Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2015

"SAHABAT MENURUT ISLAM"

"Dalam menjalin hubungan per"Sahabat"an dengan orang lain, manusia harus menjunjung tinggi prinsip simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan)." 



Dan hubungan yang semata-mata hanya untuk memperoleh ridha Allah SWT. Bukan hanya untuk tujuan tetentu yang hanya menguntungkan diri sendiri. Karena bila demikian, ikatan tersebut tidak akan kekal. Per"Sahabat"an itu akan hilang seiring tergapainya tujuan yang diinginkannya. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya siapa saja yang senang kepadamu karena adanya keinginan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.
 
"Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah "Sahabat"-"Sahabat" mu’minmu, karena mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat”.
 
Makna "Sahabat" menurut Rasulullah SAW:
“Sebaik baik "Sahabat" di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (Hadis riwayat al-Hakim)

Dari Nu’man bin Basyir r.a., Rasulullah SAW bersabda,
“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Hadis riwayat Muslim)

Imam syafi’i berkata
“Jika engkau punya teman  yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”


Lalu bagaimana kriteria "Sahabat" yang baik tersebut? Para ulama menjelaskan tentang "Sahabat" yang baik adalah seperti ini :

Lukman alhakim menasihati anaknya:
1. Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yang baik dan tulus..
2. Perumpamaan teman yang baik seperti “pohon” jika kau duduk di bawahnya dia dpt menaungimu, jika kau mengambil buahnya dapat kau makan..
Jika ia tak bermanfaat untuk mu ia juga tak akan membahayakan-mu..

Ulama lain mengatakan :
1. Seorang
"Sahabat" adalah orang yang tidak ingin dirimu menderita, akan terus memberimu semangat ketika engkau sedang terpuruk.
2. Tidak ikut mencaci ketika orang lain mencacimu

Menurut Imam al-Ghazali ada dua belas kriteria"Sahabat" :
1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
2. Jika engkau merapatkan ikatan per
"Sahabat"an dengannya, maka ia akan membalas balik per"Sahabat"anmu itu.
3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
5. Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu.
12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.


Dalam "Islam", faktor memilih "Sahabat" amat dititik-beratkan. Hubungan per"Sahabat"an adalah hubungan yang sangat mulia, kerana teman atau "Sahabat" berperanan dalam membentuk personaliti individu. Ada teman yang sanggup bersusah-payah dan berkongsi duka bersama kita, dan tidak kurang juga teman yang nampak muka semasa senang dan hanya sanggup berkongsi kegembiraan saja.

Terdapat ayat yang mengisyaratkan mengenai peranan dan pengaruh teman, antaranya firman-Nya yang artinya:
“Wahai orang yang beriman! Bertakwalah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang bersifat benar.” (QS. at-Taubah, ayat 119)

Pendek kata "Sahabat" dapat menentukan corak hidup kita. Justeru, jika salah pilih "Sahabat" kita akan merana dan menerima akibatnya. Sesuai dengan hadits Rasululah SAW. yang artinya:
“Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh karena itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud).

Hadits al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari, yang artinya:
“Diumpamakan teman yang soleh dan teman yang jahat ialah seperti (berteman) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama juga anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.”

Dalam memilih "Sahabat" kita hendaklah memilih "Sahabat" yang baik agar segala matlamat dan hasrat untuk memperjuangkan "Islam" dapat dilaksanakan bersama-sama "Sahabat" yang mulia.


Sebagai remaja yang terlepas dari pandangan ayah ibu berhati-hatilah jika memilih "Sahabat". Karena "Sahabat", kita bahagia tetapi "Sahabat" juga dapat menjerumuskan kita. Setelah kita dewasa, kita juga perlu berhati-hati memilih "Sahabat" karena kita tidak mau "Sahabat"-"Sahabat" yang melalaikan kita terhadap Maha Pencipta. "Sahabat" yang baik membantu kita ke arah pencapaian matlamat, yaitu kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. 

Dalam kitab al-Hikam disebutkan, “Jangan berteman dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal perbuatannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” 

Dalam satu hadits yang artinya: “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, kerana itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).”

Sufyan Astsaury berkata, “Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasalah seperti mereka pula.”

Hati-hatilah atau tinggalkan saja "Sahabat" seperti di bawah:
1. "Sahabat" yang tamak: ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.
2.
"Sahabat" yang hipokrit: ia menyatakan ber"Sahabat" berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.
3.
"Sahabat" pengampu: Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.
4.
"Sahabat" pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta, suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,
“Sejahat-jahat teman ialah yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau meminta maaf atau selalu mencari alasan.”

Kemungkinan engkau berbuat kekeliruan (dosa), maka ditampakkan kepadamu segala kebaikan, oleh karena per"Sahabat"anmu kepada orang yang jauh lebih rendah akhlak (iman) daripadamu.

Dalam sebuah hadits ada keterangan : “Seorang itu akan mengikuti pendirian "Sahabat" karibnya, kerana itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dijadikan kawan.”

Menurut ahli syair pula : “Barang siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang rendah akhlaknya, pasti tidak mulia.”

Ber"Sahabat" dengan yang lebih rendah budi dan imannya sangat berbahaya, sebab per"Sahabat"an itu saling pengaruh-mempengaruhi, percaya-mempercayai sehingga dengan demikian sukar sekali untuk dapat melihat dan memperbaiki kesalahan "Sahabat" yang kita sayangi, bahkan kesetiaan "Sahabat" akan membela kita dalam kesalahan dosa kekeliruan itu, yang dengan itu kita pasti akan binasa karenanya.

Hati-hatilah memilih "Sahabat", karena "Sahabat" dapat menjadi cermin peribadi seseorang. Apa pun ber"Sahabat"lah kerana Allah SWT untuk mencari ridha-Nya.

Sumber:
1. najahijab.tumblr.com/.../ciri-ciri-sahabat-sejati-dalam-i...
2. https://www.facebook.com/.../posts/38044317873996..
3. https://www.islampos.com/pentingnya-seorang-sahaba...
8. laely.widjajati.facebook/Ketua FKPI Sidoarjo.....

"ANAK LAKI-LAKI MENURUT ISLAM"

"Kebetulan "anak" saya "laki-laki", sehingga saya ingin menulis bagaimana "Anak Laki-laki" menurut "Islam"


Dari beberapa Hadits dapat kita ambil pelajaran bagaimana kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari terhadap "anak laki-laki" kita.

"Seorang "laki-laki" datang kepada Rasulullah SAW., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku pergauli dengan sebaik-baiknya?” Sabdanya. “Ibumu”, lalu ia bertanya, “Kemudian siapa?” Sabdanya, “Ibumu,” Kemudian bertanya “Siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu.” Kemudian ia bertanya, “Lalu siapa?” Sabdanya, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara khusus atau dengan sangat istimewa "Islam" menekankan hak ibu kepada "anak laki-laki" kandungnya. Mengapa terhadap "anak" perempuan kandungnya tidak? Karena "anak" perempuan dilepas setelah diperistri seseorang. Sedangkan "anak laki-laki" tidak bisa lepas, walaupun ia sudah beristri.

Jadi pengabdian "anak laki-laki" kepada ibu kandungnya tidak putus. Tetapi pengabdian "anak" perempuan putus dan beralih kepada suaminya. Karena itu, "anak laki-laki" lebih terikat kepada ibunya. Sementara "anak" perempuan terlepas ikatan pengabdiannya kepada ibunya sendiri. Jadi, beruntunglah "anak"-"anak" perempuan karena beban mereka tidak seberat beban "anak laki-laki".

"Laki-laki" wajib membelanjai istri dan "anak"nya dan wajib terus memperhatikan nasib ibu kandungnya. "Anak laki-laki" yang dewasa, lalu menikah, ibunya lebih berkuasa terhadap dirinya dari pada istrinya. Kalau si ibu jahat, maka celakalah rumah tangga "anak laki-laki" kandungnya. Karena ibu lebih berhak kapada "anak laki-laki" kandungnya, maka "anak laki-laki" harus berusaha menjaga perasaan ibunya.

Demikianlah Rasulullah SAW menempatkan kedudukan seorang ibu terhadap "anak laki-laki" kandungnya. Maka, bagi remaja putri yang paling enak adalah cepat menjadi ibu, kelak punya hak istimewa kepada "anak laki-laki"nya. Jadi, lebih baik bagi para "anak" putri segera menikah.

Sebelum menikah, seorang "anak", baik "laki-laki" maupun perempuan mempunyai kewajiban yang besar kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya. Bila seorang "anak laki-laki" yang telah menikah, maka kewajiban berbakti kepada ibu ini tidak hilang, jadi suami adalah hak ibunda.

Bagaimana dengan "anak" perempuan yang telah menikah? Nah, bagi "anak" perempuan yang telah menikah, maka haknya suami. Jadi istri berkewajiban berbakti pada suami. Karena setelah Ijab kabul, berpindahlah hak dan kewajiban seorang ayah kepada suami dari "anak" wanitanya. Begitu besar kewajiban berbakti pada suami, sampai Rasulullah pernah bersabda, “Bila boleh sesama manusia mengabdi (menyembah), maka aku akan menyuruh seorang istri mengabdi pada suaminya.”

Yang lebih dekat kepada ibu-bapak itu siapa? Kakak tertua, sesudah itu adik, sesudah itu paman, sesudah itu bibi, sesudah itu keponakan ("anak"-"anak" dari saudara kita), dan begitulah jenjang seterusnya. Kalu ibu masih hidup, maka orang pertama yang harus kita utamakan adalah ibu. Selesai urusan ibu, barulah urusan ayah. Kalau kita punya saudara lalu ia minta tolong, maka ia kita tolong sesudah selesai urusan orang tua kita. Begitulah urutan penanganannya yang benar menurut "Islam". Kalau datang keponakan dan saudara sepupu, mana yang didahulukan? Keponakan yang didahulukan. Demikianlah jenjang kita menolong keluarga kita. Kalau begitu, kapan kita menolong orang lain? Ya, sesudah selesai kita menangani keperluan keluarga kita sendiri.

Karena itu, janganlah orang lain diberi, tetapi pamannya melarat dibiarkan. Maka haruslah diperhatikan betul-betul pertalian kerabat itu. Yang dimaksud dengan ibu-bapak dalam hadits Nabi SAW adalah ibu-bapak ke atas. Kalau ada nenek, maka nenek lebih berhak dari saudara tua. Kalau ada bapak dan nenek, maka dahulukan bapak kita. Kerena dalam pembagian warisan nenek tertutup apabila masih ada ayah. Karena itu kita harus betul-betul tahu mana yang dinamakan dzawil arham dan mana yang dinamakan ahli waris ‘ashabul supaya kita bisa mempraktikan petunjuk agama dalam berbuat baik kepada kerabat atau keluarga. Seandainya terjadi status permohonan bantuan sama, yaitu lima orang paman dari pihak ayah atau ibu, maka mereka ini memperoleh perlakuan sama. Apa sebab? Karena secara hukum "islam", paman dari pihak ayah berkedudukan sama kuat.

Hadits di atas menerangkan bahwa hak seorang ibu terhadap
"anak laki-laki"nya tidak pernah putus, sekalipun ibunya itu meninggal atau "anak laki-laki" itu meninggal. Bagaimana kalau kebutuhan istri dan kebutuhan ibu bersamaan waktunya? Bila kepentingan makan dan minum istri sudah terpenuhi, lalu istri punya keperluan lain yang tidak pokok, maka yang wajib didahulukan adalah kepentingan ibu. Demikianlah hak ibu kepada "anak laki-laki" kandungnya. Jadi istri harus menyadari bahwa kepentingan ibu kandung suaminya adalah kepentingan yang hampir mutlak kepada kepada si "anak". Karena suami masih punya kewajiban kepada ibunya. Kalau istri tidak menyadari aturan "islam" seperti ini, maka si suami dan istri bisa ribut. Istri yang paham agama, ketika melihat suaminya begitu taat kepada ibu kandungnya, ia berkata, “wah, saya bersyukur kepada Allah karena suami saya tahu beragama, sehingga paling tidak saya turut masuk surga. Karena kamu berbakti kepada ibumu dan saya pun meridhai perbuatanmu itu. Mudah-mudahan amal baikmu dapat menyinari hatiku sehingga aku menjadi hamba Allah yang shalih.”

Apakah di depan pengadilan "islam" ada jaminan bagi ibu menuntut "anak"nya jika tidak dipedulikan kepentingannya? Bisa! Karena ibu mempunyai tiga hak derajat. Ibu dapat menuntut dan datang ke pengadilan.

Ibu : “Pak hakim, saya mengajukan perkara, "anak laki-laki" saya mengabaikan kepentingan saya.”

Hakim : “ada apa dengan "anak"mu?”
Ibu : “Saya butuh uang Rp. 10.000 tetapi tidak mau memberi.”

Hakim dapat memanggil si "anak" dan memerintahkan kepadanya untuk memberi uang tersebut kepada ibunya. Karena itu, para istri harus menyadari kedudukan ibu yang istimewa seperti itu di hadapan "anak laki-laki" kandungnya. Inilah karunia Allah kepada kaum Ibu. Jadi kalau di dalam negara "islam" seorang ibu diperlakukan kurang wajar atau diabaikan kepentingannya oleh kepentingan istri "anak laki-laki"nya, maka si ibu berhak menuntut ke pengadilan.

Dalam sejarah "islam" terdapat kisah Alqamah. Dia sakit keras, lalu datanglah sahabat-sahabat kepada Rasulullah SAW. mengadu. “Ya Rasulullah, Alqamah sudah menderita sakaratul maut beberapa hari, tetapi tiada kunjung datang mautnya!” Lalu para sahabat ditanya oleh Rasulullah. “Mengapa dia begitu? Apakah dia masih punya Ibu?” Jawab para sahabat, “Masih punya ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah bertanya lagi “Dimana Ibunya?” para sahabat menjawab, “Ibunya di rumahnya, ya Rasulullah!” Kemudian ibunya didatangi oleh Rasulullah dan berkatalah Rasulullah kepadanya, “Bu, "anak" ibu sakit keras. Apakah ibu sudah mendengar?” Jawab ibu Alqamah, “Ya, saya sudah dengar.” Kemudian di depan Rasulullah Ibu itu marah, "anak" itu memang tak tau diuntung!” Rasulullah bertanya kepada ibunya, “Apakah sebenarnya yang terjadi?” jawab ibu Alqamah, “Saya pernah datang ke rumahnya, tetapi dia lebih mendengarkan panggilan istrinya dari pada panggilan saya. Karena itu, saya pulang dan saya tidak mau lagi melihat"anak"  itu. Saya tidak ridha kepada "anak" itu!” Rasulullah terkejut, lalu berkata, “Bagaimana bu, kalau Alqamah itu saya bakar, supaya dapat mati?” Mendengar Rasulullah berniat membakar "anak"nya, maka sang ibu spontan menjerit seraya berkata, “Tidak, Ya Rasulullah! Kalau begitu saya akan datang memberi maaf kepada "anak" saya itu.” Ketika ibunya mau datang untuk memaafkan Alqamah, beberapa detik kemudian Alqamah meninggal dunia. Sampai sejauh itulah siksa Allah kepada "anak" yang tidak diridhai ibunya.

Rasulullah mengingatkan para "anak" dengan sabdanya:
“Ada dua perbuatan dosa yang siksanya dipercepat di dunia ini yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada Ibu-Bapak.” (HR. Bukhari dan Tirmizi)

Maksudnya orang-orang yang berani durhaka kepada ibu-bapaknya, Allah akan turunkan siksanya di dunia ini, tidak perlu menanti di alam kubur. Apakah turun menjelang sakaratul maut, atau hidupnya tidak beres, atau kalau punya "anak", lalu "anak"nya rusak semua. Kerena itu "anak laki-laki" perlu memperhatikan hak ibu. Coba pikirkan dengan baik! Waktu kita kecil ibu tidak punya uang, kita minta mainan. Ibu hutang pada tetangga untuk membelikan mainan. Sekarang kita sudah dewasa, sudah bekerja, ibu kita yang sudah tua datang kepada kita di saat kitak tidak punya uang.

-“Nak, saya ini sakit. Bawalah ibu ke dokter!”
+”Bu, saya tidak punya uang!”

Jangan menjawab seperti itu kepada ibu. Kalau dulu ibu berhutang untuk membelikan mainan kita, tetapi sekarang kita berlaku seperti itu, apakah patut? Tidakkah kita merasa berdosa menolak permintaan seorang ibu untuk berobat? Sikap dan jawaban seperti itu sungguh-sungguh perbuatan durhaka kepada seorang ibu.

Kepada para istri, kalau punya suami yang masih mempunyai ibu kandung, doronglah suami untuk lebih berbakti kepada ibunya. Perbuatan semacam ini sudah merupakan perbuatan yang mendapatkan pahala dan suami juga mendapatkan pahala. Jadi jangan sampai suami berbakti, lantas sang istri menghalangi. Umpamanya ibu datang ke rumah kita minta uang Rp. 200.000, sedang di rumah tidak ada uang, lalu kita hutang untuk diberikan kepada ibu. Sang istri kemudian berkomentar “Kamu ini bagaimana tho mas? Saya minta tidak diberi, tetapi ibumu kamu beri!”. Menghadapi istri seperti itu, suami harus tegas dan berani berkata bahwa ibu kandungnya lebih berhak dari pada istrinya. Itulah sebabnya dalam mencari istri disarankan mencari wanita yang tahu agama supaya tidak terjadi malapetaka.

Dan itulah enaknya menjadi seorang ibu. Berhasil menjadi ibu berarti menjadi ratu yang tak bisa diganggu gugat kekuasaanya. Tangannya tuding sana, tuding sini kepada "anak"-"anak laki-laki"nya, kemudian si "anak laki-laki" harus taat. Karena itu para perempuan jangan merasa rendah diri. Justru menjadi perempuan harus berbangga karena kekuasaanya semakin hari semakin besar kalau kelak berhasil menjadi ibu dengan dikelilingi "anak"-"anak"nya yang "laki-laki"

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran tentang ibu yang lebih berhak terhadap "anak laki-laki"nya. Hal ini dikuatkan oleh hadits Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Aisyah r.a. berkata:

“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad SAW., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas "laki-laki"?” Jawabnya, “Ibunya.”

Demikian juga yang diriwayatkan Al-Hakim dan Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita yang bertanya:

“Ya Rasulallah, sesungguhnya "anak laki-laki"ku ini, perutku pernah menjadi tempatnya, air susuku pernah menjadi minumannya, pangkuanku pernah menjadi pelipurnya. Dan sesungguhnya ayahnya menceraikanku, dan hendak mencabutnya dariku.” Rasulullah SAW.. bersabda, “Kamu lebih berhak dari pada ayahnya, selama kamu belum menikah.”

Maksudnya menikah dengan lelaki lain, bukan ayahnya, maka wanita itu yang meneruskan pengasuhannya, karena ialah yang lebih spesifik dengan "anak"nya, lebih berhak baginya karena kekhususannya ketika hamil, melahirkan dan menyusui.

Sumber: 
1.MuhammadThalib,2007,ManajemenKeluargaSakinah,Pro-UMedia,hal 238-243.
2. https://www.facebook.com/indarto.../4274237306861...
3. https://www.islampos.com/hak-seorang-ibu-terhadap-a...
4. laely.widjajati.facebook/Add-a-description-With-Banda-Go-Trilyuner.
5. laely.widjajati.facebook/Add-a-description
6. laely.widjajati.facebook/Add-a-description-With-Banda-Go-Trilyuner.
7. laely.widjajati.facebook/Add-a-description-With-Banda-Go-Trilyuner.
8. laely.widjajati.facebook/Add-a-description-With-Banda-Go-Trilyuner.
9. laely.widjajati.facebook/Nyantai-dg-Anak-Lanang-(02022014) 

Senin, 28 Oktober 2013

"RUMAH LAYAK ANAK"

"Setiap "Anak" punya hak yang harus dipenuhi orang dewasa di sekelilingnya".


Terutama oleh anggota keluarga di "rumah", dalam hal ini orangtua. Agar hak "Anak" terpenuhi, orangtua perlu menyediakan "rumah" yang "layak Anak".

Inilah pesan penting yang telah disampaikan kepada para orangtua lewat perayaan Hari "Anak" Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2013. Memeringati HAN 2013, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan "Anak" memprakarsai rangkaian kegiatan bertema "Indonesia yang Ramah dan Peduli
"Anak" Dimulai dari Keluarga" yang berujung pada puncak acara HAN 2013 berlangsung di Gedung SMESCO Jakarta, Selasa (23/7/2013).

Ida Suseno Wulan MM, Deputi Menteri PUG Bidang Politik, Sosial dan Hukum Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
"Anak" memaparkan tema besar yang diangkat dalam perayaan HAN 2013, demi terpenuhinya hak "Anak".

"Selama ini
"Anak" yang diberi tanggung jawab, dengan berbagai tugas termasuk sekolah. Harusnya orang dewasa mendukung "Anak" karena "Anak" bebannya sudah banyak. Terpenuhinya hak "Anak" bergantung pada perlindungan dari keluarga dengan orang dewasa yang harus aktif," jelas Ida saat jumpa pers dukungan Lifebuoy terhadap peringatan Hari "Anak" Nasional di KidZania Jakarta, Senin (22/7/2013).

Ida melanjutkan dengan orang dewasa yang aktif memenuhi hak
"Anak", setiap "Anak" akan tumbuh menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Salah satu parameter hak
"Anak" terpenuhi adalah tersedianya "Rumah Layak Anak". Lantas, seperti apa kriteria "Rumah Layak Anak"?

Ida menjelaskan, orang dewasa dalam keluarga perlu memberikan pengasuhan dengan menciptakan suasana kondusif.

"Lingkungan "rumah" harus kondusif.
"Anak" mendapatkan kasih sayang, ada keterlibatan "Anak" dalam setiap keputusan yang dibuat dalam keluarga, dan "Anak" bisa menyampaikan aspirasinya," ungkap Ida.

Yang juga tak kalah penting, "Rumah Layak Anak" juga ditempati keluarga yang memberikan perlindungan terhadap
"Anak" dari berbagai perilaku kekerasan.

"Hal terkecil seperti memukul
"Anak", termasuk kekerasan yang semestinya tidak terjadi di "rumah"," jelasnya.

Pesan dalam peringatan HAN 2013 ini menjadi penting karena, menurut Ida, banyak keluarga Indonesia yang belum memahami dan peduli terhadap hak
"Anak". Salah satu tolak ukurnya, kasus kekerasan dalam "rumah" tangga dengan "Anak" sebagai korbannya, masih banyak terjadi.

Hari
"Anak" Nasional 2013 juga bukan sebatas perayaan yang memberikan kesempatan sekaligus hiburan bagi "Anak". Semestinya, Hari "Anak" Nasional dipahami oleh semua anggota keluarga bahwa setiap "Anak"di dalam keluarga berhak tinggal di "rumah" yang "layak" dan ramah terhadap "Anak" demi terpenuhinya beragam hak "Anak", bukan berhenti pada kebutuhan "Anak" semata.

"Rumah Layak Anak" adalah "rumah" yang memungkinkan "Anak" dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tidak membahayakan disertai lingkungan bersih dan sehat. Kreativitas mereka seharusnya berkembang tanpa dibatasi lingkungan kotor dan takut sakit. Kita harus mengupayakan lingkungan tempat bermain mereka menjadi lingkungan yang bersih.

Sayangnya, berbagai pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kita masih perlu bekerja keras mewujudkan "Rumah Layak Anak".

“Banyak "Anak"-"Anak" yang masih sembarangan buang air besar. Di pinggir jalan, kebun "rumah", dan pekarangan. Mereka sudah terbiasa seperti itu sejak kecil,” tutur salah seorang ibu di sana.

Jalan keluar untuk mendobrak kebiasaan negatif semacam ini adalah dengan memberikan pengetahuan dan pengasuhan terhadap "Anak"-"Anak" maupun orang tuanya. Dalam hal ini, orang tua memegang peran yang sangat penting untuk menanamkan kebiasaan yang baik. 

Untuk mewujudkan "rumah layak anak" kita selaku orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut: 

Pertama, aman. 
"Anak" dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman, jauh dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Tentu saja kondisi aman akan lebih optimal dengan pengawasan dari orang tua atau pengasuh. 

Kedua, bersih dan sehat. 
Biarkan kreativitas mereka berkembang tanpa harus dibatasi dengan rasa takut kotor atau sakit. Tetapi kita harus mengupayakan lingkungan tempat bermain mereka senantiasa bersih. Sementara, "rumah" sehat dilengkapi dengan ventilasi yang cukup, sehingga sinar matahari dan udara bersih masuk. Biasakan "Anak"-"Anak" menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Misal, membuang sampah pada tempatnya atau mencuci tangan dengan sabun setelah bermain. 

Ketiga, fasilitas yang mendukung tumbuh kembang
"Anak" yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sebab, "Anak" mempunyai kebutuhan yang berbeda. Seringkali orang tua hanya menuruti keinginan "Anak" yang belum tentu sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini bukannya akan meningkatkan potensi"Anak" , tapi justru akan merusak/mematikan kreativitas mereka. Contohnya, adalah permainan yang mahal, juga gadget/media elektronik yang belum saatnya diberikan untuk "Anak". Tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk tersedianya fasilitas "Anak"

Keempat, SDM yang mendukung tumbuh kembang
"Anak"
Tentu yang paling "layak" untuk mendampingi tumbuh kembang "Anak"-"Anak" adalah orang tua mereka sendiri. Namun, seringkali tugas ini harus diamanahkan kepada pengasuh atau orang lain yang dipercaya. Jika memang demikian, selektif dalam memilih pengasuh adalah bagian dari kepedulian orang tua dalam memenuhi hak "Anak", jangan sampai hak-hak "Anak" kita terdzalimi hanya karena pengasuh yang tidak memahami kebutuhan "Anak".

Kelima, kegiatan yang mendukung. 
"Anak" tak hanya butuh materi, namun juga butuh pembinaan, pengasuhan, pendidikan yang sesuai dengan masa perkembangannya. Kebutuhan ini tidak hanya bisa dipenuhi oleh sekolah formal saja, tetapi kegiatan di "rumah" bisa diprogramkan oleh orang tua untuk memenuhi kebutuhannya.
Jika
"Anak"-"Anak" merasa nyaman beraktivitas di "rumah", mereka akan mencintai "rumah"nya, walau secara fisik tidak harus mewah atau full fasilitas. Semoga "rumah" kita menjadi "rumah" yang "layak" untuk "Anak"-"Anak" dan kelak mereka pun akan memiliki potensi yang "layak" untuk dibanggakan. Semoga "rumah" kita menjadi "rumah" yang "layak" untuk "Anak"-"Anak": calon pemimpin bangsa, penentu masa depan Indonesia.

Sumber:
1. female.kompas.com/read/2013/.../Menyediakan.Rumah.yang.Layak.Ana...
2. www.hadila.com/member/index.php?do=home&&cat=24...
3. www.doctorshare.org/index.php/.../menciptakan-rumah-layak-anak.html
4. laely.widjajati.photos.facebook/Anak2 (10 Th Yg Lalu).......
5. isna.fitria.agustina.photos.facebook/cheers *_*
6. aba.candi.photos.facebook/With-Ida-Amy-at-water-park-Citra-garden-....


MusicPlaylistView Profile