Sabtu, 31 Maret 2012

"Keutamaan Membaca Surat At-Tabaarak"

"Surat At Tabaarak"  adalah nama lain dari "Surat" Al-Mulk (Surat ke-67 dari Al-Qur'an), yang berarti kerajaan." 


Dinamakan "Surat At Tabaarak" diambil dari kata "Tabaarak" yang terdapat pada ayat pertama  "Surat" ini  yang berarti Maha Suci. "Surat" ini  tergolong "Surat" Makkiyah, terdiri atas 30 ayat.

Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Muhammad dan Ibnu Ja'far, keduanya berkata: Telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Qatadah dari 'Abbas al Jusyami dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW., beliau bersabda:

"Sesungguhnya ada satu "Surat" yang berjumlah tiga puluh ayat yang memberikan syafa'at kepada yang menghafalkannya sampai ia diampuni, itu adalah Surat "At Tabaarak" (Al Mulk)."
Hadits di atas diriwayatkan oleh penyusun kitab Sunan yang empat dari hadits Syu'bah. Dan Imam at Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab ash Shalah bab Ayat AyatAl Qur'an (II/57, no. 1400); at Tirmidzi dalam Sunannya, kitab Keutamaan Al Qur'an bab Keutamaan "Surat" Al Mulk (V/151, no. 2890); an Nasa-i dalam Sunannya, kitab 'Amalul Yaum wal Lailah bab Keutamaan Membaca Surat at Tabaarak (al Mulk), hal. 433, no. 310; Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Adab, bab Pahala al Qur'an (II/1244, no. 3786), Ahmad dalam Musnad (II/299), al Hakim dalam al Mustadrak (II/398), dan beliau berkata, "Hadits ini sanadnya shahih hanya saja Imam al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya."Dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi).

Imam ath Thabrani dan al Hafizh adh Dhiya' al Maqdisi meriwayatkan dari jalan Salam bin Miskin dari Tsabit dari Anas, ia berkata, "Rasulullah SAW., bersabda,

"Ada satu "Surat" dalam Al Qur'an yang akan berdebat membela yang menghafalkannya sehingga akan bisa memasukkannya ke dalam Surga, yaitu "Surat At Tabaarak" (al Mulk)."

Hadits ini disebutkan oleh Imam as Suyuthi dalam ad Durrul Mantsur (VI/246), al Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id (VII/1231) dari Anas bin Malik. Beliau berkata, "Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam al Mu'jamush Shaghiir dan al Mu'jamul Ausath dan para perawinya adalah para perawi shahih.").
Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah SAW. bersabda, "Surat Tabaarak" (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur." (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na'im, Hadis di atas sahih).
Dari Ibnu Abbas r.a berkata : Seorang laki-laki mendirikan kemah diatas kuburan yang tidak disadarinya. Lalu ia mendengar suara manusia tengah membaca "Surat" Al-Mulk / "At-Tabaarak" hingga selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW. dan menceritakan kejadiannya “Wahai Rasulullah saya mendirikan kemah di atas sebuah kuburan, tapi saya tidak menyadari kalau itu adalah kuburan. Lalu saya mendengar suara seseorang tengah membaca "Surat" Al-Mulk hingga selesai. Rasulullah saw. bersabda “Itu adalah penghalang yang akan menyelamatkan pemiliknya dari azab kubur.”
Salah satu hadist dalam kitab Riyadlus Shalihin:
”Barang siapa membaca tiga puluh ayat "Surat At-Tabaarak", maka ia akan mendapatkan syafaat, sehingga diampunilah dosa-dosanya.”


Salah satu keterangan dalam Kitab Ruhul Ma’ani menceritakan, satu hari Rasulullah bersama para sahabat melakukan ziarah di makam para syuhada. Di tengah-tengah ziarah, Umar bin Khathab mendengar suara seseorang yang sedang membaca sebuah "Surat". Sahabat Umar pun berusaha mencermati bacaan itu. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahwa "Surat" yang didengarnya adalah "Surat At-Tabaarak". Beliau lantas mencari asal suara itu. Alangkah terkejutnya beliau saat tahu bahwa suara itu ternyata berasal dari balik makam seorang sahabat yang telah lama meninggal. Sungguh, ini hal yang aneh bagi sahabat Umar. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mati dan dikubur sekian lama masih bisa melantunkan ayat-ayat al-Qur’an di liang kuburnya? Umar bin Khathab pun menemui Rasulullah, menyampaikan keanehan yang baru saja dialaminya. Mendengar penuturan sahabat Umar, Rasulullah SAW. tersenyum. Beliau menerangkan, semasa hidupnya sahabat tersebut selalu istiqomah membaca "At-Tabaarak" setiap hari. Allah pun meridhai dan memberinya kemurahan untuk terus istiqamah hingga di alam kubur.
Referensi:
1. id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Mulk
2. saga-islamicnet.blogspot.com › kajian
3. id.shvoong.com/.../1967070-keutamaan-beberapa-surat-dan-ayat/
4. tarisya-tarisya.blogspot.com/p/keutamaan-surat-al-mulk.html 
5. ulfatkhan.wordpress.com/2009/11/21/motivator-2/ 

Selasa, 27 Maret 2012

"Pengertian dan Pengamanan Kas"

  "Kas" adalah salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Semakin besar jumlah "Kas" yang ada di dalam perusahaan menyebabkan semakin tinggi tingkat likuiditas perusahaan yang bersangkutan".


Ini berarti bahwa perusahaan mempunyai resiko yang kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya. Tetapi ini tidak berarti bahwa perusahaan harus berusaha untuk mempertahankan persediaan "Kas" yang besar, karena semakin besar "Kas" berarti semakin banyak uang yang menganggur, sehingga akan memperkecil kesempatan perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Sebaliknya apabila perusahaan hanya mengejar keuntungan saja, maka perusahaan cenderung berusaha agar semua persediaan "Kas"nya menjadi aset yang produktif, sehingga hal tersebut akan menempatkan perusahaan itu dalam keadaan yang tidak likuid apabila sewaktu-waktu ada kewajiban yang harus segera dibayar.

PENGERTIAN "KAS".

"Pengertian" "Kas"  sendiri dalam arti sempit adalah seluruh uang tunai baik kertas maupun logam yang ada di perusahaan (cash on hand) yang masih berlaku sebagai alat pembayar yang sah. "Pengertian""Kas"  dalam arti luas adalah selain uang tunai yang ada, "Kas"  juga meliputi saldo simpanan di Bank yang dapat dengan mudah/segera dapat dicairkan, seperti rekening simpanan dalam bentuk Giro, Tabungan dan lain-lain. 

Sedangkan menurut Standar Akuntansi Pemerintah,  "Pengertian" "Kas" adalah uang tunai dan saldo simpanan di Bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintah.

Ciri-ciri "Kas" adalah dapat digunakan segera sebagai alat bayar sebesar nilai nominalnya, sedangkan alat bayar yang tidak dapat digunakan segera sebagai alat bayar dan tidak sesuai dengan nilai nominalnya tidak dapat digolongkan sebagai "Kas", seperti : Cek mundur, deposito berjangka, surat berharga dan lain-lain.

Sedangkan Fungsi "Kas" dalam suatu perusahaan sangat penting, karena hampir setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan selalu berkaitan dengan "Kas". Maka tanpa "Kas" perusahaan tidak akan berjalan  dengan lancar.

Pengelolaan "Kas" adalah teknis-teknis bagaimana menata kerjakan "Kas" supaya selalu dalam keadaan mencukupi, dalam arti tidak kekurangan sehingga kelancaran pembayaran kewajiban finansial terjamin, serta tidak berkelebihan yang akan mengakibatkan terjadinya dana yang menganggur (idle money).

Sedangkan tujuan pengelolaan "Kas" adalah:
1. Perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam melakukan pembayaran.
2. Untuk menghindari terjadinya "Kas" yang akan mengakibatkan terjadinya dana yang menganggur (idle money).


PENGAMANAN "KAS"


Untuk mencegah terjadinya penyalah-gunaan sisa "Kas" perusahaan yang belum disetorkan ke Bank, perlu diatur pengamanannya sebagai berikut:


1. Sisa "Kas" perusahaan pada akhir hari harus dibuatkan perincian "Kas" yang dibuat oleh "Kas"ir dan harus telah diperiksa kebenarannya oleh manajer perusahaan.


2. Sisa "Kas" akhir hari harus disimpan dalam peti besi (brandkast).


3. Peti besi (brandkast) harus menggunakan 2 kunci, 1 dipegang "Kas"ir dan yang 1 dipegang Pembuku.


4. Duplikat kedua kunci tersebut dimasukkan dalam sampul tertutup dipegang oleh Manajer perusahaan.


5. Setiap membuka peti besi harus dilakukan bersama oleh kedua orang pemegang kunci ("Kas"ir dan Pembuku).


6. Pengambilan dan penyetoran "Kas" dari dan ke bank seyogyanya dilakukan oleh dua orang petugas.


7. Penanda-tanganan untuk pengambilan dana dari Bank harus sesuai dengan specimen (kartu contoh tanda-tangan) dan dilakukan oleh yang berhak. (Manajer perusahaan diserti 2 orang petugas).
Referensi:
1. Pedoman Teknis Pengelolaan "Kas"  UPK - PNPM Perkotaan - Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Cipta Karya.
2.  e-dukasi.net/index.php?mod=script&cmd.../view&id=234...
3. Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintah - Nomor 2 - Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah. 

Minggu, 25 Maret 2012

"Allah Maha Pengampun"

"Allah" itu "Maha Pengampun" sebanyak apa pun dosa kita. Layanan "ampun"an dari "Allah" terbuka 24 jam, tidak peduli siang ataupun malam".


Salah satu sifat "Allah" dalam Asmaul Husna adalah "Maha Pengampun" --- Al-Ghaffur. "Allah" itu "Maha Pengampun" sebanyak apa pun dosa kita. Apabila kita berbuat salah terus menerus kepada orang lain, lalu kita datang dengan maksud ingin meminta maaf, kemungkinan besar orang tidak mau memaafkan. Apalagi bila kita sudah berulangkali melakukan kesalahan itu. Namun "Allah" tidak, seberapa pun luasnya lautan dosa hamba-Nya yang bertaubat memohon "ampun"an.

Layanan "ampun"an dari "Allah" selalu terbuka 24 jam, tidak peduli siang ataupun malam, tidak memerlukan perantara, tidak ada istilah tutup untuk sementara, apalagi cuti nasional. Sangat senang dengan keluhan dan permintaan "ampun"an dari hamba-hamba-Mya. Gratis --- Berbeda dengan layanan manusia yang mengenal istilah tutup sementara, istirahat, dan terbatas dalam memberikan servicenya pada manusia.

Sebuah Hadits Qudsi, menjelaskan: Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ary ra., dari Nabi SAW., beliau bersabda: "Sesungguhnya "Allah" Ta'ala itu membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan "Allah" membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat."

Panjangnya kesempatan untuk bertaubat bagi orang yang berbuat dosa adalah sampai matahari terbit dari barat, artinya sampai hari Kiamat. Dan sebelum ajal sampai di tenggorokan atau meninggal. Artinya pintu taubat itu senantiasa terbuka, tidak mengenal waktu. Siang ataupun malam, sore ataupun pagi. Kapan pun dimana pun. Kalau kita mengetahui  dan percaya betapa "Maha Pengampun"nya "Allah" , maka tidak ada istilah putus asa dalam kehidupan ini.

Hadits Riwayat Imam Tirmidzi dan ia berkata (ini) Hadits Hasan Sahih, dari Anas ra. telah berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: 'Telah berfirman "Allah" SWT., 'Wahai Anak Adam! Selagi engkau meminta dan berharap dari-Ku, maka Aku akan "ampun"i dosa-dosa yang sudah terlanjur darimu dan tidak Aku pedulikan lagi. Wahai Anak Adam! Walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian engkau minta "ampun" kepada-Ku, niscaya Aku beri "ampun" padamu. Wahai Anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepadat bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku memberimu "ampun"an sepenuh bumi pula."

"Allah"   sangat sayang kepada kita, hamba-Nya. Bahkan "Allah" sayang pada kita jauh melebihi rasa sayang orangtua kita pada kita serta sayang kita terhadap diri kita sendiri. Maka adakah rasa sedih dan putus asa agi hamba yang memiliki Tuhan sepengasih ini?

"Allah" SWT. berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 74:
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada "Allah" dan memohon "ampun" kepada-Nya? Padahal "Allah Maha Pengampun" lagi "Maha" Penyayang.”

"Allah" SWT. juga berfirman dalam Surat Al-Zumar Ayat 53:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat "Allah" Sesungguhnya "Allah" meng"ampun"i dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang "Maha Pengampun" lagi "Maha" Penyayang.”

 "Allah" SWT adalah dzat yang "Maha Pengampun" kepada Hamba-Nya yang benar-benar ingin bertaubat. Tidak ada manusia yang tidak punya dosa, karena manusia selalu dihinggapi dosa. Dan manusia yang baik bukanlah manusia yang tanpa dosa, tetapi manusia yang apabila dia melakukan dosa, dia menyadari kesalahan dan bertaubat kepada "Allah" Oleh karena itu sebelum terlambat, marilah kita memohon "ampun" kepada"Allah" , sering-seringlah beristighfar. Mudah-mudahan semua dosa kita bisa di"ampun"i oleh "Allah" SWT. Amien Ya Robbal Alamin........
Referensi: 
1. "Orang Berdosa Rindukan Surga". Oleh Syailendra Putra.
2. www.dudung.net/artikel-islami/"allah"-"maha"-"pengampun".html
3. sites.google.com/site/sunudata/pengetahuan/tuhan-"maha"-"pengampun"

Sabtu, 24 Maret 2012

"Taubat Untuk Menggapai Surga"

"Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail."


Apakah orang yang berdosa berhak memasuki "Surga"? Jelas, berhak! Namun, sebelum memasuki "Surga", diri orang berdosa harus terlebih dahulu dicuci. Dicuci dengan apa? Dengan "Taubatun" Nashuha atau "Taubat" sebenarnya. Allah telah menjamin dalam Al-Qur'an akan memberikan "Surga" dan kemuliaan bagi orang yang ber"Taubat" dan kembali ke jalan Allah.

Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail. Artinya, selagi kita masih diberi nafas dalam kehidupan ini, pintu "Taubat" masih dibuka oleh Allah.

Jadi, untuk dapat menggapai "Surga", seseorang harus ber"Taubat" kepada Allah atas dosa-dosanya dan kembali ke jalan Allah. Serta dengan semangat berusaha untuk memiliki amalan unggulan yang dilaksanakan dengan kontinyu.

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.

"Salah Satu Kisah Hidup Ahli Surga"

"Salah satu kunci yang membuat Sahabat Nabi Muhammad SAW. sebagai "Ahli Surga" adalah mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam."


Pada suatu ketika, pada zaman  Rasulullah  SAW. ketika  sedang  berkumpul dengan  para  sahabat, lewatlah  seorang sahabat lain. Kemudian Rasulullah SAW. segera berkata kepada para sahabatnya yang sedang mengelilinginya, "Dia (maksudnya yang baru lewat itu) adalah "Ahli Surga". Lalu ada seorang sahabat lain yang penasaran, apa gerangan amal istimewa sahabat itu sampai-sampai Rasulullah menyebutkan bahwa dia adalah "Ahli Surga".

Maka berangkatlah sahabat yang ingin tahu tersebut ke rumah sahabat yang dikatakan sebagai "Ahli Surga". Supaya penyamarannya tidak terbongkar dia membuat alasan kepada tuan rumah. dikatakannya bahwa dia sedang berselisih paham dengan keluarganya, dan untuk itu bersumpah tidak bertegur sapa selama 3 hari dengan sang ayah. Sahabat yang disebut "Ahli Surga" itupun dengan senang hati menerima kedatangannya dan segera memperlakukan dia sebagai tamu yang harus dihormati sebagaimana mestinya.

Misi pun berjalan. Sang sahabat segera mengadakan aksi intelegennya terhadap sahabat "Ahli Surga". Semua perilaku "Ahli Surga" tersebut diamati sampai yang sekecil-kecilnya. Semua ibadahnya baik siang maupun malam, tak terkecuali ketika sedang berdagang di pasar di siang hari maupun malam. Tidak ada yang luput dari pengamatannya. Atas rasa penasarannya apakah amalan istimewa yang dilakukan sahabat "Ahli Surga" sehingga Rasulullah memberinya gelar "Ahli Surga".

Namun, sampai hari ketiga sahabat yang menyeidiki sahabat "Ahli Surga" belum berhasil menemukan amalan apa yang istimewa pada diri "Ahli Surga" ini. Dalam pandangannya, sahabat "Ahli Surga" ini tidak memiliki amalan istimewa tertentu. Ibadahnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Malah dia kadang melihat "Ahli Surga" ini tidur sampai Subuh dan tidak melaksanakan Tahajud. Malah, menurut sang sahabat, rasanya banyak sahabat yang lebih baik ibadahnya dari segi kuantitas dari pada "Ahli Surga" ini.

Pada hari ketiga, sahabat ini buka kartu kepada tuan rumah. Dikatakannya, bahwa dia sebenarnya tidak saling berjauh-jauhan dengan orang tuanya, tetapi hanya ingin menyelidi sahabat tersebut. Namun, ketika dia bertanya apakah amalan unggulan yang dimilikinya, dia menjawab tidak ada. Lalu sang sahabat yang kecewa karena berharap tahu tersebut segera pamit ingin pulang. Tapi, baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah sahabat "Ahli Surga", sahabat "Ahli Surga" memanggil. "Tunggu dulu", kata sahabat "Ahli Surga". "Memang aku tidak mempunyai amalan yang istimewa yang membuatku berbeda dengan sahabat-sahabat yang lain. Namun, aku mempunyai satu kebiasaan. Setiap malam menjelang tidur aku tak pernah mengingat-ingat kesalahan kaum muslimin yang lainnya. Aku memaafkan dan mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan mereka padaku. Aku tak pernah menyimpan dendam kepada saudara-saudara muslim."

Tercenganglah sahabat ini mendengar ungkapan tersebut. Ini dia jawabannya yang selama ini membuat dia penasaran. Ternyata inilah kunci yang membuat sahabat itu dikategorikan sebagai "Ahli Surga". Hanya dengan mengikhlaskan dan tidak menyimpan dendam. Sederhana, namun ini hal yang sulit. Coba bayangkan saja, siapa yang gampang berlapang dada dan memaafkan ketika ada orang lain menyakitimya? Bukan hal yang mudah memaafkan orang yang sudah mendzalimi kita begitu saja. Namun inilah yang menjadi amal unggulan sahabat tersebut. Dan itu juga yang mengantarkannya menjadi "Ahli Surga".

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.

Jumat, 23 Maret 2012

"Kebiasaan Berjabat Tangan"

"Setiap orang hampir dipastikan pernah "berjabat tangan" bahkan sudah menjadi budaya. Tak hanya sekedar memegang atau meremas "tangan" lawan, sentuhan yang diberikan pun menyiratkan makna tersendiri".


Dua orang yang saling "berjabat tangan" bisa bersentuhan dengan tingkat yang sama. Apakah ketika "berjabat tangan" Anda melakukannya dengan derajat yang sama? "Jabat tangan" Anda dapat di analisa, kualitas sentuhan bisa bermacam-macam, mulai dari cinta sampai kebencian; keduanya bisa cukup bergairah dan panas! Sentuhan yang kurang melibatkan perasaan jauh lebih dingin tetapi sentuhan yang diberikan kepada kita tetap saja memberikan semangat hidup.

Mengapa "kebiasaan" melakukan "jabat tangan" sangat dianjurkan? Rasulullah SAW. mencontohkan ketika bertemu dengan saudara kita sesama muslim, maka hendaklah kita melakukan "jabat tangan" karena "berjabat tangan" itu bisa menggugurkan dosa-dosa. Dengan catatan laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Abu Daud, dari al-Barra’ r.a. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “(Apabila ada) dua orang Islam yang bertemu kemudian mereka "berjabat tangan", maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (melepaskan "tangan" mereka)”. 

Hadits Riwayat Tirmidzi: 4680, al-Shahihah: 160. Hadits Hasan, menjelaskan Hadits Anas ra. dia berkata: "Seseorang bertanya: Ya Rasulallah sesorang dari kami bertemu saudaranya atau temannya, apakah ia membungkuk kepadanya? Beliau menjawab: Tidak." Lalu apakah memeluknya dan menciumnya? Beliau menjawab: "Tidak." Lalu apakah mengambil "tangan"nya dan men"jabat"nya? Beliau menjawab: 'Ya'."
"Jabat tangan" secara psikologis akan mengeratkan hubungan kita. Bahkan persentuhan secara fisik adalah saat hubungan yang dekat antara satu orang dengan orang lain terjadi. Bayangkan saja ketika kita baru bertemu orang yang belum dikenal, kemudian tiba-tiba tersenyum, "berjabat tangan", dan menyapa, pasti kita akan merasa senang dan nyaman dengan sambutan sehangat itu.

Kemudian apa hubungannya antara "jabat tangan" dengan dosa? Pada saat kita "berjabat tangan" dengan orang lain, saat itu kita menyatakan hubungan yang dekat dengan seseorang. Dan setan paling benci dengan hal tersebut. Setan paling benci dengan persaudaraan. Setan paling benci dengan hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Setan akan berusaha mengobok-obok hubungan persaudaraan sesama muslim. Apabila melihat orang-orang yang saling bermusuhan, setan akan bertepuk "tangan". Apabila orang-orang saling membenci, setan tertawa. Namun begitu melihat ada orang "berjabat tangan", setan akan sangat marah.

Jangan anggap remeh ke"biasa"an "berjabat tangan" dengan orang lain.  "Kebiasaan" "berjabat tangan" sangat sederhana. Mem"biasa"kannya juga tidak memerlukan energi yang besar. Cobalah untuk sering-sering "berjabat tangan" dengan orang lain. Apalagi dengan sesama saudara yang jarang bertemu. Terkadang "jabat tangan" hanya dianggap formal dan tidak diresapi maknanya. Jadilah orang yang terlebih dahulu mengulurkan "jabat", bukan yang menunggu uluran "tangan" orang lain.

Agar anda tidak menampilkan kesan yang salah di mata orang yang "berjabat tangan" dengan anda, terutama ketika interview, berikut adalah teknik dan etika "berjabat tangan" secara efektif.
  • Tataplah mata pasangan lawan anda saat "berjabatan tangan" dengannya. Tidak ada hal lebih yang memberikan kesan mengacuhkan, selain "jabatan tangan" tanpa tatapan mata. Bila anda men"jabat tangan" tanpa menatap pasangan lawan, menunjukkan rasa tidak hormat, tidak peduli, acuh dan cuek. Maka, "jabat"lah "tangan" lawan bicara anda dengan menatap mata lawan bicara, sehingga anda dianggap sebagai orang yang punya rasa hormat, peduli, sopan dan juga santun. Inilah etika "berjabat tangan".
  • "Berjabat tangan"lah dari telapak ke telapak. Jika anda melakukan "jabat tangan" dengan berlebihan, seperti menarik "tangan" lawan dan mengayunkan ke atas bawah dengan keras, hal ini sama saja menunjukkan ’dominasi’ atau ’mulut besar’. "Berjabat tangan"lah dengan pas, tidak keras tapi juga tidak terlalu lunak.
  • Jika anda memiliki keyakinan yang tidak membolehkan menyentuh "tangan" lawan jenis, lakukan jenis penghormatan menurut kebiasan yang biasa anda lakukan. Seperti di adat sunda, dengan mengatupkan ke dua lengan di depan dada, atau juga dengan model membungkuk badan seperti kebiasaan orang jepang. Orang akan menghormati anda karena itu merupakan masalah keyakinan. Bisa juga dilakukan, bila memang anda sedang mengalami gangguan pada "tangan", atau radang sendi. Utarakan pada lawan bicara anda, dengan didahului permintaan maaf karena tidak bisa "berjabat tangan" secara normal.
  • Pekalah terhadap situasi dan kondisi, misalnya bila lawan bicara kita memiliki keterbatasan fisik. Jika lawan bicara memiliki cacat pada tangan, gangguan tulang atau artritis, atau misalnya duduk di kursi roda, jangan memaksakan diri untuk "berjabat tangan". Melukai seseorang karena "berjabat tangan" justru akan menutup pintu hubungan komunikasi.
  • Ciptakan "jabat tangan" yang hangat dan memberi kesan makna mendalam. Jika anda "berjabat tangan" lalu segera menarik "tangan" anda kemudian berbicara seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa, maka lawan bicara anda akan menganggap anda sebagai orang yang tidak tulus dan berarti. Karena itu, biarkan "berjabat tangan" sambil memberikan perhatian kepada lawan bicara anda, bisa dengan tatapan mata atau pembicaraan singkat/ringan sebelum menarik "tangan" anda. Ini memberikan kesan anda adalah orang yang punya perhatian.

    Masih banyak cara "berjabat tangan" yang lain, tetapi kebanyakan tidak bermakna khusus selain ungkapan kegembiraan dan keakraban, terutama "jabat tangan" di kalangan anak-anak muda. Jadi dengan memperhatikan cara seseorang "berjabat tangan", sedikit banyak Anda bisa mengetahui sifat dan maksud orang itu. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana kita sendiri "berjabat tangan", amatilah diri Anda dan setelah itu kalau perlu ubahlah dengan gaya yang paling baik, dan lambat laun bawah sadar Anda akan terpengaruh dan akhirnya pembawaan Andapun akan berubah.
    Referensi:
    1. Orang Berdosa Rindukan Surga. Oleh: Syailendra Putra.
    2. chaidirwahyudi.dagdigdug.com/about/  
    3. ahsan.tv/.../78-hadits-"jabat-tangan"-dan-saling-berpelukan-saat-bertem... 
    4. pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/makna-"jabat-tangan"/ 

Kamis, 22 Maret 2012

"Kebiasaan Istighfar"

"Karakter "Istighfar" harus kita bangun dengan penuh kesungguhan Menyadari bahwa kita sangat mungkin melakukan dosa setiap hari, maka kita harus mencari obat untuk menghapus dosa-dosa tersebut."



Allah berfirman dalam  Al-Qur'an Surat Nuh Ayat 10-12: Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun ("istighfar") kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.”

"Kebiasaan" untuk mengucapkan "Istighfar" harus dibudayakan setiap hari sebagaimana yang telah diajarkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Mem"biasa"kan diri untuk mengucapkan "Istighfar" atas dosa-dosa dapat kita lakukan mulai dari hal yang paling sederhana. Hal yang paling praktis adalah melalui shalat. Setiap selesai shalat, kita mengucapkan "Istighfar", memohon ampunan atas segala kesalahan yang telah kita perbuat baik dengan sadar maupun tidak. Apabila setiap kali selesai shalat kita mengucapkan 10 kali "Istighfar", maka dalam sehari semalam kita telah mengucapkan "Istighfar" sebanyak 50 kali.

Hari berikutnya, kita dapat mengucapkan lebih banyak lagi. Apabila sudah menjadi karakter, secara otomatis kita dapat mengucapkan "Istighfar" ketika dimanapun kita berada, misalnya dalam perjalanan menuju tempat kerja, ketika dalam kendaraan, ketika sedang menunggu seseorang, ketika mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya.

"Karakter "Istighfar" harus kita bangun dengan penuh kesungguhan Menyadari bahwa kita sangat mungkin melakukan dosa setiap hari, maka kita harus mencari obat untuk menghapus dosa-dosa tersebut."

Ada satu tips lagi untuk membudayakan "Istighfar". Tutuplah setiap hari anda dengan "Istighfar". "Biasa"kanlah setiap malam menjelang tidur mengucapkan "Istighfar", dan berharap supaya Allah SWT. membuka pintu ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang telah kita perbuat. 

Makna "istighfar" sebagai penghapus dosa itu benar adanya. Tapi sudut pandang itu terlalu sempit. Cobalah menggali lebih dalam indahnya "istighfar". Sebab seandainya masalah itu penyakit, "istighfar" adalah obat yang mujarab. Jika sudah ada obatnya, gratis pula mengapa kita tidak menikmatinya.

Hadits Riwayat Ahmad, menjelaskan, bahwa: "Barangsiapa yang banyak ber"istighfar", Allah akan membebaskannya dari berbagai kedukaan. akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, dan memberinya curahan rezeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya."

Hadits Riwayat.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad, menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa ber"istighfar", maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka”.  

Membaca "Istighfar" merupakan sedekah. Dengan memperbanyak mengucapkan "Istighfar", niscaya rezeki kita akan mengalir lancar. Kesedihan hati akan hilang, digantikan kelapangan dada menerima takdir Allah. Tentunya setelah kita berikhtiar (berusaha keras). Dan yang perlu anda ketahui bahwa "Istighfar" membuat Allah senang apalagi kalau kita menjadikan "Istighfar" sebagai kegiatan  rutinitas harian kita.

Sabtu, 17 Maret 2012

"Do'a Seorang Hamba"

"Do'a" adalah merupakan inti dari semua ibadah. Di dalam shalat ada "do'a", dalam puasa, zakat, haji semuanya didalamnya mengandung "do'a"


Dapat dikatakan bahwa "do'a" merupakan sapaan mesra, permohonan dan dialog antara manusia dengan Allah SWT. sebagai pencipta semesta alam ini. Berikut ini "do'a" dari "hamba"Mu yang hanya kepada-Mu "hamba" menyerahkan dan mengembalikan semua urusan "hamba"

"DO'A" SEORANG "HAMBA":

Ya Allah... Ya Tuhan "hamba"....
"Hamba" angkat tangan "hamba" dengan sepenuh hati "hamba".
Kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha Mulia,
Manakala "hamba" julurkan tangan "hamba",
Janganlah Engkau tolak permohonan "hamba".

Wahai Dzat Yang Mengabulkan "do'a".... 
Engkau telah menciptakan "hamba".
dan "hamba" adalah "hamba"-Mu.
"Hamba" berada dalam janji,
dan akan menepati perjanjian itu semampu "hamba".

Ya Allah..... Ya Tuhan "hamba".....
"Hamba" berlindung dari buruk yang "hamba" perbuat.
"Hamba" mengakui nikmat-Mu pada "hamba".
"Hamba" mengakui dosa "hamba"....
Ampunilah "hamba", keluarga "hamba", pemimpin-pemimpin "hamba".....
Ampunilah orang-orang yang menyayangi dan membahagiakan "hamba",
ampunilah orang-orang yang membenci, memusuhi dan mendzalimi "hamba",
serta ampuni pula saudara-saudara "hamba" kaum muslimin di seluruh dunia,
baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup di dunia. 
Sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau....

Sesungguhnya "hamba" memohon kesehatan dan kebugaran,
umur panjang yang bermanfaat.....
Kenikmatan yang dapat membawa syafaat....
Lapangkanlah dada "hamba".
"Hamba" memohon petunjuk-Mu,
agar senantiasa berjalan di atas jalan lurus-Mu.
Mudahkanlah semua urusan "hamba",
sehingga "hamba" dapat dengan mudah beribadah kepada-Mu....
"Hamba" mohon dijauhkan dari api neraka-Mu.
Bangunkanlah untuk "hamba" sebuah rumah di dalam surga-Mu....
Bersama orang-orang yang menjadi kekasih-Mu.....

"Balasan Menutup Aib Orang Lain"

"Siapa yang "menutup aib" seorang muslim niscaya Allah akan "menutup aib" di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”


Jadi keutamaan orang yang suka "menutup aib" saudara sesama muslim yang memang menjaga kehormatan diri tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yang "menutup aib" seorang muslim yang demikian keadaan Allah SWT. akan "menutup aib" di dunia dan kelak di akhirat. Namun apabila untuk tujuan kemaslahatan atau kebaikan  dan apabila "menutup"inya akan menambah kejelekan maka tidak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/"aib"/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang dapat memberi hukuman. Apabila ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Apabila ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Apabila ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada muridnya . Demikian seterusnya.

Perlu kita renungkan, bahwa diri kita ini penuh dengan kekurangan, "aib", cacat dan cela, maka sibukkanlah diri ini utk memeriksa dan menghitung "aib" sendiri niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu "aib" orang lain. Lagi pula orang yang suka mencari-cari "aib" orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia Allah SWT. akan membalas dengan membongkar "aib" walaupun ia berada di dalam rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami ra. dari Rasulullah SAW.:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisan dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar di dalam rumah .”

Abdullah bin ‘Umar ra. menyampaikan hadits yang sama ia berkata “Suatu hari Rasulullah SAW. naik ke atas mimbar lalu menyeru dengan suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ
 الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisan dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelekkan mereka jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama muslim Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besar kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar ra. memandang ke Ka’bah ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agung engkau dan besar kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatan di sisi Allah darimu.”

Maka dari itu, marilah kita tutup "aib" yang ada pada diri kita dengan "menutup aib" yang ada pada saudara kita yang memang pantas ditutup. Dengan kita "menutup aib" saudara kita Allah SWT. akan "menutup aib" kita di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yang Allah SWT. tutup "aib" di dunia di hari akhir nanti Allah SWT. pun akan "menutup aib"nya sebagaimana Nabi SAW. bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah "menutup aib" seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan "menutup aib"nya.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutup "aib" si hamba di hari kiamat ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan "menutup" kemaksiatan dan "aib" dengan tidak mengumumkan kepada orang-orang yang ada di mauqif . Kedua: Allah SWT. tidak akan menghisab "aib" dan tidak menyebut "aib" tersebut.” Namun kata Al-Qadhi sisi yg pertama lebih nampak karena ada hadits lain.”

Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin ‘Umar ra., ia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ..

“Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin . Allah berfirman ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yg pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulu di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya hamba tahu wahai Rabbku .’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosa dan ia memandang diri akan binasa karena dosa-dosa tersebut Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah pada catatan kebaikan-kebaikannya”

Kita bisa saling belajar satu sama lain. Tapi tidak berarti kita harus saling membuka "aib" masing-masing. Apabila kita perlu menggunakan kesalahan orang lain untuk belajar memperbaiki diri demi kemaslahatan banyak orang, maka kita tidak harus menguliti sekujur tubuh orang itu dengan membuka identitasnya sedemikian gamblang. Dengan "menutup aib" orang lain, maka kita menjaga nama baik orang lain. Dan kita juga menjaga nama baik kita sendiri. Sebab seperti pesan Nabi, Tuhan akan "menutupi aib" siapa saja yang "menutupi aib" orang lain. Sehingga cara terbaik untuk "menutupi aib" diri sendiri adalah dengan menjaga "aib" orang lain yang terlanjur kita ketahui.

Tidak ada manusia yang terbebas dari "aib". Sehingga ketika kita membeberkan "aib" orang lain, bersiap-siaplah untuk menerima perlakuan yang sama dari orang lain. 

 Referensi:
1. blog.re.or.id › Asy Syariah
2. al-atsariyyah.com/"menutupi"-"aib"-sesama-muslim.html
3. www.dadangkadarusman.com/.../cara-terbaik-untuk-"menutupi"-"aib"-di...

Senin, 12 Maret 2012

"Ingin Mendapat Syafaat Al-Qur'an Pada Hari Kiamat?"

"Apakah anda ingin "Al-Qur'an" memberikan "syafaat" kepada anda pada hari "kiamat"? Perbanyaklah membaca "Al-Qur'an".


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

"Bacalah "Al-Qur'an", karena sesungguhnya ia ("Al-Qur'an") akan memberikan "syafaat" pada hari "kiamat" kepada orang-orang yang suka membacanya dan mengamalkan kandungannya (ahlul "Qur'an").

Sabtu, 10 Maret 2012

"Tercegah Dari Siksa Kubur"

"Apakah anda ingin "tercegah" dari "siksa kubur"? Bacalah Surat Tabarak atau yang disebut Surat Al-Mulk".


Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ibn Mardawayh), bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

"Surat Tabarak dapat men"cegah" "siksa kubur".

Hadits yang lain menjelaskan tentang "siksa kubur", bahwa Amr bin Dinar berkata: "Ada seorang penduduk kota Madinah yang mempunyai saudara perempuan di ujung kota, maka sakitlah saudaranya itu kemudian mati, maka setelah diselesaikan persiapannya dibawa ke"kubur", kemudian setelah selesai menguburkan dan kembali pulang ke rumah, ia teringat pada kantongan yang dibawa dan tertinggal dalam "kubur", maka ia minta bantuan orang untuk menggali "kubur" itu kembali, dan sesudah digali "kubur" itu maka bertemulah dia akan kantongannya itu, ia berkata kepada orang yang membantunya itu: "Tolong aku ke tepi sebentar sebab aku ingin mengetahui bagaimana keadaan saudaraku ini." Maka dibuka sedikit lahadnya, tiba-tiba dilihatnya "kubur" itu menyala api, maka segera ia meratakan "kubur" itu dan kembali kepada ibunya lalu bertanya: "Bagaimanakah kelakuan saudaraku dahulu itu?" Ibunya berkata: "Mengapa kau menanyakan kelakuan saudaramu, padahal ia telah mati?" Anaknya tetap meminta supaya diberitahu tentang amal perbuatan saudaranya itu, lalu diberitahu bahawa saudaranya itu biasanya mengakhirkan sembahyang dari waktunya, juga cuai dalam kesucian dan di waktu malam sering mengintai rumah-rumah tetangga untuk mendengar perbualan mereka lalu disampaikan kepada orang lain sehingga mengadu domba antara mereka, dan itulah sebabnya "siksa kubur". Karena itu siapa yang ingin selamat dari "siksa"an "kubur" haruslah menjauhkan diri dari sifat namimah (adu domba diantara tetangga dan orang lain) supaya selamat dari "siksa"an "kubur" dan mudah baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakier.

Abul-Laits berkata: "saya telah diberitahu oleh Abul-Qasim bin Abdurrahman bin Muhammad Asysyabadzi dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Tiada seorang yang mati melainkan ia mendengkur yang didengar oleh semua binatang kecuali manusia, dan andaikata ia mendengar pasti pingsan, dan bila diantar ke"kubur", maka jika salih (baik) berkata: "Segerakanlah aku, andaikan kamu mengetahui apa yang didepanku daripada kebaikan, niscaya kamu akan menyegerakan aku. Dan bila ia tidak baik maka berkata: "Jangan keburu, andaikata kamu mengetahui apa yang didepan aku daripada bahaya, niscaya kamu tidak akan keburu. Kemudian jika telah ditanam dalam "kubur", didatangi oleh dua Malaikat yang hitam kebiru-biruan datang dari arah kepalanya, maka ditolak oleh sembahyangnya: Tidak boleh datang dari arahku sebab adakalanya ia semalaman tidak tidur karena takut dari saat yang seperti ini, lalu datang dari bawah kakinya, maka ditolak oleh baktinya pada kedua orang tuanya: Jangan datang dari arahku, karena ia biasa berjalan tegak karena ia takut dari saat seperti ini, lalu datang dari arah kanannya, maka ditolak oleh sedekahnya: Tidak boleh datang dari arahku, karena ia pernah sedekah karena ia takut dari saat seperti ini, lalu ia datang dari kirinya maka ditolak oleh puasanya: Jangan datang dari arahku, karena ia biasa lapar dan haus kerana takut saat seperti ini, lalu ia dibangunkan bagaikan dibangunkan dari tidur, lalu ia bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang membawa ajaran kepadamu itu? Ia tanya: Siapakah itu? Dijawab: Muhammad SAW.? Maka dijawab: Saya bersaksikan bahawa ia utusan Allah. Lalu berkata kedua Malaikat: Engkau hidup sebagai seorang mukmin, dan mati juga mukmin. Lalu diluaskan "kubur"nya, dan dibukakan baginya segala kehormatan yang dikurniakan Allah kepadanya. Semoga Allah memberi kita taufiq dan dipelihara serta dihindarkan dari hawa nafsu yang menyesatkan, dan menyelamatkan kami dari "siksa kubur" karena Nabi Muhammad SAW. juga berlindung kepada Allah dari "siksa kubur"."

Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Innallahha ta'ala kariha lakum arba'a: Al'abatsu fishsholaati, wallagh wu filqira'ati, warrafatsu fisshiyami, wadhdhahiku indal maqaabiri. (Yang artinya) Sesungguhnya Allah tidak suka padamu empat, main-main dalam sembahyang dan lahgu (tidak hirau), dalam bacaan Al-Qur'an dan berkata keji waktu puasa dan tertawa didalam "kubur"."

Muhammad bin Assammaak ketika melihat "kubur" berkata: "Kamu jangan tertipu karena tenangnya dan diamnya "kubur"-"kubur" ini, maka alangkah banyaknya orang yang sudah bingung didalamnya, dan jangan tertipu karena ratanya "kubur" ini, maka alangkah jauh berbeda antara yang satu dengan yang lain didalamnya. Maka seharusnya orang yang berakal memperbanyak ingat pada "kubur" sebelum masuk kedalamnya."
                        
Sufyan Atstsauri berkata: "Siapa yang sering (banyak) mengingat "kubur", maka akan mendapatkannya kebun dari kebun-kebun surga, dan siapa yang melupakannya maka akan mendapatkannya jurang dari jurang-jurang api neraka."

Hadits Riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah SAW. pernah melewati dua buah "kubur"an, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang di"siksa", namun bukan karena dosa besar. Yang satu di"siksa" karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya di"siksa" karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah "kubur"an dan yang satunya lagi pada "kubur"an yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan "siksa"nya, selama belum kering. (Shahih Muslim No.439)
Sesungguhnya banyak "siksa kubur" dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi).

Sebagai orang mukmin, kita hendaknya meyakini bahwa sejak jasad diletakan di liang lahad, maka bermulalah proses pembalasan amal baik dan amal buruk yang akan kita alami. Oleh karena itu, Abul-Laits as-Samarqandhy berpesan kepada kita dengan satu untaian kata yang sangat wajar kita hayati dan amalkan bersama. Beliau berkata:
"Barang siapa yang ingin selamat dari "siksa"an "kubur", maka hendaklah dia selalu membiasakan empat perkara dan menjauhi empat perkara pula."
Adapun empat perkara yang harus dibiasakan tersebut adalah:
  1. Memelihara Shalat
  2. Mengulurkan sedekah
  3. Membaca Al-Qur'an setiap hari
  4. Memperbanyak bacaan tasbih
Adapun empat perkara yang perlu ditinggalkan dan dijauhi adalah:
  1. Berbohong
  2. Khianat
  3. Mengadu domba / berbuat fitnah
  4. Kencing sambil berdiri (tidak menjaga kebersihan bersuci ketika selesai kencing-red).
Referensi:
1. Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.
2. tanbihul_ghafilin.tripod.com/"siksa"alam"kubur".htm
3. hfdv4pq9ry.wordpress.tal.ki/.../tahukah-anda-akan-bahaya-kencing-s...
4. pesonamuslim.multiply.com/journal/item/.../Tahukah_Anta.... - Filipina 

"Memelihara Diri Dari Sifat Kikir"

"Apakah anda ingin menjadi orang yang tidak "kikir"?  - Tunaikanlah zakat, tampunglah tamu,dan memberilah di saat tertimpa musibah".


Menunaikan zakat hakikatnya mensucikan "diri" dan "memelihara" "diri" dari sifat "kikir" (bakhil) (Al-Qur'an, Surat at-Taubah [9]: 103). Dengan demikian, solidaritas sesama Muslim dapat di"pelihara" dan terus-menerus ditingkatkan. 

 Hal itu sebagaimana dijelaskan juga dalam Hadits Riwayat Ath-Thabrani, bahwa Rasulullah bersabda:

"Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya, ia akan ter"pelihara" dari ke"kikir"an (yaitu): menunaikan zakat, menampung tamu, dan memberi di saat tertimpa musibah".

Mengapa kita perlu "memelihara" "diri" dari sifat "kikir" yang dalam Alquran disebut bakhil?
Allah membenci orang "kikir" (bakhil). “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil ("kikir")dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan (ke"kikir"an) itu baik bagi mereka.

Sebenarnya, kebakhilan (ke"kikir"an) itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan  ("kikir"kan) itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan, kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur'an Surat Ali Imran [3]: 180).

"Dijauhkan Dari Api Neraka"

"Apakah ada orang yang ingin masuk "neraka"? Tentu saja tidak ada. Orang yang jahat pun tidak ingin dirinya masuk "neraka".


Jangankan masuk "neraka", dekat-dekat dengan "neraka" pun tidak seorang pun mau. Sebaliknya, setiap orang menginginkan dirinya di"jauh"kan dari "neraka". Apakah anda ingin di"jauh"kan dari "api""neraka"? Bagaimana caranya? Berpuasalah, niscaya anda akan di"jauh"kan dari "api""neraka".

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim:

Dari Abu Sa`id Al Khudri ra. katanya: “Rasulullah SAW. bersabda: “Setiap orang berpuasa di jalan (karena) Allah barang sehari, niscaya akan di"jauh"kan Allah muka (tubuh) orang itu dari "api" "neraka", se"jauh" tujuh puluh tahun perjalanan, karena (puasa) di hari itu.”

Jumat, 09 Maret 2012

"Membunuh Cicak Mendapat Kebaikan"

"Tahukah anda bahwa "membunuh" "cicak", anda akan mndapat "kebaikan"?


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

 "Barangsiapa "membunuh" "cicak" pada pukulan pertama, maka dicatat untuknya 100 (seratus) "kebaikan". Dan barangsiapa "membunuh"nya pada pukulan kedua, maka ia mendapatkan "kebaikan" kurang dari "kebaikan" pada pukulan kedua. Dan barangsiapa "membunuh"nya pada pukulan ketiga, maka ia mendapatkan "kebaikan" kurang dari "kebaikan" yang didapat pada pukulan kedua".

Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa "membunuh" "cicak" dicatat sebagai "kebaikan"? Hal ini berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan bahwa keterangan Rasulullah SAW. dalam Hadits Riwayat Ummu Syarik ra., bahwasanya Rasulullah SAW. memerintahkan kepadanya untuk "membunuh" "cicak", dan beliau bersabda: "Dahulu "cicak" itu selalu meniup-niupkan api saat Nabi Ibrahim dibakar."

Namun demikian bukan berarti setiap kali kita mendapatkan "cicak" harus di"bunuh" dikarenakan perintah didalam hadits tersebut bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi disunnahkan "membunuh" setiap "cicak" yang membahayakan.

Imam Suyuthi menyebutkan didalam “al Asbah an Nazhoir” bahwa Binatang-binatang itu terbagi menjadi empat macam :
1. Binatang yang didalamnya terdapat manfaat dan tidak berbahaya maka ia tidak boleh di"bunuh".
2. Binatang yang mengandung bahaya didalamnya dan tidak bermanfaat maka dianjurkan untuk di"bunuh" seperti : ular dan binatang-binatang yang berbahaya.
3. Binatang yang mengandung manfaat didalamnya dari satu sisi namun berbahaya dari sisi lainnya, seperti : burung elang maka tidak dianjurkan dan tidak pula dimakruhkan untuk "membunuh"nya.
4. Binatang yang tidak mengandung manfaat didalamnya dan tidak pula berbahaya, seperti : ulat, serangga sejenis kumbang maka tidaklah diharamkan dan tidak pula dianjurkan untuk "membunuh"nya. (Al Asbah an Nazoir juz II hal 336)

Jadi apabila memang "cicak" yang ada di sekitar kita itu membahayakan manusia atau meracuni makanan , maka dibolehkan bagi kita untuk "membunuh" "cicak" tersebut.

Referensi:
1. Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.
2. www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-"membunuh"-"cicak".htm

"Rumah Anda Laksana Bintang"

"Apabila anda ingin "rumah" anda laksana "bintang", maka penuhilah "rumah" anda dengan bacaan Al-Qur'an anda!".


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda:
"Rumah" yang di dalamnya dibacakan Al-Qur'an terlihat oleh para penghuni langit sebagaimana halnya "bintang"-"bintang" terlihat oleh para penghuni bumi."

"Setan Lari Dari Rumah Anda"

"Apakah anda ingin "setan" "lari" dari "rumah" anda? Bacakanlah Surat Al-Baqarah dalam "rumah" anda!"


Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim dalam Shalah al-Musafirin/29-212 , bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda:
"Sesungguhnya "setan" "lari" dari "rumah" yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah".

"Sedekah Tanpa Mengeluarkan Harta"

"Setiap orang beriman tentu menginginkan dirinya dapat ber"sedekah".


Melihat besarnya pahala serta banyaknya manfaat dari "sedekah", tidak salah jika setiap kaum muslimin mendambakan untuk dapat mengamalkannya sesering mungkin. Namun kadang kala keinginan tersebut terhalang dengan terbatasnya "harta" benda yang dimilikinya. Padahal, keutamaan "sedekah" tidaklah diraih hanya dengan memberikan "harta" kita kepada yang membutuhkan saja. Banyak sikap dan prilaku yang tidak ada hubungannya dengan "harta" tetapi bila kita lakukan akan bernilai "sedekah".

Allah Maha Adil. Allah menciptakan jalan kebaikan bagi semua orang beriman dalam berbagai kondisi kehidupannya dengan berbagai jalan. Semua bisa ber"sedekah"; yang kaya dan yang miskin, yang tua dan yang muda, yang pria maupun wanita, yang belum maupun yang sudah menikah. Apakah anda ingin Allah mencatat pahala "sedekah" tanpa sedikitpun anda mengeluarkan "harta"?

Lakukanlah tasbih, tahmid, tahlil, suruhlah manusia melakukan kebaikan, cegahlah kemungkaran, damaikanlah orang yang berselisih, bantulah orang naik kendaraan atau bantulah membawa barang bawaannya, berkatalah yag baik, serta singkirkanlah rintangan di jalan. Masih ada satu lagi yang mungkin tidak pernah terbersit dalam pikiran anda: Lakukanlah hubungan intim (jimak) dengan suami atau istri anda, maka anda akan mendapat pahala "sedekah". Bagaimana semua itu menjadi berpahala "sedekah"? Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits berikut:

Hadits Riwayat Muslim, menjelaskan:
Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah SAW., berkata kepada Nabi SAW.: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala; mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka ber"sedekah" dengan kelebihan "harta" mereka". Nabi bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan kamu sesuatu untuk ber"sedekah"? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah "sedekah", tiap-tiap tahmid adalah "sedekah", tiap-tiap tahlil adalah "sedekah", menyuruh kepada kebaikan adalah "sedekah", mencegah kemungkaran adalah "sedekah", dan persetubuhan antara salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah "sedekah". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya (bersetubuh dengan istri), ia mendapat pahala?". Rasulullah SAW. menjawab: "Tahukah anda, jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram" (bukan istrinya), dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya pada yang halal (dengan istrinya), ia mendapat pahala."

Dalam hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan bahwa, Rasulullah SAW. bersabda:
"Setiap amggota badan manusia diwajibkan ber"sedekah" setiap hari selama matahari masih terbit. Kamu mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah "sedekah". Kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah "sedekah". Berkata yang baik itu adalah "sedekah". Setiap langkah jalan menuju uintuk shalat adalah "sedekah". Dan, menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah "sedekah".
 
Referensi:
1. www.nuansaislam.com/index.php?..."sedekah"-tanpa-"harta".
2.  Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.

"Jabat Tangan Hilangkan Dendam"

"Apakah anda menginginkan tidak ada "dendam" di hati anda? Ber"jabat-tangan"lah dengan saudara anda!"


Hal itu sebagaimana Hadits Riwayat Ibn Adi, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
"Ber"jabat-tangan"lah kalian, karena hal itu dapat meng"hilang"kan rasa "dendam" dalam hati kalian."


Jadi ber"jabat-tangan" bukan merupakan perbuatan bid'ah, karena Rasulullah SAW. sendiri menganjurkannya, sebagaimana  hadits berikut:

Dari Anas bin Malik berkata: Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah hendaknya sebagian kami membungkuk kepada sebagian yang lain?” Beliau menjawab, “Tidak.” Kami bertanya lagi, “Apakah hendaknya sebagian kami memeluk sebagian yang lain?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi saling ber"jabat-tangan"lah kalian.” [Sunan Imam Ibn Majah hadits no.3702 dengan sanad Shahih dari Ali bin Muhammad, dari Waki', dari Jarir bin Hazim, dari Hanzholah bin Abdurrahman as-Sadusi dari Anas bin Malik]

Dijelaskan pula dalam hadits lain:
Dari ‘Atho-i bin Abdullah al-Khurasani berkata: Rasulullah SAW. bersabda, “Ber"jabat-tangan"lah, "dendam" akan "hilang". Berikanlah hadiah satu sama lain, maka kalian akan saling cinta satu sama lain dan permusuhan akan "hilang". [Muwattha' Imam Malik hadits no.1617]

Sabda Nabi, “Ber"jabat-tangan"lah, "dendam" akan "hilang", merupakan anjuran umum yang tidak dibatasi oleh pertemuan. Ber"jabat-tangan" ini dianjurkan ketika bertemu, ketika akan berpisah, ketika selesai shalat, dan keadaan lainnya. Kita juga dianjurkan ber"Jabat-tangan" ketika meminta maaf, berterimakasih, dan lainnya. Itu semua atas dasar keumuman hadits tersebut. Dan keutamaannya adalah meng"hilang"kan "dendam", meng"hilang"kan permusuhan, dan mempererat persaudaraan.

Jika ada seseorang yang baru saja mendapat kebahagian, kita biasa men"jabat-tangan"nya dan berkata, “Selamat!” Dan ini merupakan doa. Dan doa adalah hadiah terbaik dari seorang Muslim kepada Muslim lainnya.

Referensi:
1. Amalan-Amalan Berbuah Surga. Oleh: Ibnu Ahmad 'Alimi.
2. sunnahrasul.com/2011/06/15/ii-15-bersalaman-bidah/

"Arwah Syuhada Dalam Tubuh Burung Hijau Di Surga"

"Arwah Syuhada" berada dalam tubuh "burung hijau" yang berada di "surga".


Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim mengeluarkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
"Tatkala rekan-rekan kalian gugur di Uhud, Allah menjadikan "arwah" mereka di dalam tubuh "burung hijau" yang mendatangi sungai-sungai di "surga", makan buah-buahnya, dan kembali ke sangkar yang (terbuat) dari emas yang bergantung di naungan Arsy".

Imam Muslim mengeluarkan dalam Sahihnya dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
"Arwah" para "syuhada" berada di sisi Allah di dalam tubuh "burung hijau" yang bepergian di sungai-sungai di mana ia suka, kemudian kembali ke sangkarnya di bawah Arsy".

Minggu, 04 Maret 2012

"Waktu-waktu Yang Dianjurkan Untuk Berwudhu"

"Mengingat begitu besarnya keutamaan dan rahasia yang terdapat dalam "Wudhu", maka sangat dianjurkan kepada kita untuk melaksanakan "Wudhu" pada saat-saat berikut ini:"


1. Ketika Akan Tidur.
Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat al-Bukhari dan at-Tirmidzi:
'Al-Barrak bin 'Azib ra., telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: 'Jika kalian hendak tidur, maka ber"Wudhu"lah sebagaimana ketika hendak shalat, lalu setelah itu berbaring dengan rusuk kanan sebelah bawah dan membaca do'a, yang artinya:
"Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat bersandar dan tidak ada tempat berlindung dari (murka) Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi yang telah Engkau utus."

Hadits Riwayat Ibnu Hibban, menjelaskan:
'Umar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda:
"Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci (ber"Wudhu"), maka di seluruh badannya bersemayam malaikat. Maka tidaklah ia terbangun melainkan malaikat berkata: 'Ya Allah, karuniakanlah ampunan untuk hamba-Mu si Fulan ini, karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci (ber"Wudhu")."

Hadits Riwayat ath-Thabrani, menjelaskan:
'Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Sucikanlah jasad-jasad ini, niscaya Allah SWT. akan mensucikan kalian. Sesungguhnya tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci melainkan akan bersemayam dalam dirinya malaikat. Tidak sesaatpun ia berbalik di "waktu" malam kecuali malaikat itu mengucapkan, 'Ya Allah, karuniakanlah ampunan untuk hamba-Mu ini, karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci (ber"Wudhu")."

2. Ketika Janabah.
Hadits Riwayat Jama'ah, menjelaskan:
'Dari Aisyah ra. meriwayatkan: "Rasulullah SAW. apabila hendak tidur sedangkan beliau dalam keadaan junub, maka bliau membersihkan farajnya dan ber"Wudhu" seperti "Wudhu" akan shalat."

Hadits Riwayat Jama'ah, juga menjelaskan:
'Umar ra. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.: "Bolehkah salah seorang kami tidur padahal ia dalam keadaan junub?, Rasulullah SAW. menjawab: 'Boleh, apabila ia telah ber"Wudhu".

Hadits Riwayat Ahmad, menjelaskan:
Amar bin Yasir ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Tiga orang yang tidak didekati oleh Malaikat, yaitu bangkai orang kafir, laki-laki yang melumuri tubuhnya dengan wangi-wangian (sejenis kunyit), dan orang yang sedang junub kecuali ia telah ber"Wudhu" (terlebih dahulu)."

3. Ketika Hendak Mengulangi Jimak.
Hadits Riwayat Al-Jama'ah kecuali Bukhari, menjelaskan:
Abi Sa'id meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Bila salah seorang di antara kalian selesai bersetubuh dengan istrinya, kemudian bermaksud hendak mengulangi, maka ia hendaklah ber"Wudhu" (terlebih dahulu), karena demikian itu lebih dapat membangkitkan semangat baru untuk mengulanginya."

Agama sangat menyukai untuk ber"Wudhu" terlebih dahulu bagi siapa saja yang ingin mengulangi jimak, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ahmad dan Para Penulis Kitab as-Sunan:
"Rasulullah SAW. menggilir para istrinya pada suatu malam, beliau mandi setiap selesai melakukannya. Ada yang bertanya: 'Ya Rasulullah, tidakkah cukup dengan hanya satu kali mandi saja? Jawab beliau: 'Ini adalah agar lebih suci dan lebih baik (bersih)."

4. Ketika Akan Mandi.
Disunatkanpula ber"Wudhu" sebelum mandi, baik mandi wajib ataupun mandi sunat. Disyariatkan bagi orang yang mandi wajib, supaya menunaikan semua rukun "Wudhu"  secara berurutan di antara segala anggota "Wudhu"  sejak dari niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai dengan siku, menyapu kepala dan telinga, sedangkan membasuh kedua kaki dilaksanakan setelah selesai mandi.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah ra. ia berkata:
"Apabila Nabi SAW. mandi janabah beliau terlebih dahulu mencuci tangannya, lalu beliau tuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri kemudian dibasuhnya farajnya, setelah itu beliau ber"Wudhu"  seperti "Wudhu"  ketika akan shalat, sesudah itu beliau ambil air lalu masukkan dengan ujung-ujung jarinya ke pangkal rambut, sehingga apabila beliau rasa sudah rata, maka beliau siram kepalanya tiga kali dengan tiga tuangan air. Sesudah itu barulah beliau menyiram seluruh tubuhnya."

5.Memperbaharui "Wudhu"  Setiap Kali Akan Shalat.
Disunnahkan bagi siapa yang belum batal "Wudhu"nya, setelah melaksanakan suatu shalat, kemudian bertahan terus sampai masuk "waktu" shalat berikutnya untuk memperbaharui "Wudhu"nya kembali. Begitu juga bagi orang yang telah ber"Wudhu" jauh sebelum "waktu" shalat masuk, disunnahkan agar ia memperbaharui "Wudhu"nya. Sebagaimana Hadits Riwayat Imam Ahmad, menjelaskan:
Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW. bersabda: "Jika tidak akan memberatkan bagi umatku, tentu aku suruh mereka untuk ber"Wudhu" setiap kali akan melaksanakan shalat, dan bersiwak setiap kali ber"Wudhu".

Hadits Riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang dha'if:
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: "Siapa yang ber"Wudhu", padahal ia masih dalam keadaan suci, ditulis untuknya sepuluh kebajikan."

6. Senantiasa Dalam Keadaan Suci.
Hadits Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang sahih, menjelaskan:
Sauban ra. berkata: Rasulullah SAW. bersabda: "Istiqamahlah kamu (konsekwen dalam keimanan dan ketaatan) dan sekli-kali kamu tidak akan bisa menghitung (betapa tingginya nilai istiqamah). Dan ketahuilah, bahwa sebaik-baik amal kamu adalah shalat. Dan tidak akan ada yang sanggup memelihara "Wudhu"  kecuali seorang mukmin."

Hadits Riwayat ath-Thabrani, menjelaskan:
Rabi'ah al-Jurassyi menyampaikan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Istiqamahlah kamu, dan alangkah baiknya jika kamu beristiqamah. Peliharalah "Wudhu"  karena sesungguhnya sebaik-baik amalanmu adalah shalat. Waspadalah kamu terhadap (apa yang kamu lakukan) di bumi, karena sesungguhnya ia adalah ibumu (tempat berkumpul dan jadi kubur), dan tidak seorangpun yang melakukan suatu perbuatan di atasnya, baik atau buruk, melainkan ia memberitahu (menjadi saksi) nanti di akhirat."  

7. Ketika Berdzkir.
Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, menjelaskan:
Al-Muhajir bin Qantaz pada suatu kali mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW., ketika itu beliau sedang ber"Wudhu", ucapan salam tersebut tidak beliau jawab hingga beliau selesai ber"Wudhu", lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya tidak ada yang menghambaku untuk menjawab salammu, melainkan aku tidak suka menyebut nama Allah jika aku tidak dalam keadaan suci."

Disunnahkan ber"Wudhu" ketika akan berdzikir, begitu juga ketika akan membaca Al-Qur'an, tidak lain hanya untuk mengkondisikan diri supaya ketika menyebutt nama Allah Yang Maha Suci seseorang itu dalam keadaan suci disamping untuk mencari keutamaan dan keridhaan-Nya.

8. Ketika Akan Memegang Al-Qur'an.
Hadits Riwayat Al-Asram dan ad-Daraqutni, menjelaskan:
Abdullah bin 'Umar ra. berkata: "Tidak boleh menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci."

Hadits Riwayat ath-Thabrani, Hakim dan Ibnu Hazm:
"Janganlah engkau menyentuh Al-Qur'an melainkan engkau dalam keadaan suci."

Allah berfirman dalam Surat Al-Waqi'ah ayat 77-80:
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam."

9. Ketika Adzan Dan Iqamah.
Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah, menjelaskan:
Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya ra. ia berkata: "Di suatu hari ketika "waktu" subuh, Rasulullah SAW. memanggil Bilal, lalu beliau berkata: 'Ya Bilal, apa yang engkau lakukan sehingga engkau mendahului aku di surga? Sesungguhnya semalam aku masuk surga, lalu aku dengar bunyi alas kakimu berada di hadapanku'. Berkata Bilal: 'Ya Rasulullah. tidaklah aku adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan tidak pula menimpaku suatu peristiwa melainkan aku ber"Wudhu" karenanya'. Rasulullah SAW. lalu bersabda, 'Inilah penyebabnya." 

10.Setelah Berbuat Salah.
Deanjurkan ber"Wudhu" setiap kali tergelincir kepada kesalahan, seperti ghibah, dusta, adu domba dan lain sebagainya, karena kebaikan-kebaikan itu dapat menghapus kesalahan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imam Malik, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra. yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Maukah kamu aku tunjukkan kepada hal-hal yang bila dilakukan Allah menghapus dosa-dosa dan akan mengangkat derajatmu di sisi-Nya?. 'Mau ya Rasulullah', jawab para sahabat. Lalu beliau bersabda: 'Menyempurnakan "Wudhu" atas makarih (hal yang tidak disukai), demikian itu adalah ribath (kesiapsiagaan atau perjuangan), maka demikian itu adalah ribath, maka demikian itu adalah ribath."

11.Ketika Marah Sedang Bergelora.
Orang ingin mengendalikan marahnya, dianjurkan untuk berlindung kepada Allah dari syaitan dan berusaha merubah posisi. Jika sebelumnya sedang berdiri, hendaklah ia duduk, jika sebelumnya sedang duduk, hendaklah ia berbaring, dan sebaliknya, akan tetapi yang lebih baik adalah agar ia mengambil "Wudhu".

Hadits Riwayat Abu Daud, Ahmad dan Baihaqi, menjelaskan tentang hikmah "Wudhu" saat marah, yang diriwayatkan Abu Wail: "Suatu ketika kami berada bersama Urwah bin Muhammad. Lalu muncul seseorang yang berbicara dengannya, sehingga membuatnya sangat marah. Lalu Urwah bangkit dan ber"Wudhu". Kemudian ia datang lagi sambil berkata: Ayahku memberitahu kepadanya, dari kakekku, Arthiyah (seorang sahabat), ia berkata: Rasulullah SAW.bersabda: "Sesungguhnya marah itu berasal dari syaitan, dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kamu marah, hendaklah ia ber"Wudhu"."

12.Mengusung Jenazah.
Bagi orang yang telah mengusung atau membawa jenazah dianjurkan untuk ber"Wudhu". Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Abu Daud, bahwa Rasulullah bersabda:
"Siapa yang memandikan mayat hendaklah ia mandi, dan barang siapa yang mengusungnya hendaklah ia ber"Wudhu".

Perintah mandi ini bersifat sunnah, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda: "Tidaklah ada kemestian bagi kalian yang memandikan mayat untuk mandi. Sesungguhnya mayat di antara kalian bukanlah najis, namun cukuplah bagi kalian mencuci tangan saja."

13.Ketika Akan Membaca Buku-buku Hadits, Tafsir, Fiqih dan lain-lain.
 Ini hanyalah berupa anjuran dari para ulama, dalam rangka menghormati dan memuliakan ilmu. Dikisahkan bahwa Imam Malik sebelum mendiktekan dan memberikan pelajaran hadits beliau ber"Wudhu" terlebih dahulu, sebagai bentuk penghormatan terhadap hadits Rasulullah SAW. Bahkan Imam Bukhari, sebelum menuliskan hadits pada kitabnya, beliau shalat dua raka'at terlebih dahulu.

14.Setelah Makan Makanan Yang Sudah Dimasak.
 Hadits Riwayat Ahmad, Muslim dn an-Nasa'i, menjelaskan:
Aisyah ra. berkata, Nabi SAW bersabda: "Ber"Wudhu"lah kamu karena memakan makanan yang disentuh api (yang dimasak)."

Ibrahim bin Abdillah bin Qarith berkata: "Saya pernah lewat di hadapan Abu Hurairah yang mana ketika itu ia sedang ber"Wudhu" lantas ia bertanya: "Tahukah engkau kenapa aku ini ber"Wudhu"?. Karena aku memakan susu kering, aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: "Ber"Wudhu"lah kamu karena memakan makanan yang disentuh api (yang dimasak)."

Perintah ber"Wudhu" dalam hadits di atas menunjukkan kepada perintah sunnah, bukan wajib. Sebab Rasulullah SAW pernah memotong daging kambing lalu memakannya, dan setelah itu terdengar adzan yang memanggil untuk shalat dan beliaupun langsung berdiri dan melemparkan pisau, kemudian shalat sedang beliau tidak mengulangi "Wudhu" lagi.

15.Setelah Makan Daging Unta.
Hadits Riwayat Ahmad dan Muslim, menjelaskan:
 Jabir bin Samurah berkata, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW.: "Apakah kami harus ber"Wudhu" karena makan daging kambing?" Beliau menjawab: "Jika engkau suka, jika tidak, maka tidak apa-apa kamu tidak melakukannya".
Orang itu bertanya lagi: "Apakah kami harus ber"Wudhu" setelah makan daging unta? Jawab beliau: "Ya, ber"Wudhu"lah karena makan daging unta."
Orang itu bertanya lagi: "Apa boleh saya shalat di kandang kambing?" Jawab beliau: "Boleh. Dia bertanya lagi: "Apa boleh di kandang unta?". Jawab beliau: "Jangan".

16.Setelah Tertawa Terbahak-bahak.
Di dalam kitab al-Fiqh wa Adillatuhu jilid 1 dijelaskan bahwa tertawa terbahak-bahak dapat merubah raut muka, untuk itu dianjurkan ber"Wudhu".   

(Sumber: Bagaimana Berkomunikasi dengan Allah. Oleh Muhammad Hamdi, MS.)