Selasa, 01 Januari 2013

"ANTROPOLOGI PERKOTAAN"

"Antropologi Perkotaan" tidak sama dengan sosiologi "perkotaan", karena bersifat induktif, analisisnya berdasarkan keadaan di lapangan dan merencanakan keadaan ke depan, bukan seperti pada sosiologi "perkotaan" yang bersifat deduktif, dan analisisnya berdasarkan teori sosiologi".
 

Pada awal perkembangannya, "Antropologi" memusatkan perhatiannya kepada masyarakat primitif. Perhatian ini timbul karena ada sesuatu yang dianggap sebagai keganjilan pada tingkah laku masyarakat tertentu, yaitu pada masyarakat pedalaman-pedalaman. Akan tetapi lama-kelamaan, mereka tidak lagi melihat tingkah laku itu sebagai sesuatu yang ganjil, melainkan sebagai sesuatu yang masih dekat dengan alam, dan masih berada dalam tahap perkembangan. Dan pada saat itu "Antropologi" memusatkan perhatiannya pada masyarakat tersebut.

Karena ternyata masyarakat primitif itu telah semakin maju dan teradaptasi ke dalam masyarakat modern, maka perhatian "Antropologi" selanjutnya beralih pada masyarakat pedesaan. Hampir seluruh aspek kehidupan desa telah diteliti dan diungkapkan. Karena itu, perhatian para "Antropolog" pada tahap berikutnya, mulai beralih ke "kota". Ada beberapa alasan yang digunakan untuk mengalihkan dan memperluas perhatian mereka ke "kota"-"kota".

1. Masyarakat "kota" mempunyai pola-pola budaya dan tingkah laku, lembaga, pranata, serta struktur sosial yang berbeda dari masyarakat primitif maupun masyarakat desa.
2. Terjadinya urbanisasi yang semakin meningkat. Pada umumnya mereka mereka pergi ke "kota" tanpa membawa bekal ketrampilan kecuali tenaga. Setibanya di "kota", mereka dapati dirinya berada pada situasi dan kondisi yang berbeda dari pada sewaktu berada di desa. Bagaimana reaksi dan respon mereka itulah yang menarik perhatian para "antropolog".
3. Semakin luasnya pengaruh kehidupan kota atas kehidupan daerah pedesaan yang berada di sekitarnya, baik positif maupun negatif.
4. Semakin merosotnya nilai-nilai manusiawi oleh berkembangnya teknologi di "kota".

Pada awal abab 20 dimana "Antropologi Perkotaan" mulai dikembangkan. Seorang "antropolog" yang mencoba menerapkannya adalah Cliford Gertz, dalam penelitiannya di sebuah daerah yang berada di Jawa Timur yang dalam hasil penelitiannya disamarkan dengan nama Mojokuto. Dalam penelitiannya itu Gertz mencoba menganalisis sistem stratifikasi sosial masyarakat Jawa yang didasarklan pada kepercayaannya. Masyarakat Jawa dalam kaca mata Gertz terbagi dalam tiga golongan yaitu Priayi, Santri, dan Abangan. Dengan diterbitkannya hasil penelitiannya yang dilakukan kurun waktu 1940’an, "Antropologi Perkotaan" di Asia umumnya dan di Indonesia mulai berkembangan.

PERKEMBANGAN "ANTROPOLOGI PERKOTAAN"

Pada umumnya para "antropolog" memandang Ribert Redfield sebagai sebagai perintis "antropologi" urban. Hasil penelitiannya atas kota Yucatan (Mexico) dalam tahun 1930 tertuang dalam suatu konsep yang dikenal dengan Hipotesis Folk Urban (menurut Ralph L. Beals) atau model bipolar maralistik (menurut John Guillick).

Penelitian sosiologi di kawasan Amerika Latin dikatakan lebih bersifat "Antropologis" karena :
  • Para peneliti itu telah berusaha untuk membahas keseluruhan struktur sosial dan kebudayaan komunitas di daerah penelitian mereka (jadi,hollistik).
  • Mereka telah secara ekstensif menggunakan metode-metode etnografis yakni residensi dan observasi jangka panjang, serta teknik-teknik yang intensif.
Terdapat tiga sosiolog yang telah melakukan penelitian "kota"-"kota" di Amerika Serikat dan hasil-hasil penelitian mereka dikenal “aliran chicago”atau aliran human ecology. Mereka adalah R.E Park, E.W.Burgess dan R.E. Mc Kenzie. Mereka menunjukkan bahwa persebaran kelompok heterogen dalam kota tidak berlangsung secara liar, seperti dugaan sebelumnya. Nyatanya ada pengelompokan berdasarkan ras atau keagamaan ataupun pekerjaan. Dua yang pertama dapat saja berdempetan sehingga merupakan natural area yang merangkap pula cultural area.

Adapun yang dimaksud dengan natural area ada 2 macam. 
Pertama berdasarkan tujuan penggunaan tanah. 
Kedua, berdasarkan tipe penduduk atau penghunian. 
Acap kali, tipe kedua ini memiliki adat istiadat, gagasan dan pandangan hidup yang khas karena latar belakangnya yang kultural, sehingga daerah demikian disebut cultural area.

Luasnya bidang yang dicakupi oleh penelitian dan kajian "antropologi" ini telah menimbulkan pertanyaan mengenai apakah "antropologi" mempunyai sumbangan yang terpisah dari ilmu politik, ekonomi dan khususnya sosiologi?.

Pembenaran atas pandangan ini harus di cari di dalam kenyataan bahwa "antropologi" telah membawa suatu sudut pandangan yang lain terhadap masalah urban/"perkotaan". Salah satu ciri utama studi "antropologis" ialah pendekatannya whollistik yang melihat "kota" sebagai suatu entitas atau suatu bentuk sosio-kultural yang khas. Karena perkembangan studi "Antropologi Perkotaan" ini banyak memfokuskan perhatiannya terhadap permasalahan yang terdapat atau timbul dalam kehidupan komunitas "perkotaan", maka "Antropologi Perkotaan" dapat dikategorikan sebagai studi terapan.

SEJARAH PERTUMBUHAN "KOTA"-"KOTA".

Pusat-pusat organisasi dan pengawasan atas daerah pertanian yang subur dan luas itu kemudian telah telah menarik berbagai spesialisasi dan perdagangan dan juga dan juga dari masyarakat daerah lain yang kurang subur atau gersang. Akibat lanjutnya ialah terciptanya pekerjaan yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan, pembuatan alat-alat pertanian, perencanaan irigasi dsb.

Pusat-pusat urban yang muncul melalui proses tersebut di atas disebut pusat urban “primer”, karena mengikuti suatu proses ekologis yang berlangsung secara alamiah (natural). Sebaliknya, inilah pusat-pusat urban “sekunder”, yakni pusat-pusat urban yang yang segera muncul di wilayah lain. Disamping itu terdapat juga pusat-pusat urban yang muncul kemudian yang tampaknya berkaitan dengan pertumbuhan yang cepat dalam perdagangan dan perniagaan. Namun demikian, satu hal yang diperjelas oleh studi urban adalah bahwa suatu kondisi pra-urbanisme berupa penghalusan dan pemutuan teknik-teknik produksi bahan makanan selalu diperlukan, agar selalu memungkinkan terdukungnya penduduk yang padat dan klas (atau klas-klas) penduduk non petani di dalam suatu masyarakat.
 
Pernyataan lain dalam kaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan "kota"-"kota", ialah yang dikemukakan oleh Mac Iver dan Page (society, 1949) yang menyatakan bahwa "kota"-"kota" akan bertumbuh jika suatu masyarakat atau suatu kelompok orang dalam masyarakat memperoleh kontrol yang lebih besar atas sumber-sumber daya daripada yang diperlukan untuk hidup saja.

Gideon Sjoberg (The Pre Industrial City,1960) mengemukakan adanya adanya tiga tingkatan organisasi manusia menuju kepada terbentuknya pusat-pusat urban, yaitu:
  1. Pre-urban feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya kota-kota.
  2. Pre-industrial feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya industri.
  3. Modern industrial feudal, yakni masyarakat feodal dengan industri maju.
Drs. J.H. De Goode (dalam J.W. Schoorl:Modernisasi,1981). Mengemukakan bahwa perkembangan "kota"-"kota" dapat dipandang sebagai fungsi dari faktor-faktor:

1. Jumlah penduduk keseluruhan.
2. Penguasaan atas alam lingkungan .
3. Kemajuan teknologi, dan
4. Kemajuan dalam organisasi sosial

Suatu hipotesis tentang perkembangan "kota" juga dikemukakan oleh Kenneth Ee. Boulding. Menurut perkembangannya, ia membagi "kota"-"kota" itu ke dalam “kota" politik” dan “kota" ekonomi”.

"KOTA" DAN PERKEMBANGANNYA.

N.Daljoeni, yang mengutip Grunfield, merumuskan kota sebagai suatu pemukinan dengan kepadatan penduduk yang lebih besar daripada kepadatan wilayah nasional, dengan struktur mata pencaharian non agraris dan tata guna lahan yang beraneka ragam , serta dengan pergedungan yang berdirinya berdekatan.
Dari segi fisik, kota adalah suatu pemukiman dengan perumahan yang relatif rapat dan sarana prasarana serta fasilitas-fasilitas yang relatif memadai guna memenuhi kebutuhan penduduknya.

Belum ada kesepakatan mengenai rumusan yang lengkap dan tepat mengenai "kota". Drs. J.H. De Goode mengajukan sejumlah ciri yang dipandang sangat menentukan watak khas kehidupan "kota", misalnya:

a. Peranan besar yang dipegang oleh sektor sekunder (industri) dan tersier (jasa) dalam kehidupan ekonomi.
b. Jumlah penduduk yang relatif besar.
c. Heterogenitas susunan penduduknya.
d. Kepadatan penduduk yang relatif besar.

Dalam literatur Anglo-Amerika, terdapat dua istilah untuk memaksudkan "kota", yakni “city”dan ‘town”. "Schoorl, dalam hubungan ini, mengemukakan suatu jenis "kota" yang disebutnya “kota" primat”, yakni "kota" yang sangat besar yang cenderung memperlihatkan parasitismenya terhadap masyarakat nasional , dan berusaha menarik bagian–bagian modal yang relatif besar sehingga dapat menjadi hambatan bagi daerah-daerah pedesaan maupun "kota"-"kota" yang lebih kecil.

Lewis Mumford, mengemukakan 6 Jenis "kota" yang dilihatnya dari tahap-tahap perkembangannya. Jenis "kota"-"kota" itu adalah :

1. Eopolis: Merupakan suatu pusat dari daerah-daerah pertanian dan mempunyai adat istiadat yang bercorak kedesaan dan sederhana.
2. Polis: merupakan tempat berpusatnya kehidupan keagamaan dan pemerintahan.
3. Metropolis: Dicirikan oleh wilayahnya yang kurang luas dan penduduknya yang banyak terdiri atas orang-orang dari berbagai bangsa. Percampuran perkawinan antar bangsa dan ras. Perkembangan menjadi metropolis menunjukkan kemegahan, tetapi dari segi sosial memperlihatkan adanya kekontrasan antara golongan kaya dan golongan miskin.
4. MeMegalopolis: Pada tahap ini gejala sosio-patologis sangat menonjol, di satu pihak terdapat kekayaan dan kekuasaan yang didukung oleh birokrasi yang ketat, tapi di pihak lain terdapat kemiskinan mendorong terjadinya pemberontakan proletar.
5. Tiranopolis: Ditandai oleh adanya degenerasi, merosotnya moral penduduk, timbulnya kekuatan politik baru dari kaum proletar.
6. Nekropolis: Kota yang sedang mengalami kehancuran. Peradabannya menjadi runtuh dan kota menjadi puing-puing reruntuhan. 

MASYARAKAT DAN KEHIDUPAN "KOTA".
 
Louis Wirth, dengan bertolak dari hasil penelitiannya dan definisinya tentang "kota" yang kualitatif, melihat kehidupan kota, dan mengemukakan bahwa : 

a. Banyak relasi "kota" menyebabkan tidak memungkinkan terjadinya kontak-kontak yang lengkap diantara pribadi-pribadi.
b. Orang "kota" harus melindungi dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak hubungan yang bersifat pribadi, ia juga harus menjaga diri terhadap potensi-potensi yang merugikan atau membahayakan dirinya pribadi dan keluarga, maupun kebudayaannya.
c. Kebanyakan hubungan orang-orang "kota" digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu saja.
d. Orang "kota" memiliki semacam emansipasi atau kebebasan untuk menghindar dari pengawasan oleh kelompok kecil atas keinginan dan emosinya.

Sehubungan dengan ciri-ciri yang dikemukakan oleh Wirth di atas, maka Claude Fischer mengatakan bahwa "kota"-"kota" itu merupakan tempat-tempat yang subur dimana terdapat sub kultur yang berbeda-beda dan sehat dapat berkembang baik. Karena itu akan timbul dua proses yang yang akibatnya berlawanan yakni intensifikasi sub kultur dan difusi kebudayaan.

N. Daldjoeni (Seluk Beluk Masyarakat, 1978) mengatakan bahwa "kota" dapat didekati dari dua aspek, yakni aspek fisik (peng"kota"an fisik) dan aspek mental (pengkotaan mental). Yang disebut pertama bersangkut paut dengan luas wilayah, kepadatan penduduk, tata guna tanah yang non agraris. Aspek kedua bertalian dengan orientasi nilai serta kebiasaan hidup orang "kota".

John Gullick merumuskan bahwa keenam "kota" kecil itu mempunyai beberapa ciri khas atau esensi urban yang sama :

a. Adanya perantara (brokers).
b. Kehadiran orang asing atau orang luar.
c. Adanya hubungan diantara klas-klas atas di "kota""kota" dengan pribadi-pribadi atau asosiasi-asosiasi di "kota"-"kota" lain yang lebih besar.
d. Adanya hubungan-hubungan pribadi yang impersonal, rasionalistik berorientasi tujuan, atau interpersonal tunggal.
e. Mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan.
f. Adanya heterogenitas kultural.

Jadi, setiap "kota" yang berukuran bagaimanapun masyarakatnya adalah produk behavioural (perilaku) dari suatu sistem sosial budaya yang lebih besar. Suatu masalah dalam kehidupan dengan kehidupan "perkotaan" ialah sekularisasi dan sekularisme. Sekularisasi dirimuskannya sebagai seperangkat aspek yang saling berkaitan : 
(1) tipe aspek sosial, 
(2) diferensiasi dan spesialisasi pranata-pranata, dan 
(3) institusionalisasi perubahan.

PERADABAN "KOTA".
 
Pada umumnya, orang mengidentikkan "kota" dengan peradaban (civilization), karena memang sulit untuk mengatakan bahwa suatu kota memiliki kebudayaan, sebab tentunya masih dapat dipertanyakan apakah kehidupan komunitas urban memenuhi kriteria definisi maupun unsur-unsur kebudayaan (culture).
Ada dua definisi yang dapat digunakan untuk menentukan apakah "kota" dapat dikategorikan sebagai mempunyai kebudayaan yang khas. Definisi yang pertama, dalam arti luas, misalnya yang dikemukakan E.B. Taylor:
Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Secara lebih khusus, ”peradaban” dapat juga dirimuskan sebagai “tingkat kemampuan seseorang atau masyarakat untuk menciptakan atau merumuskan ketentuan-ketentuan bagi pengaturan tata kehidupannya dalam hubungannya dengan lingkungan sosial maupun lingkungan alam, serta tingkat kemampuan seseorang atau masyarakat itu untuk mematuhi dan menaati ketentuan-ketentuan itu.

Bertolak dari rumusan di atas, maka komunitas "kota" dapat dikatakan memiliki peradaban yang lebih tinggi, bukan kebudayaan. Seperti dikemukakan oleh Robert Redfield, komunitas "kota" lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat material dan rasional sehingga hubungan menjadi impersonal dan sekunder, bukan lagi “relation oriented”. Individu menjadi teratomisasi dan teranomisasi sehingga masing-masing harus mencari jalannya sendiri-sendiri untuk tetap hidup.


Karena banyaknya dan bervariasinya tuntutan dalam bertingkah laku dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang berorientasi pada (goal) dan pencapaian (achievement) maka gaya hidup masyarakat "kota" lebih diarahkan pada penampilan fisik dan kualitas fisik sehingga tampak civilized. Gejala lain dalam komunitas "kota" adalah adanya kecenderungan masyarakat menjadi masyarakat massa (mass society) dimana individu kehilangan identitas pribadinya.

Tapi, di balik apa yang dikemukakan di atas, terdapat pandangan yang melihat "kota" sebagai mempunyai peranan yang penting di dalam kehidupan masyarakat umum dan bangsa. Karena "kota" merupakan pusat kekuasaan, ekonomi, pengetahuan, inovasi, dan peradaban maka kehidupan "kota" dapat membawa dan mengarahkan kehidupan masyarakat umum kepada peningkatan kualitas hidup manusia. Keadaan ini sebanding dengan arti “sivilitas” yang berarti kualitas tertinggi pada masyarakat manusia. Sekularisasi mencapai puncaknya dalam masyarakat modern, yang mempengaruhi hampir semua bidang perilaku, dan meluas ke kalangan penduduk. Pendekatan kehidupan "kota" sebagai jaringan sistem yang utuh memang diperlukan untuk memperoleh pengertian yang jelas dan mendalam mengenai kondisi dan proses kemajuan dan atau kemunduran kehidupan dan peradaban "kota".

"KOTA" DAN KELOMPOK KERABAT.

Pada masyarakat pra modern, kelompok kekerabatan dan kekeluargaan memang mempunyai peranan yang penting sebagai organisasi yang mempunyai berbagai fungsi, termasuk fungsi kontrol atas perilaku individu. Karena itu posisi individu, sebagian besar ditentukan oleh kelompok kerabat dan keluarga dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Goode menemukan adanya beberapa kekuatan dalam masyarakat industri yang menggerogoti organisasi keluarga nasional yakni :

a. Adanya keharusan mobilitas horizontal atau geografik sehingga kontak antar keluarga menjadi kurang teratur dan menjadi agak jarang.
b. Besarnya kesempatan mobilitas sosial (vertikal). Keadaan ini membuat sulitnya kontak-kontak sosial.
c. Tumbuhnya organisasi "kota" dan organisasi industri yang mengambil alih berbagai fungsi kelompok kerabat.
d. Diutamakannya prestasi (achievement) bila dibandingkan keturunan (ascription)
e. Dilakukannya spesialisasi sehingga ikatan kekerabatan tidak lagi memegang peranan yang menentukan dalam kedudukan sosial.

Karena itu, dalam banyak masyarakat, kelompok keluarga besar menjadi kurang artinya, organisasi klen menjadi cair dan keluarga besar menjadi kabur. Namun demikian, perlu diingatkan bahwa keadaan tersebut di atas tidak secara otomatis berlaku dalam organisasi sistem kekerabatan yang modern, atau secara otomatis memperlemah ikatan-ikatan kekerabatan itu. Hal di atas baru akan terjadi bila mobilitas sosial dan geografik mendapat arti yang baru, misalnya pergeseran ke dalam suatu (sub) kebudayaan yang lain dan yang memberi identitas baru. Dalam hal demikian, hubungan antar anggota-anggota keluarga dapat menjadi renggang.

Sedang dalam berbagai situasi sosial, kekerabatan masih dimanfaatkan, misalnya untuk mengelola perusahaan, kekuasaan, ataupun permodalan. Juga dalam situasi tertentu, misalnya dalam hal ancaman terhadap kedudukan dalam usaha untuk memperoleh pekerjaan atau perumahan dan fasilitas-fasilitas lainnya, ataupun jaminan hukum, maka kekerabatan dapat berfungsi sebagai penolong.

Sejalan dengan berkembangnya "kota", terutama dalam hal jumlah penduduknya, maupun tuntutan sejumlah kebutuhan (ekonomi, politik, dan sosial budaya lainnya ) maka organisasi-organisasi keluarga juga cenderung berkembang meluas menjadi organisasi regional, yang tentunya mempunyai fungsi-fungsi yang harus dipenuhi, kalau tidak mau tenggelam dalam situasi anomik, individualisme, dan lain-lainnya yang bersifat disintegratif. 

Dengan kata lain alasan-alasan fundamental pembentukan asosiasi regional ialah karena asosiasi ini dapat berfungsi secara efektif sebagai suatu mekanisme adaptif dalam "kota"-"kota" yang besar. Asosiasi-asosiasi regional lebih bertujuan untuk memodernisasi dan menempatkan kesejahteraan umum para anggotanya. Di dalamnya terdapat suatu perasaan persaudaraan tanpa memandang pada kekayaan, pendidikan, ataupun jabatan. Sehingga keadaan itu akan meratakan jalan bagi terbentuknya status “urban” yang dibedakan dari status “rural”, dan menimbulkan kesadaran klas, bukannya kesadaran kesukuan.
 
"KOTA" DAN KEMISKINAN.

Salah satu masalah yang mendapat sorotan dari para "antropolog" adalah masalah kemiskinan yang dialami oleh golongan tertentu dalam "kota"-"kota" besar.

Oscar Lewis mengemukakan bahwa kebudayaan kemiskinan itu (culture of poverty) mempunyai ciri-ciri :
a. Tingkat mortalitas yang tinggi dan harapan hidup yang rendah.
b. Tingkat pendidikan yang rendah.
c. Partisipasi yang rendah dalam organisasi-organisasi sosial.
d. Tidak atau jarang ambil bagian dalam perawatan medis dan program-program kesejahteraan lainnya.
e. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota seperti toko-toko, museum, atau bank.
f. Upah yang rendah dan keamanan kerja yang rendah.
g. Tingkat ketrampilan kerja yang rendah.
h. Tidak memiliki tabungan atau kredit.
i. Tidak memiliki persediaan makanan dalam rumah untuk hari besok.
j. Kehidupan mereka tanpa kerahasiaan pribadi (privasi).
k. Sering terjadi tindak kekerasan termasuk pemukulan anak.
l. Perkawinan sering terjadi karena konsensus, sehingga sering terjadi perceraian dan pembuangan anak.
m. Keluarga bertumpu pada ibu.
n. Kehidupan keluarga adalah otoriter.
o. Penyerahan diri pada nasib atau fatalisme.
p. Besarnya hypermasculinity complex di kalangan pria dan martyr complex di kalangan kaum wanita.

Dikemukakannya, misalnya bahwa kegagalan kebijaksanaan pemerintah terhadap kemiskinan adalah disebabkan karena kebijaksanaan itu didasarkan atas asumsi adanya suatu kebudayaan yang self-perpetuating itu. Struktur kekuasaan lokal maupun nasional tidak berubah, demikian pula dalam distribusi sumber-sumber material dan psikik.

Depriviasi utama kaum miskin dari posisi kultural mereka di dalam sistem sosial, menurut Valentino, bersumber dari tindakan-tindakan dan sikap golongan bukan miskin. Karena itu untuk mengatasi hal itu perlu ada suatu sikap berpihak kepada kaum miskin di dalam pekerjaan dan pendidikan, yang disebutnya radical egalitarism. Jadi kondisi kemiskinan yang demikian itu, berdasarkan uraian Gladwin dan Valentine tersebut di atas disebut sebagai kemiskinan struktural, yakni kemiskinan yang tercipta dan kekal yang disebabkan oleh mereka yang berada dalam struktur sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat, yang dengan berbagai usaha tidak memberi kesempatan kepada segmen di bawah beranjak ke atas guna memperbaiki taraf hidup mereka.

Sejalan dengan masalah kemiskinan itu adalah segmen pemukiman "kota" yang disebut squatter’s "town", ghetto, dan daerah etnis lainnya, sebagai fenomena struktural yang sering dijumpai di "kota"-"kota" besar. Squatter’s "town" adalah pemukiman (settlement) yang berupa pemukiman di bawah standar, sering tanpa status yang jelas mengenai tanahnya, dan berlokasi di dalam atau di batas-batas pinggiran "kota". Ghetto adalah pemukiman yang dihuni oleh suatu etnis tertentu yang dipandang sebagai etnis yang kurang disenangi oleh mayoritas kelompok masyarakat lainnya karena dipandang jorok dan mempunyai cara hidup yang aneh.

Ada beberapa "antropolog" yang telah meneliti fenomena pemukiman /penghunian liar di berbagai "kota" besar. Fokus penelitian mereka terutama diarahkan kepada asal-usul masing-masing daerah penghunian liar, organisasi dan asosiasi di dalamnya, aturan-aturan setempat, serta fungsi semua itu bagi penghuninya, maupun bagi para migran baru.

URBANISASI.

Penelitian urbanisasi itu dapat dirinci ke dalam pengertian-pengertian berikut :
a. Arus perpindahan penduduk dari desa ke "kota".
b. Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja non agraris di sektor industri dan sektor tersier.
c. Tumbuhnya pemukiman menjadi "kota".
d. Meluasnya pengaruh kota di daerah-daerah pedesaan dalam segi ekonomi, sosial, budaya dan psikologi.

Tetapi pada umumnya orang mengartikan urbanisasi itu hanya sebagai mengalirnya perpindahan penduduk dari pedesaan ke "kota"-"kota", dan dipandang sebagai penyebab utama terjadinya berbagai masalah sosial. Hasil dari penelitian dan pengidentifikasian itu telah dikategorikan ke dalam dua kelompok penyebab, yakni “faktor pendorong” dan “faktor penarik”.

Perkembangan dan kemajuan alat komunikasi dan transportasi juga turut berpengaruh atas perpindahan "kota", sehingga memperbesar kesempatan dan kemungkinan orang pedesaan tinggal di "kota" karena dengan mudah dan cepat dapat pulang pergi dari dan ke desa asal.
 
G. Germani (migration and acculturation,1965) berpendapat bahwa segala perpindahan itu harus dianalisis atas dasar yang lebih luas. Untuk itu digunakannya 3 tingkat analisis :

a. Tingkat Obyektif, dimana faktor pendorong dan penarik, bersama-sama dengan cara penyelenggaraan hubungan "kota" dan pedesaan ikut dipertimbangkan.
b. Tingkat Normatif dan Sosio-psikologik, dimana diperhatikan kondisi obyektif yang berfungsi dalam masyarakat : norma, nilai, kepercayaan, juga sikap dan tata kelakuan yang berpengaruh atas perpindahan itu.
c. Analisis tingkat psiko-sosial, yang mencakup sikap dan harapan individu-individu konkrit, yang memutuskan untuk pindah ke "kota" atau tidak.

Dari studi itu disimpulkannya suatu konsep yang disebut step by step, yakni perpindahan yang besar cenderung untuk menciptakan gerakan perpindahan tandingan, bahwa di kalangan para migran yang berpindah dalam suatu jarak yang jauh dari komunitas mereka sendiri terdapat kecenderungan untuk berpindah ke pusat-pusat industri dan niaga yang besar, bahwa penduduk "kota" yang lebih kecil kurang berminat berimigrasi bila dibandingkan dengan mereka di pedesaan, dan bahwa kaum wanita lebih berkeinginan untuk berimigrasi bila dibandingkan kaum pria.

Ada banyak bukti bahwa "kota" lebih banyak menarik kaum wanita muda bila dibandingkan dengan kaum pria muda, karena pedesaan kurang memberikan kesempatan ekonomi. Ada banyak orang pergi ke pusat-pusat urban semata-mata karena desakan ekonomi, karena tingkat kelahiran di pedesaan lebih tinggi dan lapangan pekerjaan berkurang. Di pihak lain, sebagian orang menemukan bahwa kemampuan mereka tertekan, dan ambisi mereka terhalang di lingkungan pedesaan dan karena itu, mereka berpaling kepada kemungkinan-kemungkinan yang ada di "kota"-"kota". Di antara mereka ini sebagian besar adalah penduduk desa yang lebih berbakat.

Tentu saja, terdapat pula banyak dari mereka yang berimigrasi ke "kota" karena tertarik oleh alasan lain, misalnya melarikan diri dari tekanan politik dan sosial, mencari hiburan, petualangan, dan mereka yang suka pada kehidupan kerumunan, serta alasan kriminal dan sebagainya. 

Kesimpulan lain yang dapat ditarik mengenai urbanisasi adalah eratnya hubungan urbanisasi itu dengan mobilitas sosial. Semakin tinggi mobilitas sosial yang terdapat dalam suatu masyarakat semakin tinggi pula dorongan atau motivasi untuk bermigrasi dan berurbanisasi. Mobilitas sosial dapat dibagi ke dalam 2 bentuk yakni : “mobilitas fisik” dan “mobilitas mental”. Mobilitas fisik adalah gerak perpindahan penduduk (individual maupun kelompok). Dari ruang sosial yang satu ke ruang sosial yang lain. Sementara mobilitas mental adalah gerak perubahan atau peralihan (transformasi) aspek-aspek sosio-psikologis pada manusia, dari pola satu ke pola yang lain.

STRUKTUR SOSIAL "KOTA".

Ketika "kota"-"kota" semakin terurbanisasi dan meliputi berbagai suku dan masyarakat, maka asosiasi-asosiasi model rural tradisional telah pula berkembang menjadi organisasi-organisasi yang meliputi gotong-royong (mutulaid), olah raga, politik, kebudayaan, pemuda, regional, keagamaan, veteran, kasta, dan sebagainya.

Proliforasi asosiasi suka rela di kebanyakan "kota" modern pada umumnya didorong oleh kenyataan bahwa ikatan kekerabatan dan etnik cenderung untuk menjadi kabur ataupun tidak lagi efektif karena para migran ke "kota"-"kota" sering menemui kesulitan untuk bertempat tinggal di dekat kelompok kerabat atau etnis mereka sendiri. Karena asosiasi itu berbeda dalam berbagai hal misalnya dalam persyaratan ekonomi dan sosial maka asosiasi itu menjadi berjenjang, dimana yang paling tinggi jenjangnya kadang-kadang mempunyai pengaruh politik dan ekonomi yang besar dan luas.

Seperti halnya dengan status, struktur sosial dan posisi yang inheren dengannya dalam berbagai masyarakat, ditentukan oleh berbagai faktor pula. Yang jelas ialah bahwa di "kota" faktor-faktor dan kriterianya sebagian besar didasarkan pada achievement dan interest.

Kontrol sosial dalam "kota", khususnya bila komunitas kota telah mencapai dimensi-dimensi metropolis modern akan mencerminkan beraneka ragam kontak sosial, aneka ragam tata krama sosial dan predominansi hubungan sekunder, yang menandai masyarakat yang kompleks. Pengendalian sosial sebagian besar dijalankan oleh asosiasi yang terspesialisasi dengan norma-norma yang bersifat asosiasional, termasuk badan-badan hukum interpersonal.

Beberapa ciri struktur sosial "kota" sebagai berikut :
· Diferensiasi ekonomik yang menjadi landasan terjadinya pengelompokan sosial, baik secara vertikal maupun horizontal.
· Spesialisasi kerja ke dalam semi skilled dan skilled, yang menjurus kepada perkembangan “profesionalisme”.
· Hubungan-hubungan sosial yang bersifat kompetitif yang mendorong individu atau anggota masyarakat mencapai prestasi tinggi.
· Individu mendapat tempat yang utama dalam kegiatan-kegiatan untuk memperoleh status, sesuai dengan prestasi yang dicapainya.
· Mobilitas yang tinggi baik vertikal maupun horizontal karena status lebih didasarkan pada prestasi dan perhatian.
· Kecenderungan terjadinya pengelompokan penduduk ke dalam lokasi pemukiman yang disesuaikan pada kekhasan sosial budaya.
· Memudarnya perbedaan status kelamin dalam kedudukan dan posisi serta status dalam semua aspek kehidupan.
· Hubungan sosial menjadi lebih bersifat sekunder.

Suatu akibat dari oleh adanya struktur sosial dengan ciri-ciri tersebut di atas adalah bahwa penduduk "kota" semakin terkelompok oleh asosiasi sekunder dan berdasarkan pada kepentingan tertentu. Jarak sosial antar individu semakin besar sehingga membentuk individualisme. Namun demikian tidak berarti bahwa individu akan terlepas dari masyarakat dan dari hubungan kerja sama dengan individu lain melainkan sebaiknya bergeser “associative individualism ”yakni bahwa individu dengan spesialisasi dan kebebasannya yang semakin besar itu malah semakin bergantung pada spesialisasi pihak atau individu lainnya.

Semakin besar suatu "kota", semakin besar dan tajam spesialisasi itu sehingga menyebabkan terbentuknya “struktur ekologis” yakni terbagi-baginya ruang menjadi zone-zone kegiatan-kegiatan niaga dan bisnis, zone pemikiman berpenghasilan rendah, yang padat sesak, zone pemukiman kelas menengah, zone konsentrasi industri.

PERBANDINGAN "KOTA" DAN DESA.

Dalam peradaban modern, dominasi "kota" telah diidentifikasikan dengan dua fenomena. 
Pertama, kontak desa dan "kota" telah menjadi lebih erat dan lebih banyak bila dibandingkan dengan sebelumnya. 
Kedua, penduduk "kota" semakin besar bila dibandingkan dengan desa.
 
Karena persoalan yang lebih kompleks dan sulit, membuat orang "kota" lebih unggul daripada orang desa secara kualitas maupun kuantitas. Yang dimaksud kualitas adalah kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan dan kepentingan masyarakat guna meningkatkan taraf dan mutu hidup anggotanya. Sementara yang dimaksud dengan kuantitas adalah jumlah dan aneka ragam lembaga pranata, dan sarana lain yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan anggotanya.

Sumber:
1. narasibumi.blog.uns.ac.id/2009/04/14/antropologi-perkotaan/
2. laely.widjajati.photos.facebook.com/Pantai-Dream-Land-Bali/
3. laely.widjajati.photos.facebook.com/NYANTAI-BANGEEET............../
4.laely.widjajati.photos.facebook.com/Alhamdulillah/-Ada-pohon,-bs-berteduh-dr-sengatan -matahari......./
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/NGIYUP-dibawah-Pohon-Cemara......./
6. hepi.sayi.photos.facebook.com/3-angel...-Menyelesaikan-misi../

Senin, 31 Desember 2012

"ANTROPOLOGI TERAPAN"

"Antropologi Terapan" merupakan cabang "Antropologi" yang muncul untuk menjawab tantangan zaman". 

"Antropologi Terapan" merupakan cabang "Antropologi" yang belum lama dikenal yang muncul untuk menjawab tantangan zaman. "Antropologi Terapan" ini diadakan untuk langsung diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya; pasukan militer yang di tugaskan ke daerah konflik, mereka perlu dibekali dengan "Antropologi" yang langsung bisa diaplikasikan di daerah konflik, sehingga misi yang mereka emban dapat tercapai. 

Sejarah mencatat bahwa kekerasan tidak dapat dikalahkan dengan kekerasan. Dengan mengenal dan mengetahui, bagaimana masyarakat dan budaya di daerah konflik, maka perdamaian akan dapat terwujud. Secara umum, "Antropologi Terapan" adalah satu bidang dalam ilmu "antropologi" tempat pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), dan sudut-pandang (perspective) ilmu "antropologi" digunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan.

Secara strategis, dalam kajian-kajian "Antropologi Terapan", mahasiswa harus memperlihatkan bagaimana konsep teoretis di"terap"kan secara empiris ke dalam kenyataan sosiokultural, dan pada gilirannya bagaimana analisis empiris ini berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep "antropologi".

Pola kerja dari "Antropologi Terapan" hampir sama dengan ilmu-ilmu terapan lain. Laura Thomson, menyamakan "Antropologi Terapan" dengan "antropologi" ‘kedokteran’, dalam pengertian bagaimana ilmu kedokteran bekerja pada masa awal perkembangannya. Bahwa seorang "Antropolog Terapan" tidak hanya dituntut untuk mendiagnosis masalah-masalah sosiokultural dalam sebuah masyarakat (diagnosis the problem) dan memberikan rekomendasi pengobatannya (recommend treatment), tetapi juga harus mengembangkan instrumen untuk mendiagnosis (develop the instruments of diagnosis), melakukan penyelidikan untuk menemukan obat bagi masalah sosiokultural tersebut (discover the remedy), dan menyelia pengobatan (superintend treatment).

"Antropologi Terapan" mengkaji atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples. Studi "Antropologi Terapan" adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, seperti masalah konflik etnis, pengangguran, gangguan mental masyarakat yang tertimpa banjir, penyalahgunaan obat, HIV/AIDS, kemiskinan struktural, ethnic cleansing, dan sebagainya.

Contoh : Melakukan penelitian mengenai banyaknya pengangguran yang terjadi saat ini. Yang pembahasannya meliputi latar belakang terjadinya pengangguran, keadaan masyarakat akibat adanya pengangguran, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi pengangguran pada masa kini.

"Antropologi Terapan" ini diadakan untuk langsung diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Dan "Antropologi Terapan"  adalah bagian dari "antropologi" budaya. "Antropologi" budaya itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.

1.      LATAR BELAKANG MUNCULNYA "ANTROPOLOGI TERAPAN".
Secara umum, "Antropologi Terapan" adalah satu bidang dalam ilmu "antropologi" tempat pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), dan sudut-pandang (perspective). Ilmu "antropologi" digunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan. Secara strategis, dalam kajian-kajian "Antropologi Terapan", mahasiswa harus memperlihatkan bagaimana konsep teoretis diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sosiokultural, dan pada gilirannya bagaimana analisis empiris ini berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep "antropologi".
"Antropologi Terapan" merupakan cabang "Antropologi" yang belum lama dikenal yang muncul untuk menjawab tantangan zaman. "Antropologi Terapan" ini diadakan untuk langsung diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya; pasukan militer yang ditugaskan ke daerah konflik, mereka perlu dibekali dengan "Antropologi" yang langsung bisa diaplikasikan di daerah konflik sehingga misi yang mereka emban dapat tercapai. Sejarah mencatat bahwa kekerasan tidak dapat dikalahkan dengan kekerasan. Dengan mengenal dan mengetahui bagaimana masyarakat dan budaya daerah konflik, maka perdamaian akan terwujud.
"Antropologi Terapan" mengkaji  atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples). Studi "Antropologi Terapan" adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, seperti masalah konflik etnis, pengangguran, bencana alam, penyalahgunaan obat, HIV/AIDS, kemiskinan struktural, ethnic cleansing, dan sebagainya. Ilmu terapan berbeda dengan ilmu murni. Perbedaannya yaitu, ilmu terapan dipelajari, diketahui, dan diterapkan (diaplikasikan)  ditempat yang bersangkutan sesuai denagn situasi, kajiannya untuk dimanfaatkan masyarakat. Sedangkan ilmu murni merupakan ilmu yang benar-benar sekedar untuk diketahui, manafaatnya untuk ilmu itu sendiri.
Contoh : Melakukan penelitian mengenai banyaknya pengangguran yang terjadi saat ini. Yang pembahasannya meliputi latar belakang terjadinya pengangguran, keadaan masyarakat akibat adanya pengangguran, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi pengangguran pada masa kini.

2.      POSISI "ANTROPOLOGI TERAPAN" DALAM "ANTROPOLOGI" BUDAYA.
Menurut Koentjaraningrat (1981)  ruang lingkup "antropologi" dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      "Antropolgi" Fisik dibagi menjadi 2, yaitu:
a.       Paleo"antropologi" : Bagian dari "antropologi" fisik yang menelaah tentang asal usul atau terjadinya dan perkembangan mahkluk manusia. Obyek penelitiannya adalah fosil manusia (sisa-sisa tubuh manusia yang telah membatu) yang terdapat dalam lapisan-lapisan bumi.
b.      Somatologi : Adalah bagian dari "antropologi" fisik yang menelaah tentang variasi atau keanekaragaman ras manusia melalui ciri-ciri tubuh manusia secara keseluruhan ( ciri-ciri genotipe dan fenotipe )
2.      "Antropologi" Budaya
"Antropologi" budaya menyelidiki manusia sebagai makhluk sosio-budaya dan seluruh cara hidup manusia dengan menggunakan bahan mengenai deskripsi kebudayaan. Fokus penyelidikan "antropologi" budaya adalah kebudayaan. Kebudayaan merupakan gambaran essensial manusia dan dalam mewujudkan kebudayaan akan tergantung pada kondisi-kondisi bio-psikologinya, lingkungan alam, sosial, serta sejarahnya dalam satu proses yang dinamis. Tokoh yang mengemukakan definisi dan uraian tentang kebudayaan adalah E.B Tylor yang dikenal sebagai bapak "antropologi" Modern. Bagi Tylor, kebudayaan adalah keseluruan komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral,adat, dan tindakan serta kebiasaan lainnya yang dimiliki manusia sebagai anggota masyarakat. "Antropologi" Budaya dibagi menjadi 8, yaitu:
a.       Arkeologi Prehistori (Prasejarah)
Bagian dari "antropologi" budaya yang mempelajari tentang sejarah manusia dan penyebarannya melalui obyek penelitian artefak (benda-benda peninggalan).
b.      Etnolinguistik
Bagian dari "antropologi" budaya yang mempelajari Timbulnya bahasa, bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa serta penyebaran bahasa umat manusia di dunia.
c.       Etnologi
Bagian dari "antropologi" budaya yang mencoba menelusuri asas-asas manusia dengan meneliti seperangkat pola kebudayaan suatu suku bangsa yang menyebar di seluruh dunia. Obyek penelitiannya adalah pola kelakuan masyarakat ( adat istiadat, kekerabatan, kesenian, dsb) serta dinamika kebudayaan ( perubahan, pelembagaan dan interaksi).
d.      Etnopsikologi
Adalah suatu ilmu yang praktis, yang tujuannya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat pengertian tentang masyarakat modern yang bersifat kompleks.
e.       "Antropologi" Spesialisasi
1)      "Antropologi" Perkotaan
2)      "Antropologi" Ekonomi
3)      "Antropologi" Politik
4)      "Antropologi" Pendidikan
5)      "Antropologi" Kesehatan
6)      "Antropologi" Kesehatan Jiwa
7)      "Antropologi" Kependudukan
f.       "Antropologi" Sosial Budaya
mengkaji tentang masyarakat manusia. "Antropologi" sosial sering kali disebut "Antropologi"  sosial budaya karena masyarakat dan budaya merupakan satu kesatuan system yang tidak terpisahkan.
g.      "Antropologi Terapan"
Dalam perkembangan selanjutnya, "Antropologi" sosial budaya bergerak pula di bidang kependudukan, pendidikan, Kesehatan, hukum, politik, dan lain-lain.  Sehingga berkembanglah "Antropologi" Spesialisasi yang pada aplikasinya memunculkan "Antropologi Terapan". "Antropologi Terapan" adalah "antropologi" yang langsung diaplikasikan karena dibutuhkan untuk keperluan tertentu.

3.      PERKEMBANGAN "ANTROPOLOGI TERAPAN".
Perkembangan "Antropologi terapan" di Amerika
"Antropologi terapan" pertama kali dipergunakan dalam upaya memperbaiki suku bangsa Indian. Hal ini ditandai oleh adanya beberapa perkumpulan dan organisasi swasta yang dibiayai oleh beberapa orang kaya, yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup orang Indian Amerika.

Perkembangan "Antropologi Terapan" di Eropa Barat
Negara seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Spanyol, Jerman, Itali yang merupakan negara penjajah bangsa di Asia-Afrika. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan sikap dalam kebijaksanaan mereka terhadap negara yang mereka jajah.

Perkembangan "Antropologi Terapan" di Indonesia
Ditandai dengan adanya etische polite. "Antropologi terapan"  di Indonesia merupakan pengetahuan mengenai manusia, masyarakat dan kebudayaan rakyat Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang perlu ditingkatkan.
            Maka ilmu "antropologi" di Indonesia disebut Etnologi/Volkenkunde (ilmu bangsa-bangsa), yaitu ilmu yang memegang peranan penting dan bersifat terapan, sebagai ilmu yang mempelajari cara berfikir bangsa Indonesia.
       Sifat "terapan"nya, bahwa pengertian tersebut diperlukan oleh pemerintah Belanda untuk memperbaiki taraf ekonomi rakyat,  tetapi juga untuk mempermudahkan mereka dalam menjalankan pemerintahan di negara-negara jajahan mereka tanpa perlu menggunakan paksaan dan kekerasan terlalu banyak. Contoh: "antropologi" sebagai ilmu terapan dipergunakan Belanda dalam menguasai aceh. 

"Antropologi terapan" mengkaji  atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples). Studi "Antropologi terapan" adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, "Antropologi terapan" merupakan cabang "Antropologi" yang muncul untuk menjawab tantangan zaman. "Antropologi terapan" ini diadakan untuk langsung diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Dan "Antropologi terapan"  adalah bagian dari "antropologi" budaya. "Antropologi" budaya itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.
            Dan kebudayaan merupakan keseluruhan hasl kreativitas manusia yang sangat komplek. Di dalamnya berisi struktur-struktur yang saling berhubungan, sehingga merupakan kesatuan yang berfungsi sebagai pedoman dalam kehidupan. Adanya kait mengait di antara unsure-unsur itulah sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah sebagai system, artinya kebudayaan merupakan kesatuan organis dari rangkaian gejala, wujud, dan unsure-unsur yang berkaitan sau dengan yang lain.

Sumber:
1. davinnurfaiz.blogspot.com/2012/01/antropologi-terapan.html
2. smart-pustaka.blogspot.com/2011/03/antropologi-terapan.html
3. laely.widjajati.photos.facebook.com/Habis-Libur,-Ayoooo-Bekerja-Semangaaaaaaat............/
4. laely.widjajati.photos.facebook.com/Pantai-Dream-Land-Bali/
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/NICE-THURSDAY................../
6. Hepi.Say.photos.facebook.com/Foto-ini-waktu- lamaran-e-sopo-yoo-???/

"ANTROPOLOGI PENDIDIKAN"

"Antrpologi Pendidikan" mulai menampilkan dirinya sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad-20". 


PENDAHULUAN.

"Antrpologi Pendidikan" adalah cabang spesialisasi yang termuda dalam "antropologi". "Antropologi" sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka, yang muncul pada saat lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi, geologi dan terutama didorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong oleh konsep evolusi organisme, mulailah berkembang "Antropologi" dengan pandangan bahwa pada dasarnya semua kebudayaan manusia berkembang melalui tahap-tahap yang menjurus ke arah kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa dan Amerika.
 
Pada waktu itu banyak pertanyaan yang diajukan kepada tokoh "pendidikan" tentang sejauhmana "pendidikan" dapat mengubah suatu masyarakat. Sebagaimana diketahui pada waktu itu negara maju tengah mengibarkan program besarnya, yakni menciptakan pembangunan di negara-negara yang baru merdeka. "Antrpologi Pendidikan" berupaya menemukan pola budaya belajar masyarakat yang dapat menciptakan perubahan sosial. Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para pengambil kebijakan "pendidikan" yang berorientasi pada perubahan sosial budaya mendapat perhatian.

"ANTROPOLOGI"  DAN "PENDIDIKAN".

"Pendidikan" dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai dapat dipenuhi. "Pendidikan" dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat, "pendidikan" memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.

Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini "pendidik" dan "antropolog" harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. "Pendidikan" bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan di luar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.

G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan "antropologi" terhadap "pendidikan" adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya. Teori khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin  "Antrpologi Pendidikan". Pada dasarnya, "Antrpologi Pendidikan" mestilah merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek "pendidikan" dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai "antropolog" terhadap "pendidikan" dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek "pendidikan".

Dengan mempelajari metode "pendidikan" kebudayaan maka "antropologi" bermanfaat bagi "pendidikan". Dimana para "pendidik" harus melakkan secara hati-hati. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan baru yang bersifat tentatif. Setiap penyeldikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi "pendidikan".

"Antrpologi Pendidikan" dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek "pendidikan" dalam prespektif budaya, sehingga "antropolog" menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari media "pendidikan" sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di lapangan oleh para "antropolog". Tugas para "pendidik" bukan hanya mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan pemikiran dan praktek "pendidikan" sebagai satu keseluruhan.

"Antrpologi Pendidikan" mulai menampakkan dirinya sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad ke-20. Sejak saat itu, "Antrpologi Pendidikan" berupaya menemukan pola budaya belajar masyarakat (pedesaan dan perkotaan) yang dapat merubah perubahan sosial. Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para ahli mengambil kebijakan "pendidikan" yang berorientasi pada perubahan sosial budaya mendapat perhatian. Konferensi "pendidikan antropologi" yang berorientasi pada perubahan sosial di Negara-negara baru khususnya melalui "pendidikan" persekolahan mulai digelar. Hasil-hasil  kajian "pendidikan" di persekolahan melalui "antropologi" diterbitkan pada tahun 1954 dibawah redaksi G.D. Spindler (1963).

Konferensi memberi rekomendasi untuk melakukan serangkaian penelitian "Antrpologi Pendidikan" di persekolahan, mengingat jalur perubahan social budaya salah satunya dapat dilakukan dengan melalui "pendidikan" formal. Banyak penelitian menunjukan bahwa system "pendidikan" di negara-negara baru diorientasikan untuk mengokohkan kelompok sosial yang tengah berkuasa.

"Antrpologi Pendidikan" sebagai disiplin kini banyak dikembangkan oleh para ahli yang menyadari pentingnya kajian budaya pada suatu masyarakat. "Antropologi" di negara-negara maju memandang salah satu persoalan pembangunan di negara berkembang adalah karena masalah budaya belajar. Kajian budaya belajar kini menjadi perhatian yang semakin menarik, khususnya bagi para pemikir "pendidikan" di perguruan tinggi. Perhatian ini dilakukan dengan melihat kenyataan lemahnya mutu sumber daya manusia yang berakibat terhadap rentannya ketahanan social budaya masyarakat dalam menghadapi krisis kehidupan.
Orientasi pengembangan budaya belajar harus dilakukan secara menyeluruh yang menghubungkan pola budaya belajar yang ada di dalam lingkungan masyarakat dan lembaga "pendidikan" formal. 

Van Kemenade (1969) dalam Imran Manan telah mengingatkan: “persoalan "pendidikan" jangan hanya dianggap melulu persoalan pedagogis didaktis metodis dan tidak menjadi masalah kebikakan sosial, sehingga "pendidikan" tidak ada lagi menjadi kebutuhan bersama. Untuk itu perlu analisa empiris tentang tugas "pendidikan"  dalam konteks kehidupan masyarakat”.

Pendekatan dan teori "Antrpologi Pendidikan" dapat dilihat dari dua kategori: 
Pertama, pendekatan teori "Antrpologi Pendidikan" yang bersumber dari "antropologi" budaya yang ditujukan bagi perubahan sosial budaya. 
Kedua, pendekatan teori "pendidikan" yang bersumber dari filsafat.

Teori "Antrpologi Pendidikan" yang diorientasikan pada perubahan sosial budaya dikategorikan menjadi empat orientasi:
  1. Orientasi teoritik yang fokus perhatiannya kepada keseimbangan secara statis. Teori ini merupakan bagian dari teori-teori evolusi dan sejarah.
  2. Orientasi teori yang memandang adanya keseimbangan budaya secara dinamis. Teori ini yang menjadi penyempurna teori sebelumnya, yakni orientasi adaptasi dan tekno-ekonomi yang menjadi andalannya
  3. Orientasi teori yang melihat adanya pertentangan budaya yang statis, dimana sumber teori datang dari rumpun teori struktural.
  4. Orientasi teori yang bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global atas gejala interdependensi antar Negara, dimana teori multikultural termasuk di dalamnya.
KEGUNAAN "ANTROPOLOGI PENDIDIKAN".

"Antrpologi Pendidikan" bermanfaat mengasah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, untuk dapat menganalisa, mensintesa dan mengevaluasi topik-topik di sekitar sejarah, pengertian dan ruang lingkup sosiologi "Antrpologi Pendidikan", wawasan teoretik sosiologi "Antrpologi Pendidikan", kontribusi sosiologi "antropologi" pada dunia "pendidikan", fungsi "pendidikan" dari kaca mata sosiologis "antropologis", "pendidikan" dan perubahan sosial, sekolah berbagai organisasi birokrasi, keluarga dan sosialisasi, kelompok sebaya dan sosialisasi, sekolah dan sosialisasi, gender dan sosialisasi, "pendidikan" orang dewasa, trend homescholling bagi masyarakat Indonesia, "pendidikan" dan masyarakat serta "pendidikan" dan tatanan sosial.

Sumber:
1. tepenr06.wordpress.com/2012/09/02/antropologi-pendidikan/
2. lzamzami.multiply.com/reviews/item/3
3. id.answers.yahoo.com/question/index?qid...
4. laely.widjajati.photos.facebook.com/NYANTAI-BANGEEET............../
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/Suatu-pagi-di-Pantai-Sanur......./
6. laely.widjajati.photos.facebook.com/NGIYUP-di-bawah-Pohon-Cemara......./

"MENYAMBUT (MERAYAKAN) TAHUN BARU"

"Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan "tahun baru"? Bolehkah "Merayakan"nya?"


Diantara kebiasaan orang dalam memasuki "tahun baru" di berbagai belahan dunia adalah dengan "merayakan"nya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki "tahun baru", wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama'ah menyongsong "tahun baru"

Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan "tahun baru"? Bolehkah "Merayakan"nya? "Tahun baru" tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana 'Iedul Fitri, 'Iedul Adha ataupun hari Jum'at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Malam ini, kita mulai memasuki "tahun baru" 2013. "Tahun" 2012 segera meninggalkan kita, tinggal menghitung jam, menit, dan detik saja. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, ada diantaranya kebiasaan orang dalam menyambut pergantian "tahun" Masehi "merayakan"nya dengan bergadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup trompet pada detik-detik memasuki "tahun baru", pertunjukan semalam suntuk, atau cara lainnya.

Sebagian umat Islam, tidak ketinggalan dan sudah mulai terbiasa di beberapa tempat, diadakan ceramah agama, dan zikir berjamaah menyongsong pergantian "tahun". Kegiatan seperti ini, meskipun ada manfaatnya, tetapi oleh sebagian pihak umat Islam menganggapnya sebagai bid’ah, sesuatu yang tidak ada contohnya baik dari Rasulullah SAW maupun dari para sahabat rasul.

Pada hakikatnya setiap pergantian "tahun" umur kita tidaklah bertambah, tetapi sebaliknya, berkurang, semakin mendekat ke akhir hayat, ke kematian. Penanggalan Masehi yang berdasarkan peredaran matahari memang mendahului penanggalan Islam, Hijriyah yang berdasarkan peredaran bulan, sehingga ada perbedaan 11-12 hari dalam setiap "tahun"nya.

"Menyambut tahun baru" Masehi memang tak ada bimbingannya dalam Islam. Namun untuk "menyambut tahun baru", sebaiknya masing-masing pribadi muslim:
  1. Selalu menjadikan Allah SWT sebagai maula, penolong.
  2. Berupaya untuk menjadi muslim yang cerdik dengan selalu mengingat kematian, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam satu hadis beliau.
  3. Mengevaluasi/merenungi diri, bermuhasabah, sejauh mana telah menunaikan ajaran-Nya dan rasul-Nya.
  4. Beristigfar, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat, disengaja ataupun tidak.
  5. Memohon agar Allah SWT menerima segala amal ibadah, dan semoga Dia selalu membimbing ke jalan-Nya yang lurus.
  6. Berdoa agar Allah SWT selalu memberikan rahmat dan keselamatan dalam waktu-waktu atau sisa hidup yang akan dijalani.
  7. Mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah selama ini, insya Allah nikmat tersebut akan ditambah-Nya.
  8. Mendoakan kedua orang tua baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
  9. Tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk pekerjaan yang mubazir, yang sia-sia, dan yang tidak ada tuntunannya yang jelas.
  10. Tidak berlaku riya’, takabur, sombong.
  11. Salat tobat, memperbanyak doa dan zikir.
  12. Tidak sampai menyerupai perilaku orang kafir dalam menyambut pergantian "tahun", tetapi sebaiknya tidak ikut-ikutan "merayakan"nya.
  13. Tidak menyerupai kaum kafir dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekuensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah/akidah.
  14. Hindari kegiatan yang terkesan buang-buang dana, waktu, tenaga, apalagi yang berbau maksiat dan sirik. 
Sumber:
1. www.equator-news.com/religi/20111230/menyambut-tahun-baru
2. dulatifh.wapath.com/Islami/Maktabah/ThMasehi
3. laely.widjajati.photos.facebook.com/Kok-di blakang q-bnyak-"ULAR" nya-ya-???????????/

Minggu, 30 Desember 2012

"ANTROPOLOGI BUDAYA"

"Antropologi Budaya" adalah cabang "Antropologi"  yang berfokus pada penelitian variasi ke"budaya"an di antara kelompok manusia". 


"Antropologi Budaya" mengumpulkan data mengenai dampak proses ekonomi dan politik global terhadap realitas "budaya" lokal. Para "Antropolog Budaya" menggunakan berbagai metode, diantaranya pengamatan partisipatif (participant observation), wawancara dan survai. Penelitian "Antropologi Budaya" sering dikategorikan sebagai penelitian lapangan karena seorang "Antropolog" harus menetap dalam kurun waktu yang cukup lama di lokasi penelitiannya.

"Antropologi" ke"budaya"an atau lebih sering kita dengar sebagai "Antropologi Budaya" (terjemahan dari "Cultural Anthropogy"), merupakan salah satu cabang dari studi "Antropologi" yang mengambil ke"budaya"an sebagai objek studinya. Ilmu "Antropologi", tidak seperti beberapa ilmu lain (misalnya, geografi) mempunyai kejelasan posisi dalam dikotomi bidang-bidang ilmu pengetahuan, apakah termasuk bidang eksakta atau noneksata, ilmu pengetahuan alam atau sosial. Ilmu "Antropologi" adalah salah satu ilmu yang termasuk ke dalam kategori ilmu sosial.

Secara garis besar ilmu "Antroplogi" dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu "Antropologi" Biologi dan "Antropologi Budaya". "Antropologi" Biologi merupakan kelompok studi "Antropologi" yang mempelajari manusia beserta proses biologis yang menyertainya sehingga terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Ilmu ini meliputi ilmu paleo"antropologi" dan "antropologi" fisik. Ilmu pengetahuan penunjang dalam "antropologi" biologi meliputi kedokteran, arkeologi, biologi, dan sebagainya. "Antropologi Budaya" merupakan studi "antropologi" yang bidang studinya mengambil ke"budaya"an sebagai objeknya. Aspek-aspeknya antara lain meliputi masalah sejarah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia; masalah perkembangan, penyebaran dan terjadinya aneka warna ke"budaya"an di seluruh dunia; dan masalah azas-azas dari ke"budaya"an manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi (Koentjaraningrat, 1990: 25). 

Sesuai dengan aspek-aspek yang dipelajari terdapat cabang "Antropologi Budaya", yaitu prehistori, etnolinguistik, etnologi (Descriptive integration/etnology dan generalizing aproach/social "anthropology"), etnopsikologi, "antropologi" spesialisasi ("antropologi" ekonomi, "antropologi" politik, "antropologi" kependudukan, "antropologi" kesehatan, "antropologi" kesehatan jiwa, "antropologi" pendidikan, "antropologi" perkotaan dan "antropologi" perdesaan), dan "antropologi"  terapan. Selain itu ada pula dua aspek lain yang menjadi kajian ilmu "antropologi", selain kajian "Antropologi Budaya", yaitu masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (atau evolusinya) secara biologi (termasuk dalam studi paleo"antropologi"); dan masalah sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya ("antropologi" fisik). Kedua aspek ini dicakup dalam studi "Antropologi" Fisik dalam arti luas.

Saat ini, ilmu "Antropologi Budaya" mempunyai peranan penting dalam pembangunan bangsa di Indonesia dan telah cukup mendapat perhatian oleh pemerintah. Hal ini tampak dengan adanya pengembangan ilmu ini di beberapa universitas negeri, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Cendrawasih.
Untuk keperluan penelitian dalam studi "Antropologi Budaya", tujuh unsur ke"budaya"an universal dapat dijadikan acuan untuk orientasi dalam memilih tema penelitian. Selanjutnya, untuk menentukan topik-topiknya dapat dimulai dari memilih salah satu unsur pokok sebagai tema penelitian, kemudian turun hingga culture traits bahkan dapat juga hingga ke item. Dalam ruang lingkup penelitian "antropologi" ke"budaya"an sudah tentu harus mengikuti kaidah-kaidah "antropologi".

"Antropologi budaya" sangat berkaitan erat dengan penelaahan tentang hal-hal yang berhubungan dengan ke"budaya"an seperti ilmu pengetahuan, bahasa, kepercayaan, hokum, agama, kebiasaan, musik, dan larangan-larangan. Ke"budaya"an ini merupakan konsep yang sangat penting untuk memahami "antropologi". Secara umum, subdisiplin "antropologi" yang berhubungan dengan ke"budaya"an manusia ini antara lain arkeologi, "antropologi" linguistic dan etnologi.

Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Antropologi_budaya
2. laely.widjajati.photos.facebook.com/Pembangunan-GAZEBO-RAKSASA......./
3. agusbwaceh.blogspot.com/2009/02/antropologi-budaya.html
4. wawan-junaidi.blogspot.com/2009/11/atropologi-budaya.html
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/NARSIS-dulu-sm- MBAKKU....../


MusicPlaylistView Profile