Minggu, 30 Desember 2012

"ANTROPOLOGI AGAMA"

"Antropologi Agama" adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari tentang manusia yang menyangkut "agama" dengan pendekatan budaya, atau disebut juga "Antropologi Religi"


Meskipun ada yang berpendapat ada perbadaan pengertian antara "Antropologi Agama" dengan "Antropologi Religi", namun keduanya mengandung arti adanya hubungan antara manusia dengan kekuasaan yang ghaib. Keduanya juga menyangkut adanya buah pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan kekuasaan yang tidak nyata.
Buah pikiran dan perilaku manusia tentang ke"agama"an dan kepercayaannya itu pada kenyataannya dapat dilihat dalam wujud tingkah laku dalam acara dan upacara-upacara tertentu menurut tata cara yang ditentukan dalam "agama" dan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian "Agama" tidaklah mendekati "agama" itu sebagaimana dalam teologi (Ilmu Ketuhanan), yaitu ilmu yang menyelidiki Wahyu Tuhan.

LATAR BELAKANG SEJARAH
Perhatian manusia terhadap sikap dan perilaku ke"agama"an dimulai sejak orang barat berkelana dan mencekaramakan pengaruh kolonialisme dan imperialisme di dunia timur. Diantara yang tertarik berpendapat karena apa yang mereka ketahui merupakan hal-hal baru dan aneh-aneh jika dibandingkan dengan sikap perilaku dan upacara-upacara ke"agama"an (Kristen) yang mereka anut.
Tanggapan aneh tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah sikap perilaku ke"agama"an masyarakat sederhana itu adalah bentuk-bentuk ke"agama"an dan kepercayaan yang merupakan cikal bakal dari bentuk-bentuk ke"agama"an yang ada kemudian dan sudah jauh lebih maju, seperti halnya "Agama" Hindu, Kristen dan "Agama" Islam. Tanggapan ke arah asal mula dari unsur-unsur universal tentang "agama", seperti mengapa manusia percaya kapada adanya kekuasaan yang ghaib, mengapa pula manusia bersikap dan berperilaku dengan berbagai cara dan upacara yang bermacam-macam dalam berhubungan dengan kekuasaan ghaib.
Para sarjana yang mengolah labih lanjut tentang ke"agama"an primitif berpendapat bahwa "agama" atau "religi" dan kepercayaan kuno itu adalah sisa-sisa dari bentuk "agama" purba yang dianut oleh seluruh umat manusia ketika budayanya masih sederhana. Jadi, bukan hanya di dunia timur tetapi di dunia barat juga ada ketika masyarakatnya masih sederhana.
Diantara para sarjana ada yang berushan menyusun teori tentang asal mula "agama". Diantara mereka adalah para ahli filsafat, sejarah, sarjana-sarjana filologi yang ahli meneliti naskah-naskah kuno dengan bahasa kuno, dan sebagainya.

CARA MEMPELAJARI
Yang menjadi titik studi "Antropologi Agama" adalah bukan kebenaran ideologis melainkan kenyataan yang nampak yang berlaku, yang empiris, atau juga bagaimana hubungan pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan yang ghaib.
Beberapa cara dalam studi "Antropologi Agama", yaitu dengan mempelajari dari sudut sejarah, ajarannya yang bersifat normatif, atau dengan cara deskriptif atau dan dengan cara yang bersifat empiris.
1. Metode Historis
Dengan metode yang bersifat sejarah yang dimaksud ialah menelusuri pikiran dan perilaku manusia tentang "agama"nya yang berlatar belakang sejarah, yaitu sejarah perkembangan budaya "agama" sejak masyarakat manusia masih sederhana budayanya sampai budaya "agama"nya yang sudah maju. Misalnya bagaimana timbul dan terjadinya "agama" tersebut dan lain-lain.
2. Metode Normatif
Dengan metode normatif dalam studi "Antropologi Agama" dimaksudkan mempelajari norma-norma (kaidah-kaidah, patokan-patokan atau sastra-asatra suci "agama") maupun yang merupakan perilaku adat kebiasaan yang tradisional yang tetap berlaku, baik dalam hubungan manusia dengan alam ghaib maupun dalam hubungan antara sesama manusia yang bersumber dan berdasarkan ajaran-ajaran "agama" masing-maisng. Artinya berpangkal tolak pada norma-norma "agama" yang eksplisit berlaku, yang ideologis berlaku. Dengan metode ini akan ditemukan pikiran dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan yang ghaib atau juga sesama manusia.
3. Metode Deskriptif
Dengan metode ini dalam "Antropologi Agama" dimaksudkan ialah bersaha mencatat, melukiskan, menguraikan, melaporkan tentang buah pikiran sikap tindak dan perilaku manusia yang menyangkut "agama" dalam kenyataan yang implisit. Adapun tentang kaidah-kaidah ajaran yang eksplisit tercantum dalam kitab-kitab suci dan kitab-kitab ajaran agama yang dikesampingkan.
4. Metode Empiris
Metode ini mempelajari pikiran sikap dan perilaku "agama" manusia yang diketemukan dari pengalaman dan kenyataan di lapangan. Artinya yang berlaku sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dengan menitikberatkan perhatian terhadap kasus-kasus kejadian tertentu (metode kasus). Peneliti dituntut terlibat langsung, misalnya peneliti berperan langsung dapat menyaksikan terjadinya acara perkawianan yang berbeda "agama" atau perkawianan-perkawianan yang berlaku di antara para penganut "agama" suku dan sebagainya.

"AGAMA" DAN BUDAYA
"Agama" adalah keyakinan sedangkan budaya adalah hasil akal pikiran dan perilaku manusia. Suatu keyakinan adalah hal yang mutlak berdasarkan kepercayaan manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan hasil karya manusia berdasarkan kenyataan. Namun tidak dapat dibantah baik "agama" atau budaya berpangkal tolak dari adanya manusia, tidak ada "agama" tanpa manusia dan karena manusia budaya maka ada "agama". Mengapa sukar memisahkan "agama" dan budaya , oleh karena "agama" tidak akan dianut umatnya tanpa budaya. 

ISTILAH "AGAMA"
"Agama" artinya dengan istilah asing relige atau god sdienst(belanda) atau religion (inggris). Istilah "agama" berasal dari bahasa sansekerta yang perngertiannya menunjukkan adanya kepercayaan manusia berdasarkan wahyudari tuhan.dalam arti liguistik kata agama berasal dari suku kata "A-GAM_A" kata A berakti tidak , kata gam berarti pergi aau bejalan, sedangkan kata A merupakan kata sipat yang menguatkan yang kekal. Jadi istilah "AGAMA" mengandung arti pedoman hidup yang kekal (Hasan Shadily, Ensiki, 1980:105
Menurut kitab sunarigama istilah "agama" berasal dari kata "A-GA_MA", kata A berakti Awang-awang’(kosong atau hampa),kata GA artinya Genah (bali :tampat)kata MA arinya matahari(terang bersinar).

B. ISTILAH "RILIGI"
Kata religi berasal dari bahasa asing ‘religie’ atau godsdienst’ (belanda) atau religion’ (Inggris).menurut sidi gazalba ‘rligare’ dalam bahasa latin. Relegere’ maksudnya ialah berhati-hati dan perngertian dasar (grondbegrip), yaitu dengan berpegang pada aturan-aturan dasar, yang menurut anggapan orang romawi bagwa regilare’ berarti mangikat, yaitu yang mengikat manusia dengan sesuatu kekuatan tenaga ghaib (sidi Gazalba 1962:18).

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa istilah "religi" mengandung arti kecenderungan batin (rohani ) manusia untuk berhubungan dengan kekuatan dalam alam semesta, dalam mencari nilai dan makna dari sesuatu yang berbada sama sekali dari apa yang didikenal dan dialami manusia. Kekuatan itu diangagap suci dan dikagumi karena luar biasa. manusia percaya bahwa yang kudus itu ada dan di luar kemampuan dan kekuasaanya. Oleh karenanya manusia berusaha menghormatinya, meminta perlidungan kepadanya dan menjaga keseimbangan dengan berbagai cara upacara.

Dalam pengertian yang lain istilah "religi" merupakan dan perilaku kebiaasaan yang tradisional berdasarkan tuntutan kitab-kitab suci yang merupakan himpunan peraturan ke"agama"an yang digunakan sebagai pedoman hidup manusia guna meningkatkan mutu kerohaniannya mencapai kesempurnaan . dengan demikian baik istilah "agama" ataupun "religi" yang dimaksud ialah menunjukkan adanya hubungan antara manusia dengan kekuasaan ghaib di luar kekuasaan manusia, berdasarkan keyakinan dan kepercayaan menurut paham atau ajaran "agama" dan kepercayaan masing-masing, baik bagi masyarakat yang masih sederhana budayanya maupun masyarakat yang sudah maju budanyanya.

Nama "agama". Istilah "agama" atau religi’ menunjukan pengertian bahwa manusia menganut kepercayaan kepada yang ghaib. Pada masyarakat sederhana yang tidak mengenal istilah "agama", kepercayaan kepada yang ghaib merupakan sebagian dari adatnya yang tradisional. Jadi apa yang dinamakan ‘"agama" suku’ adalah bagian dari ‘ adat suku’ yang menyangkut ke"agama"an.
Bagi umat Islam pengertian istilah "agama" sebagai cara atau jalan berhubungan dengan Tuhannya digunakan istilah ‘syari’at tharikat, shiratal Mustaqim(jalan yang lurus). Jadi apabila digunakan penafsiran menurut Islam, maka yang diartikan "agama" adalah apa yang disyariatkan Allah dengan perantaraan para nabiNya, yang berupa perintah-perintah dan larrangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan hidup manusia di dunia dan di akhirat. 
        Ciri-ciri "agama" adalah terdiri dari:
1. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2. Mengadakan hubungan dengan Tuhan dan melakukan upacara (ritus) pemujaan dan permohonan.
3. Adanya ajaran tentang keTuhanan
4. Adanya sikap hidup yang ditumbuhkan oleh ketiga unsur tersebut, kepercayaan, adanya hubungan dengan Tuhan dan ajaranNya.
Dengan demikian kepercayaan yang tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut merupakan budaya "agama" atau "agama" kebudayaan.

"AGAMA" SAMAWI DAN WAD’I
Dilihat dari sumber terjadinya "agama", maka "agama" itu dapat dibedakan dalam dua kategori, yang dinamakan ‘"agama" samawi’ aau ‘" langit, dan ‘"agama" wad’I atau ‘" bumi’
1. "Agama" samawi adalah "agama" yang diungkapkan dengan wahyu’( revealed religion ) yang bersumber dari wahyu tuhan. Misalnya menurut "agama" Kristen kitab terakhir perjanjian baru adalah wahyu, yang di dalamnya teologi dikatakan bahwa wahyu adalah pengalaman yang terakhir pada adanya cara yang baru sekali dalam memandang dunia dan kehidupan manusia. Pengalaman yang diterima berdasarkan wahyu itu karena tidak dapat terjadi melalui usaha akal pikiran penelaahan manusiaa, tetapi merupakan pengetahuan terhadap kebenaran yang diilhami. Namun wahyu tidak sama dengan ilham, oleh karena wahyu hanya dapat diterima para rasul dan nabi, sedangkan ilham hanya didapat oleh manusia selain rasul dan nabi.

2. "Agama" wad’I ialah "agama" duniawi [natural religion] yang tidak bersumber pada wahyu illahi melainkan hasil ciptaan akal pikiran dan perilaku manusia, oleh karenanya  disebut juga "agama" budaya’. "Agama" wad’I lahir berdasarkan filsafat atau dari para penganjur "agama" bersangkutan. Termasuk dalam golongan "agama" ini antara lain seperti "agama"-"agama" Hindu, "agama" Budha, tao [sumber mutlak seluruh isi alam] yang disamakan dengan ‘ahuta mazda’ [persi], kong-hu-cu [k’ung fu-tze) dan berbagai aliran paham ke"agama"an lainya.

Ciri-ciri "agama" wad’I ialah sebagai berikut :
a. Konsep ketuhanannya tidak monetheis, bahkan tidak jelas.
b. Tidak disampaikan oleh rasul allah sebagai utusan tuhan.
c. Kitab sucinya bukan berdasarkan wahyu tuhan.
d. Dapat berubah tejadinya perubahan masyarakat pengaruhnya.
e. Kebenaran ajaran dasarnya tidak tahan kritik terhadap akal manusia.
f. System terasa dan berpikirnya sama dengan system merasa dan berpikir kehidupan masyarakat penganutnya.

Menurut "agama" Hindu, weda adalah wahyu bukan buatan maha resi atau manusia, berdasarkan Manawa dharmacastra ll. 10. Jadi "agama" Hindu bukan "agama" budaya hasil cipta manusia (cudamani, 1987: 1-2)

"AGAMA" BUDAYA DAN BUDAYA "AGAMA""
A. "Agama" Budaya
Timbulnya "agama" budaya dalam alam pikiran manusia adalah dikarenakan adanya getaran jiwa yang disebut’emosi ke"agama"an’atau ‘religious emotion’ menurut Koentjaraningrat emosi ke"agama"an ini biasanya pernah dialami setiap manusia. Walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilangkan lagi. Adanya emosi ke"agama"an itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi (Koentjaraningrat, 1979:394). Pendapat ini sejalan dengan pendapat E.Durkheim dalam uraiannya tentang asal mula "agama" (1912), yang di Indonesia banyak dianut oleh para penganut aliran kepercayaan.n
Jadi menurut pendapat tersebut yang menjadi sebab latar belakang orang berperilaku ke"agama"an, percaya kepada yang ghaib adalah dikarenakan ada dorongan emosi ke"agama"an dalam batin manusia sendiri. Karena adanya emosi ke"agama"an maka timbullah pemikiran, pendapat, perilaku kepercayaan terhadap sesuatu benda yang dianggap mempunyai kekuatan luar biasa, dianggap keramat atau dikeramatkan dan dianggap suci, serta disayangi atau ditakuti. Jadi dalam system merupakan unsur-unsur yang dipertahankan dan dilaksanakan para penganutnya sebagai berikut:
1. Memelihara emosi ke"agama"an.
2. Yakin dan percaya pada ghaib-ghaib,
3. Melakukan acara dan upacara-upacara tertentu.
4. Mempunyai sejumlah pengikut yang mentaati.
Keempat unsur tersebut saling bertautan satu sama lain, yang kesemuanya berdasarkan keyakinan dan kepercayaan terhadap hal-hal yang ghaib, yang ditakuti atau disayangi, yang disebut tuhan, dewa-dewa, roh-roh atau makhluk halus di sekitar jagad raya ini, baik yang bersifat jahat maupun yang bersifat baik.
Hasil karya yang timbul dari akal pikiran dan perilaku manusia dalam bentuk-bentuk nyata, dangan maksud agar emosi ke"agama"an tetap bergelora, agar keyakinan dan kepercayaan terhadap yang ghaib tetap kuat bertahan, agar acara dan upacara ke"agama"an berjalan sebagaimana mestinya, agar keyakinan akan kebenaran menurut ajaran "agama" dan keperecayaan masing-masing berkembang meluas di kalangan umat manusia, maka terjadilalah berbagai bentuk budaya "agama".
B. Budaya "Agama"
Baik "agama" wahyu (samawi), seperti Hindu, Kristen dan Islam, maupun "agama" budaya (wad’I), seperti Budha pada mulanya, dan berbagai ajaran ke"agama"an seperti tao, kong-hu-chu,dan berbagai aliran paham keagamaan dan kepercayaan pada yang ghaib, yang dianut masyarakat sederhana atau atau masyarakat yang sudah maju, memiliki budaya "agama", yaitu hasil. Hasil pemikiran dan perilaku budaya yang menyangkut ke"agama"an. Budaya masing-masing, ada yang muncul dalam benak manusia berdasarkan kehendak yang diwahyukan tuhan kepada para nabi, dan ada yang muncul dalam benak manusia berdasarkan emosi keagamaan peribadi manusia sendiri.

TEORI ASAL MULA "AGAMA".
Ketika para sarjana mencoba merumuskan teori-teori tentang asal mula terjadinya "agama", ilmu pengetahuan yang disebut "Antropologi" belum ada, yang baru ada adalah etnografi, lukisan tentang suku-suku bangsa sederhana yang kemudian menjadi etnologi, yaitu ilmu tentang bangsa-bangsa (sederhana) para ahli yang berpendapat tentang asal mula "agama" adalah ahli sejarah c. de Brosses (1967) ahli filsafat August Comte(1850) ahli filologi F.Max Muller 1880) dan lainya dan kemudia n muncul teori-teori dari para ahli "Antropologi" seperti E.B. Tylor (1889) R.R.Marett (1909), J.G.franzer (1890) E.Durkheim (1912) dan W.Schmidt (1921) (Koentjaraningrat (1966) ; 207-208) dari teori –teori mereka ini orang berpendapat bahwa perkembangan "agama" itu mulai dan animism, dinemisme, politeisme dan baru kemudian menoteisme.

A. TEORI TAYLOR
Sarjana yang diangap pertama kali mengemukakan pendapat bahwa asal mula dari "agama" adalah dinamisme’ paham tentang jiwa atau roh dia adalah sejana "Antopologi" Inggris E.B. Taylor dalam bukunya ‘primitive Culture’ mengapa manusia sederhana menyadari tentang adanya jiwa atau roh, dikarenakan yang Nampak dan dialami sebagai berikut:
§ Peristiwa hidup dan mati
Bahwa adanya hidup karena adanya gerak, dan gerak itu terjadi karena adanya jiwa. Dan apa bila jiwa itu lepas dari tubuh maka berakti mati dan tubuh tidak bergerak.
§ Peristiwa mimpi
Bahwa ketika manusia itu tidur atau pingsan ia mengalami mimpi dimana tubuh itu diam dan masih ada gerak (nafas), tetapi ia tidak sadar karena sebagian dari jiwanya terlepas dan gentayangan ke tempat lain.
Menurut Taylor kepercayaan manusia sederhana terhadap jiwa latin; anima.) di dalam sekitarnya itulah yang disebut animism yang merupakan asal mula "agama", yang kemudian dikembangakan menjadi Dynamisme. Polytheisme, dan akhirnya menotheisme. Dengan demikian animism itu adalah paham kepercayaan manusia tetang adanya jiwa.

B. TEORI MARETT
Dikemukakan oleh R.R Marett seorang "Antropologi" Inggris di dalam bukunya The Threshold of Religion’ (1909), berarti setelah 36 tahun teori animism berkembang. Berpendapat bahwa bagi masyarakat yang budayanya masih sangat sederhana belum mungkin dapat berpikir dan menyadari tentang adanya ‘jiwa’ jadi katanya pokok pangkat dari perilaku ke"agama"an bukanlah kepercayaan terhadap roh-roh halus, melaikan timbul karena perasaan rendah diri manusia terhadap berbagai gejala dan peristiwa yang dialami manusia dalam hidupnya. Sehingga kekuatan itu bersifat ‘supernatural. Menurut Marett kepercayaan terhadap adanya yang supernatural itu sudah ada sejak sebelum manusia menyadari adanya roh-roh halus (animesme). Oleh karenanya teori Marett ini sering dikatakan pula prae-animesme.

C. TOERI FRAZER
Mengemukakan juga pendapat tentang asal mula "agama" adalah J.G.Frazer dalam bukunya The Golden Bough a Study in Magic and religion (1890) ia berpendapat bahwa manusia itu dalam memecahkan masalah berbagai macam dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan system pengetahuan. Akal manusia itu terbatas semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal pikiran dan pengetahuannya.
Megic itu adalah tanggapan hidup berbagai masyarakat bangsa, sejak jaman purba maupun sekarang masih ada. Orang memperkirakan bahwa para ahli magic itu dengan mantera, jimat dan upacara yang dilakukan dapat menguasai atau mempengaruhi alam sekitarnya.
Menurut Frazer pada mulanya manusia itu hanya mengunakan magic untuk mengatasi masalah yang berada di luar batas kemampuan akalnya, kemudian dikarenakan ternyata usahanya dengan magic tidak berhasil maka mulailah ia percaya bahwa alam semesta ini didiami oleh para makhluk halus yang lebih berkuasa dari padanya. Seterusnya dengan makhluk-makhluk halus itu, sehingga dengan demikian timbullah "agama"("religi")

D. TEORI SCHIMIDT
Serjana Austria W.Schmidt juga mengemukakan teori tentang asal mula "agama", antara lain dalam bukunya ‘Die Uroffenbarung als Antang der Offenbarungen Gonttles (1921) yang berbeda dengan Taylor. Schmindt mengemukakan bahwa ‘monotheisme’ kepercayaan terhadap adanya satu tuhan. Sesungguhnya kepercayaan terhadap adanya satu tuhan. Sesungguhnya bukan penemuan baru tetapi juga sudah tua. Pendapatnya ini sebenarnya berasal dari pendapat ahli sastra Inggris A.lang, yang meramunya dari berbagai kesusasteraan rakyat dari berbagai bangsa di dunia dalam bentuk-bentuk dongeng yang melukiskan adanya tokoh dewa tunggal.

E. TEORI DUHKHEIM
Seorang sarjana filsafat dan Sosiologi bangsa Prancis, yang juga mengemukakan teorinya tentang asal mula "agama" dalam bukunya ‘les forms elementaires de la vie religieuse (1912).
Seperti halnya dengan Marett yang mengemukakan kritiknya terhadap teori Tylor, demikian pula Durkheim yang berpendapat bahwa pada masyarakat yang masih sederhana tingkat budayanya belum mungkin dapat menyadari dan memahami tentang jiwa yang berada dalam tubuh manusia yang hidup dan jiwa yang sudah lepas dari tubuh menjadi roh-roh halus dari orang yang sudah mati.
Menurut Durkheim pengertian tentang emosi ke"agama"an dan sentimen-kemasyarakatan sebagaimana dikemukakan di atas adalah pengertian dasar yang merupakan inti dari setiap "agama" sedangkan kegiatan berhimpunnya masyarakat.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang hidup di kepulauan Nusantara di garis khatulistiwa. Lingkungannya dipenuhi dengan hutan rimba, pegunungan, sungai, danau, rawa-rawa dengan lautan yang luas. Dan binatang-binatang yang ada bermacam-macam dari yang ganas sampai yang jinak. Musim di nusantara hanya dua yaitu kemarau dan hujan tidak selamanya membahagiakan kehidupan manusia tetapi ada kalanya menimbulkan musibah seperti gunung meletus, banjir, kelaparan dan penyakit. Indonesia yang dipenuhi oleh flora dan faunanya menjadikan daya tariknya bukan hanya bagi manusia tetapi makhluk halus yang baik atau jahat. Karena itu bangsa Indonesia sudah semenjak zaman purba, sebelum adanya "agama"-"agama" besar (Hindu-Budha, Kristen dan Islam) telah mengenal kepercayaan kepada kekuatan –kekuatan ghaib dan nenek moyang bangsa Indonesia di zaman purba sudah mengenal alam roh. Hal tersebut diperlihatkan dari suku bangsa di Indonesia yang masih menggunakan kepercayaan lama.
 
RELEVANSI KAJIAN "ANTROPOLOGI" DENGAN "AGAMA".
 
"Antropologi", sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami "agama". "Antropologi" mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen "Antropologi" akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya "Antropologi" merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari "agama" dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan "Antropologis" sangat penting untuk memahami "agama" Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami "agama" Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan "agama" yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan ke"agama"annya. 
 
Para "Antropolog" menjelaskan keberadaan "agama" dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan "religious" atau mystical event. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementera itu "religious" sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi. Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi "agama" sebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi penting "agama" dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesungguhnya mencerminkan betapa "agama" begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan "agama" juga sering muncul dan juga menjadi fenomena global masyarakat. Dua sisi kajian ini―usaha untuk memahami "agama" dan menegasi eksistensi "agama"―sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang "agama" adalah sebagai persoalan universal manusia.

Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia, karena realitas ke"agama"an sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keber"agama"an adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan "agama". Oleh karena itu, "Antropologi" sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan-Islam that is practised-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keber"agama"an manusia.

Di Indonesia usaha para "Antropolog" untuk memahami hubungan "agama" dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang "agama" di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi―abangan, santri dan priyayi―di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara "agama" dan budaya, ataupun hubungan antara "agama" dan politik. Dalam diskursus interaksi antara "agama"―khususnya Islam―dan budaya di Jawa, pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz. Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religio-kulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan "agama" dan politik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi ke"agama"an. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan pada realitas politik, yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan, priyayi dengan partai nasionalis, dan kaum santri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah ke"agama"an.
 
Sumber:
1. dearyrahman.blogspot.com/2010/03/antropologi-agama.html
2. laely.widjajati.photos.facebook.com/NGIYUP-dibawah-Pohon-Cemara....../
3. ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/
4. laely.widjajati.photos.facebook.com/Kok-di blakang q-bnyak-"ULAR" nya-ya-???????????/
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/Pembangunan-MASJID-di Kampus 2-UMSIDA...../
6. laely.widjajati.photos.facebook.com/Pembangunan-GAZEBO-RAKSASA......./

0 komentar: