Sabtu, 14 Juli 2012

"Kisah Kakek Tua Yang Mengharukan"

"Berikut adalah kisah "kakek tua"/orang "tua" yang menyedihkan dengan keadaannya yang sudah "tua" dan tak mampu lagi untuk menjadi seperti halnya kita yang bisa mengerjakan sesuatunya dengan sendiri". 
 
 
Mungkin cerita ini telah lama meskipun dengan kata-kata yang berbeda saya akan coba bagikan ke sahabat motivasi untuk dijadikan motivasi dan bahan renungan bagi kita.

Suatu hari seorang "kakek tua" yang tinggal bersama anak, menantu, dan seorang cucu laki-lakinya. Penglihatan si "kakek" sudah tidak begitu jelas lagi. Dan Ia sudah tidak dapat mendengar dengan baik. Juga lututnya sudah mulai bergetar. Terkadang jika ia duduk di meja makan, ia tidak dapat lagi memegang sendok dengan erat. Dan tanpa sengaja seringkali "kakek tua" ini menumpahkan makanan di atas meja makan, Bahkan makanan yang keluar dari mulutnya. Melihat hal itu anak dan menantunya merasa jijik saat makan bersamanya. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk tidak memperbolehkan "kakek" tersebut untuk makan bersama mereka. Mereka menempatkan sang "kakek" di tempat khusus, makan hanya dengan mangkok yang kecil. Ia sering tidak mendapat makan dan minum yang cukup dan tentu saja ia tetap lapar dan haus. Terkadang sesekali ia mencoba melihat-lihat makanan yang ada di meja makan mencoba untuk hilangkan laparnya.

Suatu ketika di saat jemarinya yang sudah "tua" tidak dapat lagi memegang mangkuk. Mangkuk itu jatuh dan pecah. Menantu perempuannya mencaci-makinya habis-habisan. Tapi, "kakek tua" itu hanya bisa diam dan pasrah. Ia membiarkan semuanya terjadi. Lalu Menantunya tidak ingin lagi ada mangkuk yang pecah di rumahnya maka ia membelikan sebuah piring yang terbuat dari kayu dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu "kakek tua" itu harus makan. Dengan begitu Ia lebih tenang karena sangat mustahil untuk pecah di buat si "kakek".

Suatu hari anaknya yang masih berumur 5 tahun sedang belajar menggambar dan hasilnya seperti sebuah piring. "Apa yang sedang kamu buat, Nak ?" tanya ayahnya. "Saya sedang membuat sebuah piring kayu ," jawab anaknya polos, "dengan piring ini ayah dan ibu akan makan, jika nanti saya sudah besar."

Ayah dan ibunya saling bertatapan teringat perlakuan mereka yang selama ini memberikan makan orang "tua"nya dengan piring kayu. Mereka mulai membayangkan hal tersebut terjadi kepada mereka. Tanpa sengaja sang ibu menangis dan langsung memeluk anaknya. Sejak kejadian itu mereka selalu memapah sang "kakek" ke meja makan, untuk makan bersama. Jika ia lapar atau haus, mereka segera membawakan makanan dan minuman untuknya. Mereka tidak lagi mempersalahkan perlakuan sang "kakek", meski harus selalu membersihkan sisa makan sang "kakek" yang selalu tumpah di meja makan.

Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bagi kita yang masih muda, bahwa kita juga akan menjadi seperti mereka yang sudah "tua" yang selalu membutuhkan pertolongan orang lain. Bahkan bisa jadi nantinya kita akan lebih menyusahkan anak-anak kita. Jadi tanamkan sifat kesabaran dan keikhlasan menerima semuanya, saling mengerti dan menyadari keadaan orang "tua" kita, agar nantinya anak-anak kita dapat memperlakukan kita dengan baik (Sekecil apapun hal yang kita lakukan hari ini akan berdampak di kemudian hari).

BY ==> JABALNUR
ADD ME ==> http://www.facebook.com/jabalnur007

"Penggunaan dan Pemilihan Warna"

"Newton adalah orang pertama yang mengotak-atik "warna",  mungkin dapat disebut sebagai Bapak "warna" internasional".

Penentuan "warna" bukan sekedar masalah teknik dan fanatik semata, meskipun seringkali diabaikan. Penentuan "warna" sangatlah akademis. Sebab, dapat menentukan perilaku proses dan output. Pada tahun 1740, Louis Bertrand Castel sudah mempublikasikan hasil karyanya tentang "warna". Menurutnya, penentuan "warna" menuntut harmonisasi sistem dan variabel. Di dunia sekolah, "warna" mempunyai dampak psikologis yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta masa depan sistem.

Penentuan "warna" harus diatur dengan baik sehingga tidak berdampak kontraproduktif terhadap sistem. Penentuan "warna" menjadi variabel vital yang mempengaruhi performa sekolah. Penentuan "warna" sebaiknya rasional, terukur dan bertarget.  Goethe, menulis di bukunya yang terbit tahun 1810, yellow is light which has been dampened by darkness and blue is a darkness weakened by the light. Teori "warna" memformulasikan tiga "warna" primitif, red, yellow, blue yang ditulis oleh Yacob Cristoph Le Blone di tahun 1725 untuk belajar mengolah "warna". ""Warna" hangat (warm "color") dan"warna" dingin (cold "color") telah dibahas pada abad 18 dan dimasukkan dalam Oxford English Dictionary pada 1890. Goethe juga mengatakan Blue mountains are distant from us, and so cool colors seem to recede.

Di beberapa buku teks marketing, penentuan "warna" merupakan bentuk tingkat profesionalisme sebuah sistem yang dapat dilihat secara kasat mata dengan mudah. Jika pe"warna"an gedung sekolah kacau, dijamin seratus persen sekolahnya amburadul. Susunan "warna" adalah keharmonisan yang strategis. Singkatnya, penentuan "warna" menjadi salah satu cabang ilmu yang harus dikuasai dalam manajemen modern.

Ada pepapatah para ahli pe"warna"an, bahwa "warna" hangat (warm color) menggambarkan pengerahan tenaga (exertion) dan perasaan bersemangat (ardent feeling); "warna" dingin (cold color) menggambarkan kurang antusias (lack ofenthusiasme), kesosialan (sociability), dan daya hidup (life force).

Penggunaan dan pemilihan "warna" adalah rasional, ilmiah dan profesional. Namun keputusan akhir tetaplah hati secara intuitif. Rasionalkah "warna" gedung, ruangan dan kantor-kantor yang telah dibangun? Jangan sampai sekolah, kantor, toko dan rumah sakit kita tidak ada customer akibat kombinasi "warna"-"warna" yang tidak didesain secara profesional. Jangan meremehkan pe"warna"an ("color"ing). Dia mempunyai dampak sangat kuat terhadap pasar (market). Dengan kombinasi "warna" pakaian yang serasi, anak menjadi senang memakai, kombinasi "warna" gedung yang compatible akan membuat tamu nyaman dan semakin banyak yang datang.

(Sumber: Majalah Al-Falah. Edisi 275. Februari 2011).

Rabu, 11 Juli 2012

"Amal Yang Ikhlas"

"Ikhlas"lah dalam agamamu, meskipun kerjamu sedikit", nasihat Rasulullah SAW. Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Hakim.


Ketahuilah, bahwa suatu pekerjaan dapat diterima Allah dengan baik, haruslah memiliki dua sifat:
1. Pekerjaan itu harus sesuai dengan syariat.
2. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan "ikhlas", semata hanya karena Allah.

Jika salah satu dari keduanya yang terpenuhi, maka dia tidak dapat diterima-Nya, karena tidak memenuhi syarat-syarat. Artinya, jika sesuai dengan syariat, tetapi tidak "ikhlas" atau sebaliknya; dilakukan dengan "ikhlas", tetapi tidak sesuai dengan syariat, maka "amalan" itu tidak akan diterima di sisi Allah.

Seorang pernah bertanya kepada Al Fudhail bin Iyadh tentang maksud "Ahsanu "amala" dalam firman-Nya:
"Untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik "amal"nya". (QS. Al Mulk ayat 2).

Jawab Al Fudhail:
"Ahsanu "amal" ialah "amal" yang paling "ikhlas" dan paling tepat. Sesungguhnya "amal" itu apabila "ikhlas", tetapi tidak tepat, tidak akan diterima-Nya. "Amal" seseorang tidak akan diterima, kecuali yang dilakukan dengan "ikhlas" dan tepat. Yang dimaksudkan dengan "ikhlas" ialah, yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT, dan yang dimaksud tepat ialah, yang sesuai dengan syariat, seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 110, "Barangsiapa mengharap akan menemui Rabbnya, hendaklah ia ber"amal" dengan "amalan" saleh, dan janganlah mempersekutukan dalam menyembah Rabbnya dengan sesuatu apapun".

(Sumber: Nasihat Untuk Para Wanita. Oleh: DR. Najaat Hafidz).

Senin, 09 Juli 2012

"Takut Kepada Allah"

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu "takut" kepada "Allah", niscaya "Allah" akan memberikan petunjuk dan menutupi kesalahanmu, serta mengampuni dosamu, dan "Allah" mempunyai karunia yang besar".
"Barangsiapa "takut" kepada "Allah", maka "Allah" akan membukakan jalan keluar (dari kesulitan) baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak pernah diduganya (semula)". (QS. At-Thalaq, ayat 2-3).

Sabtu, 07 Juli 2012

"Kriteria Guru Profesional dan Idaman"

"Menjadi "guru" "profesional" dan "idaman" merupakan cita-cita semua pendidik. "Profesional" dalam bidangnya dan "idaman" karena kepribadiannya yang menginspirasi".


Berikut ini beberapa kriteria "guru" "profesional" dan "idaman" (menurut Mohammad Faisal, S.Pd):
1. SABAR.
Sabar adalah refleksi dari jiwa yang menahan dari apa yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan sekaligus menguatkan diri untuk terus berusaha meraih apa yang diinginkan. "Guru" harus dapat menjadi pribadi yang realistis dengan memahami bahwa kondisi setiap siswanya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan bermodalkan kesabaran, Insya'Allah "guru" dapat memetik kemenangan karena mampu menaklukkan hal-hal yang tidak diharapkan di dalam kelas lewat solusi-solusi bijak dan cerdas.

2. CERDAS.
Membawa "guru" menjadi pribadi yang mempunyai kapasitas keilmuan yang lebih dari pada siswa. Meski tidak jarang, sekarang ini, banyak siswa yang kecerdasannya melebihi "guru". Kapasitas seseorang sangatlah ditentukan dari cara dia berbicara. "Guru" harus memperkaya khazanah keilmuannya dengan selalu belajar melalui sumber-sumber keilmuan yang sesuai dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Karena semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang, maka semakin tinggilah kualitas mengajarnya berdasarkan pertimbangannya dalam memilih materi yang disampaikan dengan menampilkan logika berbicara yang mudah untuk dipahami.

3. HUMORIS.
"Guru" yang humoris harus bisa membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. "Guru" yang memiliki nilai humor dapat menjadikan lingkungan sekitar bebas dari rasa takut. Penciptaan lingkungan yang bebas dari rasa takut sangatlah mendukung proses belajar siswa. Dengan demikian, peserta didik yang tidak takut dan tertekan akan berani mengambil resiko untuk terus belajar, meski kadang melakukan kesalahan. Hal ini menjadikan siswa tahu mana yang benar dan mana yang bisa dikembangkan. Pada akhirnya, siswa akan selalu termotivasi dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam proses pembelajaran.

4. PERHATIAN.
Pendidik harus memiliki sense of caring. Peran "guru" sebagai pemerhati keadaan siswa ketika belajar menjadi hal yang utama. Ketika menjalankan peran seperti ini, mereka harus tahu kapan berhenti atau terus dalam menjalankan pengajaran. Dengan kata lain, "guru" harus mampu melakukan pendekatan kepada siswa yang terlihat kesulitan dalam belajar. Perhatian "guru" kepada siswa bisa berupa pemberian solusi/jawaban terhadap kesulitan belajar mereka dan berupa pengakuan dalam bentuk pujian. Pemberian pujian terhadap siswa yang melakukan kebaikan dalam belajarnya, memotivasi siswa lain melakukan hal yang serupa. Dan bagi siswa yang melakukan kesalahan, mereka mengetahui hal yang benar tanpa merasa dinasehati oleh "guru". Mereka dapat belajar melalui kesalahan yang dilakukan sebelumnya.
 
5. KREATIF.
Saat "guru" humoris menciptakan suasana yang menyenangkan, kreativitas "guru" bisa menciptakan suasana pengajaran yang menyenangkan melalui sistem pengajaran yang bervariasi. "Guru" yang kreativ harus bisa mengimplementasikan berbagai metode pengajaran sesuai kebutuhan, misalnya metode klasikal, diskusi, class project, excursion, dan lain-lain. Kehadiran "guru" yang kreatif akan benar-benar ditunggu oleh para siswanya. Semakin bersemangat siswa belajar, semakin tertantang pula mereka untuk membuat "guru"nya bangga. 

Kesimpulannya, untuk menjadi sosok "guru" "profesional" dan "idaman" bagi para siswa tidaklah sulit selama "guru" mau belajar dari proses yang dialami. Jangan hanya terpaku oleh hasil ulangan siswa yang kurang memuaskan. Melainkan lebih kepada suasana belajar yang menyenangkan.

"Guru" dikatakan biasa ketika dia hanya bisa memberitahu. "Guru" dikatakan baik ketika dia bisa menerangkan. "Guru" dikatakan superior ketika dia bisa mendemonstrasikan. "Guru" dikatakan besar ketika dia mampu memberikan inspirasi. Semoga para "guru" bisa menjadi besar dengan inspirasi yang mereka berikan kepada setiap anak didiknya.
(Sumber: Majalah Al-Falah. Edisi 275. Februari 2011).

"5 Cara Meredam Kemarahan"

"Marah" biasanya selalu membawa masalah, maka dari itu perlu kiat-kiat atau cara-cara yang perlu dipraktekkan, yakni bagaimana cara "meredam" "kenarahan"?


Berikut ini ada 5 (lima) cara untuk "meredam" "kemarahan"  yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. yang dapat anda praktekkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Membaca Ta'awwudz.
Rasulullah SAW. bersabda: "Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang "kemarahan" seseorang, yakni a'uudzu billahi minasy-syaithaanir rajiim "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk". (HR. Bukhari - Muslim).

2. Berwudhu.
Rasulullah SAW. bersabda: "Kemarahan" itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air. Maka kalau kalian "marah" berwudhulah". (HR. Abu Dawud).

3. Duduk.
Dalam sebuah hadits dikatakan, "Kalau kalian "marah" maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka berbaringlah". (HR. Abu Dawud).

4. Diam.
"Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah. Kalau kalian "marah" maka diamlah". (HR. Ahmad).

5. Bersujud.
Artinya shalat sunnah minimal dua rakaat. Sebuah hadits menyebutkan, "Ketahuilah sesungguhnya "marah" itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka siapa saja yang mendapatkan itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)". (HR. Tirmidzi).
(Sumber: Majalah Al-Falah, edisi 275, Februari 2011). 

Sabtu, 30 Juni 2012

"Kewajiban Berpenampilan Yang Bagus"

"Kita harus senantiasa menyelaraskan diri antara "penampilan" lahir dan "penampilan" batin. Kita diwajibkan untuk selalu memelihara diri kita agar dapat menjadi suri tauladan bagi orang lain".


Islam telah mengajak kaum Muslimin agar selalu bermurah senyum kepada orang, sopan dalam berpakaian, bertindak, bertingkah laku, dan berbuat. Karena dengan seperti itu, kita bisa menjadi suri tauladan yang menjadikan kita layak mengemban risalahnya yang agung bagi manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Handhaliyyah disebutkan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara-saudara mereka:

"Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai suatu yang buruk". (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim dalam bukunya Al-Mustadrak, dan isnadnya hasan).

Rasulullah SAW. telah mengkategorikan "penampilan" yang kurang "bagus", kondisi yang acak-acakan, mengabaikan "penampilan", dan berpakaian amburadul sebagai suatu hal yang buruk, semuanya itu termasuk hal yang dibenci dan sekaligus dilarang oleh Islam. Jadi kita sebagai umat Islam harus selalu ber"penampilan" "bagus", jelas dan berbeda dalam bentuk dan tingkah lakunya, karena akan memberikan imbas bagi kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

Bertolak dari semua itu, sebagai kaum Muslimin, kita tidak boleh mengabaikan dirinya, tidak boleh acuh terhadap "penampilan" yang "bagus" dan bersih di tengah-tengah kesibukan kita dalam keseharian kita, bahkan kita harus selalu menganjurkan untuk senantiasa ber"penampilan"  yang "bagus" dengan tidak berlebih-lebihan. Perhatian pada "penampilan" yang "bagus" itu bersumber dari pemahaman akan kepribadian kita, dan menunjukkan cita rasa dan kecermatan pandangan pada peran kita dalam kehidupan ini, serta menunjukkan benarnya gambaran dirinya terhadap kepribadian sebagai kaum Muslimin yang normal yang tidak memisahkan "penampilan" phisik dan "penampilan" batin. Karena "penampilan" yang bersih, "bagus" dan rapi memuat kandungan-kandungan mulia. Dari kedua "penampilan" itu, lahir dan batin, kaum Muslimin terbentuk.

Kaum Muslimin yang cerdas, akan senantiasa menyelaraskan diri antara "penampilan" lahir dengan "penampilan" batin, dan mengetahui bahwa dirinya terdiri dari tubuh, akal, dan jiwa, sehingga dia akan nenberikan hak masing-masing, dan tidak pilih kasih dalam memberikan perhatian tersebut antara satu dengan lainnya. Penyelarasan itu dilakukan dengan berpegang pada petunjuk Islam yang telah mengajak dan sekaligus menganjurkan untuk melakukan penyelarasan tersebut.

Bagaimana realisasi keselarasan antara tubuh, akal dan jiwanya?

A. TUBUHNYA.
1. Sederhana dalam makan dan minum.
2. Rajin berolahraga.
3. Berbadan dan berpakaian bersih.
4. Penuh perhatian terhadap mulut dan giginya.
5. Selalu merawat keindahan rambut.
6. Berparas menarik.
7. Menghindri Tabarruj dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

B. AKALNYA.
1, Melindungi akalnya dengan ilmu.
2. Mempelajari dan menekuni Kitabullah, Al-Qur'an baik bacaan, tajwid maupun penafsirannya. Selanjutnya adalah ilmu hadits, sirah, kisah para sahabat  dan tabi'in.
3. Menguasai dalam berbagai bidang ilmu.
4. Menjauhkan diri dari hal-hal khurafat.
5. Tidak pernh lepas dari membaca dan menelaah.

C. JIWANYA.
1. Tekun beribadah dan membersihkan diri.
2. Memilih teman yang shalih serta senantiasa menghadiri majelis-majelis keimanan.
3. Senantiasa membaca do'a.

Sumber: Jati Diri Wanita Muslimah. Oleh: Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.


MusicPlaylistView Profile