Jumat, 02 April 2010

"ETIKA BERTAMU DAN MENGUNDANG TAMU"

"Semua agama mengakui adanya kewajiban menghormati "tamu" dan melaksanakannya sesuai yang diperintahkan oleh agama masing-masing, tidak terkecuali agama Islam."




Hadits Muttafaq 'alaih menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati "tamu"nya."


Kemudian Nabi Muhammad SAW juga bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan "tamu"nya menurut kebolehannya (jaizah). Mereka bertanya: Apa jaizah itu? Nabi menjawab: Sehari semalam. Dan lama ber"tamu" itu tiga hari. Dan selebihnya adalah sedekah."

Kaum Muslimin wajib memuliakan "tamu"nya dengan adab-adab sebagai berikut:


ADAB MENG"UNDANG" "TAMU".

1. Hendaklah meng"undang" "tamu" orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fasik dan orang jahat. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Hibban dan Hakim, bahwa Rasulullah bersabda: "Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang Mukmin. Dan janganlah makan makananmu kecuali orang takwa."


2. Jangan hanya meng"undang" orang-orang kaya saja dengan melupakan orang-orang miskin. Sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: "Sejelek-jelek makanan ialah makanan di tempat perkawinan yang para "undang"annya hanya orang-orang kaya dan tak ada orang miskin."


3. Jangan meng"undang" "tamu" dengan tujuan membanggakan diri. Namun "undang"lah "tamu" dengan tujuan mengikuti sunah Rasulullah SAW dan Nabi-nabi sebelumnya seperti Ibrahim yang mendapat julukan dari orang-orang sebagai bapaknya te"tamu". Hendaknya meng"undang" "tamu" dengan tujuan memberikan kegembiraan dalam hati para sahabat.


4. Janganlah meng"undang" orang yang diketahui keberatan untuk hadir atau yang dapat menyakiti kawan-kawan yang hadir karena menghindarkan gangguan terhadap orang Mukmin itu hukumnya adalah wajib.


ADAB MEMENUHI "UNDANG"AN.

1. Hendaknya menghadiri "undang"an datang tepat waktu dan tidak boleh terlambat kecuali ada udzur. Misalnya membahayakan agama atau dirinya, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa di"undang" hendaklah datang." Beliau juga Bersabda: "Jika aku di"undang" untuk makan kaki kambing pasti aku datang,. Dan jika aku diberi hadiah sikunya pasti aku terima."


2. Dalam memenuhi "undang"an jangan membedakan antara orang kaya dan orang miskin, karena tidak memenuhi "undang"an orang miskin akan membuat sakit hatinya, disamping itu cara demikian adalah sombong. Sombong adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.


3. Dalam memenuhi "undang"an jangan membedakan antara yang dekat dengan yang jauh. Apabila mendapat dua "undang"an, penuhilah yang paling dahulu dan minta maaf kepada yang lainnya.


4. Jangan sampai tidak menghadiri "undang"an dengan alasan sedang puasa. Datang saja.... Apabila yang punya rumah gembira apabila kita makan, berbukalah.... Karena menggembirakan hati orang Mukmin itu termasuk ibadah. Apabila tidak... Katakanlah kepada yang meng"undang" bahwa anda puasa dengan cara yang baik. Sebagaimana Hadits Muslim, menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang kamu di"undang", maka datanglah. Bila sedang puasa, datanglah dan sampaikan maaf karena tak ikut makan. Dan bila berbuka, hendaklah ia makan." Nabi Muhammad SAW juga bersabda: "Apabila saudaramu meng"undang" makan, maka katakanlah: Saya sedang puasa."


5. Hendaklah berniat waktu memenuhi "undang"an itu dengan niat memuliakan saudaramu yang Muslim agar memperoleh pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah: "Sesungguhnya sahnya semua amal itu adalah dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung dari niatnya. Karena dengan niat yang baik, perbuatan mubah (boleh) menjadi ibadah yang akan diberi pahala."


ADAB MENGHADIRI "UNDANG"AN.

1. Janganlah terlalu lama di tempat "undang"an sehingga menyusahkan tuan rumah atau datang terlalu cepat, karena mereka akan kebingungan sebab keadaan belum siap. Dan hal ini termasuk menyakiti mereka.


2. Apabila masuk, janganlah mencari tempat duduk paling depan. Tapi hendaklah merendahkan diri. Apabila yang punya hajat (yang meng"undang") mempersilahkan duduk di tempat yang ditunjuknya, maka duduklah di tempat itu, jangan mencari tempat lain.


3. Hendaklah segera menghidangkan makanan buat "tamu". Karena ini berati menghormati "tamu". Agama memerintahkan menghormati "tamu", yaitu barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan "tamu"nya."


4. Jangan cepat-cepat mengangkat hidangan, sebelum selesai makan.


5. Tuan rumah hendaknya menghidangkan makanan secukupnya. Karena kalau tidak cukup, akan menyinggung perasaan "tamu". Dan kalau berlebih-lebihan berarti mengada-ada dan itu termasuk riya'. Jadi kedua-duanya tercela.


6. Apabila ber"tamu" pada seseorang, jangan lebih dari tiga hari, kecuali bila tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih lama. Dan apabila akan pulang mintalah ijin terlebih dahulu.


7. Tuan rumah hendaknya mengiringi "tamu" keluar dari rumah. Karena hal ini dilakukan oleh para pendahulu kita yang saleh. Dan termasuk memuliakan "tamu" sebagaimana yang telah diperintahkan oleh syariat.


8. Seorang "tamu" hendaknya meninggalkan rumah dengan hati yang baik, walaupun dalam penerimaan tidak sebagaimana mestinya. Karena hal ini termasuk budi pekerti yang baik dan pantas bagi seorang hamba untuk memperoleh derajat orang yang berpuasa.


9. Keluarga Muslim hendaknya memiliki tiga kamar tidur. Pertama untuk dirinya. Kedua untuk keluarganya. Dan ketiga untuk "tamu"nya. Dan lebih dari tiga dilarang, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Satu kamar tidur untuk dirinya, satu kamar tidur untuk perempuan dan satu kamar tidur untuk "tamu". Dan kamar keempat untuk setan."

"AKHLAK MALU DAN IMAN"

"Rasa "malu" merupakan sebagian dari "iman" yang menjadi akidah dan pedoman hidup kaum Muslimin."


Hadits Riwayat Bukhari Muslim, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Iman" itu ada tujuh atau enam puluh cabangnya. Yang paling utama ialah La ilaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan "malu" itu satu cabang dari "iman".


Hadits Riwayat Hakim, sahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim, menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda: "Malu" dan "iman" itu dua bagian yang tak dapat dipisahkan. Apabila yang satu hilang maka yang lain pun turut hilang."


Alasan mengapa "malu" merupakan bagian dari "iman", karena "malu" dan "iman" sama-sama menyeru kepada kebajikan dan menolak yang munkar. "Iman" merupakan daya pembangkit bagi orang Mukmin untuk berbuat ketaatan dan meninggalkan maksiat.


Rasa "malu" selalu membimbing orang untuk bersyukur kepada Allah SWT, dan mencegah berbuat buruk atau mengatakannya, karena takut mendapat celaan dan cercaan. Dengan demikian rasa "malu" akan mendatangkan kebaikan sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari Muslim sebagai berikut: "Malu" itu tidak datang, kecuali dengan kebaikan."
Dan Hadits Riwayat Bukhari Muslim yang lain: "Malu" itu semuanya baik."


Sedangkan yang kontradiksi dengan "malu" adalah kotor dan keji (tidak punya "malu"), yaitu kotor dalam perkataan, perbuatan dan berkata kasar. Orang Muslim tidak akan berkata kotor dan kasar, tidak pula keras dan bengis, karena sifat-sifat itu adalah sifat-sifat ahli neraka, sedangkan orang Muslim Insya'Allah adalah ahli surga. Sebagaimana Hadits Riwayat Ahmad dengan sanad sahih, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Malu" itu sebagian dari "iman". Dan "iman" itu berada dalam surga, sedang kata-kata keji itu sebagian dari kasar dan bengis. Kebengisan itu berada dalam neraka."


Akhlak Rasulullah SAW merupakan teladan setiap Muslimin, dan beliau sangat pe"malu" terhadap gadis, karena khawatir bahaya yang ditimbulkan. Hal ini sebagaimana Hadits Bukhari dari Abu Sa'id al-Khudri: "Apabila Nabi SAW melihat sesuatu yang dibencinya, maka akan kita ketahui dari wajahnya."


Orang Muslimin yang mengajak untuk memelihara rasa "malu" dan menanamkannya pada diri mereka, berarti ia menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Karena "malu" sebagian dari "iman", yang merupakan kumpulan segala keutamaan dan unsur segala kebaikan. Sebuah Hadis sahih Riwayat Muttafaq 'alaih, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW lewat di depan seorang laki-laki yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya tentang "malu", maka Rasulullah SAW bersabda: "Tinggalkanlah ia, karena "malu" itu sebagian dari "iman".


Rasulullah menyuruh untuk menanamkan rasa "malu" pada diri kaum Muslim dan melarang membuangnya.

Seorang Muslim lebih baik kehilangan hartanya dari pada kehilangan rasa "malu", karena "malu" merupakan bagian dari ke"iman"annya untuk berbuat kebaikan. Allah merahmati seorang perempuan yang kehilangan anaknya yang kecil. Perempuan itu pergi ke suatu kaum menanyakan tentang anaknya. Salah seorang dari mereka berkata: Perempuan itu mencari anaknya, tapi ia pakai kerudung. Mendengar itu perempuan tersebut menjawab: Hai laki-laki! Bagiku lebih baik kehilangan anak dari pada hilangnya rasa "malu" pada diriku.


Rasa "malu" pada seorang Muslim tidak akan menghalanginya untuk mengatakan yang hak, mencari ilmu atau amar ma'ruf nahi munkar. Suatu ketika Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Nabi SAW meminta tolong kepada beliau dalam suatu masalah, Rasulullah tidak "malu"-"malu" mengatakan kepada Usamah dengan nada marah, sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih: "Apakah kamu mau minta pertolonganku untuk menghindarkan dari hukum yang ditentukan Allah hai Usamah? Demi Allah, jika si Fulanah (seorang perempuan) mencuri, pasti akan dipotong tangannya."


Rasa "malu" juga tidak menghalangi Ummu Sulaim al-Ansariah untuk mengatakan kepada Nabi SAW, sebagaimana dijelaskan Hadits Riwayat Bukhari: Ya Rasulullah! Sesungguhnya Allah tidak "malu" untuk menyatakan yang hak. Apakah perempuan wajib mandi jika ia bermimpi? Nabi SAW menjawab: "Benar! jika dia melihat ada air (mani perempuan)."


Seorang Muslim tidak boleh "malu" untuk mempertahankan hak sesamanya. Dan seorang Muslim juga tidak boleh "malu" untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain.


Kaum Muslimin yang memiliki rasa "malu" tidak akan membuka auratnya, mengabaikan kewajiban, menolak yang makruf yang disodorkan orang kepadanya, dan tidak akan bicara yang tidak baik serta tidak akan menghadapi orang dengan cara yang tidak menyenangkan. Orang Muslim akan "malu" kepada Sang Khalik. Ia akan taat kepada-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya. Hal itu dikarenakan kekuasaan dan ilmu Allah. Seperti yang dikatakan Ibn Mas'ud yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Munziri, hadits marfu: "Malu"lah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Peliharalah kepalamu dan apa yang disadarinya. Peliharalah perut dan yang dikandungnya serta ingatlah akan mati dan kehancuran."


Hadits Riwayat Bukhari juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah lebuh berhak agar kamu "malu" kepada.Nya dari pada manusia."


Marilah kita sama-sama memelihara rasa "malu" kita masing-masing, supaya ke"iman"an kita dapat meningkat sehingga kita menjadi ahli surga. Insya'Allah...............