Selasa, 19 Februari 2013

"JABATAN ADALAH AMANAH"

 "Jabatan" adalah sebahagian atau cabang dari suatu organisasi yang besar yang mempunyai tanggungjawab dan fungsi yang spesifik.


"Jabatan" bukanlah hak, tetapi merupakan "amanah" dan kepercayaan dari Allah dan juga dari rakyat. Beberapa Hadits yang menjelaskan tentang "Jabatan", antara lain:

Dari Abu Dzar RA Ia berkata “saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi "Jabatan" kepadaku? Maka beliau menepak bahuku, kemudian bersabda, ‘Wahai Abu Dzar, sungguh kamu seorang yang lemah, sedangkan "Jabatan" adalah suatu kepercayaan, yang pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan hak dan menunaikan dengan sebaik-baiknya. (HR. Muslim)

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari hadis Rasulullah di atas. Pertama, hadis di atas memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana cintanya Rasulullah kepada para sahabat-sahabatnya. Beliau tidak ingin para sahabatnya terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Beliau menginginkan semua sahabat-sahabatnya selamat dan sejahtera baik dunia maupun akhirat. Cintanya Rasulullah kepada para sahabatnya seperti halnya beliau mencintai dirinya sendiri.

Salah satu bentuk kecintaannya, Beliau tidak mau memberikan "Jabatan" kepada Abu dzar  karena beliau sangat mengetahui betul bagaimana kemampuan masing-masing sahabatnya. Abu dzar al-Gifari adalah orang yang sangat lemah sementara "Jabatan", kekuasaan harus dipegang oleh orang yang kuat, berani, dan bermental baja disamping jujur dan "amanah".

Seorang pejabat adalah seorang yang mampu menempatkan sesuatu secara profesional, memiliki visi ke depan tidak hanya kepentingan sesaat, pendek dan semu. Namun sampai jauh ke depan yakni negeri akhirat.

 Yang ke dua, hadis tersebut mengisaratkan kepada kita terutama bagi mereka yang memegang "Jabatan" atau kekuasaan bahwa sesunggunya "Jabatan" adalah "amanah", "amanah" dari Allah dan juga "amanah" dari rakyat.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsirnya al Misbah mengartikan "Amanah" adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya. "Amanah" adalah lawan dari khianat. Ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang dinilai oleh pemberinya dapat memelihara dengan baik apa yang diberikannya itu.

Agama mengajarkan bahwa "amanah" / kepercayaan adalah asas keimanan. Berdasarkan sabda Nabi SAW, “ Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki "amanah".” Selanjutnya, "amanah" yang merupakan lawan dari khianat adalah sendi utama interaksi. "Amanah" tersebut membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan itu melahirkan ketenangan batin yang selanjutnya melahirkan keyakinan.

"Jabatan" atau kekuasaan adalah "amanah" dari Allah, karena memang hanya atas izin Allah seseorang bisa / mampu menduduki "Jabatan" atau kekuasaan. Sebagaimana firmanNya:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
Katakanlah: Wahai Allah pemilik kekuasaan / kerajaan ! Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang engkau kehendaki dan egkau cabut kerajaan dari siapa yang engkau kehendaki.” (Ali Imran /3/ 26)

"Jabatan" dan kekuasaan adalah "amanah" dari rakyatnya, karena selain atas izin Allah, seorang bisa menjadi pemimpin / penguasa pasti melibatkan andil besar dari rakyatnya, apalagi dalam konteks bangsa Indonesia dalam lima tahun sekali, rakyat Indonesia memberikan kepercayaan kepada calon-calon pemimpin legislatif maupun eksekutif melalui proses besar yang kita kenal dengan istilah "PEMILU".

Karenanya Allah SWT mengingatkan orang-orang yang beriman jangan sekali-kali mengkhianati "amanah"-"amanah" yang sudah dipercayakan. Sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati "amanah" yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. ( Al-Anfal/8/27 )

Yang ke tiga, hadis di atas mengingatkan kepada kita terutama yang diberi kepercayaan untuk mengemban amanat. Bahwa siapa saja yang menyia-yiakan dan mengkhianati "amanah" akan mendapatkan malapetaka, kehinaan dan penyesalan yang besar tidak hanya di dunia bahkan sampai ke negeri akhirat.

Namun seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, yang senantiasa mencintai dan dicintai rakyatnya serta mendahulukan kepentingan rakyat dan bangsanya diatas kepentingan pribadi, keluarga, partai / kelompoknya akan mendapatkan tempat yang terhormat di sisi Allah SWT, dia akan mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT saat tidak ada satu pun yang bisa melindung kecuali Dia.

Tentu saja untuk mendapatkan predikat sebagai pemimpin atau pejabat yang adil bukan merupakan sesuatu yang mudah. Namun perlu perjuangan, pengorbanan, dan keikhlasan. Dan itu bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan mendasar. Salah satunya adalah dia harus tahu betul apa saja yang menjadi hak-hak dan kewajibannya kemudian ia memanfaatkan dan menunaikan semua hak dan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya.

Sumber:
1. www.nuansaislam.com/index.php?...jabatan-adalah...
2. ms.wikipedia.org/wiki/Jabatan
3. www.padangmedia.com/.../79250-Daniel--Jabatan-adalah-Amanah-Pimpinan.html
4. Laely.Widjajati.Photos.Facebook/Habis-Libur,-Ayoooo-Bekerja-Semangaaaaaaat.............../
5. Hepi.Say.Photos.Facebook/3 angel... Menyelesaikan misi../
6. Hepi.Say.Photos.Facebook/Menelusuri kali... Dg riang biarpun deg2../

0 komentar: