Sabtu, 20 Desember 2014

"MENJAGA HATI, PIKIRAN DAN LISAN"

"Allah telah memberikan kita akal, "pikiran" dan "hati", agar kita dapat memanfaatkan semua yang DIA berikan kepada kita dengan cara mentafakkurkan setiap kejadian-kejadian yang datang pada kehidupan kita..,


Lalu kita "pikir"kan semua hikmah yang terkandung di dalam`Nya dan kita pelajari tanda-tanda yang hadir di bumi`Nya ini agar kita bisa menyelaraskan kepentingan mana yang seharusnya kita utamakan terlebih dahulu demi kemuliaan kita di mata Allah..

Belajarlah lebih bersabar, lebih ikhlas, lebih bijak dan lebih arief dalam menilai sesuatu perkara yang ada di hadapan kita..

Sebab penilaian yang didasari akal nafsu yang tak jernih akan mengakibatkan "hati" menjadi gelap dan tak murni dalam menilai sesuai yang lahir dalam setiap perkara yang hadir..

"Lisan" merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Sebagian besar – atau bahkan hampir semua – aktivitas komunikasi kita menggunakan "Lisan". Sebuah pepatah yang terkenal mengatakan, mulutmu adalah harimaumu. Namun, ada pula yang menimpali, mulutmu adalah mutiaramu, mulutmu adalah emasmu, dan seterusnya. Artinya, "Lisan" kita berpotensi untuk mendatangkan keburukan maupun kebaikan. Oleh karena itu, sangat penting untuk "menjaga lisan" kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang benar atau malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. 
 
 Pada berbagai pertemuan, formal maupun obrolan biasa sehari-hari, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Allah SWT melarang hal tersebut. Allah SWT menggambarkan ghibah sebagai sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman, ”Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12).
 
Nabi SAW telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) melalui sabda beliau, yang artinya: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda: “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika
ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim). 
 
Apapun yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah, ghibah adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rasulullah SAW bersabda: “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871).
 
Bagi seseorang yang kebetulan hadir dalam majelis yang penuh dengan pergunjingan terhadap orang lain, maka dia amat sangat dianjurkan untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi SAW sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya: “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad).


 Satu lagi bentuk amal "Lisan" yang bisa mendatangkan keburukan adalah namimah (mengadu domba). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan. Allah SWT mencela pelaku perbuatan tersebut. Firman Allah SWT dalam Alquran: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (QS. Al-Qalam [68]: 10-11).

Rasulullah SAW mempertegas ayat di atas dengan sabdanya: “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari).
  
Ibnu Atsir mengatakan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11).
 
Oleh karena itu ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan dalam menjaga "Lisan"
 
Pertama,  hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Allah SWT berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa [4]: 114)
  
Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rasulullah SAW bersabda: “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
 
Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)
  
Keempat, tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah r.a. berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim).
 
"Menjaga Hati"

"Menjaga lisan" sesungguhnya merupakan salah satu upaya "menjaga hati". Benar bahwa apa yang diucapkan adalah representasi dari apa yang ada dalam "hati" dan "pikiran". Namun, ketika Anda melakukan ghibah dan namimah, maka sesungguhnya Anda telah menanamkan dan memupuk kebencian terhadap orang lain dalam "hati" dan otak Anda. Semakin sering Anda meliarkan "lisan" Anda, semakin besar pula kebencian dalam "hati" Anda. Lebih lanjut – secara psikologis – Anda akan selalu terbawa emosi, kehilangan rasionalitas, dan selalu dalam kondisi tertekan. Sebaliknya, ketika Anda berusaha untuk tidak melakukan ghibah atau namimah, maka "hati" Anda akan tertata. Benih-benih kebencian dan amarah sedikit demi sedikit akan menghilang. Keuntungannya, rasionalitas Anda akan terjaga, dan emosi Anda akan stabil. Pada akhirnya, Anda akan dapat menjalankan aktivitas dengan baik.
 
Nabi SAW bersabda:
"Wahai orang-orang yang beriman dengan "lisan"nya dan belum beriman dengan "hati"nya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka maka kelak Allah akan menyingkapkan kekurangan dia (di akhirat) maka Dia akan membiarkan orang lain tahu aibnya, meskipun di dalam rumahnya."
(H.R.Tirmidzi (Tuhfatul Ahwadzi juz 6/180), dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami'us Shaghir no.7985 dan shahih Tirmidzi no.1655.) 
  
Muslim yang paling baik adalah, “Seseorang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan "lisan" dan tangannya” (HR Muslim).  Mereka "menjaga lisan"nya dari segala ucapan yang bisa menyakiti "hati" orang. 
 
Semoga Allah SWT senantiasa "menjaga" diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Amiin.

Sumber:
1. https://id-id.facebook.com/...lisan...hati.../1015038961...
2. alrasikh.uii.ac.id/2007/02/.../menjaga-lisan-menjaga-h...
3. haidarkhotir.blogspot.com/2014/03/menjaga-hati.html
4. laely.widjajati.facebook/back-to-nature.....
5. laely.widjajati.facebook/The-Red-Island....
6. laely.widjajati.facebook/Nyantai-Pagi....