Sabtu, 04 Januari 2014

ORANG YANG MEMPEROLEH PERLINDUNGAN DARI ALLAH SWT."

"Sebagai muslim yang baik, kita tidak hanya percaya akan adanya kehidupan akhirat, sebagai konsekuensinya, kitapun harus mempersiapkan diri dalam kehidupan di dunia ini agar mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat nanti, salah satunya adalah untuk memperoleh "perlindungan" dari "Allah SWT." yang pada saat itu hanya "perlindungan"-Nya yang harus kita dapatkan".



Namun, "Allah SWT." ternyata tidak memberikan "perlindungan" kepada setiap orang, hanya orang-orang tertentu yang akan mendapat "perlindungan"-Nya.  Dalam suatu hadits, Rasulullah mengemukakan orang-orang yang akan mendapatkan "perlindungan"-Nya: 

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuhkelompok yang akan mendapat "perlindungan Allah" pada hari yang tiada "perlindungan" kecuali "perlindungan"-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada "Allah SWT.", seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena "Allah SWT.", yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena "Allah SWT.", seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada "Allah SWT.", seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada "Allah SWT." di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata". (H.R.Bukhary - Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang akan mendapatkan "perlindungan Allah SWT.", yaitu:

1. PEMIMPIN YANG ADIL. Menjadi pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas, kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau aharam. Sebaliknya, kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah, untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah,. Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi "perlindungan" di akhirat kelak.

2.ANAK YANG SHALEH. Masa muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, "Allah SWT." akan memberikan "perlindungan"-Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang "Allah SWT." berikan kepada anak-anak muda yang shaleh.

3.ORANG YANG HATINYA TERIKAT PADA MASJID. Kalimat "seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid" seperti yang disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.

4.BERSAHABAT KARENA "ALLAH". Poin ini terambil dari kalimat "dua orang yang saling mencintai karena "Allah SWT.", yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah". Bersahabat karena "Allah SWT.", maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta, kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata karena "Allah SWT.". Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena "Allah SWT.".

5.MAMPU MENGHADAPI GODAAN LAWAN JENIS. "Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada "Allah SWT." Kalimat ini menggambarkan bahwa kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan "perlindungan Allah" di hari kiamat. Di sini digambarkan seorang laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada "Allah SWT." Jadi, rasa takut kepada "Allah SWT."lah yang menjadi benteng laki-laki tersebut, sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Disini diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda laki-laki.

6.IKHLAS DALAM BERAMAL KEBAIKAN. "Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya." Ini gambaran keikhlasan dalam beramal. Saking ikhlasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun tidak tahu apa yang diinfaqkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama kita dipampang di koran? Boleh saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena "Allah SWT.", bukan karena cari popularitas. Perhatikan ayat berikut, " Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan "Allah SWT." akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan "Allah SWT." mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Baqarah 2: 271)

Oleh karena itu, bila beramal yang shaleh, maka seorang muslim harus melakukannya dengan keikhlasan yang memang amat ditekankan di dalam Islam sehingga orang yang ikhlas akan mendapatkan perlindungan dari "Allah SWT."


7.DZIKIR KEPADA "ALLAH" DENGAN KHUSYUK. "Seseorang berdzikir kepada "Allah SWT." di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata." Dzikir artinya mengingat "Allah SWT.". Kalau seseorang berdo'a dengan khusyuk hingga tak terasa air mata menetes karena sangat nikmat berdzikir dan munajat kepada-Nya, maka "Allah SWT." akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak.

Semoga "Allah SWT." senantiasa memberi kekuatan supaya kita bisa menjadi orang-orang yang mendapat pertolongan dan "perlindungan"-Nya.  Bagaimana caranya? Kerjakanlah tujuh poin di atas!  
Wallahu A'lam.

Sumber:
1. iinparlina.wordpress.com/.../orang-yang-dilindungi-allah-oleh-aam-amir...
2. https://id-id.facebook.com/note.php?note_id=10150147050510337
3. kuatangantangan.wordpress.com/artikel/.../tujuh-golongan-yang-dilindu...
4. laely.widjajati.photos.facebook/Moga-hari-ini-lebih-indah-dari-kemarin...
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-1....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-2....

"MATI ITU INDAH"

"Hidup dan "mati" adalah dua peristiwa yang berlawanan dan datang silih berganti". 



Dalam al-Qur’an disebutkan siklus hidup "mati" seseorang ada empat tahap yaitu, "mati", hidup, di"mati"kan dan dihidupkan kembali. Ini adalah siklus umum, meski ada yang tidak mengalami kehidupan normal seperti prematur atau bayi yang "mati" dalam kandungan. 

Ke"mati"an pertama adalah ketidakadaan atau sebelum manusia terlahir di dunia ini. Semua mahluk bermula dari tidak ada dan memang tidak ada sebelumnya. Kemudian melalui proses pernikahan ibu dan bapak maka terlahirlah kita sebagai manusia.

Ada kisah seorang anak yang protes kepada orang tuanya, saat melihat orang tuanya berfoto di tempat rekreasi tanpa ada dia di tengah-tengahnya.
“Kenapa saya tidak diajak rekreasi di tempat itu?” tanya anak.
“Itu foto saat ayah dan ibu masih pengantin baru dan adik belum ada” Jawab ayahnya.
“Lho, koq belum ada, memangnya saya di mana?”
“Iya belum ada dan masih di perut ibu”.
Ibunya mengelaknya, “Ayah, waktu itu ibu belum hamil, kan baru sehari menikah dan belum bulan madu. Mungkin di perut ayah?”
“Ah, tidak mungkinlah di perut ayah!”
“Atau di perut nenek?” Tanya ibunya.
Ayahnya menjawab, “Iya ndaklah, kan dia terlahir dari perut ibu. Mungkin masih di langit??”

Anaknya tambah bingung ayah ibunya berdebat tentang keberadaan dia dulu. Ini adalah gambaran bahwa memang manusia itu asalnya tidak ada kemudian dilahirkan di dunia ini menjadi hidup dan ada.
Kemudian hidup di dunia ini juga bukan akhir dari segalanya. Artinya ada batas waktu yang g ditentukan menurut taqdir yang sudah ditulis Allah. Logikanya kalau manusia ini dihidupkan terus maka sudah lama dunia ini penuh dan tidak muat menampung manusia.

Jadi ke"mati"an adalah kepastian. Hidup di dunia ini sebenarnya untuk bersiap-siap "mati". Walaupun belum diketahui kapan, dimana dan bagaimana caranya kita akan "mati". Hidup untuk "mati" adalah kata singkatnya.

Sungguh dua kelompok manusia yang akan merasakan kerugian besar yaitu yang merasa kekal di dunia ini atau merasa ke"mati"an adalah ke"mati"an. Dua kelompok ini dominan ada di sebagian besar manusia yang beriman setengah dan kafir dengan adanya Allah SWT.

Kelompok pertama, yang merasa kekal di dunia. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengekalkan dirinya yaitu dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, merebut kekuasaan, menjaga keamanan dirinya dengan bodyguard, dokter dan pengawal pribadi yang berlapis dari masalah makan, tidur dan safty-safty yang lain. Seolah malaikat sudah tidak bisa lagi bisa menembus benteng keamanannya. Konskwensinya mereka benci dengan cerita-cerita ke"mati"an dan tidak peduli dengan urusan ke"mati"an sehingga cenderung menjadi manusia dikator atau arogan.

Kelompok kedua, mereka percaya ke"mati"an tapi ke"mati"an adalah akhir dari segalanya. Sebagaimana "mati"nya ayam, sapi, kambing dan hewan-hewan yang lain. Artinya tidak ada lagi kehidupan apalagi pertanggungjawaban atas amal dan perbuatan yang dilakukan selama di dunia ini. Sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia tanpa ada ketakutan tentang dosa dan neraka. Inilah lahirnya pemahaman materialistik yang melahirkan banyak isme-isme yang merusak tatanan kehidupan dunia.
Jika tidak ada kehidupan abadi dengan pertanggungjawaban. Maka sungguh beruntung orang-orang yang selama ini bebas penjara, tidak pernah dihukum selama di dunia karena pengadilan dan hakim bisa dibeli, penjara juga di bawah kendalinya, jual beli perkara menjadi hobbi. Koq setelah "mati" selesai urusan. Tentu Allah dan kehidupan ini adil.

Ada kehidupan abadi yang "indah" harus dijalani manusia. Ada malaikat sebagai saksi yang tidak bisa disuap dan dibeli. Ada hukuman neraka yang pasti dan tidak bisa ditawar lagi. Pengadilan oleh dzat yang maha Adil untuk menimbang dan menakar amal perbuatan selama di dunia.  "Indah"nya ke"mati"an karena mengantar ke surga yang penuh dengan nikmat - nikmat luar biasa



Tidak Percaya bahwa "mati" itu "indah"..?
Hampir setiap malam Manusia diberikan kenikmatan
"mati" ketika Istirahat malam,.
Mereka tidak sadar ketika tidur, akan tetapi banyak Orang yang trauma akan ke
"mati"an yang sebenarnya...

Oleh sebab itu , sebelum mengalami Ke
"mati"an yang sebenarnya , sebaiknya memohon ampunan ,memperbanyak mendekatkan diri juga amal Sholeh selain Shalat...

Jangan hanya berpikir masalah Jodoh , Rizky dan maut..
(berpikir tentang kebahagiaan dan kesenangan Dunia saja, seperti berat ditinggal seseorang , keinginan yang tidak terwujud , Kecewa , Putus asa dan lainnya)

Karena jika hal ini sampai membuat seseorang terlena , maka dirinya akan menghadap kepada Allah ta'ala dalam keadaan yang merugi serta penyesalan seterusnya

Sesuai dengan firman Allah ta'ala:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya
"mati", lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu di"mati"kan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [QS Al Baqarah 2:28].

"Mati" juga dapat dianalogikan seperti pulang. Mudah saja kita membayangkan saat kita selesai bekerja atau sudah lama tidak berjumpa dengan keluarga anak-anak dan istri kita, betapa "indah" dan menyenangkannya pulang menjumpai mereka dan kembali merasakan kebahagian dan kehangatan bersama mereka. Ada penyemangat bagi kita sehingga saat kita akan pulang selalu ada alasan rindu kepada mereka.

Karena pulang, maka tidak lengkap kalau kita tidak membawa oleh-oleh sebagai bukti bahwa kita pernah pergi meninggalkan keluarga. Maka demikian juga,
"mati" akan menjadi soal serius kalau kita tidak membawa oleh-oleh berupa amal kebaikan yang menjadi wasilah bagi Allah untuk menurunkan rahmat dan ridha-Nya sehingga pulangnya kita menuju Allah benar-benar menjadi sesuatu yang membahagiakan. Karenanya, bekal yang harus kita persiapkan menuju "pulang yang hakiki" itu adalah taqwa.

Dalam QS. Almulk :2, Allah menjelaskan pada kita bahwa ke"mati"an dan kehidupan itu merupakan wahana ujian bagi kita untuk melihat kualitas ihsan kita dalam beramal. Rupanya kata ihsan yang dipilih Allah dalam mengukur kualitas kehidupan kita sebelum "mati". Memang ada orang yang tidak berbuat sesuatu setalah dia mendapatkan perlakukan baik dari orang lain. Ada juga yang berbuat sesuatu sebatas membalas jasa bahwa dia pernah diperlakukan baik dengan orang lain, namun ada juga orang yang tidak pernah tidak berbuat baik kepada orang lain, baik ia pernah berbuat baik kepadanya ataupun tidak karena motivasi berbuatnya melebihi dari sekedar sisi kemanusiaan. Tipe yang terakhir inilah yang termasuk kedalam kualitas ihsan.

Berbuat ihsan kepada orang lain mestinya diimplementasikan oleh kita karena Allah juga memperlakukan ihsan kepada kita. Allah senantiasa memberikan kebaikan kepada kita meskipun diantara kita tidak tahu berterima kasih atas semua kebaikan itu. Maka wajar jika Dia menyatakan bahwa yang terbaik diantara kita adalah yang kualitas amalnya paling ihsan.
 

"Mati" itu ibarat pintu yang setiap orang akan memasukinya. Tidak usah terlalu takut "mati" karena "mati" mau atau tidak mau, siap atau tidak siap tetap akan menjemput kita. Sama halnya juga kita tidak usah terlalu berani "mati", karena apapun usahanya menuju "mati" kalau saatnya belum tiba tak akan berhasil. Bukan takut atau beraninya yang penting tapi persiapan dan bekal menuju "mati"lah yang setiap insan mesti memikirkannya. Karenanya penting bagi kita memahami pernyataan Agama tentang semua yang berkaitan dengan ke"mati"an.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan satu hadits Nabi yang shahih dan sangat masyhur yaitu bahwa, "orang yang
"mati" akan terputus amalnya kecuali 3 hal:  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. 

Hadits diatas memang sudah kita ma'lum. Namun dalam tulisan ini patut kiranya diungkap juga dari sisi kebahasaannya karena terkait dengan makna yang dikandung. 


Pertama, kata "Ibnu Adam" yang sering diartikan manusia. Pertanyaannya adalah yang disebut ibnu Adam atau manusia itu berarti mencakup juga non-Muslim bahkan hingga yang kafir, karena bagaimanapun semua manusia berasal dariNya. Yang bisa diterangkan dari sisi kebahasaannya adalah bahwa kata "ibnu" merupakan isim nakirah (bersifat luas dan umum) digabung dengan kata "Adam" yang merupakan isim makrifat (bersifat khusus dan terbatas) sehingga dalam kaidah kebahasaan bahwa jika isim nakirah diidhafahkan -disandarkan- pada isim makrifat maka kata tersebut terhukumi makrifat atau bersifat khusus. Oleh karena itu, penyebutan ibnu Adam merujuk kepada keturunan nabi Adam yang muslim dan beriman.

Kedua, penyebutan kata shadaqah juga menggunakan bentuk isim nakirah sehingga shadaqah yang dimaksud tidak hanya tertentu kepada uang yang dishadaqahkan itu. Bukankah tersenyum kepada orang lain adalah shadaqah, bukankah membuang duri yang bisa menghalangi jalannya seseorang juga bisa menjadi shadaqah bahkan kesombongan yang dicounter dengan kesombongan pula dengan tujuan mengobati kesombongan pertama juga bisa menjadi shadaqah. Walhasil banyak ragam shadaqah yang bisa kita sumbangsihkan demi membina dan mengejawantahkan sifat jujur dengan bersedakah itu, karena sesuai dengan dasar kata shadaqah itu yang seakar dengan kata shidiq yang berarti kejujuran.

Ketiga, kata ilmu pada hadits tersebut juga menggunakan isim nakirah. Itu berarti tidak hanya tertuju pada jenis ilmu tertentu tapi mencakup semua ilmu yang tentu saja kita sepakati bahwa ilmu itu bisa membawa manfaat bagi banyak hal dan siapapun. Memang dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa orang yang menunjukkan pada seseorang tentang suatu kebaikan maka ia seolah orang yang melakukan kebaikan itu. Dalam keadaan seseorang tidak memiliki harta untuk disedekahkan maka dengan ilmu yang dia miliki menjadi "harta" juga yang ia bisa sedekahkan atau ajarkan karena zakatnya ilmu adalah mengajarkannya.

Keempat, dalam hadits yang sama lagi-lagi penyebutan kata "walad" yang berarti anak menggunakan isim nakirah sehingga asumsinya adalah tidak hanya terbatas pada anak kandung saja yang bisa mendoakan orang tuanya namun orang lainpun yang bisa disebut anak bisa mendoakannya. Anak memang secara faktanya terbagi menjadi dua. Ada anak hakiki yaitu yang benar-benar terlahir dari orang tuanya atau anak kita sendiri dan ada juga anak ghairu hakiki yang bukan terlahir dari kita namun sudah kita anggap menjadi anak. Bukankah siswa atau santri yang belajar pada kita misalnya bisa kita anggap anak. Bukankah anak-anak yatim yang kita urus juga bisa kita anggap anak. Bukankah ada anak angkat atau anak orang lain yang kita nafkahi juga bisa disebut anak. Walhasil mereka adalah aset bagi kita untuk mendulang keikhlasan doanya kelak saat kita telah pulang menghadap-Nya.

Kelima, masih terkait dengan doa anak-anak yang shaleh, redaksi hadits tersebut menggunakan kata "yad'u" -selalu berdo'a- yang merupakan fiil mdhari'. penggunaan fiil mudhari' memiliki makna kontinyuitas sehingga doa anak-anak yang shaleh itu bukannya hanya diberikan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat belas, keseratus apalagi keseribu hari setelah meninggalnya saja, tapi diharapkan doa itu berkelanjutan terus kapanpun dipanjatkan yang tiada henti-hentinya. Inilah harapan bagi orang tua yang memilki anak shaleh yang selalu dan senantiasa mendoakannya agar senantiasa diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima segala amal ibadahnya dan Allah meridhainya dengan menurunkan rahmat kepadanya sehingga ia ditempatkan yang layak di sisi-Nya.


Inilah beberapa pengecualian terkait dengan amal yang senantiasa mengalir pahalanya, di saat Allah SWT. menyatakan bahwa untuk manusia tak lain hanyalah amal yang diusahakannya. Artinya bahwa pada saat manusia meninggal maka yang dianggap adalah hanya yang ia pernah lakukan dan usahakan saat hidup. Ini juga sekaligus menjadi penegas bahwa usaha dan amal apapun dengan dalih mentransfer pahalanya bagi orang yang sudah meninggal tidak diperkenankan karena memang kesempatan orang yang meninggal itu sudah habis. Hanya saja, yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup untuk orang yang telah "mati" adalah mendoakannya, memohonkannya ampun, memohonkannya agar Allah menghapus segala dosa dan kesalahannya, memohonkannya agar diberikan rahmat sehingga Allah -dengan penuh harap dari kita- akan memberikan kebahagiaan untuknya.

Sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa menjaga dan membawa diri ini untuk selalu istiqamah berada di jalan-Nya bukan sebuah perkara mudah namun perlu perjuangan untuk mempertahankannya. Tidak hanya itu, tuntutan untuk tidak melakukan sesuatu yang tdak benarpun sedemikian kuat sehingga yang dikerjakan oleh diri kita adalah hanya kebaikan atau fitrah yang telah Allah tentukan. Harapanya perbuatan baik itulah yang akan menjadi bekal bagi kita untuk menjumpai sang Khaliq yang telah menciptakan dan akan mengembalikan kita semua hanya kepada-Nya. 

Wallahua'lam Bishshawab...

Sumber:
1. sosbud.kompasiana.com/.../mati-ternyata-indah-lho-5...
2. bimo.septiadi.facebook/mati-itu-indah....
3. rijalalrebell.blogspot.com/.../mati-itu-pulang-pulang-itu-indah...
4. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-1....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-2....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-3....
7. laely.widjajati.photos.facebook/He-he-he-...Senyumnya-manaaaaaa.......

Jumat, 03 Januari 2014

"MENJALANKAN SUNANAH-SUNNAH RASULULLAH SAW. (NABI) DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI"


"Bagaimana caranya dan apa "Sunnah-sunnah Rasullah SAW." yang selalu dilakukan  dalam "kehidupan sehari-hari" yang bisa kita praktekkan?"



"Sunnah-Sunnah Nabi SAW." tersebut diuraikan secara rinci di bawah ini:

1. MENDAHULUKAN KAKI KANAN SAAT MEMAKAI SANDAL DAN KAKI KIRI SAAT MELEPASNYA.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri. Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakai keduanya sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. BERSIWAK (MENGGOSOK GIGI DENGAN KAYU SIWAK).
Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Siwak dapat membersihkan mulut dan sarana untuk mendapatkan ridha Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i)
"Rasulullah SAW." juga bersabda, “Andaikata tidak memberatkan umatku niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Bersiwak disunnahkan setiap saat, tetapi lebih "sunnah" lagi saat hendak berwudhu, shalat, membaca Al-Qur`an, saat bau mulut berubah, baik saat berpuasa ataupun tidak, pagi maupun sore, saat bangun tidur, dan hendak memasuki rumah.
Bersiwak merupakan perbuatan "sunnah" yang hampir tidak pernah dilakukan oleh banyak orang, kecuali yang mendapatkan rahmat dari Allah. Untuk itu, wahai saudaraku, belilah kayu siwak untuk dirimu dan keluargamu sehingga kalian bisa menghidupkan "sunnah" ini kembali dan niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang sangat besar.


3.SHALAT TAHAJUD. 
Semua "Rasul", "Nabi", kekasih Allah (auliya”) dan para ulama salaf tidak meninggalkan shalat tahajud. Ini merupakan ciri orang saleh dan ikhlas. Dalam rangkai sahabat Ali Bin Thalib menyatakan bahwa, salah satu dari obat hati adalah shalat malam dan tahajud.

4. SHALAT ISTIKHARAH.
Diriwayatkan dari Jabir ra. bahwa ia berkata, Rasulullah SAW." mengajarkan kepada kita tata cara shalat istikharah untuk segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat-surat Al-Qur`an kepada kami.” (HR. Al-Bukhari)
Oleh karena itu, lakukanlah shalat ini dan berdoalah dengan doa yang sudah lazim diketahui dalam shalat istikharah.
 

5. MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN TERJEMAHANNYA. 
Membaca (qira-ah) atau tadarus Al-Quran adalah membaca, memahami dan menghayati artinya serta dilanjutkan dengan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Agar kita senantiasa mengkaji dengan serius dan tanpa henti dalam "hidup". Alasannya adalah karena Al-Quran merupakan petunjuk dan sumber mata "kehidupan".


6. MEMAKMURKAN MASJID. 
Masjid adalah sebuah tempat suci bagi orang-orang yang senantiasa mensucikan dirinya secara lahir maupun batin. Masjid merupakan tempat untuk menggembleng pengalaman-pengalaman ruhani/spiritual, mengokohkan iman dan tauhid. Masjid juga sebagai tempat tinggal landas bagi mi’rajnya orang-orang beriman. Dalam artian ini, masjid sebagai tempat menginternalisasikan nilai-nilai Ilahiyah ke dalam dirinya sebagai modal utama dalam "kehidupan", baik secara individu, dalam lingkup rumah tangga, masyarkat dan bangsa bahkan dalam lingkup dunia global.

7. BERWUDHU SEBELUM TIDUR DAN TIDUR DENGAN POSISI MIRING KE KANAN.
Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti hendak shalat, kemudian tidurlah dengan posisi miring ke kanan dan bacalah, ‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku lindungkan punggungku kepada-Mu, karena cinta sekaligus takut kepada-Mu, tiada tempat berlindung mencari keselamatan dari (murka)-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan "Nabi" yang Engkau utus’. Jika engkau meninggal, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Dan usahakanlah doa ini sebagai akhir perkataanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
8. BERBUKA PUASA DENGAN KURMA.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra., ia berkata, Rasulullah SAW." berbuka puasa sebelum shalat maghrib dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada maka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
9.SHALAT DHUHA. 
Shalat dhuha adalah ibadah sunnah yang senantiasa dilakukan "Rasullah SAW." Setiap amal ibadah yang diperintahkan ataupun dianjurkan Allah dan "Rasul"-Nya pasti ada rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Memang kadang kemampuan akal kita tak dapat menjangkau/memahaminya. Tapi yang pasti semuanya itu adalah demi kemasalahatan dan kemanfaatan kita, manusia. Jika kita ingin mengetahui rahasia dan manfaatnya, maka lakukanlah shalat dhuha itu dengan penuh penghayatan dan kekhusu’an. Insya Allah nanti, Allah akan membukakan rahasia itu dan memberikan berlimpah rahmat, berkah dan karunia-Nya dalam "kehidupan" kita. Orang-orang salafush-shaleh pernah bilang “jika kalian menginginkan kebahagiaan di dunia dan akherat kelak, maka lakukan shalat dhuha".

10. SUJUD SYUKUR SAAT MENDAPATKAN NIKMAT ATAU TERHINDAR DARI BENCANA.
Sujud ini hanya sekali dan tidak terikat oleh waktu. Diriwayatkan dari Abu Bakrah ra. ia berkata, “Jika "Rasulullah SAW." mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau disampaikan kabar gembira maka beliau langsung sujud dalam rangka bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

11. TIDAK BEGADANG DAN SEGERA TIDUR SETELAH SELESAI SHALAT ISYA'.
Hal ini berlaku jika tidak ada keperluan saat begadang. Tetapi jika ada keperluan, seperti belajar, mengobati orang sakit dan lain-lain maka itu diperbolehkan. Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa "Rasulullah SAW." tidak suka tidur sebelum shalat isya` dan tidak suka begadang setelah shalat isya`.

12. MENGIKUTI BACAAN MUADZIN.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. bahwa dia mendengar "Rasulullah SAW." bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakan wasilah untukku, karena wasilah merupakan tempat di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap agar akulah yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan wasilah untukku maka ia akan mendapatkan syafaatku (di akhirat kelak).” (HR. Muslim)

13. BERLOMBA-LOMBA UNTUK MENGUMANDANGKAN ADZAN, BERSEGERA MENUJU SHALAT, SERTA BERUPAYA UNTUK MENDAPATKAN SHAF PERTAMA.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Andaikata umat manusia mengetahui pahala di balik adzan dan berdiri pada shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu niscaya mereka membuat undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Andaikata mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh secara berjamaah, niscaya mereka datang meskipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


14. BERSEDEKAH. 
Seorang sudah bisa disebut mukmin yang sebenarnya, jika sudah ersedekah. Carilah rizki dengan dibarengi sedekah. Demikian juga bertaubatlah dengan bersedekah, jika kita sakit juga hendaknya bersedekah. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan dan memerintahkan akan hal ini. Bersedekah merupakan tolok ukur dan cirri dari orang-orang yang beriman, shaleh dan bertakwa.


15. MENJAGA WUDHU.  
Diriwayatkan dari Tsauban ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid ra., bahwa "Rasulullah SAW." berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung secara bersamaan dari satu ciduk air dan itu dilakukan sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

"Nabi SAW.", senantiasa dalam keadaan wudhu, baik dalam waktu dan keadaan apapun oleh karena itu, marilah kita teladani sunnah "Nabi SAW." ini dalam "kehidupan sehari-hari" kita. Usahakan kita agar senantiasa dalam keadaan wudhu. Jangan tinggalkan wudhu. Kalau batal, berwudhulah kembali, kalau batal lagi, berwudhulah kembali tanpa putus dan tanpa keluh kesah. Hal itumerupakan kebutuhan kita sendiri dalam rangka untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalau kita selalu berwudhu insya Allah akan selamat dari ikatan dan kegenitan dunia dan terjaga dari hal-hal yang kotor (kotoran yang bersifat maupun ruhani). Selanjutnya kita terjaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan dari perbuatan-perbuatan dosa dan tercela. Karena wudhu merupakan proses pembersihan badan kita secara silmutan dilanjutkan dalam rangka untuk pembersihan fitrah dan hati atau ruhani kita.


16. ISTIGHFAR.

Kita setiap saat dan dalam segala aktivitas apapun diperintahkan beristiqfar. Ketika kita mau tidur, mau makan dalam melakukan suatu pekerjaan, di jalan, di mobil dan di manapun hendaknya selalu dalam keadaan beristiqfar. Orang kalau kuat istiqfarnya, maka insting dan kecenderungan rahmatnya (berguna dan bisa membahagiakan orang lain atau bahkan makhluk lain) sangat kuat sekali. Ia pun juga menjadi penyanyang, penuh dengan keutamaan-keutamaan, doanya mustajab dan firasatnya tajam (mampu berpikir positif dan menerawang ke depan/berpikir visioner). Orang kalau sudah melakukan tujuh sunnah Rasullullah SAW.”. ini, maka akan muncul pada dirinya sifat-sifat terpuji. Bicaranya dakwah, diamnya zikir, nafasnya tasbih, matanya memancar cahaya rahmat. 


17. MEMINTA IZIN TIGA KALI KETIKA BERTAMU.
Jika tidak mendapatkan izin dari tuan rumah, maka konsekuensinya anda harus pergi. Namun, banyak sekali orang yang marah-marah jika mereka bertamu tanpa ada perjanjian sebelumnya, lalu pemilik rumah tidak mengizinkannya masuk. Mereka tidak bisa memaklumi, mungkin pemilik rumah memiliki uzur sehingga tidak bisa memberi izin. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur: 28)
"Rasulullah SAW." bersabda, “Adab meminta izin itu hanya tiga kali, jika tidak diizinkan maka seseorang harus pulang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

18. MENGIBASKAN SEPRAI SAAT HENDAK TIDUR.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Jika kalian hendak tidur, maka hendaknya dia mengambil ujung seprainya, lalu mengibaskannya dengan membaca basmallah, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di atas kasurnya. Jika dia hendak merebahkan tubuhnya, maka hendaknya dia mengambil posisi tidur miring ke kanan dan membaca, “Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabbku, dengan-Mu aku merebahkan tubuhku, dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan nyawaku, maka ampunkanlah ia, dan jika Engkau melepasnya, maka lindungilah ia dengan perlindungan-Mu kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim)

19. MERUQYAH DIRI DAN KELUARGA.
Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata, Nabi Muhammad SAW." senantiasa meruqyah dirinya dengan doa-doa perlindungan ketika sakit, yaitu pada sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Saat beliau kritis, akulah yang meruqyah beliau dengan doa tersebut, lalu aku mengusapkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri, karena tangan itu penuh berkah.” (HR. Al-Bukhari)

20. BERDO'A SAAT MEMAKAI PAKAIAN BARU.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. ia berkata, Rasulullah SAW." jika mengenakan pakaian baru, maka beliau menamai pakaian itu dengan namanya, baik itu baju, surban, selendang ataupun jubah, kemudian beliau membaca, “Ya Allah, hanya milik-Mu semua pujian itu, Engkau telah memberiku pakaian, maka aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tujuannya dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuannya dibuat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

21. MENGUCAPKAN SALAM KEPADA SEMUA ORANG ISLAM TERMASUK ANAK KECIL.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru ra., ia menceritakan, ”Seorang laki-laki bertanya kepada "Rasulullah SAW.", ‘Apa ciri keislaman seseorang yang paling baik?’ "Rasulullah SAW." menjawab, ‘Kamu memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Anas ra. bahwa ia menuturkan, Rasulullah SAW." berjalan melewati kumpulan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka semua.” (HR. Muslim)

22. BERWUDHU SEBELUM MANDI BESAR (MANDI JUNUB).
Diriwayatkan dari Aisyah ra., “Jika "Rasulullah SAW." ingin mandi besar, maka beliau membasuh tangannya terlebih dahulu, lalu berwudhu seperti hendak shalat, kemudian memasukkan jemarinya ke air dan membasuh rambutnya dengan air. Selanjutnya "Rasulullah SAW." menuangkan air tiga ciduk ke kepalanya dengan menggunakan tangannya, lalu mengguyur semua bagian tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

23. MEMBACA 'AMIN' DENGAN SUARA KERAS SAAT MENJADI MAKMUM.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Jika imam membaca “Amin” maka kalian juga harus membaca “Amin” karena barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan malaikat maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum salafus-shalih mengeraskan bacaan “Amin” sehingga masjid bergemuruh.

24. MENGERASKAN SUARA SAAT MEMBACA ZIKIR SETELAH SHALAT.
Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Ibnu Abbas ra. mengatakan, mengeraskan suara dalam berzikir setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat wajib telah ada sejak zaman "Rasulullah SAW.". Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku mengetahui orang-orang telah selesai melaksanakan shalat karena mendengar zikir mereka.” (HR. Al-Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat.”
"Sunnah" ini tidak dilakukan di banyak masjid sehingga tidak dapat dibedakan apakah imam sudah salam atau belum, karena suasananya sepi dan hening. Caranya adalah imam dan makmum mengeraskan bacaan tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) secara sendiri-sendiri, bukan satu komando dan satu suara. Adapun mengeraskan suara ketika berzikir dengan satu komando, satu suara dan dipimpin oleh imam maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan "sunnah" secara mutlak, ada yang memandang "sunnah" dengan syarat-syarat tertentu dan ada pula yang mengatakan bahwa zikir berjamaah adalah perbuatan bid’ah.

25. MEMBUAT PEMBATAS SAAT SEDANG SHALAT FARDHU ATAU SHALAT SUNNAH.
Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri ra. bahwa "Rasulullah SAW." bersabda, “Ketika kalian hendak shalat, maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya, maka hendaknya dia menghalanginya karena orang itu adalah setan.” (HR. Abu dawud dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata, Rasulullah SAW." menancapkan tombak di depannya, lalu shalat di belakang tongkat itu.” (HR. Al-Bukhari)
"Sunnah" ini sering diabaikan, terutama saat melakukan shalat "sunnah".

Wahai saudaraku! Jadilah seperti orang yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Tiada satu hadits pun yang sampai kepadaku kecuali aku mengamalkannya meskipun hanya sekali.”

Muslim bin Yasar mengatakan, “Aku pernah melakukan shalat dengan memakai sandal padahal shalat tanpa sandal sangat mudah dilakukan. Aku melakukan itu hanya ingin menjalankan "sunnah Rasul SAW..

Ibnu Rajab menuturkan, “Orang yang beramal sesuai ajaran "Rasulullah SAW.", meskipun amal itu sangat kecil, maka itu akan lebih baik daripada orang yang beramal tidak sesuai dengan ajaran "Rasulullah SAW." meskipun dia sangat bersungguh-sungguh.”

Demikian beberapa perbuatan "sunnah sehari-hari" yang sebenarnya tidak sulit untuk dilakukan dan diamalkan oleh kita selaku muslim. Namun "sunnah-sunnah" tersebut justru seringkali kita tinggalkan dan kita lupakan dalam "kehidupan sehari-hari". Semoga dengan membaca artikel ini anda bisa mengamalkan "sunnah" yang ada dalam artikel ini.


Dengan menegakkan "Sunnah-Sunnah Nabi SAW.", maka Insya'Allah kita akan menjadi hamba Allah yang saleh. Yaitu yang memiliki ciri-ciri : 
Pertama, dia cinta pada Allah dan sangat taat pada-Nya. 
Kedua, biasanya sayang kepada sesama manusia. Selalu berbuat baik dan kesenangannya adalah berbuat baik. 
Ketiga dia asyik memperbaiki dirinya secara terus-menerus tanpa hentinya dalam "hidup"nya.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti "sunnah Rasul"-Mu dan mengikuti jejaknya. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang tua kami bersamanya di surga wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.
 
Sumber: 
1. www.facebook.com/...7...kehidupan-sehari-hari/542391095787691
2. ml.scribd.com/.../Menjalankan-7-Sunnah-Nabi-Saw-Dalam-Kehidupan-S...
3. beritahariini33.blogspot.com/2012/08/perbuatan-sunnah-sehari-hari.html
4. laely.widjajati.facebook.photos/TIGER LILY FLOWER
5. laely.widjajati.facebook.photos/Add-a-description-1
6. laely.widjajati.facebook.photos/Add-a-description-2
7. laely.widjajati.facebook.photos/Add-a-description-3
8. laely.widjajati.facebook.photos/Add-a-description-4


MusicPlaylistView Profile