Sabtu, 18 Februari 2012

"Bayangan Sukses"

"Jika anda dapat mem"bayang"kannya, anda dapat mencapainya. Jika anda dapat mengimpikannya, anda dapat menjadi yang anda inginkan itu." (William Arthur Ward).

Apa yang dapat di"bayang"kan serta diyakini manusia, dapat dicapainya. (W. Clement Stone).

"Sukses" adalah kondisi pikiran. Jika anda ingin "sukses" mulailah mem"bayang"kan diri anda sebagai orang yang "sukses". (Joyce Brothers).

"Bayang"kan diri anda di ambang pintu "sukses" yang tak tertandingi. Kehidupan utuh yang penuh kemuliaan terhampar di hadapan anda. Capailah! Capailah!. (Andrew Carnegie).

Apa sih yang patut dipuji atau dibanggakan dalam diri kita selain mem"bayang"kan kesempurnaan dan berusaha mencapainya? (Richard Wilbur).

Segala yang anda inginkan takkan menjadi kenyataan sebelum anda mem"bayang"kannya dulu. (Anthony Norvell).

Ada kecencerungan mendalam dalam sifat manusia untuk menjadi persis seperti apa yang kita "bayang"kan tentang diri kita sendiri. (Norman Vincent Peale).

Cara kita mem"bayang"kan diri sendiri mempengaruhi bagaimana dunia memandang kita dan bagaimana kita dapat memandang diri kita dengan "sukses" diakui oleh dunia itu. (Alrene Raven).

Aku tak bisa mem"bayang"kan seseorang yang tidak memberikan segala yang ia miliki dalam permainan hidup ini dapat meraih ke"sukses"an. (Walter Cronkite)

"Faktor Penyubur Klenik (Perdukunan)"

"Klenik" adalah kegiatan "perdukunan" (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang."


Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat pergi ke "dukun". Banyak hal yang menggiring mereka untuk lebih memilih memanfaatkan jasa "perdukunan" dari pada yang lain. Tapi ada beberapa faktor penting yang patut kita garis bawahi, diantaranya adalah:

1. Akar budaya animisme dan dinamisme yang menancap kuat pada sejarah kehidupan bangsa ini, yang akhirnya menjadi doktrin yang turun-temurun dan sulit terpisahkan dari pola berpikir masyarakat. Banyak mitos yang tertanam dalam diri generasi bangsa ini secara sengaja atau tidak. Sehingga setiap kejadian yang tidak wajar selalu dikaitkan dengan ulah makhluk halus.

2. Keyakinan yang salah bahwa hanya para "dukun" tang dapat menolak sihir atau bencana yang akan terjadi, serta mampu menyelesaikan problema yang berbau "klenik" dan mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan sekali sembur.

3. Keyakinan yang salah bahwa dengan "perdukunan" semua permasalahan "klenik" akan selesai dengan cepat dan tepat.

4. Dangkalnya pemahaman aqidah Islam dalam diri mayoritas umat Islam, sehingga mereka menganggap minta bantuan "dukun" adalah wajar dan sah-sah saja. Karena mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari usaha dalam mencari solusi permasalahan.

5. Tipisnya kesabaran dalam menghadapi setiap musibah yang datang. Mereka ingin penyelesaian yang singkat dan instan, yang akhirnya menghalalkan segala cara selagi cara tersebut mampu mereka kerjakan.

6. Cinta dunia yang berlebihan, seperti cinta harta, pangkat dan jabatan, karir dan kekuasaan, begitu juga cinta terhadap lain jenis. Akhirnya mereka berusaha memperolehnya dengan cara apapun, termasuk pergi ke "dukun".

7. Licinnya para "dukun" dalam mengemas produknya dan kepiawaian mereka dalam berpenampilan, sehingga masyarakat pada umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara "dukun" dan ulama atau ustadz. Mereka tidak dapat memilah antara praktek "perdukunan" yang harus dijauhi dan praktek pengobatan yang boleh didatangi. Apalagi banyak "dukun" yang praktek dengan penampilan layaknya seorang ulama atau ustadz. Ada juga yang mengaku sebagai ulama tetapi membuka praktek "perdukunan". Ada yang praktek pengobatannya menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an tapi dicampur dengan mantra-mantra syirik, atau memadukannya dengan ilmu sihir. Dan ada juga yang menggunakan bantuan jin tapi dikemas dalam istilah ilmiah yang dipaksakan, dan berusaha untuk melogikakan hal-hal yang gaib. Sehingga masyarakat luas memandang positip akan keberadaan mereka.

Poin-poin di atas merupakan pekerjaan rumah yang ada di pundak tokoh-tokoh agama dan para kader dakwah. Kita memerlukan waktu panjang untuk membuat perubahan pada pola pikir masyarakat yang menyimpang dan sudah mengkristal. Memerlukan kesinambungan dakwah yang terus menerus untuk memberi pencerahan aqidah kepada masyarakat yang terkontaminasi oleh debu syirik.

Dan yang paling penting adalah kerja sama antara individu Muslim untuk membentengi diri sendiri, anak, keluarga dan kerabat dari arus budaya "klenik" yang disemburkan oleh media-media massa dan manusia yang menjadi antek syetan di bumi ini, dengan mengkaji kembali aqidah Islam yang bersumberkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau kita hanya terdiam, berarti kita sudah siap menanti datangnya adzab Allah yang setiap saat  dan setiap waktu dapat terjadi. 

Referensi:
1. artikata.com/arti-335427-klenik.html
2. Disihir Karena Persaingan Karir, Penulis Tim Majalah Ghoib. 

"Silaturrahim Kunci Pembuka Gembok Rezeki"

"Silaturrahim" merupakan salah satu kunci pembuka gembok "rezeki".



A. Makna "Silaturrahim".

Makna "Silaturrahim" adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: 'Ar-rahim' secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.'

Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman, dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.'

"Silaturrahim", sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat baik menurut garis keturunan maupun perkawinan, berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.

B. Dalil Syar'i Bahwa "Silaturrahim" Termasuk Kunci "Rezeki".

Beberapa Hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah menjadikan "Silaturrahim" termasuk di antara sebab kelapangan "rezeki". Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda:
'Siapa yang senang dilapangkan "rezeki"nya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaknyalah ia menyambung (tali) "Silaturrahim".'

2. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah bersabda:
'Siapa yang suka untuk dilapangkan "rezeki"nya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung "Silaturrahim".'

Dalam hadits di atas, Nabi menjelaskan bahwa "Silaturrahim" mmbuahkan dua hal, kelapangan "rezeki" dan bertambahnya usia. Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh makhluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad.
Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu "Silaturrahim". Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan' Bab Orang Yang Dilapangkan "Rezeki"nya dengan "Silaturrahim". Artinya, dengan sebab "Silaturrahim".

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan: 'Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam "Rezeki" Bagi Orang Yang Menyambung "Silaturrahim" .'

3. Dalil lain adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda:
'Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung "Silaturrahim" . Karena sesungguhnya "Silaturrahim"  adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.'

Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan bahwa "Silaturrahim"  ini membuahkan tiga hal, di antaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.

4. Dalil lain adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi, beliau bersabda:
'Barangsiapa senang dipanjangkan umurnya dan diluaskan "rezeki"nya serta dihindarkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung "Silaturrahim".'

Dalam hadits ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, menjelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat: bertaqwa kepada Allah dan menyambung "Silaturrahim". Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan "rezeki".

5. Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar, ia berkata:
'Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung "Silaturrahim", niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan "rezeki"nya dan dicintai oleh keluarganya.'

6. Demikian besarnya pengaruh "Silaturrahim"  dalam berkembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh "Silaturrahim", harta mereka dapat berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah dari Nabi, bahwasanya beliau bersabda:
'Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah "Silaturrahim". Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka dapat berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling ber"Silaturrahim"  . Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling ber"Silaturrahim"  kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).'

C. Apa Saja Sarana Untuk "Silaturrahim"?

Sebagian orang menyempitkan makna "Silaturrahim"  hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidak benar. Sebab yang dimaksud "Silaturrahim"  lebih luas dari itu.

"Silaturrahim"   adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.

Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: "Silaturrahim"  itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do'a.'

Makna "Silaturrahim"  yang lengkap adalah  memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat).'

D. Tata Cara "Silaturrahim"  dengan Para Ahli Maksiat.

Sebagian orang salah dalam memahami tata cara "Silaturrahim"  dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa ber"Silaturrahim"  dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majelis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.

Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8:
'Allah tiada melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.'

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abu Bakar yang menanyakan Rasulullah untuk ber"Silaturrahim"  kepada ibunya yang musyrik. Dalam haits ini di antaranya disebutkan:
'Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung ("Silaturrahim") dengan ibuku?. Beliau menjawab: 'Ya, sambunglah ("Silaturrahim") dengan ibumu.'
Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka.  Bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat  tersebut. Allah berfirman dalam Surat Al-Mujadilah ayat 22:
'Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.'

Makna ayat ini - sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi - adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.

Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.

Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik:
'Saya berkata, 'Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang-orang dzalim dan yang suka memusuhi.'

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut berkata: 'Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat.'

Sebaliknya, "Silaturrahim"  dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut - dalam kondisi demikian - dapat dikatagorikan sebagai "Silaturrahim".

Dalam hal ini Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: 'Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa, maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) "Silaturrahim"  dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasihati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus mebandel. Kemudian, hal itu (pemutusan "Silaturrahim") dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.                   

(Sumber: 9 Kunci Pembuka Gembok "Rezeki" - Menjadi Milyuner Silent Tanpa Hubbuddunya. Oleh: Dr. M. Mufti Mubarok).