Rabu, 07 April 2010

"KASIH SAYANG MENURUT TUNTUNAN ISLAM"

"Kasih sayang" merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Kaum Muslimin adalah kaum yang sangat penyayang."



"Kasih sayang"
bersumber dari kesucian jiwa dan ruh. Orang Muslim selalu berbuat kebajikan, beramal saleh, menjauhi segala kejahatan dan kerusakan, maka dari itu jiwanya selalu bersih dan ruhnya senantiasa suci. Dengan demikian rasa "kasih sayang" tidak akan terpisah dari hatinya. Orang Muslim suka menyayangi dan mengajak orang lain untuk berlaku "kasih sayang". Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Balad Ayat 17-18: "Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk ber"kasih sayang". Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan."


Hadits Bukhari, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang ber"kasih sayang".


Hadits Tabrani dan Hakim dengan sanad sahih, juga menjelaskan behwa RAsulullah SAW bersabda: "Sayang"ilah makhluk yang ada di bumi, maka akan menyayangimu yang ada di langit."


Nabi SAW juga bersabda: "Barangsiapa yang tak mau menyayangi, tidak akan di"sayang"i."


Kemudian Nabi SAW juga bersabda: "Rahmat tidak akan dicabut kecuali dari orang durhaka."


Hadits Muslim juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta dan "kasih sayang" mereka, ibarat satu tubuh, apabila satu anggotanya menderita, maka seluruh tubuh akan turut menderita baik karena tak bisa tidur maupun panas."


Walaupun pada hakikatnya "kasih sayang" berupa kelembutan hati dan rasa belas "kasih"an yang mengakibatkan orang menjadi pemaaf san cinta kebajikan, namun tidak semata-mata hanya perasaan hati yang tidak memiliki pengaruh keluat. Faktanya ada pengaruh keluar dalam kenyataan-kenyataan yang tampak di alam nyata.


Dampak "kasih sayang" yang muncul keluar antara lain adalah memaafkan orang yang berbuat kekeliruan, mengampuni orang yang bersalah, menolong orang susah, membantu orang lemah, memberi makan orang lapar, memberikan pakaian kepada orang yang membutuhkan, mengobati orang sakit dan menghibur orang sedih. Semua itu merupakan dmpak dari "kasih sayang" dan masih banyak lagi dampak yang lainnya.


Beberapa bentuk "kasih sayang" yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW., yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah:


1. Hadits Riwayat Bukhari dari Anas bin Malik, Ia berkata: "Kami masuk bersama Rasulullah SAW ke rumah Yusuf al-Qain. Dia adalah bapak ke"sayang"an Ibrahim. Rasulullah memegang Ibrahim, putranya lalu mengecup dan menciumnya. Kemudian kami masuk lagi dan Ibrahim menangis. Maka berlinanglah air mata Rasulullah. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: Mengapa engkau ya Rasulullah? Nabi bersabda: Hai bin Auf. Itu adalah rahmat dan "kasih sayang". Kemudian Nabi berkata: Sesungguhnya mata suka menangis dan hati suka bersedih, tapi kita tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak diridai oleh Allah. Dan sesungguhnya kami sedih berpisah denganmu hai Ibrahim."


Rasulullah mengunjungi rumah orang yang sedang menyusui putranya yang masih kecil, lalu memeluk dan menciumnya. Kemudian beliau menengoknya ketika sakit dan Nabi pun menangis karena begitu sedih.

Semua itu merupakan wujud "kasih sayang" dari lubuk hati Rasulullah SAW.


2. Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah menyatakan:
"Rasulullah bersabda: Ketika seorang laki-laki berjalan, ia merasa sangat haus. Lalu ia turun ke dalam sumur, kemudian ia minum di situ. Tiba-tiba ada seekor anjing menjulurkan lidahnya, sambil menjilat-jilat tanah karena haus. Laki-laki itu berkata: Rupanya anjing itu kehausan seperti aku. Lalu ia mengisi sepatunya dengan air, kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya, lalu ia naik dari sumur itu dan terus memberi minum anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada orang itu dan mengampuni dosa-dosanya. Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, Apakah kami memperoleh pahala karena menolong binatang? Nabi bersabda: Pada setiap perut yang basah ada pahala."


Apa yang dilakukan laki-laki itu merupakan pernyataan "kasih sayang" dari dalam hatinya. Apabila bukan karena "kasih sayang", ia tidak akan berbuat seperti itu.


Kisah yang sebaliknya dari itu, dijelaskan hadits Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah: "Dari Nabi SAW., Beliau bersabda: Seorang perempuan disiksa karena mengurung kucing hingga mati. Dan dimasukkan ke dalam neraka karena kucing. Ia ditanya: Mengapa engkau tidak memberi makan dan minum ketika mengurung kucing itu, atau melepaskannya agar ia makan dari kotoran tanah."


Perilaku perempuan itu menunjukkan kekerasan hatinya dan hilangnya "kasih sayang" dari dalam dirinya. "Kasih sayang" itu tidak akan hilang kecuali dari hati orang celaka.


3. Hadits Riwayat Bukhari dari Abu Qatadah mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah bersabda: waktu aku mulai salat dan bermaksud memanjangkannya, aku mendengar anak menangis. Lalu aku mempercepat salatku karena aku tahu betapa gelisah hati seorang ibu mendengar tangis anaknya."


Maka Rasulullah memendekkan salatnya yang tadinya ingin lama dan kegelisahan ibu karena tangis anaknya merupakan ungkapan dari "kasih sayang" yang ditanamkan Allah dalam hati hamba-hamba-Nya yang penyayang.


4. Diriwayatkan bahwa Zainal Abidin Ali bin Husin tatkala dalam perjalanan menuju masjid, tiba-tiba seorang laki-laki mencaci makinya. Lalu pembantu-pembantunya datang bermaksud akan memukul dan menyakiti laki-laki tersebut. Namun Zainal Abidin melarang karena "kasih"an kepadanya. Kemudian ia berkata kepada laki-laki itu: Aku lebih tahu dari yang kau katakan. Dan apa yang kamu tidak ketahui tentang aku lebih banyak dari yang kamu ketahui. Bila kamu memerlukan sesuatu, katakanlah. Maka laki-laki itu menjadi malu tersipu-sipu. Lalu Zainal Abidin menanggalkan gamisnya dan diberikan kepada laki-laki itu. Dan menyuruh agar laki-laki itu diberi uang seribu dirham.


Maaf dan kebajikan yang diberikan kepada laki-laki itu tidak lain adalah merupakan uangkapan "kasih sayang" dari cucu Rasulullah SAW.


Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh lain dari kehidupan sehari-hari Rasulullah yang patut kita teladani yang berkaitan dengan perwujudan "kasih sayang", baik kepada sesama maupun lepada makhluk lain ciptaan Allah.

Sabtu, 03 April 2010

"RENDAH HATI/TAWADU VS SOMBONG"

"Rendah hati"/"tawadu" merupakan sebagian dari akhlak Muslim ideal, sedangkan "sombong" bukanlah sifat seorang Muslim".

Seorang Muslim bersikap "rendah hati" agar berderajat tinggi, ia tidak "sombong" supaya tidak turun derajatnya. Hukum Allah bersifat menjunjung tinggi orang-orang yang bersikap "rendah hati" dan menurunkan derajat orang-orang yang "sombong".


Hadits Riwayat Muslim menjelaskan, bahwa Rasulullah bersabda: "Kekayaan tidak akan berkurang karena sedekah. Allah akan menambah kekuatan bagi orang pemaaf. Dan orang yang bersikap "rendah hati" karena Allah akan ditinggikan derajatnya."

Hadits Riwayat Bukhari, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: "Merupakan hak Allah untuk tidak meninggikan derajat duniawi, malah merendahkannya."
Hadits Riwayat Nasa'i dan Tirmidzi, hadits sahih, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: "Orang-orang yang "sombong" dikumpulkan pada hari kiamat ibarat debu dalam bentuk laki-laki ditutupi dengan kehinaan dari segala arah. Mereka digiring ke dalam penjara di neraka jahanam, yang disebut Bulis. dinaikkan dengan api. Mereka diberi minum dari sari minuman ahli neraka yaitu sebongkah tanah yang berbahaya."


Ketika orang Muslim mendengar dengan telinga dan hatinya kabar semacam itu, baik dari firman Allah maupun sabda Rasulullah yang memuji orang-orang yang "sombong". Maka diajaknya orang untuk me"rendah"kan "hati" dan melarang menyombongkan diri, maka bagaimana mungkin orang Mukmin tidak akan bersikap "rendah hati" dan tidak menjauhi sikap "sombong"?.


Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersikap "rendah hati" (tawadu), sebagaimana dalam firman-Nya dalam Surat Asy-Syu'ara Ayat 215: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman."


Allah juga memuji para wali-Nya karena sifat "rendah hati" yang mereka miliki, sebagaiman firman-Nya dalam Surat Al-Ma'idah Ayat 54: "... suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir...".


Allah akan membalas dengan pahala bagi orang-orang yang me"rendah"kan diri, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Surat Al-Qasas Ayat 83: "Akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan."


Hadits Riwayat Muslim, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: "Sungguh Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kamu me"rendah"kan diri, sehingga seseorang tidak akan menyombongkan dirinya kepada yang lain dan seseorang tidak akan berbuat aniaya kepada yang lainnya."


Hadits Riwayat Bukhari juga menjelaskan bahwa Rasulullah menghimbau supaya umat Islam mau berbuat "tawadu" ("rendah hati"): "Allah tidak mengutus seorang Nabi, kecuali ia bekerja sebagai penggembala kambing. Para sahabat bertanya kepadanya: Bagaimana engkau ya Rasulullah? Nabi menjawab: Aku juga menggembala kambing di padang rumput kepunyaan penduduk Mekah."


Hadits Riwayat Bukhari yang lain menjelaskan, Rasulullah bersabda: Jika aku diundang untuk makan kaki kambing atau paha kambing, pasti aku datang. Atau bila aku diberi hadiah ceker atau paha kambing pasti aku terima."


Hadits Muttafaq 'alaih, menjelaskan sabda Rasulullah yang menyuruh untuk menjauhi ke"sombong"an: "Tidakkah aku kabarkan padamu tentang penduduk ahli neraka. Mereka adalah orang-orang yang bersikap kejam, rakus, dan menyombongkan dirinya."


Hadits Riwayat Muslim menjelaskan sabda Rasulullah SAW.: "Ada tiga macam manusia yang pada hari kiamat, Allah tidak akan becara padanya, yaitu orang yang berzina, raja yang pendusta dan orang miskin yang menyombongkan dirinya."


Hadits Riwayat Muslim yang lain menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah berfirman: Kemuliaan itu pakaian-Ku dan kebesaran itu selendang-Ku. Siapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya akan Aku azab dia."


Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih menjelaskan bahwa RAsulullah bersabda: "Ketika seseorang berjalan dengan pakaian yang indah, "sombong" dan congkak jalannya, tiba-tiba Allah membinasakannya, hingga ia timbul tenggelam di tanah sampai hari kiamat."


BEBERAPA TANDA AKHLAK "RENDAH HATI".

1. Apabila seseorang selalu ingin lebih dari orang lain dalam segala hal, maka dia orang "sombong" dan orang yang tidak suka melebihi orang lain, berarti ia "tawadu" ("rendah hati").


2. Orang "rendah hati" adalah seseorang yang berdiri dari tempat duduknya pada saat datang orang berilmu atau terhormat dan mempersilahkan duduk di tempatnya; Atau seseorang yang bangkit dan menyodorkan sandalnya bagi orang lain dan keluar dari majelis mengiringi di belakang.


3. Orang "rendah hati" adalah seseorang yang berdiri menghormati orang biasa, menyambutnya dengan wajah berseri, mengajaknya ngobrol dan berusaha membantu apa yang diperlukannya.


4. Orang "rendah hati" berkunjung ke rumah orang yang lebih rendah martabatnya; Atau membantu membawakan barang-barangnya atau berusaha membantu yang diperlukannya.


5. Orang yang "rendah hati" mau duduk bersama orang miskin, orang-orang sakit dan orang-orang cacat tubuh, memenuhi ajakan mereka dan berjalan bersama mereka.


6. Orang "rendah hati" apabila makan dan minum tidak berlebihan dan berpakaian sederhana.

"ETIKA PADA SAAT BEPERGIAN"

"Bepergian" merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari".


Kegiatan "bepergian" disini misalnya melaksanakan haji, umrah, menuntut ilmu, berdagang, silaturahmi kepada kawan, sanak keluarga dan sebagainya. Karena itu Allah sangat memperhatikan soal "bepergian" ini dengan menentukan hukum dan adabnya.


HUKUM-HUKUM KETIKA "BEPERGIAN".

1. Pada saat "bepergian", seorang Muslim hendaknya mengqasar salat wajib empat rakaat menjadi dua rakaat kecuali Magrib dan Subuh tetap tiga dan dua rakaat. Dan dilakukan pada saat berangkat sampai kembali ke daerahnya, kecuali berniat akan menetap selama empat hari atau lebih di suatu tempat dalam perjalanan atau singgah di tempat itu. Maka di tempat itu melaksanakan salat seperti biasa tidak diqasar, pada saat perjalanan pulang kembali ke kampungnya boleh melakukan qasar sampai tiba ke daerah tempat tinggalnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa' Ayat 101: "Dan apabila kamu "bepergian" di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasarkan salat(mu)......."
Dan hadits dari Anas, Ia berkata: "Kami keluar bersama Rasulullah dari Medinah ke Mekah. Maka Nabi SAW melaksanakan salat yang empat rakaat menjadi dua rakaat sampai kami kembali ke Medinah." (Nasa'i dan Tirmidzi, hadits sahih).


2. Pada saat "bepergian" boleh mengusap dua sepatu (tatkala berwudu) selama tiga hari tiga malam. Hal ini berdasarkan hadits dari Ali: "Nabi SAW mengizinkan tiga hari tiga malam bagi musafir (orang yang "bepergian") dan sehari semalam bagi yang mukim, yaitu mengusap dua sepatu (dalam berwudu)." (Ahmad, Muslim, Nasa'i dan Ibn Majah).


3. Pada saat "bepergian" diperbolehkan tayamum, apabila tidak ada air, sulit memperolehnya atau mahal harganya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa' Ayat 43: ".... Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."


4. Pada saat "bepergian" diberi rukhsah (keringanan) untuk buka puasa. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 184: "... Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari yang lain."


5. Orang yang "bepergian" diperbolehkan salat sunah di atas kendaraan (tunggangan) ke arah mana saja kendaraan itu menujunya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar: "Rasulullah melakukan salat sunat di atas untanya, ke arah mana saja unta itu menuju." (Muttafaq 'alaih).


6. Orang yang sedang "bepergian" diperbolehkan menjamak salat antara Dzuhur dan Asar, Magrib dan Isya dengan jamak taqdim bila perjalanan melelahkan. Maka dia kerjakan salat Dzuhur dan Asar di waktu Dzuhur, Magrib dan Isya di waktu Magrib. Atau dilakukan dengan jamak takhir yaitu salat Dzuhur dan Asar dilakukan pada waktu Asar, Magrib dan Isya dikerjakan pada waktu Isya. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada Hadits Muaz, Ia berkata: "Kami "bepergian" bersama Rasulullah ke perang Tabuk. Beliau salat Dzuhur dan Asar digabung dan salat Magrib dan Isya digabung (dalam satu waktu).' (Muttafaq 'alaih).


ADAB "BEPERGIAN".

1. Dalam "bepergian" hendaknya menjaga diri dari berbuat aniaya dan mengembalikan titipan kepada pemiliknya, karena dalam perjalanan itu sering terjadi kecelakaan yang tidak diduga-duga.


2. Sebelum "bepergian" menyiapkan bekal yang halal dan meninggalkan biaya hidup bagi mereka yang wajib diberi nafkah seperti istri, anak dan ayah.


3. Apabila hendak "bepergian", hendaklah izin kepada keluarga, saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya dengan mendoakan mereka yang akan ditinggalkan dengan doa: "Semoga Allah memelihara agamamu, amanahmu dan akhir amalmu."
Dan orang-orang yang ditinggalkan membacakan doa untuknya: "Semoga Allah membekali kamu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu dan menunjukkan jalan yang baik kepadamu, kemana saja kamu menuju."
Rasulullah bersabda kepada orang mengucapkan selamat tinggal: "Semoga Allah memelihara agamamu, amanahmu dan akhir amalmu." (Abu Daud).


4. Kalau "bepergian" hendaklah bersama kawan, bertiga atau berempat setelah dipilihnya orang yang paling cocok memimpin baginya. Karena perjalanan itu sebagaimana kata orang adalah menguji kecerdasan pemimpin. Disebut safar karena menguji akhlak pemimpin. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Yang "bepergian" sendirian adalah setan. Dua orang adalah dua setan dan kalau tiga orang itulah yang disebut rombongan." (Abu Daud, Nasa'i dan Tirmidzi, hadits sahih). Rasulullah juga bersabda: "Andaikata orang mengetahui yang aku ketahui, maka tidak akan ada orang yang berani berjalan sendirian pada waktu malam."


5. Rombongan yang "bepergian" hendaklah mengangkat seorang pimpinan yang akan memimpin mereka bermusyawarah. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Jika keluar tiga orang melakukan perjalanan harus mengangkat salah seorang sebagai pemimpin rombongan."


6. Sebelum "bepergian" hendaknya melakukan salat istikharah, karena Rasulullah menganjurkannya. Bahkan beliau mengajar mereka salat istikharah itu seperti mengajar satu surah dari Al-Qur'an dan dalam segala urusan. (Bukhari).


7. Pada waktu berangkat "bepergian" meninggalkan rumah, hendaknya membaca doa: "Dengan nama Allah. aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan orang, dan berbuat khilaf atau dicelakakan orang atau berbuat kebodohan atau dibodohi orang."
Apabila naik kendaraan hendaklah membaca doa, yang artinya: "Dengan nama Allah dan dengan pertolongan Allah, Allah Maha Besar. Aku bertawakal pada Allah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Sesuatu yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi. Maha Suci Allah yang telah menundukkan kepada kami kendaraan ini, sedang kami tidak menguasainya dan kepada Tuhan kami akan kembali. Ya Allah, kami memohon kepadamu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa serta amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami, singkatkan bagi kami perjalanan ini. Ya Allah Engkau sebagai kawan dalam perjalanan, pelindung terhadap keluarga dan harta. Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kesukaran dalam "bepergian", duka cita dan kegagalan serta kesalahan karena harta, keluarga dan anak." (Abu Daud, hadits sahih).


8. Apabila "bepergian" hendaklah keluar pada hari Kamis pagi hari. Rasulullah mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya. Dan hadits dari Rasulullah SAW menyebutkan bahwa beliau keluar untuk "bepergian" pada hari Kamis.' (Bukhari Muslim).


9. Apabila mendaki hendaklah bertakbir. Hadits dari Abu Hurairah mengatakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, saya akan "bepergian", maka berilah saya nasihat. Nabi bersabda; Bertakwalah kepada Allah dan bertakbirlah pada setiap kali mendaki karena Nabi SAW berdoa: "Ya Allah, Engkau jadikan kami di depan mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka."


10. Tatkala "bepergian" hendaklah selalu berdoa dan minta kebaikan dunia dan akhirat, karena doa tatkala "bepergian" akan dikabulkan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Tidak diragukan lagi ada tiga doa yang dikabulkan Allah, yaitu doa orang teraniaya, "bepergian" dan doa ayah terhadap anaknya." (Tirmidzi, sanad hasan).


11. Apabila singgah di suatu tempat hendaklah mengucapkan doa, yang artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang Sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan. Apabila datang malam hendaklah mengucapkan: Wahai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, saya berlindung kepada Allah dari bahayamu dan bahaya yang ada padamu dan dari bahaya yang dijadikan padamu dan bahaya dari binatang yang melata di atasmu. Dan aku berlindung dari singa, ular, kala dan dari penghuni negeri dan dari bahaya yang beranak dan yang dilahirkannya." (Dalam as-Sunan dan Muslim).


12. Apabila takut merasa kesepian bacalah: "Maha Suci Allah Yang Maha Merajai, Maha Suci, Tuhannya para malaikat dan Jibril. Ditinggikan langit dengan Kemuliaan-Nya dan keperkasaan-Nya."


13. Apabila tidur di awal malam, hendaklah membentangkan lengannya. Tapi jika tidur sebelum subuh hendaklah tidur di atas tapat tangannya supaya tidak terlalu pulas tidurnya sehingga dapat melaksanakan salat subuh tepat waktu.


14. Apabila sudah dekat ke kota (tempat tinggalnya) hendaklah membaca doa: "Ya Allah, jadikanlah kota itu sebagai tempat tinggal kami dan berikanlah kepada kami rezeki yang halal. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang terdapat padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya kota itu dan bahaya yang terdapat padanya." Karena Nabi juga mengucapkan doa tersebut.


15. Apabila telah selesai urusannya, hendaklah segera kembali ke negeri dan keluarganya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Bepergian" adalah sebagian dari siksa karena orang terpaksa mengurangi makan, minum dan tidurnya. Sebab itu, jika telah selesai hajatnya segera kembali kepada keluarganya." (Muttafaq 'alaih).


16. Tatkala sampai di kampung halaman, bertakbirlah tiga kali dan mengucapkan: "Kami kembali, bertobat dan ibadah kepada Tuhan kami serta tetap memuji kepada-Nya." Ucapkanlah berulang-ulang karena Rasulullah SAW mengerjakannya. (Muttafaq 'alaih).


17. Apabila sudah malam, janganlah mengetuk pintu rumah keluarganya. Dan hendaklah mengutus orang yang memberitahu kedatangannya sehingga tidak mengagetkan keluarga yang di rumah. Hal ini berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.


18. Perempuan janganlah "bepergian" sehari semalam, kecuali beserta mahrimnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: "Tidak dihalalkan seorang wanita melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahrimnya." (Muttafaq 'alaih).

Jumat, 02 April 2010

"ETIKA BERTAMU DAN MENGUNDANG TAMU"

"Semua agama mengakui adanya kewajiban menghormati "tamu" dan melaksanakannya sesuai yang diperintahkan oleh agama masing-masing, tidak terkecuali agama Islam."




Hadits Muttafaq 'alaih menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati "tamu"nya."


Kemudian Nabi Muhammad SAW juga bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan "tamu"nya menurut kebolehannya (jaizah). Mereka bertanya: Apa jaizah itu? Nabi menjawab: Sehari semalam. Dan lama ber"tamu" itu tiga hari. Dan selebihnya adalah sedekah."

Kaum Muslimin wajib memuliakan "tamu"nya dengan adab-adab sebagai berikut:


ADAB MENG"UNDANG" "TAMU".

1. Hendaklah meng"undang" "tamu" orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fasik dan orang jahat. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Hibban dan Hakim, bahwa Rasulullah bersabda: "Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang Mukmin. Dan janganlah makan makananmu kecuali orang takwa."


2. Jangan hanya meng"undang" orang-orang kaya saja dengan melupakan orang-orang miskin. Sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: "Sejelek-jelek makanan ialah makanan di tempat perkawinan yang para "undang"annya hanya orang-orang kaya dan tak ada orang miskin."


3. Jangan meng"undang" "tamu" dengan tujuan membanggakan diri. Namun "undang"lah "tamu" dengan tujuan mengikuti sunah Rasulullah SAW dan Nabi-nabi sebelumnya seperti Ibrahim yang mendapat julukan dari orang-orang sebagai bapaknya te"tamu". Hendaknya meng"undang" "tamu" dengan tujuan memberikan kegembiraan dalam hati para sahabat.


4. Janganlah meng"undang" orang yang diketahui keberatan untuk hadir atau yang dapat menyakiti kawan-kawan yang hadir karena menghindarkan gangguan terhadap orang Mukmin itu hukumnya adalah wajib.


ADAB MEMENUHI "UNDANG"AN.

1. Hendaknya menghadiri "undang"an datang tepat waktu dan tidak boleh terlambat kecuali ada udzur. Misalnya membahayakan agama atau dirinya, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa di"undang" hendaklah datang." Beliau juga Bersabda: "Jika aku di"undang" untuk makan kaki kambing pasti aku datang,. Dan jika aku diberi hadiah sikunya pasti aku terima."


2. Dalam memenuhi "undang"an jangan membedakan antara orang kaya dan orang miskin, karena tidak memenuhi "undang"an orang miskin akan membuat sakit hatinya, disamping itu cara demikian adalah sombong. Sombong adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.


3. Dalam memenuhi "undang"an jangan membedakan antara yang dekat dengan yang jauh. Apabila mendapat dua "undang"an, penuhilah yang paling dahulu dan minta maaf kepada yang lainnya.


4. Jangan sampai tidak menghadiri "undang"an dengan alasan sedang puasa. Datang saja.... Apabila yang punya rumah gembira apabila kita makan, berbukalah.... Karena menggembirakan hati orang Mukmin itu termasuk ibadah. Apabila tidak... Katakanlah kepada yang meng"undang" bahwa anda puasa dengan cara yang baik. Sebagaimana Hadits Muslim, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang kamu di"undang", maka datanglah. Bila sedang puasa, datanglah dan sampaikan maaf karena tak ikut makan. Dan bila berbuka, hendaklah ia makan." Nabi Muhammad SAW juga bersabda: "Apabila saudaramu meng"undang" makan, maka katakanlah: Saya sedang puasa."


5. Hendaklah berniat waktu memenuhi "undang"an itu dengan niat memuliakan saudaramu yang Muslim agar memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Sesungguhnya sahnya semua amal itu adalah dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung dari niatnya. Karena dengan niat yang baik, perbuatan mubah (boleh) menjadi ibadah yang akan diberi pahala."


ADAB MENGHADIRI "UNDANG"AN.

1. Janganlah terlalu lama di tempat "undang"an sehingga menyusahkan tuan rumah atau datang terlalu cepat, karena mereka akan kebingungan sebab keadaan belum siap. Dan hal ini termasuk menyakiti mereka.


2. Apabila masuk, janganlah mencari tempat duduk paling depan. Tapi hendaklah merendahkan diri. Apabila yang punya hajat (yang meng"undang") mempersilahkan duduk di tempat yang ditunjuknya, maka duduklah di tempat itu, jangan mencari tempat lain.


3. Hendaklah segera menghidangkan makanan buat "tamu". Karena ini berati menghormati "tamu". Agama memerintahkan menghormati "tamu", yaitu barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan "tamu"nya."


4. Jangan cepat-cepat mengangkat hidangan, sebelum selesai makan.


5. Tuan rumah hendaknya menghidangkan makanan secukupnya. Karena kalau tidak cukup, akan menyinggung perasaan "tamu". Dan kalau berlebih-lebihan berarti mengada-ada dan itu termasuk riya'. Jadi kedua-duanya tercela.


6. Apabila ber"tamu" pada seseorang, jangan lebih dari tiga hari, kecuali bila tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih lama. Dan apabila akan pulang mintalah ijin terlebih dahulu.


7. Tuan rumah hendaknya mengiringi "tamu" keluar dari rumah. Karena hal ini dilakukan oleh para pendahulu kita yang saleh. Dan termasuk memuliakan "tamu" sebagaimana yang telah diperintahkan oleh syariat.


8. Seorang "tamu" hendaknya meninggalkan rumah dengan hati yang baik, walaupun dalam penerimaan tidak sebagaimana mestinya. Karena hal ini termasuk budi pekerti yang baik dan pantas bagi seorang hamba untuk memperoleh derajat orang yang berpuasa.


9. Keluarga Muslim hendaknya memiliki tiga kamar tidur. Pertama untuk dirinya. Kedua untuk keluarganya. Dan ketiga untuk "tamu"nya. Dan lebih dari tiga dilarang, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Satu kamar tidur untuk dirinya, satu kamar tidur untuk perempuan dan satu kamar tidur untuk "tamu". Dan kamar keempat untuk setan."

"AKHLAK MALU DAN IMAN"

"Rasa "malu" merupakan sebagian dari "iman" yang menjadi akidah dan pedoman hidup kaum Muslimin."


Hadits Riwayat Bukhari Muslim, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Iman" itu ada tujuh atau enam puluh cabangnya. Yang paling utama ialah La ilaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan "malu" itu satu cabang dari "iman".


Hadits Riwayat Hakim, sahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim, menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda: "Malu" dan "iman" itu dua bagian yang tak dapat dipisahkan. Apabila yang satu hilang maka yang lain pun turut hilang."


Alasan mengapa "malu" merupakan bagian dari "iman", karena "malu" dan "iman" sama-sama menyeru kepada kebajikan dan menolak yang munkar. "Iman" merupakan daya pembangkit bagi orang Mukmin untuk berbuat ketaatan dan meninggalkan maksiat.


Rasa "malu" selalu membimbing orang untuk bersyukur kepada Allah SWT, dan mencegah berbuat buruk atau mengatakannya, karena takut mendapat celaan dan cercaan. Dengan demikian rasa "malu" akan mendatangkan kebaikan sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari Muslim sebagai berikut: "Malu" itu tidak datang, kecuali dengan kebaikan."
Dan Hadits Riwayat Bukhari Muslim yang lain: "Malu" itu semuanya baik."


Sedangkan yang kontradiksi dengan "malu" adalah kotor dan keji (tidak punya "malu"), yaitu kotor dalam perkataan, perbuatan dan berkata kasar. Orang Muslim tidak akan berkata kotor dan kasar, tidak pula keras dan bengis, karena sifat-sifat itu adalah sifat-sifat ahli neraka, sedangkan orang Muslim Insya'Allah adalah ahli surga. Sebagaimana Hadits Riwayat Ahmad dengan sanad sahih, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Malu" itu sebagian dari "iman". Dan "iman" itu berada dalam surga, sedang kata-kata keji itu sebagian dari kasar dan bengis. Kebengisan itu berada dalam neraka."


Akhlak Rasulullah SAW merupakan teladan setiap Muslimin, dan beliau sangat pe"malu" terhadap gadis, karena khawatir bahaya yang ditimbulkan. Hal ini sebagaimana Hadits Bukhari dari Abu Sa'id al-Khudri: "Apabila Nabi SAW melihat sesuatu yang dibencinya, maka akan kita ketahui dari wajahnya."


Orang Muslimin yang mengajak untuk memelihara rasa "malu" dan menanamkannya pada diri mereka, berarti ia menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Karena "malu" sebagian dari "iman", yang merupakan kumpulan segala keutamaan dan unsur segala kebaikan. Sebuah Hadis sahih Riwayat Muttafaq 'alaih, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW lewat di depan seorang laki-laki yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya tentang "malu", maka Rasulullah SAW bersabda: "Tinggalkanlah ia, karena "malu" itu sebagian dari "iman".


Rasulullah menyuruh untuk menanamkan rasa "malu" pada diri kaum Muslim dan melarang membuangnya.

Seorang Muslim lebih baik kehilangan hartanya dari pada kehilangan rasa "malu", karena "malu" merupakan bagian dari ke"iman"annya untuk berbuat kebaikan. Allah merahmati seorang perempuan yang kehilangan anaknya yang kecil. Perempuan itu pergi ke suatu kaum menanyakan tentang anaknya. Salah seorang dari mereka berkata: Perempuan itu mencari anaknya, tapi ia pakai kerudung. Mendengar itu perempuan tersebut menjawab: Hai laki-laki! Bagiku lebih baik kehilangan anak dari pada hilangnya rasa "malu" pada diriku.


Rasa "malu" pada seorang Muslim tidak akan menghalanginya untuk mengatakan yang hak, mencari ilmu atau amar ma'ruf nahi munkar. Suatu ketika Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Nabi SAW meminta tolong kepada beliau dalam suatu masalah, Rasulullah tidak "malu"-"malu" mengatakan kepada Usamah dengan nada marah, sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih: "Apakah kamu mau minta pertolonganku untuk menghindarkan dari hukum yang ditentukan Allah hai Usamah? Demi Allah, jika si Fulanah (seorang perempuan) mencuri, pasti akan dipotong tangannya."


Rasa "malu" juga tidak menghalangi Ummu Sulaim al-Ansariah untuk mengatakan kepada Nabi SAW, sebagaimana dijelaskan Hadits Riwayat Bukhari: Ya Rasulullah! Sesungguhnya Allah tidak "malu" untuk menyatakan yang hak. Apakah perempuan wajib mandi jika ia bermimpi? Nabi SAW menjawab: "Benar! jika dia melihat ada air (mani perempuan)."


Seorang Muslim tidak boleh "malu" untuk mempertahankan hak sesamanya. Dan seorang Muslim juga tidak boleh "malu" untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain.


Kaum Muslimin yang memiliki rasa "malu" tidak akan membuka auratnya, mengabaikan kewajiban, menolak yang makruf yang disodorkan orang kepadanya, dan tidak akan bicara yang tidak baik serta tidak akan menghadapi orang dengan cara yang tidak menyenangkan. Orang Muslim akan "malu" kepada Sang Khalik. Ia akan taat kepada-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya. Hal itu dikarenakan kekuasaan dan ilmu Allah. Seperti yang dikatakan Ibn Mas'ud yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Munziri, hadits marfu: "Malu"lah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Peliharalah kepalamu dan apa yang disadarinya. Peliharalah perut dan yang dikandungnya serta ingatlah akan mati dan kehancuran."


Hadits Riwayat Bukhari juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah lebuh berhak agar kamu "malu" kepada.Nya dari pada manusia."


Marilah kita sama-sama memelihara rasa "malu" kita masing-masing, supaya ke"iman"an kita dapat meningkat sehingga kita menjadi ahli surga. Insya'Allah...............

Jumat, 26 Maret 2010

"STROKE DAN CARA UNTUK MENGHINDARINYA"

"Stroke" merupakan gangguan aliran darah di otak sehingga sel-sel otak tidak memperoleh nutrisi dan oksigen yang cukup."


"Stroke" disebabkan oleh pembuluh darah buntu atau karena ada pendarahan. Hanya dalam hitungan menit sampai jam, sel otak yang tidak mendapatkan makanan akan mati.


Sekitar delapan puluh lima persen dari "stroke" disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah atau pembuntuan oleh bekuan darah (Ischemic "Stroke"). "Stroke" yang disebabkan oleh pendarahan disebut hemorrhagic "Stroke".


"Stroke" merupakan salah satu penyebab cacat tubuh dan kematian. Bagi orang tua, tiap pertambahan usia sepuluh tahun, kemungkinan terkena "stroke" naik dua kali lipat. Seringkali, apabila dijumpai "stroke" pada usia di atas enam puluh lima tahun, mayoritas akan berakhir dengan kematian.


Gejala "stroke" biasanya berupa:

1. Mendadak mati rasa, lemah atau kelumpuhan pada wajah, lengan, tangan atau tungkai bawah. Biasanya hanya separuh badan.


2. Sulit berbicara.


3. Penglihatan mendadak kabur.


4. Pusing, kehilangan keseimbangan.


5. Sakit kepala yang hebat, atau sakit kepala tidak seperti biasanya secara mendadak. Kadang disertai leher yang kaku, nyeri pada wajah, ada muntah atau kesadaran menurun.


6. Bingung, sukar berorientasi, hilang ingatan.


Beberapa gejala lain dapat timbul sebelum atau sesudahnya. Misalnya sulit menelan, tidak dapat berjalan, pendengaran hilang, bahkan tidak dapat mengontrol kencing atau berak. Daya ingat, kemampuan berpikir dan belajar, serta orientasi terganggu. Penderita "stroke" tidak dapat berkonsentrasi atau memperhatikan sesuatu. "Stroke" akibat pendarahan dapat menimbulkan rasa mual, muntah, pusing bahkan kesadaran menurun sampai koma.


"Stroke" mayoritas timbulnya secara mendadak tanpa ada tanda sebelumnya. Namun, ada beberapa penderita "stroke" dapat mengalami serangan transient ischemic attack (TIA) terlebih dahulu. TIA adalah serangan mirip "stroke" yang berlangsung hanya sekejap, beberapa detik hingga beberapa menit, dan kemudian menjadi normal kembali tanpa meninggalkan gejala sisa atau permanen. Bila ada TIA, harus segera waspada dan mengobatinya supaya tidak terjadi "stroke" yang sesungguhnya.


Ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih mudah terkena "stroke", antara lain:

1. USIA. Mulai dari usia 35 tahun, tiap kenaikan 19 tahun, maka resiko terkena "stroke" akan naik dua kali lipat.


2. JENIS KELAMIN. Kemungkinan terkena "stroke" bagi pria dan wanita adalah sama. Namun, statistik menunjukkan bahwa wanita yang terkena "stroke" akan lebih cepat meninggal dari pada pria.


3. RAS. Orang berkulit hitam lebih mudah terserang "stroke" dari pada ras lainnya.


4. RIWAYAT KELUARGA. Bila ada orang tua atau saudara yang terkena "stroke", maka kemungkinan mengalami "strole" menjadi lebih besar.


5. TEKANAN DARAH TINGGI. Hipertensi dapat merusak pembuluh darah, mempermudah terjadi plak atau penyumbatan (arteri osklerosis), sehingga lebih mudah terserang "stroke".


6. KOLESTEROL. Bila kolesterol LDL seseorang tinggi sedangkan kolesterol HDL rendah, maka seseorang akan mudah terserang "stroke".


7. MEROKOK. Orang yang merokok akan dua sampai tiga kali lebih mudah terserang "stroke".


8. HIDUP SANTAI. Orang yang jarang bergerak atau berolahraga cenderung lebih mudah mengalami "stroke".


9. DIABETES. Penderita diabetes lebih mudah mengalami arteri osklerosis dan terkena "stroke".


10. PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH. Gangguan kardiovaskuler seperti gagal jantung, penyakit klep jantung, pernah mengalami serangan jantung, atau gangguan irama jantung, mudah memicu timbulnya "stroke".


11. PERNAH "STROKE" ATAU TIA SEBELUMNYA. Apabila seseorang berusia lebih dari 45 tahun dan pernah terkena "stroke", maka kemungkinan terjadi "stroke" ulang menjadi besar, yaitu 10 sampai 20 kali lipat. Demikian pula apabila pernah terkena TIA, resiko terserang "stroke" bertambah besar. "Stroke" sering timbul pada bulan berikutnya setelah TIA.


Pada "stroke" akibat penyumbatan, maka pengobatan yang diberikan adalah untuk menghilangkan sumbatan dan melancarkan aliran darah kembali, antara lain:

1. OBAT ANTI PLATELET. Yakni obat yang menghambat pembentukan bekuan darah, melancarkan darah, sehingga penyumbatan tidak terjadi.


2. ANTIKOGULAN. Obat ini menghambat pembekuan darah.


3. TISSUE PLASMINOGEN ACTIVATOR (TPA). Obat ini menghancurkan bekuan darah, sehingga mengurangi dan mencegah kerusakan otak akibat penyumbatan darah. Harus diberikan segera atau dalam tiga jam setelah terjadi serangan "stroke". Pemakaian yang tidak hati-hati dapat memicu terjadinya pendarahan.


4. PEMBEDAHAN ATAU BALON. Kadang dibutuhkan untuk membersihkan bekuan darah di arteri karotid di leher, yaitu pembuluh darah yang dilewati darah menuju otak, supaya tidak mudah timbul "stroke" ulangan.


Apabila "stroke" yang disebabkan oleh pendarahan, penanganannya berbeda. Tekanan darah harus dikontrol dengan sangat cermat, jumlah cairan infus yang diberikan juga perlu dipantau ketat. Ini untuk mencegah penekanan jaringan otak akibat tekanan di dalam otak yang meninggi. Tindakan pembedahan dibutuhkan untuk menghentikan pendarahan dan membuang bekuan pendarahan, supaya tekanan dalam otak dapat normal kembali.


Tindakan rehabilitasi akan membantu penderita "stroke" untuk memulihkan kekuatan serta kemampuan untuk kembali melakukan aktivitas. Misalnya menambah kekuatan otot, melatih keseimbangan, serta menghilangkan kekuatan sendi. Latihan fisik juga dapat menumbuhkan kepercayaan diri, dan menghilangkan depresi. Rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin, barangkali dalam beberapa hari setelah serangan "stroke" sudah dapat dimulai berlatih. Pasien "stroke" harus dimotivasi untuk mau berlatih. Tanpa berlatih, otot akan semakin lemah dan kecil, sendi semakin kaku. Akhirnya harus terus berbaring dan semakin tidak berdaya.

Kadang beberapa hal diperlukan selama perawatan "stroke". Misalnya oksigen, alat untuk membersihkan lendir di jalan napas, nebulizer untuk menguapi jalan napas, serta pemberian makanan melalui nasogastric tube (pipa melalui hidung ke lambung).


Kita harus selalu melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Hal ini bukan saja untuk menghindari "stroke", akan tetapi juga untuk mencegah supaya penderita "stroke" tidak mengalami serangan kedua, ketiga dan seterusnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari "stroke" antara lain:

1. DIET SEHAT UNTUK OTAK. Banyak mengkonsumsi buah, sayur, kacang, kedelai, oatmeal dan ikan.


2. HINDARI LEMAK JENUH ATAU KOLESTEROL. Apabila tidak dapat berdiet pantang kolesterol, anda butuh obat untuk menurunkan kolesterol.


3. JANGAN GEMUK. Berat badan berlebihan memicu timbulnya "stroke".


4. OLAHRAGA TERATUR. Olahraga dapat menurunkan tekanan darah dan membuatnya stabil. Olahraga juga menaikkan kolesterol HDL yang baik untuk pembuluh darah.


5. JAUHI ROKOK DAN ALKOHOL. Rokok dan alkohol dapat merusak pembuluh darah, menimbulkan hipertensi, seseorang menjadi lebih mudah terkena "stroke".


6. KONTROL GULA DAN TEKANAN DARAH. Kunci kesuksesan terletak bagaimana berdiet sehat, berolahraga teratur, mengatur berat badan yang ideal, serta minum obat yang benar.


7. JANGAN STRES. Stres membuat tekanan darah mendadak naik, memicu terjadinya pembekuan darah, dan akibatnya adalah "stroke".


COKELAT TURUNKAN RESIKO "STROKE".

Ada sebuah penelitian mengatakan bahwa makan satu potong cokelat per hari dapat menurunkan resiko serangan jantung dan "stroke" sampai 39 persen.


Penelitian lain juga mengatakan, bahwa makan cokelat 7,5 gram sehari akan menurunkan tekanan darah. Mereka yang makan paling banyak jumlah cokelatnya - rata-rata 7,5 gram per hari --- telah menurunkan kemungkinan serangan jantung dan "stroke" dibandingkan dengan mereka yang makan paling sedikit (rata-rata 1,7 gram per hari).


Penelitian yang diterbitkan dalam sebuah Jurnal Jantung Eropah, menyimpulkan bahwa apabila orang-orang yang makan sedikit cokelat kemudian meningkatkan asupannya enam gram sehari akan mengurangi resiko serangan jantung dan "stroke". Mereka yang makan paling banyak cokelat memiliki 27 persen penurunan resiko serangan jantung dan hampir setengah (48 persen) resiko "stroke" dibandingkan dengan mereka yang makan paling sedikit.


Seorang ahli epidemiologi nutrisi di Jerman, Dr. Brian Buijsse dari Institute of Human Nutrition, Nuthetal Jerman, mengatakan bahwa orang-orang yang makan paling banyak jumlah cokelat berada pada resiko 39 persen lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi cokelat terendah.

(Sumber: Buletin BAZ Edisi XII/Jumadats Tsani 1431 H).


MusicPlaylistView Profile