Selasa, 08 Februari 2011

"AJI SAKA - PENCIPTA HURUF JAWA"

"Aji Saka" menciptakan "huruf Jawa"  untuk mengabadikan kesetiaan dua abdi dalam melaksanakan tugas yang telah diamanahkan."


"Aji Saka" adalah seorang pertapa yang masih muda yang berasal dari Hindustan. Pada suatu hari "Aji Saka" disertai dua orang abdinya pergi melawat ke Tanah "Jawa". "Aji Saka" bersama dua abdinya menjelajahi masuk kota dan desa. Kedatangan "Aji Saka" di Tanah "Jawa" bermaksud menyebarkan ilmu pengetahuan.


Suatu ketika "Aji Saka" bersama kedua abdinya ke negeri Medang, tetapi dalam perjalanannya mereka bertiga singgah ke pegunungan Kendeng. "Aji Saka" berkata kepada Sembada (salah satu abdinya): 'Sembada besok saya akan ke Medang, dan keris "aji"ku ini saya tinggal disini. Kupercayakan keris "aji"ku kepadamu. Siapapun yang datang meminta, jangan kau beri. Bila aku memerlukan akan saya ambil sendiri. Ingatlah pesanku!'

Selesai berbicara, berangkatlah "Aji Saka" ke negeri Medang seorang diri. "Aji Saka" tiba di desa terpencil di negeri Medang. "Aji Saka" bertamu ke rumah seorang janda tua bernama Mbok Rondo Sengkeran. "Aji Saka" menjelaskan kepada Mbok Rondo Sengkeran, bahwa ia ingin mengabdi kepada Sang Prabu negeri Medang. Namun oleh Mbok Rondo Sengkeran dilarang dan diingatkan, karena Sang Prabu adalah seorang raja yang gemar makan daging manusia. Penduduk banyak mengungsi karena takut. Mbok Rondo Sengkeran masih hidup karena usianya sudah tua, dagingnya sudah alot sehingga Sang Prabu tidak mau memakannya. Meskipun dilarang, "Aji Saka" tetap ingin mengabdi kepada Sang Prabu. Begituloah akhirnya untuk sementara "Aji Saka" tinggal di rumah Mbok Rondo Sengkeran.

"Aji Saka" adalah seorang pertapa yang sakti. Ketika para penduduk ketakutan berlari mengungsi, "Aji Saka" meminta para penduduk itu tinggal bersamanya di rumah Mbok Rondo Sengkeran. Mbok Rondo Sengkeran menganatar "Aji Saka" menghadap Patih (yang setiap harinya mencarikan mangsa untuk Sang Prabu). Di hadapan Patih, "Aji Saka" mengutarakan maksudnya, ingin mengabdi kepada Sang Prabu. Sang Patih melihat "Aji Saka" tertegun karena sikap baiknya. Memang "Aji Saka" seorang pemuda yang bijaksana dan tampan.

Sang Patih berkata: 'Baiklah! Engkau akan kuhadapkan kepada Sang Prabu. Engkau harus tahu tugasmu nanti. Karena tidak mudah mengabdi kepada Sang Baginda Raja Medang.'

"Aji Saka" menjawab: 'Hamba tidak gentar berhadapan dengan Sang Baginda! Hamba tetap pada pendirian semula, yaitu akan mengabdi kepada Sang Prabu. Apabila hamba tidak mati apakah hamba dapat minta sebidang tanah seluas sorban (ikat kepala) ini?' 

Singkat cerita, Sang Patih menyanggupi permintaan "Aji Saka". Lalu diajaklah "Aji Saka" ke istana. Sewaktu makan, "Aji Saka" mengubah dirinya menjadi seorang anak yang cantik. Sang Prabu sangat senang melihatnya. Anak yang cantik tadi ditimangnya. Saat menimang tersebut, Sang Prabu bernafsu untuk melahapnya. Tetapi "Aji Saka" yang sakti dengan cekatan memegang bibir atas dan bibir bawah, lalu disobeklah mulut Sang Prabu (raja Medang) itu sampai meninggal. Setelah peristiwa tewasnya Sang Baginda, "Aji Saka" berubah wujud seperti semula.  "Aji Saka" pergi ke rumah Patih memberitahu bahwa Sang Baginda telah mati terbunut. Senanglah hati Sang Patih mendengar laporan "Aji Saka".
Kemudian "Aji Saka" menagih janji kepada Sang Patih. Ikat kepalanya dilepas dibentangkan di atas tanah. Ikat kepala semakin melebar, meluas hingga meliputi desa dan kota, hutan, gunung, lembah ngarai. Akhirnya selureuh kerajaan Medang menjadi milik "Aji Saka". Sang Patih tidak dapat berbuat apa-apa. Rakyat Medang merasa lega karena raja yang gemar makan daging manusia telah tewas. Rakyat berterima kasih kepada "Aji Saka" yang telah membebaskan rakyat dari kebengisan rajanya. Akhirnya, "Aji SAka" dinobatkan sebagai raja di Medang. 

Penduduk yang mengungsi ke daerah lain kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka mulai mengolah sawah menanami ladang. Sungguh  menjadi tempat yang ramai. Di bawah pemerintahan Raja "Aji Saka", negara Medang mengalami masa kejayaan. Rakyat hidup dengan tenteram. Teringatlah "Aji Saka" akan kerisnya. Dipanggilnya Dora, katanya: 'Hai, Dora, pergilah kau ke pegunungan Kendeng! Ambillah kerisku! Katakan bahwa aku sedang sibuk!' Jawab Dora: 'Ya, tuanku! Hamba siap, berangkat!'

Pergilah Dora ke pegunungan Kendeng!. Sesampai di tempat, Dora memberi salam kepada Sembada. Dan keduanya asyik berdialog melepaskan rindu. Kemudian Dora menyampaikan maksud kedatangannya, diutus "Aji Saka" untuk mengambil keris milik tuannya itu. Mendengar maksud kedatangan Dora, dengan tegas Sembada menolaknya. Kedua abdi tersebut saling mempertahankan perintah "Aji Saka" keduanya tidak mau mengalah. Akhirnya terjadilah baku hantam di antara keduanya. Kedua abdi tersebut, Dora dan Sembada adu kekuatan, adu kepandaian, dan adu kesaktian. Memang kedua abdi tersebut sama-sama sakti. Kedua-duanya sama-sama unggul. Adu kesaktian kedua abdi itu mengakibatkan keduanya tewas. Mereka masing-masing mempertahankan perintah tuannya. Lebih baik mati dar pada mengkhianati perintah tuannya.

Utusan "Aji Saka" lama tak datang. "Aji Saka" khawatir dan cemas menanti kedatangan abdi yang setia, Dora dan Sembada tak kunjung datang. Akhirnya "Aji Saka" meninggalkan istana pergi ke pegunungan Kendeng untuk menyusul Dora dan Sembada. Setelah sampai di pegunungan Kendeng, terkejutlah "Aji Saka" melihat mayat Dora dan Sembada tergeletak di tanah.

Ingatlah "Aji Saka" apa yang pernah dipesankan kepada Sembada. Dora dan Sembada, kedua abdi kesayangannya tewas demi tugas yang diembannya. Kematian mereka berdua sebagai bukti kesetiaan dan kepatuhan terhadap tuannya. Dengan kematian dua abdi setia, "Aji Saka" menciptakan "huruf-huruf " untuk mengabadikan kesetiaan dua abdi dalam melaksanakan tugas. "Huruf Jawa" tersebut dikenal dengan Carakan.

Susunan "huruf Jawa" tersebut sebagai berikut:
- Hana caraka = ada utusan.
- Data sawala = pada bertengkar.
- Padha jayanya = sama saktinya.
- Maga bathanga = mati bersama.
























Itulah tadi kisah terciptanya "huruf Jawa" yang diciptakan oleh "Aji Saka".

Senin, 07 Februari 2011

"PELAYANAN PENCATATAN DAN PENERBITAN KUTIPAN AKTA PENGAKUAN ANAK"

"Pengakuan anak" adalah "pengakuan" secara hukum dari seorang bapak terhadap "anak"nya yang lahir di luar perkawinan yang sah atas perswetujuan ibu kandung "anak" tersebut."


Instansi yang bertanggung-jawab dalam pengurusan surat pencatatan dan penerbitan kutipan  "akta pengakuan anak" adalah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sebagai berikut:
1. Petugas registrasi bertanggung-jawab pada pengisian formulir, proses verifikasi dan validasi data. Petugas juga bertanggung-jawab merekam data "pengakuan anak" dalam database kependudukan.
2. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertanggung-jawab pada pemeriksaan akhir, perswetujuan formulir untuk kemudian membuat catatan pinggir pada register "akta" Kelahiran dan Kutipan "Akta" Kelahiran. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertanggung-jawab menerbitkan Kutipan "Pengakuan Anak".


Persyaratan yang diperlukan untuk memproses "akta pengakuan anak" antara lain:
1. Surat Pengantar dari RT/RW dan diketahui Kepala Desa/Lurah.
2. Surat "Pengakuan Anak" dari ayah biologis yang disetujui oleh ibu kandung "anak" tersebut.
3. Kutipan "Akta" Kelahiran.
4. Foto copy KK dan KTP ayah biologis dan ibu kandung.

Prosedur pengurusan pencatatan dan penerbitan "akta pengakuan anak" di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sebagai berikut:
1. Petugas memberikan formulir kepada pemohon untuk diisi disertai dengan persyaratan.
2. Petugas menerima dan meneliti permohonan dan persyaratan.
3. Kepala Dinas mencatat pada Register "Pengakuan Anak" kemudian membuat catatan pinggir pada register "akta" kelahiran dan Kutipan "Akta" Kelahiran.
4. Petugas merekam data "pengakuan anak" dalam database kependudukan.


Pengurusan pencatatan dan penerbitan kutipan "akta pengakuan anak" dilaksanakan selama 2 (dua) hari kerja di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

"PELAYANAN PENCATATAN DAN PENERBITAN KUTIPAN AKTA PENGESAHAN ANAK"

"Pengesahan anak" adalah "pengesahan" status hukum seorang "anak" yang lahir di luar ikatan perkawinan yang "sah", menjadi "anak" "sah" sepasang suami istri".


Instansi yang bertanggung-jawab melaksanakan pencatatqan dan penerbitan "Akta Pengesahan Anak" adalah Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, yakni:
1. Petugas registrasi bertanggung-jawaqb pada pengisian formulir, proses verifikasi dan validasi data.
2. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertanggung-jawab pada pemeriksaan akhir, persetujuan formulir untuk kemudian mencatat pada Register "akta" Kelahiran dan Kutipan "akta" Kelahiran.


Persyaratan yang diperlukan untuk memproses "akta pengesahan anak" antara lain:
1. Surat Pengantar dari RT/RW dan diketahui Kepala Desa/Lurah.
2. Kutipan "Akta" Kelahiran.
3. Foto copy Kutipan "Akta" Perkawinan.
4. Foto copy KK dan KTP pemohon.

Prosedur pengurusan "Akta Pengesahan Anak" adalah:
Di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil:     
a. Petugas memberikan formulir kepada pemohon untuk diisi disertai dengan persyaratan.
b. Petugas menerima dan meneliti permohonan dan persyaratan.
c. Kepala Dinas mencatat pada Register "akta" kelahiran dan Kutipan "Akta" Kelahiran.
d. Melaksanakan sidang perkawinan untuk mensahkan "akta".

Minggu, 06 Februari 2011

"OBAT SAKIT JANTUNG"

"Jantung" merupakan pusat peredaran darah. Jadi boleh juga dikatakan bahwa "jantung" adalah  merupakan pusat hidup."


Bagi orang yang menderita penyakit "jantung" dapat disamakan dengan sebelah kakinya berpijak di atas kuburan. Bagi penderita penyakit "jantung" apabila sampai mengalami pembengkakan pada "jantung"nya, maka akan mengalami rasa nyeri dan sakit pada "jantung"nya. Apabila ada orang yang mengalami sedemikian rupa, dapat mencoba resep sebagai berikut:


Bahan-bahan ramuan:
1. 3 lembar daun sirih yang bertemu kedudukan ruasnya (Bahasa Jawa: Temu rose).
2. 3 bungkul sedang bawang merah.
3. 4 buah biji buah kemukus (7 jodoh).
4. 1 sendok kecil jintan putih.

Cara membuatnya:
1. Daun sirih, bawang merah dan kemukus dicuci bersih, sedangkan jintan putih tidak perlu dicuci.
2. Lalu tumbuklah keempat bahan ini sampai halus.
3. Kemudian bubuhilah dengan air 4 sendok makan.
4. Lalu disaring.


Minumlah air dari ramuan tersebut dua kali sehari, pagi dan sore. Insya'Allah  penyakit "jantung" tersebut akan sembuh. Lakukan secara rutin.

"MENYEMBUHKAN TBC ATAU TUBERCOLUSA"

"Tubercolusa" atau yang biasa disebut "TBC" merupakan penyakit khusus yang penderitanya sering disinyalir dan diasingkan di tempat khusus."


Penyakit "Tubercolusa" merupakan penyakit yang berbahaya dan menyiksa bagi sang penderita. Untuk menyembuhkan penyakit "Tubercolusa", supaya penderita dapat lebih segar dan gemuk, apabila mempergunakan pengobatan tradisional, sebagai berikut:
1. Bahan-bahan ramuan yang akan dibuat adalah sekepak pucuk daun anom, sejenis pare yang kulitnya berbintik-bintik dan tidak terlalu sulit diperoleh. Adas pulosari satu cangkir dan gula aren dua sendok makan.
2. Daun pare anom dengan adas pulosari dicampur dengan sepanci air.
3. Rebuslah di atas api yang dinyalakan kecil saja, biarkan sampai mendidih.
4. Panci harus ditutup rapat waktu merebus kedua macam ramuan itu, biarkan kurang lebih setengah jam, sampai airnya berkurang jadi tersisa seperempat panci, baru diangkat dari atas api.
5. Campurkan gula aren sambil diaduk-aduk sampai rata sampai air rebusan tersebut menjadi dingin.
6. Minumkan pagi, siang dan malam hari setiap kali satu gelas belimbingan kepada penderita "Tubercolusa" tersebut.

Apabila setiap hari penderita "Tubercolusa" meminum teratur dan tertib ramuan ini, niscaya paru-parunya akan jauh lebih sehat dan penyakit "Tubercolusa" nya dapat disembuhkan, juga tubuhnya akan lebih sehat dan segar dalam waktu tiga bulan sudah dapat dilihat perkembangan yang menggembirakan berkat meminum ramuan tradisional ini.

Sabtu, 05 Februari 2011

"SUPAYA BUAH DADA MONTOK"

"Wanita yang sudah dewasa pasti mendambakan "buah dada" nampak "montok". Lebih-lebih bagi ibu-ibu runah tangga yang sering melahirkan, sebab orang tersebut "buah dada"nya sudah mengendor."

Wanita yang sering menyusui, akan lebih kendor "buah dada"nya. Untuk mengatasi "buah dada" supaya tidak kendor, ada beberapa petunjuk, sebagai berikut:
1. Ambillah satu gelas susu encer atau susu sapi murni.
2. Sediakan sepotong jahe, sebesar ibu jari tangan.
3. Bakarlah jahe dalam panggangan (open) sampai hangus.
4. Kemudian keprak dengan benda keras supaya jahe menjadi gepeng.
5. Masukkan ke dalam gelas yang sudah berisi susu.
6. Diamkan kira-kira satu jam, lalu minumlah.
7. Meminum susu campur jahe ini dilakukan setiap malam hari, niscaya tubuh sehat dan "buah dada" dapat menjadi kencang dan "montok".

Selamat mencoba...........................................

"MENGHILANGKAN BAU PETE ATAU JENGKOL"

"Bagi anda yang suka makan "pete atau jengkol" kadang merasa kesewa karena "pete atau jengkol" akan meninggalkan "bau" yang tidak sedap di mulut maupun pernapasan."


Berikut ini ada resep tradisional yang dapat membantu menghilangkan "bau pete atau jengkol", sebagai berikut:
1. Kumurlah dengan air bersih;
2 Kemudian kunyahlah satu jumput beras yang belum dicuci sampai lembut;
3. Kemudian muntahkan;
4. Setelah itu gosoklah gigi anda.

Hasilnya akan cukup memuaskan, karena anda akan terbebas dari "bau pete atau jengkol".

Selamat mencoba.........................................................................


MusicPlaylistView Profile