Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

"MENAHAN HAWA NAFSU MENURUT ISLAM"

"Hawa Nafsu" adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu baik itu berupa kebaikan atau keburukan". 



Seorang muslim haruslah merenung dan selalu introspeksi mengenai pengaruh "Hawa Nafsu" terhadap dirinya, disini kita dituntut Jihad Melawan "Hawa Nafsu"
 
Setiap ayat Al Qur’an yang menyebutkan tentang "Hawa Nafsu" selalu dalam bentuk pencelaan disamping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya.
 
Demikian halnya dgn hadits nabawi jika berbicara mengenai "Hawa Nafsu" senantiasa mengatakannya sebagai hal yang tercela. Kecuali pada sebagian hadits misalnya sabda Rasulullah SAW. “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga "Hawa Nafsu"nya tunduk terhadap apa yang aku bawa.” 

"Hawa Nafsu" adalah sesembahan selain Allah yang paling buruk. Nabi SAW., bersabda “Di kolong langit ini tidak ada tuhan yang disembah yang lbh besar dalam pandangan Allah selain dari "Hawa Nafsu" yang dituruti.” Yang demikian itu karena "Hawa Nafsu" mampu mengubah banyak jiwa manusia dari baik menjadi buruk dari adil menjadi zhalim dari tauhid menjadi syirik dari lurus menjadi bengkok dan dari sunnah menjadi bid’ah.

Oleh sebab itu para ahli bid’ah disebut dengan hamba "Hawa Nafsu". “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan "Hawa Nafsu"nya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” . “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan "Hawa Nafsu"nya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya .”

Dalam Al Qur’an terkadang Allah Ta’ala mengumpamakan para ahli bid’ah dan yang selalu memperturutkan "Hawa Nafsu"nya dengan anjing keledai atau dengan binatang ternak. “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya Kami tinggikan dengan ayat-ayat itu tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan "Hawa Nafsu"nya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya . Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. ” . Di ayat lain Allah Ta’ala berfirman “Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut lari dari singa.”


Allah Ta’ala memperingatkan Nabi-Nya, Muhammad SAW. supaya tidak menuruti "Hawa Nafsu" orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman “Maka kearena itu serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti "Hawa Nafsu" mereka dan katakanlah “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu sekalian.” Juga agar tidak mengikuti "Hawa Nafsu" orang-orang yahudi dan nashrani. “Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti "Hawa Nafsu" mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Selanjutnya Allah menjelaskan penyimpangan dan kebejatan orang-orang musyrik dalam FirmanNya “Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab semua ayat mereka tidak akan mengikuti kiblatmu dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti "Hawa Nafsu" mereka setelah datang ilmu kepadamu sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yg zhalim.”

Allah memerintahkan melalui kitab dan lisan RasulNya agar kita menentukan hukum di antara manusia dengan adil. Disamping memperingatkan kita agar tidak mengikuti "Hawa Nafsu" dengan cenderung kepada salah seorang yang berselisih secara tidak benar. “Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti "Hawa Nafsu" karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Allah memberitahukan bahwa mengikuti "Hawa Nafsu" akan menyesatkan seseorang dari jalanNya. “Hai Daud sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti "Hawa Nafsu" maka ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” Kemudian Allah menjelaskan kesudahan orang-orang yang tersesat dari jalanNya dengan FirmanNya “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam Al Musnad dijelaskan bahwa Anas ra. berkata Rasul SAW., bersabda “Ada tiga buah perkara yang membinasakan dan tiga perkara lain yang menyelamatkan. Adapun yang membinasakan yaitu; kikir yang dituruti "Hawa Nafsu" yang diikuti dan ‘ujub terhadap diri sendiri. Sedangkan yang menyelamatkan yaitu bertakwa kepada Allah baik dalam keadaan rahasia atau terang-terangan adil ketika marah atau ridha dan berlaku sederhana baik ketika miskin atau kaya.”


Ibnul Qayyim dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin menyebutkan “Sesungguhnya orang yang mengikuti "Hawa Nafsu"nya tidak berhak untuk ditaati tidak boleh menjadi imam dan tidaka boleh diikuti. Allah Ta’ala memecatnya dari imamah serta melarang kita mentaatinya.” Adapun pemecatannya dari imamah adalah berdasarkan Firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” Ibrahim berkata dari keturunanku. Allah berfirman “JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang dzhalim.”

Dan tiap orang yang mengikuti "Hawa Nafsu"nya tanpa diragukan lagi ia adalah termasuk orang-orang yang dzhalim Allah berfirman “Tetapi orang-orang yang dzhalim mengikuti "Hawa Nafsu"nya tanpa ilmu pengetahuan.” 

Adapun larangan mentaati orang yang mengikuti "Hawa Nafsu" terdapat dalam Firman Allah “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti "Hawa Nafsu"nya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Dalam kitab yg sama Ibnul Qayyim berkata “Sesungguhnya "Hawa Nafsu" itu adalah suatu larangan yang dengannya sekeliling neraka Jahannam dikitari. Maka barang siapa terjerumus ke dalam "Hawa Nafsu" maka ia terjerumus ke dalam api Jahannam. Disebutkan dalam Shahihain bahwasanya Rasul SAW., bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.” Dalam sebuah hadits marfu’ dari Abu Hurairah diriwayatkan “Ketika Allah menciptakan surga Ia mengutus Jibril ke sana. Allah berfirman “Lihatlah kesana dan lihatlah apa-apa yang Aku sediakan untuk para penghuninya.” Lalu Jibril mendatangi dan melihatnya juga melihat apa yang disediakan Allah untuk para penghuninya lalu ia berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu tidaklah salah seorang dari hambaMu mendengar tentang beritanya kecuali memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkannya sehingga ia dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci lalu Allah berfirman kepada Jibril “Kembalilah dan lihatlah surga.” lalu ia kembali dan melihat kepadanya sedang ia telah dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci maka Jibril berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu sungguh aku takutkan tak seorangpun akan memasukinya. Lalu Allah berfirman kepadanya “ Pergilah ke neraka dan lihatlah ia sekaligus apa yang Kusediakan untuk para penghuninya.” Lalu Jibril datang melihat neraka dan apa yang disediakan untuk para penghuninya. Neraka itu sebagiannya tersusun atas sebagian yang lain ia lalu berkata “Demi kemuliaan dan kebesaranMu tidaklah seseorang mendengar tentang-nya kemudian memasukinya.” Kemudian Allah menyuruhnya lalu neraka itu dikelillingi dengan shahwat lalu Allah berfirman kepada Jibril “Kembali dan lihatlah padanya. ” Kemudian Jibril kembali melihat neraka lalu ia berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu sungguh aku takutkan tak seorangpun akan selamat dari padanya.” Imam Tirmidzi berkata hadits ini adalah hasan shahih.

Ibnul Qayyim dalam soal keutamaan melawan "Hawa Nafsu" berkomentar “Sesungguhnya melawan "Hawa Nafsu" bagi seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di badan hati dan lisannya.” Sebagian salaf berkata “Orang yang bisa mengalahkan "nafsu"nya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota dengan seorang diri.” Dalam hadits shahih disebutkan “Tidaklah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai "Hawa Nafsu"nya ketika ia marah.”

Seorang muslim terkadang dalam mengawasi "Hawa Nafsu"nya. Ia bersikap toleran terhadap kebatilan sehingga akhirnya ia condong kepada kebatilan dan membelanya. Dia menyangka bahwa dirinya menyimpang dari kebenaran. Dan menyangka bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Dan ini hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dipelihara oleh Allah SWT. 
Hanya saja manusia kadarnya bertingkat dalam sikapnya terhadap "Hawa Nafsu". Diantara mereka  ada yang sering terbawa arus "Hawa Nafsu"nya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh "Hawa Nafsu" yang demikian besar menyangka bahwa orang tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara manusia ada yang dapat mengekang "Hawa Nafsu"nya sehingga jarang mengikuti "Hawa Nafsu"nya. 


Bisa dikatakan bahwa "Hawa Nafsu" adalah kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Kecondongan ini secara fitrah telah diciptakan pada diri manusia demi kelangsungan hidup mereka. Sebab bila tak ada selera terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis lainnya niscaya tidak akan tergerak untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan biologis tersebut. "Hawa Nafsu" mendorongnya kepada hal-hal yang dikehendakinya tersebut. Sebagaimana rasa emosional mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya.
Maka dari itu tidak boleh mencela "Hawa Nafsu" secara mutlak dan tidak boleh pula memujinya secara mutlak. Namun karena kebiasaan orang yang mengikuti "Hawa Nafsu", syahwat dan emosinya tidak dapat berhenti sampai pada batas yang bermanfaat saja maka dari itulah "Hawa Nafsu", syahwat dan emosi dicela, karena besarnya mudharat yang ditimbulkannya.


Sehubungan manusia selalu diuji dengan "Hawa Nafsu", tidak seperti hewan dan setiap saat ia mengalami berbagai macam gejolak, maka ia harus memiliki dua peredam, yaitu akal sehat dan agama. Maka diperintahkan untuk mengangkat seluruh "Hawa Nafsu" kepada agama dan akal sehat. Dan hendaknya ia selalu mematuhi keputusan kedua peredam tersebut.
Untuk itu sudah saatnya kita kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah, hanya dengan kedua pegangan itulah kita akan selamat dunia dan akhirat. Bertanyalah kepada para Alim Ulama yang mempunyai wawasan Agama yang mumpuni, apabila terjadi perbedaan pandangan ketika kita belajar kedua pegangan tersebut. Berselisihlah dengan cara bijak dan berpedoman dengan As Sunnah, bukan dengan emosi dan peraturan kita sendiri.

Semoga artikel ini bermanfaat, dan mudah-mudahanAllah SWT. selalu memberikan petunjuk dan hidayahNya kepada kita semua. Aamiiin.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesalahan kealpaan dan cinta kepada "Hawa Nafsu". Semoga pula Ia menjadikan kita di antara orang-orang yang takut dan bertakwa kepadaNya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin......

Sumber:
1. www.untukku.com/.../cara-menahan-hawa-nafsu-menurut-islam-untukk...
2. sweet-myheart.blogspot.com › AkhlakPendidikan
3. akhlaqmuslim.wordpress.com/.../hawa-nafsu-dan-cara-pengendaliannya/
4. laely.widjajati.photos.facebook/LOMBOK-........TOMAT.............
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Jagoanku.....
7. laely.widjajati.photos.facebook/Anak2-(10-Th-Yg-Lalu).......

Sabtu, 09 November 2013

"MEMELIHARA LIDAH"

"Sesuatu Yang lebih tajam dari pada pedang adalah "lidah"

"Lidah" adalah antara nikmat besar yang dikurniakan oleh Allah tanpa batas. Hanya dengan "Lidah" kita mampu berbicara, mengucapkan janji, membaca Al-quran, merasai nikmat makan dan sebagainya. Oleh karena itu, "lidah" yang di"pelihara" dengan baik boleh menjadi sebab mendapat ridha Allah dan dengan "lidah" juga kita mungkin mendapat murka dari Allah S.W.T karena setiap ucapan yang keluar darinya akan dicatat dan mendapat pahala atau dosa.
Pedang mungkin harus menusuk jantung dulu baru terasa menyakitkan, namun "lidah", jika sudah bersuara dengan getaran yang penuh emosi tinggi, belum menyentuh saja akan terasa didalam Jiwa.entah itu baik atau buruk

"Lidah" memiliki dua sisi yang berbeda, dan
"lidah" adalah salah satu bagian tubuh yang sering sekali tidak sejajar dengan hati.

Apabila
"lidah" tak sebanding dengan hati, maka timbul sifat dusta, bohong dan lainnya . Sebaliknya bila "lidah" berucap kebenaran maka ungkapannya jujur..

Bersyukur bagi seseorang yang memiliki
"lidah" sehat, karena ucapan yang ada Sebagai bentuk rasa syukur, karena digunakan untuk mengucap hal baik dan membuat nyaman orang lain untuk didengar dan tidak menyakitkan.

Lebih elok lagi bila
"lidah" dipergunakan untuk selalu menyebutkan Asma-Nya..
"Lidah" adalah anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Sesungguhnya "lidah" adalah penerjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itulah, setelah Nabi SAW. memerintahkan istiqamah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan. Dan lurusnya "lidah" itu berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Malik , dari Nabi SAW., beliau bersabda,


لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ


Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).


Dan di dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi SAW. bersabda,


إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا


Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lesan, “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqaomah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (H.R. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512)


Oleh karena itulah, sepantasnya seorang mukmin "memelihara lidah"nya. Tahukah Anda jaminan bagi orang yang "memelihara lidah"nya dengan baik? Nabi Muhammad SAW. bersabda,


مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ


Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. (H.R. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari).


Beliau juga menjelaskan, bahwa "memelihara lidah" merupakan keselamatan.


عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ


Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab, “Kuasailah "lidah"mu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. (H.R. Tirmidzi, no.2406)

Yaitu janganlah engkau berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikanmu, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah engkau menyesali kesalahanmu dengan cara menangis. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi).



Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata, “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga "lidah"nya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mashlahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mashlahat-nya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW., beliau bersabda,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”


Aku katakan: hadits yang disepakati shahihnya ini merupakan nash yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara, kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mashlahat-nya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.


Dan Imam Asy-Syafi’i telah berkata, ‘Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbicara hendaklah berpikir, jika nampak jelas mashlahat-nya dia berbicara, dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mashlahat-nya.’” [Al-Adzkaar, 2/713-714, karya Imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij Syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M].


Selain itu, bahwa "lidah" merupakan alat yang mengungkapkan isi hati. Jika Anda ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan "lidah"nya, isi pembicaraannya, hal itu akan memberitahukan isi hatinya, baik orang tersebut mau atau enggan.


Diriwayatkan bahwa Yahya bin Mu’adz berkata, “Hati itu seperti periuk yang mendidih dengan isinya, sedangkan "lidah" itu adalah gayungnya. Maka, perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena sesungguhnya"lidah" nya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan "lidah"nya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya.” [Hilyatul Au'iyaa', 10/63, dinukil dari Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 159, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani]
  

PERKATAAN PARA SALAF TENTANG HIFZHUL LISAN.



Sesungguhnya, para Salaf dahulu biasa menjaga dan menghisab "lidah"nya dengan baik. Dan diriwayatkan dari mereka perkataan-perkataan yang bagus berkaitan dengan "lidah" dan pembicaraan. Kami sampaikan disini sebagiannya agar kita dapat memetik manfaat darinya.


Diriwayatkan, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab berkata, “Barangsiapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barangsiapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barangsiapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya.” [Riwayat Al-Qudhai di dalam Musnad Asy-Syihab, no. 374; Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 339, karya Imam Ibnu Rajab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M]


Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu mengatakan, “Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada "lidah"!” [Riwayat Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 340]


Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Jauhilah fudhuulul kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara, menyampaikan sesuai kebutuhannya.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz. 1, hlm. 339]


Syaqiq mengatakan, “‘Abdullah bin Mas’ud ber-talbiyah di atas bukit Shofa, kemudian mengatakan, ‘Wahai "lidah", katakanlah kebaikan niscaya engkau mendapatkan keberuntungan, diamlah niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal.’ Orang-orang bertanya, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?’ Dia menjawab, ‘Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda,


أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ


Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada "lidah"nya.‘” (HR. Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534).


Diriwayatkan, bahwa Ibnu Buraidah mengatakan, “Aku melihat Ibnu ‘Abbas memegangi "lidah"nya sambil berkata ‘Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engaku akan menyesal.’” [Aafatul Lisaan, hlm. 161]



Diriwayatkan, bahwa An-Nakhai berkata, “Manusia binasa pada fudhuulul maal (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhuulul kalam.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz 1, hlm. 339]


Diriwayatkan, bahwa ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang alim besar. Kemudian orang alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab, “Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu aku dahulu pernah mengatakan, ‘Manusia sangat membutuhkan hujan!’ Aku ditanya, ‘Tahukah engkau, bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap mashlahat hamba-hamba-Ku?” [Aafatul Lisaan, hlm. 160-161]


Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan, “Seorang mukmin itu menyedikitkan omongan dan memperbanyak amalan. Adapun orang munafik, dia memperbanyak omongan dan menyedikitkan amalan.”


Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan, “Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku menguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku.”


Diriwayatkan, bahwa seorang Salaf mengatakan, “Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi.” [Lihat Hashaaidul Alsun, hlm. 175-176]


Kesimpulannya adalah bahwa kita diperintahkan berbicara yang baik, dan diam dari keburukan. Jika berbicara hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul Musta’an.

BAHAYA LIDAH


Diantara bahaya "lidah" yang sukar dikawal manusia ialah : 
1.       Al-Ghibah (الغيبة) : Mengumpat iaitu menyebut tentang seseorang apa yang tidak disukainya tanpa diketahui.
2.       Al-Naminah (النميمة) : Mengadu domba iaitu memburukkan sebelah pihak di hadapan sebelah pihak lain bertujuan membangkitkan perasaan benci satu sama lain.
3.       Memfitnah iaitu mereka cerita yang tidak benar tentang seseorang bertujuan memburukkannya
4.       Memuji diri
5.       Berdebat hal yang tidak menguntungkan islam seperti memperdebatkan perkara-perkara sunat atau harus.
6.       Mengutuk/mempersenda/ menggelar dengan tujuan bergurau atau menyakitkan hati seseorang.

Hukum jenayah-jenayah "lidah" ini adalah haram dengan kesepakatan semua para ulama disebabkan banyak dan jelasnya dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits yang mengharamkannya antaranya :
×@÷ƒur Èe@à6Ïj9 ;ot“yJèd >ot“yJ—9 ÇÊÈ [الهمزة:1]
Celakalah (pergi mati) bagi tiap-tiap pencaci, pengeji.

Telah diceritakan bahwa suatu hari seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW. seraya berkata, "Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak sembahyang, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat "lidah"nya terhadap tetangga-tetangganya. ". Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, "Sungguh ia termasuk ahli neraka".
Kemudian lelaki itu berkata lagi, "Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit sembahyang, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya." Maka Rasulullah SAW. berkata, " Sungguh ia termasuk ahli surga . " [HR. Muslim]

Walaupun seseorang itu ahli ibadah, banyak solat, puasa, tetapi apabila tidak mampu menjaga "lidah"nya dari memfitnah, berbohong dan hasad, amalannya tersebut hanya sia-sia.

KEUTAMAAN DIAM


Tidak ada cara yang lebih baik untuk "memelihara lidah" melainkan dengan diam. Nabi S.A.W bersabda :
من صمت نجا [رواه الترمذي]

"Barangsiapa yang diam, niscaya ia terlepas (dari bahaya)". [HR. At-Tirmizi]

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليسكت [رواه البخاري ومسلم]
"Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam".

Imam Syafie menjelaskan bahawa maksud hadis diatas adalah apabila seseorang ingin berkata sesuatu hendaklah dia berfikir terlebih dahulu. Jika dirasakan ucapannya tidak akan membawa mudharat, maka berbicaralah. Tetapi, jika dia merasa ucapannya akan membawa mudharat atau ragu-ragu apakah ia akan membawa mudharat atau tidak, maka hendaklah dia tidak berbicara”.


Mungkin ada orang yang mampu "memelihara" diri dari minum arak, tapi bagaimana dengan "memelihara lidah"? Ucapan yang kita keluarkan tanpa peduli bakal menyakiti hati insan lain, berjanji tanpa tunai, mengkeji dalam marah tanpa sadar, menghukum tanpa nilai adalah antara perkara dosa yang akan dilakukan oleh "lidah" setiap waktu jika tidak dikawal dengan Iman. Oleh itu, bersama kita lafazkan Astaghfirullah al-‘aziim dan sentiasa bertaubat dan berdoa agar kita tidak tergolong dalam kalangan hamba yang dimurkai Allah hanya karena "lidah".

Ingatlah pada Hadis Rasulullah S.A.W yang memberi peringatan kepada kita :
إن العبد ليتكلم بالكلمة، ينزل بها في النار، أبعد ما بين المشرق والمغرب [رواه البخاري]
 
Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak difikirkan apa kesannya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”.
Wallahua’lam Bishshowab… 
Sumber:
1. www.radioassunnah.com/menjaga-lidah-merupakan-k...
2. ilhamdarweesh.blogspot.com/.../memelihara-lidah.htm...
3. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description.....
4. sugengfitriyono.blogspot.com/Sugeng-Fitriyono's-Site....
5. nizaringinbelajar.blogspot.com/Menjaga-Lisan-Ag....
6. intihidupwoedpress.com/Keselamatan-Manusia-Itu-Ada-Dalam....

Sabtu, 10 Agustus 2013

"MAKNA SEBUAH HADIAH"

"Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af."


"Hadiah" atau hibah atau kado adalah pemberian uang, barang, jasa dan lain-lain yang dilakukan tanpa ada kompensasi balik seperti yang terjadi dalam perdagangan, walaupun dimungkinkan pemberi "Hadiah" mengharapkan adanya imbal balik, ataupun dalam bentuk nama baik (prestise) atau kekuasaan. Dalam hubungan manusia, tindakan pertukaran "Hadiah" berperan dalam meningkatkan kedekatan sosial.

Istilah "Hadiah" dapat juga dikembangkan untuk menjelaskan apa saja yang membuat orang lain merasa lebih bahagia atau berkurang kesedihannya, terutama sebagai kebaikan, termasuk memaafkan (walaupun orang lain yang diberi tidak baik).

Memahami "Hadiah" sebagai salah satu cara untuk menyatukan hati antara pemberi dan penerima dapat dilihat dalam beberapa riwayat sebagai pedoman, dari perintah memberi "Hadiah", prioritas penerima "Hadiah" dan larangan mengaburkan 
 
Anjuran agar saling mendekatkan hati, saling bersaudara dan mencintai di antara sesama kaum muslimin merupakan salah satu sisi keindahan Islam. Islam mensyari'atkan sarana yang dapat menyebabkan keakraban, mendamaikan dan menghilangkan kabut hati. Di antara sarana itu adalah saling memberikan "Hadiah" di antara sesama muslim."Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af. "Hadiah" mampu menghilangkan kabut hati, memadamkan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. "Hadiah" dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai."Hadiah" selalu memberi kesan perdamaian, rasa cinta dan penghargaan dari si pemberi kepada yang diberi. Karena itulah Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar memberi dan menerima"Hadiah" . Beliau menjelaskan pengaruh "Hadiah" di dalam meraih kecintaan dan kasih sayang di antara sesama manusia,


"Saling memberi
"Hadiah"lah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid)

Beliau juga bersabda,
"Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak
"Hadiah"..." (HR.Ahmad dan al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrid)

Mengenai hadits ini, Ibn Hibbân mengomentari, "Dalam hadits ini, Nabi SAW mengecam tindakan menolak
"Hadiah" di kalangan sesama muslim. Bila seseorang diberi sebuah "Hadiah", wajib baginya untuk menerimanya dan tidak menolaknya. Saya menganjurkan orang-orang untuk saling mengirim "Hadiah" kepada sesama saudara. Sebab"Hadiah"  dapat melahirkan kecintaan dan menghilangkan rasa dendam."

ANTARA NABI MUHAMMAD SAW DAN "HADIAH".

Nabi Muhammad SAW menerima
"Hadiah" dan tidak menerima sedekah. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Bila Rasulullah SAW disuguhi makanan, ia selalu bertanya; Apakah ia "Hadiah" atau sedekah.? Jika dijawab, 'Sedekah' maka ia berkata kepada para shahabatnya, 'Makanlah oleh kalian' sementara ia tidak ikut memakannya. Sedangkan bila dijawab, '"Hadiah" maka beliau mencuci tangannya lalu memakannya bersama mereka.'" (Muttafaqun 'alaih)

Hadits lainnya berasal dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah SAW menerima
"Hadiah" dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya." (HR. al-Bukhari)

Salah satu jenis
"Hadiah"  yang tidak pernah ditolak Nabi SAW adalah wewangian. Hal ini sebagaimana hadits Anas ra, bahwasanya Nabi SAW tidak pernah menolak wewangian." (HR. al-Bukhari) Beliau,  juga bersabda, "Siapa saja yang di"Hadiah"i 'Raihan', maka janganlah menolaknya sebab ia ringan dibawa namun sedap baunya." (HR.Muslim)

APA YANG DILAKUKAN ORANG ORANG  ANSHAR?

Orang-orang Anshar amat mengetahui betapa hajat Rasulullah SAW dan kesulitan hidup yang dialaminya. Karena itu, mereka selalu mengirimkan
"Hadiah" dan pemberian untuk beliau. Hal ini diceritakan oleh 'Aisyah ra kepada 'Urwah ra bahwa seringkali di rumah Rasulullah SAW tidak dinyalakan api karena tidak memasak. Lalu ketika 'Urwah bertanya apa yang dimakan bila kondisinya demikian. 'Aisyah ra menjawab, "Hanya korma dan air." Kemudian 'Aisyah ra menceritakan bahwa sekalipun demikian, Rasulullah SAW punya tetangga orang-orang Anshar yang selalu mengirimkan "Hadiah", yaitu berupa air susu onta." (Muttafaqun 'alaih)

MEMBERI "HADIAH"  JANGAN DIUKUR NILAI MATERINYA

Anjuran Rasulullah SAW agar saling memberi "Hadiah" walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilai materinya tetapi lebih kepada nilai maknawinya sebagaimana yang telah disinggung di atas. Hal ini dapat terlihat dari sabda Rasulullah SAW melalui hadits Abu Hurairah ra bahwa beliau bersabda,
"Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetangga meremehkan pemberian tetangganya yang lain sekali ia (pemberian tersebut) berupa ujung kuku (teracak) unta." (HR.al-Bukhari). Padahal, apalah artinya kuku yang tentunya hanya menyisakan sedikit daging.

Dalam hadits yang lain, Nabi SAW memberikan permisalan menarik yang menunjukkan perlunya sikap tawadlu' (rendah hati) dalam menerima "Hadiah" apa pun,
"Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan (yang berupa) bagian hasta atau bagian di bawah tumit, niscaya aku penuhi undangan itu, dan andaikata aku di
"Hadiah"i hal yang sama juga niscaya aku menerimanya." (HR. al-Bukhari)

Bila kita renungkan lebih mendalam, apakah Rasulullah SAW masih membutuhkan makanan dari orang lain? Jawabannya sudah pasti, tidak. Sebab sebagaimana yang kita ketahui bahwa beliau diberi makan dan minum oleh Rabbnya akan tetapi hal itu merupakan pelajaran praktis agar bersikap tawadlu' dan rendah hati terhadap kaum muslimin apa pun kedudukan mereka.

Kehidupan para ulama Salaf juga sarat dengan hal itu di mana mereka saling memberi
"Hadiah", sekecil apa pun bentuknya, terkadang ada yang hanya berupa kurma yang belum matang, ada yang berupa setangkai bunga mawar, ada yang hanya berupa garam yang ditumbuk dan tetumbuhan yang wangi aromanya.

SALING MEMBERI "HADIAH" ANTARA SUAMI-ISTRI

"Hadiah" adalah sesuatu yang mengagumkan, apalagi bila terjadi di antara suami-isteri. Ia dapat menambah rasa kecintaan dan kedekatan hati antara keduanya, memperbarui ruh kehidupan rumah tangga dan menghilangkan perselisihan yang sebelumnya bisa saja akan bertambah meruncing bila kedua pasangan tidak menyadari apa yang dapat menghilangkannya.

Seorang istri lebih mudah tersentuh oleh
"Hadiah" yang diberikan suaminya ketimbang terhadap "Hadiah" orang lain, demikian pula dengan sang suami. Bahkan bila ingin, isteri boleh memberikan sebagian maharnya kepada sang suami asalkan secara sukarela. Allah SWT,
"Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (an-Nisâ`:4)

BEBERAPA HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Tidak boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan kepada orang lain sebab hal itu sebagaimana makna sebuah hadits sama seperti anjing yang menelan lagi makanan yang telah dimuntahkannya. (Muttafaqun 'alaih).

Akan tetapi, boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan karena alasan yang sesuai syari'at seperti curiga bahwa ia berasal dari hasil suap. Contohnya, ash-Sha'b bin Jatstsamah ra pernah memberi "Hadiah" seekor keledai liar kepada Rasulullah SAW ,, ,,namun beliau menolak nya karena ia sedang berpakaian ihram. Demikian pula, bila seorang pegawai yang sudah memiliki gaji diberi "Hadiah", maka ia tidak boleh menerimanya dan ini seperti kasus Ibn al-Lutbiyyah di mana Rasulullah mengecamnya. (Muttafaqun 'alaih)
2. Hendaknya yang lebih diutamakan di dalam memberi "Hadiah" adalah keluarga terdekat; kaum kerabat seperti paman pihak ibu dan ayah dan orang semisal mereka. Demikian juga boleh mendahulukan orang yang di hati seseorang mendapat tempat yang dekat. Imam al-Bukhari mencantumkan bab tentang siapa yang lebih dahulu harus diberi "Hadiah", lalu beliau mengetengahkan dua hadits; yang pertama, beliau menyarankan kepada sang penanya agar diberikan kepada paman dari garis ibunya dan yang ke dua ketika ditanyai kepada beliau mana di antara dua tetangga yang didahulukan dalam memberi "Hadiah", beliau menjawab, "Yang paling dekat pintunya darimu." 

Sumber:
1. bingkaisunnah.blogspot.com/.../arti-sebuah-hadiah.ht...
2. id.wikipedia.org/wiki/Hadiah
3. enizar-stain.blogspot.com/.../pemberipenerima-hadiah....
4. laely-widjajati.blogspot.com/.../wisata-ritual-belanja-d...


MusicPlaylistView Profile