Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2019

PERNIKAHAN BANDA & DHATTU YANG SEDERHANA DAN SIMPLE

"Pernikahan" anak saya (BANDA dan DHATTU), Alhamdulillah "Pernikahan" berlangsung dengan lancar, baik acara Akad "Nikah" maupun acara Tasyakuran "Pernikahan".

Akad "Nikah" dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB dan Acara Tasyakuran "Pernikahan" pukul 15.00 WIB pada Hari Jum'at, Tanggal 19 April 2019 di Auditorium SMAMDA (SMA MUHAMMADIYAH 2), Jalan Mojopahit Nomor 666 B Sidoarjo. 

Acara Tasyakuran "Pernikahan" berlangsung sederhana namun sangat meriah. Undangan (Fisik) sejumlah 500, namun undangan via Medsos lebih dari 200 orang. Alhamdulillah kami dapat menjamu para tamu walaupun hanya dengan perhelatan yang sangat sederhana.

Catering Ibu dari Surabaya, menyuguhkan menu hidangan dengan aneka rasa yang tidak mengecewakan lidah para undangan.

Dekorasi Redvelvetevent juga menyuguhkan dekorasi yang indah dinikmati oleh mata. Dekorasi konsumsi Catering Ibu-pun menyesuaikan dengan dekorasi ruangan yang disuguhkan oleh Redvelvetevent, sehingga terasa menyatu antara ruangan dengan hidangan yang tersedia.

Ditambah dengan MUA (Make Up Artist) dengan hasil yang tidak mengecewakan pula. Riasan  pasangan penganten, orang tua mempelai beserta para among tamu yang kelihatan begitu mempesona.

Keluarga yang hadir juga berasal dari berbagai daerah, antara lain dari Pontianak, Banda Neira, Bali, Semarang, Blitar dan masih banyak para undangan yang berasal dari berbagai daerah lainnya. Alhamdulillah kami bisa menjamu mereka dengan konsumsi yang masih berlebih. 

Artikel masih belum selesai.....



Minggu, 25 November 2018

ACARA LAMARAN UNTUK PERNIKAHAN

"Lamaran" merupakan langkah awal sebelum masuk ke tahap pernikahan dilaksanakan.

Acara "Lamaran" merupakan sebuah moment berharga, yang penting adalah kenangan dan kesannya, bukan kemewahannya.
"Lamaran" adalah acara yang penuh keakraban, hingga tidak perlu terlalu banyak orang yang terlibat. 

Secara umum lokasi yang digunakan untuk Acara "Lamaran" adalah rumah pihak calon mempelai wanita. Acara "Lamaran" anak saya, kami laksanakan di rumah calon istrinya pada hari Sabtu tangggal 24 Nopember 2018 sekitar pukul 19.00 WIB. Sangat sederhana dan penuh keakraban. Kami sengaja untuk tidak melibatkan keluarga besar. Hanya keluarga inti Ayah, ibu beserta saudara dari calon istri anak saya. Sayapun sengaja hanya datang bersama anak saya, karena permintaan dari pihak calon istri anak saya. 

Yang paling penting dalam acara  "Lamaran" ini adalah tercapai tujuajn, yakni restu dari keluarga pihak calon istri dan kesepakatan waktu, tempat dan segala sesuatunya untuk dilaksanakannya pernikahan. 

Acara "Lamaran" terlaksana dengan penuh keakraban dan kekeluargaan, kami ngobrol segala hal dalam kehidupan sehari-hari. Kami pun sudah disiapkan hidangan mulai dari snack, buah dan hidangan makan malam.

Alhamdulillah..... Awal yang sangat baik untuk menambah silaturahmi dan anggota keluarga baru. Semoga kondisi ini akan selalu berjalan dengan baik dan mendapat Ridha Allah itu yang terpenting. Aamiin Yaa Robbal Alamiin..... 

Dan semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam menuju proses pernikahan anak 
saya ini.

Step by step terlalui.... Semoga Allah selalu meridhai langkah-langkah kami.

Sabtu, 23 Januari 2016

"KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN"

"Al-Qur'an" adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman hidup untuk para hambaNya yang bertakwa". 
"Al-Qur'an" adalah cahaya bagi orang mukmin, cahaya dalam kehidupan dan cahaya ketika di hari kiamat kelak. "Orang yang "membaca", memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isi "Al-Qur'an" akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.
 
Berikut ini beberapa keutamaan "membaca Al-Qur'an"

1. Menjadi perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang yang selalu "membaca" kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." (QS al-Fathir: 29).

2. Merupakan amal yang terbaik. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar
"Al-Qur'an" dan mengajarkannya." ( HR Bukhari).

3. Mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang
"membaca Al-Qur'an"  dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).

4. Mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang). Rasulullah bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk
"membaca" dan mempelajari "Al-Qur'an" kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat (sisi-Nya)." (HR Muslim).

5. Mendapat sebaik-baik anugerah Allah SWT. Rasulullah SAW. bersabda dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang sibuk dengan
"Al-Qur'an" dan zikir dari meminta-Ku, aku akan memberikan kepadanya sebaik-baik anugerah-Ku. "Keutamaan" kalamullah ("Al-Qur'an") atas kalam-kalam selainnya seperti keutamaan Allah atas semua makhluk-Nya." (HR Tirmidzi)

6. Seperti buah utrujah yang wangi dan lezat. Rasulullah SAW. bersabda: "Perumpamaan orang beriman yang
"membaca Al-Qur'an" seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak "membaca Al-Qur'an" itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang "membaca Al-Qur;an" itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak "membaca Al-Qur'an" seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim).

7. Mendapat kebaikan berlipat ganda. Rasulullah SAW. bersabda: "Barang siapa
"membaca" satu huruf dari kitabullah ("Al-Qur'an") baginya satu kebaikan. Satu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

8. Memberikan syafaat ketika hari kiamat kelak. Rasulullah bersabda: " "Baca"lah
"Al-Qur'an", sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pem"baca"nya." (HR Muslim).

9. Pahala bagi orang yang anaknya mempelajari "Al-Qur'an".
“Siapa saja "membaca Al-Qur'an", mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinarnya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘bagaimana dipakaikan kepda kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘karena anakmu telah "membaca Al-Qur'an". (HR. Al-Hakim).

10. Pahala bagi orang yang berkumpul untuk "membaca" dan mengkajinya.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak berkumpul sauatu kaum di salah satu rumah Allah SWT, sedang mereka "membaca" kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud).
11. Dapat menyembuhkan penyakit.
“Hendaknya kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan "Al-Qur'an" (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud).



12. Pem"baca Al-Qu'ran' dikurniakan hatinya dengan cahaya oleh Allah SWT dan dipeliharanya dari kegelapan
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang maksudnya: “Bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa yang medengar satu ayat dari pada Kitab Allah Ta’ala ("Al-Qur'an") ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang "membaca"nya pula, baginya cahaya di hari kiamat.”

13.  Pem"baca Al-Qur'an" memperoleh kemulian dan diberi rahmat kepada ibu bapaknya.
Nabi Muhammad SAW. bersabda maksudnya: “Siapa yang "membaca Al-Qur'an" dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapaknya mahkota di hari kiamat. Cahayanya (mahkota) lebih baik dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah demikian itu matahari berada di rumahmu (dipenuhi dengan sinarnya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini ("Al-Qur'an").” (HR. Abu Daud).

14. Pem"baca Al-Qur'an" memperoleh kedudukan yang tinggi dalam syurga.
Bersabda Rasulullah SAW. yang maksudnya: Dikatakan kepada pem"baca Al-Qur,an": Baca"lah ("Al-Qur'an"), naiklah (pada darjat-darjat syurga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau "membaca"nya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukan drajatmu sehingga kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).

15. Orang yang "membaca Al-Qur'an" secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan.
Rasulullah SAW. bersabda: “Orang yang "membaca Al-Qur'an" terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, orang yang "membaca Al-Qur'an" secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat shahihul jaami’:3105).

16. "Al-Qur'an" adalah cahaya di tengah kegelapan.
Sabda Rasulullah SAW., ”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan "Al-Qur'an" sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi).

17. Ahlul "Qur'an" adalah keluarga Allah SWT.
Sabda Rasulullah SAW., ”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau SAW. menjawab,’mereka adalah Ahlul "Qur'an", mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

18. Yang mahir "membaca Al-Qur'an", dia akan bersama malaikat, dan yang terbata-bata mendapat dua pahala.
Sabda Rasulullah SAW “Orang yang mahir "membaca Al-Qur'an" kelak (mendapat tempat di surga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang "membaca Al-Qur'an" dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari "membaca Al-Qur'an" itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pem"baca"nya.

19. Orang yang "membaca Al-Qur'an" akan memperoleh perhatian dari Allah.
Dari Abu Hurairah r.a.,katanya dia mendengar Nabi SAW bersabda: “Allah tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu, seperti perhatian-Nya terhadap Nabi ketika beliau melagukan "Al-Qur'an" dengan suaranya yang indah dan keras.” (Shahih Muslim: 764).

20. Disukai "membaca Al-Qur'an" di hadapan orang-orang pintar.
Dari Anas r.a., katanya Rasulullah SAW. bersabda kepada Ubay bin Ka’ab r.a., sabdanya: “Sesungguhnya Allah menyuruhku supaya "membaca"kan kepadamu: “Lam yakunil ladzina kafaru (Surat Al-Bayyinah).” Tanya Ubay, “Apakah Allah menyebut namaku kepada anda?” Jawab Rasulullah SAW.: “Ya, Allah menyebut namamu.” Lalu Ubay menangis karenanya. (Shahih Muslim: 768).
21. "Keutamaan" menyimak "baca"an "Al-Qur'an" dan menghayatinya.
Dari ‘Abdullah Ibn Mas’ud r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda kepadanya, sabdanya: Baca"kanlah "Qur'an" kepada-ku!” Jawabku, “Bagaimana pula aku harus membacakan-nya kepada anda, sedangkan "Qur'an" itu sendiri diturunkan kepada anda.” Sabda beliau, “Aku ingin mendengarkannya dari orang lain.” Karena itu, ku"baca"kan kepada beliau Surat An-Nisā’. Ketika "baca"anku sampai kepada ayat: “Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika haulai syahida.” [Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).] (An-Nisā’ :41); Ketika itu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau, maka kelihatan olehku air mata-nya mengalir.” (Shahih Muslim: 769).
22. "Keutamaan membaca Al-Qur’an" dalam shalat.
Dari ‘Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah SAW. bersabda: “Sukakah kamu, bila kamu pulang ke rumahmu lantas kamu mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting dan gemuk-gemuk?” Jawab kami, “Tentu, ya, Rasulullah!” Sabda beliau,"Membaca" tiga ayat dalam shalat lebih bagus nilainya dari ketiga unta bunting itu.” (Shahih Muslim: 770).
23. "Keutamaan" surat “Al-Fatihah” dan ayat penghabisan surat “Al-Baqarah”.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a., katanya: “Pada suatu waktu, ketika Jibril sedang duduk di samping Rasulullah SAW., sekonyong-konyong kedengaran suatu bunyi seperti pintu sedang dibukakan orang. Lalu diangkatnya kepalanya, seraya berkata: “Nah! Inilah pintu langit dibukakan hari ini, dimana tidak pernah dibuka melainkan baru hari ini.” Dari pintu itu turun malaikat. Kata Jibril,” Inilah malaikat turun ke bumi. Dimana dia tidak pernah turun sebelumnya, melainkan baru hari ini.” Setelah malaikat itu memberi salam, lalu dia berkata, “Gembirakanlah ummatmu dengan dua cahaya yang kedua-duanya hanya diturunkan kepada-mu, dan tidak pernah diturunkan kepada para Nabi sebelum kamu, yaitu: Surat Al-Fatihah dan ayat-ayat penutup surat Al-Baqarah (ayat:284-286). Tidak satu huruf pun yang anda "baca" dari keduanya, melainkan akan diberikan pahalanya kepada anda.”
Sabda Rasulullah SAW.: “Siapa yang "membaca" kedua ayat itu, yakni dari akhir surat Al-Baqarah, niscaya keduanya akan memeliharanya dari bencana.” (Shahih Muslim: 772-773). 

24. "Membaca" surat “Al-Ikhlas” sama nilainya dengan "membaca" Sepertiga "Qur'an"
Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak sanggupkah kamu "membaca" sepertiga "Qur'an" dalam semalam?” Mereka balik bertanya, “Bagaimana cara "membaca" sepertiganya?” Jawab Nabi SAW., “Qul huallahu Ahad. (surat Al-Ikhlas) sama nilainya dengan sepertiga "Al-Qur'an".” [Lihat Shahih Muslim: 777-780].
25. "Keutamaan" surat “Al-Falaq” dan surat “An-Nās” (Mu’awwidzatain).Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan Allah tadi malam, dan yang belum pernah ada bandingannya? Ayat-ayat itu ialah: Qul a’udzu birabbil falaq Qul a’udzu birabbinnas (Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas).” (Shahih Muslim: 781).
Dengan memahami beberapa "keutamaan membaca Al-Qur'an" dan sekaligus mengamalkan isi kandungannya di atas, semoga kita terinspirasi dan bersemangat dalam menjaga rutinitas kita dalam "membaca Al-Qur'an".  
Marilah kita jadikan rumah kita sebagai majelis ta’lim yang di dalamnya selalu dilantunkan ayat-ayat suci "Al-Qur'an", agar dapat selalu menjadi obat dan penawar bagi hati kita dan agar cahaya rahmat-Nya selalu menyinari rumah kita yang pada gilirannya akan menghadirkan rasa ketenangan dan kedamaian pada penghuninya. Semoga Allah merahmati kita semua dengan wasilah "Al-Qur'an" yang kita "baca"
 
Sumber: 
1. Delapan-Keutamaan... khazanah.republika.co.id › Khazanah › Dunia Islam
2. Laely.widjajati.FacebookAdd-a-description-1/... 
3. 35-Keutamaan-Membaca-Al-Qur'an/sobecan.blogspot.com › Motivasi Islam
4.  Laely.widjajati.FacebookAdd-a-description-2/...
5. www.duniaislam.org/19/.../17-keutamaan-membaca-al-quran-setiap-hari/
6. Laely.widjajati.FacebookAdd-a-description-3/...
7. https://m.facebook.com/.../keutamaan-membaca-al-quran../6556544278.
8. Laely.widjajati.FacebookAdd-a-description-4/...

Sabtu, 20 Juni 2015

"SUPAYA TIDAK TERASA LAPAR DAN HAUS PADA SAAT PUASA"

"Bulan "puasa" Ramadhan yang kini hadir kembali di Tahun 2015". 



Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menikmati datangnya bulan yang suci  dan mulia, bulan penuh kasih dan keberkahan. setiap muslim mendambakan kehadiran salah satu dari dua belas bulan yang ada. karena bulan ini juga masuk dalam kategori bulan yang istimewa.

Ada beberapa tips menahan "lapar" dan "haus" pada saat "puasa" Ramadhan dan mudah-mudahan bermanfaat untuk anda yang saat ini sedang menjalankan ibadah "puasa".
1. NIAT BER"PUASA".

Niat adalah maksud dan kehendak yang tempatnya ada pada hati, bukan di lidah berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan) maka niatnya sah. Niat adalah rukun ber"puasa" sebagaimana pada ibadah yang lainnya. NabiSAW.  bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu (syah atau tidaknya) tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab).
Jadi Luruskan niat dan Ikhlas yang perlu diperhatikan agar "puasa" terasa nyaman adalah luruskan niat.
2. ATUR PORSI MAKAN.
Menambah porsi makan, tidak akan membuat Anda kenyang lebih lama hingga tiba waktu berbuka "puasa". Makan yang berlebihan akan membuat perut kekenyangan dan tidak nyaman. Porsi makan kita seharusnya dibagi secara seimbang pada jam makan tersebut sehingga pencernaan bekerja dengan baik dan tidak mudah "lapar". Sayangnya orang Indonesia lebih suka memperbanyak konsumsi makanan pada saat berbuka, sehingga selepas tarawih sudah malas makan. Kebiasaan buruk lain adalah malas makan ketika sahur sehingga asupan nutrisi cenderung sedikit. Pola makan seperti ini mengakibatkan mudah "lapar" di siang hari.
3. JANGAN MAKAN TERBURU-BURU.
Makan terlalu cepat bisa mengganggu kadar gula dalam darah dan membuat perut terasa cepat "lapar" beberapa jam setelah sahur. Hal ini karena saat makan dengan cepat, tubuh akan bekerja lebih keras agar nutrisi bisa terserap. Karena proses itulah, nutrisi yang didapatkan tubuh pun kurang sempurna dan akibatnya tubuh cepat lemas.
5. ERBANYAK MAKAN BUAH DAN SAYUR.
Cukupi kebutuhan vitamin dengan mengonsumsi buah dan sayur ketika sahur dan berbuka. Sayur dan buah-buahan akan memberikan banyak energi ketika Anda tidak makan selama ber"puasa". Makanlah mendekati waktu imsak agar lebih tahan selama ber"puasa". Tidak dianjurkan untuk tidur setelah sahur karena akan menghambat metabolisme dalam tubuh.

4. BERBUKA DENGAN YANG MANIS-MANIS.

Telah lama kita mendapatkan anjuran agar berbuka "puasa" dengan makanan atau minuman yang manis. Tujuannya yaitu agar segera menggantikan energi yang hilang setelah seharian ber"puasa". Konsumsi makanan manis secara langsung dan dilakukan dengan serentak saat berbuka "puasa" akan mengakibatkan kenaikan gula darah yang sangat cepat. Biasanya makanan/minuman manis mengandung gula sederhana yang membuat kadar gula darah cepat naik, namun cepat pula turunnya. dan ketika gula darah dengan cepat turun, tubuh akan terasa lemas. Oleh karena itu kalau langsung makan makanan yang manis dalam jumlah banyak bukannya menambah energi, tapi justru membuat tubuh menjadi lemas.
3. HINDARI MENGKONSUMSI KAFEIN.

Jangan meminum minuman yang mengandung cafein seperti kopi misalnya. karena pada pagi hari tenggorokan akan terasa kering. dan juga pada saat berkegiatan pada "puasa" Ramadan, jumlah asam lambung yang disaat normal berfungsi untuk membunuh bakteri akan berkurang. hal seperti inilah yang akan membuat otak memerintahkan lambung untuk memproduksi asam lambung lebih banyak dan bisa mengakibatkan mulas. Tentu hal seperti ini dapat mengganggu mereka yang memiliki gangguan pencernaan seperti mag atau asam lambung berlebih.
4. JANGAN MENUNGGU WAKTU BERBUKA "PUASA".

Jangan menunggu waktu buka puasa karena jika dipikirkan waktu itu akan terasa lama ibarat sehari seperti seminggu. Coba untuk mengalihkan pikiran kearah yang baik seperti menunggu waktu sholat tiba, dari Dzuhur ke Ashar, dari Ashar menunggu Magrib.
5. PERSIBUK DIRI DENGAN AKTIVITAS.

Persibuk diri dengan beraktivitas karena hal seperti ini bisa menghilangkan atau lebih tepatnya melupakan rasa "haus" dan "lapar" dan juga pada saat sedang beraktivitas jangan terus memikirkan rasa "lapar" dan "haus", enjoy saja.
6. HINDARI MAKAN DAN MINUM YANG MANIS SAAT SAHUR.

Dokter spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Indonesia, Dr dr Fiastuti Witjaksono MSc, MS, Sp.GK mengatakan, agar "lapar" tak begitu terasa pada bulan "puasa" maka hindari makan dan minum yang manis saatsahur. Sebab makanan dan minuman yang manis membuat gula dalam darah cepat naik dan turun. Kondisi itu lah yang membuat rasa "lapar" timbul. "Yang perlu diperhatikan saat sahur adalah jangan makan dan minum yang manis. Karena yang manis membuat rasa "lapar" cepat bangkit," kata Fiastuti dalam acara Zespri Kampanyekan Makan Pagi Sehat dengan Buah Kiwi. Fiastuti menerangkan bahwa saat sahur yang perlu diperhatikan adalah terpenuhi kebutuhan air dalam tubuh. Saat sahur disarankan minum air putih sebanyak tiga gelas. Hindari minum kopi, karena membuat buang air kecil jadi banyak.

7. TIDAK BEROLAHRAGA SEHABIS SHALAT SUBUH.

Dr. dr. Fiastuti menuturkan untuk menjaga tubuh tetap prima saat ber"puasa" maka sehabis shalat subuh tidak berolahraga. Keluarnya cairan tubuh berupa keringat saat berolahraga membuat kebutuhan air dalam tubuh berkurang dan dapat menimbulkan dehidrasi. Oleh karena itu olahraga lebih baik dilakukan menjelang buka "puasa" atau pada malam hari. "Pada siang hari di luar ruangan jangan beraktivitas banyak. Sebab tubuh akan berkeringat. Cairan tubuh berkurang maka tubuh pun akan lemas. Jika lemas ibadah pun akan terganggu," ujarnya.

8. PERHATIKAN SUHU UDARA DI TEMPAT KERJA.

Suhu udara juga mempengaruhi rasa "lapar". Suhu tempat kerja yang baik dan netral adalah suhu kamar (250). Kalau tempat kerja dalam ruangan ber-AC mungkin tidak masalah, lain halnya jika kita bekerja di luar ruangan. Ruangan atau lingkungan yang terlalu dingin, akan membuat tubuh kita terasa cepat "lapar", karena sebagian energi digunakan untuk mempertahankan suhu
tubuh tetap seimbang. Jika suhu ruangan atau lingkungan terlalu panas, maka akan menguras simpanan air dalam bentuk keringat, sehingga kita merasa ke"haus"an. Yang perlu dimanipulasi dalam hal ini adalah waktu dan bentuk pekerjaan kita. Mungkin pekerjaan yang lebih berat di luar ruangan dikerjakan lebih awal sebelum sinar matahari menyengat. 


9. HINDARI STRESS. 

Stress juga mempengaruhi kondisi "lapar". Jika tubuh kita sedang stress, maka proses metabolismenya terganggu. Bisa saja rasa "lapar" langsung hilang, ataupun rasa "lapar" tidak tertahankan lagi. Pikiran sehat, tenang, sabar mungkin akan membantu anda.
 
Demikianlah tips dan trik jitu cara mengatasi supaya tidak terasa "haus" dan "lapar" pada saat "puasa""Puasa" harus diawali dengan niat dan bukan karena paksaan seperti dipaksa orang tua misalnya. "Puasa" bukan sekedar menahan "lapar" dan "haus" saja tanpa adanya niat melakukannya karena Allah. dan bukan karena ingin mendapatkan hadiah atau balasan! Semoga setelah membaca artikel ini anda mendapat keberkahan. Semoga bermanfaat.
Sumber:
1. cara-terindah.blogspot.com › Idul Fitri › Ramadhan
2. laely.widjajati.facebook/Add-a-description
3. m.tribunnews.com › Ramadan › Ramadan Sehat
4. Ficky Andreari.facebook/belajar-bikin-comic 
5. https://www.facebook.com/.../posts/40161020323594...
6.  laely.widjajati.facebook/Add-a-description 2
7. https://www.islampos.com/tips-agar-tidak-lemas-saat-b...
8. laely.widjajati.facebook/Add-a-description 3

Minggu, 22 Maret 2015

"BAGAIMANA DOSA DOSA ORANG YANG BERTAUBAT"

"Setiap hamba pasti pernah terjerumus dalam "dosa" bahkan juga "dosa" besar".



Mungkin saja seseorang sudah terjerumus dalam kelamnya zina, membunuh orang lain tanpa jalan yang benar, pernah menegak arak (khomr), atau seringnya meninggalkan shalat lima waktu padahal meninggalkan satu shalat saja termasuk "dosa" besar berdasarkan kesepakatan para ulama. Inilah "dosa" besar yang mungkin saja di antara kita pernah terjerumus di dalamnya. Lalu masihkah terbuka pintu taubat? Tentu saja pintu "taubat" masih terbuka, ampunan Allah begitu luas.

Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang ber"taubat". [HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391]

Rasulullah SAW mengingatkan: Setiap bani  Adam berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang ber"taubat" (HR. Imam al-Tirmidzi, Imam Ibn Majah dan Imam Ahmad). 

Jika salahnya berhubungan dengan Allah SWT, ya mintalah ampunan pada-Nya. Dan kalau kelirunya berkaitan dengan manusia, ya mintalah ampunan pada manusia dan Allah SWT juga. Dengan per"taubat"an ini, insya Allah kita akan terlahir kembali sebagai orang yang bersih dari noda-noda hitam laksana jabang bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya (ka yaum waladathu ummuhu).   

Sebuah hadits yang patut jadi renungan, Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni "dosa"-"dosa"mu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya "dosa"mu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan "dosa" sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Jika Bertaubat, Setiap "dosa" Akan Diampuni

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun. Setiap "dosa" –baik "dosa" kecil, "dosa" besar, "dosa" syirik bahkan "dosa" kekufuran- bisa diampuni selama seseorang ber"taubat" sebelum datangnya kematian walaupun"dosa"  itu sepenuh bumi. Hal ini dikuatkan pula pada ayat dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni "dosa"-"dosa" semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Ibnu Katsir mengatakan, ”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera ber"taubat" kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh "dosa" bagi siapa yang ingin ber"taubat" dari "dosa"-"dosa" tersebut, walaupun "dosa" tersebut amat banyak, bagai buih di lautan. ”[1]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap "dosa" walaupun itu "dosa" kekufuran, kesyirikan, dan "dosa" besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan, ”Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap "dosa" (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang ber"taubat". Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak "dosa" yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”[2]

Seseorang Yang Melakukan "Dosa" Berulang Kali

Mengenai hal ini, cobalah kita renungkan dalam hadits berikut. Dari Abu Huroiroh, Rasulullah SAW. bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ


“Ada seorang hamba yang berbuat "dosa" lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah "dosa"ku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat "dosa", lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni "dosa" dan menghukumi setiap perbuatan "dosa"’. (Maka Allah mengampuni "dosa"nya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat "dosa", lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah "dosa"ku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat "dosa", lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni "dosa" dan menghukumi setiap perbuatan "dosa"’. (Maka Allah mengampuni "dosa"nya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat "dosa", lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah "dosa"ku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat "dosa", lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan "dosa". Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”( HR. Muslim no. 2758). An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat "dosa" lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

An Nawawi mengatakan, ”Seandainya seseorang berulang kali melakukan "dosa" hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia ber"taubat" setiap kali berbuat "dosa", maka pasti Allah akan menerima "taubat"nya setiap kali ia bertaubat, "dosa"-"dosa"nya pun akan gugur. Seandainya ia ber"taubat" dengan sekali "taubat" saja setelah ia melakukan semua "dosa" tadi, taubatnya pun sah.”[3]

Ya Rabb, begitu luas sekali rahmat dan ampunan-Mu terhadap hamba yang hina ini …

Ber"taubat"lah yang Tulus

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, ber"taubat"lah kepada Allah dengan "taubat"an nasuhaa ("taubat" yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna "taubat" yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah,

“Menghindari "dosa" untuk saat ini. Menyesali "dosa" yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika "dosa" tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”[4]

Penuhilah Syarat Diterimanya "Taubat"

Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir di atas, syarat "taubat" yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin ber"taubat" dapat dirinci secara lebih lengkap sebagai berikut.

1. Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.


2. Menyesali "dosa" yang telah dilakukan dahulu sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar, “Menangisi "dosa"-"dosa" itu akan menghapuskan "dosa"-"dosa" sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.”[5] ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa "taubat" adalah dengan menyesal.[6]

3. Tidak terus menerus dalam berbuat "dosa" saat ini. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.

4. Bertekad untuk tidak mengulangi "dosa" tersebut di masa akan datang karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan "taubat" adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.[7]

5. "Taubat" dilakukan pada waktu diterimanya "taubat" yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka "taubat" tersebut tidak lagi diterima.[8]

Bacalah Do’a Ampunan Versi Abu Bakr

Do’a yang bisa diamalkan adalah do’a meminta ampunan yang diajarkan oleh Nabi SAW. pada Abu Bakr Ash Shiddiq ra.

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq, beliau berkata kepada Rasulullah SAW.,

عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ :اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »

“Ajarkanlah aku suatu do’a yang bisa aku panjatkan saat shalat!” Maka Beliau pun berkata, “Bacalah: ‘ALLAHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA FAGHFIRLII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM (Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni "dosa"-"dosa" kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) ‘.” (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)

Lakukan Shalat "Taubat"

Shalat "taubat" adalah shalat yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab[9]. Hal ini berdasarkan hadits,

« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

“Tidaklah seorang hamba melakukan "dosa" kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap "dosa"-"dosa" mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni "dosa" selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.[10]” (HR. Tirmidzi no. 406, Abu Daud no. 1521, Ibnu Majah no. 1395. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)[11]. Meskipun sebagian ulama mendhoifkan hadits ini, namun kandungan ayat sudah mendukung disyariatkannya shalat taubat.[12]

Shalat "taubat" ini bisa cukup dengan dua raka’at dan cukup niat dalam hati, tanpa perlu melafazhkan niat tertentu.

Jauhilah Lingkungan Yang Buruk Demi Memperkuat "Taubat"


An Nawawi mengatakan, ”Hendaklah orang yang ber"taubat" mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, sholih, berilmu, ahli ibadah, waro’dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.”[13]

Nabi SAW. juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”[14]

Semoga Allah menerima setiap "taubat" kita dan mengampuni setiap "dosa" yang kita sesali. Hanya Allah yang beri taufik.

Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/...cara-bertaubat...bertaubat...
2. https://abumuhammadblog.wordpress.com/.../bertauba...
3. www.qothrotulfalah.com/.../302-setelah-taubat-berdos...


MusicPlaylistView Profile