Rabu, 21 Juli 2010

"SEKILAS BERITA TENTANG WAKTU"

"Waktu" adalah sangat penting bagi kita. Dalam kehidupan ini, dalam segala kegiatan kita butuh "waktu" untuk melaksanakannya."


Di bawah ini Sekilas Berita Tentang "Waktu", sebuah renungan memasuki "waktu" puasa bulan Ramadhan, karya yang ditulis oleh Soeryadi Setiawan; (Sumber: Buletin Jembatan No. 28-02 Desember 2007) :

1. Setelah pensiun beberapa lama, nampaknya kita merasa punya banyak "waktu".

2. Untuk suami atau untuk istri, untuk anak, untuk cucu, untuk buyut juga ada cukup "waktu".

3. Dan jangan lupa pula, untuk orang tua dan mertua sediakan "waktu".

4. Jalan-jalan ke toko, ke pasar, ke tempat loakan juga ada "waktu".

5. Tapi ingat, bagaimanapun juga jangan terlalu banyak buang-buang "waktu".

6. Kita harus bisa menghargai "waktu".

7. Kita harus bisa mengendalikan "waktu".

8. Kita juga harus bisa membagi "waktu", mengatur "waktu", menyempatkan "waktu", menunda "waktu" dan apa saja yang berhubungan dengan "waktu".

9. Menggunakan "waktu" harus hemat "waktu" dan tepat "waktu".

10. Harus mulai dibuat itu yang namanya rencana "waktu".

11. Bahkan kegiatan harian kalau perlu dibuat pula jadwal "waktu".

12. Tentu tidak termasuk kegiatan yang se"waktu"-"waktu".

13. Karena satu ini datangnya sering tidak tahu "waktu".

14. Pertama berangan-angan membuat rencana "waktu" yang juga perlu "waktu".

15. Juga mengatur "waktu" untuk membuat jadwal "waktu".

16. Nah, mulai corat-coret menghitung kebutuhan "waktu".

17. Misalnya berapa lama tidur malam butuh "waktu".

18. Bangun malam, ke kamar mandi, gosok gigi dll berapa lama perlu "waktu".

19. Sholat dan berdoa: Prinsipnya, perlu cukup "waktu".

20 Untuk kegiatan pagi juga disiapkan "waktu".

21. Jalan pagi, senam, bersepeda atau apa saja perlu juga mengatur "waktu".

22. Kemudian mandi pagi, buat orang tua juga perlu cukup "waktu".

23. Sarapan berilah kelonggaran "waktu".

24. Sudah itu, pikir-pikir dulu apalagi yang perlu "waktu".

25. Membaca koran, nonton TV, menulis, tidur lagi rencanakan berapa perlu "waktu".
26. Dan jangan lupa meski sudah tua, untuk suami-istri sisihkan juga cukup "waktu".

27. Bahkan karena sudah tua perlu ada spesial "waktu".

28. Ya untuk bercengkerama yang kadang-kadang sudah tidak ada "waktu".

29. Jangan lupa juga untuk bertemu tetangga dan teman-teman, kapan ada "waktu".

30. Jalan-jalan ke Mal atau tempat hiburan dan tempat lain kayaknya perlu juga pengaturan "waktu".

31. Nah, sepertinya sehari penuh sudah terpakai semua "waktu".

32. Awas jangan lupa, untuk Tuhan harus selalu ada cukup "waktu".

33. Dan bagi yang beragama Islam tidak boleh sampai lupa lima "waktu".

34. Kapan "waktu" untuk sholat, sahur, buka puasa dll masing-masing sudah punya ketentuan "waktu".

35. Tidak boleh diubah menjadi se"waktu"-"waktu".

36. Untuk Tuhan tidak boleh ada jawaban: "tidak punya "waktu".

37. Ingat bahwa Tuhan telah kasih kita banyak "waktu".

38. Karena itu sekali lagi sisihkan untuk Tuhan itu cukup "waktu".

39. Sebab ingat sama Tuhan itu seharusnya sepanjang "waktu".

40. Sehari, sebulan, setahun, ...dst berlalulah sudah semua "waktu".

41. Maka pikir sekali lagi apa yang belum kebagian "waktu".

42. Ternyata tiap hari sudah terlalu banyak kita gunakan dan hambur-hamburkan itu "waktu".

43. Karena itu kini harus benar-benar kita bisa memanfaatkan "waktu".

44. Meski tinggal sedikit "waktu", anggap saja masih cukup "waktu".

45. Jangan sampai kita menyia-nyiakan lagi masalah "waktu".

46. Dan kini senjapun mulai kelam yang akan mengakhiri kita punya jatah "waktu".

47. Maka habislah sudah semua "waktu".

48. Karena tidak mustahil Malaikat sudah siap-siap untuk bertugas menjemput kita pada saat yang tepat "waktu".

49. Maka kita pun harus selalu bersiap pula karena dia akan datang se"waktu"-"waktu".

50. Ajakanku, luangkan sedikit "waktu".

51. Merenungkan ulang perjalanan "waktu".

52. Dan akhirnya tamatlah sudah berita tentang "waktu".........
======================================

Disamping itu masih banyak lagi berita tentang "waktu" yang perlu diperhatikan dalam kehidupan ini, antara lain:

* Dalam kehidupan ada 3 hal yang tidak akan bisa kembali : "waktu", ucapan dan kesempatan.

* Wahai "waktu", jika engkau punya sedikit "waktu" sisa, dan dianggap tak berguna, maka relakanlah.

* Tanyakan kepada yang mencemooh kita karena "waktu" yang berlalu, bukankah hanya orang yang menantang "waktu" yang akan mendapat bahaya?

* Setiap "waktu" Dia dalam kesibukan.

* Dua nikmat yang tidak dipergunakan dengan baik oleh kebanyakan manusia, adalah kesehatan dan "waktu" luang.

* Kalian menakut-nakutiku dengan "waktu", dan aku tak apa. Tak jarang yang ditakutkan itu tak pernah terjadi.

"Waktu" yang tidak digunakan untuk mengasihi adalah "waktu" yang sia-sia. (Torquato Tasso).

* Memahami pasangan anda secara bersungguh-sungguh - yang membutuhkan "waktu" untuk mendengarkan dan menenangkan dengan empati- adalah bagian yang penting dari hubungan yang romantis dan hangat.

* Satu kata yang diucapkan terburu-buru dapat menyebabkan luka pada hati pasangan anda yang memerlukan "waktu" berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menyembuhkannya. (A.E. Davis).

* Ibu akan semakin baik seiring berjalannya "waktu". Saat ia dan anda semakin matang.

* Ayah percaya orang harus tepat "waktu"--- Itu sebabnya ia selalu menunggu anggota keluarga lain datang.

* Ayah menghabiskan "waktu" berkualitas bersama anak-anaknya.

* Menjadi menang bukanlah sesuatu hal yang kadang-kadang terjadi, tetapi terjadi setiap "waktu". Kau tidak menang sesekali "waktu", kau tidak melakukan hal yang benar sesekali "waktu", kau melakukannya setiap "waktu". Menjadi menang merupakan kebiasaan. Sayangnya, menjadi kalah pun merupakan suatu kebiasaan. (Vince Lombardi).

* Kita harus memanfaatkan "waktu" dengan kreatif -- dan selalu ingat bahwa "waktu" merupakan harapan untuk melakukan hal-hal yang besar. (Martin Luther King. Jr.).

* Satu hal yang paling kuat dari apa pun di dunia ini, yaitu sebuah gagasan yang telah tiba "waktu"nya untuk diwujudkan. (Victor Hugo).

* "Waktu" yang sulit tidak pernah berkesudahan, tapi orang yang tegar terus maju!

* Apakah anda membutuhkan pelangi hari ini? Maka:
1. Harapkan satu.
2. Luangkan "waktu" untuk melihatnya.
3. Nikmati peristiwanya.
4. Bersyukurlah kepada Tuhan.

* Jangan pernah membuat negatif yang tak dapat dibatalkan pada "waktu" jatuh!

* Kenalilah Allah di "waktu" senang, maka Allah akan mengenalimu di "waktu" susah.

* Jangan kau habiskan "waktu"mu untuk keinginan nafsu.

* Tidak ada "waktu" untuk banyak bicara.

* Membagi "waktu" demi kewajiban.

* Kata-kata yang meliputi "waktu" dan tempat. Wahai Zat tempat orang yang mengadu dan meminta pertolongan. Engkau yang mempersiapkan segala sesuatu yang diharapkan terjadi.

* Tempat paling terhormat di dunia adalah pelana kuda (untuk berjihat). Dan sebaik-baik teman sepanjang "waktu" adalah buku.

* Awas, "waktu"mu terbuang sia-sia hanya untuk mendengarkan musik atau hanya sekedar menonton sinetron. Setiap detik dari umurmu akan dicatat, maka investasikan umurmu untuk keridhaan Allah. 

* Kita sering menyia-nyiakan "waktu" bahagia untuk sesuatu yang tidak berguna.

* PEMBAGIAN "waktu" DALAM SEHARI (24 jam), dapat dibagi menjadi 4: (Laely Widjajati)

1. "Waktu" untuk hidup di alam nyata (9 jam).
"Waktu" ini adalah "waktu"-"waktu" yang kita pergunakan untuk bekerja mencari nafkah untuk diri sendiri maupun keluarga. Disamping untuk bekerja, "waktu"-"waktu" ini juga kita pergunakan untuk bermasyarakat, yaitu dalam rangka beribadah pendekatan dengan manusia (Hablum Minannas). 

2. "Waktu" untuk hidup di alam maya (4 jam).
"Waktu" ini adalah "waktu"-"waktu" yang kita manfaatkan untuk mencari ilmu dalam rangka menambah wawasan, memberikan makanan untuk otak kita supaya tidak mandeg. Allah menjanjikan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu (ilmu yang bermanfaat tentunya).

3. "Waktu" untuk hidup di alam gaib (6 jam).
"Waktu" ini adalah "waktu"-"waktu" yang kita pergunakan untuk beribadah dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada Allah (Hablum Minallah), yaitu "waktu"-"waktu" kita melaksanakan sholat, berdo'a, membaca Al-Qur'an dan Hadits. Hal ini bukan berarti pada "waktu"-"waktu" yang lain kita tidak dekat dengan Allah, akan tetapi pada "waktu" ini kita sebagai hamba Allah lebih memfokuskan diri untuk mengabdi dan menyembah Allah dan hanya kepada Allah kita menyerahkan diri kita. Walaupun Allah tidak nampak di mata kita (gaib), kita selalu yakin bahwa Allah itu ada dan Allah dekat dengan kita.    

4. "Waktu" untuk hidup di alam mimpi (5 jam).
"Waktu" ini adalah "waktu" kita untuk tidur, yakni memberikan kesempatan kepada organ-organ tubuh kita untuk beristirahat. Dan pada "waktu" kita tidur ini, kita selalu berharap supaya kita mengalami mimpi-mimpi yang indah, sehingga "waktu" kita bangun dari tidur, raga maupun jiwa kita dalam keadaan fresh.

Pembagian "waktu" di atas, masing-masing orang tidak akan sama. Tergantung dari kebutuhan masing-masing orang. Namun demikian, "waktu"nya sama, yaitu selama 24 jam dalam sehari, tidak kurang dan tidak lebih. Alangkah indahnya dunia ini kalau semua orang di dunia ini mau dan mampu memanfaatkan "waktu" yang hanya 24 jam ini dengan sebaik-baiknya. (Laely Widjajati).

* Hai orang-orang yang beriman, hendaklah meminta izin kepada kamu hamba-hamba sahaya kamu dan anak-anak yang belum baligh di antara kamu, tiga ("waktu"), yaitu sebelum salat subuh, "waktu" kamu menukar pakaian kamu tengah hari, dan sesudah salat 'isya, (itulah) tiga ("waktu") aurat 1) bagi kamu. Tidak ada dosa atas kamu dan atas mereka selain (tiga "waktu") itu mereka melayani keperluan kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) atas sebahagian yang lain. 2) Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya bagi kamu dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Qur'an, Surat An Nuur, Ayat 58). 

1). "Waktu"-"waktu" tersebut biasanya aurat tidak selalu tertutup. sebab itu diharuskan minta izin sebelum memasuki ruangan mereka. Itulah salah satu contoh tata-krama Islam dalam kehidupan berkeluarga.

2). "Waktu"-"waktu" tersebut sering terjadi penggantian pakaian yang dengan sendirinya aurat terbuka.

Sabtu, 17 Juli 2010

"KOPERASI - SISTEM EKONOMI GOTONG ROYONG"

"Semangat gotong royong masyarakat Indonesia dikenal sangat kuat, hal ini merupakan satu syarat yang dibutuhkan bagi perkembangan organisasi "koperasi".


Tanggal 12 Juli 2010 diperingati Hari "Koperasi" Nasional yang ke-63. Dalam perjalanannya selama 63 tahun, "koperasi" telah mengalami banyak masalah, yang hal ini tentunya berpengaruh pula terhadap tingkat kesejahteraan anggota "koperasi" yang relatif masih rendah. Namun demikian, menurut Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, yang disampaikan pada acara peringatan Hari "Koperasi" Nasional ke-63 di Surabaya, bahwa 'banyak juga "koperasi" yang sudah berhasil dan mensejahterakan anggota sekaligus turut berkontribusi memperkuat per"ekonomi"an nasional. Oleh karena itu, gerakan "koperasi" di Indonesia tetap relevan dan berperan penting di tengah percaturan "ekonomi". "Koperasi" masih dan tetap penting.' Masih menurut Bapak Presiden: 'Gerakan "koperasi" dan UKM adalah "Sistem Ekonomi" kerakyatan yang cocok untuk Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya Indonesia tidak perlu meniru "sistem ekonomi" negara lain yang belum tentu cocok untuk Indonesia.'


"KOPERASI" DAN "SISTEM EKONOMI" GOTONG ROYONG.


Sesuai dengan ajaran Pancasila (sebagai dasar negara Indonesia), maka dasar-dasar dan motivasi perilaku manusia dalam "sistem ekonomi" Pancasila tidak hanya rangsangan-rangsangan "ekonomi" yang diterjemahkan dalam harga, namun juga rangsangan-rangsangan sosial (kepentingan bersama), dan rangsangan moral (upaya senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan).


Semangat gotong royong masyarakat Indonesia dikenal sangat kuat. Dengan kata lain, rasa solidaritas sosial adalah tebal, yang ini merupakan salah satu syarat yang dibutuhkan bagi perkembangan organisasi "koperasi". Namun semangat gotong royong merupakan kebutuhan sosial untuk mengatasi masalah bersama bukan masalah individual. Maka dari itu, apabila suatu masyarakat mulai berkembang ke arah yang semakin komersial karena pengaruh perkembangan pasar (pasarisasi), semangat gotong royong cenderung mengendor. Orang akan lebih menggantungkan pemenuhan kebutuhannya pada cara-cara individual-komersial melalui "sistem" pasar.


Selain solidaritas sosial, perkembangan "koperasi" memerlukan berkembangnya individualita atau harga diri manusia. Rasa harga diri yang rendah pada umumnya menghinggapi bangsa kita, lebih-lebih pada masyarakat lapisan bawah; Hal ini terutama disebabkan oleh "sistem" feodalisme yang diperkuat dan diperdalam oleh "sistem" penjajahan yang lama. Gerakan-gerakan nasional, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dan Muhammadiyah, semuanya berusaha menantang penjajah melalui usaha-usaha ber"koperasi" untuk meningkatkan harga diri dan persatuan bangsa. Inilah permulaan gerakan "koperasi" yang dikaitkan dengan perjuangan politik. "Sistem" liberal-kapitalistik dan penjajahan hanya dapat dilawan oleh "koperasi" yang kuat dari kaum bumiputera.



"KOPERASI" DAN "SISTEM EKONOMI" KEKELUARGAAN.


Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 33, bahwa "koperasi" adalah bangun usaha atau tata "ekonomi" usaha bersama berdasarkan atas asas-asas kekeluargaan. Ketentuan ini juga diulang dengan tegas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 pasal 3 tentang Per"koperasi"an. Dalam tata "ekonomi" usaha bersama yang berasas kekeluargaan, kita lebih mementingkan manusia atau peran serta orang seorang dari pada peranan modal. Dalam setiap usaha memang modal penting, namun manusia lebih penting lagi.


Pengembangan "sistem ekonomi" yang berdasar kekeluargaan ini erat kaitannya dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam upaya senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan, kita percaya bahwa bangsa Indonesia adalah satu keluarga besar yang anggota-anggotanya tidak akan bersaingan satu sama lain, namun senantiasa bekerja sama. Kesejahteraan materi tidak dikejar untuk kepentingan diri sendiri, namun sesuai dengan perintah Tuhan, untuk dibagi secara merata di antara warganya dengan cara yang seadil-adilnya.


Sementara itu asas kerakyatan dan persatuan lebih menegaskan lagi relevansi organisasi "koperasi". "Koperasi" adalah organisasi "ekonomi" yang demokratis dan berwatak sosial. Anggota tidak bisa tinggal diam dan kemudian mendapat bagian keuntungan. Baik dalam "koperasi" produksi maupun simpan pinjam dan konsumsi, selalu didorong simpanan atau tabungan wajib secara rutin, supaya peran serta anggota bersifat aktif dan dinamis.


Ciri-ciri "sistem ekonomi" yang berasas kekeluargaan dan patuh pada sila-sila Pancasila adalah:

1. Roda per"ekonomi"an digerakkan oleh rangsangan "ekonomi" sosial dan moral.

2. Ada kehendak kuat dari seluruh anggota masyarakat untuk mewujudkan keadaan kemerataan sosial (egalitarianisme) sesuai asas-asas kemanusiaan.

3. Prioritas kebijakan "ekonomi" adalah penciptaan "ekonomi" nasional yang tangguh yang berarti nasionalisme menjiwai tiap kebijakan "ekonomi".

4. "Koperasi" merupakan soko-guru per"ekonomi"an nasional.

5. Ada imbangan yang jelas dan tegas antara sentralisme dan desentralisme kebijakan "ekonomi" untuk menjamin keadilan dan keadilan sosial dengan sekaligus menjaga prinsip efisiensi dan pertumbuhan "ekonomi". (Sumber: UNISIA Majalah Triwulanan UII Yogyakarta, Nomor 7 / Tahun VII . Triwulan II / 1986).



JUMLAH "KOPERASI" DAN ANGGOTANYA DI INDONESIA.


Menurut Menteri "Koperasi" dan UKM Sjarifuddin Hasan, yang disampaikannya pada acara peringatan Hari "Koperasi" Nasional ke-63 di Surabaya, bahwa jumlah "koperasi" di seluruh Indonesia meningkat signifikan atau mencapai sekitar 13 % dalam dua tahun terakhir. Hingga Maret 2010, terdapat 175.102 "koperasi" di seluruh Indonesia. Dari jumlah "koperasi" itu, jumlah anggota "koperasi" tercatat mencapai 20.124 juta dengan volume usaha sebesar Rp. 77.514 triliun. Dan "koperasi" tersebut, tercatat modal sendiri mencapai Rp. 30.656 triliun.


Masih menurut Menteri "Koperasi" dan UKM, terjadi pula peningkatan jumlah anggota "koperasi" sebesar 6,61 % dengan peningkatan volume usaha 13,25 %. Selain terjadi peningkatan volume usaha 13,25 % juga terjadi peningkatan jumlah modal sendiri sebesar 35,88 %. Ini menunjukkan bahwa gerakan "koperasi" telah dapat memberikan kontribusi yang baik bagi per"ekonomi"an nasional Indonesia.


Pihak Kementerian "Koperasi" dan UKM juga menggagas Gerakan Masyarakat "Koperasi" (Gemaskop) seiring dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang telah dilaksanakan menyangkut "koperasi" dan UKM. Kebijakan terkait diantaranya adalah bantuan sosial, penguatan modal,KUR, dana bergulir, pelatihan, kewirausahaan, pameran dan sebagainya. Ini telah banyak memberikan peluang dan kemudahan kepada rakyat untuk mendirikan dan lebih meningkatkan usaha "koperasi". Dengan dicanangkannya Gemaskop, diharapkan akan tercipta "koperasi"-"koperasi" yang kreatif, inovatif, dan berskala besar dengan daya saing yang tinggi. Di samping itu, juga sebagai wujud dan peran "koperasi" untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam hal perbaikan gizi, Kementerian "Koperasi" dan UKM juga menggagas kampanye minum susu. Produk minuman susu tersebut antara lain diproduksi oleh "koperasi" Indonesia.


Disampaikan pula oleh Menteri "Koperasi" dan UKM, bahwa mulai tahun ini "koperasi" Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kinerja, sehingga menjadi kekuatan "ekonomi" rakyat yang mandiri, kreatif dan inovatif untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sumbangsih "koperasi" dan UKM dalam per"ekonomi"an nasional terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.


Sementara itu, menurut Soekarwo (Gubernur Jawa Timur), bahwa kebijakan "ekonomi" makro mendorong agresivitas para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta "koperasi" dalam mengembangkan usahanya. Dari dana kredit yang disalurkan perbankan di Jawa Timur tahun ini sebesar Rp. 150 triliun, sebanyak Rp. 86 triliun atau sekitar 44 % diantaranya diserap UMKM dan"koperasi". Padahal tahun lalu hanya Rp. 65 triliun.



IMPLEMENTASI "SISTEM EKONOMI" PANCASILA.


"Sistem Ekonomi" Pancasila, berusaha mencari keseimbangan yang benar-benar serasi dan selaras, sehingga kegiatan "ekonomi" dan pembangunan nasional benar-benar merupakan perbuatan amal dan sekaligus ibadah yang merupakan manifestasi manusia yang beragama.


Nampaknya gambaran peranan "koperasi" sebagai soko-guru per"ekonomi"an nasional sudah semakin meresapi kalbu bangsa secara keseluruhan. "Koperasi" adalah soko-guru atau tiang-tiang pokok penyangga "ekonomi" rakyat banyak. Dan soko-guru hanya akan kuat apabila peran-serta anggotanya benar-benar berjalan secara aktif dan efektif.


Apabila "sistem ekonomi" Pancasila akan dijadikan "sistem" yang realistik dan relevan, maka operasionalisasi dari konseptual tersebut di atas harus nyata-nyata dapat dirasakan dalam kehidupan "ekonomi" dan bisnis sehari-hari.


Namun, mengupayakan supaya norma-norma "sistem ekonomi" Pancasila benar-benar realistik dan relevan ternyata amat tidak mudah. Hal ini disebabkan:

1. Amat tidak tergantung pada sikap dan perilaku orang seorang yang harus bertekad keras melaksanakannya; dan

2. Lingkungan kehidupan "ekonomi" dan bisnis itu sendiri kadang-kadang sudah cenderung terlalu mapan, sehingga sukar berubah ke arah yang dikehendaki.


Nampaknya yang kini sedang terjadi adalah proses penciptaan iklim yang memungkinkan berkembangnya unsur-unsur "sistem" tersebut secara wajar. Pemerintah tidak bisa memaksakan dan menetapkan laju perkembangan proses tersebut. Sikap Pemerintah yang tepat adalah 'Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangung karso, tut wuri handayani'.


Banyak ahli dan pengamat "ekonomi" berpendapat bahwa "sistem ekonomi" Pancasila dewas ini belum ada. Yang lebih tepat sebenarnya adalah, belum ada secara lengkap penuh dan sempurna. Embrio "sistem" itu sendiri sudah ada.


Tidak dapat disangkal bahwa iklim pertumbuhan dan perkembangan "sistem ekonomi" Pancasila amat dipengaruhi oleh pendapat tokoh-tokoh pemikir khususnya ahli-ahli "ekonomi"nya. Pendapat-pendapat mereka baik yang baik maupun yang tidak, terbukti menjadi petunjuk dan panutan dunia bisnis dan masyarakat luas.












Rabu, 30 Juni 2010

"LATIHAN DAN PENGEMBANGAN PEGAWAI MELALUI PENDELEGASIAN WEWENANG"

"Pendelegasian wewenang" akan mengembangkan ketrampilan dan potensi dari bawahan dan merupakan suatu bagian dari proses latihan".


Menurut K.W. Reinhardt, memotivasi oramg lain untuk tumbuh dan berkembang dalam pekerjaannya adalah salah satu hal yang paling memuaskan yang dilakukan oleh seorang pemimpin.


Tujuan organisasi akan sulit dicapai dengan baik apabila hanya mengendalikan kemampuan seorang pemimpin saja, melainkan sebaliknya kegiatan harus dibagikan kepada para nggota atau ahlinya. Maka dari itu, setiap tujuan organisasi harus dicapai dengan adanya pembagian kerja sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing anggota. Disinilah peranan pemimpin terlihat sangat penting, yaitu bagaimana cara menggerakkan kelompok orang dari organisasi tersebut untuk bekerja sama guna mencapai suatu tujuan, dan memberikan kegembiraan bagi para anggotanya.


Pemimpin harus menghidupkan dan memupuk rasa kesetiaan para anggota terhadap tujuan organisasi, serta menunjukkan kepada anggota akan manfaat dari turut sertanya dalam organisasi itu dan manfaat bagi dirinya. Untuk sampai kepada tujuan tersebut, pemimpin perlu menaruh kepercayaan kepada anggotanya. Salah satu kepercayaan pimpinan dan salah satu dorongan untuk menuju pengembangan anggota adalah "pendelegasian wewenang" dengan baik. "Pendelegasian wewenang" adalah pimpinan memberikan kepercayaan kepada anggota (bawahan) dengan inisiatifnya untuk mengambil keputusan atau tindakan dalam usaha menyelesaikan atau memecahkan pekerjaan yang dihadapinya. Sedang yang dimaksud dengan "wewenang" dengan baik adalah "wewenang" yang dilimpahkan tersebut sesuai dengan kemampuannya (fisik maupun mental) dan bawahan ikhlas menerimanya, disamping diberikan fasilitas secukupnya dalam menjalankan "wewenang" tersebut.


Dengan "wewenang" yang baik, seorang anggota akan berusaha membuktikan kemampuan yang dimilikinya, sehingga akan dapat mendorong dalam usaha pembinaan dan pengembangan dirinya. Dorongan ini disebabkan antara lain:

1. Dengan "delegasi" akan melibatkan anggota (bawahan) secara mental dan emosional ke arah tercapainya tujuan, karena mereka merasa dipercaya dan diberi hak mengambil keputusan walaupun dalam batas yang telah ditentukan.

2. Bawahan akan terangsang atau terdorong untuk memberikan sumbangannya dalam usaha mencapai tujuan dengan menyalurkan inisiatif dan daya kreasi mereka.

3. Akan menimbulkan bertambahnya rasa tanggung jawab terhadap aktivitas mereka, karena mereka merasa dirinya yang mengambol keputusan disamping mereka merasa dirinya dipercaya.

4. Dan tentunya moral mereka akan tinggi karena hal tersebut akan menimbulkan perasaan bangga.


TUJUAN "PENDELEGASIAN WEWENANG".

Menurut Nel White, sebab-sebab "delegasi wewenang" dilakukan antara lain:

1. Dengan "delegasi wewenang" secara efektif, maka para supervisor memperoleh lebih banyak waktu untuk memikirkan, merencanakan terlebih dahulu serta untuk melaksanakan bagian supervisi dari tugas mereka.

2. "Pendelegasian" akan mengembangkan ketrampilan dan potensi dari bawahan dan merupakan suatu bagian dari proses latihan.

3. Staf akan merasa lebih terikat kepada pekerjaan mereka. Mereka akan memperoleh kepuasan dengan pekerjaan mereka.

4. Dengan jalan men"delegasi", maka ketrampilan khusus para staf dapat dimanfaatkan.


Sedangkan menurut Drs. Sutrisno, sebab-sebab "pendelegasian" adalah:

1. Untuk menarik keuntungan dari bawahan:
a. Karena pengetahuannya.
b. Karena pengalamannya.

2. Untuk memudahkan dalam mengambil keputusan.

3. Untuk melancarkan tugas yang luas dan sukar ditangani serta sulit.

4. Untuk menimbulkan pimpinan yang rasionil.

5. Pelimpahan sifatnya mendidik bawahan, sebab menimbulkan kegembiraan dalam bekerja dan semangat kerja.


Menurut Drs. Sutarto, manfaat "pendelegasian wewenang", adalah:

1.Dengan adanya "pendelegasian wewenang" maka pimpinan tidak perlu melakukan pekerjaan yang sekecil-kecilnya tetapi cukup melakukan pekerjaan yang benar-benar pokok saja.

2. Dengan "pendelegasian wewenang" setiap pejabat dari pucuk pimpinan sampai dengan pejabat yang terendah sudah mempunyai wewenang tertentu dalam bidang tugasnya sehingga merekapun mempunyai "wewenang" untuk membuat keputusan yang menyangkut bidangnya. Dengan demikian keputusan dapat dibuat dengan lebih cepat karena tidak perlu harus selalu dimintakan putusan dari pihak atasan.

3. Dengan "pendelegasian wewenang" dapat dihindarkan adanya pejabat yang bersikap selalu menunggu perintah.
Seorang pejabat yang mempunyai inisiatif mandiri untuk berusaha menyempurnakan tata kerja yang menjadi urusannya, berusaha menemukan cara-cara kerja yang lebih baru, tanpa menunggu perintah tugas yang menjadi tanggung jawabnya diselesaikan dengan baik.

4. Dengan "pendelegasian wewenang" pekerjaan tetap akan berjalan walaupun pejabatnya sedang tidak masuk kerja.

5. Adanya "pendelegasian wewenang" merupakan latihan bagi pejabat apabila nantinya menduduki jabatan yang lebih tinggi.


SYARAT-SYARAT "PENDELEGASIAN WEWENANG".

Menurut Drs Sutrisno, syarat-syarat "pendelegasian wewenang" adalah:

1. Adanya kesediaan atau keikhlasan atasan untuk memberikan "pendelegasian".

2.Tiap-tiap bawahan yang mendapat "pendelegasian" harus mempertimbangkan kemampuannya.

3. Tugas dan "wewenang" yang diserahkan harus jelas bawahan mengerti keinginan atasan dengan adanya "pendelegasian" itu.

4. "Pendelegasian" yang telah diberikan tidak boleh diperlemah oleh atasan, yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan.


Sedangkan menurut Drs. Manulang, supaya "delegasi" itu efektif, dapat mengikuti pedoman:

1. Unsur "delegasi" harus lengkap dan jelas.

2. Manager harus mendeleger kepada orang yang tepat.

3. Manager yang mendeleger harus memberikan peralatan yang cukup dan mengusahakan keadaan yang efisien.

4. Manager yang mendeleger harus memberikan insentiv.


HALANGAN-HALANGAN "PENDELEGASIAN WEWENANG".

Meskipun tujuan dan manfaat "pendelegasian wewenang" sangat bagus, namun dalam pelaksanannya sering terjadi hambatan-hambatan. Hambatan tersebut dapat dari pihak atasan dan ataupun dari pihak bawahan.

Hambatan dari pihak atasan, antara lain dapat berupa:

1. Atasan berpendapat bahwa dia merasa sempurna dapat menjalankan segala-galanya sendiri dengan baik.

2. Atasan tidak dapat memberikan petunjuk atau penerangan.

3. Atasan tidak mempercayai bawahan, sehingga segan atau tidak mau menyerahkan sebagian "wewenang"nya.

4. Kekurangan alat kontrol yang dapat mengingatkan atasan apabila sewaktu-waktu timbul kesukaran.

5. Manager takut memikul tanggung-jawab terhadap tugas yang diserahkan bawahan.


Sedangkan hambatan dari pihak bawahan dapat berupa:

1. Bawahan senang pada pekerjaan yang mudah saja.

2. Bawahan takut dikritik atas kesalahan-kesalahannya.

3. Bawahan kurang mendapat penjelasan atas tugas yang diterimanya.

4. Bawahan telah terlalu banyak pekerjaan.

5. Bawahan kurang percaya pada diri sendiri.

6. Bawahan kurang mendapatkan dorongan yang positif.


Berhubung pentingnya "pendelegasian wewenang" dalam kaitannya dengan proses latihan dan pengembangan pegawai serta efektivitas pencapaian tujuan, maka hambatan proses "pendelegasian wewenang" tersebut bagi atasan maupun bawahan harus saling memahami dan akhirnya diminimalisir, kalau mungkin bahkan dihilangkan. Sehingga proses "pendelegasian wewenang" menjadi lancar dan proses pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dapat dilakukan dengan baik.

(Sumber: 'UNISIA' Majalah Triwulanan UII Yogyakarta, Nomor 7 / Tahun VII . Triwulan II / 1986).

Senin, 28 Juni 2010

"PERANAN WANITA SEBAGAI MAKHLUK (MANUSIA) INDIVIDU"

"Peranan "wanita" akan dapat dirasakan apabila "wanita" itu sudah mampu menunjukkan identitasnya."


Setiap "individu" kaum "wanita" berkewajiban membina dirinya sendiri terlebih dahulu. Sekelompok "wanita" sebagai "individu" yang bertanggung jawab akan melahirkan kualitas "wanita" yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam arti sebenarnya.


"Wanita" sebagai "individu" berhak berbuat dengan akibat serta manfaat yang diperolehnya, antara lain:


1. AMAL YANG BERPRESTASI.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalan firman Allah Surat An-Nisa' Ayat 194, yang artinya:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun "wanita" sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit."

Dan Surat Al-Ahzab Ayat 35, yang artinya:

"Sesungguhnya laki-laki dan "wanita" yang muslim, laki-laki "wanita" yang mukmin, laki-laki dan "wanita" yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan "wanita" yang benar, laki-laki dan "wanita" yang sabar, laki-laki dan "wanita" yang khusyuk', laki-laki dan "wanita" yang bersedekah, laki-laki dan "wanita" yang berpuasa, laki-laki dan "wanita" yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan "wanita" yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."


Kedua ayat tersebut telah menjelaskan bahwa dalam hal usaha dan kegiatan yang mengantar pada prestasi "individu", laki-laki dan "wanita" imbalan yang diperolehnya sama. Penyebutan secara terperinci dan berulangkali antara laki-laki dan "wanita" merupakan bukti otentik bahwa kedudukan kaum "wanita" setara dengan laki-laki.

Sedangkan untuk amal negatif cukup dengan sebutan umum. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Bayyinah Ayat 6:

"Sesungguhnya orang-orang jafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk."


2. "WANITA" BERHAK MEMBINA DIRI.

Seorang "wanita" seharusnya dapat membina diri. Berharga atau rendahnya kaum "wanita", akibat salah arah dan langkah mereka masing-masing. "Wanita" sebagai manusia, akan mengalami perubahan emosi, masa-masa puber, saat penuh dinamika dan romantika, serta celah-celah yang sungguh rawan bagi "wanita". Kebanyakan remaja putri salah tingkah ini disebabkan kurangnya informasi dan pembinaan.


Untuk kepentingan pembinaan, kita perlu mengetahui perkembangan jiwa dan taraf umur baik laki-laki maupun "wanita". Menurut para ahli Psykhologi, manusia sejak lahir sampai tua, melewati masa-masa berbahaya. Pembagian tingkatan umur manusia adalah sebagai berikut:

a. Masa kanak-kanak.
Masa ini berlaku antara usia 40 hari sampai 8 tahun. Masa ini sangat peka untuk menirukan apa saja yang dilihat atau didengarnya. Apapun yang terjadi di alam sekitarnya ikut menentukan kepribadian mereka.

b. Masa remaja
Masa ini berlaku antara usia 8 - 14 tahun. Masa ini anak butuh banyak bergerak untuk pertumbuhan fisiknya. Anak sudah belajar baik di tingkat Dasar maupun SLTP. Pendidikan dasar merupakan dasar pembentukan kepribadiannya.

c. Masa baligh.
Masa ini berlaku antara usia 15 - 21 tahun. Pertumbuhan jasmani mencapai tingkat maksimal. Rohani mengikuti dengan berbagai gejala yang baru dan unik. Banyak angan, cita-cita yang melangit, khayal yang tidak terkontrol, tipuan yang banyak negatifnya. Antara baik dan buruk dirasa sama-sama menarik. Apabila imannya tipis, banyak godaan yang dikira membahagiakan, namun berakhir dengan penyesalan selamanya. Keindahan tubuh mencapai maksimal, khayal yang kuat dan syahwat yang menggelora. Bagi "wanita" yang kurang waspada, saat ini merupakan bencana bagi masa depannya.

d. Masa dewasa.
Terjadi antara usia 21 - 26 tahun. Pada usia ini banyak cela, sebab peranan syahwat sangat dominan. Tuntutan syahwatnya tidak cukup dalam khayal namun mendesak untuk mencapai realita. Bagi "wanita" yang belum siap menikah, sebaiknya memperbanyak puasa. Kematangan fisik dengan berlebihnya potensi, membuyarkan nilai-nilai agama yang dipegangnya. Kecenderungan untuk melanggar hukum sulit dicegah. Apalagi kalau kondisi lingkungan memang memungkinkan. Mempercepat menikah apabila kondisi sudah siap merupakan hal yang terpuji menurut agama. Bagaimanapun kegoncangan jiwanya apabila iman dan taqwa sudah terbina, Insya'Allah kita dapat menyelamatkan diri kita. Pelanggaran yang dianggap biasa bagi manusia di abad ini, tetap dinilai tercela dan merupakan perilaku paling hina.

e. Masa dewasa sempurna.
Berlaku antara usia 27 - 35 tahun. Masa seorang sudah mencapai kematangan pribadinya. Pikiran secara cerah, terbuka dari segala kelabu, keyakinan jelas dan tegas. Pada masa ini kecenderungan untuk mencapai prestasi, baik dalam masyarakat maupun dalam dunia akademis. Nilai hidup mulai disadari, iman semakin kokoh dan ilmu mulai mendalam. Prestasi dalam masyarakat mulai tampak dan rasa tanggung jawab semakin terlihat. Ciri-ciri keibuan mulai berbicara dan membentuk realita, karena pada usia ini regeneratif sudah aktif. Sebagai "wanita" dan sekaligus sebagai ibu sudah dirasakannya, sehingga tugas primer dan sekunder silih berebut. Pada usia ini mengalami perubahan kebiasaan-kebiasaan negatif, sikapnya lebih rasional dan ilmiah. Cenderung untuk berjasa, berkorban dan ingin menjadi orang yang terhormat dalam lingkungannya. Pada usia ini mulai merasakan nikmatnya iman dan keteraturan belajar pada masa silam. Ayat-ayat Al-Qur'an dirasakan benar dalam hidupnya.

f. Masa setengah tua.
Menginjak usia 41 rahun dapat disebut setengah umur. Dan antara usia 41 - 50 tahun dianggap sudah mencapai usia setengah tua. Pada umumnya kesenangan terhadap materi sudah menurun, sebab ternyata hal itu tidak menjamin terhadap kebahagiaan hidup. Masalah agama dan mati sudah mendapat tempat utama dalam setiap "individu". Apabila pada usia ini hoby maksiat tetap dilakukan alamat penghuni neraka abadi. Biasanya bagi orang yang lemah iman, akan mudah terjun ke dalam aliran kebatinan dengan segala variasinya.

g. Masa menurun.
Semenjak usia sudah mencapai 50 tahun, potensi jasmani mulai menurun. Anggota badan serta bagian-bagiannya sudah mulai kendor. Masalah mati setiap saat menghantui dirinya, Nafsu makan dan minum juga berkurang, bahkan tidurpun sulit. Orang yang kosong imannya keresahan jiwa tidak terkendalikan. Rasa nyeri pada sendi-sendi tulang dan kegoncangan batin tidak dapat dihindari. Pikiran kacau, hati yang tiada menentu selalu silih berganti pada perasaannya. Sebaliknya bagi ahli ibadah, ketundukan semakin berisi, shalatnya khusyuk dan dzikirnya pada Allah tidak pernah sunyi. Anak dan cucu mulai mampu berdiri sendiri. Do'a dan restu selalu terucap dari jiwanya. Manisnya iman dirasakan dan panggilan Illahi terasa betul dalam hati. Kaum ibu saai ini sudah dapat dipanggil nenek. Secara fisik kaum "wanita" pada usia ini terjadi gejolak jiwa agak serius. Bagi jiwa yang terpimpin oleh agama, mulai tekun beribadahnya.

h. Masa tua.
Masa menurun tadi berakhir sampai usia 64 tahun. Bergantilah pada usia tua. Dari sebutan nenek meningkat menjadi buyut. Umur tua ini berjalan antara 65 - 75 tahun. Masa ini penuh keluhan dan penderitaan. Namun sebaliknya bagi mereka yang ahli ibadah, pada saat ini merupakan waktu paling indah. Kepala makin merunduk, di kala bangun malam, shalatulail dikerjakan dengan tenang selalu dzikir baik di waktu duduk, berdiri, berbaring maupun berjalan. Gerak geriknya selalu disertai dengan bisikan indah pada Khaliqnya. Pada saat inilah letak manisnya iman.

i. Masa tua bangka.
Masa ini mulai menginjak usia 75 tahun seseorang dikatagorikan usia tua bangka. Kondisi fisik semakin laju menurun, jalan pikiran sudah mulai kurang normal. Unsur-unsur kesadaran mulai pudar, sebaliknya kerinduan terhadap mati semakin ditunggu-tunggu tak ubahnya orang dewasa menunggu datangnya jodoh atau orang hamil tua merindukan lahirnya si janin yang dikandungnya. Ilmu tidak mampu membahagiakan, tumpukan harta tidak ada manfaatnya. Pada usia tua bangka ini kembali tidak tahu apa-apa. Pada usia inilah hidayah Illahiyah sangat dibutuhkan. Bagi orang yang sejak muda tiada memperhatikan hal ini tidak akan mampu pula memperoleh hidayah tadi kecuali yang dikehendaki Allah. Usia panjang sunyi dari iman, tak ubahnya memperpanjang siksa ai alam dunia. Pada usia ini, iman dan ketaatan satu-satunya hal yang bermanfaat. Anak, harta, perhiasan, kedudukan dirasa hanyalah godaan. Iman adalah satu-satunya yang berharga, sebab dapat mengantarkan ke hadirat Illahi dengan penuh arti.

(Sumber: Peranan "Wanita" Dalam Pembangunan Bangsa Menurut Islam, Oleh Drs. H. Jumari Ismanto, dkk.).



Minggu, 27 Juni 2010

"WISATA TIRTA --- PEMANDIAN, AIR TERJUN DAN WADUK DI YOGYAKARTA"

"Yogyakarta memang kota wisata yang sangat beraneka ragam jenisnya. Wisata Tirta pun juga tersedia , yaitu "Pemandian" dan "Air Terjun" serta "Waduk" banyak dikunjungi oleh wisatawan."



"Pemandian" di Yogyakarta yang dapat dikunjungi antara lain adalah:


1. "PEMANDIAN" PENGGING.

Lokasi "Pemandian" Umbul Pengging ini di Desa Dukuh Kecamatan Banyudono. Pada jaman dahulu hanya digunakan mandi untuk Raja-raja dan kerabatnya dari Kasunanan Surakarta. Sekarang sering digunakan Ritual Kungkum para peziarah terutama pada malam Jum'at.


2. "PEMANDIAN" "AIR" PANAS KRAKAL.

"Pemandian" "Air" Panas Krakal ini adalah obyek wisata alami yang berupa mata "air" panas yang bukan pada kawasan vulkano, yaitu di Krakal. "Air" panas dengan suhu 39 derajat Celsius - 42 derajat Celsius, 86 derajat Fahrenheit - 104 derajat Fahrenheit, mengandung sulfur. Digunakan oleh masyarakat untuk mandi kebugaran dan penyembuhan berbagai penyakit kulit dan reumatik.


3. SUMBER "AIR" INGAS.

Sumber "Air" Ingas merupakan obyek wisata dengan kawasan kurang lebih 10 Ha yang terbentang luas di sepanjang pinggiran Kalipusur dengan suasana panorama alamnya yang sejuk dan indah serta rindangnya pepohonan yang besar sangat cocok untuk kegiatan olah raga out bond, training serta microhidro.


4. "PEMANDIAN" JOLOTUNDO.

"Pemandian" Jolotundo ini berlokasi di Desa Jambeyan Kecamatan Karanganom kurang lebih 8 km arah Utara Kota Klaten. Pada jaman dahulu, konon ada seorang Demang yang mempunyai seorang putri bernama Roro Amis, mempunyai penyakit kulit yang berbau amis yang suka berenang dan akhirnya jatuh ke umbul, kakinya tertusuk keong kecil kemudian sakitnya sembuh.


5. "PEMANDIAN" CLERENG.

"Pemandian" ini mata "air"nya dipercaya membuat awet muda, bertuah keselamatan, keberhasilan dan ketentraman. Dekat mata "air" ini terdapat petilasan Sunan Kalijaga dan makam Kyai Pakujati. Perjalanan Yogyakarta - Wates - Clereng sekitar 30 km ke arah Utara.


6. "PEMANDIAN" CANDI UMBUL.

"Pemandian" ini berlokasi di Dusun Candi Umbul Desa Kartoharjo Kecamatan Grabag. "Pemandian" ini merupakan obyek wisata peninggalan Dinasti Syailendra. Sampai saat ini masih dipercaya dapat membuat seseorang tambah cantik apabila berendam di tempat tersebut, karena "air"nya mengandung zat Saprophyl.


7. KOLAM RENANG ARTA TIRTA.

Kolam renang dengan lintasan standart Olimpiade terletak di kaki bukit Geger Menjangan. Menawarkan wisata olah raga, berlokasi di jalan Magelang Kabupaten Purworejo, dari kota Purworejo 1 km arah Utara.


8. TAMAN REKREASI PIKATAN INDAH.

Kawasan Pikatan Indah Temanggung cukup strstegis sebagai tempat rekreasi. Jarak tempuh dari kota Temanggung hanya 4 km ke arah Selatan. Suasana yang sejuk, tenang dengan panorama alam yang memikat membuat wisatawan dapat berekreasi dengan santai dan nyaman. Kolam renang Pikatan Indah dengan "air" yang jernih, bersih dan alami, membuat wisatawan semakin terpesona.


9. TAMAN REKREASI KARTINI.

Taman Kartini dengan obyek utama Kolam Renang Tirto Asri terletak bagian Timur kota Temanggung. Suasananya cukup menyenangkan didukung fasilitas seperti kolam renang, rumah makan, pujasera, arena bermain anak serta tempat wisata olah raga seperti Tennis, Bola Basket, Volly dan Sepak Bola. Kawasan ini menjadi pusat hiburan masyarakat secara periodik diselenggarakan pentas hiburan, Gebyar Pekan Syawalan juga diselenggarakan selama 7 hari dalam rangka perayaan Idul Fitri dimulai hari kedua. Kawasan ini juga merupakan tempat singgah yang nyaman bagi mereka yang melakukan perjalanan, baik angkutan umum, travel antar kota maupun pribadi.


10. JUMPRIT - "AIR" SUCI WAISAK.

Jumprit merupakan obyek wisata mata "air" dan spiritual dengan panorama alam pegunungan dan bumi perkemahan berhawa sejuk. Lokasinya cukup strategis di sebelah Barat Kecamatan Ngadirejo sekitar 26 km dari kota Temanggung. Dapat dikemas dalam perjalanan Borobudur - Dieng. "Air" Jumprit juga digunakan sebagai "Air" Berkah untuk upacara Tri Suci Waisak setiap tahunnya. Obyek wisata ini erat hubungannya dengan legenda Kyai Nujum Majapahit. Di dekat mata "air" peziarah melakukan meditasi dilanjutkan dengan mandi kungkum, membuang celana dalam dan BH sebagai perlambang membuang sial, Di daerah sekitar juga terdapat fauna kera yang ramah dengan pengunjung.


11. KALIANGET.

"Pemandian" "air" panas alami yang mengandung kadar asam sulfat cukup tinggi. Berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. "Pemandian" Kalianget ini berlokasi di jalan Dieng Km 3 ke arah Utara dari Kota Wonosobo. Fasilitas rekreasi dan olah raga yang dimiliki adalah Lapangan Tennis, Gelanggang Renang dan Arena bermain anak-anak.


12. GELANGGANG RENANG MANGLI.

"Pemandian" alami dengan "air" berlimpah dan jernih. Berlokasi di Kelurahan Kejiwan 1 km sebelah Barat Kota Wonosobo.


13. TAMANSARI.

Tamansari berlokasi sekitar 1 km sebelah Selatan Keraton Yogyakarta. Tamansari adalah sebuah kompleks taman yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana I dan dipergunakan sebagai tempat rekreasi Sultan dan Keluarganya sampai masa Pemerintahan Sultan Hamengku Buwana III. Tamansari memiliki banyak fasilitas diantaranya kolam "pemandian", laut dan pulau buatan, masjid terapung, dan pelabuhan buatan. Saat ini fassilitas tersebut hanya tinggal reruntuhan.


14. TAMAN RIA BALEKAMBANG.

Lokasi tempat rekreasi keluarga ini di tengah Kota Tawangmangu dengan luas areal 3,5 Ha. Taman Ria ini memiliki fasilitas wisata antara lain Kolam renang, lapangan tennis, arena bermain, menara pandang, gedung pertemuan, galeri lukisan dan kerajinan, warung makan serta pusat penjualan buah dan sayuran.


15. SAPTA TIRTA PABLENGAN.

Sapta Tirta Pablengan ini merupakan "pemandian" bersejarah peninggalan masa kerajaan Mangkunegaran. Bangunan yang paling sakral adalah "pemandian" terbuka yang bernama 'Keputren' (tempat mandi para putri) yang memiliki 6 kamar ternuka. "Pemandian " Sapta Tirta Pablengan ini ramai dikunjungi peziarah yang akan melakukan hajat tradisi ke makam Raja-raja maupun tempat petilasan leluhur di gunung Lawu. Keajaiban yang ada yakni 7 sumber mata "air" yang letaknya sangat berdekatan tetapi memiliki cita rasa dan manfaat yang berbeda. Ketujuh sumber mata "air" ini adalah:

a. Sumber "air" Bleng ("air"nya untuk pembuatan karak);
b. Hangat (dapat mengobati penyakit kulit);
c. Hidup ("air"nya bergolak untuk membasuh muka agar awet muda);
d. Mati ("air"nya tidak berkurang dan tidak pernah berlebih);
e. Soda (cita rasa "air" soda alami);
f. Urus-urus ("air"nya apabila diminum dapat mengakibatkan diare); dan
g. Kesaktian ("air"nya dipercaya dapat membuat kebal terhadap senjata tajam).

Tempat ini memiliki fasilitas area parkir, pendapa, taman, panggung terbuka, "pemandian" "air" panas, mushola, kios dan gazebo. Tempat ini dapat dijangkau dengan bus jurusan Solo-Matesih.


16. GOA JATIJAJAR.

Di goa ini terdapat diorama yang menceritakan tentang Legenda Raden Kamandaka. Di dalamnya terdapat empat sendang yang diyakini "air"nya dapat membuat awet muda. Kegiatan Cave Diving dapat dilakukan di sendang Jombor. Jarak tempuh dari Gombong 21 km sedangkan dari Kebumen 42 km ke arah Barat Daya.


Selain obyek wisata berupa "pemandian" di atas, di Yogyakarta juga memiliki obyek wisata "Air Terjun" yang memiliki pemandangan yang sangat indah. "Air Terjun" itu antara lain:

1. "AIR TERJUN" KEDUNG KAYANG.

"Air Terjun" ini berlokasi di Jalur Blabak Boyolali dengan ketinggian kurang lebih 40 m di lereng Gunung Merapi. Tepatnya di Desa Wonotelo Kecamatan Sawangan kurang lebih 19 km dari Blabak.


2. "AIR TERJUN" JEKETRO.

"Air Terjun" ini berlokasi di Desa Jeketro Kecamatan Kaligesing sekitar 7 km arah Timur dari Kota Purworejo. "Air"nya jernih dengan hembusan angin bagai salju dan panorama alami dengan udara yang sejuk membuat para wisatawan kerasan, santai dan nyaman.


3. CURUG SURODIPO.

Curug Surodipo ini merupakan potensi obyek wisata "air terjun" yang masih perawan dan alami. "Air terjun" ini menjadi saksi bisu kilasan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro ketika membuat strstegi gerilya melawan Belanda. Namanya Curug Surodipo dikenal pula dengan sebutan Curug Trocoh. Lokasi Curug ini di Desa Tawangsari Kecamatan Wonoboyo berjarak 30 km arah Timur Laut dari Kota Temanggung. Untuk mencapai lokasi ini membutuhkan tenaga ekstra sebab harus melewati bebukitan di ladang penduduk. Kawasan ini berhawa sejuk dengan panorama alam pedesaan dan suasana mengesankan dengan hembusan angin bukit. Curug Surodipo memiliki keistimewaan, yaitu ada 5 terjunan bertingkat. Di sekitarnya terdapat bebatuan alam tempat bersantai menikmati indahnya "air terjun" yang terjal tersebut.


4. CURUG LAWE.

Curug Lawe ini berlokasi di Desa Muncar Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung. Sekitar Curug Lawe ini memiliki panorama alam yang sangat memikat. Perjalanan menuju lokasi ini cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari Kota Temanggung ke arah Utara. Jatuhnya "air" dari tebing curam itu bagaikan benang-benang putih yang dalam bahasa Jawa disebut 'Lawe'. Apabila sedang musim, di sekitar obyek wisata ini juga ada tanaman buah alam yang dikenal dengan nama buah 'Cendul' dapat dipetik secara gratis sebagai pelepas dahaga. Kendaraan dapat diparkir dititipkan di halaman rumah penduduk, kemudian berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi. Bagi yang suka petualangan maka obyek wisata ini cukup menarik. Di dekat grojogan curug juga ada mata "air" yang dapat dimanfaatkan untuk obat sakit kulit.


5. "AIR TERJUN" JUMOG.

"Air Terjun" Jumog ini setinggi 40 m berlokasi di sebelah Selatan Candi Sukuh Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso. Obyek wisata ini termasuk relatif baru, memiliki panorama alam yang sangat indah. Obyek wisata ini memiliki fasilitas antara lain arena permainan anak lengkap dengan kolam renang, gazebo, rest area, rumah makan dan panggung hiburan. Terdapat akomodasi sebuah cottage dan beberapa home stay. Untuk mencapai obyek wisata Jumog ini dapat ditempuh dengan bus jurusan Solo - Karangpandan, dilanjutkan dengan angkutan lokal.


6. "AIR TERJUN" GROJOGAN SEWU.

"Air Terjun" Grojogan Sewu ini merupakan "Air Terjun" tertinggi dan tertua di Jwa. "Air Terjun" ini berlokasi di Tawangmangu kurang lebih 44 km Timur Kota Solo, terletak di tengah hutan lindung yang sangat luas dan sejuk lengkap dengan fasilitas wisata seperti kolam renang, taman rekreasi, arena perkemahan, warung makan, dan kios souvenir. Untuk mencapai lokasi "air terjun" harus melalui jalan setapak di sela-sela hutan yang dihuni satwa kera. Tempat ini memiliki fasilitas akomodasi hotel berbintang maupun melati, pondok wisata serta sejumlah restaurant, pusat cinderamata, pusat buah dan sayuran produk daerah. Bagi wisatawan yang senang berpetualang dapat menikmati kawasan Wisata Tawangmangu lainnya dengan berkuda. Untuk mencapai obyek wisata Tawangmangu dapat ditempuh dengan bus reguler Solo - Tawangmangu, diteruskan dengan angkutan wisata lokal.


Disamping wisata "air" "pemandian" dan "air terjun", Yogyakarta juga memiliki obyek wisata "waduk" yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa "waduk" itu antara lain:

1. "WADUK" BADE.

"Waduk" Bade ini berlokasi di Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali. "Waduk" ini sebagai sarana irigasi bagi pertanian di sekitar "waduk" dan perikanan bagi masyarakat sekitar dengan panorama pedesaan yang indah dan menjanjikan kesejukan suasana dari obyek wisata ini. Tempat ini tersedia fasilitas Rumah Makan Lesehan Wisata "Air" Pancingan.


2. "WADUK" CENGKLIK.

"Waduk" Cengklik ini berlokasi di Desa Ngangorejo Kecamatan Ngemplak sekitar 20 km ke arah Timur Laut Kota Boyolali. "Waduk" ini dibangun pada jaman Belanda, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama Haji Donohudan, Monumen POPDA dan Lapangan Golf. Tempat ini memiliki fasilitas berupa Wisata "Air" Pemancingan, Rumah Makan Lesehan.


3. "WADUK" KEDUNGOMBO.

Lokasi "waduk" Kedungombo ini di Desa Wonoharjo Kecamatan Kemusu sekitar 50 km ke arah Utara Kota Boyolali. Lokasi ini juga merupakan arena rekreasi hutan dan "air" yang nyaman. Fasilitas yang ada antara lain Bumi Perkemahan, Hutan Wisata, Tempat Pemancingan, Rumah Makan Apung dan Wisata "Air".


4. "WADUK" WADAS LINTANG DAN SEMPOR.

"Waduk" Wadas Lintang dan Sempor ini merupakan "waduk" buatan untuk sarana pertanian, yang dimanfaatkan pula untuk olah raga "air", memancing dan usaha perikanan. Lokasi "waduk" Wadas Lintang ini sekitar 35 km Timur Laut Kebumen. Sedangkan "Waduk" Sempor berlokasi di Kecamatan Sempor sekitar 5 km sebelah Utara Kota Gombong. Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen sangat mengharapkan masuknya investor yang mau membangun Usaha Kepariwisataan di sekitar kedua "waduk" tersebut.


5. JOMBOR PERMAI.

Suasana pemandangan "waduk" yang dilatar belakangi Pegunungan Kapur. Di lokasi ini banyak Rumah Makan Apung yang menyediakan special Ikan "Air" Tawar, kurang lebih 7 km arah sebelum Kota Klaten di Desa Krakitan Kecamatan Bayat.


Itulah tadi Wisata Tirta("Air") yang terdiri dari "Pemandian", "Air Terjun" dan "Waduk" yang ada di Yogyakarta yang dapat kita kunjungi kalu kita berwisata ke Kota Yogyakarta.

Sabtu, 26 Juni 2010

"PERAN WANITA SEBAGAI ANGGOTA MASYARAKAT --- MENURUT KONSEPSI ISLAM"

"Menghinakan kaum "wanita" adalah berarti menghina ibunya sendiri, namun apabila hal itu disebabkan oleh kaum "wanita"nya sendiri itu adalah suatu kewajaran."



Layaknya kaum laki-laki, maka kaum "wanita" tidak lepas dari kehidupan ber"masyarakat". "Wanita" mempunyai hak penghargaan dan sebaliknya. "Wanita" mempunyai hak yang sama dalam lapangan pekerjaan, hukum, sosial dan pendidikan.


Dalam ber"masyarakat" ada beberapa ketentuan, antara lain:

1. Dilarang meremehkan pihak lain.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalan firman Allah dalam Surat Al-Hujarat Ayat 11, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olokkan kaum lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan, dan jangan pula "wanita" (mengolok-olokkan) "wanita"-"wanita" lain (karena) boleh jadi "wanita"-"wanita" (yang digolok-olokkan) lebih baik dari "wanita" (yang mengolok-olokkan)."


2. Kaum "wanita" harus lebih memperhatikan anak putrinya.

Anak putri merupakan calon ibu, banyak resiko apabila salah arah dan sikapnya. Sudah sewajarnyalah ia lebih mendapat perhatian. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Bukhari Muslim, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa mendapat cobaan dengan lahirnya anak-anak perempuan ("wanita"), maka merlakukan baik kepadanya, maka mereka ini besok hari kiamat menjadi benteng (tutup) dari api neraka."


3. "Wanita" Islam sebaiknya menginditifir sikap bidadari di surga.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Ar-Rahman Ayat 56, yang artinya:

"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin."

Berusaha menjadikan dirinya memiliki sikap malu, wirang adalah pangkal harga diri bagi "wanita" itu sendiri di dalam "masyarakat". Menghinakan kaum "wanita" adalah berarti menghina ibunya sendiri, namun apabila hal itu disebabkan oleh kaum "wanita"nya sendiri itu adalah suatu kewajaran.


4. "Wanita" harus lebih banyak memahami ajaran agama.

"Wanita"' Anshar menurut Rasulullah SAW adalah paling utama, disebabkan mereka ini tidak malu-malu bertanya masalah agama. Apapun yang belum paham diutarakannya kepada Rasulnya. Pada saat sekarang ini tempat kita bertanya adalah para ulama.


5. "Wanita" dengan amal sosial.

Dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imam Turmudzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Hai Aisyah, janganlah kamu menolak permintaan orang miskin, walaupun dengan separuh butir, hendaknya kamu beri hati Aisyah. Cintailah orang-orang miskin itu dan dekatilah kepada mereka, kamu akan dekat kepada rahmat Allah kelak di hari kiamat."


6. "Wanita" wajib menjaga diri dari penjajahan dari dalam dan luar negeri. Karena satu ciri orang fasik adalah mereka merusak martabat "wanita" dan keturunannya.

"Wanita" sekaligus sebagai ibu harus prihatin apabila tanah air yang dicintainya dijadikan ajang berbuat dosa durhaka kepada Allah SWT. Praktek asusila mengotori ibu pertiwi, dan menjauhkan keberkahan dalam kehidupan. Bahkan tindak kekerasan, penodongan dan sebagainya banyak berasal dari masalah-masalah tadi.

(Sumber: Peranan "Wanita" Dalam Pembangunan Bangsa Menurut Islam, Oleh Drs. H. Jumari Ismanto, dkk.).


Peranan "wanita" dalam "masyarakat" tidak dapat dipungkiri. Dalam segala bidang kehidupan, "wanita" ikut berperan, bahkan dalam segala hal, peranan "wanita" lebih menentukan dari pada laki-laki.




MusicPlaylistView Profile