Kamis, 20 Desember 2012

"ANTHROPOLOGI"

"Anthropologi" adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis  tertentu". 
 

"Anthropologi" lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
"Anthropologi" lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, "Anthropologi" mirip seperti Sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

PENGERTIAN "ANTHROPOLOGI".

"Anthropologi" berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: "anthropos") yang berarti manusia atau orang, dan logos yang berarti wacana (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). "Anthropologi" mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
"Anthropologi" memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan "Anthropologi" dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode "Anthropologi" sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.

DEFINISI "ANTHROPOLOGI" MENURUT PARA AHLI.

  • William A. Havilland: "Anthropologi" adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
  • David Hunter: "Anthropologi" adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
  • Koentjaraningrat: "Anthropologi" adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana "Anthropologi", yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

Secara garis besar "Anthropologi" memiliki cabang-cabang ilmu yang terdiri dari: 

A. "Anthropologi" Fisik.
1. Paleo"Anthropologi" adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil. 
2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-ciri fisik.

B. "Anthropologi" Sosial dan Budaya
1. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan semua kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal tulisan. 
2. Etnolinguistik "Anthropologi" adalah ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi. 
3. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia. 
4. Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.

Di samping itu ada pula cabang ilmu "Anthropologi" terapan dan "Anthropologi" spesialisasi. "Anthropologi" spesialisasi contohnya seperti "Anthropologi" politik, "Anthropologi" kesehatan, "Anthropologi" ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

SEJARAH.

Seperti halnya Sosiologi, "Anthropologi" sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.
Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu "Anthropologi" menjadi empat fase sebagai berikut:

Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)

Manusia dan kebudayaannya sebagai bahan kajian "Anthropologi". Sekitar abad ke 15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai  suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

Fase Kedua (tahun 1800-an)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. Masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini, "Anthropologi" bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Pada fase ini, "Anthropologi" berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa. Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung. Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka dekati. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu "Anthropologi" tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Antropologi
2. organisasi.org/definisi-pengertian-antropologi-objek-tujuan-dan-cabang-ilmu-antropologi
3. laely.widjajati/facebook.com/Ayo-Jalan2-Dulu-Biar-Sehat........./
4. hepi.say/facebook.com/3 angel... Menyelesaikan-misi/..
5. laely.widjajati/facebook.com/Nyantai-Sejenak.........../

Sabtu, 15 Desember 2012

"SOSIOLOGI SASTRA"

 "Sosiologi Sastra" merupakan pendekatan yang bertitik tolak dengan orientasi kepada pengarang".


PENGERTIAN "SOSIOLOGI SASTRA".

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia( 1989: 855 ). "Sosiologi Sastra" merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari atau mengenai "sastra" karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan soaialnya, kondisi ekonimi serta khalayak yang ditujunya.
   
"Sosiologi" merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari pada perkembangan ilmu pengetahuan. "Sosiologi" lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena "sosiologi" didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Selanjutnya Camte berkata bahwa "sosiologi" dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat dan hasil- hasil observasi tersebut harus disusun secara sistematis dan motodologis (Suekanto, 1982: 4 ).

"Sastra" dapat dipandang sebagai  suatu gejala sosial. "Sastra" yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat pula ( Luxenburg, Bal, dan Willem G. W. terjemahan Dick Hartoko. 1084: 23 ).

HUBUNGAN ANTARA "SASTRA" DENGAN MASYARAKAT.

Lebih lanjut dikatakan bahwa hubungan antara "sastra" dan masyarakat dapat diteliti dengan cara:
  1. Faktor – faktor di luar teks, gejala kontek "sastra", teks itu tidak ditinjau. Penelitian ini menfokuskan pada kedudukan pengarang dalam masyarakat, pembaca, penerbitan dan seterusnya. Faktor-faktor konteks ini dipelajari oleh "Sosiologi Sastra" empiris yang tidak dipelajari, yang tidak menggunakan pendekatan ilmu "sastra".
  2. Hal-hal yang bersangkutan dengan "sastra" diberi aturan dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu "sosiologi". Tentu saja ilmu sastra dapat mempergunakan hasil "Sosiologi Sastra", khususnya bila ingin meniti persepsi para pembaca.
  3. Hubungan antara  (aspek-aspek ) teks "sastra" dan susunan masyarakat sejauh mana system masyarakat serta jaringan sosial dan karyanya, melainkan juga menilai pandangan pengarang.
Pendekatan "Sosiologi Sastra" jelas merupakan hubungan antara "sastra" dan masyarakat,  literature is an exspreesion of society, artinya "sastra" adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya masyarakat mau tidak mau harus mencerminkan dan mengespresikan hidup (  Wellek and Werren, 1990: 110 ). 

SASARAN PENELITIAN "SOSIOLOGI SASTRA".

Hubungan yang nyata antara "sastra" dan masyarakat oleh Wellek dan Werren dapat diteliti melalui:
1"Sosiologi" Pengarang.
Menyangkut masalah pengarang sebagai penghasil Karya "sastra". Mempermasalahkan status sosial, ideologi sosial pengarang, dan ketertiban pengarang di luar karya "sastra".

2"Sosiologi" Karya "Sastra".
Menyangkut eksistensi karya itu sendiri, yang memuat isi karya "sastra", tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya "sastra" itu sendiri, dan yang berkaitan masalah-masalah sosial.

3"Sosiologi" Pembaca.
Mempermasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya tersebut, yakni sejauh mana dampak sosial "sastra" bagi masyarakat pembacanya ( Wellek dan Werren, 1990: 111 ).

Beberapa pengertian dan pendapat di atas menyimpulkan bahwa pendekatan "Sosiologi Sastra" adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan tidak meninggalkan segi-segi masyarakat, termasuk latar belakang kehidupan pengarang dan pembaca karya "sastra".
Karya "sastra" kita kenal sebagai karya imajinasi yang lahir bukan atas kekososngan jiwa namun juga atas realitas yang terjadi di sekeliling pengarang. Hal ini tentu tidak lepas dari unsur yang membangun karya "sastra" tersebut yang meliputi unsur intrinsik (unsur yang membangun karya "sastra" dari dalam dan unsur ekstrinsik (unsur yang membangun karya "sastra" dari luar). Salah satu contoh kajian ekstrinsik karya "sastra" adalag konflik sosial yang hal tersebut tercakup dalam kajian "Sosiologi Sastra".

"Sosiologi Sastra" merupakan kajian ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat , mengenai lembaga dan proses sosial . "Sosiologi" mengkaji struktur sosial dan proses sosial termasuk didalamnya perubahan-perubahan sosial yang mempelajari lembaga sosial. agama, ekonomi, politik dan sebagainya secara bersamaan dan membentuk struktur sosial guna memperoleh gambaran tentang cara­-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme kemasyarakatan dan kebudayaan. "Sastra" sebagaimana "sosiologi" berurusan dengan manusia ; karena keberadaannya dalam masyarakat untuk dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat itu sendiri. "Sastra" sebagai lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya karena bahasa merupakan wujud dari ungkapan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan.

Menurut Wolf terjemahan Faruk mengatakan, “Sosiologi" kesenian dan kesu"sastra"an merupakan suatu disiplin ilmu yang tanpa bentuk; tidak terdefinisikan dengan baik , terdiri dari sejumlah studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang agak lebih general; yang masing-masing hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan antara seni dan kesu"sastra"an dengan masyarakat (199 : 3).

RAGAM "SOSIOLOGI SASTRA".

Mengenai ragam pendekatan terhadap karya "sastra" kajian "sosiologis" mempunyai tiga klasifikasi (Wellek dan Warren: 1986) (a) "Sosiologi" pengarang (b) "Sosiologi" karya "sastra" (c) "Sosiologi Sastra" dalam "sosiologi" pengarang. Wilayahya mencakup dan memasukkan status sosial,  ideologi sosial dan lain sebagainya menyangkut pengarang, dalam hal ini berhubungan posisi sosial pengarang dalam masyarakat dan hubungannya dengan rnasyarakat "sastra": mengenai "sosiologi" karya "sastra", yaitu mempermasalahkan karya "sastra" itu sendiri dengan kata lain menganalisis struktar karya dalam hubungannya antara karya seni dengan kenyataan dengan tujuan menjelaskan apa yang dilakukan dalam proses membaca dan memahami karya "sastra" "Sosiologi Sastra", wilayah cakupannya dan mempermasalahkan pembaca sebagai penyambut dan penghayat karya "sastra" serta pengaruh sosial karya "sastra" terhadap pembaca atau dengan kata lain memasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
 
Penelaahan unsur "sosiologis" karya "sastra" khususnya roman  juga dikaitkan dengan sistem kemasyarakatan karena dalam sistem ini terjadi interaksi sosial yang cenderung menghasilkan suatu kebudayaan .Dimana di dalamnya mengatur cara manusia hidup berkelompok clan berinteraksi dalam jalinan hidup bermasyarakat. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan manusia yang mengalarni berbagai modernisasi. Manusia dalam menjalani kehidupan manusia harus menyadari akan kefanaan hidup itu sendiri.

Sumber:
1. pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/sosiologi-sastra/
2. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17404/4/Chapter%20II.pdf
3. bocahsastra.wordpress.com/.../pendekatan-sosiologi-sastra-sebagai-alat-analisa-novel/
4. laely-widjajati/facebook.photos/Ayo-jalan2-dulu-biar-sehat/
5. laely-widjajati/facebook.photos/Nyantai-Sejenak/
6. laely-widjajati/facebook.photos/Foto-ini-waktu- lamaran-e-sopo-yoo-???/

"PEKERJAAN SOSIAL"

"Pekerjaan sosial" adalah profesi pertolongan kamanusiaan yang tujuan utamanya adalah membantu keberfungsian "sosial" individu, keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan peran-peran "sosial"nya".


PENGERTIAN "PEKERJAAN SOSIAL".

Berikut ini beberapa pengertian "Pekerjaan sosial" menurut para ahli:

1. Menurut Allen Pincus dan Anne Minahan (1973:9).
"Pekerjaan sosial" adalah:
”Social work" is concerned with the interactions between people and their "social" environment which affect the ability of people to accomplish their life task, alleviate distress, and realize their aspirations and values” ("Pekerjaan sosial" berkepentingan dengan permasalahan interaksi antara orang dengan lingkungan "sosial", sehingga mereka mampu melaksanakan tugas-tugas kehidupan, mengurangi ketegangan, mewujudkan aspirasi dan nilai-nilai mereka).

Interaksi "sosial" menjadi setting yang penting dalam usaha-usaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh klien. Interaksi "sosial" menuntut individu mampu beradaptasi dengan individu lain, menuntut individu mampu beradaptasi dengan kelompoknya dan menuntut individu mampu beradaptasi dengan lingkungan "sosial". Dalam proses interaksi terjadi kerjasama dan konflik/perbedaan pendapat, tugas dari "pekerjaan sosial" dalam hal ini membantu individu, kelompok, dan masyarakat untuk dapat melaksanakan peranan-peranan kehidupan sesuai dengan harapan dari masyarakat/lingkungan "sosial".

Hal ini ada korelasi dengan pendapat Charles Zastrow (1999) tentang "pekerjaan sosial", yakni sebagai berikut: 

2. Menurut Charles Zastrow (1999).
”Social Work" is the professional activity of helping individuals, groups, or communities to enhance or restore their capacity for social functioning and to create sociatal conditions favorable to their goals”
("Pekerjaan sosial" merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan).

"Pekerjaan sosial"
dalam menjalankan "pekerjaan" yang bertujuan membantu individu, kelompok dan masyarakat yang mengalami hambatan-hambatan dalam menjalankan tugas-tugas kebihupan atau mengalami hambatan keberfungsian "sosial", selain membantu mencarikan alternatif-alternatif pemecahan masalah harus pula memperhatikan interaksi "sosial" klien yang dapat dipergunakan untuk menyusun strategi pemecahan masalah-masalah "sosial" klien, memberdayakan/memberi kekuasaan pada klien untuk dapat memilik alternatif-alternatif pemilihan pemecahan masalah-masalah yang mereka hadapi, meningkatkan dan menggali potensi-potensi klien, memperbaiki keberfungsian "sosial" klien/meminimalisir hambatan-hambatan dengan cara mendekatkan klien dengan sistem-sistem sumber yang dapat dimanfatkan untuk memecahkan masalah, dan mempercepat klien mewujudkan harapan-harapan/tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Revelansi "pekerja sosial" dengan kerafian lokal dalam hal ini fungsi seorang "pekerja sosial" bertindak sebagai seorang agen perubahan yang memobilisir suatu kondisi ke arah yang lebih baik sebab kerafian lokal yang berada wilayah lingkungan masayarakat adat di Cerekang ini masih bersifat sangat tradisional dan sebagian masyakarat adat pada prinsipnya memiliki sikap tertutup dan belum mampu menerima setiap perubahan yang ada sehingga sebagian dari masyarakat adat masih hidup dalam isolasi peradaban jaman.

  "Pekerjaan sosial"adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan atau mengembangkan interaksi antara orang/sekelompok orang dengan lingkungan "sosial" mereka sehingga memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan, mengatasi kesulitan dan mewujudkan aspirasi serta nilai-nilai mereka. (http://khoirulilmawan.com/?page_id=1905)

3. Menurut Max Siporin, 1975; Morales dan Sheafor, 1989; Suharto, 1997
Menurut pendapat Max Siporin, D.S.W (1975:3) mengartikan "pekerjaan sosial" sebagai berikut :
“Social work is defined as social institutional method of helping people to prevent and resolve their social problems, to restore and enhance their social functiong”
("Pekerjaan sosial" sebagai metode yang bersifat "sosial" dan institusional untuk membantu orang mencegah dan memecahkan masalah-masalah mereka serta untuk memperbaiki dan meningkatkan keberfungsian "sosial" mereka).

"Pekerjaan sosial" adalah profesi pertolongan kamanusiaan yang tujuan utamanya adalah membantu keberfungsian "sosial" individu, keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan peran-peran "sosial"nya. Para "pekerja sosial", memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai pertolongan yang diperoleh melalui pendidikan (perguruan tinggi). (http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/script.php/view/"pekerja"-"sosial"-industri/)

"Pekerja Sosial"
Profesional
Adalah mereka-mereka yang melakukan peran sebagai "pekerja sosial" dalam berbagai segmennya, baik di masyarakat ("pekerja sosial" masyarakat), di ranah industri ("pekerja sosial" industri), maupun di ranah kesehatan ("pekerja sosial" medis) secara profesional, didasarkan pada latar belakang keilmuan yang diperoleh melalui jalur pendidikan tinggi bidang "pekerjaan sosial". Atas hal ini, maka seluruh aktivitasnya mulai dari perencanaan, pentahapan, metode, teknik, pendekatan, dan yang lainnya yang digunakan didasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah yang, tentu saja, bisa dipertanggungjawabkan.( http://www.siwakz.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=13&artid=212).

"Pekerjaan Sosial" Profesi yang memberikan pertolongan pelayanan "sosial" kepada individu, kelompok dan masyarakat dalam peningkatan keberfungsian "sosial" mereka dan membantu memecahkan masalah-masalah "sosial" mereka disebut dengan "pekejaan sosial", atau "pekerjaan sosial" adalah seseorang yang memiliki profesi dalam membantu orang memecahkan masalah-masalah dan mengoptimalkan keberfungsian "sosial" individu, kelompok dan masyarakat serta mendekatkan mereka dengan sistem sumber. "Pekerja sosial" dalam menjalankan tugas berada dalam naungan badan-badan "sosial" yang bergerak dalam pelayanan-pelayanan "sosial".  Dalam mejalankan profesinya seorang "pekerja sosial" bekerja dengan menggunakan teknik-teknik dan metode-metode tertentu yang disesuaikan dengan masalah-masalah yang akan diselesaikan, pemilihan teknik dan metode harus tepat guna bagi klien.

Selaras dengan pendapat yang dikemukan oleh Max Siporin, maka yang dimaksud dengan "pekerjaan sosial"  adalah suatu profesi "sosial" yang dan berbadan hukum yang memiliki bertujuan membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam proses pemecahan masalah-masalah "sosial" dan mencarikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang berfungsi sebagai penguatan agar masalah yang telah teratasi tidak muncul lagi dan berkembang dengan menimbulkan masalah "sosial" lain.

Dalam menjalankan profesi pertolongan seorang "pekerja sosial" tidak terlepas dari konteks "sosial" tempat tinggal klien yang bermasalah, yang dikatakan klien bermasalah adalah individu, kelompok dan masyarakat yang tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitar atau mengalami hambatan-bambatan dan tidak mampu membawakan peranan-peranan "sosial" sesuai yang diharapkan oleh masyarakat dimana mereka tinggal (kemampuan berinteraksi "sosial" memiliki dampak yang luas pada kehidupan klien).

4. Menurut C Walter A. Fried Kandar
"Pekerjaan sosial" adalah pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan keterampilan dalam hubungan kemanusiaan     yang      membantu     seseorang      atau    kelompok  untuk   mencapai  kebebasan pribadi.
(http://unsilster.com/2009/12/apakah-"pekerjaan"-"sosial"-itu/).

"Pekerjaan sosial" adalah profesi pertolongan kamanusiaan yang tujuan utamanya adalah membantu keberfungsian "sosial" individu, keluarga  dan masyarakat dalam melaksanakan  peran-peran  "sosial"nya
(http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya/script.php/view/"pekerja"-"sosial"-industri/).

"Pekerjaan sosial" ("social work") menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. "Pekerjaan sosial" adalah sebuah disiplin ilmu yang berkepentigan untuk menyelesaikan masalah-masalah "sosial" yang dihadapi oleh umat manusia. Dalam ranah "sosial", "pekerjaan sosial" bukanlah suatu "pekerjaan" yang bersifat secara suka rela, melainkan secara profesional. (http://oase.kompas.com/read/2010/02/17/01285719/Menuju."Pekerjaan.Sosial".yang.Mensejahterakan)

Sedangkan definisi "Pekerja Sosial" Masyarakat (PSM) adalah Warga masyarakat yang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab "sosial" serta didorong oleh rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan "sosial" secara sukarela mengabdi di bidang Kesejahteraan "Sosial". (Kepmensos No. 27/HUK/1987).

TUJUAN "PEKERJAAN SOSIAL".

"Pekerjaan sosial" adalah suatu profesi dalam memberikan pelayanan dalam bidang kesejahteraan "sosial" secara langsung maupun tidak langsung yang bertujuan membantu mengoptimalkan potensi yang dimiliki individu, kelompok, masyarakat dalam pelaksanaan tugas-tugas kehidupan melalui identifikasi masalah dan pemecahan masalah "sosial" yang diakibatkan oleh ketidak seimbangan antara diri individu, kelompok, masyarakat dengan lingkungan "sosial"nya serta untuk mencegah konflik yang mungkin timbul serta memberikan penguatan agar mereka dapat menjalankan keberfungsian "sosial" mereka sendiri. Tujuan lain adalah memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu, kelompok dan masyarakat untuk dapat mengoptimalkan memanfaatkan sistem-sistem sumber yang telah ada di lingkungan mereka tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengakses sistem sumber tersebut.

Seperti yang telah dirumuskan oleh Pincus dan Minahan (1973:9) dalam buku "Social Work" Practice yang menyatakan tujuan dari "pekerjaan sosial" adalah :
1. Enhance the problem solving and coping capacities of people (Mempertinggi kemampuan orang untuk memecahkan dan menanggulangi masalahnya).
2. Link people with system that provide them with resourses, service, and opportunities (Menghubungkan orang dengan sistem-sistem yang menyediakan sumber-sumber, pelayanan-pelayanan dan kesempatan-kesempatan).
3. Promote the effective and humane operation of these system (Meningkatkan pelaksanaan sistem-sistem tersebut secara efektif dan manusiawi).
4. Contribute to the development and operation of these system (Memberikan sumbangan terhadap pembangunan dan kemajuan kebijakan "sosial").

Tujuan "Pekerjaan sosial" memiliki fungsi membantu individu, kelompok, masyarakat meningkatkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah, mendekatkan mereka dengan sistem-sistem sumber, mempermudah interaksi mereka dengan lingkungan sosialnya, menciptakan hubungan baru mereka dengan sistem sumber kemasyarakatan, memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan, perkembangan lingkungan "sosial", meratakan sumber-sumber material dan serta memberikan sumbangan pemikiran sebagai landasan dalam perencanaan-perencanaan program pelayanan "sosial" secara keseluruhan dan bertindak sebagai kontrol "sosial".

Tujuan lain dari "pekerjaan sosial" yang lain adalah memperbaiki situasi lingkungan "sosial" dimana invividu, kelompok dan masayarakat bermukim atau mengadakan renovasi-renovasi secara signifikan yang memberi manfaat-manfaat bagi mereka. "Pekerjaan sosial" harus memiliki seni dalam usaha-usaha menyadarkan klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan yang dihadapi, bahwa tidak semua harapan–harapan yang diinginkan sesuai dengan kenyataan yang diterima dengan cara meningkatkan keberfungsian "sosial" klien yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan klien.

Mengacu pada pendapat Dean H. Hepworth dan Jo Ann Larsen (1982:16) menyatakan bahwa tujuan "Pekerjaan Sosial" adalah sebagai berikut :
“The purpose of "social work" is to promote or restore a mutually beneficial interaction between individuals and society in or to improve the quality of life for everyone”
(Tujuan "pekerjaan sosial" adalah untuk mempromosikan atau memugar kembali suatu interaksi yang menguntungkan antara individu dan masyarakat atau untuk meningkatkan mutu hidup semua orang).

Secara keseluruhan tujuan dari "pekerjaan sosial" dan adalah membantu memberikan pelayanan-pelayanan "sosial" kepada individu, kelompok-kelompok dan masyarakat yang mengalami hambatan "sosial"/ tidak berfungsi "sosial", mengoptimalkan kemampuan klien dalam menjalankan peran-peran kehidupan, mencarikan alternatif-alternatif untuk pemecahan masalah, mendekatkan klien dengan sistem-sistem sumber, melakukan perubahan-perubahan kondisi di lingkungan/interaksi "sosial" dan memperngaruhi kebijakan-kebijakan "sosial" ditinggal makro. Keselurahan dari hal-hal tersebut harus mampu diperankan oleh seorang "pekerja sosial".

Peran ganda harus mampu dilakukan oleh seorang "pekerja sosial" pada saat yang sama, sebab peran yang khusus tidak akan mampu membuat suatu perubahan kondisi yang diharapkan oleh klien. Peran khusus hanya akan membuat seorang "pekerja sosial" beroientasi pada spesialisasi "pekerjaan", padahal seorang "pekerja sosial" adalah seorang pengembang masyarakat yang bekerja secara holistik.
 
Sumber:
1. wwwdayatranggambozo.blogspot.com/.../pengertian-pekerjaan-sosial.html
2. mahaneni.blogspot.com/.../pengertian-dan-tujuan-pekerjaan-sosial.html
3. laely.widjajati.facebook/pemreg-disman3-sidoarjo/
4. laely-widjajati.blogspot.com/.../peningkatan-wawasan-sdm-inspektorat.html

Jumat, 14 Desember 2012

"ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL"

"Ilmu Kesejahteraan Sosial" merupakan pengetahuan sistematis yang membahas isu "kesejahteraan" dan upaya-upaya mencapai "kesejahteraan"

 

Kemunculan disiplin ini merupakan hasil dari perluasan pokok bahasan bidang pekerjaan "sosial".

 DEFINISI "ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL"

"Ilmu Kesejahteraan Sosial" adalah "ilmu" terapan yang mengkaji dan mengembangkan kerangka pemikiran, serta metodologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

FOKUS DAN RUANG LINGKUP "ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL".

Bila "ilmu" kedokteran menekankan pada diagnosis dan penyembuhan, disiplin ini menekankan pada penilaian (‘’assessment’’) dan intervensi "sosial". Intervensi "sosial" merupakan metode perubahan "sosial" terencana yang bertujuan memfungsikan kembali fungsi "sosial" seseorang, kelompok, maupun masyarakat. "Ilmu Kesejahteraan Sosial" dalam kaitannya dengan intervensi "sosial" memiliki 3 ruang lingkup , yaitu mikro, mezzo, dan makro. Level mikro membahas intervensi "sosial" di tingkat individu, keluarga, dan kelompok kecil; level mezzo membahas intervensi "sosial" di tingkat komunitas; dan level makro membahas intervensi "sosial" di tingkat masyarakat yang lebih luas.

SEJARAH "ILMU ESEJAHTERAAN SOSIAL".

Sebelum abad 16.
Pada mulanya, usaha-usaha "kesejahteraan sosial" dilakukan oleh kelompok keagamaan. Usaha-usaha "kesejahteraan" yang dilakukan pada umumnya merupakan pelayanan "sosial" yang bersifat amal. Keberagaman Agama dalam Praktek Pekerjaan "Sosial" (Spiritual Diversity in "Social" Work Practice: The Heart of Helping), bahwa setiap agama (Budha, Hindu, Islam, Konghucu. Kristen dan Yahudi)  memiliki kepercayaan dan nilai dasar yang berimplikasi pada penerapan atau praktik kerja "sosial".
Sebagaimana yang dituliskan Canda dan Furman dalam bukunya.

Abad 13-18.
Pada periode ini pemerintah Inggris mengeluarkan beberapa peraturan perundangan untuk menangani masalah kemiskinan. Undang-undang Kemiskinan yang dikeluarkan oleh Ratu Elizabeth (Elizabethan Poor Law) merupakan salah satu undang-undang yang paling terkenal saat itu. Undang-undang tersebut dianggap sebagai cikal bakal intervensi pemerintah terhadap "kesejahteraan" warga negaranya karena usaha "kesejahteraan sosial" sebelumnya lebih banyak dilakukan oleh kelompok keagamaan, seperti pihak  gereja. Usaha-usaha "kesejahteraan sosial" pada dasarnya berasal dari nilai-nilai humanitarianisme yang percaya bahwa kondisi kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Kemudian muncul kelompok-kelompok (relawan) yang mengupayakan pengembangan usaha "kesejahteraan sosial" untuk memperbaiki kondisi tersebut. Usaha "kesejahteraan sosial" yang dilakukan oleh relawan yang didasari semangat filantropis selanjutnya berkembang menjadi lebih terarah dan terorganisir. Organisasi para relawan inilah yang kemudian mendorong terciptanya beragam usaha "kesejahteraan sosial". Karena itu, baik di Inggris maupun Amerika, sejarah pekerjaan "sosial" sangat terkait dengan para relawan dan organisasi para relawan. 

Tahun 1869.
Organisasi relawan bernama COS (Charity Organization Society) didirikan di London, Inggris. Perkembangan organisasi relawan di Inggris berpengaruh pula terhadap perkembangan organisasi relawan di Amerika. Organisasi relawan tersebut dikembangkan untuk menggalang dan mengkoordinasikan bantuan dana dan material dari berbagai gereja serta kurang lebih 100 lembaga amal.

Tahun 1877.
COS kemudian di kembangkan di Buffalo, New York. Dalam jangka waktu 10 tahun kemudian, terbentuk 25 organisasi "sosial" di Amerika Serikat. Berkembangnya berbagai COS di Amerika membuat para relawan aktif yang terlibat di dalamnya merasa perlu suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang berhubungan dengan perilaku individu, serta permasalahan "sosial" dan ekonomi.  Oleh karena itu,  Mary Richmond, seorang praktisi pekerjaan "sosial", berencana untuk mengembangkan Sekolah Platihan Filantropi Terapan. Lembaga ini menjadi cikal bakal kelas pekerjaan "sosial" di New York pada tahun 1898. Perluasan pokok bahasan dalam sejarah perkembangan bidang pekerjaan "sosial" telah memunculkan suatu kajian "kesejahteraan sosial" yang lebih luas.  Munculnya kajian "kesejahteraan sosial" ini kemudian mendorong terbentuknya disiplin baru bernama "ilmu kesejahteraan sosial".

PENDEKATAN "ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL".

Menurut Midgley, terdapat empat pendekatan dalam mengupayakan "kesejahteraan sosial" :

Filantropi "sosial".

Filantropi terkait erat dengan upaya-upaya "kesejahteraan sosial" yang dilakukan para agamawan dan relawan, yakni upaya yang bersifat amal (charity) dimana orang-orang ini menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Pelaku dari filantropi disebut sebagai filantropis.

Filantropi "sosial" bertujuan mempromosikan "kesejahteraan sosial" dengan mendorong penyediaan barang pribadi dan pelayanan kepada orang yang membutuhkan. Ada beberapa karakteristik pendekatan filantropi "sosial", di antaranya:
  1. Amal, dimana pendekatan ini tidak memiliki kesinambungan. Artinya, tidak ada lagi interaksi dengan penerima bantuan ketika bantuan selesai diberikan.
  2. Penerima pasif, menggunakan pandangan bahwa masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, sehingga dalam penyelenggaraannya tidak melibatkan partisipasi penerima.
  3. Acak, tidak memiliki metode atau tahapan khusus dalam pelaksanaannya.
  4. Kemauan, ketergantungan upaya pada kemauan baik dari para donor dan kemauan pemerintah untuk menggunakan uang pembayar pajak demi mendukung kegiatan-kegiatan amal.
Seiring dengan perkembangan filantropi, filantropi tidak lagi hanya berkaitan dengan penyediaan bantuan kepada yang membutuhkan.  Selama abad ke-19, ketika kegiatan amal berkembang dengan cepat di Eropa dan Amerika utara, beberapa pemimpin filantropis berusaha membawa isu reformasi "sosial" dan peningkatan kondisi "sosial".  Para pemimpin, yang sering berhubungan baik dengan anggota kelas menengah atas, berusaha untuk menggunakan pengaruh mereka untuk menjaring dukungan dari para pemimpin politik dan bisnis.  Mereka menggunakan koneksi yang mereka miliki untuk membujuk pemerintah agar memperkenalkan layanan "sosial" yang baru, membuat undang-undang yang mencegah eksploitasi dan diskriminasi, atau untuk tindakan perlindungan terhadap kelompok rentan.

PEKERJAAN "SOSIAL".

Berbeda dengan pendekatan filantropi, pekerjaan "sosial" merupakan pendekatan yang terorganisir untuk mempromosikan "kesejahteraan sosial" dengan menggunakan tenaga profesional yang memenuhi syarat untuk menangani masalah "sosial". Namun, perkembangan pekerjaan "sosial" tidak lepas dari perkembangan filantropi. Sejak abad ke-19, pekerjaan "sosial" telah mengalami pengembangan profesional dan akademik yang cukup pesat dan telah menyebar di seluruh dunia

ADMINISTRASI "SOSIAL".

Pendekatan administrasi "sosial" berusaha mempromosikan "kesejahteraan sosial" dengan menciptakan program "sosial" pemerintah yang meningkatkan "kesejahteraan" warga negaranya melalui penyediaan berbagai pelayaan "sosial".  Pendekatan ini diselenggarakan langsung oleh pemerintah. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Undang-Undang tentang Kemiskinan yang dikeluarkan oleh Ratu Eizabet I.

PEMBANGUNAN "SOSIAL".

Pembangunan "sosial" merupakan suatu proses perubahan "sosial" terencana yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara utuh, di mana pembangunan ini dilakukan untuk saling melengkapi dengan dinamika proses pembangunan ekonomi.

FILSAFAT "ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL"

Filsafat "ilmu" merupakan suatu studi yang menyangkut masalah eksplanasi, artinya bagaimana menjelaskan tentang "ilmu" menurut proses berpikir yang logis dan rasional. Pertanyaan berikut ini dapat menjelaskan filsafat "ilmu", meliputi; apakah "ilmu" itu; apakah "ilmu" itu sama dengan pengetahuan; apa sajakah yang dipelajari oleh pengetahuan dan "ilmu" pengetahuan; apakan fungsi dan sarana berfikir yang digunakan "ilmu", yang karena itu "ilmu" harus dikuasai; bagaimanakah dampak "ilmu" itu pada kehidupan manusia.

"Ilmu Kesejahteraa Sosial" merupakan "Ilmu" pengetahuan, penelaahan "ilmu" pengetahuan secara filsafat dimulai dari pengetahuan yang berasal dari fakta dan pengalaman-pengalaman hidup. Pengetahuan bergeser menjadi sebuah "ilmu" ketika fakta dielaborasi dengan cara-cara tertentu sehingga menjelaskan tentang data empiris tadi yang berasal dari fakta dan pengalaman, tahapan tersebut merupakan struktur dan prosedur "ilmu" menuju arah filsafat "ilmu" yang alur dimulai dari tahap pengetahuan ke "ilmu" dan menuju kepada filsafat "ilmu".

Fungsi dan peran "ilmu" pengetahuan akan tampak dari bagaimana operasionalisasinya, atau mengapa orang harus melakukan hal berkaitan dengan apa yang dioperasionalisasikan itu, keadaan itu dapat dijelaskan adalah oleh karena "ilmu" itu bukan hanya sekedar sarana berpikir belaka, tetapi juga "ilmu" harus menjelaskan fakta. Pengetahuan yang berasal dari fakta dan pengalaman melalui cara tertentu bertransformasi menjadi "ilmu" pengetahuan. Fakta dan pengalaman yang terkandung dalam pengetahuan merupakan sebuah objek tertentu yang menjadi telaahan dari "ilmu".

Pengetahuan akan "kesejahteraan sosial" adalah fakta-fakta mengenai masyarakat yang memiliki kepuasan interaksi antar sesamanya dalam kehidupannya. Karena masyarakat terhimpun dari individu-individu, yang berkelompok dalam keluarga dan komunitas-komunitas kepentingan, dan kewilayahan. Maka, pengetahuan "kesejahteraan sosial" mengungkapkan fakta dan pengalaman dari individu, keluarga, dan komunitas-komunitas tentang kepuasan interaksi antar sesamanya dalam kehidupan. Fakta dan pengalaman mengenai kepuasan individu dalam interaksi antar sesamanya dalam kehidupan merupakan data, melalui proses eksplanasi data inilah maka "ilmu" pengetahuan mengenai interaksi antar sesamanya dalam kehidupan menjadi objek dari "ilmu kesejahteraan sosial".

Pada hakekatnya arti filsafat "ilmu" merupakan telaahan "ilmu" pengetahuan secara filsafat, yang ingin menjawab pertanyaan tentang hakekat "ilmu" pengetahuan, secara rinci dalam menelaah "ilmu" diuraikan dalam tiga landasan filsafat; ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga landasan filsafat ini dapat dijadikan pembeda antara "ilmu" yang satu dengan "ilmu" yang lainnya, melalui pertanyaan – pertanyaan berikut secara jelas filsafat membedakan "ilmu".
  1. Apakah yang akan dikaji oleh pengetahuan itu
  2. Bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan itu
  3. Untuk apakah pengetahuan itu digunakan
Jawaban – jawaban yang diperoleh dari ketiga pertanyaan itu akan dapat membedakan tentang apa dan bagaimana berbagai jenis pengetahuan manusia dalam kehidupannya, serta meletakkan pengetahuan itu pada tempatnya yang berfungsi, sehingga kehidupan tersebut akan lebih bermakna bagi mereka yang menjalaninya.
Sedangkan landasan filsafat "Ilmu Kesejahteraan Sosial" itu sendiri adalah:
1. ONTOLOGI.

Pada dasarnya, menurut Jujun S. Suriasumantri landasan ontologi dipahami melalui pemahaman mengenai filsafat "ilmu" itu sendiri yang merupakan telaahan secara filsafat untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat "ilmu" seperti :
“obyek apa yang ditelaah "ilmu"? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan ?
 
Konkritnya, bidang telaah sebagaimana konteks diatas merupakan landasan Ontologi "Ilmu". Apabila konteks tersebut dapat dikorelasikan dengan "Ilmu Kesejahteraan Sosial" maka landasan Ontologi "Ilmu Kesejahteraan Sosial" pada hakikatnya akan menjawab pertanyaan apakah titik tolak kajian substansial dari "Ilmu Kesejahteraan Sosial". Ternyata dari Optik Ontologi maka kajian substansial "Ilmu Kesejahteraan Sosial" terletak pada “kaidah-kaidah dalam mencapai kepuasan interaksi antar sesama manusai dalam masyarakat”.

Fakta dan pengetahuan tentang "kesejahteraan sosial" adalah sebuah kondisi dalam masyarakat beserta indivudu-individu di dalamnya berada dalam keadaan yang ‘harmoni’, melalui "Ilmu Kesejahteraan Sosial" akan diungkapkan upaya pencapaian kondisi masyarakat yang puas dengan kehidupan "sosial"nya sehingga berdampak pada keadaan harmoni dalam masyarakat.
   
2. EPISTEMOLOGI 

Ditinjau aspek etimologi maka epistologi berasal dari bahasa Yunani yang merupakan kata gabungan dari kata episteme dan logos, Episteme artinya pengetahuan dan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Sehingga secara mudah epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Selanjutnya, menurut A.M.W. Pranarka menyebutkan, bahwa menurut:
“Webster Third New International Dictionary mengartikan epitemologi sebagai “the study of methol and grounds of knowledge, especially with reference to its limits and validity”.
 
Runnes didalam Dictionary of Philosophy memberikan keterangan bahwa epistemologi merupakan ‘the bronch of philosophy which investigates the origin, structure methode an validity of knowledge’. Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi yaitu: pertama tentang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tentang watak pengetahuan manusia. (Kaelan, 2003: 67).
Pada dasarnya, apabila "ilmu kesejahteraan sosial" sebagai "ilmu" yang bertujuan menciptakan kondisi-kondisi kepuasan interaksi atara sesama anggota masyarakat, dan dapat dikatakan objek studi "ilmu kesejahteraan sosial" adalah kepuasan interaksi dalam masyarakat. Menurut Teori Kebutuhan sehingga memotivasi manusia untuk memenuhnya diungkapkan oleh Albert Maslow, maka kepuasan interaksi individu dalam masyarakat akan tercipta apabila semua kebutuhan dan keinginan sesuai dengan tahapan kebutuhan dapat terpenuhi sesuai dengan status masing-masing individu dan peran yang dimainkannya.

Teori ini di jadikan landasan bagaimana pengetahuan terhadap fakta dan pengalaman yang ada dielaborasi dengan pendekatan ilmiah dan diperoleh "ilmu" tentang "kesejahteraan sosial" yang membicarakan cara-cara mencapai keadaan "kesejahteraan sosial".
   
3. AXIOLOGI 

Menurut Jujun S Suriasumantri maka ditinjau dari aspek axiologi membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

“Untuk apa pengetahuan yang berupa "ilmu" itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/referisonal ?”
 
Konkritnya, dari aspek tersebut Axiologi "Ilmu Kesejahteraan Sosial" akan berkoleratif terhadap kegunaan dari "Ilmu Kesejahteraan Sosial" itu sendiri. Diketahui bahwasanya "Ilmu Kesejahteraan Sosial" bersifat dinamis dalam artian mempunyai pengaruh dan fungsi yang khas dibanding dengan bidang bidang "sosial" lainnya.
  
SIMPULAN. 

Kaitannya dengan karya ilmiah disertasi, landasan filsafat yang menelaah "ilmu" pengetahuan ini, hanya dapat memenuhi dua landasan filsafat terakhir, yaitu; landasan Epistemologi dan Axiologi, sedangkan landasan Ontologi merupakan landasan yang sudah menjadi pembeda utama dari keberadaan "ilmu kesejahteraan sosial" dengan "ilmu"-"ilmu" lainnya, oleh karenanya landasan ontologi ini tidak serta merta dapat digali oleh pengkajian berfikir ilmiah yang dapat merubah atau pergeseran "ilmu kesejahteraan sosial". Kalau pun dari karya disertasi ini menemukan aspek ontologi baru maka akan memunculkan sebuah penelaahan mendalam kembali sehingga hasil disertasi ini akan mengantarkan pada suatu pengetahuan baru, kemudian dengan cara tertentu dielaborasi menjadi sebuah "ilmu" dan menjadi "ilmu" pengetahuan baru, dengan kajian filsafat terhadap "ilmu" yang baru ditemukan itu.

Manfaat akademik dan praktis dari penulisan disertasi ini sebagian besar dapat memberikan pengaruh dan dampak pada pengembangan "ilmu" dari landasan epistemologi dan axiologi. Dengan memainkan capaian dan manfaat akademik dan praktis dari penulisan disertasi pengembangan "ilmu kesejahteraan sosial" dapat dilakukan. Etika keilmuan dan moral ilmiah dalam penulisan disertasi yang dijaga dengan tingkat objektivitas yang tinggi serta kaidah-kaidah metode ilmiah serta pertanggunjawaban diri yang kuat bagi integritas pengembangan "ilmu" menjadi kunci utama agar hasil penulisan disertasi tidak membelokkan arah ontologi "ilmu" yang sudah menjadi aspek yang khas dari "ilmu" itu sendiri.

Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_kesejahteraan_sosial
2. blogs.unpad.ac.id/.../tinjauan-kritis-tentang-ilmu-kesejahteraan-sosial-dalam-filsafat-ilmu/
3. laely-widjajati.blogspot.com/.../peningkatan-wawasan-sdm-inspektorat.html
4. laely-widjajati.facebook/Alhamdulillah.... Listriknya hanya mati suri/

"ILMU ALAMIAH DASAR"

"Ilmu Alamiah Dasar" merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep "dasar" dalam bidang "ilmu" pengetahuan "alam" dan teknologi". 

Dan, manusia sebagai subjek pokoknya yang dalam hal ini merupakan makhluk hidup yang paling tinggi kedudukannya. Salah satu indikatornya ialah sifat unik manusia. Dibandingkan dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, tetapi rohani atau akal budi dan kemauannya sangat kuat. Umumnya dikatakan bahwa manusia dan binatang berbeda karena akal budi yang dimilikinya. Akal bersumber pada otak. Dan, budi bersumber pada jiwa. Oleh karena itu, sejalan dengan perkembangannya menusia memanfaatkan akal budi yang dimilikinya dan juga ditunjang dengan rasa ingin tahu, maka berkembanglah pula "ilmu" pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Perkembangan pengetahuan pun lebih berkembang lagi manakala ditunjang dengan adanya tukar menukar informasi antar manusia.

PENGERTIAN "ILMU ALAMIAH DASAR". 

"Ilmu Alamiah Dasar"jika dipenggal berasal dari tiga suku kata. "Ilmu" artinya bagian dari "ilmu" pengetahuan manusia. "Alamiah" artinya terjadi dengan sendirinya dan "dasar" artinya permulaan suatu bentuk. Istilah ini berasal dari Eropa Daratan (Belanda,Jerman,Inggris,danAmerika). Yang mana istilah ini masuk ke indonesia pada zaman yang berbeda-beda. "Ilmu alamiah" dapat dilihat dalam arti luas dan dalam arti sempit. 

Dalam arti luas "ilmu" mencakup semua pengetahuan, "Ilmu Alamiah Dasar" adalah merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep "dasar" dalam bidang "ilmu" pengetahuan "alam" dan teknologi dalam manusia. "Ilmu Alamiah" atau biasa disebut dengan "ilmu" pengetahuan ("natural science") merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam "alam" semesta termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. "Ilmu Alamiah Dasar" hanya mengkaji konsep-konsep dan prisip-prinsip "dasar" yang esensial saja. 

Bagian-bagian dari "Ilmu Alamiah Dasar" meliputi penciptaan manusia yang telah diberikan akal untuk berfikir, lahirnya "ilmu alamiah", keterbatasan "ilmual amiah", pembagian "ilmu" pengetahuan dan sebagainya. "Ilmu Alamiah Dasar" merumuskan pemikiran yang selalu dilandasi oleh realisme, karena "ilmu" sains ini mempelajari tentang metode "alamiah" dan gejala "alamiah" sehingga tidak dapat terlepas dari objek yang mengkaitkan panca indra. 

Jadi pengertian "Ilmu Alamiah Dasar", adalah pengetahuan "dasar" yang mempelajari "alam" semesta, dan dapat dikatakan sebagai konsep awal terbentuknya "ilmu" pengetahuan "alam". yang dapat dipelajari dengan cara  metode-metode  atau  prinsip-prinsip   yang   tidak   dapat   lepas    dari    kenyataan     (realitas).

BAGIAN-BAGIAN DARI "ILMU ALAMIAH DASAR".

A. Manusia.

Manusia adalah mahluk yang lemah dibandingkan dengan mahluk lain . Namun dengan akal budinya serta kemauan yang kuat manusia dapat mengembangkan kemampuan dan tekhnologi . Dan dengan "ilmu" pengetahuan manusia bisa hidup lebih baik lagi . Manusia adalah sebaik-baiknya makhluk yang telah diciptakan Tuhan . Patutnya syukurilah nikmat yang diberikan oleh TuhanYang Maha Esa karena dengan nikmatNya kita diberikan akal untuk berfikir , membedakan yang baik dan buruk juga dapat memperoleh "ilmu" pengetahuan .

Sifat manusia selalu tidak pernah puas , maka ketersediaan sumber daya yang terbatas tidak bersesuaian dengan keinginan manusia yang tidak terbatas . Manusia pun mempunyai keinginan rasa ingin tahu terhadap rahasia "alam", selalu mencoba mencari jawaban dengan pengamatan dan penggunaan pengalaman.  Pengetahuan baru dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan disebut mitos.
B. Mitos.

Pengetahuan baru dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan disebut mitos . Cerita – cerita pada mitos disebut legenda . Kebenaran mitos masih bersifat simpang-siur karena tidak ada bukti otentik dan disebarkan melalui cerita dari mulut ke mulut (lisan) . Mitos dapat diterima karena keterbatasan pengindraan, penalaran, dan hasrat ingin tahu yang harus dipenuhi. Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babilonia yaitu kira-kira tahun 700-600 SM . Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan, atau mitos. Pengetahuan ini disebut pseudo science (sains palsu). Ini adalah "ilmu" pengetahuan yang masih diragukan kebenarannya.

C. Lahirnya "Ilmu Alamiah".

Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan dimana tanggapan itu menjadi sebuah pengalaman. Pengalaman merupakan salah satunya alasan terbentuknya pengetahuan yakni kumpulan fakta-fakta yang pernah terjadi.

D. Keterbatasan "Ilmu Alamiah".

Bidang "ilmu alamiah" yang menentukan "ilmu alamiah" adalah metode ilmiah . Tujuan "ilmu alamiah" adalah membentuk dan menggunakan teori. "Ilmu alamiah" tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan. Manusialah yang menilai apakah "ilmu" yang dipakainya baik atau buruk.

E. Pembagian "Ilmu" Pengetahuan.

"Ilmu" pengetahuan sosial.
Yakni "ilmu" pengetahuan yang membahas hubungan antara manusia sebagai mahluk sosial . Bagaimana hubungan timbal-balik antar manusia satu dengan manusia lainnya atau mahluk lain. Yang terbagi atas: Psikologi, Pendidikan, Antropologi, Etnologi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi.


"Ilmu" Pengetahuan "Alam".
Yakni "ilmu" yang membahas tentang "alam" semesta , jagat raya dan seluruh isinya.  Tentang penciptaannya dan teori-teori pengetahuan yang bersifat ilmiah. Yang terbagi atas: Fisika, Kimia, dan Biologi.

"Ilmu" pengetahuan bumi dan antariksa.
Yakni "ilmu" yang membahas tentang bumi dan isinya serta antariksa yaitu ruang angkasa dan benda-benda langit yang ada di dalamnya . Yang terbagi atas: Geologi dan Astronomi.

Sumber:
1. ratnawidya04.blogspot.com/2012/04/ilmu-alamiah-dasar.html
2. sennamahartika.blogspot.com/.../pengertian-ilmu-alamiah-dasar.html
3. aiiazzsecret.blog.com/.../pengertian-ilmu-alamiah-dasar-dan-bagian-bagiannya/
4. laely-widjajati.blogspot.com/.../peningkatan-wawasan-sdm-inspektorat.html
5. edowartblogspotscom.blogspot.com
6. unidentifyowner92.blogspot.com


MusicPlaylistView Profile