Selasa, 21 Juni 2011

"DAUN DALAM AL-QUR'AN"

"...setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan "daun"-"daun" surga..." ("Al-Qur'an", Surat Al-'Araf (7), Ayat 22)."

Keduanya hijau "daun"-"daun"nya. ("Al-Qur'an", Surat Ar-Rahmaan (55), Ayat 64). 

maka Dia menjadikan mereka seperti "daun"-"daun" yang dimakan (ulat). ("Al-Qur'an", Surat Al-Fiil (105), Ayat 5)

Sabtu, 18 Juni 2011

"JAGALAH BUMI INI !"

"Kita tidak mewarisi "bumi" ini dari orang tua kita, tetapi kita meminjamnya dari anak-anak kita.(Pepatah Indian Kuno). Maka dari itu jagalah "bumi" ini demi anak-anak kita kelak."


"Bumi" adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 miliar tahun. Jarak antara "Bumi" dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (Inggris: astronomical unit). "Bumi" mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan "Bumi" dari angin matahari, sinar ultraviolet dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti "bumi" hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer dan Eksosfer.

Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi "bumi" dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan "bumi" adalah antara -70 °C hingga 55 °C bergantung pada iklim setempat. Sehari dibagi menjadi 24 jam dan setahun di "bumi" sama dengan 365,2425 hari. "Bumi" mempunyai massa seberat 59.760 miliar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi. Berat jenis "Bumi" (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis "Bumi" dipatok sebagai 1.

"Bumi" mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi "Bumi" diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan gravitasi "Bumi" dipatok sebagai 1. "Bumi" mempunyai 1 satelit alami yaitu Bulan. 70,8% permukaan "bumi" diliputi air. Udara "Bumi" terdiri dari 78% nitrogen, 21% oksigen dan 1% uap air, karbondioksida dan gas lain.

"Bumi" diperkirakan tersusun atas inti dalam "bumi" yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500 °C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi "bumi" dan akhirnya sekali diselimuti oleh kerak "bumi" setebal kurang lebih 85 kilometer.

Kerak "bumi" lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer. Kerak "bumi" terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa "bumi".

Titik tertinggi di permukaan "bumi" adalah gunung Everest setinggi 8.848 meter dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Baikal dengan kedalaman 1.637 meter, sedangkan danau terbesar adalah Laut Kaspia dengan luas 394.299 km2. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

"BUMI" DALAM AL-QUR'AN.

"(Dia-lah) yang menjadikan untuk kamu "bumi" sebagai hamparan dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air hujan dari langit lalu Dia hasilkan dengan (air) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sedangkan kamu mengetahui." (Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah, Ayat 22).

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di "bumi" untuk kamu dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu disempurnakan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, Al-Baqarah(2): 29) 

Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer

"Bumi" memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah keberadaan atmosfir, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk hidup. Adalah fakta yang kini telah diterima bahwa atmosfir terdiri dari lapisan-lapisan berbeda yang tersusun secara berlapis, satu di atas yang lain. Persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an, atmosfir terdiri dari tujuh lapisan. Ini pastilah salah satu keajaiban Al Qur’an.  (Sumber: Keajaiban Al-Qur'an).

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di "bumi" supaya "bumi" itu tidak mengguncangmu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Nahl [16]:15)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami menjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat "bumi" itu datar, serta Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Qs. Al-Kahf [18]: 47);

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (Qs. Thaha [20]:105);

“Langit yang tujuh, "bumi", dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Isra [17]:44)

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di "bumi" supaya "bumi" itu tidak mengguncangmu.” (Qs. Al-Nahl [16]:15)
 “Dan Kami telah jadikan di "bumi" ini gunung-gunung yang kokoh supaya "bumi" itu (tidak) mengguncang mereka.” (Qs. Al-Anbiya [21]:31)

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan "bumi" itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya?. ….” ( Q.S. Al-Anbiya’ : 30 )

Ayat ini menceritakan tentang gejala Ledakan Besar atau Teori Big Bang. Bayangkan apa yang kita baru ketahui sekarang, Alquran telah mengatakannya 1400 tahun yang lalu.

Alqur’an juga mengatakan dalam Surat Fussilat(41) ayat 11 :

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap(dukhon), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada "bumi": "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".(Al-Qur'an, Fussilat(41) ; 11)

Perhatikan Surat Az-zumar(39) ayat 5, Allah SWT berfirman :

Dia menciptakan langit dan "bumi" dengan (perbandingan) yang benar; Dia menggulung(melewat-kawwara) malam keatas siang dan menggulung(melewati) siang keatas malam …”.(Al-Qur'an .Surat. Az-Zumar : 5 )

Lebih lanjut Dalam Alqur’an Surat An-Naaziat ayat 30 Allah berfirman :

“Dan sesudah itu "bumi" itu berbentuk telur[dhahaha].” (Al-Qur'an.Surat. An-Naziat : 30 )

Kata Arab “dahaha berasal dari kata “duhya” yang berarti berbentuk telur, dan itu tidak mengacu pada semua telur , itu mengacu secara spesifik adalah “telur burung unta”. Dan sekarang kita ketahui bahwa "Bumi" tidak Bundar seperti Bola tapi "bumi" berbentuk geosferical. Dan jika dianalisa , Telur Burung Unta berbentuk “Geosferikal” yaitu sedikit menyempit dari puncaknya dan menonjol dari pusatnya. Jadi Alquran menggambarkan bentuk tepat dari "bumi" yaitu Geosferical 1400 tahun yang lalu.

"MENGERTI"

"Mengerti" akan orang lain adalah kebijakan, "mengerti" diri sendiri adalah pencerahan." (Lao Tzu).

"PERSAHABATAN - KEPERCAYAAN - KEJUJURAN"

"Tidak akan ada "persahabatan" tanpa "kepercayaan", dan tdak ada "kepercayaan" tanpa ada "kejujuran". Samuel Johnson).

Hatiku akan menjadi kompas yang "jujur", yang selalu mengarah padamu. (Dari kartu ucapan abad 19).

Kelemahan-kelemahan yang diungkapkan dengan "jujur" dan dorongan yang diberikan dengan penuh kasih dapat memperkuat perkawinan.

Cinta adalah "persahabatan" yang dijadikan api. (Jeremy Taylor).

Jangan "percaya" pada tidak pernah.

"Percaya"lah yang terbaik tentang orang lain dan jika anda salah dalam hal ini -- anda hanya membuat kesalahan di sisi kasih.

Tidak ada yang lebih penting dari pada "kepercayaan" diri dan citra diri yang tegas.

Komunikasi adalah melihat ke dalam mata orang seorang dengan tujuan menjalin "persahabatan".

Diriku yang kulihat adalah diriku kelak. Jika aku tidak dapat melihatnya, aku tidak pernah menjadi itu. Hingga aku mem"percaya"inya, aku tidak akan pernah mencapainya !

Lihatlah pada pengalaman dan pendidikan anda dan "percaya"lah bahwa anda apat memperoleh keahlian baru.

Orang yang "percaya" diri berani untuk rendah hati, karena kerendahan hati menuntut agar kita mau mengakui bahwa kita tidak mengetahui semua jawaban dan bahwa beberapa jawaban kita adalah salah.

Lihatlah pada kesalahan dan kelemahan anda dan "percaya"lah bahwa anda akan memperbaiki diri anda sendiri.

Orang yang sukses adalah pemimpi yang "percaya" akan mimpi-mimpinya.

Nun jauh disana, dalam cahaya mentari adalah aspirasiku yang tertinggi. Mungkin aku tak mampu meraihnya tetapi aku bisa memandang dan mengagumi keindahannya, "percaya" dan mencoba mengikuti ke arah mana akan menuju. (Louisa May Alcott).

Aku selalu "percaya" bahwa seseorang yang memiliki sedikit kemampuan, sedikit nyali dan keinginan untuk mengembangkan dirinya, pasti akan meraih keberhasilan. (Willie Shoemaker).

Ia yang "percaya" akan menjadi kuat, sedangkan ia yang ragu akan menjadi lemah. Keyakinan yang kuat akan melahirkan tindakan-tindakan hebat. (J.F. Clarke).

Aku berhasil karena kau "percaya" padaku. (Ulyses S.Grant kepada Abraham Lincoln).

Ada kejeniusan dalam keteguhan hati yang akan mengalahkan semua tantangan, memberikan rasa "percaya" diri, dan mengatasi semua rintangan. Orang "percaya" pada mereka yang memiliki ketetapan hati. Orang tahu bahwa saat mereka melakukan sesuatu, setengah pertempuran telah dimenangkan, karena peran mereka sebenarnya adalah untuk menyelesaikan apa pun yang mereka putuskan untuk lakukan. (Orison Swett Marden).

Satu hal penting untuk mencapai kesuksesan adalah "kepercayaan" diri. Hal penting untuk "kepercayaan" diri adalah persiapan yang mantap. (Arthur Ashe).

Iman adalah mem"percaya"i apa yang tidak anda lihat; Upah untuk iman ini adalah melihat apa yang anda "percaya"i. (Saint Augustine).

Akal anda akan berfungsi selama anda bekerja. Dengan kata lain, bersikaplah seolah-olah anda banyak akal. Jika anda mengikuti cara-cara orang yang "percaya" diri, rang akan menempatkan anda dalam kategori mereka. (David Seabury).

Anda harus "percaya" diri. Dan anda harus menjangkau jauh ke dalam jiwa anda, merasakan bahwa and dapat mengerjakan pekerjaan yang telah anda putuskan untuk anda kerjakan. (Eilliam Castle Devries).

Saya sukses karena anda "percaya" kepada saya. (Ulysses S. Grant).

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang "percaya". (Markus 9:23).

Prestasi sempurna tak mungkin dicapai kecualioleh mereka yang berani "percaya" bahwa sesuatu di dalam dirinya lebih unggul dibandingkan dengan keadaan. (Bruce Barton).

Agar sukses, kita harus terlebih dulu "percaya" bahwa kita bisa sukses. (Michael Korda).

Tak ada yang lebih mudah dari pada menipu diri sendiri. Karena. apa yang diharapkan setiap orang, itulah juga yang di"percaya"i sebagai kebenaran. (Demosthenes).

Sudah lama sekali saya sadari bahwa keyakinan yang tidak muncul dari suatu ke"percaya"an kepada emosi bkanlah keyakinan sama sekali. (Evelyn Scott).

Untuk capai kesempurnaan, kita harusnya tidak hanya bertindak, tetapi juga bermimpi. tidak hanya berencana, tetapi juga yakin ("percaya"). (Antole Framce).

Selasa, 14 Juni 2011

"INDIKATOR KESEJAHTERAAN NELAYAN"

"Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (Ditjen P3K) menyebutkan, bahwa "indikator kesejahteraan nelayan" yang terangkum dalam Nilai Tukar "Nelayan" masih dapat dipertahankan sebagai salah satu referensi dasar yang amat berharga untuk merumuskan kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan."


Dalam mempertajam analisis dan kebijakan pemberdayaan masyarakat "nelayan", indikator Nilai Tukar "Nelayan" masih perlu disandingkan dan dilengkapi dengan data dasar dan "indikator" kemiskinan "nelayan" di daerah pesisir dan kawasan pantai di Indonesia.

Hasil studi Pengukuran "Indikator Kesejahteraan" yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan mengenai "indikator kesejahteraan nelayan" adalah sebagai berikut:

a. Tingkat Kesehatan.
Derajat kesehatan yang ditunjukkan dengan "indikator" persalinan oleh tenaga medis. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat bahwa persalinan yang dibantu oleh tenaga medis lebih aman jika dibandingkan dengan non medis. Disamping itu, juga ditinjau dari tempat dan cara berobat, ketergantungan penduduk yang masih kepada pelayanan Puskesmas atau pelayanan dari dokter praktek dan Rumah Sakit Pemerintah.

b. Pendidikan.
Dalam hal pendidikan, ialah prosentase penduduk yang tidak melanjutkan sekolah.

c. Tenaga Kerja.
Basis lapangan usaha penduduk di suatu kota/kabupaten.

d. Moralitas dan Fertilitas.
Salah satu ukuran indeks kualitas sumber daya manusia ialah dengan menghitung jumlah bayi yang lahir meninggal per 1.000 kelahiran, tetapi rupanya data statistik yang seperti ini tidak selalu tersedia. Sebagai alternatifnya adalah menggunakan ukuran jumlah anak yang meninggal atau jumlah anak yang hidup.

e. Perumahan.
"Indikator" kemakmuran dari variabel perumahan ditinjau dari luas dan jenis bangunan yang dimiliki masyarakat.

f. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga.
Rumah tangga yang hidup di bawah batas kemiskinan dengan golongan pengeluaran di bawah Rp.100.000,- per kapita per bulan di kota/kabupaten atau di bawah Rp.80.000,- per kapita per bulan.

Minggu, 12 Juni 2011

"KONSEPSI NELAYAN DAN KEMISKINAN"

"Nelayan" adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air."

Dari status penguasaan kapital, "Nelayan" dapat dibagi menjadi "Nelayan" tradisional dan "Nelayan" buruh. "Nelayan" tradisional secara umum merupakan kelompok sosial yang paling terpuruk kesejahteraannya, sementara kondisi ini sangat dekat dengan tekanan ekonomi, pendapatan yang tidak menentu sehingga menyebabkan rendahnya perolehan rumah tangga dari aktivitas sebagai "Nelayan". Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor baik positif maupun negatif.

Faktor-faktor yang paling mendasar sebagai indikator dari "kemiskinan" "Nelayan", adalah:

a. Keterbatasan modal untuk mengembangkan usaha.
Hal ini disebabkanoleh tanggung keluarga yang tinggi. Selain biaya kehidupan "Nelayan" yang banyak, hal ini diperburuk lagi dengan jumlah anak yang mereka miliki. Selain itu sumber pendapatan diperoleh dari satu orang. Keadaan ini dimungkinkan oleh usia anak yang relatif masih kecil ataupun tidak adanya keinginan dari anggota keluarga lainnya menjadi "Nelayan". Keterbatasan modal dalam mengembangkan usahanya disebabkan tidak dimilikinya akses ke pelayanan kredit. Selain kurangnya informasi mengenai pengajuan kredit juga disebabkan ketidakmampuan "Nelayan" dalam memenuhi persyaratan dan ketentuan yang diajukan oleh pihak pemberi kredit.

b. Tingkat pendidikan rendah.
Tingkat pendidikan sumber daya manusia yang rendah merupakan salah satu permasalahan yang juga dapat menyebabkan nilai tambah mengapa "Nelayan" "miskin". Biaya pendidikan yang tinggi, lokasi sekolah yang jauh dari tempat tinggal merupakan alasan bagi "Nelayan" untuk memilih tidak bersekolah. Selain itu "Nelayan" merasa tidak memerlukan pendidikan formal karena sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan di laut.


Pendapatan "Nelayan" produsen sebagai pelaku utama sudah selayaknya jika barang yang sulit didapat dan besar permintaan maka harganya tinggi. Konsekwensinya produsen akan memiliki pendapatan yang tinggi dan penghidupan yang sejahtera. Namun fakta menunjukkan bahwa "Nelayan" termasuk kelompok "miskin" di semua negara. Bahkan atribut bagi mereka adalah ter"miskin" dari yang "miskin" (the poorest of the poor). "Kemiskinan" itu terjadi karena nilai tukar "Nelayan" yang rendah yang disebabkan komoditas yang mereka hasilkan dibayar murah. Menurut Pomeroy dan Williams, bahwa keberhasilan manajemen sumber daya perikanan lebih bergantung pada keterlibatan atau partisipasi pemegang kepentingan (stakeholder). Jika "Nelayan" adalah salah satu pemegang kepentingan tersebut, biarkanlah "Nelayan" memutuskan sendiri keinginan dan tujuannya. Jika keinginannya untuk meningkatkan pendapatan, hal tersebut harus ditempatkan sebagai salah satu tujuan pengelolaan sumber daya perikanan.

Faktor-faktor yang menyebabkan pendapatan "Nelayan" rendah antara lain adalah unit penangkapan yang terbatas yang disebabkan penguasaan teknologi yang rendah, skala usaha/modak yang dimiliki kecil dan masih bersifat tradisional, kemampuan "Nelayan" dalam memanfaatkan peluang usaha dan mengatasi tantangan lingkungan yang rendah disebabkan masyarakat yang masih bergantung pada musim penangkapan, dalam penentuan fishing ground "Nelayan" yang mempunyai ijin untuk melakukan operasi di tempat tersebut akan memperoleh hasil yang banyak, tetapi bagi "Nelayan" yang tidak memiliki akses ke lokasi yang produktif tersebut selain hasil tangkapan yang tidak maksimal juga biaya operasi yang tinggi. Eksternalitas  teknologi terjadi karena "Nelayan" cenderung melakukan penangkapan ikan pada lokasi yang sama atau setidaknya saling berdekatan satu dengan yang lain sehingga terjadi pertemuan antara alat tangkap ikan yang digunakan yang menjurus pada kerusakan atau perusakan.
Faktor lainnya adalah law enforcement yang tidak berpihak kepada "Nelayan", diantaranya terjadinya ego sektoral, regulasi yang tidak mendukung, terbatasnya peran kelembagaan baik pemerintah maupun non pemerintah, penetapan bahan baku (ikan) yang kurang adil, belum ditetapkannya undang-undang anti monopoli, pembagian keuntungan yang tidak proporsional dan kebijakan ekonomi secara mikro yang lebih banyak memberikan kerugian di pihak "Nelayan" dibandingkan memberikan keuntungan.

Namun apabila kita melihat pada pemenuhan sarana dan prasarana, ternyata aspek ini tidak memberikan kontribusi yang berarti. Terjadinya overfished pada suatu perairan yang menyebabkan rendahnya nilai produksi disebabkan oleh b erkurangnya stok ikan, karena pada saat "Nelayan" mengambil ikan dari laut tanpa memperhitungkan akibat pengambilan ikan tersebut menyebabkan "Nelayan" lain mengalami kerugian karena berkurangnya ikan, di lain pihak masih banyak "Nelayan" yang menggunakan alat tangkap yang tidak selektif, terjadinya open acses di perairan tersebut, adanya usaha penambahan terhadap unit penangkapan serta terjadinya eksploitasi ekonomi yang melebihi carrying capacity. Dalam perhitungan ekonomi peningkatan biaya penangkapan ikan karena mengecilnya stok ikan di laut tidak hanya berpengaruh pada "Nelayan" yang menangkap ikan, tetapi juga "Nelayan" tidak menyadari adanya biaya marjinal akibat aktivitas penangkapan ikan yang dilakukannya, "Nelayan" secara keseluruhan cenderung menempatkan terlalu banyak modal atau kapital pada perikanan. Hal ini berarti eksternalitas cenderung mengarah pada eksploitasi sumber daya.

Faktor lain yang menyebabkan pendapatan"Nelayan" rendah adalah harga jual ikan yang juga rendah. Penetapan harga dasar ikan, "Nelayan" atau pengusaha perikanan memiliki insentif untuk berusaha. Respon "Nelayan" terhadap tingginya nilai jual ikan dapat meningkatkan upaya penangkapan atau melakukan investasi tambahan untuk memperbesar armada kapal atau unit penangkapan. Sebaliknya jika harga ikan terus melemah dan tidak ada kebijakan pemerintah untuk mencegah ataupun berupaya agar harga tersebut tetap dapat memberikan keuntungan kepada "Nelayan" ataupun pengusaha perikanan, maka hal ini akan mengakibatkan menurunnya minat "Nelayan" ataupun pengusaha ikan untuk melakukan pengembangan usahanya.

Menurut Puma, salah satu permasalahan mendasar bagi pembangunan kelautan dan perikanan, khususnya yang bergerak dalam skala mikro dan kecil adalah sulitnya akses permodalan dari lembaga keuangan/perbankan formal. Akibatnya "Nelayan" seringkali terjerat oleh renteneer yang menawarkan pinjaman dengan cepat dan mudah namun diimbangi dengan tingkat bunga yang tinggi. Keterbatasan modal ini diperburuk dengan sistem penjualan yang cenderung dimonopoli oleh para tengkulak. Akibatnya "Nelayan" tidak memiliki bargaining power yang memadai sehingga pendapatan yang diperoleh habis untuk bayar hutang dan makan. Lingkaran "kemiskinan" ini selalu berputar dan menyebabkan di sektor kelautan dan perikanan lekat dengan "kemiskinan".

Peran lembaga perbankan dalam penyaluran kredit komersial untuk membantu pengembangan usaha kecil dan menengah tidak efektif. Hal ini disebabkan kecenderungan bank-bank umum mendanai sektor-sektor usaha yang bergerak dalam bidang industri pengolahan hasil laut serta pedagang besar hasil laut yang belum menyentuh pada "Nelayan" secara individu. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Prudential Banking serta persyaratan pada pemberian kredit yang ditetapkan oleh otoritas moneter yang memberikan batasan gerak bagi perbankan umum untuk dapat menjangkau masyarakat "miskin" khususnya masyarakat "miskin" yang ada di daerah pesisir. Keterbatasan yang selama ini cukup dominan dalam pemberian kredit kepada masyarakat/pelaku ekonomi di daerah pesisir adalah penyedia jaminan yang merupakan syarat pemberian kredit oleh bank umum. Fasilitas kredit yang diberikan untuk membantu kelancaran usaha lebih dikenal dengan kredit produktif, yaitu kredit yang diberikan perbankan guna membantu para pengusaha untuk memperlancar dan meningkatkan kegiatan usahanya yang terdiri dari kredit investasi dan kredit modal kerja. 
Perilaku ekonomi rumah tangga "Nelayan", beberapa alasan yang menjadikan perilaku ekonomi "Nelayan" yang buruk adalah budaya boros, dimana pendapatan hari ini dihabiskan pada hari yang sama pula, tidak ada kesadaran untuk memiliki tabungan, dan pola konsumsi yang cenderung tidak teratur.

Tidak ada alternatif livehood, dengan segala bentuk keterbatasannya sehingga "Nelayan" tidak mampu memiliki mata pencaharian lain, keterbatasan tersebut antara lain tidak memiliki keahlian lain selain menjadi "Nelayan", terbatasnya peluang kerja bagi mereka dan kemampuan melihat peluang kerja yang rendah.


Menurut Kusnadi, sebab-sebab pokok yang menimbulkan "kemiskinan"  "Nelayan":
a. Belum adanya kebijakan dan aplikasi pembangunan kawasan pesisir dan masyarakat "Nelayan" yang terintegrasi atau terpadu di antara para pelaku pembangunan.

b. Rendahnya konsistensi kuantitas produksi (hasil tangkap) sehingga aktivitas sosial ekonomi perikanan di desa-desa "Nelayan" berlangsung terus.

c, Masalah isolasi geografis desa "Nelayan", sehingga menyulitkan keluar masuk barang, jasa, kapital dan manusia. Berimplikasi melambatkan dinamika sosial, ekonomi dan budaya masyarakat "Nelayan".

d. Keterbatasan modal usaha atau investasi sehingga menyulitkan "Nelayan" meningkatkan kegiatan ekonomi perikanannya.

e. Adanya relasi sosial ekonomi eksploitatif dengan pemilik perahu dan pedagang perantara (tengkulak) dalam kehidupan masyarakat "Nelayan".

f. Rendahnya tingkat pendapatan rumah tangga "Nelayan", berdampak sulitnya peningkatan skala usaha dan perbaikan kualitas hidup.

g. Kesejahteraan sosial "Nelayan" yang rendah sehingga mempengaruhi mobilitas sosial mereka.

h. Lemah karsa (Prof Herman Soewardi).

Para pakar ekonomi sumber daya melihat "kemiskinan" masyarakat pesisir, khususnya "Nelayan" lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial ekonomi yang terkait karakteristik sumber daya serta teknologi yang digunakan. Faktor-faktor yang dimaksud membuat "Nelayan" tetap dalam "kemiskinan"nya.

Menurut Smith dan Anderson, bahwa kekakuan aset perikanan (fixity and rigidity of fishing assets) adalah alasan utama mengapa "Nelayan" tetap tinggal atau bergelut dengan "kemiskinan" dan sepertinya tidak ada upaya mereka untuk keluar dari "kemiskinan" itu. Kekauan aset tersebut adalah karena sifat aset perikanan yang begitu rupa sehingga sulit untuk dilikuidasi atau diubah bentuk dan fungsinya untuk digunakan bagi kepentingan lain. Akibatnya pada saat produktivitas aset tersebut rendah, "Nelayan" tidak mampu untuk mengalih fungsikan atau melikuidasi aset tersebut. Karena itu, meskipun rendah produktivitas, "Nelayan" tetap melakukan operasi penangkapan ikan yang sesungguhnya tidak lagi efisien secara ekonomis.

Argumen lain, yaitu menurut Subade dan Abdullah, bahwa "Nelayan" tetap tinggal pada industri perikanan karena rendahnya opportunity cost "Nelayan". Opportunity cost "Nelayan", menurut definisi adalah kemungkinan atau alternatif kegiatan atau usaha ekonomi lain yang terbaik yang dapat diperoleh selain menangkap ikan. Dengan kata lain, opportunity cost adalah kemungkinan lain yang bisa dikerjakan "Nelayan" bila saja mereka tidak menangkap ikan. Bila opportunity cost rendah maka "Nelayan" cenderung tetap melaksanakan usahanya meskipun usaha tersebut tidak lagi menguntungkan dan efisien.

Ada juga argumen yang mengatakan bahwa opportunity cost "Nelayan". khususnya di negara berkembang, sangat kecil dan cenderung mendekati nihil. Bila demikian maka "Nelayan" tidak punya pilihan lain sebagai mata pencahariannya. Dengan demikian apa yang terjadi, "Nelayan" tetap bekerja sebagai "Nelayan" karena hanya itu yang bisa dikerjakan.

Menurut Panayotou, bahwa "Nelayan" tetap mau tinggal dalam "kemiskinan" karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular way of life). Pendapat ini dikalimatkan oleh Subade dan Abdullah dengan menekankan bahwa "Nelayan" lebih senang memiliki kepuasan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan da bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan. Karena way of life yang demikian maka apapun yang terjadi dengan keadaannya, hal tersebut tidak dianggap sebagai masalahbaginya. Way of life sangat sukar diubah. Karena itu maka meskipun menurut pandangan orang lain "Nelayan" hidup dalam "kemiskinan", bagi "Nelayan" itu bukan "kemiskinan" dan bisa saja mereka merasa bahagia dengan kehidupan itu.

Sabtu, 11 Juni 2011

"PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT"

"Pemberdayaan "masyarakat" memberikan kepercayaan lebih kepada "masyarakat" seluas-luasnya untuk dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional, mempercepat kemajuan desa dalam menghadapi persaingan global di berbagai bidang dengan menggunakan "teknologi tepat guna".


Hal tersebut sesuai dengan Instruksi Presiden RI No 3 Tahun 2001 tentang Penerapan dan Pengembangan "Teknologi Tepat Guna".

Tujuan pengembangan suatu "teknologi" pada dasarnya adalah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan, baik yang telah nyata, ataupun yang dirasakan dan diinginkan adanya, dan bahkan yang diantisipasi akan diinginkan. Suatu upaya pengembangan "teknologi" yang efektif, pertama-tama harus didasarkan pada permintaan pasar, baik yang telah nyata ada atau yang mulai tampak dirasakan adanya. Prasyarat tersebut memang perlu, namun belum cukup. Kemampuan itu harus dilengkapi dengan kemampuan menterjemahkan perkembangan kebutuhan pasar tersebut dengan kemampuan untuk menggagas spektrum "teknologi" bagaimana yang dapat menanggapi kebutuhan yang diamati tersebut.

Istilah ke"tepat"-"guna"an merupakan istilah yang samar-samar pengertiannya, kalau tidak diikuti dengan pernyataan ke"tepat"-"guna"an terhadap apa. Yang terakhir ini sangat kontekstual, tergantung dari lingkungan "masyarakat" tempat "teknologi" tersebut akan di"guna"kan.
"Teknologi Tepat Guna" adalah "teknologi" yang cocok dengan kebutuhan "masyarakat" sehingga dapat dimanfaatkan pada saat rentang waktu tertentu. Biasanya dipakai sebagai istilah untuk "teknologi" yang terkait dengan budaya lokal. "Teknologi Tepat Guna" sebagai salah satu jalur penting untuk mencapai tujuan yang mendasar, yakni meninkatkan kesejahteraan "masyarakat". Mayoritas "masyarakat" Indonesia dengan keanekaragaman ilmu pengetahuan dan "teknologi" (iptek) dapat diposisikan, tidak hanya sebaga pendukung, tapi juga sebagai pionir perambah jalan menuju terwujudnya "masyarakat" sejahtera berkeadilan bagi semua lapisan "masyarakat" di Indonesia yang berada di bebagai penjuru tanah air dengan tingkat kemampuan penguasaan "teknologi" dan ekonomi yang terbatas. "Teknologi Tepat Guna" berarti "teknologi" yang sesuai dengan kondisi budaya, dan kondisi ekonomi serta peng"guna"annya harus ramah lingkungan. 

Program Pemerintah menyebutkan bahwa pemberdayaan "masyarakat" miskin merupakan jalan untuk mengentaskan "masyarakat" miskin dan diarahkan melalui dua jalur, yaitu penurunan berbagai biaya hidup yang harus dipikul oleh keluarga miskin dan peningkatan kemampuan "masyarakat" dalam meningkatkan kehidupan keluarga dan keduanya harus terlaksana secara seiring. Sedangkan tujuan pemberdayaan "masyarakat" miskin yang menggunakan "Teknologi Tepat Guna", adalah:

a. Mempercepat pemulihan ekonomi, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan usaha ekonomi produktif "masyarakat", memperluas lapangan kerja, lapangan usaha, meningkatkan produktivitas dan mutu produksi.

b. Menunjang pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab menuju keunggulan kompetitif dalam persaingan lokal, regional dan global.

c. Mendorong tumbuhnya inovasi di bidang "teknologi".

 Sasaran yang ingin dicapai adalah:

a. Meningkatkan taraf hidup "masyarakat" di daerah perbatasan dengan pendidikan, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta "Teknologi Tepat Guna" yang sesuai dengan daerah perbatasan sehingga mempunyai dampak penting bagi kedaulatan NKRI.

b. Pemberdayaan "Masyarakat" meng"guna"kan "Teknologi Tepat Guna" merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi "masyarakat" di sekitar perbatasan dan peningkaan kawasan perbatasan itu sendiri.

c. Meningkatkan lembaga/institusi yang secara fungsional menangani pemberdayaan "masyarakat" serta inovasi "Teknologi Tepat Guna" sehingga mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan, baik skala regional maupun nasional.


MusicPlaylistView Profile