain yang diriwayatkan.


Matahari diciptakan kembali dan diletakkan di atas mereka pada jarak satu mil, sehingga mereka selain berdesak-desakan dan berjubel-jubel (kaki diinjak oleh seribu kaki-kaki diatasnya), juga dibakar oleh panasnya matahari, berkeringat, lapar, haus dahaga tidak terperikan siksanya.


Ketika mereka mengalami lapar dan haus itulah "anak"-"anak" yang tadinya "meninggal" selagi masih kecil dan dilepas oleh orang tuanya dengan sabar dan tawakal, datang kepada orang tuanya masing-masing dengan membawa segelas air untuk diminum, dan apabila sudah diminum, tidak akan lapar dan dahaga lagi selama di alam Mahsyar itu. Demikian menurut beberapa Hadits.


Mulai hisab dengan menerima buku catatan harian masing-masing yang selama hidupnya dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

Dilakukan mizan (penilaian timbangan) terhadap segala macam amalan setiap orang, kecuali orang-orang "masuk surga" tanpa hisab.

Meniti shirat yang harus dilalui oleh keseluruhan yang ada di padang Mahsyar itu. Meniti shirat yang kedua bagi mereka yang telah selamat menitishirat yang pertama.


Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada "anak"-"anak" (yang tadinya "meninggal dunia" selagi belum akil "baligh") untuk me"masuk"i "surga". Tetapi mereka memohon syafaat (pertolongan) kepada Allah agar kiranya dapat "masuk surga" bersama orang tua mereka. Memang mereka juga penuhi perintah Allah, untuk datang mendekati pintu "surga", tapi masih belum mau me"masuk"inya, sehingga Allah Yang Maha Mengetahui bertanya lagi:

“Mengapa Aku lihat "anak"-"anak" itu masih saja belum "masuk syurga"? "Masuk"lah kalian ke dalam "surga" itu”.



Pada saat itu mereka mengulangi permohonannya bagi orang tua mereka.

“Kami belum mau "masuk", sebelum orang tua kami yang menjadi asal pokok kami, dan ibu-ibu kami yang telah mengandung kami sembilan bulan dan kemudian membesarkan kami "masuk" juga bersama kami”.


Demikianlah mereka berhenti dekat pintu "surga", menunggu keputusan Allah SWT dengan penuh harapan. Akhirnya putusan yang dinanti-nantikan itu datang dengan segera, dengan firman Allah Yang Maha Mengetahui:

"Masuk"lah kalian ke dalam "surga" bersama orang tua kalian”.


Penegasan ini oleh Allah kira-kira dimaksudkan untuk menampakkan betapa besar keutamaan "anak"-"anak" dan betapa besar pula pengaruh ridla qadla dan qadar Allah, sabar dan puji syukur kehadirat-Nya.

Ya Allah.... Ya Tuhanku.....
Aku ikhlas dan ridha, Engkau telah mengambil "anak"ku "Isa Anja Asmara Bungin". Semoga kelak.... Allah mempertemukan aku dengan "anak"-"anak"ku  dan seluruh anggota keluargaku di "surga"MU.... 
 
Sumber:
1. yohang.net/rahmat-allah-yang-sangat-besar-hauzan-ar...
2. belencong-islam.blogspot.com/.../anak-kecil-meningg...
3. laely.widjajati.facebook/Add a description
4. Ficky.Andreari.facebook/belajar bikin comic
5. laely.widjajati.facebook/Add a descriptionWith Banda Go Trilyuner.
6. laely.widjajati.facebook/Suatu Pagi di #TelagaSarangan......
7. laely.widjajati.facebook/Add a description

Sabtu, 28 Februari 2015

"ISTIQOMAH MENURUT ISLAM"

"Seseorang yang "Istiqomah" memiliki pendirian yang stabil dalam menuju Ridha Allah". 


Dia tidak tergoyahkan oleh usia, lingkungan atau ujian dan cercaan. Dia bagaikan karang yang melawan tempaan ombak.

"Istiqomah" dalam kacamata "Islam" itu seperti apa sih?

Kata "Istiqomah" secara bahasa berarti : Tegak dan Lurus.

Sedangkan secara Istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :
  1. Abu Bakar Ash Shiddiq ra. : "Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga".
  2. Umar bin Khattab ra. : "Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang".
  3. Utsman bin Affan ra. : "Istiqomah" artinya ikhlas".
  4. Ali bin Abi Thalib ra : "Istiqomah" adalah melaksanakan kewajian".
  5. Ibnu Abbas ra. : "Istiqomah" mengandung 3 macam arti: "Istiqomah" dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), "Istiqomah" dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan "Istiqomah" dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
  6. Ar Raaghib : "Tetap berada di atas jalan yang lurus" [istiqomah, Dr. Ahmad bin Yusuf Ad Duraiwisy, Darul Haq].
  7. Imam An Nawawi : "Tetap alam ketaatan" (Kitab Riyadhus Shalihin). Sehingga "Istiqomah" mengandung pengertian : "tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla".
  8. Mujahid : "Istiqomah" adalah komitment terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.
  9. Ibnu Taimiah : “Mereka ber"Istiqomah" dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”. Dengan kata lain "Istiqomah" mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.
Sedangkan balasan bagi Hamba Allah yang "Istiqomah" adalah sebagaimana Firman Allah SWT: 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka ("Istiqomah"), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30)

Keimanan kepada Allah menuntut sikap "Istiqomah". Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan "Istiqomah". "Istiqomah" yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, merupakan bukti jelas kekuatan iman seseorang.


Rasulullah SAW. juga bersabda, “Katakanlah: “Rabbku adalah Allah” dan "Istiqomah"! (HR Tirmidzi)

Pantas jika Allah menjanjikan keutamaan yang besar untuk orang-orang yang "Istiqomah" dalam imannya. Pada ayat yang disebutkan di muka, menurut ahli tafsir, Allah memberitakan bahwa ketika orang-orang yang "Istiqomah" itu mati, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata,“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Tidak takut dan tidak bersedih. Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang "Istiqomah" ketika mereka meninggalkan alam fana ini. Para ulama juga menjelaskan, bahwa maksud tidak takut adalah mereka tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi setelah hari kematian mereka.  Adapun maksud mereka tidak bersedih adalah mereka tidak bersedih dengan apa yang mereka tinggalkan selama di dunia.

Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang "Istiqomah". Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, berharta dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, tidak "Istiqomah", berlaku maksiat dan sombong, kelak yang akan dirasakannya adalah ketakutan yang mencekam dan kesedihan yang mendalam. Hingga walaupun di dunia mereka adalah orang yang paling sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.

Orang-orang yang "Istiqomah" itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah; tempat segala kenikmatan, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadis qudsi, “Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim)

Sedangkan ciri khas "Istiqomah" ada dua:
 
1. Yakin. Orang yang "Istiqomah" itu haqqul yakiin, Allah akan menurunkan malaikat yang buahnya adalah derajat kekasih Allah dalam situasi apapun, sekalipun jiwa taruhannya, dia tenang. Tenang ini tidak bisa diminta dari orang, tidak bisa dibeli. Tenang itu milik Allah.
 
Huwalladzi andzala sakiinah fii qulubil mu’miniin,” Dialah Allah yang menurunkan sakinah di hati orang yang beriman.
 
Orang yang dikaruniai ketenangan, jernih dalam segala kondisi itulah Rasulullah, para sahabat, para ulama yang benar-benar pecinta Allah. Orang yang "Istiqomah" akan tidak ada takutnya dan tidak sedih dengan dunia berikut isinya.
 
2. Mendapat Keutamaan, seperti dalam QS Fusilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang- orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ dan mereka "Istiqomah" pada pendirian mereka maka para malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan jangan merasa takut dan jangan kamu merasa sedih, bergembiralah kamu memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
 
Sesungguhnya orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap "Istiqomah" maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Merekalah orang-orang yang mewarisi surga, kekal didalamnya sebagai balasan apa yang sudah dilakukan.” (QS Al- Ahqof: 13-14)
 
Dalam salah satu hadits, salah satu sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya, Rasul ajarkan kepadaku agama "Islam", ucapan yang mencakup seluruhnya sehingga aku tidak bertanya lagi kepadamu sesudah ini.” Beliau menjawab, “Yakinlah kepada Allah dan "Istiqomah" (HR. Muslim)
 
Kalau orang sudah dapat keyakinan kepada Allah kemudian dia "Istiqomah" dalam keyakinannya, "Istiqomah" dalam amalnya, "Istiqomah" dalam keikhlasannya, dapatlah dunia berikut isinya. Insya Allah derajatnya bisa mencapai derajat kekasih Allah.

 
Cara Agar Tetap Istiqomah
 
1. Menjiwai syahadatAshadu an laa illaha illAllah wa ashadu anna Muhammadarrosululloh. Syahadat yang bagus adalah hatinya benar-benar tidak menuhankan apapun selain Allah. Kalau sudah bulat hati ke Allah, maka mahluk, harta, kedudukan duniawi, popularitas tidak jadi sandaran. Makanya, setiap orang yang hatinya masih menganggap ada selain Allah yang bisa memberi nikmat, memberi karunia, memberikan manfaat maka amalnya ditujukan untuk sesuatu, ini sulit untuk "Istiqomah", karena sesuatunya itu akan berhenti juga, bisa berhenti memperhatikan, bisa berhenti memberi, dan sebagainya.
 
Berkahnya orang "Istiqomah" itu dicintai Allah, selain dijaga malaikat dicintai Allah. Orang yang "Istiqomah" itu kalaupun suatu saat Allah menahannya dari beramal, pahalanya insya Allah dapat. Misalnya kita"Istiqomah"  sholat jama’ah, lalu Allah menakdirkan sakit atau hujan lebat, itu pahalanya tetap dapat. Atau kita "Istiqomah" tiap malam tahajud, suatu saat Allah memberikan tidur yang pulas karena capek habis belajar, habis kerja, itu tetap dapat pahala tahajud.
 
2. Pelajari ibadah yang paling membuat kita nyaman dan memahami ilmunya dengan baik. Ada orang yang mampu menghapal Al-Qur'an dengan baik, ada orang yang bagus tahajudnya, ada yang bagus shaum Senin-Kamis atau shaum Daud-nya kuat, ada yang bagus wiridnya, ada yang bagus sedekahnya. Lakukan ibadah secara bertahap saja karena Allah juga sudah tahu persis keterbatasan kita, yang penting kualitasnya terjaga.
 
3. Pelajari dalil (ibadahnya) dengan baik dan amalkan, mencontoh Rasulullah yang saat mau tidur membaca doa, baca ayat Kursi, surat Al- Fatihah, Al- Ikhlas, Al- Falaq, An- Nas, lalu usap ke wajah. Gunanya melakukan itupun untuk keselamatan diri. Atau menjaga wudhu. Ini amalan para kekasih Allah, selalu menjaga diri suci. Siapa tahu nanti waktu sholat masuk kita tidak dapat air, kalau dalam keadaan wudhu kan lebih mudah.
 
4. Sering membaca kisah orang-orang soleh yang inspiratif, kisah para sahabat, ulama atau orang- orang yang memang memiliki ketenangan. Seperti Sayid Qutub yang menjelang wafat, sikapnya tetap tenang, jernih, wajahnya jernih walaupun dipukul, dicambuk, hanya menyebut nama Allah ketika mau diseret ke tiang gantungan.
 
5. Tidak bosan bertaubat. Dengan taubat, nanti hati makin bening, makin adem, makin ajeg, makin banyak yang bisa kita lihat dalam hidup ini. Kalau taubatnya bagus, rezeki nanti kelihatan, jalan keluar juga kelihatan. Persoalan pasti banyak, tapi jangan takut. Tidak ada yang harus kita takuti dengan persoalan kita, orang yang gelisah tuh pasti sebanding dengan tingkat kecintaannya kepada duniawi. 

Semoga Allah SWT. selalu menuntun dan memberikan Hidayah-NYA kepada kita, sehingga kita bisa tergolong orang yang "Istiqomah".


Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/.../istiqomah.../485365417...
2. muslim.or.id/.../inilah-balasan-bagi-yang-istiqomah.ht...
3. daaruttauhiid.org/artikel/.../keutamaan-istiqomah.html
4. laely.widjajati.facebook/Add-a-description
8. laely.widjajati.facebook/Add-a-description

Sabtu, 04 Januari 2014

ORANG YANG MEMPEROLEH PERLINDUNGAN DARI ALLAH SWT."

"Sebagai muslim yang baik, kita tidak hanya percaya akan adanya kehidupan akhirat, sebagai konsekuensinya, kitapun harus mempersiapkan diri dalam kehidupan di dunia ini agar mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat nanti, salah satunya adalah untuk memperoleh "perlindungan" dari "Allah SWT." yang pada saat itu hanya "perlindungan"-Nya yang harus kita dapatkan".



Namun, "Allah SWT." ternyata tidak memberikan "perlindungan" kepada setiap orang, hanya orang-orang tertentu yang akan mendapat "perlindungan"-Nya.  Dalam suatu hadits, Rasulullah mengemukakan orang-orang yang akan mendapatkan "perlindungan"-Nya: 

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuhkelompok yang akan mendapat "perlindungan Allah" pada hari yang tiada "perlindungan" kecuali "perlindungan"-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada "Allah SWT.", seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena "Allah SWT.", yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena "Allah SWT.", seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada "Allah SWT.", seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada "Allah SWT." di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata". (H.R.Bukhary - Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang akan mendapatkan "perlindungan Allah SWT.", yaitu:

1. PEMIMPIN YANG ADIL. Menjadi pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas, kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau aharam. Sebaliknya, kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah, untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah,. Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi "perlindungan" di akhirat kelak.

2.ANAK YANG SHALEH. Masa muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, "Allah SWT." akan memberikan "perlindungan"-Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang "Allah SWT." berikan kepada anak-anak muda yang shaleh.

3.ORANG YANG HATINYA TERIKAT PADA MASJID. Kalimat "seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid" seperti yang disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.

4.BERSAHABAT KARENA "ALLAH". Poin ini terambil dari kalimat "dua orang yang saling mencintai karena "Allah SWT.", yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah". Bersahabat karena "Allah SWT.", maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta, kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata karena "Allah SWT.". Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena "Allah SWT.".

5.MAMPU MENGHADAPI GODAAN LAWAN JENIS. "Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada "Allah SWT." Kalimat ini menggambarkan bahwa kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan "perlindungan Allah" di hari kiamat. Di sini digambarkan seorang laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada "Allah SWT." Jadi, rasa takut kepada "Allah SWT."lah yang menjadi benteng laki-laki tersebut, sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Disini diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda laki-laki.

6.IKHLAS DALAM BERAMAL KEBAIKAN. "Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya." Ini gambaran keikhlasan dalam beramal. Saking ikhlasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun tidak tahu apa yang diinfaqkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama kita dipampang di koran? Boleh saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena "Allah SWT.", bukan karena cari popularitas. Perhatikan ayat berikut, " Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan "Allah SWT." akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan "Allah SWT." mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Baqarah 2: 271)

Oleh karena itu, bila beramal yang shaleh, maka seorang muslim harus melakukannya dengan keikhlasan yang memang amat ditekankan di dalam Islam sehingga orang yang ikhlas akan mendapatkan perlindungan dari "Allah SWT."


7.DZIKIR KEPADA "ALLAH" DENGAN KHUSYUK. "Seseorang berdzikir kepada "Allah SWT." di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata." Dzikir artinya mengingat "Allah SWT.". Kalau seseorang berdo'a dengan khusyuk hingga tak terasa air mata menetes karena sangat nikmat berdzikir dan munajat kepada-Nya, maka "Allah SWT." akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak.

Semoga "Allah SWT." senantiasa memberi kekuatan supaya kita bisa menjadi orang-orang yang mendapat pertolongan dan "perlindungan"-Nya.  Bagaimana caranya? Kerjakanlah tujuh poin di atas!  
Wallahu A'lam.

Sumber:
1. iinparlina.wordpress.com/.../orang-yang-dilindungi-allah-oleh-aam-amir...
2. https://id-id.facebook.com/note.php?note_id=10150147050510337
3. kuatangantangan.wordpress.com/artikel/.../tujuh-golongan-yang-dilindu...
4. laely.widjajati.photos.facebook/Moga-hari-ini-lebih-indah-dari-kemarin...
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-1....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-2....


MusicPlaylistView Profile