Tampilkan postingan dengan label PSYKHOLOGY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSYKHOLOGY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

"BERDO'A HAnya Kepada ALLAH SWT, Bukan MENGELUH"

"Makhluk yang namanya manusia pasti pernah "mengeluh". Disadari atau tidak, "mengeluh" seperti sudah menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri".

Hanya saja, frekuensi dan kualitas "keluh"annya yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya.
Sesungguhnya semua masalah itu tidak sepantasnya disebar dan diceritakan kepada setiap orang yang diadukannya. Cukup semua perkara yang dihadapi seorang muslim hanya dicurhatkan kepada "Allah SWT". Seorang muslim hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan "Allah", tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah. Oleh karena itu kita memiliki dzikir لَا حَوْلَ وَ لَا قوَّةّ إِلَّا بِا الله yang maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali kekuatan dari "Allah".
Lihatlah Nabi Ya’qub as. ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ
Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada "Allah" aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)
Apabila kita "mengeluh"kan kesulitan hidup kita kepada orang lain adalah perilaku yang tidak pantas dilakukan orang beriman. Itu pertanda bahwa kita tidak rela atas pembagian dan pemberian "Allah SWT" kepada kita. "Mengeluh"kan keadaan kita kepada orang lain itu berarti (ibarat) mengadukan "Allah SWT" kepada makhluk (orang lain). Kita tidak boleh melakukannya. Kita dilarang "mengeluh" kepada orang lain mengenai kondisi diri kita antara lain keluarga kita. Kita hanya dibolehkan mengadu  kepada "Allah SWT". Kita dianjurkan "berdo'a"  kepada "Allah SWT" saja. Mengapa demikian? Ya, karena mengadu adalah bagian dari bentuk "do’a" kita kepada-Nya, "berdo'a" bukanlah "mengeluh". jika kita "mengeluh" kepada "Allah" seakan kitapun tidak terima akan ujian-Nya.
Rasulullah SAW pernah bersabda,

Maukah aku ajarkan kepada kalian beberapa kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil ? ”Kami (para sahabat) menjawab, “Tentu saja mau, Ya Rasulullah ! “Beliau besabda, “Bacalah, “Allahumma lakal hamdu wailaikal musytakaa, wa antaal musta’aan wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim (Ya "Allah", segala puji hanya bagi-Mu, hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan., Tiada daya (untuk menjauhi ma’siat ) dan tiada keuatan (untuk tha’at ), kecuali dengan pertolongan "Allah" Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung). “(THR. ‘Abdullah bin Mas’ud Ra.)

Benar saja. Jika seseorang menampakkan dan mengadukan kesedihan serta kesulitan kepada manusia, maka hal itu tidak meringankan kesedihan terdebut. Namun apabila seseorang mengadukan kesedihan itu kepada "Allah SWT", itu lah yang akan bermanfaat baginya. Bagaimana tidak? Sedangkan "Allah SWT" telah menjanjikan hal itu dalam sejumlah firman-Nya dalam Al-Qur'an, sebagai berikut,
وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang "berdo'a" apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS Al Baqarah: 186]
Perhatikanlah ayat ini. Di dalam Al Qur'an yang biasa memakai uslub soal-jawab, biasanya setelah disebutkan pertanyaan akan diikuti dengan kata-kata قُلْ (katakanlah), seperti dalam Al Baqarah: 189, 215, 217, dan banyak lagi. Namun dalam ayat ini, "Allah SWT" tidak menggunakan kata-kata قُل (katakanlah), namun langusung menjawabnya, “فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ …إلخ.” Ini menunjukkan bahwa kedekatan dan janji "Allah" itu benar-benar haq. "Allah berfirman :
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدِ
Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS Qaf: 16]
Tentu saja kedekatan di sini adalah kedekatan ilmu, bukan Dzat "Allah". Sebagaimana kesepakan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan kedekatan "Allah" itu ada dua, yaitu (1) kedekatan ilmu-Nya, dan (2) kedekatan-Nya dengan orang yang beribadah dan "berdo'a" kepada-Nya dengan pengkabulan, pertolongan, dan taufik (lihat Taisirul Karimir Rahman). Maka, sesungguhnya ilmu "Allah" itu meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya.
Jika "Allah" saja dekatnya sedemikian, maka tidak perlu lagi mencari tempat-tempat curhat dan "mengeluh"kan problem kepada selain-Nya. Karena, “Bukankah "Allah" itu cukup untuk hamba-Nya.” [QS Az Zumar: 36]
Diriwayatkan bahwa dahulu di zaman salaf, segala perkara yang mereka hadapi, kecil atau besar, selalu diadukan kepada "Allah". Sampai garam dapur pun, mereka meminta kepada "Allah". Atau sebagian riwayat, sampai tali sandal yang terpuus pun, diadukan kepada "Allah".
Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil agar hanya meminta dan memohon kepada "Allah", “Jika kamu meminta, mintalah kepada "Allah". Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada "Allah [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”] Jika anak kecil saja diajarkan seperti itu, bagaimana yang lainnya? Tentu lebih lagi.
Inilah potret pendidikan Rasulullah SAW., yaitu menanamkan akidah yang benar kepada umatnya sejak kecil agar terpatri kuat di sanubari orang tersebut. Dan pendidikan macam inilah yang seharusnya ditiru oleh para orangtua manapun.
Demikian juga dengan orang yang dirundung bingung antara dua pilihan, jika ia harus memilih. Seluruh ajaran Islam adalah penyerahan diri kepada "Allah". Segala masalah harus diserahkan kepada "Allah SWT", tidak kepada selain-Nya.
Ketika kita tertimpa sakit, hendaknya yang pertama kali terbetik dalam hati kita adalah segera kembali kepada "Allah SWT".
أَمِنْ يُجِيْبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوْءَ
Atau siapakah yang memperkenankan ("do'a") orang yang dalam kesulitan apabila ia "berdo'a" kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” [QS. An Naml: 62]
Ini semua bukan berarti tidak boleh sama sekali meminta pendapat kepada orang lain. Karena "Allah" sendiri juga berfirman yang artinya, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara itu.” [QS Ali ‘Imran: 159] Akan tetapi, mana yang ia dahulukan. Datang mengadu kepada "Allah" dahulu, atau mendatangi manusia untuk ber"keluh" kesah.
Ada beberapa hadits beserta sedikit penjelasan yang berkaitan dengan "do'a", agar kita menjadi semakin yakin bahwa kekuatan itu ada pada "do'a". Dan sesungguhnya seluruh makhluk itu lemah, kecuali orang yang mau "berdo'a". Bahkan benda-benda mati pun "berdo'a" dan berdzikir, sebagaimana pernyataan "Allah" dalam surat Al Isra’ ayat 44. Maka jika benda yang tidak berakal saja terus bertasbih dan mengingat-Nya, bagaimana pula dengan manusia yang berakal?!
لا يَرُدُّ القَضَاء إلا الدُّعَاء
Tidak ada yang dapat menolak qadha’ kecuali "do'a".” [Riwayat At Tirmidzi, Ibnu Hibban, dari hadits Salman Al Farisi. Dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Dikeluarkan juga Al Hakim, dinilainya shahih. At Tirmidzi mengatakan, “Hasan gharib.” Dan tidak menilainya shahih, karena dalam sanadnya terdapat Abu Maudud Al Bashri yang namanya adalah Fidhdhah. Abu Hatim berkata,”Dha’if.” Juga ditakhrij oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kubra dan Adh Dhiya’  dalam Al Mukhtarah. Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal. 29]
Al Qadhi Asy Syaukani rahimahumullah berkata, “Di dalamnya terdapat dalil bahwa "Allah SWT" menolak dengan "do'a" sesuatu yang telah Dia tetapkan atas seorang hamba. Dalam masalah ini telah diriwayatkan banyak hadits. Dan yang menguatkan adalah firman "Allah" yang artinya, "Allah" menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan (apa yang dikehendaki-Nya). Dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab.
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi "Allah" dari "do'a [Direkam oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Al Bukhari dalam Tarikh-nya,  At Tirmidzi dalam Jami’-nya,  dan Ibnu Majah, Al Hakim dalam Mustadrak-nya, dari hadits Ibunda ‘Aisyah. Al Hakim menilainya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi]
Al ‘Allamah Abul ‘Ula Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Mubarakfuri rahimahumullah mengatakan dalam syarahnya, Tuhfatul Ahwadzi [2421], “Karena di dalamnya (yaitu "do'a") terdapat penampakkan kefakiran, ketidakmampuan, penghinaan (diri), dan pengakuan terhadap kekuatan dan kemampuan (kodrat) "Allah".”
Oleh karena "do'a" itu sesuatu yang mulia di sisi "Allah", maka tidak heran jika Rasulullah SAW. juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ الله يَغْضَبْ عَلَيْه
Siapa yang tidak meminta kepada "Allah", Dia akan murka kepadanya” [Riwayat At Tirmidzi dan Al Hakim, dari hadits Abu Hurairah]
Hadits ini senada dengan firman "Allah SWT" yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman, "berdo'a"lah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]
Rasulullah SAW. juga pernah bersabda:
لَا تَعْجِزُوْ فِي الدُّعَاءِ فَإِنّهُ لَنْ يَهْلِكَ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ
Jangan kalian lemah (sedikit) dalam "berdo'a". Karena tidak akan binasa orang yang selalu "berdo'a".” [Direkam oleh Ibnu Hibban dalam Ash Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah. Ketiganya menilainya shahih. Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal. 31]
Jadi prinsipnya masalah yang ada dalam kehidupan ini adalah cara "Allah" menguji kualitas keimanan setiap Muslim. Oleh karena itu janganlah putus asa dalam menghadapinya. Jangan pula bersandar pada kekuatan apapun selain "Allah". "Berdo'a"lah hanya kepada "Allah", karena "Allah" akan memperkenankan "do'a" hamba-hamba-Nya. 
Sumber:
1. https//muslim.or.id/10477-curhat-hanya-kepada-allah...
2. www.eramuslim,com > Akhwat . Muslimah
3. https.//id-id.facebook.com/...mengeluh/22655796736...
4. laely.widjajati.facebook/add-a-description 1....
5. laely.widjajati.facebook/add-a-description 2....
6. laely.widjajati.facebook/suatu-pagi-di-#Telaga-Sarangan........

Jumat, 13 Maret 2015

"BERSABAR TERHADAP PEMIMPIN YANG DZALIM"

"Ta’at kepada "pemimpin" adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. 

Di antaranya Allah SWT. berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan,

“Hukum mentaati "pemimpin" adalah wajib, walaupun mereka berbuat "dzalim" (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari ke"dzalim"an yang mereka perbuat. Bahkan ber"sabar" terhadap ke"dzalim"an mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah SWT. tidak menjadikan mereka berbuat "dzalim" selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita.


Perhatikanlah firman Allah SWT. berikut,


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ


Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura [42] : 30)


أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ



Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” (QS. Ali Imran [3] : 165)


مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ


Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’ [4] : 79)


Allah SWT. juga berfirman,


وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang "dzalim" itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’am [6] : 129)


Apabila rakyat menginginkan terbebas dari ke"dzalim"an seorang "pemimpin", maka hendaklah mereka meninggalkan ke"dzalim"an.


(Inilah nasehat yang sangat bagus dari seorang ulama Robbani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, Darul ‘Aqidah)

Nabi SAW., bersabda, "Nanti setelah aku akan ada seorang "pemimpin" yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?" Beliau bersabda, "Dengarlah dan ta'at kepada "pemimpin"mu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta'at kepada mereka." (HR. Muslim no.1847)


Dari Ibnu 'Abbas, Nabi SAW., bersabda, "Barangsiapa melihat sesuatu pada "pemimpin"nya sesuatu yang tidak ia sukai, maka ber"sabar"lah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama'ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah. (mati dalam keadaan jelek dan bukan mati kafir)." (HR. Bukhari no.7054, dan Muslim no.1849)
 
Sumber:
1. rumaysho.com › Jalan Kebenaran
2. https://id-id.facebook.com/.../10151516606956213
6. laely.widjajati.facebook/#SinGGaSaNa.... (23082014)

Minggu, 08 Maret 2015

"KHARISMA"

"Kharisma" adalah sebuah aura khas yang dimiliki seseorang sejak lahir dan berkembang seiring bertambahnya ilmu dan pengalamannya yang membuatnya terlihat “berbeda” dari yang lain". 



"Kharisma" itu sendiri merupakan ciri khas unik seseorang, sehingga tidak bisa ditiru oleh orang lain. "Kharisma" adalah pengolahan diri seseorang dimana, orang tersebut terus menerus mengembangkan kelebihan dirinya, yang bisa memancar keluar membuat orang lain menjadi bisa merasakannya atau bisa menjadi penggemar (pengikut) yang fanatik untuk dirinya. Dan seperti Inner Beauty dimana inner beauty (kecantikan batin) bisa menjadi inner power (kekuatan'dalam') maka "Kharisma"pun demikian, orang akan merasakan jika berhadapan dengan seseorang yang mempunyai "Kharisma", energi postif memancar keluar memberi daya tarik pada orang yang berinteraksi."Kharisma", tidak bisa digembar-gemborkan oleh diri sendiri, dimana seseorang bisa bertepuk dada, menyatakan dirinya punya "Kharisma" atau punya inner beauty. Maka kesimpulannya "Kharisma" maupun Inner Beauty bisa dirasakan, bisa terlihat oleh orang lain bukan sebagai pengakuan oleh diri sendiri.

APA SIH "KHARISMA" ITU?

Individu yang "Kharisma"tik terlihat dari kemampuan mereka menarik perhatian dan meyakinkan orang lain. Dengan adanya gabungan karakteristik tersebut dengan kompetensi organisasional dan bisnis yang memadai akan membuat kebanyakan orang akan melihat dan berkata  “Wah, orang itu adalah pemimpin besar.”


Sebelum kita lanjutkan, mari kita bicara tentang definisi dari kata "Kharisma". Ada beberapa definisi yang bisa ditemukan:
  • “Kemampuan untuk mengembangkan atau memberi inspirasi komitmen ideologis pada orang lain.”
  • “Daya tarik pribadi yang memungkinkan untuk mempengaruhi orang lain.”
  • “Kata "Kharisma" (dari kata Yunani "Kharisma" atau artinya hadiah), sering digunakan dalam bentuk ini untuk menggambarkan kemampuan untuk pesona atau mempengaruhi orang.”
Tentu saja menginspirasi orang lain untuk bertindak positif merupakan faktor penting dalam keberhasilan dalam kepemimpinan, seperti halnya kemampuan untuk membantu orang lain berkomitmen untuk mengembangkan ide. Bahkan dengan memiliki ‘daya tarik pribadi’, terlihat baik, fasih berbicara dengan orang lain, dan keterampilan interpersonal yang baik selalu berguna bagi seorang pemimpin. Tapi ketika "Kharisma" menjadi pertimbangan utama dalam menentukan baik tidaknya seorang pemimpin maka bisa terjadi kekecewaan bagi pengikutnya. Pernahkah Anda sadari dari sudut pandang ini seorang Mahatma Gandhi dan Adolf Hitler sama "Kharisma"tiknya?

Istilah "Kharisma" adalah nilai yang netral: ia tidak membedakan antara baik/bermoral dan jahat/tak bermoral. "Kharisma" dapat mengakibatkan fanatisme buta dan megalomaniacs yang berbahaya, atau untuk menjadi pengorbanan diri heroik dalam pelayanan yang menguntungkan organisasinya.

MEMBANGUN
"KHARISMA" 


Seseorang yang mempunyai "Kharisma" bisa membuat seseorang menjadi idola, pemimpin yang dikagumi bahkan mempunyai pengikut yang ‘rela mati' untuknya seperti kita kenal beberapa tokoh dunia yang ber"Kharisma", dan banyak tokoh yang mempunyai "Kharisma" ternyata bukanlah seseorang yang mempunyai kedudukan atau harta berlimpah tapi seperti banyak diungkapkan dimana beberapa nama seperti Nabi Muhamad SAW, dan masih banyak tokoh lainnya dimana banyak cerita mengungkapkan bila mereka berceramah, bukan saja memukau manusia bahkan burung yang terbangpun akan hinggap dulu di dahan pohon untuk turut mendengarkannya.

Sebagai contoh yang hidup pada zaman ini yaitu ibu Theresa dari Calcuta, dimana seorang teman Victor Chandrawira yang kebetulan bisa hadir dalam kesempatan itu, bersaksi: pada saat Women World Summit di Beijing September 1996 dimana sejumlah ibu negara dan tokoh-tokoh wanita dunia berkumpul dengan beragam gemanya, di tengah kebisingan obrolan antar mereka mendadak suasana bisa sunyi hening tácala, seorang ibu tua dengan pakaian sederhana dan badan yang tua renta berjalan memasuki arena, yang ternyata ibu tersebut adalah Ibu Theresa yang begitu ber
"Kharisma" sehingga bisa membuat semua mulut terdiam, mata terbelalak padahal dia sosok tua yang sederhana.

Melihat penampilan wanita tua sederhana di tengah gemerlapnya pakaian dan anggunnya penampilan para ibu negara seluruh dunia, maka apanya yang membuatnya bisa membungkamkan mulut dan membelalakan mata orang banyak..? Tentu saja jawabannya adalah
"Kharisma"nya.! Beliau membangunnya dengan berbuat baik sepanjang hidupnya, dimana perbuatannya melebihi kebanyakan orang di dunia ini, dan mungkin sampai saat ini belum tergantikan sejak kematiannya."Kharisma" bisa dibangun, dipupuk dengan perbuatan baik yang terus menerus dan membuahkan sesuatu yang berguna untuk orang lain dan melakukannya dengan kesungguhan hati untuk mendapatkannya."Kharisma" sebuah perbuatan nurani dimana seseorang bisa menyeimbangkan dirinya, untuk berbuat dengan mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan ego diri, bisa memikirkan perasaan orang lain, bisa bekerja dengan kasih sayang tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang lain, bisa bekerjasama dengan baik dengan semua unsur tim kerja.


"Kharisma" tidak hanya dapat memberikan daya tarik pribadi tetapi juga dapat sebagai salah satu penunjang sukses berkarir. Ada beberapa kiat untuk membangun  "Kharisma" berikut ini dan praktekkan, serta lihat apa hasilnya pada diri Anda.
1. Menciptakan Daya Tarik Pribadi
2. Menunjukan Sikap Bersahabat
3. Hindari Sikap Menunduk
4. Jangan Lupakan Etika dan Sopan Santun
5. Jalin Kontak Mata Saat Bicara
6. Jangan Takut Untuk Dipuji
7. Jangan Takut jadi Pusat Perhatian  

Silahkan Anda coba, rasakan dan nikmati hasilnya. Selamat mencoba, semoga Anda berhasil menjadi orang yang ber"Kharisma".

Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/.../posts/465163740183716
2. aampuh.blogspot.com/.../arti-dari-kata-kharisma.html
3. www.bizresult.com/?mn=Refleksi&article_id=11
4. https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid...
5. laely.widjajati.facebook/Kondangan-(23082014)
6. laely.widjajati.facebook/Ketua-FKPI-Sidoarjo.....
7. laely.widjajati.facebook/Kok-di-blakang-q-bnyak-"ULAR"nya-ya???????????

Jumat, 06 Maret 2015

"GUYONAN / HUMOR DALAM ISLAM"

"Humor" atau "Guyonan" adalah salah satu hal yang dapat mengundang senyum dan tawa seseorang". 



Tidak dapat dipungkiri bahwa tersenyum dan tertawa merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup manusia.  Di sela-sela kesibukan dalam bekerja untuk mencari nafkah, "Humor" atau "Guyonan" menjadi warna penting untuk menghidupkan kembali suasana hati. Seorang yang "Humor"is pun lebih disenangi dari pada seorang yang dingin. "Humor" juga dapat memberikan banyak manfaat, antara lain:
  1. dapat mengurangi rasa sakit,

  2. dapat membuat hati menjadi rileks,

  3. dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,

  4. dapat mengurangi stres, dan

  5. dapat mengurangi rasa takut yang tidak perlu.
Di dalam ajaran "Islam" yang begitu komprehensif pun ada batasan-batasan seseorang untuk "Guyonan" yang apabila dipatuhi akan melahirkan "Humor"-"Humor" yang positif, manusiawi, tidak ada unsur menyakiti hati, dan tidak ada unsur dusta atau kebohongan. Batasan-batasan "Humor" di dalam "Islam",  antara lain:
  1. Tetap berada pada tujuan bahwa "Humor" sekedar untuk menghidupkan suasana dan tidak berlebihan, misalnya sampai harus menjatuhkan kehormatan orang lain

  2. Tidak boleh menjadikan tauhid, yang merupakan inti ajaran Islam, sebagai bahan "Guyonan".

  3. Tidak ada perkataan yang mengandung dusta (kebohongan) di saat "Guyonan" sebagaimana Rasullullah SAW bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

    Rasullullah SAW pun telah memberi ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad dengan derajat shahih)

  4. Tidak menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Rasullullah SAW. juga bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

  5. Tidak boleh  melecehkan sekelompok orang tertentu, misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini sangat dilarang.

  6. Menghindari "Guyonan" yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang "Guyonan" dengan temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk membuat orang lain tertawa.

  7. Menghindari "Guyonan" dengan aksi atau kata-kata yang buruk.  Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Isra’:53)

  8. Tidak banyak tertawa sebagaimana Rasulullah SAW telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)
"Dalam "Islam" sama sekali tidak ada larangan "Humor" dan cara "Guyonan".  Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok. Misalnya, memanggil nama seseorang dengan julukan cacat yang dimilikinya. Sebagai contoh, seorang yang kakinya mengalami kecacatan sejak lahir hingga jalannya agak terpincang-pincang, lalu kita panggil dengan Si Pincang. Meskipun panggilan itu benar, tapi bisa jadi olok-olok yang menyakitkan hati pemiliknya. Padahal, pastilah tidak ada orang yang ingin lahir dalam kondisi cacat.

Al Qur’an juga telah melarang dengan tegas sikap olok-olok ini seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat 11,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW. juga kadang "Guyonan". Suatu hari ada seorang nenek yang bertanya sama Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa aku bisa masuk surga?
Nabi Muhammad SAW menjawab, “Di surga tidak ada orang tua.
Mendengar jawaban itu, si nenek tentu saja terpukul dan sangat sedih. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama. Rasulullah SAW kembali berkata, “Di surga yang tinggal hanya mereka yang muda. Orang yang sudah tua di dunia akan kembali jadi muda saat berada di surga.

Para ahli hadits, menilai "Humor" Rasulullah SAW ini, selain melahirkan senyum, juga membawa kabar gembira. Terutama bagi kalangan lansia. Dimaksudkan agar para lansia terus meningkatkan keimanan dan amalnya kepada Allah SWT.

Di lain waktu, Rasulullah SAW juga bercanda atau "Guyonan" dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Beliau memanggil Anas dengan panggilan, “Wahai Pemilik Dua Telinga!

Tentu saja ini "Humor" yang benar dan tidak keluar jalur. Anas bin Malik pasti memiliki dua telinga, bukan empat telinga.

"Humor" dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.


Dalam literatur "Islam" masa lalu, cukup banyak tokoh-tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya "Humor". Namun "Humor" dan "Guyonan" mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani al Arabiy, dan Abu Nawas.

Para tokoh "Humor" ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pengajaran dan dakwah.
Sumber:
1. kanzunqalam.com/2010/08/02/humor-dalam-islam/
2. hiburan.kompasiana.com/humor/.../humor-ala-rasulull..
6.geena84.deviantart.com851×500Search by imageCute muslimah by geena84

"DILARANG PUTUS ASA"

"Putus-asa" adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang menganggap drinya telah gagal dalam menghasilkan sesuatu harapan cita-cita". 



Ia tidak mau kembali lagi untuk berusaha yang kedua kalinya. Semua umat manusia pasti merasakan "Putus-asa". Dan umat itu pastilah menjadi lemah dan lenyap kekuatannya karena "Putus-asa" merupakan penyakit atau racun yang benar-banar membahayakan bagi setiap pribadi manusia. 

Allah SWT. dalam salah satu firman-Nya, mempersamakan antara sifat "Putus-asa" itu dengan sifat kekafiran. Sebabnya tiada lain hanyalah karena bencana yang ditimbulkan oleh kedua macam sifat itu sama-sama besar dan dahsyat. Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: “janganlah kamu semua ber"Putus-asa" dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada yang suka ber"Putus-asa" dari rahmat Allah, melainkan golongan orang-orang kafir”. (QS. Yusuf:87)
 
Dalam Islam kita "dilarang putus asa" dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang ber"Putus-asa" dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS.Al Hijr: 56).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu ber"Putus-asa" dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Az Zumar: 53),

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi laranganNya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.


Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.
Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157).


Kita harus yakin bahwa di balik kesulitan yang menimpa kita, Insya'Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6).

”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Fath: 11).


Diantara sebab-sebab yang dapat menimbulkan ke"Putus-asa"an adalah:

1.  Mengingat-ingat musibah sampai tidak bisa melupakannya serta dan membayangkannya sampai tidak mampu menjauhkannya. Karena dengan mengingat-ngingat musibah tersebut, maka dia tidak akan menemukan penghiburnya, dan dengan membayang-bayangkannya, maka dia tidak akan mampu bersabar.

Umar bin Khaththab RA pernah mengatakan, “Janganlah kamu mencucurkan air mata karena mengingatnya.”

2. Penyesalan dan berduka cita yang berlebihan sehingga dia tidak mampu mengambil pelajaran dari musibah yang dideritanya dan tidak mampu mengganti sesuatu yang telah hilang. Dengan adanya penyesalan tersebut, maka penderitaannya akan semakin bertambah, dan dengan duka citanya tersebut akan menambah ke
"Putus-asa"annya.

Allah SWT berfirman, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 23).

Sebuah syair juga pernah mengatakan, “Jika kamu mendapat musibah, maka berpegang teguhlah kepada Allah dan meminta keridhaan-Nya. Karena Dzat yang dapat menghilangkan musibah tersebut hanyalah Allah. Jika Allah telah menetapkan ketentuannya, maka tunduklah kepada kekuasaan-Nya. Karena tidak akan ada seorang manusiapun yang dapat mensiasati apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ke
"Putus-asa"an itu akan memutuskan harapan pelakunya, maka janganlah kamu ber"Putus-asa", karena Allah-lah Dzat yang telah menciptakannya.

3. Banyak mengeluh dan tidak sabar. Sebagaimana hal ini telah disinyalir oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.” (QS. Al Ma’arij: 5) Yakni sabar yang tidak disertai dengan keluhan dan kesedihan yang mendalam.


Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah bersabda, “Tidak dianggap  sabar orang yang mendalam kesedihannya.”

Ka'ab Al Ahbar telah menceritakan bahwa dalam kitab Taurat tertulis, “Barang siapa yang ditimpa musibah, lalu mengadukannya kepada manusia, maka sama dengan mengeluh kepada Tuhannya.”


Usaha-usaha untuk tidak mudah terjerumus dalam sifat "Putus-asa", diantaranya:
a)  Terpelaharanya kekuatan iman pada diri seseorang.
b)  Meningkatan ketakwaan dan taqarrub kepada Allah SWT.
c)  Menjaga harkat dan martabat serta derajat kemanusiaan.
d)  Menjadi orang yang tabah dalam menjalani kehidupan.
e)  Menumbuhkan kesadaran untuk memicu diri dalam beramal shaleh.
f)  Meningkatkan kesadaran diri untuk mengabdi kepada Allah SWT.
 

Manusia memang seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang menyulitkan. Banyak diantara manusia yang bahkan tidak mampu menanggung beban dari permasalahannya sehingga melakukan perbuatan yang "dilarang" agama, seperti bunuh diri, lari dari masalah dengan bersenang-senang, mabuk-mabukan, mengkonsumsi minuman keras dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Semua itu adalah bentuk dari ke"Putus-asa"an seseorang terhadap ketentuan Allah SWT.

Segala permasalahan yang kita hadapi hendaknya kita hadapi dengan penuh lapang dada dan keikhlasan. Marilah kita kembalikan segala permasalahan kita kepada Allah SWT., dengan tawakal. Karena "Putus-asa" bukanlah sebuah solusi untuk menghadapi masalah akan tetapi merupakan sebuah kerugian bagi manusia dan bentuk ketidak berdayaan seorang. Padahal Allah senantiasa memberi kesempatan bagi mahlukNya untuk merubah keadaan yang ada pada dirinya, dan Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambaNya.
 
Sumber:
1. https://www.facebook.com/permalink.php?id...
2. gudepmtsnegerimodelpurwokerto.blogspot.com/.../put...
3. www.republika.co.id › ... › Jejak Islam
4. masjidgabugan.blogspot.com320 × 320Search by image
5. aryginanjar.com733 × 350Search by image
6. ayahalif.blogspot.com400 × 300Search by image
7. www.republikapenerbit.com230 × 350Search by image
8. dewaruci2.wordpress.com720 × 538Search by image


MusicPlaylistView Profile