Jumat, 23 Maret 2012

"Kebiasaan Berjabat Tangan"

"Setiap orang hampir dipastikan pernah "berjabat tangan" bahkan sudah menjadi budaya. Tak hanya sekedar memegang atau meremas "tangan" lawan, sentuhan yang diberikan pun menyiratkan makna tersendiri".


Dua orang yang saling "berjabat tangan" bisa bersentuhan dengan tingkat yang sama. Apakah ketika "berjabat tangan" Anda melakukannya dengan derajat yang sama? "Jabat tangan" Anda dapat di analisa, kualitas sentuhan bisa bermacam-macam, mulai dari cinta sampai kebencian; keduanya bisa cukup bergairah dan panas! Sentuhan yang kurang melibatkan perasaan jauh lebih dingin tetapi sentuhan yang diberikan kepada kita tetap saja memberikan semangat hidup.

Mengapa "kebiasaan" melakukan "jabat tangan" sangat dianjurkan? Rasulullah SAW. mencontohkan ketika bertemu dengan saudara kita sesama muslim, maka hendaklah kita melakukan "jabat tangan" karena "berjabat tangan" itu bisa menggugurkan dosa-dosa. Dengan catatan laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Abu Daud, dari al-Barra’ r.a. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “(Apabila ada) dua orang Islam yang bertemu kemudian mereka "berjabat tangan", maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (melepaskan "tangan" mereka)”. 

Hadits Riwayat Tirmidzi: 4680, al-Shahihah: 160. Hadits Hasan, menjelaskan Hadits Anas ra. dia berkata: "Seseorang bertanya: Ya Rasulallah sesorang dari kami bertemu saudaranya atau temannya, apakah ia membungkuk kepadanya? Beliau menjawab: Tidak." Lalu apakah memeluknya dan menciumnya? Beliau menjawab: "Tidak." Lalu apakah mengambil "tangan"nya dan men"jabat"nya? Beliau menjawab: 'Ya'."
"Jabat tangan" secara psikologis akan mengeratkan hubungan kita. Bahkan persentuhan secara fisik adalah saat hubungan yang dekat antara satu orang dengan orang lain terjadi. Bayangkan saja ketika kita baru bertemu orang yang belum dikenal, kemudian tiba-tiba tersenyum, "berjabat tangan", dan menyapa, pasti kita akan merasa senang dan nyaman dengan sambutan sehangat itu.

Kemudian apa hubungannya antara "jabat tangan" dengan dosa? Pada saat kita "berjabat tangan" dengan orang lain, saat itu kita menyatakan hubungan yang dekat dengan seseorang. Dan setan paling benci dengan hal tersebut. Setan paling benci dengan persaudaraan. Setan paling benci dengan hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Setan akan berusaha mengobok-obok hubungan persaudaraan sesama muslim. Apabila melihat orang-orang yang saling bermusuhan, setan akan bertepuk "tangan". Apabila orang-orang saling membenci, setan tertawa. Namun begitu melihat ada orang "berjabat tangan", setan akan sangat marah.

Jangan anggap remeh ke"biasa"an "berjabat tangan" dengan orang lain.  "Kebiasaan" "berjabat tangan" sangat sederhana. Mem"biasa"kannya juga tidak memerlukan energi yang besar. Cobalah untuk sering-sering "berjabat tangan" dengan orang lain. Apalagi dengan sesama saudara yang jarang bertemu. Terkadang "jabat tangan" hanya dianggap formal dan tidak diresapi maknanya. Jadilah orang yang terlebih dahulu mengulurkan "jabat", bukan yang menunggu uluran "tangan" orang lain.

Agar anda tidak menampilkan kesan yang salah di mata orang yang "berjabat tangan" dengan anda, terutama ketika interview, berikut adalah teknik dan etika "berjabat tangan" secara efektif.
  • Tataplah mata pasangan lawan anda saat "berjabatan tangan" dengannya. Tidak ada hal lebih yang memberikan kesan mengacuhkan, selain "jabatan tangan" tanpa tatapan mata. Bila anda men"jabat tangan" tanpa menatap pasangan lawan, menunjukkan rasa tidak hormat, tidak peduli, acuh dan cuek. Maka, "jabat"lah "tangan" lawan bicara anda dengan menatap mata lawan bicara, sehingga anda dianggap sebagai orang yang punya rasa hormat, peduli, sopan dan juga santun. Inilah etika "berjabat tangan".
  • "Berjabat tangan"lah dari telapak ke telapak. Jika anda melakukan "jabat tangan" dengan berlebihan, seperti menarik "tangan" lawan dan mengayunkan ke atas bawah dengan keras, hal ini sama saja menunjukkan ’dominasi’ atau ’mulut besar’. "Berjabat tangan"lah dengan pas, tidak keras tapi juga tidak terlalu lunak.
  • Jika anda memiliki keyakinan yang tidak membolehkan menyentuh "tangan" lawan jenis, lakukan jenis penghormatan menurut kebiasan yang biasa anda lakukan. Seperti di adat sunda, dengan mengatupkan ke dua lengan di depan dada, atau juga dengan model membungkuk badan seperti kebiasaan orang jepang. Orang akan menghormati anda karena itu merupakan masalah keyakinan. Bisa juga dilakukan, bila memang anda sedang mengalami gangguan pada "tangan", atau radang sendi. Utarakan pada lawan bicara anda, dengan didahului permintaan maaf karena tidak bisa "berjabat tangan" secara normal.
  • Pekalah terhadap situasi dan kondisi, misalnya bila lawan bicara kita memiliki keterbatasan fisik. Jika lawan bicara memiliki cacat pada tangan, gangguan tulang atau artritis, atau misalnya duduk di kursi roda, jangan memaksakan diri untuk "berjabat tangan". Melukai seseorang karena "berjabat tangan" justru akan menutup pintu hubungan komunikasi.
  • Ciptakan "jabat tangan" yang hangat dan memberi kesan makna mendalam. Jika anda "berjabat tangan" lalu segera menarik "tangan" anda kemudian berbicara seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa, maka lawan bicara anda akan menganggap anda sebagai orang yang tidak tulus dan berarti. Karena itu, biarkan "berjabat tangan" sambil memberikan perhatian kepada lawan bicara anda, bisa dengan tatapan mata atau pembicaraan singkat/ringan sebelum menarik "tangan" anda. Ini memberikan kesan anda adalah orang yang punya perhatian.

    Masih banyak cara "berjabat tangan" yang lain, tetapi kebanyakan tidak bermakna khusus selain ungkapan kegembiraan dan keakraban, terutama "jabat tangan" di kalangan anak-anak muda. Jadi dengan memperhatikan cara seseorang "berjabat tangan", sedikit banyak Anda bisa mengetahui sifat dan maksud orang itu. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana kita sendiri "berjabat tangan", amatilah diri Anda dan setelah itu kalau perlu ubahlah dengan gaya yang paling baik, dan lambat laun bawah sadar Anda akan terpengaruh dan akhirnya pembawaan Andapun akan berubah.
    Referensi:
    1. Orang Berdosa Rindukan Surga. Oleh: Syailendra Putra.
    2. chaidirwahyudi.dagdigdug.com/about/  
    3. ahsan.tv/.../78-hadits-"jabat-tangan"-dan-saling-berpelukan-saat-bertem... 
    4. pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/makna-"jabat-tangan"/ 

0 komentar: