Sabtu, 10 Agustus 2013

"TRADISI KUPATAN/KETUPAT"

"Tradisi Kupatan" berawal dari "Tradisi" Wali Songo. 
 
 

"Ketupat" atau "tradisi" Jawa-nya "Kupatan" bukan hanya sebuah "Tradisi" Lebaran dengan menghidangkan "ketupat", sejenis makanan atau beras yang dimasak dan dibungkus daun janur berbentuk prisma maupun segi empat. Sebab, "Kupatan" memiliki makna dan filososi mendalam.

Dari sisi sejarah,
"Tradisi Kupatan"  berangkat dari upaya-upaya Wali Songo memasukkan ajaran Islam. Karena zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya para Walisongo memanfaatkan cara tersebut. "Tradisi Kupatan" akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning”.

Dari sisi bahasa, "Kupat" berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Bertepatan dengan momen Lebaran, "Kupat" mengusung semangat saling memaafkan, semangat taubat pada Allah, dan sesama manusia. Dengan harapan, tidak akan lagi menodai dengan kesalahan di masa depan. ''Kupat" dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kafi. Yakni, kuffat yang berarti sudah cukup harapan".

Dengan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, lalu Lebaran 1 syawal, dan dilanjutkan dengan puasa sunnah enam hari Syawal, maka orang-orang yang kuffat merasa cukup ibadahnya. Apalagi, berdasarkan hadis riwayat Imam Muslich bahwa ibadah tersebut sama dengan berpuasa satu tahun lamanya. ''Karena itulah, kuffat berarti orang-orang yang merasa cukup".

Terlebih, ditambah lagi dengan "Tradisi" silaturahim selama sepekan penuh pada kerabat dan masyarakat sekitar. Sehingga,
"Tradisi Kupatan" benar-benar dirasa lengkap.

Sedang dari sisi penyimbolan, dipilihnya janur karena janur biasa digunakan masyarakat Jawa 
dalam suasana suka cita. Umumnya, dipasang saat ada pesta pernikahan atau momen menggembirakan lain. Janur dalam bahasa Arab berasal dari kata Jaa Nur atau telah datang cahaya. Sebuah harapan cahaya menuju rahmat Allah, sehingga terwujud negeri yang makmur dan penuh berkah.

Sedang isinya, dipilih beras baik-baik yang dimasak jadi satu sehingga membentuk gumpalan beras yang sangat kempel. Ini pun memiliki makna tersendiri, yakni makna kebersamaan dan kemakmuran. ''Harapan para Wali Songo dulu,
"Tradisi Kupatan" ini bukan sebuah formalitas, tapi menjadi semangat kebersamaan umat".

Selain itu, biasanya "Kupatan" dimaknai dengan potongan miring sebagai simbol perempuan. Potongan "Kupat" miring tersebut lazim disandingkan dengan lepet berbahan beras ketan dengan bentuk lonjong sebagai simbol laki-laki. ''Artinya, pasangan suami istri juga harus selalu hidup rukun dan bersanding".

Dalam perjalanan, para kiai dan ulama menjadikan "Tradisi Kupatan" untuk menyampaikan pesan persatuan dan silaturahim. Ajakan tersebut, tak perlu sulit-sulit dengan himbauan lisan, tapi cukup dengan simbol-simbol. Sehingga, ajaran agama menjadi tidak asing bagi umat. ''Dengan menggunakan simbol yang melekat di kehidupan sehari-hari, ajaran agama bukan lagi hal menakutkan. Karena alat perantaranya telah melekat di hati".

Bagaimana dengan sandingan sayur "Kupat", apa mengandung makna tertentu juga? Disinggung soal itu, Marzuki menandaskan sayur pendamping "Kupat" hanyalah selera lidah masyarakat. Tidak ada makna khusus karena biasanya sayur pendamping "Kupat" disesuaikan dengan masakan khas daerah masing-masing. 
 
Kesempurnaan dan kesucian diri yang juga dilambangkan dengan isi "Kupat" yang berisi beras (segenggam beras) dan karena butir-butir beras tadi saling menyatu dalam selongsong janur dan rela direbus sampai matang, masak, maka jadilah sebuah makanan yang mengenyangkan dan enak dimakan. Ini adalah sebuah simbol dari persamaan juga kebersamaan persatuan dan kesatuan, dimana yang demikian itu merupakan seuntai pesan moral terhadap umat agar sama-sama rela untuk menjalin persatuan dan kesatuan sesama umat, untuk diri pribadi, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.

Namun sedemikian itu, meski sudah menjadi sebuah "Tradisi" turun temurun dan terus dilakukan, juga tak jarang muncul sebuah polemik di kalangan umat Muslim, dimana ada juga yang menganggap sebuah "Tradisi" tersebut sebagai Bid’ah dan sesat, dikarenakan termasuk mengada-ada dalam masalah ibadah. Setelah bulan suci Ramadhan, dan memasuki Syawal (1 Syawal/Idul Fitri) maka pada saat itu seluruh kaum Muslim diharamkan untuk berpuasa, terkecuali ketika mulai pada hari ke 2 bulan Syawal, baru ada anjuran (sunnah muakkad) untuk melakukan puasa selama enam hari, berturut-turut sejak tanggal 2 Syawal  ataupun terpisah, selama masih dalam bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi SAW : 


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ. رواه مسلم (الجامع الصغير ص 307)
 

Artinya :
“Barang siapa berpuasa Ramadlan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seperti puasa setahun”. (HR. Imam Muslim)
 
Kemudian setelah puasa Syawal, tidak ada anjuran atau tuntutan melakukan dan menyelenggarakan "Tradisi" tertentu (disini yang dimaksudkan adalah "Kupatan"), maka barang siapa melakukan "Tradisi" tertentu atau "Tradisi" riyoyo kupat pada tanggal 8 Syawal, maka hal itu dianggap Bid’ah (suatu hal yang baru). Kenapa demikian, dikarenakan dianggap suatu hal yang dulunya (zaman Rasul dan para sahabat) tidak pernah melakukan dan tidak pernah diajarkan. Inilah yang kemudian menjadi bermunculan multipersepsi di kalangan umat Islam, antara yang Bid’ah dan tidak, antara yang melakukan dan tidak mau melakukan. Namun tidaklah ini menjadi sebuah kerumitan dan menjanggal kita, coba kita pecahkan dan kita pikirkan dari paradigma bahasa yakni interpretasi dari makna Bid’ah itu sendiri, juga bagaimana status amaliyah dari "Tradisi" riyoyo "Kupatan" itu sendiri.


Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 117 yang artinya :

“Allah Pencipta langit dan bumi, ...”. Yang dimaksud disini adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. 

Juga firman-Nya dalam Q.S  Al-Ahqaf ayat 9 yang artinya : “Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara Rasul-rasul’ ”. Maksudnya adalah aku bukan Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. Sedangkan ada yang mendefinisikan Bid’ah secara mutlak, yakni segala hal yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Sesuatu yang ada kaitannya dengan ibadah dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi adalah Bid’ah dan haram untuk dilakukan. Oleh karena itulah "Tradisi Kupatan" ini dikategorikan sebagai ibadah madlah (ritual murni) yang terikat dengan tata cara yang didasarkan pada tauqif  (Jawa; piwulang) dari Nabi, dan hal itu dianggap mengada-ada dan itu adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah dlalalah. Sabda Nabi SAW:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البيهقي عن عائشة (الجامع الصغير ص 296)

Artinya :

“Barang siapa mengada-ada di dalam urusan agama kita ini, sesuatu yang tidak bersumber darinya, maka hal itu ditolak” (HR. Imam Baihaqi) 
Dan sabda Nabi SAW. : 

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي. أَيْ بَاعِدُوْا وَاْحذَرُوْا اْلأَخْذَ بِاْلأُمُوْرِ الْمُحْدَثَةِ فِي الدِّيْنِ. (المجالس السنية شرح الأربعين النووية ص 87)

Artinya :

“Jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya hal tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) yakni kamu sekalian harus menjauhi dan mewaspadai perkara-perkara baru dalam agama.

Namun selain daripada itu, ada lagi yang kemudian pendapat mengklasifikasikan bid’ah itu menjadi dua bagian, yakni bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk), dan berpendapat bahwasanya "Tradisi kupatan" itu adalah dikategorikan sebagai ibadah ghairu mahdlah (tidak murni) yang yang perintahnya ada, namun dalam hal pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi, maka adanya "Tradisi" itu dianggap amrun mustahsan (sesuatu yang dianggap baik). Penjelasan ini bukan berarti mengingkari dari pada dua hadits yang telah disebutkan di atas tadi, akan tetapi mencoba memahami hadits tersebut dengan paradigma yang lebih luas, dalam artian tidaklah semua bid’ah itu dlalalah (sesat), namun ada juga bid’ah yang hasanah (bagus) yaitu suatu hal baru yang tidak merusak akidah dan tidak menyimpang dari syari’at, sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya Syaikh As-Sayyid Muhammad Alwi “Al-Ihtifal bidzikro maulidin Nabi” : 
قَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا أَحْدَثَ وَخَالَفَ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ أَثَرًا فَهُوَ الْبِدْعَةُ الضَّالَّةُ، وَمَا أَحْدَثَ مِنَ الْخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ الْمَحْمُوْدُ. 


Artinya :
“Imam Syafi’i berpendapat bahwa amalan apa saja yang baru diadakan dan amalan itu jelas menyimpang dari kitabullah, sunnah Rasul, ijma’us shahabah atau atsaratut tabi’in, itulah yang dikategorikan bid’ah dlalalah/sesat atau tercela. Sedangkan amalan baik yang baru diadakan dan tidak menyimpang dari salah satu dari empat pedoman di atas, maka hal tersebut termasuk hal yang terpuji”.

Juga dalam kitab yang sama beliau menyimpulkan pendapat Imam Syafi’i tersebut sebagai berikut : 

فَكُلُّ خَيْرٍ تَشْتَمِلُهُ اْلأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ وَلَمْ يُقْصَدْ بِإِحْدَاثِهِ مُخَالَفَةُ الشَّرِيْعَةِ وَلَمْ يَشْتَمِلْ عَلَى مُنْكَرٍ فَهُوَ مِنَ الدِّيْنِ.

Artinya :

“Jadi setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan mengadakannya tidak ada maksud menyimpang dari aturan syari’at serta tidak mengandung kemunkaran, maka hal itu termasuk “ad-din” (urusan agama)”.


Oleh karena itu, wahai sahabat/i yang dimuliakan Allah semuanya, Aamiin, menempatkan hukum riyoyo "Kupat" itu tidaklah dengan seenaknya saja, harus dilihat dari substansi masalahnya, yaitu ajaran silaturrahim, saling memaafkan juga ajaran tentang pemberian sodaqoh atau sedekah, yang mana hal tersebut perintahnya ada dalam dalil syar’i, namun daripada itu teknis dalam hal pelaksanaannya bisa dilakukan dengan beragam cara.
Dalil syar’i tentang silaturrahim antara lain : Hadits Riwayat Tirmidzi : 

أَسْرَعُ الْخَيْرِ ثَوَابًا الْبِرُّ وِصِلَةُ الرَّحِمِ. رواه الترمذي عن عائشة

Artinya :
“Amal kebajikan yang paling cepat mendapatkan pahala adalah ketaatan dan silaturrahim”.

Dalil syar’i tentang memberikan maaf antara lain QS. An-Nur 22 : 

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْا أَلاَ تُحِبُّوْنَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. النور : 22.

Artinya :

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin Allah akan mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. An-Nur : 22)
Dalil syar’i tentang memberikan sedekah antara lain : 

  تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرَةٍ. رواه ابن المبارك 

Artinya :
“Bersedakahlah kamu, meskipun hanya berupa sebutir kurma” (HR. Ibnu Mubarak).



Itulah, sedikit dari beberapa pemaparan tentang "Tradisi Kupatan", dimana "Tradisi Kupatan" itu tidak bisa dengan begitu saja disebut sebagai bid’ah atau tambahan dalam beribadah, melainkan "Tradisi Kupatan" adalah budaya lokal dimana budaya tersebut memiliki keterkaitan dengan syari’at Islam dan karena itulah "Kupatan" tidak bisa dihukumi sebagai penyimpangan, apalagi dihukumi sebagai tindakan dlalalah (sesat).
 
Sumber:
1.  fendi-tw.blogspot.com/2008/10/tradisi-kupatan.html
2.  pekansyawalan.blogspot.com/p/blog-page_4.html
3.  zaynunaddin.blogspot.com › Religi
4.  digito10 blogspot.com/Sekedar-Cemilan-Hidup:Kupatan-Tradisi....
5.  mushollarapi.blogspot.com/Musholla-RAPI-Online:Agustus-2012....
6.  zainunaddin.blogspot.com/Memahami-Hakikat-Kupatan....
7.  mtsmaarifkarangan.blogspot.com/Tradisi-Kupatan....

"MAKNA SEBUAH HADIAH"

"Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af."


"Hadiah" atau hibah atau kado adalah pemberian uang, barang, jasa dan lain-lain yang dilakukan tanpa ada kompensasi balik seperti yang terjadi dalam perdagangan, walaupun dimungkinkan pemberi "Hadiah" mengharapkan adanya imbal balik, ataupun dalam bentuk nama baik (prestise) atau kekuasaan. Dalam hubungan manusia, tindakan pertukaran "Hadiah" berperan dalam meningkatkan kedekatan sosial.

Istilah "Hadiah" dapat juga dikembangkan untuk menjelaskan apa saja yang membuat orang lain merasa lebih bahagia atau berkurang kesedihannya, terutama sebagai kebaikan, termasuk memaafkan (walaupun orang lain yang diberi tidak baik).

Memahami "Hadiah" sebagai salah satu cara untuk menyatukan hati antara pemberi dan penerima dapat dilihat dalam beberapa riwayat sebagai pedoman, dari perintah memberi "Hadiah", prioritas penerima "Hadiah" dan larangan mengaburkan 
 
Anjuran agar saling mendekatkan hati, saling bersaudara dan mencintai di antara sesama kaum muslimin merupakan salah satu sisi keindahan Islam. Islam mensyari'atkan sarana yang dapat menyebabkan keakraban, mendamaikan dan menghilangkan kabut hati. Di antara sarana itu adalah saling memberikan "Hadiah" di antara sesama muslim."Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af. "Hadiah" mampu menghilangkan kabut hati, memadamkan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. "Hadiah" dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai."Hadiah" selalu memberi kesan perdamaian, rasa cinta dan penghargaan dari si pemberi kepada yang diberi. Karena itulah Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar memberi dan menerima"Hadiah" . Beliau menjelaskan pengaruh "Hadiah" di dalam meraih kecintaan dan kasih sayang di antara sesama manusia,


"Saling memberi
"Hadiah"lah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid)

Beliau juga bersabda,
"Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak
"Hadiah"..." (HR.Ahmad dan al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrid)

Mengenai hadits ini, Ibn Hibbân mengomentari, "Dalam hadits ini, Nabi SAW mengecam tindakan menolak
"Hadiah" di kalangan sesama muslim. Bila seseorang diberi sebuah "Hadiah", wajib baginya untuk menerimanya dan tidak menolaknya. Saya menganjurkan orang-orang untuk saling mengirim "Hadiah" kepada sesama saudara. Sebab"Hadiah"  dapat melahirkan kecintaan dan menghilangkan rasa dendam."

ANTARA NABI MUHAMMAD SAW DAN "HADIAH".

Nabi Muhammad SAW menerima
"Hadiah" dan tidak menerima sedekah. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Bila Rasulullah SAW disuguhi makanan, ia selalu bertanya; Apakah ia "Hadiah" atau sedekah.? Jika dijawab, 'Sedekah' maka ia berkata kepada para shahabatnya, 'Makanlah oleh kalian' sementara ia tidak ikut memakannya. Sedangkan bila dijawab, '"Hadiah" maka beliau mencuci tangannya lalu memakannya bersama mereka.'" (Muttafaqun 'alaih)

Hadits lainnya berasal dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah SAW menerima
"Hadiah" dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya." (HR. al-Bukhari)

Salah satu jenis
"Hadiah"  yang tidak pernah ditolak Nabi SAW adalah wewangian. Hal ini sebagaimana hadits Anas ra, bahwasanya Nabi SAW tidak pernah menolak wewangian." (HR. al-Bukhari) Beliau,  juga bersabda, "Siapa saja yang di"Hadiah"i 'Raihan', maka janganlah menolaknya sebab ia ringan dibawa namun sedap baunya." (HR.Muslim)

APA YANG DILAKUKAN ORANG ORANG  ANSHAR?

Orang-orang Anshar amat mengetahui betapa hajat Rasulullah SAW dan kesulitan hidup yang dialaminya. Karena itu, mereka selalu mengirimkan
"Hadiah" dan pemberian untuk beliau. Hal ini diceritakan oleh 'Aisyah ra kepada 'Urwah ra bahwa seringkali di rumah Rasulullah SAW tidak dinyalakan api karena tidak memasak. Lalu ketika 'Urwah bertanya apa yang dimakan bila kondisinya demikian. 'Aisyah ra menjawab, "Hanya korma dan air." Kemudian 'Aisyah ra menceritakan bahwa sekalipun demikian, Rasulullah SAW punya tetangga orang-orang Anshar yang selalu mengirimkan "Hadiah", yaitu berupa air susu onta." (Muttafaqun 'alaih)

MEMBERI "HADIAH"  JANGAN DIUKUR NILAI MATERINYA

Anjuran Rasulullah SAW agar saling memberi "Hadiah" walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilai materinya tetapi lebih kepada nilai maknawinya sebagaimana yang telah disinggung di atas. Hal ini dapat terlihat dari sabda Rasulullah SAW melalui hadits Abu Hurairah ra bahwa beliau bersabda,
"Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetangga meremehkan pemberian tetangganya yang lain sekali ia (pemberian tersebut) berupa ujung kuku (teracak) unta." (HR.al-Bukhari). Padahal, apalah artinya kuku yang tentunya hanya menyisakan sedikit daging.

Dalam hadits yang lain, Nabi SAW memberikan permisalan menarik yang menunjukkan perlunya sikap tawadlu' (rendah hati) dalam menerima "Hadiah" apa pun,
"Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan (yang berupa) bagian hasta atau bagian di bawah tumit, niscaya aku penuhi undangan itu, dan andaikata aku di
"Hadiah"i hal yang sama juga niscaya aku menerimanya." (HR. al-Bukhari)

Bila kita renungkan lebih mendalam, apakah Rasulullah SAW masih membutuhkan makanan dari orang lain? Jawabannya sudah pasti, tidak. Sebab sebagaimana yang kita ketahui bahwa beliau diberi makan dan minum oleh Rabbnya akan tetapi hal itu merupakan pelajaran praktis agar bersikap tawadlu' dan rendah hati terhadap kaum muslimin apa pun kedudukan mereka.

Kehidupan para ulama Salaf juga sarat dengan hal itu di mana mereka saling memberi
"Hadiah", sekecil apa pun bentuknya, terkadang ada yang hanya berupa kurma yang belum matang, ada yang berupa setangkai bunga mawar, ada yang hanya berupa garam yang ditumbuk dan tetumbuhan yang wangi aromanya.

SALING MEMBERI "HADIAH" ANTARA SUAMI-ISTRI

"Hadiah" adalah sesuatu yang mengagumkan, apalagi bila terjadi di antara suami-isteri. Ia dapat menambah rasa kecintaan dan kedekatan hati antara keduanya, memperbarui ruh kehidupan rumah tangga dan menghilangkan perselisihan yang sebelumnya bisa saja akan bertambah meruncing bila kedua pasangan tidak menyadari apa yang dapat menghilangkannya.

Seorang istri lebih mudah tersentuh oleh
"Hadiah" yang diberikan suaminya ketimbang terhadap "Hadiah" orang lain, demikian pula dengan sang suami. Bahkan bila ingin, isteri boleh memberikan sebagian maharnya kepada sang suami asalkan secara sukarela. Allah SWT,
"Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (an-Nisâ`:4)

BEBERAPA HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Tidak boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan kepada orang lain sebab hal itu sebagaimana makna sebuah hadits sama seperti anjing yang menelan lagi makanan yang telah dimuntahkannya. (Muttafaqun 'alaih).

Akan tetapi, boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan karena alasan yang sesuai syari'at seperti curiga bahwa ia berasal dari hasil suap. Contohnya, ash-Sha'b bin Jatstsamah ra pernah memberi "Hadiah" seekor keledai liar kepada Rasulullah SAW ,, ,,namun beliau menolak nya karena ia sedang berpakaian ihram. Demikian pula, bila seorang pegawai yang sudah memiliki gaji diberi "Hadiah", maka ia tidak boleh menerimanya dan ini seperti kasus Ibn al-Lutbiyyah di mana Rasulullah mengecamnya. (Muttafaqun 'alaih)
2. Hendaknya yang lebih diutamakan di dalam memberi "Hadiah" adalah keluarga terdekat; kaum kerabat seperti paman pihak ibu dan ayah dan orang semisal mereka. Demikian juga boleh mendahulukan orang yang di hati seseorang mendapat tempat yang dekat. Imam al-Bukhari mencantumkan bab tentang siapa yang lebih dahulu harus diberi "Hadiah", lalu beliau mengetengahkan dua hadits; yang pertama, beliau menyarankan kepada sang penanya agar diberikan kepada paman dari garis ibunya dan yang ke dua ketika ditanyai kepada beliau mana di antara dua tetangga yang didahulukan dalam memberi "Hadiah", beliau menjawab, "Yang paling dekat pintunya darimu." 

Sumber:
1. bingkaisunnah.blogspot.com/.../arti-sebuah-hadiah.ht...
2. id.wikipedia.org/wiki/Hadiah
3. enizar-stain.blogspot.com/.../pemberipenerima-hadiah....
4. laely-widjajati.blogspot.com/.../wisata-ritual-belanja-d...

Jumat, 09 Agustus 2013

"T E L E P A T I"

"Telepati" adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indera".



"Telepati" berasal dari dua kata yaitu : “tele” berarti “jauh” dan “pathos” berarti “perasaan”. "Telepati" secara harfiah artinya adalah “merasakan dari jarak jauh”.

"Telepati" adalah gejala alamiyah yang sudah ada sejak kita masih bayi. Semua anak bayi memiliki kemampuan "Telepati" secara alamiyah. Anak bayi belum mampu mengungkapkan perasaan dan keinginannya dengan kata kata. Ia menyampaikan dan mengungkapkan keinginannya melalui perasaan yang dipancarkan.

Ketika seorang ibu pergi berbelanja kepasar dan anak bayinya yang masih menyusu ditinggal sedang tidur di rumah, tiba tiba ia merasa gelisah dan ingat pada anak bayinya di rumah. Ia tidak bisa berkonsentrasi untuk belanja, fikirannya hanya tertuju pada bayinya. Air susunyapun mengalir dengan sendirinya, ia tidak bisa menahan keinginannya nuntuk segera pulang menemui bayinya. Ia segera kembali ke rumah, dan didapatinya anak bayinya sedang menangis, ia segera menggendong dan menyusui bayinya. Hatinya menjadi tentram dan anak bayinya pun berhenti menangis. Itulah hubungan "Telepati" yang dilakukan seorang bayi kepada ibunya.



Sejak bayi kita sudah mempunyai kemampuan telepati, karena pada anak bayi otak kanannya lebih dominan daripada otak kiri. Seiring dengan pertumbuhan usia, peranan otak kiri semakin dominan dan peranan otak kananpun berkurang, maka kemampuan berkomunikasi dengan "Telepati"pun berkurang pula. Sebenarnya kemampuan "Telepati" ini bisa diasah dan dirawat terus dengan melakukan latihan. "Telepati" adalah cara berkomunikasi menggunakan fikiran bawah sadar atau otak kanan. Setiap orang bisa melakukannya asal mau mencoba dan melatihnya, karena pada dasarnya ketika masih bayi semua orang pernah melakukan komunikasi dengan "Telepati". Kemampuan "Telepati" jadi berkurang karena kita lebih banyak menggunakan otak kiri daripada otak kanan. Pancaran sinyal "Telepati" dilakukan oleh fikiran bawah sadar melalui otak belahan kanan, dan diterima oleh penerima melalui otak belahan kanan pula. 

Signal yang diterima umumnya berupa perasaan. Hubungan "Telepati" biasanya lebih mudah dilakukan antara orang yang mempunyai hubungan emosi. Misalnya antara ibu/bapak dengan anaknya, abang dengan adik, dua orang yang sedang pacaran, karib kerabat, teman bisnis yang akrab, suami istri dan lain sebagainya. Saya pernah menerima signal "Telepati" dari ayah saya yang sedang sakit. Satu waktu ketika saya baru sampai di kantor saya, tiba-tiba saya ingat ayah saya dan ingin sekali menemuinya dengan segera. Keinginan saya untuk bertemu beliau begitu kuat, saya tidak bisa konsentrasi kerja. Akhirnya saya minta staf saya menyiapkan kendaraan dan mengantar saya ke rumah ayah di rumah. Sampai di rumah ayah, beliau keluar sambil memegang mulutnya yang tampak agak miring dan berkata: ”Bapak… sakit !” . Rupanya beliau terkena serangan stroke ringan, dan ingin sekali bertemu dengan saya, karena ketika itu belum ada fasilitas telepon sedang ia sangat butuh pada saya, tanpa sengaja fikiran yang kuat telah memancarkan signal "Telepati" yang kuat dan dapat saya terima. 

Sebenarnya dalam kehidupan sehari hari kita sering menerima pesan "Telepati", hanya saja kita kurang begitu memperhatikan. Satu ketika kita ingat seorang teman yang sudah lama tidak jumpa, ketika kita sedang melamun tentang teman tersebut, tiba-tiba telepon berdering, ternyata telepon dari teman yang sedang kita ingat itu. Ketika anda ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba teman yang di depan anda sudah mengucapkannya lebih dahulu. Ketika anda ingin menyusul seseorang yang bersepeda di depan anda, tiba-iba orang itu menengok pada anda. Dan banyak lagi kejadian sehari hari yang kurang kita perhatikan. 

Dalam sejarah tercatat nama Emanuel Swedenborgh seorang sarjana Swedia hidup di abad 18. Semula ia lebih cenderung mempelajari ilmu alam tetapi belakangan ia lebih tertarik dengan ilmu ghaib/occoultisme. Dalam suatu rapat yang dihadiri kalangan cendekiawan, tiba tiba Swedenborgh berlarian kesana kemari, mukanya pucat penuh kekawatiran. Seperti orang kurang waras ia mengatakan, baru saja terjadi kebakaran besar di Stockholm, rumah sahabatnya terbakar namun rumahnya selamat dari amukan api. Tiga hari kemudian ada kabar dari Stockholm bahwa kota itu mengalami kebakaran besar. Umumnya signal "Telepati" akan memancar kuat secara otomatis ketika saat seseorang berada pada kondisi terjepit, tertekan dan terdesak, dan saat seseorang dipengaruhi oleh perasaan emosi, takut, gembira, cemas, yang kuat. Pada saat itu fikiran bawah sadar (otak kanan) lebih dominan daripada fikiran sadar (otak kiri). 

Seorang dokter di Perancis bernama Andral mengisahkan suatu peristiwa ketika terjadi pertengkaran antara seorang petani dengan pandai besi. Petani itu mengeluh bahwa setiap malam jam 22 .00 – 24.00 telinganya diganggu suara gemuruh seperti besi beradu sehingga menyebabkan ia tidak bisa tidur. Mendengar penuturan petani itu, pagi harinya Andral memanggil pandai besi tetangganya dan bertanya kepada pandai besi itu, aktivitas apa saja yang dilakukannya sekitar jam 22.00 – 24.00. Pandai besi itu mengaku bahwa pada jam itu ia bekerja menempa besi sambil membayangkan wajah petani tetangganya yang telah mendholimnya, dan ia berharap suara besi yang ditempanya mampu menembus tembok kamarnya. Andral lalu berkata:” Baik keingananmu telah tercapai, mulai saat ini hentikanlah ulah jahatmu itu , atau aku adukan engkau kepada polisi” . Malam hari berikutnya pandai besi itu menghentikan kegiatannya tersebut dan petani itupun bisa tidur dengan tenang. 

Itulah beberapa gejala"Telepati"  yang bisa saja terjadi pada diri kita. Kasus serangan mental seperti yang dialami petani itu bisa saja terjadi pada siapapun. Terjadinya biasanya tidak disadari oleh pelaku maupun orang yang mengalami serangan, karena aktivitas ini memang berada pada wilayah fikiran bawah sadar. Untuk menghindari terjadinya serangan mental ini Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berlaku santun , jangan sampai menyakiti hati tetangga, atau orang di sekitar kita. Rasulullah mengingatkan kepada kita :”Takutilah do’a (jeritan) orang yang teraniaya , karena do’a orang yang teraniaya itu di ijabah”. 

Keluhan atau jeritan orang yang teraniaya biasanya diikuti dengan emosi yang kuat, ini akan memancarkan signal "Telepati". Karena itu Rasulullah mengingatkan kita agar jangan sampai mendholimi tetangga atau orang lain. Berlaku ramah dan santun terhadap tetangga sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Kita juga dianjurkan untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain. Karena kebencian, kemarahan yang disertai emosi yang kuat juga bisa memancarkan kekuatan "Telepati" . Getaran "Telepati" yang merusak ini disebut juga serangan mental. Untuk melindungi diri dari serangan ini Islam mengajarkan kita untuk selalu berlaku santun, jangan menyakiti hati orang lain. Disamping itu juga dianjurkan untuk membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nash. 

Serangan mental yang berupa "Telepati" ini biasanya terjadi pada orang yang berhubungan dekat atau memiliki hubungan emosi, seperti orang tua dengan anak, antara adik dan kakak, antara tetangga, sahabat karib, pasangan suami istri, orang yang berpacaran, antara majikan dengan karyawan dan lain sebagainya. Pasangan suami istri yang tidak akur , biasanya sering melakukan serangan ,mental antara satu dengan yang lainnya. Kalau sudah begitu ada saja kesialan yang akan dialami oleh rumah tangga itu, rezeki jadi seret, usaha terancam bangkrut, suasana di rumah tidak nyaman, panas dan selalu ingin bertengkar. Soal kecil jadi besar.
 
Kebanyakan kasus "Telepati" yang dialami orang terdiri dari dua hal mendasar, yakni "Telepati" terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki hubungan dekat (misalnya antara suami dan istri atau ibu dan anak), serta dalam situasi berbahaya. Ambil contoh kasus diatas. Seorang Ibu  terpeleset di kamar mandi. Untuk sesaat dalam kondisi sangat kesakitan, ia sangat kuat memikirkan Anaknya. Ia mungkin berpikir tidak akan lagi bisa melihat Anaknya. Oleh karena itu, secara bersamaan Anaknya menerima "Telepati" dari sang ibu. Anaknya menjadi gelisah, memikirkan sang ibu dan terdorong untuk pulang ke rumah.

"Telepati" dipercaya melibatkan fisiologis tubuh. Tidak semata-mata pikiran yang bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menyampaikan sebuah informasi "Telepati"k kepada orang lain, terjadi perubahan fisiologis dalam diri pengirim. Pada saat seorang pengirim pesan diminta berkonsentrasi memikirkan penerima pesan, respon kulit galvanik atau GSR, yang merupakan detektor alamiah terhadap stres psikologis dalam diri seseorang, meningkat. Pada saat relaks, GSR-nya kembali menurun.

Penelitian di laboratorium tersebut juga menunjukkan bahwa pada saat pengirim pesan berkonsentrasi pada penerima pesan, dimana terjadi peningkatan GSR, penerima pesan juga mengalami kenaikan GSR. Saat pengirim pesan dalam kondisi relaks, secara otomatis, GSR penerima pesan juga ikut menurun. Padahal, penerima pesan tidak tahu apakah pengirim pesan sedang berkonsentrasi atau sedang relaks. Jadi, secara fisiologis, penerima pesan merespon perubahan fisiologis pengirim pesan.

Dalam bidang parapsikologi, "Telepati" dianggap sebagai suatu bentuk indera keenam di mana informasi dihubungkan melalui kemampuan psi. Hal ini sering dikategorikan sama dengan prekognisi dan kewaskitaan. Berbagai percobaan telah digunakan untuk menguji kemampuan "Telepati". Di antara yang paling terkenal adalah penggunaan kartu Zener dan metode Ganzfeld.
 
Banyak orang beranggapan, bahwa kemampuan "Telepati" tidak membutuhkan latihan apapun, dan menganggapnya itu adalah bagian dari BAKAT ALAMI saja, yang tidak perlu latihan. Tapi bagi orang yang telah mengerti, pasti menyadari bahwa kemampuan "Telepati" pada awalnya harus dilatih dan dibangun lebih dulu, kemudian semakin memantapkan kekuatannya dengan melatihnya secara hati-hati dan terus menerus…sehingga akan didapatkan hasil-hasil yang bermanfaat.
 
"Telepati", seperti kecakapan berpikir lainnya…dapat dipergunakan untuk maksud baik dan jahat. Di sini, kita dihadapkan pada masalah ETIKA dan MORAL. Apakah alasan Anda belajar dan berlatih "Telepati"? Coba Anda melihat dengan cermat alasan pribadi Anda untuk berlatih dan menggunakan kecakapan "Telepati" ini.
 
Secara umum, ada 3 pandangan pernyataan dari yang berhasrat untuk berlatih kecakapan "Telepati", yaitu:
  • Pertama, sekedar punya hasrat untuk mengetahui "Telepati", dan hanya ingin mengembangkannya untuk keuntungan pribadi tanpa melibatkan orang lain secara langsung.
  • Kedua, sangat berhasrat untuk bisa menguasai kekuatan "Telepati" dan mengembangkannya untuk melayani dan membantu orang lain.
  • Ketiga, merasa harus menggunakan kekuatan "Telepati" untuk menguasai orang lain, dan menentang keinginan mereka, agar mau menuruti kemauannya.

Sejauh mana pokok persoalan menyangkut hubungan "Telepati", tentu saja ada pertimbangan-pertimbangan dasar tertentu yang harus diperhitungkan…yaitu tentang tanggung jawab moral.
 
Kemampuan"Telepati"  adalah peranan dari OTAK KANAN, yang bertanggung jawab pada sisi emosi, imajinasi, dan intuisi kita…yang kesemuanya itu terpendam di dalam alam PIKIRAN BAWAH SADAR. Oleh sebab itu, langkah awal untuk berlatih kemampuan "Telepati" adalah Anda harus menghidupkan “mesin mental” di pikiran sadar Anda untuk bersiaga penuh kesadaran, bekerja sama dengan pikiran bawah sadar Anda.
 
Keyakinan dan percaya diri Anda adalah hal utama yang harus Anda punyai sebelum memulai berlatih "Telepati". Karena perlengkapan sebenarnya dari kemampuan "Telepati" adalah pada bagian tingkat SADAR PIKIRAN Anda yang dilingkupi oleh perasaan EMOSI JIWA secara rileks…baik Anda sebagai Pengirim atau Penerima.
 
Cobalah berkonsentrasi selama beberapa saat pada BAYANGAN PIKIRAN yang hendak Anda kirimkan kepada seseorang, juga pikirkan bahwa Anda sangat ingin memproyeksikan PESAN tersebut dari tempat Anda berada ke beberapa tempat yang jauh. Kemudian konsentrasikan bahwa si penerima pesan Anda di beberapa tempat yang jauh dari Anda, bisa menerima pesan dari Anda. Dan, jangan lupa untuk memberikan segenap perasaan emosi Anda pada saat berkonsentrasi mengirimkan pesan secara "Telepati" itu. Kekurangan dari nilai emosional atau jika tanpa ada perasaan emosi yang menyelubungi pesan…maka itu sering menyebabkan proses "Telepati" menjadi gagal.
 
Kebanyakan para Pemula gagal pada tahap awal ini, karena mereka merasa TEGANG saat melakukan konsentrasi dengan sepenuh emosi jiwa. Ketegangannya biasanya dilihat dari bahasa tubuhnya yang otomatis sudah menjelaskannya…misalnya dari alis mata yang berkerut, mata yang dipejamkan dengan sangat rapat, mengatupkan bibir rapat-rapat sampai monyong atau terlihat dari otot-otot tubuhnya yang keras menegang saat mencoba berkonsentrasi itu. Hal-hal TEGANG seperti ini harus Anda hindari…janganlah tegang pada saat melakukan konsentrasi.
 
Pada Latihan "Telepati", semua bagian tubuh dan pikiran haruslah rileks meskipun tetap konsentrasi dengan tingkat keheningan yang semakin dalam. Oleh sebab itu, sebelumnya Anda harus melatih diri untuk bisa rileks dan santai…meskipun dalam waktu bersamaan sedang melakukan KONSENTRASI PIKIRAN. 
 
Dengan mencapai kondisi atau keadaan rileks dan santai secara FISIK dan PIKIRAN, maka Anda sebagai si Pengirim pesan "Telepati" akan mendapatkan gambaran mental yang jelas, beserta balutan emosi Anda di sana. Gambaran mental yang Anda ciptakan dengan jelas ini juga seiring dengan kemauan dan kemampuan Anda untuk melatih kekuatan imajinasi visualisasi Anda, sehingga Anda mampu membentuk dan menggambarkan pesan Anda sejelas mungkin, yang selanjutnya itu akan otomatis tersimpan di dalam pikiran bawah sadar Anda…dan bisa Anda gunakan berulang-ulang.
 
Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Telepati
2. wuryanano.wordpress.com/.../mencoba-latihan-telepat...
3. www.fadhilza.com/.../mengasah-kemampuan-telepati....
4. laely.widjajati.photos.facebook/ASSALAMU'ALAIKUM-Wr-Wb-Met-Pagi-Smuanya-.....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Jangan pernah katakan umurlah telah bertambah, tapi.....
6. laely.widjajati.photos.facebook/NARSIS dulu sm MBAKKU......
7. laely.widjajati.photos.facebook/Anak2 (10 Th Yg Lalu).......

Senin, 05 Agustus 2013

"KHASIAT DAN MANFAAT KURMA"

"Kurma" adalah sejenis tumbuhan (Palma) atau dikenali dalam bahasa saintifiknya sebagai Phonex dactylifera yang berbuah dan boleh dimakan sama ada yang masak atau yang mentah".



Kebanyakkan pohon "Kurma" tumbuh di Negara-negara Arab dan mempunyai berbagai-bagai jenis. "Kurma" yang terkenal ialah "Kurma" Mekkah dan Madinah yang dikatakan mempunyai berpuluh-puluh jenis. Di kalangan penduduk di Negara-negara Arab "Kurma" adalah makanan utama mereka, malah di kalangan orang kita juga "Kurma" sudah menjadi bahan makanan yang digemari. Selain rasanya yang manis dan tahan lama serta tidak perlu dimasak, "Kurma" juga mempunyai "khasiat" yang banyak dan menjadi makanan utama Baginda Rasulullah SAW.

"Kurma" (Phonex dactylifera) atau Tamar merupakan sejenis tumbuhan yang berbuah dan boleh dimakan ketika ia sudah masak atau masih mentah. "Kurma"  merupakan tumbuhan yang mempunyai pelbagai "khasiat" dan "manfaat" yang  sudah terbukti secara saintifik. Malah dalam kitab suci Al-Qur’an  terdapat 21 ayat yang menyebut tentang "Kurma". Baginda Rasulullah SAW juga sendiri telah beberapa kali menyebut perihal "Kurma" dan "khasiat"nya, dan "Kurma" amat sinonim dengan kisah Rasulullah SAW.
“Kemudian Kami tumbuhkan kerananya kebun "Kurma" dan anggur untuk kamu. Disana kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagiannya kamu makan“ (QS. Al-Mukminah ayat 19)
“Barangsiapa yang memakan 7 biji tamar ‘Ajwah’, dia akan terkawal daripada kejutan syaitan dan sihir pada hari itu“.  (Sabda Rasulullah SAW.)
Manakala sudut sains mengatakan pula, bahwa kandungan protein di dalam "Kurma" adalah lebih kurang 2.5%, serat 8.0% dan kandungan gulanya juga sangat tinggi, yakni sampai 63%, majoritinya adalah glukosa. Lemak yang terkandung di dalamnya  sangat sedikit iaitu sekitar 0.4%. "Kurma" juga terkenal dalam dunia perubatan tradisional karena juga kaya dengan zat besi, kalsium, fosforus, sodium, potassium, vitamin A, C dan niasin.


APA SAJA "KHASIAT KURMA"?
1) Dapat segera diproses dan diserap, sekaligus memberikan tenaga segera
Mengandung gula  (monosaccharide) yang sangat tinggi malah lebih tinggi dari pisang. "Kurma" dapat  memberikan “tenaga segera” yang akan diserap oleh tubuh dengan cepat. Berbeda dengan kebanyakan buah-buahan lain yang mengadung sukrosa (disaccharide). Disaccharide seperti sukrosa harus dipecahkan dahulu oleh enzim sebelum bertukar menjadi monosaccharide lalu diserap tubuh sebagai tenaga.
“Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji buah "Kurma" sebelum sembahyang. Sekiranya tiada terdapat "Kurma", maka Rasulullah SAW akan berbuka dengan beberapa biji anggur. Sekiranya tiada anggur, maka Beliau meminum beberapa teguk air“ (Hadis Riwayat Ahmad)
Makan kurma ketika berbuka puasa amat bagus kerana pada waktu ini, kita perlukan tenaga segera, dan bukannya tenaga yang “lambat untuk dicerna” seperti yang terkandung dalam kebanyakkan makanan berlemak dan bergoreng yang lain.
2)  Kaya dengan serat dan potassium
"Kurma"  dimakan tanpa perlu membuang kulitnya dan pada kulitnya itulah terkandung serat. "Kurma" adalah  buah-buahan yang amat kaya dengan serat, serat larut maupun tak larut. Kita sering menganggap buah-buahan seperti pisang itu mengandung serat yang tinggi, tetapi tahukah anda, dalam 100g "Kurma" terdapat 8g serat sedangkan dalam 100g Pisang hanya terdapat 2.6g serat saja? Tinggi serat sangat baik untuk sistem pencernakan.
Selain itu "Kurma"  juga kaya dengan Potassium dan beberapa zat galian yang lain. Potassium adalah elektrolit yang akan menyeimbangkan kembali kandungan air dalam tubuh, terutama sepanjang waktu berpuasa. Tidak perlu membeli 100 Plus sekiranya khawatir akan kekurangan elektrolit ketika berbuka, memadai dengan beberapa biji "Kurma" dan air hangat. Potassium juga membantu memperkuat otot termasuk otot jantung dan mampu memelihara sistem saraf.
3)  Penguat memori
Selama ini yang kita ketahui hanya kismis yang baik untuk menguatkan daya ingatan, namun sebenarnya "Kurma" juga tidak kurang hebatnya. "Kurma" sangat bagus untuk kanak-kanak yang sedang dalam proses pertumbuhan.
4) Baik untuk wanita mengandung/bersalin.
Masih ingat kisah Maryam yang hanya memakan buah "Kurma" semasa melahirkan Nabi Isa AS? Menerusi malaikat Jibrail, Allah telah mewahyukan kepada ibu Isa yaitu Maryam binti Imran supaya menggoncang pohon "Kurma" sehingga gugur lantas memakannya tatkala lemah selepas bersalin.
“Dan goncangkan batang "Kurma" itu kepadanya, nanti ia gugurkan atasmu "Kurma" yang masak,” (QS.  Maryam, ayat 25)
Dan menurut sebuah laman web, buah "Kurma"  sangat baik untuk wanita mengandung dan akan memudahkan bagi wanita yang akan melahirkan anak dan akan mengurangi pendaran selama proses kelahiran. Malah dipercaya anak yang dilahirkan kelak  akan mempunyai sifat-sifat yang baik, penyabar, bersopan santun serta cerdas pemikirannya (Sabda Rasulullah).
5) Penawar Racun
Diriwayat oleh Aishah r.a., “Jika Barangsiapa yang selalu makan "Kurma" akan terhindar dari terkena racun yang dimakan.”
6) Membantu menyembuhkan penyakit
Dalam perubatan homeopati, biji "Kurma" dihaluskan seperti serbuk teh. "Kurma" direndam dan diminum untuk penyembuhan pelbagai jenis penyakit.
7) Mengobati gangguan usus dan sembelit
Ketidakserasian dengan gluten menghalang penyerapan zat-zat makanan secara sempurna. "Kurma" mencegah hal tersebut.
Sumber:
1.  penpatah.blogspot.com › Variasi
2. www.myberita.net/khasiat-kurma-berdasarkan-al-qura...
3. laely.widjajati.photos.facebook/ASSALAMU'ALAIKUM-Wr-.Wb-Met-Pagi-Met........
4. laely.widjajati.photos.facebook/Kelompok-NARSIS...........
5. laely.widjajati.photos.facebook/TIGA-GENERASI.........


MusicPlaylistView Profile