Rabu, 08 Juli 2009

"AYAT AL-QUR'AN TENTANG GAIB"

"Hanya Allah-lah yang mengetahui hal yang "gaib", seperti yang dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat
Fathir Ayat 38 : "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang "gaib" di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati".



Hal ini juga dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat Az-Zumar Ayat 46 : Katakanlah, "Ya Allah Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang "gaib" dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan diantara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka memperselisihkannya"

Kalau ada yang mengatakan bahwa jin atau manusia itu mengetahui yang "gaib", itu hanya kebohongan belaka. Allah telah menunjukkan bahwa jin tidak mengetahui yang "gaib". Hal ini seperti yang dikisahkan dalam "Al-Qur'an" Surat Saba' Ayat 14 : "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka atas kematiannya, kecuali rayap yang memakan rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala dia (Sulaiman) tersungkur, jelaslah bagi jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang "gaib", tidaklah mereka tinggal didalam siksaan yang menghinakan itu."

Sabtu, 04 Juli 2009

"3 (TiGa) AMaLaN UTaMa"

"Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan diberi kehidupan di dunia ini agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi. "



Manusia diberi akal supaya mau ber"amal" shaleh yang dapat bermanfaat bagi alam semesta.


Ada 3(tiga) "amal"an utama yang dapat dilakukan manusia agar kualitas imannya dapat selalu terjaga. yaitu :



1. "Amal"an Pertama: Mencari Ilmu. Mencari ilmu diwajibkan bagi setiap umat Islam. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah "Iqra'", "bacalah". Membaca adalah perintah Allah yang pertama. Jadi Islam itu agama yang sangat memerangi kebodohan. Semua "amal"an ibadah ada ilmunya, maka dari itu kita dituntut untuk menuntut ilmu sejak kita lahir hingga masuk liang lahat.
Membacapun tidak sembarang membaca, tetapi "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (Surat Al-Alaq, Ayat 1). Orang yang berilmu derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT. Kalau kita mau sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat, kita harus menggunakan ilmu, maka dari itu menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.


2. "Amal"an Kedua: Berjuang di jalan Allah untuk membela agama. Muslim yang berilmu berjuang dengan ilmu yang dimilikinya. Muslim yang kaya berjuang dengan memanfaatkan hartanya untuk kesejahteraan bagi orang lain. Bagi yang kuat dapat berjuang dengan kekuatannya untuk menolong orang lain. Bagi muslim yang tidak memiliki ilmu, harta ataupun kekuatan dapat berjuang dengan cara memanjatkan do'a kepada Allah SWT. Bagi yang tidak bisa ber"amal" dengan ilmu, harta, kekuatan dan do'a; dapat berjuang dengan diam. Dari pada mengumpat atau menjelek-jelekkan orang lain lebih baik diam.



3. "Amal"an Ketiga: Bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Muslim yang bekerja dengan niat memberikan nafkah yang halal dan barokah untuk keluarganya (orang tua, istri dan anak-anaknya), dengan tujuan supaya keluarganya tidak menjadi pengemis, adalah termasuk "amal"an utama yang mendapat pahala yang sangat besar. Mencari nafkah disini termasuk berjuang melawan kemiskinan.

"PeReMPuAN YaNG TiDaK BoLeH AnDa KaWiNi"

"Dalam Islam telah diajarkan siapa "perempuan-perempuan" yang tidak boleh dikawini (dinikahi)."


Dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 23 dijelaskan : "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak "perempuan"mu, saudara-saudara "perempuan"mu, saudara-saudara "perempuan" ayahmu, saudara-saudara "perempuan" ibumu, anak-anak "perempuan" dari saudara laki-lakimu/anak-anak "perempuan" dari saudara "perempuan"mu, ibu-ibu yang menyusukanmu, saudara-saudara "perempuan" yang sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak tiri yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri; tetapi jika kamu belum mencampuri mereka, maka tidaklah berdosa atasmu (mengawini anak tiri itu), istri-istri anak kandungmu (menantu) dan mengumpulkan (mengawini) dua "perempuan" yang bersaudara kecuali pada masa yang telah lalu Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."







Disamping macam-macam "perempuan" seperti yang telah disebutkan di atas, "perempuan" yang tidak boleh anda kawini (nikahi) adalah "perempuan" yang masih berstatus menjadi istri dari seorang laki-laki.

Jumat, 03 Juli 2009

"ISLAM KAFFAH - BERTAUHID SECARA TOTALITAS"

"Kita sering mendengar bahwa dalam kehidupan sehari-hari ini banyak orang yang beragama "Islam" hanya "Islam" status yang hanya memenuhi formalitas yang tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau lebih dikenal dengan "Islam" KTP atau "Islam" Abangan.


Na'udzubillah..... mudah-mudahan kita tidak termasuk dari golongan itu.


Sebagai umat "Islam" seharusnya kita beragama "Islam" secara "Kaffah". "Islam Kaffah" itu sebenarnya berkenaan dengan aqidah. Sebagai orang "Islam" kita tidak boleh menyembah Allah SWT dengan setengah-setengah. Kita dituntut untuk bertauhid dengan penuh totalitas. Beragama "Islam" secara "Kaffah" berarti tidak sinkretisme, yaitu tidak mencampur adukkan berbagai ajaran agama.


Ada beberapa cara yang dapat kita laksanakan untuk mewujudkan "Islam" secara "Kaffah", antara lain:

1. Memperluas wilayah pemahaman kita terhadap "Islam". Misalnya, kita sudah memahami shalat, kita diwajibkan untuk memahami ibadah-ibadah lainnya, karena "Islam" tidak hanya shalat, akan tetapi masih banyak ibadah-ibadah lain yang wajib kita pahami dan dilaksanakan misalnya zakat, puasa, haji dan seterusnya.


2. Memperluas wilayah kerja/amal kita. Misalnya kalau kita sudah melaksanakan ibadah shalat wajib, maka kita perluas lagi dengan melaksanakan ibadah shalat sunnah; Kalau kita sudah melaksanakan puasa wajib, kita perluas lagi dengan melaksanakan puasa sunnah; Dan seterusnya.


3. Kita berupaya secara terus menerus untuk menutup peluang setan masuk mempengaruhi dalam kehidupan kita. Jangan biarkan setan mencari peluang untuk mempengaruhi ketaatan kita kepada Allah SWT. Misalnya, kita sudah melaksanakan ibadah dengan baik menurut kita, namun kita masih sering membuka aurat kita. Jangan biarkan aurat kita terlihat oleh orang lain dengan dalih kita masih belum siap untuk menutup aurat kita. Padahal menutup aurat adalah perintah Allah juga.


Subhanallah..... Semoga kita termasuk orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk menjadi orang "Islam" yang melaksanakan seluruh ibadah agama "Islam" secara "Kaffah".

Senin, 29 Juni 2009

"JILBAB / KERUDUNG"

Allah memerintahkan kepada seluruh wanita mukmin untuk mengenakan "jilbab". Hal ini seperti yang telah difirmankan

Allahdalam Al-Qur'an Surat
Al Ahzaab Ayat 59 : "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan mukmin, "Hendaklah mereka memakai "jilbab"nya atas dirinya". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Difirmankan juga dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur Ayat 31: "Katakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang kelihatan dari padanya. Hendaklah mereka menutupi dada dengan "kerudung"nya. ......."

Kalau kita membaca 2 (dua) Ayat di atas, maka memakai "jilbab" / "kerudung" adalah wajib hukumnya bagi seluruh wanita mukmin di seluruh dunia, utamanya wanita yang sudah baligh.


Pakaian "jilbab" bermanfaat sebagai wahana untuk mengontrol diri (self control) seorang wanita dari kemungkinan melakukan hal-hal yang kurang senonoh. Juga sebagai identitas bahwa pemakai bukan seorang yang senang digoda atau diganggu.

Melihat fenomena "jilbab" belakangan ini, satu sisi membuat kita gembira dan sisi lainnya menjadikan kita prihatin. Gembira--- Apabila kita kembali ke era beberapa belas tahun lalu, kemerdekaan ber"jilbab" susah didapatkan,  apalagi bila bersinggungan dengan birokrasi. Ber"jilbab" tidak bisa leluasa. Malah bisa menuai sanksi. Berbeda dengan saat ini, orang ber"jilbab" ada di mana-mana. Di sekolah hingga perkantoran dan birokrasi lainnya tidak ada larangan, bahkan menjadi trend yang menggembirakan.

Yang membuat prihatin, di tengah maraknya euforia ber"jilbab" itu terselip kesalah-pahaman menggunakannya. Banyak orang ber"jilbab" tetapi dibalut pakaian minim dan menonjolkan aurat yang seharusnya tertutupi. Mengapa bisa demikian? Rasulullah bersabda: "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya surga." (Hadits Riwayat Abu Daud).

Syariat untuk ber"jilbab" ada, tentu dengan maksud dan tujuan mulia. Banyak penelitian menguak rahasia perintah ber"jilbab". Disamping untuk mengenali pribadi muslim dan mencegah gangguan orang jahat, dari sisi kesehatan ternyata ada faedahnya. Seorang dokter Kanada, dalam laporannya melalui kantor berita Reuters, telah menyatakan bahwa sesungguhnya wanita muslimah yang ber"jilbab", bukan hanya menunjukkan kesederhanaan saja tetapi juga akan terlindung dari kanker hidung dan tenggorokan. Hal ini diyakini karena "jilbab" mampu mencegah penetrasi banyak virus.

Menurut Farikh Narzuqi, MA, Sekretarus Ikatan Dai Indonesia (IKADI), salah satu hikmah perintah ber"jilbab" adalah terjaganya kehormatan seorang wanita terutama saat keluar rumah. Secara fitrah, wanita itu berada di rumah. Tapi kan tidak mungkin wanita selalu di rumah. Ada juga kebutuhan menuntut ilmu atau berkiprah di masyarakat. Agar tetap terjaga kehormatannya, maka Islam memerintahkan penggunaan "jilbab".

Kita tidak boleh lalai bahwa zaman sekarang lebih aman dari pada zaman jahiliyah di masa sebelum Islam. Islam telah mengatur cara muslimah berbusana serta mengingatkan untuk selalu menjaga diri. Selain ber"jilbab", para muslimah harus mengenakan 'pakaian malu. Jangan membuat pria tergoda. Tidak semua pria imannya kuat.

Ber"jilbab" adalah amal ibadah. Dan tiap amal harus dengan ilmu. Pelajari hikmah dan manfaat ber"jilbab". Kalau paham kan mantap. Jangan seperti siswi yang "jilbab"nya dilepas dan dimasukkan tas begitu keluar dari sekolah. Para ibu harus juga memberi contoh. Anaknya ber"jilbab" saat sekolah atau TPA, tapi ibunya yan g mengantar malah tidak ber"jilbab".

(Sumber: Majalah Al-Falah, Edisi 277, April 2011).

Sabtu, 27 Juni 2009

"BERSIH - HiJAU DALAM AL-QUR'AN"

"Bersih" adalah sifat yang sangat disukai oleh Allah SWT. ".... Dan Allah menyukai orang-orang yang "bersih". (Al-Qur'an Surat At Taubah Ayat 108).














Surga disediakan untuk
orang-orang yang "bersih" dari kekafiran dan kemaksiatan, seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 76: "(yaitu) surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang "bersih" (dari kekafiran dan kemaksiatan)".











Air surgapun berwarna putih "bersih", sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (Al-Qur'an Surat Ash-Shaaffaat Ayat 46).












Agama Islam adalah agama yang "bersih". "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang "bersih" (dari syirik). ....." (Al-Qur'an Surat Az-Zumar 3).


















Allah amat menyukai orang yang berpakaian "bersih", seperti perintah-Nya "dan pakaianmu "bersih"kanlah" (Al-Qur'an Surat Al-Muddatsir Ayat 4).


"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mem"bersih"kan diri (denganberiman)". (Al-Qur'an Surat Al-A'laa Ayat 14).


"Yang menafkahkan hartanya (di jalan
Allah) untuk mem"bersih"kannya." (Al-Qur'an Surat Al-Lail Ayat 18).






Di dunia ini, Allah juga memberikan rahmat-Nya kepada alam semesta berupa air yang amat "bersih" , seperti Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqaan Ayat 48: "Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan kami turunkan dari langit air yang amat "bersih."


Selain bersih, adalah hijau, yang menjadi icon lingkungan yaitu "hijau" dan "bersih" atau green and clean.


Tidak ada warna yang lebih banyak disebutkan dalam Al-Qur'an melebihi warna "hijau". Allah SWT menggambarkan keadaan penghuni surga dan segala kenikmatan yang melingkupinya dalam suasana yang penuh keceriaan, kebahagiaan, kenikmatan, dan ketenangan jiwa.


Allah SWT berfirman di dalam Surah Ar-Rahman: "Mereka bersandar pada bantal-bantal yang "hijau" dan permadani-permadani yang indah."



"Hijau" dan "bersih", kedua-duanya mer
upakan warna dan sifat yang ada dalam surga seperti ang digambarkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Insaan Ayat 21 : "Mereka memakai pakaian sutera halus yang "hijau" dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang "bersih".


Archam (seorang psikiater) berpendapat bahwa pengaruh warna dalam diri manusia sangat mendasar. Hasil dari beberapa percobaan menunjukkan bahwa warna mempengaruhi keberanian dan pertahanan diri seseorang. Warna juga membuat seseorang mampu merasakan panas atau dingin, senang atau susah, bahkan warna dapat mempengaruhi kepribadian seseorang dan pandangannya mengenai kehidupan.


Besarnya pengaruh warna dalam diri manusia membuat beberapa rumah sakit menganjurkan para dokter spesialis untuk mengenakan pakaian dengan warna tertentu yang dapat mempengaruhi kesembuhan. Begitu pula dengan dinding kamar rumah sakit, dicat dengan warna tertentu yang berdampak baik bagi kesembuhan.


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa warna kuning dapat mengaktifkan kembali urat-urat saraf dan meningkatkan semangat. Warna ungu cenderung pada suasana kemapanan. Sementara itu, warna biru memberikan rasa dingin pada seseorang. Hal ini berkebalikan dengan warna merah yang memberikan nuansa hangat atau panas. Para ilmuwan sendiri sepakat menyimpulkan bahwa warna "hijau" memberikan nuansa keceriaan, kebahagiaan, dan cinta kehidupan. Karena itu "hijau" menjadi warna dominan di ruang-ruang operasi serta pakaian para dokter dan perawat.


Warna "hijau" memberikan kesegaran bagi penglihatan karena luas pandang warna "hijau" lebih kecil dibandingkan luas pandang pada warna-warna lain. Selain itu, panjang gelombang warna "hijau" ukurannya sedang, tidak sepanjang warna merah atau sependek warna biru.


(Sumber: Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Qur'an dan Sunah).

Senin, 22 Juni 2009

"SABAR ADALAH PERINTAH ALLAH SWT"

"Sabar"--- kata yang sangat mudah diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. "Sabar" adalah sebuah kesadaran yang timbul dan manifestasi iman dan ikhlas. "



"Sabar" secara konkrit tidak terbatas pada ruang dan waktu. "Sabar" adalah menahan diri dan menanggung suatu penderitaan baik dalam sesuatu yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang sangat dicintai atau disenangi.


Menurut Imam Al-Gozali, "sabar" adalah sesuatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama. Sedangkan menurut Ulama Sufi, "sabar" adalah tidak mudah teragitasi oleh sesuatu kejadian yang di luar keinginan manusia. Jadi "sabar" adalah sanggup menunggu yang ditunggu adalah sesuatu yang pasti datang ("sabar" dalam kamus Islam adalah aktif dan dinamis).


Salah satu akhlak muli
a yang harus dimiliki kaum Muslimin adalah "sabar" dan tahan menderita, karena "Allah". "Sabar" dalam melatih diri dan rela terhadap sesuatu yang tidak disenanginya yang menyangkut ibadah kepada "Allah".


Umat Islam sangat dianjurkan untuk menjadi orang ya
ng "sabar". "Allah" telah memfirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqqarah Ayat 45 : "Dan mintalah pertolongan (kepada "Allah") dengan "sabar" dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyuk".


Ke"sabar"an dan tidak berkeluh kesah termasuk akhlak yang harus diusahakan dan diperoleh melalui latihan dan perjuangan melawan hawa nafsu. Setiap kaum Muslimin mengetahui bahwa "sabar" merupakan perintah "Allah" SWT sebagaimana firman "Allah" dalam Surat Ali 'Imran Ayat 200: "Hai orang-orang yang beriman, ber"sabar"lah kamu dan kuatkanlah ke"sabar"anmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada "Allah" supaya kamu beruntung (sukses)."


Dan firman "Allah" dalam Surat Al-Baqaeah Ayat 153: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah "sabar" dan shalat sebagai penolongmu....."


Lalu firman "Allah" SWT dalam Surat An-Nahl Ayat 127: "Ber"sabar"lah (hai Muhammad) dan tiadalah ke"sabar"anmu itu melainkan dengan pertolongan "Allah"...."



Kemudian firman "Allah" dalam Surat Luqman Ayat 17: ".... dan ber"sabar"lah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh "Allah").'"


Juga firman "Allah" dalam Surat Al-Baqarah Ayat 155-157: "... Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang "sabar", (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."


Kemudian "Allah" berfirman dalam Surat As-Sajadah Ayat 24: "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka "sabar" dan selalu meyakini ayat-ayat Kami."


"Allah" sangat menyukai orang-orang yang "sabar", oleh karena itu "Allah" selalu menyertai orang yang "sabar", seperti yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfaal 46 : "....., sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang "sabar".


Bahkan, begitu cintanya "Allah" kepada orang yang "sabar", "Allah" memberikan kekuatan, seperti yang dijanjikan-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfaal Ayat 66 : "Sekarang "Allah" telah meringankan kepadamu dan Dia telah
mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang "sabar", niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang "sabar"), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin "Allah". Dan "Allah" beserta orang-orang yang "sabar".


Balasan bagi orang-orang yang "sabar" sangatlah besar. "Allah" akan member
ikan balasan kepada orang-orang yang "sabar " dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Al-Qur'an, Surat An Nahl Ayat 96).


Bahkan pahalanya tanpa
batas, seperti janji "Allah" dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 10 : "...... Sesungguhnya hanya orang-orang yang ber"sabar"lah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas".


"Allah" menganugerahkan sifat-sifat yang baik kepada oran
g-orang yang "sabar". seperti Firman "Allah" SWT dalam Al-Qur'an Surat Fushshilat Ayat 35 : "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang "sabar" dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar".

Mereka akan dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena ke"sabar"an mereka dan mereka akan disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya. (Al-Qur'an Surat Al-Furqaan Ayat 75).
 


Supaya ke"sabar"an kita selalu terjaga, maka seharusnya kita selalu berdo'a : "................... Ya Tuhan kami, limpahkanlah ke"sabar"an kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu). (Al-Qur'an Surat Al-A'raaf Ayat 126).


Hidup ini akan terasa sangat indah
apabila ke"sabar"an dimiliki dan diterapkan oleh sem
ua orang di dunia ini.
Subhanallah......


Nabi Muhammad SAW bersabda: "Ke"sabar"an itu penerangan(cahaya)". (Muslim).



Rasulullah SAW bersabda: "Dan siapa yang memelihara kesopanan dirinya, "Allah" akan memelihara kesopanannya dan siapa yang merasa cukup, maka "Allah" akan mencukupinya dan siapa yang melatih ke"sabar"an, maka "Allah" akan menyabarkannya. Dan tiada seorang yang mendapat karunia (pemberian) "Allah" yang lebih baik dari ke"sabar"an." (Bukhari).





Lalu Rasulullah juga bersabda: "Sangat mengagumkan keadaan seorang Mukmin, sebab keadaan bagaimanapun baginya adalah baik dan tidak mungkin terjadi demikian, kecuali bagi seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya, dan bila menderita kesusahan, ia ber"sabar", maka ke"sabar"an itu lebih baik baginya." (Muslim).









Kemudian sabda Rasulullah
SAW kepada putrinya yang mengutus seseorang, meminta agar Nabi segera datang, karena putranya sakit hampir meninggal. Maka Rasulullah bersabda kepada utusannya: "Kirim salam dan katakan padanya, sungguh terserah kepada "Allah" untuk memberi atau mengambil kembali dan segala sesuatu tergantung pada ajal yang ditentukan baginya, maka hendaklah "sabar" dan mengharap pahala dari "Allah"." (Bukhari).



Juga sabda Rasulullah SAW: "Allah telah berfirman: "Apabila Aku menguji seorang hamba-Ku dengan buta kedua matanya, kemudian ia "sabar", maka Aku menggantikannya dengan surga." (Bukhari).


Rasulullah juga bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Apabila "Allah" mencintai suatu kaum, Ia menimpakan cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridha, mendapat keridhaan "Allah" dan siapa yang murka, mendapat murka "Allah"." (Tirmidzi dan Ibn Majah).



Kemudian Rasulullah bersabda: "Tidak henti-hentinya cobaan menimpa kaum Muslimin, baik mengenai diri, sanak keluarganya atau harta kekayaannya hingga ia menghadap kepada "Allah" sudah bersih dari dosa (tidak ada tuntutan) padanya." (Tirmidzi).



Tahan menderita juga termasuk "sabar", tapi lebih berat. Hal itu merupakan harta perniagaan para Siddiqin dan tanda-tanda orang saleh. Hakikat tahan menderita adalah orang Muslim menderita karena untuk kepentingan "Allah", lalu ia ber"sabar" dan tahan uji. Ia tidak menolak kejahatan, kecuali dengan kebaikan. Ia tidak membalas untuk kepentingan pribadinya, sepanjang hal itu berada di jalan "Allah" dan untuk mencari ridha "Allah". Teladan mengenai hal itu terdapat pada para Rasul dan salihin. Karena jarang orang yang berjuang di jalan "Allah" tidak mendapat penderitaan, karena hal itu merupakan sarana bertemu dengan "Allah".


Ketika Rasulullah memb
agikan harta rampasan perang, seorang Arab dusun berkata: Aku tidak mau harta rampasan itu menurut cara yang ditentukan "Allah". Maka hal itu disampaikan kepada Rasulullah. Maka ketika itu wajah Rasulullah merah. Kemudian beliau bersabda: "Semoga "Allah" merahmati saudaraku Musa. Ia lebih menderita dari ini, tapi ia pun ber"sabar". (Muttafaq 'alaih).


"Allah" berfirman dalam Surat Ibrahim Ayat 12: "Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada "Allah", padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan ber"sabar" terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada "Allah" saja orang-orang (Mukmin) yang bertawakal itu berserah diri."




Dengan beberapa contoh nyata dari generasi terdahulu perihal ke"sabar"an dan tahan uji, maka seorang Muslim akan mampu hidup "sabar" dengan mengharap ridha "Allah". Ia hadapi segala cobaan dan penderitaan tanpa mengeluh, marah ataupun membalas keburukan dengan keburukan melainkan dengan kebaikan. Ia pemaaf, "sabar" dan mengampuni segala kesalahan orang lain. Sebagaimana firman "Allah" dalam Surat Asy-Syura Ayat 43: "Tetapi orang yang ber"sabar" dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan."





Menurut Abdus Samad Al Palimbani, tingkatan "sabar" ada tiga, yaitu:

1. "Sabar" orang awam (tasabbur) yakni menanggung kesusahan dan menahan kesakitan dalam menerima hukuman Allah SWT.

2. "Sabar" orang yang menjalani tarekat, yakni terbiasa dengan sifat "sabar".

3. "Sabar" orang arif (istibar) yakni merasa lezat dengan bala' dan merasa rela dengan pemberian Allah SWT atas dirinya.


Manfaat "sabar" menurut KH MD Sirojudin dalam bu
kunya yang berjudul 'Hakekat Ikhlas dan Indahnya Ke"sabar"an, adalah:

1. Sikap "sabar" dapat membimbing seseorang kepada tingkat pengabdian kepada Allah secara sempurna.

2. Sikap "sabar" dapat menstabilkan jiwa seseorang sehingga bertindak sesuatu seimbang.

3. Sikap "sabar" dapat meredam amarah dan dendam.

4. Sikap "sabar" cerminan hati nurani yang selalu menguntungkan orang lain.

5. Orang yang ber"sabar" bila berbicara dan bertindak selalu menyejukkan dan membahagiakan orang lain.

6. "Sabar" merupakan pondasi kezuhudan dan ketawaduan.


Sikap "sabar" sebenarnya sangat perlu dimiliki oleh setiap orang karena "sabar" merupakan perisai hidup sehingga Allah berfirman dalam Surat Yusuf Ayat 18 "Sabar" itu indah" (Asshobaru jamil). Kita harus selalu ber"sabar" dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan yang terjadi. Anggaplah semua yang terjadi adalah suatu ujian dan cobaan.


MusicPlaylistView Profile