Jumat, 06 Maret 2015

"GUYONAN / HUMOR DALAM ISLAM"

"Humor" atau "Guyonan" adalah salah satu hal yang dapat mengundang senyum dan tawa seseorang". 



Tidak dapat dipungkiri bahwa tersenyum dan tertawa merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup manusia.  Di sela-sela kesibukan dalam bekerja untuk mencari nafkah, "Humor" atau "Guyonan" menjadi warna penting untuk menghidupkan kembali suasana hati. Seorang yang "Humor"is pun lebih disenangi dari pada seorang yang dingin. "Humor" juga dapat memberikan banyak manfaat, antara lain:
  1. dapat mengurangi rasa sakit,

  2. dapat membuat hati menjadi rileks,

  3. dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,

  4. dapat mengurangi stres, dan

  5. dapat mengurangi rasa takut yang tidak perlu.
Di dalam ajaran "Islam" yang begitu komprehensif pun ada batasan-batasan seseorang untuk "Guyonan" yang apabila dipatuhi akan melahirkan "Humor"-"Humor" yang positif, manusiawi, tidak ada unsur menyakiti hati, dan tidak ada unsur dusta atau kebohongan. Batasan-batasan "Humor" di dalam "Islam",  antara lain:
  1. Tetap berada pada tujuan bahwa "Humor" sekedar untuk menghidupkan suasana dan tidak berlebihan, misalnya sampai harus menjatuhkan kehormatan orang lain

  2. Tidak boleh menjadikan tauhid, yang merupakan inti ajaran Islam, sebagai bahan "Guyonan".

  3. Tidak ada perkataan yang mengandung dusta (kebohongan) di saat "Guyonan" sebagaimana Rasullullah SAW bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

    Rasullullah SAW pun telah memberi ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad dengan derajat shahih)

  4. Tidak menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Rasullullah SAW. juga bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

  5. Tidak boleh  melecehkan sekelompok orang tertentu, misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini sangat dilarang.

  6. Menghindari "Guyonan" yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang "Guyonan" dengan temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk membuat orang lain tertawa.

  7. Menghindari "Guyonan" dengan aksi atau kata-kata yang buruk.  Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Isra’:53)

  8. Tidak banyak tertawa sebagaimana Rasulullah SAW telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)
"Dalam "Islam" sama sekali tidak ada larangan "Humor" dan cara "Guyonan".  Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok. Misalnya, memanggil nama seseorang dengan julukan cacat yang dimilikinya. Sebagai contoh, seorang yang kakinya mengalami kecacatan sejak lahir hingga jalannya agak terpincang-pincang, lalu kita panggil dengan Si Pincang. Meskipun panggilan itu benar, tapi bisa jadi olok-olok yang menyakitkan hati pemiliknya. Padahal, pastilah tidak ada orang yang ingin lahir dalam kondisi cacat.

Al Qur’an juga telah melarang dengan tegas sikap olok-olok ini seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat 11,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
 
Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW. juga kadang "Guyonan". Suatu hari ada seorang nenek yang bertanya sama Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa aku bisa masuk surga?
Nabi Muhammad SAW menjawab, “Di surga tidak ada orang tua.
Mendengar jawaban itu, si nenek tentu saja terpukul dan sangat sedih. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama. Rasulullah SAW kembali berkata, “Di surga yang tinggal hanya mereka yang muda. Orang yang sudah tua di dunia akan kembali jadi muda saat berada di surga.

Para ahli hadits, menilai "Humor" Rasulullah SAW ini, selain melahirkan senyum, juga membawa kabar gembira. Terutama bagi kalangan lansia. Dimaksudkan agar para lansia terus meningkatkan keimanan dan amalnya kepada Allah SWT.

Di lain waktu, Rasulullah SAW juga bercanda atau "Guyonan" dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Beliau memanggil Anas dengan panggilan, “Wahai Pemilik Dua Telinga!

Tentu saja ini "Humor" yang benar dan tidak keluar jalur. Anas bin Malik pasti memiliki dua telinga, bukan empat telinga.

"Humor" dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.


Dalam literatur "Islam" masa lalu, cukup banyak tokoh-tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya "Humor". Namun "Humor" dan "Guyonan" mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani al Arabiy, dan Abu Nawas.

Para tokoh "Humor" ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pengajaran dan dakwah.
 
Sumber:
1. kanzunqalam.com/2010/08/02/humor-dalam-islam/
2. hiburan.kompasiana.com/humor/.../humor-ala-rasulull..
6.geena84.deviantart.com851×500Search by imageCute muslimah by geena84

"DILARANG PUTUS ASA"

"Putus-asa" adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang menganggap drinya telah gagal dalam menghasilkan sesuatu harapan cita-cita". 



Ia tidak mau kembali lagi untuk berusaha yang kedua kalinya. Semua umat manusia pasti merasakan "Putus-asa". Dan umat itu pastilah menjadi lemah dan lenyap kekuatannya karena "Putus-asa" merupakan penyakit atau racun yang benar-banar membahayakan bagi setiap pribadi manusia. 

Allah SWT. dalam salah satu firman-Nya, mempersamakan antara sifat "Putus-asa" itu dengan sifat kekafiran. Sebabnya tiada lain hanyalah karena bencana yang ditimbulkan oleh kedua macam sifat itu sama-sama besar dan dahsyat. Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: “janganlah kamu semua ber"Putus-asa" dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada yang suka ber"Putus-asa" dari rahmat Allah, melainkan golongan orang-orang kafir”. (QS. Yusuf:87)
 
Dalam Islam kita "dilarang putus asa" dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang ber"Putus-asa" dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS.Al Hijr: 56).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu ber"Putus-asa" dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Az Zumar: 53),

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi laranganNya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.


Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.
Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157).


Kita harus yakin bahwa di balik kesulitan yang menimpa kita, Insya'Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6).

”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Fath: 11).


Diantara sebab-sebab yang dapat menimbulkan ke"Putus-asa"an adalah:

1.  Mengingat-ingat musibah sampai tidak bisa melupakannya serta dan membayangkannya sampai tidak mampu menjauhkannya. Karena dengan mengingat-ngingat musibah tersebut, maka dia tidak akan menemukan penghiburnya, dan dengan membayang-bayangkannya, maka dia tidak akan mampu bersabar.

Umar bin Khaththab RA pernah mengatakan, “Janganlah kamu mencucurkan air mata karena mengingatnya.”

2. Penyesalan dan berduka cita yang berlebihan sehingga dia tidak mampu mengambil pelajaran dari musibah yang dideritanya dan tidak mampu mengganti sesuatu yang telah hilang. Dengan adanya penyesalan tersebut, maka penderitaannya akan semakin bertambah, dan dengan duka citanya tersebut akan menambah ke
"Putus-asa"annya.

Allah SWT berfirman, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 23).

Sebuah syair juga pernah mengatakan, “Jika kamu mendapat musibah, maka berpegang teguhlah kepada Allah dan meminta keridhaan-Nya. Karena Dzat yang dapat menghilangkan musibah tersebut hanyalah Allah. Jika Allah telah menetapkan ketentuannya, maka tunduklah kepada kekuasaan-Nya. Karena tidak akan ada seorang manusiapun yang dapat mensiasati apa yang telah ditentukan oleh Allah. Ke
"Putus-asa"an itu akan memutuskan harapan pelakunya, maka janganlah kamu ber"Putus-asa", karena Allah-lah Dzat yang telah menciptakannya.

3. Banyak mengeluh dan tidak sabar. Sebagaimana hal ini telah disinyalir oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.” (QS. Al Ma’arij: 5) Yakni sabar yang tidak disertai dengan keluhan dan kesedihan yang mendalam.


Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Nabi SAW telah bersabda, “Tidak dianggap  sabar orang yang mendalam kesedihannya.”

Ka'ab Al Ahbar telah menceritakan bahwa dalam kitab Taurat tertulis, “Barang siapa yang ditimpa musibah, lalu mengadukannya kepada manusia, maka sama dengan mengeluh kepada Tuhannya.”


Usaha-usaha untuk tidak mudah terjerumus dalam sifat "Putus-asa", diantaranya:
a)  Terpelaharanya kekuatan iman pada diri seseorang.
b)  Meningkatan ketakwaan dan taqarrub kepada Allah SWT.
c)  Menjaga harkat dan martabat serta derajat kemanusiaan.
d)  Menjadi orang yang tabah dalam menjalani kehidupan.
e)  Menumbuhkan kesadaran untuk memicu diri dalam beramal shaleh.
f)  Meningkatkan kesadaran diri untuk mengabdi kepada Allah SWT.
 

Manusia memang seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang menyulitkan. Banyak diantara manusia yang bahkan tidak mampu menanggung beban dari permasalahannya sehingga melakukan perbuatan yang "dilarang" agama, seperti bunuh diri, lari dari masalah dengan bersenang-senang, mabuk-mabukan, mengkonsumsi minuman keras dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Semua itu adalah bentuk dari ke"Putus-asa"an seseorang terhadap ketentuan Allah SWT.

Segala permasalahan yang kita hadapi hendaknya kita hadapi dengan penuh lapang dada dan keikhlasan. Marilah kita kembalikan segala permasalahan kita kepada Allah SWT., dengan tawakal. Karena "Putus-asa" bukanlah sebuah solusi untuk menghadapi masalah akan tetapi merupakan sebuah kerugian bagi manusia dan bentuk ketidak berdayaan seorang. Padahal Allah senantiasa memberi kesempatan bagi mahlukNya untuk merubah keadaan yang ada pada dirinya, dan Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambaNya.
 
Sumber:
1. https://www.facebook.com/permalink.php?id...
2. gudepmtsnegerimodelpurwokerto.blogspot.com/.../put...
3. www.republika.co.id › ... › Jejak Islam
4. masjidgabugan.blogspot.com320 × 320Search by image
5. aryginanjar.com733 × 350Search by image
6. ayahalif.blogspot.com400 × 300Search by image
7. www.republikapenerbit.com230 × 350Search by image
8. dewaruci2.wordpress.com720 × 538Search by image