Rabu, 02 Maret 2011

"SUPAYA IKAN MENJADI GURIH"

"Bagaimana caranya supaya kita dapat menikmati "ikan" yang kita masak rasanya jadi "gurih"? Ada cara tradisional yang biasa dilakukan oleh ibu saya."

Ibu saya punya cara sendiri untuk membuat "ikan" yang dimasaknya menjadi sangat "gurih". Caranya adalah sebagai berikut:

1. Bersihkan garis-garis badan "ikan".
2. Setelah itu sediakan 1/2 sendok makan asam tanpa biji, 1/2 sendok makan merica bubuk, 1/2 sendok makan garam, 1/2 sendok makan kunyit bubuk.
3. Kemudian semua bumbu campur jadi satu, beri air kira-kira 75 cc, lalu diremas-remas sampai rata.
4. Selanjutnya masukkan "ikan" tersebut sambil diratakan di badan "ikan" tersebut. Kalau sudah, diamkan sekitar 10-15 menit.
5. Setelah itu silahkan anda menggoreng "ikan" tadi dengan menggunakan sedikit minyak, tapi wajannya harus ditutup.
6. Apabila anda ingin membakar "ikan" di atas arang atau kulit kelapa yang kering, gunakan api sedang saja.
7. Nah, kalau "ikan" sudah masak, biarkan "ikan" disimpan 1-3 hari, "ikan" tersebut masih tetap "gurih" dimakan.

Selamat mencoba...........

"SUPAYA KENTANG LEBIH RENYAH"

"Apabila kita ingin mendapatkan "kentang" goreng berupa camilan yang "renyah", cobalah tips tradisional berikut ini."
Caranya:
1. "Kentang" yang telah dipotong-potong, dicuci bersih. 
2. Setelah itu, "kentang" direndam dengan air kapur sirih. 
3. Diamkan kira-kira 30 menit.
4. Selanjutnya, "kentang" yang sudah direndam, dicuci kembali dan tiriskan.
5. Lalu gorenglah "kentang" dengan minyak, penuh dan panas.

Nah...... Hasilnya akan kita dapatkan "kentang" yang sangat "renyah".....

Selamat mencoba................... 

Selasa, 01 Maret 2011

"CARA MENGHILANGKAN KETOMBE"

"Ketombe" adalah gangguan pada kulit kepala yang kadang sangat sulit untuk diatasi. Selain rasa gatal, "ketombe" juga mengganggu keindahan rambut."


Ada cara yang murah yang dapat anda gunakan untuk mengatasi gangguan "ketombe" tersebut. 

Ambil garam dapur dua sendok makan, sedu dengan air dingin hingga tercampur. Gosoklah kulit kepala anda dengan campuran air tersebut hingga merata. Biarkan selama kira-kira lima menit. Setelah itu baru anda keramas sebagaimana biasanya. Ulangi setiap mau keramas sampai "ketombe" benar-benar hilang.

Selamat mencoba....... Semoga "ketombe" anda hilang....... 

Senin, 28 Februari 2011

"BAYI RAMBUT KERITING?"

"Apabila anda menginginkan anak ("bayi") ber"rambut keriting", meskipun sebenarnya anda (suami-istri) tidak ber"rambut keriting", maka anda dapat mengikuti petunjuk-petunjuk di bawah ini."

Apabila anda sedang hamil, maka sering-seringlah anda makan daging kerang. Waktu bayi lahir, memang "rambut" perut masih halus, namun begitu empat puluh hari "rambut" perut dicukur, waktu tumbuh lagi "rambut" "bayi" akan menjadi ikal dan "keriting". Jumlah daging kerang yang dimakan tidak dibatasi, asal sesering dan sebanyak mungkin yang bisa kita mampu memakannya. Kalau terlalu banyak memakan daging kerang, umumnya akan membuat mual, karena cukup amis. Namun jumlah 10-20 daging kerang tiap kali makan itu sudah mencukupi, asal setiap minggu selama hamil memakannya satu kali. Insya'Allah "bayi" anda akan memiliki "rambut" yang "keriting".

Silahkan anda mencobanya apabila anda mengidamkan punya "bayi" yang memiliki "rambut keriting".

Jumat, 25 Februari 2011

"SISTEM EKONOMI ISLAM"

"Sistem Ekonomi Islam" terdiri atas hubungan unit-unit dan pelaku-pelaku "ekonomi" dalam "sistem" itu. "Sistem" ini mempunyai struktur dan dan dalam struktur ini unit-unit serta pelaku "ekonomi" bekerja dan berhubungan satu sama lain dalam putaran lengkap".


Dalam strutktur "sistem ekonomi Islam" terdapat sembilan institusi yang pokok, dengan pengertian bahwa institusi adalah serangkaian norma, aturan tingkah laku atau cara berpikir yang sudah mantap, misalnya hak milik, perusahaan, rumah tangga, pemerintah, uang, pajak pendapatan, perencanaan, serikat kerja, pembentukan keuntungan, gotong royong dan sebagainya.


Sembilan institusi dalam struktur "sistem ekonomi Islam" tersebut adalah:
1. Milik mutlak; yakni bahwa segala sesuatu itu dimiliki oleh Allah secara mutlak, karena Allah adalah Khalik, dan karenanya menjadi Pemilik Mutlak.

2. Milik relatif; Allah sebagai Pemilik mutlak melimpahkan dan mempercayakan  kepada kita untuk memiliki secara relatif segala sesuatu untuk dimanfaatkan guna kehidupan kita bersama. Hal ini adalah amanah. Milik relatif dibagi menjadi dua:
a. Pemilikan relatif untuk kepentingan kolektif, misalnya wakaf; dan
b. Milik relatif untuk kepentingan individu, misalnya 'buku saya'.

3. Usaha Swasta; yakni usaha kita dengan mempergunakan pemilikan relatif yang individual itu untuk mencari keuntungan, dengan catatan bahwa membungakan uang sama sekali dilarang.

4. Pasar; baik pasar benda dan jasa untuk konsumsi maupun pasar jasa produksi dan pasar benda modal. Pasar ini berfungsi untuk mengkoordinasikan alokasi sumber di antara berbagai kegiatan "ekonomi", menyesuaikan produksi, konsumsi dan sumber-sumber kepada satu dan lain unit atau pelaku "ekonomi".

5. Tradisi; yakni adat kebiasaan masyarakat yang disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya. Tradisi ini berbentuk pola hubungan antara unit-unit dan para pelaku "ekonomi" yang dapat diterima oleh mereka.Dalam per"ekonomi"an modern, meskipun makin menipis namun tidak dapat dihilangkan sama sekali, tradisi ini dapat berbentuk antara lain amal shaleh, pertukaran dan pemberian, tolong-menolong, gotong-royong, sopan-santun, kerja sama guna mengurangi persaingan, persaudaraan dan sebagainya. Dalam "Islam" tradisi demikian ini sangat kuat. Bukan untuk memperlemah per"ekonomi"an, namun justru sebaliknya; dan ditambah lagi bahwa barang dan jasa harus halal, tidak sekedar ditanggung halal, dan tidak merusak lingkungan, karena "Islam" tidak menolak innovasi teknologi dan adanya produk baru.

6. Perataan pendapatan dan kekayaan secara otomatis; terutama dalam "Islam", karena ketaqwaannya, dibayarkan zakat harta, sadakah, infaq dan disamping itu masih ada kewajiban membayar berbagai pajak, supaya harta tidak berkisar di antara  yang kaya saja.

7. Dorongan bekerja keras untuk mendapatkan rezki yang halal bagi kehidupan di dunia yang baik sebagai bekal kehidupan di akhirat yang baik pula. Hal ini berlaku bagi unit-unit maupun para pelaku "ekonomi" yang "Islam".

8. Badan-badan atau Organisasi-organisasi; misalnya organisasi pemerintah, organisasi "ekonomi", sosial, pendidikan, kebudayaan, keagamaan dan sebagainya. Badan atau organisasi ini mempunyai mekanisme pengurusan kebutuhan dan persoalan masing-masing; mekanisme ini disebut birokrasi. Birokrasi ini mempunyai tingkat-tingkat kewenangan, peraturan-peraturan yang nampak 'impersonal', pembagian kerja, pemilihan pelamar untuk menjadi karyawan sesuai dengan persyaratan, promosi dan sebagainya.

9. Kekuasaan; kekuasaan ini berasal dari pemilikan faktor-faktor produksi dan kekayaan. Pada dasarnya kekuasaan ini berasal dari Yang Maha Kuasa yang kemudian melimpahkannya kepada manusia. karena manusia telah diberi kebebasan yang bertanggung-jawab, karena pemilikan itupun berasal dari Tuhan. Oleh karena itu kekuasaan inipun relatif pula. Dengan demikian, di pihak lain, kekuasaan ini menimbulkan kepentingan-kepentingan yang seringkali bertentangan satu sama lainnya.


Dari sembilan institusi dalam struktur "sistem ekonomi Islam" itu lima diantaranya terdapat secara implisit dalam model tersebut. Lima institusi  dalam struktur "sistem ekonomi Islam" itu adalah: milik mutlak, tradisi, perataan pendapatan secara otomatis, dorongan kerja keras dan kekuasaan.

Dari empat institusi lainnya timbullah sepuluh institusi; dari milik relatif individual timbul pertama rumah tangga wajib zakat dan rumah tangga penerima zakat sebagai nomor dua; dari usaha swasta timbul ketiga perusahaan barang konsumsi dan keempat perasaan benda produksi; dari pasar timbul nomor lima pasar barang konsumsi dan pasar benda-benda produksi sebagai nomor enam serta pasar jasa produksi sebagai nomor tujuh; dari organisasi timbul pemerintah sebagai nomor delapan, baitul mal sebagai nomor sembilan, dan nomor sepuluh badan sosial.

Jadi kesepuluh institusi dalam struktur "sistem ekonomi Islam" itu adalah:
1. Rumah tangga wajib zakat;
2. Rumah tangga penerima zakat;
3. Perusahaan barang konsumsi;
4. Perusahaan benda produksi;
5. Pasar barang konsumsi;
6. Pasar benda-benda produksi;
7. Pasar jasa produksi;
8. Pemerintah;
9. Baitul mal; dan
10.Badan sosial.


 Dari sepuluh institusi, kecuali rumah tangga penerima zakat, baitul mal dan badan sosial, tujuh institusi lainnya merupakan institusi yang ada dalam "sistem ekonomi" modern.

(Sumber: Sepercik Pemikiran Tentang "Ekonomi Islam", disunting oleh M. Natsir Arsyad.).

Kamis, 17 Februari 2011

"DEFINISI ILMU"

"Definisi ilmu" menurut Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, dalam tulisannya yang berjudul "Beberapa Konsepsi Dasar Mengenai Ekonomi Islam", bahwa ternyata konsepsi kita mengenai "ilmu" perlu didudukkan kembali."

Hal ini karena arti kata "ilmu" sebagaimana yang kita pergunakan sehari-hari ternyata tidak sejalan dengan ajaran Islam. "Definisi" mengenai "ilmu" seperti yang dikatakan oleh Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, "Ilmu" adalah mu'jizat Illahiyah yang bisa diberikan kepada manusia yang dikehendakinya, sehingga dengan mu'jizat itu manusia bisa mengenal dirinya dan obyek-obyek di sekitarnya dan dengan demikian bisa berperan sebagai master di bumi (Khalifatullah), yang berarti turut mengelola obyek-obyek dan manusia di sekitarnya dalam arti menjaga kelestariannya serta mensyukuri segala rahmat Illahi yang tersedia baginya.


Dari "definisi" tadi muncul sifat-sifat "ilmu" sebagai berikut:
1. "Ilmu" itu sendiri adalah gaib.
2. "Ilmu" hanya Allah yang punya.
3. Manusia hanya mempunyai hak pakai.
4. Manusia tidak bisa memberikan "ilmu" kepada orang lain.
5. "Ilmu" tidak bisa didefinisikan secara rasional.
6. "Ilmu" tidak bisa melekat di buku.
7. "Ilmu" juga tidak bisa melekat di kepala sebagai hapalan, karena tempat "ilmu" hanyalah satu, yakni hati sebagai kias manifestasi keperiadaban Ruh.


Selanjutnya, dalam bukunya "Krisis Global "Ilmu" Pengetahuan dan Penyembuhannya (Iqra, 1982), Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja membedakan mengenai "Ilmu" Subyektif dan "Ilmu" Obyektif. "Ilmu" Obyektif berimpit dengan sains, yakni "ilmu" mengenai benda-benda. Sedangkan "Ilmu" Subyektif dapat dipandang sebagai "ilmu" agama dalam arti yang murni, "ilmu" mengenai manusia sebagai makhluk spiritual. Namun telah diungkapkan juga bahwa agama dalam arti luas juga mengandung ajaran dasar mengenai "ilmu" obyektif, yakni menentukan paradigma "ilmu" obyektif yang harus diterapkan supaya "ilmu" obyektif itu tidak menyimpang dari ajaran yang hak. Agama tidak lain adalah wahyu Illahiyah yang mengajarkan bagaimana manusia mengaktualisasikan fitrahnya sejalan dengan kehendak Illahi.
Sebenarnya "ilmu" itu banyak sekali ragamnya, misalnya "ilmu" seni budaya, "ilmu" ramal, dan sebagainya. Namun yang menjadi ajang dalam tulisan ini adalah sains, "ilmu" obyektif, dihubungkan dengan ajaran agama. Karena dalam hal itulah kita menghadapi kerancuan yang sangat membingungkan kita semua, sehingga perilaku manusia-manusia yang mengaku beriman ternyata terlalu sering mengecewakan kita sendiri.


Untuk memperoleh "ilmu" yang hak, adalah dengan menjalankan syariat agama dan berjuang untuk mengamalkan syariat ke"ilmu"an itu di dunia nyata. Apabila kedua tindakan itu dilaksanakan, Insya'Allah, kita akan memperoleh dua hikmah ijtihad yang telah dijanjikan, yakni hikmah bagi si pemegang "ilmu" dan hikmah bagi orang-orang lainnya. Itulah ciri dari "ilmu" Islam yang hak, "ilmu" yang diridhai Allah. 
"Ilmu" batil pun dapat sangat menguntungkan bagi si pemegang "ilmu", seperti "ilmu" paling yang dapat mendatangkan kekayaan yang berlimpah-limpah bagi sang maling. Namun ciri dari "ilmu" batil adalah munculnya kesengsaraan bagi orang lain. Demikian pula seandainya kita termasuk manusia yang pandai dan berkuasa, maka hikmah "ilmu" batil akan sangat besar bagi kita. Namun perlu diketahui bahwa hikmah itu merupakan kesengsaraan bagi manusia lain, atau bagi kelestarian lingkungan.
"Ilmu" merupakan salah satu dari Asma'ul Husna yang menyata di hati. Al-Qur'an mengajarkan bahwa Nama Allah yang Pertama adalah Rahman-Rahim, yang dalam dunia rasa menjelma dalam bentuk Cinta mutmainnah. Karena itu timbulnya "ilmu" selalu dibarengi dengan munculnya cinta di hati. Oleh karena itu Einstein menyatakan bahwa Syarat kreativitas, yakni syarat manusia ber"ilmu", adalah rasa simpati terhadap obyek-obyek yang kita amati. Einstein juga yakin bahwa kreativitas akan muncul di 'titik  pusat gravitasi kesadaran emosional'. Ya itulah Cinta. Karena itu bekerjalah karena Allah, dengan Asma'ul Husna di hati. Karena itu sembahyanglah 24 jam sehari, yakni bagaimana menerapkan ajaran sembahyang selama kita melaksanakan segala tugas kita. Itulah arti kaum Muslimin sejati.


Membina kreativitas sebagaimana dikiaskan di atas, dalam arti verbal, sungguh tidak sulit, sungguh sangat sederhana sekali. Namun perlu diketahui bahwa aktuasi dari ritus kreativitas yang sederhana itu bukan main sulitnya. Itulah jalan jihad yang harus kita tempuh, supaya kita benar-benar mendapat restu Allah untuk diberi "ilmu".

(Sumber: Sepercik Pemikiran Tentang Ekonomi Islam, Sebuah bunga rampai yang disunting oleh M. Natsir Arsyad).

"Ilmu" ibarat pisau, yang anda gunakan untuk memasak atau untuk membunuh orang.

Hanya sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia. "Ilmu"-Nya meliputi segala sesuatu. (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 98).

Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedang "ilmu" mereka tidak dapat meliputi "ilmu"-Nya. (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 110).

Maha Tinggi Allah, Raja Yang Benar. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepada engkau, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku "ilmu". (Al-Qur'an, Surat Thaahaa, Ayat 114).

Orang yang memudahkan jalan untuk menuntut "ilmu", Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya (kepada orang yang menuntut "ilmu") karena senang kepada orang yang mencari "ilmu". (Hadis Riwayat At-Tirmidzi).  

Rasulullah SAW. bersabda:
"Tidaklah seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari pada  "ilmu" karena "ilmu" mengantarkan pemiliknya kepada petunjuk dan mencegahnya dari kebinasaan. Seseorang tidak dapat lurus agamanya sebelum lurus akalnya". (ath-Thabrani)

Rabu, 16 Februari 2011

"APA ITU DOSA?"

"Kapan "dosa" pertama kali terjadi dan dilakukan manusia? Tentu kita akan langsung teringat pada sebuah kisah yang diabadikan dalam Al-Qur'an; yaitu kisah pengusiran Adam dan Hawa dari surga."


Hadits Riwayat Muslim menjelaskan, "Dari Nawwas bin Sam'an ra berkata, Rasulullah bersabda 'Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan "dosa" adalah apa yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia'".


Hadits Hasan yang diriwayatkan dari dua musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan sanad hasan, hadits Arbain ke-27, menjelaskan bahwa Wabishah bin Ma'bad ra berkata, saya mendatangi Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: "Engkau datang untuk menanyakan kebaikan? Saya menjawab, "Ya, benar". Beliau bersabda, 'Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan "dosa" adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya'.

Jadi indikator "dosa" itu sangatlah jelas. Kalau hati seseorang tidak nyaman dengan sesuatu perbuatan dan menimbulkan kegundahan dalam hatinya, maka perbuatan itu adalah "dosa".

"Dosa" dapat dikategorikan ke dalam dua macam berdasarkan kadar beratnya, yaitu "dosa" besar dan "dosa" kecil. Pembagian "dosa" tidak hanya berdasarkan "dosa" besar dan kecil saja, namun ada juga kategori pembagian "dosa" yang lain, misalnya berdasarkan obyek "dosa", yaitu "dosa" langsung kepada Allah dan "dosa" kepada manusia.

Hadits Riwayat Bukhari Muslim, menjelaskan: "Tidakkah aku ceritakan kepadamu tentang "dosa"-"dosa" yang besar (3X). Mereka menjawab, 'Ya, wahai Rasulullah', Beliau bersabda, 'Yaitu menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua -- pada waktu itu beliau bersandar kemudian duduk, kemudian bersabda -- demikian juga persaksian palsu dan ucapan palsu'. Beliau selalu mengulang-ulangnya sehingga kami berkata, Andaikan beliau diam'"

Hadits Riwayat Bukhari Muslim, menjelaskan "Beliau bersabda, 'Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan (7 "dosa" besar)'. Mereka berkata, 'Apa saja, wahai Rasulullah? 'Beliau bersabda, 'Menyekutukan Allah, sihir, membunuh, memakan riba', makan harta anak yatim, berpaling dari medan perang dan menuduh keji wanita mukminat baik-baik'."

Ada 10 macam "dosa" besar:

1. Syirik/mempersekutukan Allah.
2. Sihir.
3.Durhaka kepada orangtua.
4.Lari dari medan perang.
5. Bersumpah palsu.
6. Membunuh.
7. Berzina.
8.Memakan riba'
9. Memakan harta anak yatim
10.Miras dan judi.

Macam-macam "dosa" kecil:

1. Dengki.
2. Iri.
3.Takabur.
4.Sombong.
5. Ujub.
6. Bergunjing.

Tanpa sadar, "dosa" kecil dapat menjelma menjadi "dosa" besar. Ibarat kotoran yang menempel di dinding kaca. Awalnya hanya sedikit dan tidak kelihatan. Namun hari berikutnya menjadi lebih tebal, hari berikutnya kaca tersebut sedikit gelap, kemudian semakin lama semakin gelap. Ada sejumlah sebab yang membuat "dosa" kecil berubah menjadi "dosa" besar, antara lain:

1. Dilakukan terus menerus.
2. Meremehkan "dosa" kecil.
3. Merasa gembira dengan "dosa" kecil dan memujinya.
4. Meremehkan dan menyepelekan kemurkaan Allah.
5. Membeberkan "dosa"nya di hadapan banyak orang.
6. "Dosa" kecil yang dilakukan oleh orang alim yang menjadi panutan atau teladan.

Kebiasaan-kebiasaan Positif Untuk Menjaga Diri dari "Dosa":
1. Kebiasaan Istighfar.
2. Berjabat tangan.
3. Mencari Lingkungan Yang Baik.
4. Evaluasi diri.
5. Shalat Malam.


(Sumber: Orang Ber"dosa" rindukan Surga, oleh Syailendra Putra).


MusicPlaylistView Profile