Sabtu, 17 Maret 2012

"Do'a Seorang Hamba"

"Do'a" adalah merupakan inti dari semua ibadah. Di dalam shalat ada "do'a", dalam puasa, zakat, haji semuanya didalamnya mengandung "do'a"


Dapat dikatakan bahwa "do'a" merupakan sapaan mesra, permohonan dan dialog antara manusia dengan Allah SWT. sebagai pencipta semesta alam ini. Berikut ini "do'a" dari "hamba"Mu yang hanya kepada-Mu "hamba" menyerahkan dan mengembalikan semua urusan "hamba"

"DO'A" SEORANG "HAMBA":

Ya Allah... Ya Tuhan "hamba"....
"Hamba" angkat tangan "hamba" dengan sepenuh hati "hamba".
Kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha Mulia,
Manakala "hamba" julurkan tangan "hamba",
Janganlah Engkau tolak permohonan "hamba".

Wahai Dzat Yang Mengabulkan "do'a".... 
Engkau telah menciptakan "hamba".
dan "hamba" adalah "hamba"-Mu.
"Hamba" berada dalam janji,
dan akan menepati perjanjian itu semampu "hamba".

Ya Allah..... Ya Tuhan "hamba".....
"Hamba" berlindung dari buruk yang "hamba" perbuat.
"Hamba" mengakui nikmat-Mu pada "hamba".
"Hamba" mengakui dosa "hamba"....
Ampunilah "hamba", keluarga "hamba", pemimpin-pemimpin "hamba".....
Ampunilah orang-orang yang menyayangi dan membahagiakan "hamba",
ampunilah orang-orang yang membenci, memusuhi dan mendzalimi "hamba",
serta ampuni pula saudara-saudara "hamba" kaum muslimin di seluruh dunia,
baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup di dunia. 
Sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau....

Sesungguhnya "hamba" memohon kesehatan dan kebugaran,
umur panjang yang bermanfaat.....
Kenikmatan yang dapat membawa syafaat....
Lapangkanlah dada "hamba".
"Hamba" memohon petunjuk-Mu,
agar senantiasa berjalan di atas jalan lurus-Mu.
Mudahkanlah semua urusan "hamba",
sehingga "hamba" dapat dengan mudah beribadah kepada-Mu....
"Hamba" mohon dijauhkan dari api neraka-Mu.
Bangunkanlah untuk "hamba" sebuah rumah di dalam surga-Mu....
Bersama orang-orang yang menjadi kekasih-Mu.....

"Balasan Menutup Aib Orang Lain"

"Siapa yang "menutup aib" seorang muslim niscaya Allah akan "menutup aib" di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”


Jadi keutamaan orang yang suka "menutup aib" saudara sesama muslim yang memang menjaga kehormatan diri tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yang "menutup aib" seorang muslim yang demikian keadaan Allah SWT. akan "menutup aib" di dunia dan kelak di akhirat. Namun apabila untuk tujuan kemaslahatan atau kebaikan  dan apabila "menutup"inya akan menambah kejelekan maka tidak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/"aib"/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang dapat memberi hukuman. Apabila ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Apabila ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Apabila ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada muridnya . Demikian seterusnya.

Perlu kita renungkan, bahwa diri kita ini penuh dengan kekurangan, "aib", cacat dan cela, maka sibukkanlah diri ini utk memeriksa dan menghitung "aib" sendiri niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu "aib" orang lain. Lagi pula orang yang suka mencari-cari "aib" orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia Allah SWT. akan membalas dengan membongkar "aib" walaupun ia berada di dalam rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami ra. dari Rasulullah SAW.:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisan dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar di dalam rumah .”

Abdullah bin ‘Umar ra. menyampaikan hadits yang sama ia berkata “Suatu hari Rasulullah SAW. naik ke atas mimbar lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ
 الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisan dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelekkan mereka jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama muslim Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besar kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar ra. memandang ke Ka’bah ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agung engkau dan besar kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatan di sisi Allah darimu.”

Maka dari itu, marilah kita tutup "aib" yang ada pada diri kita dengan "menutup aib" yang ada pada saudara kita yang memang pantas ditutup. Dengan kita "menutup aib" saudara kita Allah SWT. akan "menutup aib" kita di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yang Allah SWT. tutup "aib" di dunia di hari akhir nanti Allah SWT. pun akan "menutup aib"nya sebagaimana Nabi SAW. bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah "menutup aib" seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan "menutup aib"nya.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutup "aib" si hamba di hari kiamat ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan "menutup" kemaksiatan dan "aib" dengan tidak mengumumkan kepada orang-orang yang ada di mauqif . Kedua: Allah SWT. tidak akan menghisab "aib" dan tidak menyebut "aib" tersebut.” Namun kata Al-Qadhi sisi yg pertama lebih nampak karena ada hadits lain.”

Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin ‘Umar ra., ia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ..

“Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin . Allah berfirman ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yg pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulu di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya hamba tahu wahai Rabbku .’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosa dan ia memandang diri akan binasa karena dosa-dosa tersebut Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah pada catatan kebaikan-kebaikannya”

Kita bisa saling belajar satu sama lain. Tapi tidak berarti kita harus saling membuka "aib" masing-masing. Apabila kita perlu menggunakan kesalahan orang lain untuk belajar memperbaiki diri demi kemaslahatan banyak orang, maka kita tidak harus menguliti sekujur tubuh orang itu dengan membuka identitasnya sedemikian gamblang. Dengan "menutup aib" orang lain, maka kita menjaga nama baik orang lain. Dan kita juga menjaga nama baik kita sendiri. Sebab seperti pesan Nabi, Tuhan akan "menutupi aib" siapa saja yang "menutupi aib" orang lain. Sehingga cara terbaik untuk "menutupi aib" diri sendiri adalah dengan menjaga "aib" orang lain yang terlanjur kita ketahui.

Tidak ada manusia yang terbebas dari "aib". Sehingga ketika kita membeberkan "aib" orang lain, bersiap-siaplah untuk menerima perlakuan yang sama dari orang lain. 

 Referensi:
1. blog.re.or.id › Asy Syariah
2. al-atsariyyah.com/"menutupi"-"aib"-sesama-muslim.html
3. www.dadangkadarusman.com/.../cara-terbaik-untuk-"menutupi"-"aib"-di...

Senin, 12 Maret 2012

"Ingin Mendapat Syafaat Al-Qur'an Pada Hari Kiamat?"

"Apakah anda ingin "Al-Qur'an" memberikan "syafaat" kepada anda pada hari "kiamat"? Perbanyaklah membaca "Al-Qur'an".


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

"Bacalah "Al-Qur'an", karena sesungguhnya ia ("Al-Qur'an") akan memberikan "syafaat" pada hari "kiamat" kepada orang-orang yang suka membacanya dan mengamalkan kandungannya (ahlul "Qur'an").

Sabtu, 10 Maret 2012

"Tercegah Dari Siksa Kubur"

"Apakah anda ingin "tercegah" dari "siksa kubur"? Bacalah Surat Tabarak atau yang disebut Surat Al-Mulk".


Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ibn Mardawayh), bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

"Surat Tabarak dapat men"cegah" "siksa kubur".

Hadits yang lain menjelaskan tentang "siksa kubur", bahwa Amr bin Dinar berkata: "Ada seorang penduduk kota Madinah yang mempunyai saudara perempuan di ujung kota, maka sakitlah saudaranya itu kemudian mati, maka setelah diselesaikan persiapannya dibawa ke"kubur", kemudian setelah selesai menguburkan dan kembali pulang ke rumah, ia teringat pada kantongan yang dibawa dan tertinggal dalam "kubur", maka ia minta bantuan orang untuk menggali "kubur" itu kembali, dan sesudah digali "kubur" itu maka bertemulah dia akan kantongannya itu, ia berkata kepada orang yang membantunya itu: "Tolong aku ke tepi sebentar sebab aku ingin mengetahui bagaimana keadaan saudaraku ini." Maka dibuka sedikit lahadnya, tiba-tiba dilihatnya "kubur" itu menyala api, maka segera ia meratakan "kubur" itu dan kembali kepada ibunya lalu bertanya: "Bagaimanakah kelakuan saudaraku dahulu itu?" Ibunya berkata: "Mengapa kau menanyakan kelakuan saudaramu, padahal ia telah mati?" Anaknya tetap meminta supaya diberitahu tentang amal perbuatan saudaranya itu, lalu diberitahu bahawa saudaranya itu biasanya mengakhirkan sembahyang dari waktunya, juga cuai dalam kesucian dan di waktu malam sering mengintai rumah-rumah tetangga untuk mendengar perbualan mereka lalu disampaikan kepada orang lain sehingga mengadu domba antara mereka, dan itulah sebabnya "siksa kubur". Karena itu siapa yang ingin selamat dari "siksa"an "kubur" haruslah menjauhkan diri dari sifat namimah (adu domba diantara tetangga dan orang lain) supaya selamat dari "siksa"an "kubur" dan mudah baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakier.

Abul-Laits berkata: "saya telah diberitahu oleh Abul-Qasim bin Abdurrahman bin Muhammad Asysyabadzi dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Tiada seorang yang mati melainkan ia mendengkur yang didengar oleh semua binatang kecuali manusia, dan andaikata ia mendengar pasti pingsan, dan bila diantar ke"kubur", maka jika salih (baik) berkata: "Segerakanlah aku, andaikan kamu mengetahui apa yang didepanku daripada kebaikan, niscaya kamu akan menyegerakan aku. Dan bila ia tidak baik maka berkata: "Jangan keburu, andaikata kamu mengetahui apa yang didepan aku daripada bahaya, niscaya kamu tidak akan keburu. Kemudian jika telah ditanam dalam "kubur", didatangi oleh dua Malaikat yang hitam kebiru-biruan datang dari arah kepalanya, maka ditolak oleh sembahyangnya: Tidak boleh datang dari arahku sebab adakalanya ia semalaman tidak tidur karena takut dari saat yang seperti ini, lalu datang dari bawah kakinya, maka ditolak oleh baktinya pada kedua orang tuanya: Jangan datang dari arahku, karena ia biasa berjalan tegak karena ia takut dari saat seperti ini, lalu datang dari arah kanannya, maka ditolak oleh sedekahnya: Tidak boleh datang dari arahku, karena ia pernah sedekah karena ia takut dari saat seperti ini, lalu ia datang dari kirinya maka ditolak oleh puasanya: Jangan datang dari arahku, karena ia biasa lapar dan haus kerana takut saat seperti ini, lalu ia dibangunkan bagaikan dibangunkan dari tidur, lalu ia bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang membawa ajaran kepadamu itu? Ia tanya: Siapakah itu? Dijawab: Muhammad SAW.? Maka dijawab: Saya bersaksikan bahawa ia utusan Allah. Lalu berkata kedua Malaikat: Engkau hidup sebagai seorang mukmin, dan mati juga mukmin. Lalu diluaskan "kubur"nya, dan dibukakan baginya segala kehormatan yang dikurniakan Allah kepadanya. Semoga Allah memberi kita taufiq dan dipelihara serta dihindarkan dari hawa nafsu yang menyesatkan, dan menyelamatkan kami dari "siksa kubur" karena Nabi Muhammad SAW. juga berlindung kepada Allah dari "siksa kubur"."

Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Innallahha ta'ala kariha lakum arba'a: Al'abatsu fishsholaati, wallagh wu filqira'ati, warrafatsu fisshiyami, wadhdhahiku indal maqaabiri. (Yang artinya) Sesungguhnya Allah tidak suka padamu empat, main-main dalam sembahyang dan lahgu (tidak hirau), dalam bacaan Al-Qur'an dan berkata keji waktu puasa dan tertawa didalam "kubur"."

Muhammad bin Assammaak ketika melihat "kubur" berkata: "Kamu jangan tertipu karena tenangnya dan diamnya "kubur"-"kubur" ini, maka alangkah banyaknya orang yang sudah bingung didalamnya, dan jangan tertipu karena ratanya "kubur" ini, maka alangkah jauh berbeda antara yang satu dengan yang lain didalamnya. Maka seharusnya orang yang berakal memperbanyak ingat pada "kubur" sebelum masuk kedalamnya."
                        
Sufyan Atstsauri berkata: "Siapa yang sering (banyak) mengingat "kubur", maka akan mendapatkannya kebun dari kebun-kebun surga, dan siapa yang melupakannya maka akan mendapatkannya jurang dari jurang-jurang api neraka."

Hadits Riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah SAW. pernah melewati dua buah "kubur"an, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang di"siksa", namun bukan karena dosa besar. Yang satu di"siksa" karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya di"siksa" karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah "kubur"an dan yang satunya lagi pada "kubur"an yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan "siksa"nya, selama belum kering. (Shahih Muslim No.439)
Sesungguhnya banyak "siksa kubur" dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi).

Sebagai orang mukmin, kita hendaknya meyakini bahwa sejak jasad diletakan di liang lahad, maka bermulalah proses pembalasan amal baik dan amal buruk yang akan kita alami. Oleh karena itu, Abul-Laits as-Samarqandhy berpesan kepada kita dengan satu untaian kata yang sangat wajar kita hayati dan amalkan bersama. Beliau berkata:
"Barang siapa yang ingin selamat dari "siksa"an "kubur", maka hendaklah dia selalu membiasakan empat perkara dan menjauhi empat perkara pula."
Adapun empat perkara yang harus dibiasakan tersebut adalah:
  1. Memelihara Shalat
  2. Mengulurkan sedekah
  3. Membaca Al-Qur'an setiap hari
  4. Memperbanyak bacaan tasbih
Adapun empat perkara yang perlu ditinggalkan dan dijauhi adalah:
  1. Berbohong
  2. Khianat
  3. Mengadu domba / berbuat fitnah
  4. Kencing sambil berdiri (tidak menjaga kebersihan bersuci ketika selesai kencing-red).
Referensi:
1. Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.
2. tanbihul_ghafilin.tripod.com/"siksa"alam"kubur".htm
3. hfdv4pq9ry.wordpress.tal.ki/.../tahukah-anda-akan-bahaya-kencing-s...
4. pesonamuslim.multiply.com/journal/item/.../Tahukah_Anta.... - Filipina 

"Memelihara Diri Dari Sifat Kikir"

"Apakah anda ingin menjadi orang yang tidak "kikir"?  - Tunaikanlah zakat, tampunglah tamu,dan memberilah di saat tertimpa musibah".


Menunaikan zakat hakikatnya mensucikan "diri" dan "memelihara" "diri" dari sifat "kikir" (bakhil) (Al-Qur'an, Surat at-Taubah [9]: 103). Dengan demikian, solidaritas sesama Muslim dapat di"pelihara" dan terus-menerus ditingkatkan. 

 Hal itu sebagaimana dijelaskan juga dalam Hadits Riwayat Ath-Thabrani, bahwa Rasulullah bersabda:

"Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya, ia akan ter"pelihara" dari ke"kikir"an (yaitu): menunaikan zakat, menampung tamu, dan memberi di saat tertimpa musibah".

Mengapa kita perlu "memelihara" "diri" dari sifat "kikir" yang dalam Alquran disebut bakhil?
Allah membenci orang "kikir" (bakhil). “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil ("kikir")dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan (ke"kikir"an) itu baik bagi mereka.

Sebenarnya, kebakhilan (ke"kikir"an) itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan  ("kikir"kan) itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan, kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur'an Surat Ali Imran [3]: 180).

"Dijauhkan Dari Api Neraka"

"Apakah ada orang yang ingin masuk "neraka"? Tentu saja tidak ada. Orang yang jahat pun tidak ingin dirinya masuk "neraka".


Jangankan masuk "neraka", dekat-dekat dengan "neraka" pun tidak seorang pun mau. Sebaliknya, setiap orang menginginkan dirinya di"jauh"kan dari "neraka". Apakah anda ingin di"jauh"kan dari "api""neraka"? Bagaimana caranya? Berpuasalah, niscaya anda akan di"jauh"kan dari "api""neraka".

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim:

Dari Abu Sa`id Al Khudri ra. katanya: “Rasulullah SAW. bersabda: “Setiap orang berpuasa di jalan (karena) Allah barang sehari, niscaya akan di"jauh"kan Allah muka (tubuh) orang itu dari "api" "neraka", se"jauh" tujuh puluh tahun perjalanan, karena (puasa) di hari itu.”

Jumat, 09 Maret 2012

"Membunuh Cicak Mendapat Kebaikan"

"Tahukah anda bahwa "membunuh" "cicak", anda akan mndapat "kebaikan"?


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

 "Barangsiapa "membunuh" "cicak" pada pukulan pertama, maka dicatat untuknya 100 (seratus) "kebaikan". Dan barangsiapa "membunuh"nya pada pukulan kedua, maka ia mendapatkan "kebaikan" kurang dari "kebaikan" pada pukulan kedua. Dan barangsiapa "membunuh"nya pada pukulan ketiga, maka ia mendapatkan "kebaikan" kurang dari "kebaikan" yang didapat pada pukulan kedua".

Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa "membunuh" "cicak" dicatat sebagai "kebaikan"? Hal ini berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan bahwa keterangan Rasulullah SAW. dalam Hadits Riwayat Ummu Syarik ra., bahwasanya Rasulullah SAW. memerintahkan kepadanya untuk "membunuh" "cicak", dan beliau bersabda: "Dahulu "cicak" itu selalu meniup-niupkan api saat Nabi Ibrahim dibakar."

Namun demikian bukan berarti setiap kali kita mendapatkan "cicak" harus di"bunuh" dikarenakan perintah didalam hadits tersebut bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi disunnahkan "membunuh" setiap "cicak" yang membahayakan.

Imam Suyuthi menyebutkan didalam “al Asbah an Nazhoir” bahwa Binatang-binatang itu terbagi menjadi empat macam :
1. Binatang yang didalamnya terdapat manfaat dan tidak berbahaya maka ia tidak boleh di"bunuh".
2. Binatang yang mengandung bahaya didalamnya dan tidak bermanfaat maka dianjurkan untuk di"bunuh" seperti : ular dan binatang-binatang yang berbahaya.
3. Binatang yang mengandung manfaat didalamnya dari satu sisi namun berbahaya dari sisi lainnya, seperti : burung elang maka tidak dianjurkan dan tidak pula dimakruhkan untuk "membunuh"nya.
4. Binatang yang tidak mengandung manfaat didalamnya dan tidak pula berbahaya, seperti : ulat, serangga sejenis kumbang maka tidaklah diharamkan dan tidak pula dianjurkan untuk "membunuh"nya. (Al Asbah an Nazoir juz II hal 336)

Jadi apabila memang "cicak" yang ada di sekitar kita itu membahayakan manusia atau meracuni makanan , maka dibolehkan bagi kita untuk "membunuh" "cicak" tersebut.

Referensi:
1. Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.
2. www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-"membunuh"-"cicak".htm


MusicPlaylistView Profile