Senin, 31 Desember 2012

"ANTROPOLOGI PENDIDIKAN"

"Antrpologi Pendidikan" mulai menampilkan dirinya sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad-20". 


PENDAHULUAN.

"Antrpologi Pendidikan" adalah cabang spesialisasi yang termuda dalam "antropologi". "Antropologi" sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka, yang muncul pada saat lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi, geologi dan terutama didorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong oleh konsep evolusi organisme, mulailah berkembang "Antropologi" dengan pandangan bahwa pada dasarnya semua kebudayaan manusia berkembang melalui tahap-tahap yang menjurus ke arah kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa dan Amerika.
 
Pada waktu itu banyak pertanyaan yang diajukan kepada tokoh "pendidikan" tentang sejauhmana "pendidikan" dapat mengubah suatu masyarakat. Sebagaimana diketahui pada waktu itu negara maju tengah mengibarkan program besarnya, yakni menciptakan pembangunan di negara-negara yang baru merdeka. "Antrpologi Pendidikan" berupaya menemukan pola budaya belajar masyarakat yang dapat menciptakan perubahan sosial. Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para pengambil kebijakan "pendidikan" yang berorientasi pada perubahan sosial budaya mendapat perhatian.

"ANTROPOLOGI"  DAN "PENDIDIKAN".

"Pendidikan" dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai dapat dipenuhi. "Pendidikan" dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat, "pendidikan" memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.

Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini "pendidik" dan "antropolog" harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. "Pendidikan" bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan di luar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.

G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan "antropologi" terhadap "pendidikan" adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya. Teori khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin  "Antrpologi Pendidikan". Pada dasarnya, "Antrpologi Pendidikan" mestilah merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek "pendidikan" dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai "antropolog" terhadap "pendidikan" dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek "pendidikan".

Dengan mempelajari metode "pendidikan" kebudayaan maka "antropologi" bermanfaat bagi "pendidikan". Dimana para "pendidik" harus melakkan secara hati-hati. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan baru yang bersifat tentatif. Setiap penyeldikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi "pendidikan".

"Antrpologi Pendidikan" dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek "pendidikan" dalam prespektif budaya, sehingga "antropolog" menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari media "pendidikan" sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di lapangan oleh para "antropolog". Tugas para "pendidik" bukan hanya mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan pemikiran dan praktek "pendidikan" sebagai satu keseluruhan.

"Antrpologi Pendidikan" mulai menampakkan dirinya sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad ke-20. Sejak saat itu, "Antrpologi Pendidikan" berupaya menemukan pola budaya belajar masyarakat (pedesaan dan perkotaan) yang dapat merubah perubahan sosial. Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para ahli mengambil kebijakan "pendidikan" yang berorientasi pada perubahan sosial budaya mendapat perhatian. Konferensi "pendidikan antropologi" yang berorientasi pada perubahan sosial di Negara-negara baru khususnya melalui "pendidikan" persekolahan mulai digelar. Hasil-hasil  kajian "pendidikan" di persekolahan melalui "antropologi" diterbitkan pada tahun 1954 dibawah redaksi G.D. Spindler (1963).

Konferensi memberi rekomendasi untuk melakukan serangkaian penelitian "Antrpologi Pendidikan" di persekolahan, mengingat jalur perubahan social budaya salah satunya dapat dilakukan dengan melalui "pendidikan" formal. Banyak penelitian menunjukan bahwa system "pendidikan" di negara-negara baru diorientasikan untuk mengokohkan kelompok sosial yang tengah berkuasa.

"Antrpologi Pendidikan" sebagai disiplin kini banyak dikembangkan oleh para ahli yang menyadari pentingnya kajian budaya pada suatu masyarakat. "Antropologi" di negara-negara maju memandang salah satu persoalan pembangunan di negara berkembang adalah karena masalah budaya belajar. Kajian budaya belajar kini menjadi perhatian yang semakin menarik, khususnya bagi para pemikir "pendidikan" di perguruan tinggi. Perhatian ini dilakukan dengan melihat kenyataan lemahnya mutu sumber daya manusia yang berakibat terhadap rentannya ketahanan social budaya masyarakat dalam menghadapi krisis kehidupan.
Orientasi pengembangan budaya belajar harus dilakukan secara menyeluruh yang menghubungkan pola budaya belajar yang ada di dalam lingkungan masyarakat dan lembaga "pendidikan" formal. 

Van Kemenade (1969) dalam Imran Manan telah mengingatkan: “persoalan "pendidikan" jangan hanya dianggap melulu persoalan pedagogis didaktis metodis dan tidak menjadi masalah kebikakan sosial, sehingga "pendidikan" tidak ada lagi menjadi kebutuhan bersama. Untuk itu perlu analisa empiris tentang tugas "pendidikan"  dalam konteks kehidupan masyarakat”.

Pendekatan dan teori "Antrpologi Pendidikan" dapat dilihat dari dua kategori: 
Pertama, pendekatan teori "Antrpologi Pendidikan" yang bersumber dari "antropologi" budaya yang ditujukan bagi perubahan sosial budaya. 
Kedua, pendekatan teori "pendidikan" yang bersumber dari filsafat.

Teori "Antrpologi Pendidikan" yang diorientasikan pada perubahan sosial budaya dikategorikan menjadi empat orientasi:
  1. Orientasi teoritik yang fokus perhatiannya kepada keseimbangan secara statis. Teori ini merupakan bagian dari teori-teori evolusi dan sejarah.
  2. Orientasi teori yang memandang adanya keseimbangan budaya secara dinamis. Teori ini yang menjadi penyempurna teori sebelumnya, yakni orientasi adaptasi dan tekno-ekonomi yang menjadi andalannya
  3. Orientasi teori yang melihat adanya pertentangan budaya yang statis, dimana sumber teori datang dari rumpun teori struktural.
  4. Orientasi teori yang bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global atas gejala interdependensi antar Negara, dimana teori multikultural termasuk di dalamnya.
KEGUNAAN "ANTROPOLOGI PENDIDIKAN".

"Antrpologi Pendidikan" bermanfaat mengasah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, untuk dapat menganalisa, mensintesa dan mengevaluasi topik-topik di sekitar sejarah, pengertian dan ruang lingkup sosiologi "Antrpologi Pendidikan", wawasan teoretik sosiologi "Antrpologi Pendidikan", kontribusi sosiologi "antropologi" pada dunia "pendidikan", fungsi "pendidikan" dari kaca mata sosiologis "antropologis", "pendidikan" dan perubahan sosial, sekolah berbagai organisasi birokrasi, keluarga dan sosialisasi, kelompok sebaya dan sosialisasi, sekolah dan sosialisasi, gender dan sosialisasi, "pendidikan" orang dewasa, trend homescholling bagi masyarakat Indonesia, "pendidikan" dan masyarakat serta "pendidikan" dan tatanan sosial.

Sumber:
1. tepenr06.wordpress.com/2012/09/02/antropologi-pendidikan/
2. lzamzami.multiply.com/reviews/item/3
3. id.answers.yahoo.com/question/index?qid...
4. laely.widjajati.photos.facebook.com/NYANTAI-BANGEEET............../
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/Suatu-pagi-di-Pantai-Sanur......./
6. laely.widjajati.photos.facebook.com/NGIYUP-di-bawah-Pohon-Cemara......./

0 komentar: