Sabtu, 28 Februari 2015

"RESAH DAN SELISAH"

"Siapapun orangnya, pasti pernah merasakan apa yang disebut dengan "Resah", "Gelisah", sedih, susah, kecewa, gundah gulana, nestapa."



Siapapun dia, apa itu pejabat atau rakyat jelata, apa dia kaya atau miskin, yang cakep atau yang sedang-sedang saja, laki laki atau perempuan, tua atau muda. Siapapun itu, tanpa kecuali. Ketika hati sedang gundah gulana, dan tatkala hati itu sedang dirundung sebuah bencana ke"gelisah"an dan ke"resah"an, maka kemanakah anda akan meminta pertolongan?   Minta pertolongan pada jin,  syetan, ataukah kepada sesama manusia lainnya?

Memang pada situasi yang demikian ini kebanyakan orang tidak mampu berpikir jernih, bahkan tidak mampu berpikir rasional. Itulah sebabnya dalam kondisi hati yang "resah", gunda gulana begini ini banyak orang yang terjerumus ke jalan yang sesat, yang hitam, minta pertolongan selain Allah, yaitu minta tolong pada makhluk jin, syetan.
 
Ada juga  sementara orang  minta tolong pada orang lain, setidak-tidaknya kalau semua persoalan dicurahkan pada seseorang, terasa agak plong hati ini. Itulah sebabnya, masa kini tumbuh subur bak cendawan di musim hujan biro-biro konsultasi, biro semacam ini jadi laris manis bagai kacang goreng.
 
Sebaik-baik penolong adalah Allah SWT, Dialah satu satunya dzat yang serba maha, maha pengasih dan penyayang, maha kaya, maha Agung, maha perkasa, dan maha-maha lainnya. Nah, kalau sudah demikian, mengapa kita mesti bingung untuk mencari pertolongan kapada yang lain, selain Allah?
 
Laa haula walaa Quwwata illa billaah..(tiada kekuatan melainkan kekuatan-Nya),   lalu apakah patut kita untuk mengambil penolong selain Allah dan ‘orang-orang yang beriman’.  Jadi kita sudah tahu kan apa akhirnya.. yaitu : kembalilah kepada Allah.  Nah itulah  solusi terbaik, seiringan dengan teman’ (yaitu teman dari orang-orang yang beriman).
 
Entah mengapa hati itu kadang terasa "gelisah" dengan sendirinya, seolah-olah ada sesuatu hal yang sedang disesalkan atau tidak disenangi. Bisa jadi itu adalah bisikan dari syetan atau bisa jadi juga itu adalah sebuah insting akan sebuah perasaan yang berkaitan erat dengan persahabatan dan persaudaraan,  bisa jadi juga hasil akhir yang tidak seperti kita harapkan, kita sudah memeprhitungkan dari segala aspek, hasilnya pasti menguntungkan, namun ternyata hasil akhirnya jauh dari yang diharapkan. Sewaktu hati itu sedang "gelisah" akan sesuatu polemik yang dihadapi, maka carilah ‘sandaran hati’ untuk dunia dan akheratmu.
 
Yaitu suatu ‘sandaran’‘ yang mampu membuat kita berlapang dada, berbagi dan saling merasakan. Dan tahukah anda  kemana sandaran itu harus dicari? Kemana lagi kalau tidak pada Allah dan orang-orang yang beriman.
 
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah SAW. pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid. 
 
Ya dimaklumi saja jika kita sebagai manusia merasakan ke"gelisah"an, gundah gulana, kecemasan, ke"resah"an ataupun kekhawatiran. 
 
Hati ini, pada dasarnya telah diciptakan bersih oleh Allah SWT. bersih dari berbagai macam penyakit. Namun, seiring dengan nafas kehidupan yang terus berhembus dan kian menua dalam rimba kehidupan, perlahan hati pun mulai terkontaminasi, terkotori, dan akhirnya menjadi tempat bersemayamnya berbagai macam penyakit, yang salah satunya adalah penyakit "gelisah" itu tadi.
 
"Gelisah", memang satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan "gelisah" tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya, "gelisah" mereka hilang, dosa pun menerkam.
 
ALLAH SWT. telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan mendengar seruan Allah SWT., yang akan membantunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah SWT. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan penyakit, dan Allah SWT-lah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit "gelisah" adalah dengan cara selalu mengingat Allah SWT, sebagaimana telah dikatakan dengan jelas oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, yang artinya:
 
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)
   
Dalam keseharian semua orang membutuhkan katenangan hati, dan untuk mendapatkan ketenangan hati bukanlah hal yang mustahil. Allah SWT mengajarkan kepada kita langkah nyata mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan berdzikir, ingatlah, dengan dzikir mengingat Allah hati akan tentram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat kepada Allah, hati akan kering dan gersang.
 
Bagaimana cara Islami untuk menenangkan hati kita yang sedang dalam keadaan "gelisah" sesuai Syari’at Islam tentunya. Di antaranya adalah :
 
1.      Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi. Ujian yang Tuhan berikan kepada kita itu sebenarnya untuk menguji keimanan kita. Jika kita sabar melewai cobaan dan ujian akan meningkatlah level iman kita. Bukankan Allah itu menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika ujian itu datang padanya, berarti Allah yakin kita bisa melewatinya. Allah saja yakin, masa kita Ngga sih…

2.      Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

Ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita. Kalo kita curhat sama teman, mungkin malah akan membuka aib kita sendiri malah kan????.....
Ok…..
Mungkin di antara kalian ada yang lebih milih curhat sama teman. Syukur teman kita bisa dipercaya dan tidak menyebar luaskan masalah kita, lha kalau teman kita ember alias tidak bisa jaga rahasia, yang ada malah menambah masalah karena aib kita diumbar-umbar. Sudah deh…… curhatnya sama Sang Pencipta saja.

Ya...... 
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah SAW. ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.


3.      Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu kita untuk mengatasi rasa "gelisah" yang sedang kita rasa. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk kesukaran dan beban yang ada dalam diri kita menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala masalah yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik dan jalan keluar  yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Akan selalu ada jalan jika kita percaya kalau Allah SWT akan menoong kita. Intinya, kita harus selalu berfikir positif sama Allah, jangan pernah suudzhon sama Sang Pencipta. Ini sejalan dengan firman Allah SWT. dalam ayat berikut;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

Ini janji Allah di dalam Al-Qur’an. Akan selallu ada kemudahan di setiap kesulitan. Masih ragu juga sama janji Allah.??????...

4.      Dzikrullah (Mengingat Allah)
Naaaaahhh…
Ini yang paling penting. Orang yang senantiasa mengingat Allah SWT. dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa "gelisah" yang ada dalam diri bisa perlahan-lahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah SWT., bagi siapa saja yang mengingatnya, maka di dalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
Satu hal yang harus diingat adalah, untuk dapat selalu mengingat Allah SWT dan berhasil menghapus atau menangkal rasa "gelisah", dzikir tidak hanya dilakukan sebatas ucapan lisan dan atau hati saja. Dzikir kepada Allah SWT. merupakan rangkaian aktivitas yang melibatkan segenap hati, lisan, dan juga perbuatan. Tanpa bersatunya ketiga aspek tersebut, maka sulit pula atau bahkan tidak mungkin bagi hati kita untuk bersatu dengan Allah SWT.

5.      Sholat
Sholat yang merupakan ibadah paling utama bagi umat muslim juga merupakan salah satu sarana penangkal dan penawar berbagai macam penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Jelas saja, sholat merupakan ibadah yang totalitas hanya mengingat kepada Allah SWT., yang secara total juga hanya diisi dengan kalimat-kalimat dzikrullah, ayat-ayat Allah SWT.
Allah berfirman :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS.Az Zumar : 23)

Sholat merupakan aktivitas komunikasi langsung dengan Allah SWT., Zat yang menggenggam dan menguasai segala hati, yang menciptakan penyakit dan yang menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Jika seseorang telah terhubung dan berkomunikasi dengan Allah SWT. secara langsung dalam sholat yang khusyuk, maka mustahil baginya terserang penyakit "gelisah". Karena "gelisah" menyerang hati, dan Allah SWT-lah yang menggenggam dan menguasai segala hati.
 
Bersabar, mengadu kepada Allah, berpikir positif, Dzikrullah, dan sholat adalah solusi segala persoalan, termasuk masalah penyakit hati termasuk rasa "gelisah", "resah", gundah, gulana, galau ato papun itu.

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang dimana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa ke"gelisah"an, galau, "resah" serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwanya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan "gelisah", maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah SWT. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau atau "gelisah" karena sesungguhnya Allah bersama kita.
 
Bukankah Allah telah berjanji dalam firmanNya Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, sesudah kesulitan ada kemudahan  janji itu diulang sampai dua kali dalam satu surat.  Kita percaya, janji Allah tidak pernah ingkar,  lalu mengapa kita masih galau.  Kata Chrisye dalam lirik lagunya, “badai pasti berlalu”.  So, seberat apapun masalah yang menimpa kita, adukan pada Allah. 
 
Sumber: 
1. blogasyifanuralif.blogspot.com/.../ketika-hati-ini-mera...
2. diarikupribadi.blogspot.com/.../cara-islami-menenang...
 

"RINDU MENURUT ISLAM DAN PSIKHOLOGI"

"Rindu" itu ialah Cinta yang berlebihan, dan ada "Rindu" yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan hati".

 
"Rindu" bukanlah sesuatu hal yang tercela dan keji, akan tetapi perlulah disertai dengan menjaga diri, kesucian dan kerendahan hati. seseorang yang ketika dia "Rindu", tetapi dia menjaga dirinya dengan tidak melakukan hal-hal yang haram menurut "Islam", itu adalah dibolehkan. Dan seandainya "Rindu" itu juga disembunyikan dari orang- orang, maka, pahalalah yang akan diperolehi. Menurut Ath-Thohawi di dalam kitab Haasyia'ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi mengatakan bahawa dari Golongan Syuhada di akhirat adalah orang- orang yangMati dalam Ke"Rindu"an  dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang- orang meskipun "Rindu" itu hadir dari perkara yang haram.

Seseorang yang me"Rindu"i seseorang sehingga dia mati dan disembunyikan rasa itu dari orang lain, maka dia akan mendapat pahala syahid di akhirat kerana ianya menunjukkan bahawa dirinya memiliki sifat sabar. Dia memendam rasa"Rindu"  dan menyimpannya sendirian kerana dirinya menjaga kehormatan diri, mengikat hatinya, jiwanya,tubuh badannya dari dikuasai oleh rasa "Rindu".

Di sini, saya share bersama 1 kisah antara Saidina Ali dan Fatimah Az-Zahrah: Setelah pernikahan antara Ali dan Fatimah, Fatimah telah berterus terang dengan Saidina Ali akan sesuatu perkara, "Wahai Ali, sebelum aku menikahi engkau di Kota Mekah, ada seorang lelaki yang telah menjadi idola di hatiku. Aku sangat ingin kelak dia menjadi suamiku. Tapi semua itu aku simpan di dalam hatiku". kata Fatimah. "Kalau begitu, engkau menyesalkah mengawini aku?" Tanya Ali. "Tidak, karena pemuda itu adalah engkau," Jawab Fatimah.

Pertanyaanya:
Kenapa bisa "Rindu"? Di dalam kamus besar ditemukan arti kata "Rindu" (sangat ingin dan berharap terhadap sesuatu).
Pertanyaannya adalah bagaimana proses
"Rindu" bisa tercipta?
 
Dalam suatu ukuran abstark sangat sulit kita menjelaskan tentang level kita dengan level orang lain. Saya lebih "Rindu" dari "Rindu"nya kamu. Atau saya lebih sedih dari kamu. Karena itu marilah kita mengkonversi dari abstark menjadi absolut.

Hal-hal yang berkaitan dengan fantasi/pemahaman suatu kejadian, letak pusat otaknya ada di bagian depan (frontal lobe). Maka tidaklah heran, bila zat zat perusak otak besar bagian depan (Narkoba) sangat mengganggu sekali kepribadian manusia.


Zat yang hampir sejenis morphin dan diproduksi oleh tubuh manusia adalah Endomorphin. Zat yang mampu membuat kita bahagia atau sedih. Zat ini pula sangat berpengaruh terhadap terjadinya fantasi
"Rindu".

Sekarang mulailah kita memahami "Rindu" dengan kita konversi perasaan ini menjadi absolut.  Maka "Rindu" adalah yang paling ringan dan stress adalah yang paling berat. Sehingga urutannya adalah sebagai berikut : "Rindu" - cemas - takut - stress - stress berat - gila.

Seseorang yang awalnya hanya
"Rindu" tetapi tidak kunjung ada berita, akan menjadi cemas.  Takala dalam kondisi cemas dan memastikan hal yang meragukan, maka mulailah timbul rasa takut. Takut yang tidak pernah ada jalan keluarnya pasti menyebabkan seseorang menjadi stress.

Untuk memahami proses terjadinya "Rindu" harus pula kita memahami psikososial. Yang artinya kejiwaan kita terkait dengan lingkungannya. Sesuatu yang diharapkan bisa bentuk manusia atau buah atau suatu kejadian. Artinya ada kebutuhan dengan sesuatu yang terkait waktu dan terkait fantasi otak besar bagian depan. Maka parameternya  minimal terdiri dari “Sesuatu, waktu, pengalaman hidup dan fantasi”.

Sesuatu yang biasanya ada dan hadir tiap hari, contohnya adalah suami (keluarga) yang tiba-tiba hilang. Menjadikan terasa hilang dalam kebiasaan hidup. “Aduh, kemana yah suamiku ?”. Bila saja sang suami langsung ketemu, artinya waktunya sangat singkat sehingga bisa ketemu lagi, maka tidaklah timbul rasa "Rindu". Biasa-biasa saja seperti tidak ada kejadian. Tetapi bila saja waktunya makin lama, maka timbul rasa kehilangan. Rasa tidak terbiasa dalam hidup, dan tiba-tiba hilang. Artinya semakin lama waktunya, maka tingkat ke"Rindu"an makin terasa. Disinilah mulai terjadi ketidak seimbangan antara logika dan perasaan hati. Secara logika paham bahwa suami sedang bertugas. Sedangkan perasaan hati, tidak ingin ditinggalkan terlalu lama.
 
Lagipula tergantung pula karakter seseorangnya pada saat kecil (psikoanalisa) untuk mampu menganalisa pola-pola hidupnya. Seorang anak kecil yang dimanja akan berbeda pola pikir dengan seorang yang sangat disiplin. Akhirnya kita bisa  katakan bahwa karakter seseorang yang terbentuk sejak kecil akan mempengaruhi kejiwaan saat berkomunikasi dengan lingkungan (keluarga).

Setelah kita pahami bahwa sesuatu yang hilang dalam waktu yang lebih lama dan tergantung karakternya (pembawaannya) maka timbullah pemikiran yang disebut fantasi. Bila saat kecil selalu terulang ulang hal yang negatip, maka fantasi saat ini juga negatip terus. Bila saat kecil selalu terulang yang baik dan bijaksana, maka fantasi saat ini juga yang positip saja.

Karena itu bisa dilihat saat sang suami pulang ke rumah dan bagaimana pengalaman suami saat pergi sebelumnya. Bila suami pergi dan selalu tidak bisa dipercaya maka fantasinya saat penyambutan juga akan negatip pula. Dan saat penyambutan terjadi, ada hal yang tidak disadari (jiwa tidak sadar), tetapi sangat mempengaruhi sikap sambutannya. Contohnya: Sejak kecil dibohongin orang tua dan sudah usia dewasa dibohongin suami pula, yah… pasti deh… sambutannya juga dengan fantasi yang buruk pula.
 
Tetapi… inilah hebatnya Allah Maha Kuasa. Bahwa Manusia adalah makhluk yang sangat sempurna dengan akal budinya, sehingga akal budinya yang ikut serta menganalisa.

Mungkin saja bentuk sambutan sang istri sangat emosi, acuh atau tidak mau tahu (cuek). Tetapi bisa juga walaupun benci dan marah, tetap saja istri menyambut dengan mesra.
Siapa tahu ?
Dalam laut bisa diukur, tetatpi dalamnya hati tidak bisa diukur. 

Siapapun itu, pasti pernah mengalami perasaan "Rindu". "Rindu" akan apapun, baik terhadap seseorang, suatu benda maupun situasi tertentu. Nah, secara "psikologi" (perilaku manusia), ada beberapa fakta paling menarik tentang seseorang yang sedang memendam rasa "Rindu".

1. Sedih,
Hal yang paling sering dirasakan oleh seseorang yang sedang memendam
"Rindu" adalah sedih. Bahkan,    kondisi itu bisa membuat seseorang tidak bisa melakukan segala aktivitas, layaknya dalam situasi normal.

2. Tersenyum sendiri
Selain sedih, seseorang yang sedang memendam
"Rindu" terhadap seseorang atau suatu hal, tanpa sadar akan menyunggingkan senyum sendiri. Tidak jarang, senyum tersebut juga diiringi dengan perkataan yang juga dilakukan tanpa sadar, tentu mengenai seseorang atau suatu hal yang di"Rindu"kannya itu.
 

3. Mimpi
Sebagain ahli psikologi sependapat, bahwa mimpi merupakan bagian terkecil dari rutinitas yang sudah, sedang atau akan kita lakukan. Seringkali, lantaran perasaan
"Rindu", rutinitas itu terbawa sampai alam bawah sadar melalui mimpi. Parahnya, beberapa diantara mimpi itu, akan datang hampir setiap saat dan berkesinambungan.

4. Menangis
Percaya atau tidak, perasaan
"Rindu" akan menstimulus jiwa seseorang menjadi lebih melankolis. Hasilnya, seseorang yang tegar sekalipun, ketika sedang dalam situasi "Rindu" menggebu sangat mungkin meneteskan air mata.

5. Bicara ngelantur
Ketika sedang mengalami
"Rindu", seseorang sering keceplosan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya disampaikan. Itu karena perasaan "Rindu" akan membuat fungsi otak dan panca indera menjadi kurang stabil. Sehingga, perintah dari otak sering tidak bisa diterjemahkan secara sempurna oleh indera kita.

6. Emosional
Fakta lain bagi seseorang yang sedang
"Rindu" adalah menurunnya ratio stabilitas kejiwaannya. Kondisi itu membuat seseorang akan lebih mudah larut dalam perasaan emosi dan tidak stabil dalam bersikap atau berpikir.

7. Banyak merokok atau hilangnya nafsu makan
Fakta terakhir tentang seseorang yang sedang
"Rindu" adalah lebih banyak merokok dari biasanya. Itu berlaku bagi seseorang yang sebelumnya memang sudah memiliki kebiasaan merokok. Namun, bagi yang tidak merokok, terutama kaum Hawa, biasanya akan mengalami penurunan nafsu makan, dan akbibatnya bisa ditebak, berat badan akan  turun secara drastis.

Itulah beberapa faka paling menarik dan sering dialami oleh seseorang yang sedang memendam rasa
"Rindu". Silahkan buktikan pada diri anda, teman ataupun keluarga. 


Bagaimana mengalihkan rasa "Rindu"?

 1. B
erpikirlah positif dan menyadari bahwa anak, teman atau pasangan Anda mungkin lagi sibuk sehingga belum sempat berkomunikasi

2. Alihkan rasa
"Rindu" dengan kegiatan dan kesibukan lain. Khususnya di waktu senggang belajar menikmati hobi

3. Miliki beberapa sahabat baik yang membangun dan menjadi tempat anda curhat atau berdiskusi

4. Kirimlah sesuatu yang baik dan dibutuhkan orang yang anda butuhkan. Bisa berupa cerita, makanan atau sesuatu yang menyalurkan rasa sayang Anda.

5. Kalau objek
"Rindu" anda adalah pacar dan dia menunjukkan tidak lagi sayang atau me"Rindu"kanmu, maka bersiaplah “mematikan” rasa "Rindu"mu. Secara bertahap usahakan mencari seseorang untuk anda cintai. Sebab cinta sejati tak bertepuk sebelah tangan.
6. Jika orangtua atau sebaliknya anak Anda sedang tidak menunjukkan rasa "Rindu"nya belajarlah “cuek”. Jangan terlalu dipikirkan. Jalani kehidupan dan aktivitas sesehari. Anda bisa mengadakan waktu dan suasana khusus untuk bisa melepas "Rindu". Misalnya buat liburan bersama, acara HUT atau reuni keluarga besar.
7. Salurkan ke"Rindu"anmu kepada ALLAH SWT. dalam doa. Baca Firman-NYA dan nikmati hubungan pribadi yang karib. Maka hatimu akan lega.

Akhirnya, jangan paksakan perasaan
"Rindu". Memaksakan rasa "Rindu" hanya menyusahkan dirimu sendiri. "Rindu" itu energi positif, jangan dihamburkan dengan sia-sia. Tunjukkan itu kepada orang yang tepat, pada waktu dan situasi yang tepat pula.

Sumber:
1. imamyazidalsyifa.blogspot.com/.../rindu-menurut-isla...
2. edukasi.kompasiana.com/.../mengapa-aku-rindu-4221...
3. majalahalittihad.blogspot.com › Serba-serbi
4. health.kompas.com/read/.../Mematikan.Rasa.Rindu
8. laely.widjajati.facebook/Suatu-Pagi-di-#TelagaSarangan......