Selasa, 13 Desember 2011

"Salat Witir"

"Salat witir" adalah sunah yang wajib, tidak pantas ditinggal dalam hal apa pun dan dikerjakan malam hari sesudah "salat" Isya. Disebut "witir" karena ganjil."


Diantara "salat" sunah sebelum "witir" adalah dua sampai dua belas rakaat, kemudian "salat witir", karena Rasulullah melakukannya berdasar hadits sahih. Waktu "salat witir" sesudah "salat" Isya sampai sebelum akhir malam lebih utama dari awal malam, kecuali bagi yang takut tidak bisa bangun. Sebagaimana dijelaskan Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah bersabda:

"Siapa diantara kamu mengira tidak bisa bangun pada akhir malam, hendaklah ia "witir" pada awal malam. Dan siapa diantaramu mengira akan bisa bangun pada akhir malam, maka "salat" pada akhir malam. Sebab "salat" pada akhir malam dihadiri (malaikat) dan itu yang paling utama."

Bila seseorang tidur dan tidak bangu sebelum subuh, hendaklah "witir" diqadai sebelum "salat" subuh. Sebagaimana Hadits Riwayat Abu Daud (hadits sahih), Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang tidak "witir" karena ketiduran atau lupa, hendaklah ia "salat witir", tatkala dia ingat."

Hadits Riwayat Hakim (Hadits sahih), Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila salah seorang diantaramu bangun subuh dan belum "witir", maka hendaklah ia "salat witir" (diqadai)."

Hadits Riwayat Abu Daud dan Nasa'i, swanad hasan;

Disunahkan pada dua rakat pertama membaca Surat Al-A'la dan Al-Kafirun. Dan pada rakaat "witir" membaca Surat Al-Ikhlas dan Muawazatain (Al-Falaq dan An-Nas) sesudah baca Fatihah.

Makruh melakukan beberapa kali "salat witir" dalam satu malam, sebagaimana Hadits Riwayat Tirmidzi, hadits hasan, Rasulullah bersabda:

"Tak ada dua "witir" dalam satu malam."

Siapa yang melakukan "salat witir" pada awal malam, kemudian dia bangun dan ingin "salat" sunah, maka "salat"lah dan tidak perlu "salat witir" lagi.

(Sumber: Pedoman Hidup Muslim, Oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi).

Sabtu, 10 Desember 2011

"Obat Penolak Sihir"

"Sihir" adalah jimat-jimat, mantera-mantera dan bundelan-bundelan yang dapat berpengaruh pada jiwa dan badan seseorang, ada yang dapat menyakitkan, memporak-porandakan kehidupan suami istri dan mematikan nyawa seseorang."


Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 102:
"Dan mereka mengikut apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada zaman kerajaan Sulaiman, sedang Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setnlah yang kafir. Mereka mengajarkan "sihir" kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; dan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sehingga keduanya berkata, "Sesungguhnya kami hanya (membawa) fitnah (cobaan), sebab itu janganlah engkau ingkar." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu (tentang "sihir") yang dengannya mereka menceraikan seorang (suami) dari istrinya. Dan mereka tidak memberi mudarat kepada seorangpun dngan "sihir"nya, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari apa yang memudaratkan mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukar (menggunakan) "sihir", tiadalah baginya bagian (kebaikan) di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya (dengan "sihir") kalau mereka mengetahui".

"Sihir" itu memang benar adanya. Karena itu Allah memerintahkan kepada kita semua agar berlindung diri kepada-Nya dari "sihir" itu. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Falaq:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
1. Katakanlah "Aku berlindung kepada Tuhan (yang menguasai) cuaca subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap,
4. dan dari kejahatan tukang-tukang "sihir" yang meniup pada ikatan,
5. dan dari kejahatan pendengki apabila dia dengki".

"Sihir" itu termasuk perkara pengrusak yang dapat membinasakan orang yang mengerjakannya di dunia dan menyebabkan siksa (adzab) di akhirat kelak.

Maka dari itu berarti kita harus berupaya untuk menghindari bahaya yang akan mengancam kita terhadap, misalnya "sihir" itu. Sebab "sihir" adalah merupakan penyakit ghaib (yang tidak bisa dilihat dengan mata), maka peng"obat"annya pun harus menggunakan resep Ilahiyah, sebagai berikut:

1. Membaca Surat Al-Falaq;
2. Membaca Surat Yunus ayat ke 81;
3. Membaca Surat Al-Anbiya' ayat ke 70;
4. Dilanjutkan membaca Surat Al-Furqan ayat ke 23;
5. Dilanjutkan membaca Surat Al-Mu'min ayat ke 78;
6. Dilanjutkan membaca Surat An-Nur ayat ke 39;
7. Dilanjutkan membaca Surat Al-A'raf ayat 118 dan 119;
8. Dan yang terakhir/sebagai pamungkas, membaca Hauqalah, yaitu Laa haula walaa quwwata illaa bil laahil 'aliyyil 'adhiim.

Sebagai perbendaharaan ilmu pengetahuan, maka akan kami kemukakan bentuk dan macam-macam "sihir", antara lain sebagai berikut:

1. 'IYAFAH.
Caranya dengan memasukkan burung ke dalam sangkar, kemudian dibentak. Hal ini dikerjakan pada zaman jahiliyyah. Kalau terbangnya ke atas, ke samping kanan atau ke depan, berarti orang yang niat mengerjakan sesuatu itu alamat akan menemui keberhasilan, karenanya maka niat itu dapat dilaksanakan. Kalau terbangnya  turun, ke kiri atau ke belakang, maka niatnya itu digagalkan. Dan kemana saja arah burung terbang di dalam sangkar itu.

2. THIYARAH (menentukan nasib dengan suara).
Yaitu berprasangka jelek terhadap suara yang timbul dari burung tertentu dan arah terbangnya.

3. ATH-THARQU (ramalan dengan garis).
Caranya dengan menggarisi tanah atau memukul-mukul pasir, atau memukul dengan batu kecil-kecil (kerikil). Apakah batu-batu kecil itu dapat menjawab atau berbicara? Itulah menunjukkan kebodohan mereka.

4. AT-TANJIM (perbintangan, astrologi).
Caranya dengan mengambil petunjuk dari situasi falak sebagai pedoman atau atas kejadian di bumi. Dan ilmu nujum (astrologi) untuk mengetahui berita-berita ghaib, itulah kebatilan yang dilarang.

5. Tukang-tukang "sihir" apabila hendak menyihir, mereka membundeli benang dan meniupi tiap-tiap bundel sehingga berbentuk "sihir" yang mereka harapkan.

6. NAMIMAH.
Ialah orang yang berusaha mengadu domba di antara manusia, berarti dia mengerjakan "sihir", karena dia dapat mengubah dan menggoncangkan hati mereka dan dia dapat merusak hubungan di antara mereka.

7. BAYAN susunan kata yang indah), yang dapat memutar-balikkan yang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi benar.

(Sumber: Ilmu Mujarobat, Oleh Labib MZ dan Maftuh Ahnan). 

"Salat Gerhana Matahari (Kusuf) dan Salat Gerhana Bulan (Khusuf)"

"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan" keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Kedua "gerhana" terjadi bukan karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Jika kamu melihat kedua "gerhana" itu maka "salat"lah." (Sabda Rasulullah SAW. menurut HR. Bukhari)

"Salat gerhana" hukumnya adalah sunah muakad bagi laki-laki dan perempuan.

Pada waktu terjadi "gerhana matahari" dan "gerhana bulan" disunahkan untuk memperbanyak zikir, takbir, istighfar, do'a, sedekah, berbuat kebaikan dan menghubungkan silaturahmi. Hal ini sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. dalam HR. Bukhari: 
"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan", keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Keduanya terjadi bukan karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Jika kamu melihat "gerhana", maka berdo'alah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah dan lakukan "salat gerhana".

Cara melaksanakan "Salat Gerhana Matahari", sebagaimana dijelaskan dalam HR. Muslim: 
Aisyah berkata: Telah terjadi "gerhana matahari" di masa Rasulullah hidup. Maka Nabi pun keluar rumah dan masuk majjid, lalu berdiri dan takbir, sedan di belakangnya orang berdiri dalam saf. Rasulullah membaca bacaan yang panjang. Kemudian takbir lalu ruku' yang lama namun lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mengucapkan samiallahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd. Kemudian berdiri lagi, lalu membaca bacaan yang lebih pendek dari bacaan pertama, lalu takbir dan ruku' dan lebih singkat dari ruku' pertama. Kemudian bangkit sambil mengucap amiallahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd, kemudian sujud. Setelah itu melakukan rakaat kedua, sama seperti pada rakaat pertama, hingga sempurnalah empat kali ruku' dan empat kali sujud, dan "matahari"pun terang kembali. Kemudian beliau berdiri, lalu berkhutbah di hadapan mereka, dimulai dengan memuji Allah, kemudian bersabda:
"Sesungguhnya "matahari" dan "bulan", keduanya menjadi bukti Kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Bila kamu melihatnya, maka kerjakanlah "salat".

"Salat gerhana bulan" tidak ada perbedaan dengan "salat gerhana matahari".
HR. Muslim menjelaskan, bahwa Rasulullah bersabda: "Jika kamu melihat "gerhana bulan", maka bangkitlah untuk "salat".

Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa "salat gerhana bulan" seperti "salat"-"salat" sunah lainnya. Yaitu dilakukan di rumah, sendiri-sendiri atau di masjid-masjid, tapi tidak berjama'ah, karena Rasulullah telah memberi contoh seperti pada "salat gerhana matahari".
Namun siapa menghendaki, boleh "salat" berjamaah atau sendirian, karena yang diminta adalah melaksanakan "salat" dan berdo'a.

(Sumber: Pedoman Hidup Muslim, Oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi).

Jumat, 09 Desember 2011

"Istri Pangeran Diponegoro"

"Pangeran Diponegoro", konon katanya  pernah menikahi 8 orang wanita."


Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah menjadi "istri" "Pangeran Diponegoro"


1. "Istri" Pertama: Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta.  

2. "Istri"  Kedua: Pernikahan Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang.  

3. "Istri" Ketiga: Pernikahan Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu "Pangeran Diponegoro" masih berada di Tegalrejo.  

4. "Istri" Keempat: Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 "Pangeran Diponegoro" melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, putri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu istri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun. Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat "Pangeran Diponegoro". Oleh "Pangeran Diponegoro" bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama Singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.

5. "Istri" Kelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika "Pangeran Diponegoro" dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828.  

6. "Istri" Keenam: Pada bulan Januari 1828 "Pangeran Diponegoro" menikahi R.A. Retnaningrum, putri "Pangeran" Penengah atau Dipawiyana II.  

7. "Istri" Ketujuh, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, Bupati Jipang Kepadhangan, dan  

8. "Istri" Kedelapan, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


"Pangeran Diponegoro" adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. "Pangeran Diponegoro" bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.




Dalam perjuangannya, "Pangeran Diponegoro" dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda.

Setidaknya "Pangeran Diponegoro" mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup  tersebar di  Indonesia, termasuk  Jawa, Sulawesi  &  Maluku.

Referensi:
1. Sejarah Singkat  "Pangeran Diponegoro", Tugas Kewarganegaraan, Oleh: Zulkarnaen  A.(0 8/2 72 79 8/TK/3 45 95).
2.  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
3. RA. Mangkarawati - Keturunan (Inventaris). 

Minggu, 04 Desember 2011

"Kedzaliman di Dunia dan Akhirat"

"Orang yang "dzalim" sangat rugi di "dunia" dan di "akhirat". Adapun kerugian di "dunia" bahwa Allah SWT mengharamkan dirinya dari nikmat hidayah."


Allah SWT berfirman: "Allah tidak akan memberi hidayah pada orang-orang yang "dzalim".

Dengan demikian, Allah mengharamkan kenikmatan yang paling agung dalam alam semesta ini kepada orang yang "dzalim". Bahkan Allah SWT menunda penyiksaan kepada orang-orang"dzalim".
Rasulullah SAW bersabda: "Allah akan menyiksa orang-orang yang "dzalim".

Allah SWT berfirman dalam Surat Hud ayat 102: "Dan begitulah adzab Tuhanmu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat "dzalim", sesungguhnya adzabNya sangat pedih lagi kasar."

Allah mengabulkan do'a yang di"dzalim"i, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Takutlah dengan do'a yang ter"dzalim"i, karena ia dibawa oleh awan, Allah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku Aku akan menolong walau beberapa saat."

Rasulullah SAW bersabda: "Takutlah dengan do'a orang yang ter"dzalim"i, walaupun kafir, karena tidak ada yang menghalangi do'anya."

Dari Abdullah bin Salam, ketika Allah menciptakan makhluk, mereka sama sejajar, mereka mengangkat kepalanya ke langit. Mereka berkata, "Ya Tuhan, bersama siapa Engkau?" Dia menjawab, "Bersama orang yang ter"dzalim"i sampai haknya dikembalikan."

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat, oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).

Sabtu, 03 Desember 2011

"Hari Yang Mempunyai Kelebihan"

"Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:


'Jibril AS mendatangiku sedang di tangannya ada empedu yang berwarna putih, namun di dalamnya ada titik yang berwarna hitam. Kemudian aku bertanya, 'Apakah itu wahai Jibril?' ia menjawab, 'Ini adalah "hari" Jum'at yang dijadikan Allah sebagai "hari" raya bagimu dan umatmu. Engkau adalah yang pertama kali datang, setelah itu orang-orang Yahudi dan Nashrani yang datang kemudian.' Aku berkata, 'Apa yang berlaku bagi kami di sana?' Jibril menjawab. 'Bagi kalian di sana ada kebaikan, ada waktu yang apabila berdo'a tentang kebaikan, maka akan dikabulkan oleh Allah, tidak ada sunpah yang tidak ditepati, dan tidak ada permohonan perlindungan dari kejahatan yang tidak dikabulkan dari Allah.'

Aku berkata, 'Apakah titik hitam yang ada di sana?' Jibril menjawab, 'Itu adalah "hari" yang paling mulia bagi kami, dan kami berdo'a kepada Allah SWT di akhirat pada "hari" yang mempunyai "kelebihan".'

Aku katakan, 'Kenapa engkau berdo'a kepada-Nya pada "hari" yang mempunyai "kelebihan"?' Dia berkata, 'Sesungguhnya Allah membuat danau di surga yang luas berisi minyak wangi, berwarna putih. Setiap "hari" Jum'at, Allah turun dari Illiyyin di atas singgasana yang penuh dengan pancaran cahaya. Kemudian datanglah para nabi yang duduk di atas kursi yang terbuat dari emas. Kemudian datanglah orang-orang yang shiddiq (benar), syuhada dan ahli surga lainnya yang diangkat derajatnya oleh Allah, sehingga dapat melihat wajah-Nya.

Allah SWT berfirman kepada mereka, 'Aku yang memenuhi janji kepada kalian dan menyempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, maka mintalah kepada-Ku. 'Kemudian meminta ridha kepada Allah. Dia berfirman, 'Ridha dari-Ku telah Aku berikan kepada kalian dan Aku halalkan bagi kalian surga dan karamah, maka mintalah kepada-Ku. Kemudian mereka meminta apa saja sampai habis keinginan mereka. Kemudian dibukakan bagi mereka sesuatu yang kenikmatannya tidak bisa dibayangkan oleh mata, hidung, dan hati seseorang, sampai kemudian mereka meninggalkan tempat itu pada "hari" Jum'at. Kemudian Allah bergegas meninggalkan singgasana, yang kemudian disusul para syuhada dan orang-orang yang shidiq. Beliau berkata, 'Mereka kemudian kembali ke kamar masing-masing, rumah yang putih, yang tidak akan rapuh dan tidak akan roboh, yang bertahtakan yakut merah (rubi) dan batu mulia yang berwarna hijau. Kamar-kamar dan pintu-pintu tersebut menghubungkan mereka langsung ke sungai dan buah-buahan. Di dalamnya sudah disiapkan istri-istri (suami-suami) dan pembantu-pembantu yang tidak membutuhkan apa dari mereka sampai "hari" Jum'at, agar bertambah karamah dan kenikmatan memandang wajah Allah, oleh karena itu ia disebut dengan "hari" yang mempunyai "kelebihan".'
(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat, oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).

"Hari-hari Raya Kaum Mukminin di Surga"

"Hari-hari raya" kaum mukminin di "surga" adalah "Hari-hari" saat mereka ziarah kepada Tuhan mereka."


Allah memuliakan mereka dengan kemuliaan yang besar, Allah mengangkat derajat mereka dan mereka pun dapat melihat Allah. Tidak ada yang lebih mereka sukai melebihi karunia tersebut. Ini adalah kelebihan kebaikan sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya dalam Surat Yunus ayat 26:
"Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ia akan mendapatkan pahala yang terbaik ("surga") dan tambahannya."

Tidak ada "hari" besar yang sangat disenangi melebihi kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Setiap tahun kaum muslimin me"raya"kan "hari raya", demikian juga ketika mereka di "surga". Mereka berkumpul untuk berziarah kepada Tuhan mereka. Mereka mempunyai derajat yang tinggi di sisi-Nya, di "hari" Jum'at orang-orang ahli "surga" menyebutnya sebagai "hari" yang mempunyai kelebihan, pada "hari raya" Idul Fitri dan Idul Adha, ahli "surga" dikumpulkan untuk berziarah kepada Allah.

Diriwayatkan bahwa di "hari" itu kaum perempuan dan laki-laki dikumpulkan bersama-sama seperti saat merayakan Idul Fitri dan Idul Adha ketika di dunia. Ini belaku untuk ahli "surga" secara umum. Sedangkan bagi orang-orang yang istimewa di antara mereka, setiap "hari" mereka mempunyai "hari raya", mereka berziarah kepada Allah SWT setiap "hari" dua kali; pagi dan sore.

Al-Hasan RA berkata: "Orang-orang yang tidak melakukan maksiat kepada Allah, setiap "hari" bagi mereka seperti "hari raya". Sedangkan orang-orang yang selalu taat kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, dan bersyukur, maka setiap "hari" bagi mereka adalah "hari raya". (Ibnu Rajab Al-Hambali, Lathaif Al-Maarif (551-552).

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat, oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).


MusicPlaylistView Profile