Selasa, 08 September 2009

"PERAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA --- MENURUT KONSEPSI ISLAM"

"Sekarang ini bukan saatnya lagi kaum "wanita" menuntut hak, apalagi "wanita" "Islam" di mana sudah dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, berjalan beriringan, serempak dan sepenanggungan dengan kaum Adam sejak "Islam" diwahyukan."


Alangkah sudah terlalu jauh kepercayaan masyarakat kepada kaum "wanita", sampai kita dapat memanfaatkan dalam rangka mengembangkan dan membuktikan peranan kaum "wanita". Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal. Namun apabila keliru menggunakannya akan negatiplah akhirnya. Kaum "wanita" juga sekaligus sebagai ibu adalah mempunyai peranan khusus di mana pihak lain tidak dapat memikulnya.

Pada hakekatnya Pembangunan Indonesia adalah Pembangunan Manusia Seutuhnya, maka kaum "wanita" menduduki peran utama dalam rangka menyiapkan corak bangsa yang bertaqwa dan berbudi luhur --- Karena melalui kaum ibulah generasi bangsa ini lahir, dari karakter "wanita"lah watak bangsa akan tumbuh, dan dari usaha kaum "wanita" martabat bangsa kita bina.

DAri lisan "wanita" suara bangsa dilatih bicara, dari tangan kaum "wanita" mula-mula tangan bangsa kita tuntun, dari sikap kaum "wanita" sikap bangsa dibina dan kehalusan serta ketinggian budi bangsa mereka susun.

Kerendahan budi kaum "wanita" menjadi cermin, rendahnya martabat bangsa, dan kerusakan moral kaum "wanita" faktor penyebab rusaknya bangsa. Sangat tepat ungkapan kata hikmah tentang "wanita" sebagai berikut:
"Wanita" adalah laksana tiang Negara,
Manakala "wanita"nya baik akhlaknya,
Maka baik pulalah negaranya,
Tetapi manakala "wanita"nya jelek,
Maka negara pun rusaklah."

Dalam rangka pembangunan bangsa dewasa ini sudah seharusnya kaum "wanita" menunduk sejenak, melihat pribadinya dan menengok tanggung jawabnya. Merupakan sikap yang sangat terpuji apabila "wanita" memperhatikan corak bangsa yang akan datang, diukur dengan tingkah polah kaum "wanita"nya saat ini.


Kedudukan "wanita" di alam ini, menurut konsepsi "Islam" -- memiliki tugas yang harus ditunaikan, yaitu:


1. "Wanita" diciptakan sebagai sakanah, yang artinya sebagai penyenang dan penenteram. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Ar-Ruum Ayat 21 :

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kamu "istri-istri" dari jenismu supaya kamu tenteram bersamanya ............."
Disini jelas, bahwa upaya menenteramkan dalam keindahan dan kehidupan ini, adalah wewenang dan tugas kaum "wanita" ("istri").


2. "Wanita" ber"peran" sebagai sumber kecintaan dan rasa kasih sayang. Tugas ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Ar-Ruum Ayat 21 : "......... Dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. ........" Dengan demikian, merupakan kewajiban seorang "istri" untuk mempersiapkan program dalam menunaikan tugas menyambut kedatangan suami dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.


3. "Wanita" dibalik "peranan" dan kodratnya sebagai "istri", juga sebagai ratu rumah tangga dan pendidik anak cucunya. Hal ini sebagaimana firan-Nya dalam Surat An-Nahl Ayat 72 : "Allah menjadikan bagi kamu "istri-istri" dari jenis kamu sendiri dan menjadikan dari "istri-istri" itu, anak-anak dan cucu-cucu."
Pendidikan anak dan cucu membutuhkan keluasan cakrawala ilmu bagi sang pendidik. "Wanita" harus pandai baca tulis dengan keluasan ufuknya untuk dapat mengasuh dan mendidik anak di dalam memainkan "peran"nya sebagai ratu rumah tangga.


"Peran" serta dalam program pembangunan termasuk di dalamnya "wanita". "Wanita" sebagai istri dari suami, dan sebagai ibu dari anak-anaknya. Dalam keseharian "wanita" tidak pernah patah semangat dan mengenal lelah dalam mengurus rumah-tangganya, meskipun dalam keadaan lelah.


Di luar kesibukannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan kadang pula sebagai pendukung menambah nafkah untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya, banyak pula "wanita" (para ibu) yang masih sempat dan memprioritaskan waktu untuk berorganisasi yang tentunya tidak sedikit pula kegiatannya, minimal melakukan kegiatan pertemuan setiap bulan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota organisasi "wanita" yang diikutinya.


Banyak kegiatan organisasi "wanita" yang sangat mendukung pelaksanaan pembangunan. Misalnya di setiap pertemuan ada acara yang disajikan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan, diantaranya berupa pengetahuan kesehatan, hukum, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, keterampilan "wanita", etika. estetika dan santapan rohani.


Jadi sebenarnya, tanpa harus bekerja di kantor-pun, "wanita" itu "peranan"nya sudah sangat besar sekali dalam pelaksanaan pembangunan.


"Wanita" sebagai ibu rumah tangga, sebagai pendamping suami dan aktif dalam suatu organisasi "wanita", kiprahnya sangat besar dalam membangun mental bangsa. Makanya kalau "wanita" disebut sebagai tiang negara, itu tidaklah keliru, karena mental bangsa (yang terdiri dari para suami dan anak-anak), terletak pada tangan-tangan para "wanita".


Keberhasilan utama dari "peranan wanita" di masyarakat adalah "peranan"nya bersifat kodrati; Yaitu "peranan"-"peranan" yang hanya secara hakiki dimiliki dan dilakukan oleh kaum "wanita". "Peranan wanita" yang kodrati, perlu dipelihara, dilindungi dan ditingkatkan secara bermanfaat dan adalah merupakan aset bangsa yang sulit diciptakan secara substitusi.


"Peranan" dan kehidupan "wanita" Indonesia secara kodrati, masih banyak memerlukan uluran tangan dari pemerintah, terutama bagi mereka yang terlibat dalam siklus kehidupan yang serba kekurangan dari segala-galanya untuk merubah sifat kodratinya ke tingkat yang relatif lebih baik. Masyarakat "wanita" Indonesia yang jumlahnya lebih dari separuh penduduk Indonesia, memerlukan pelayanan kesehatan, pendidikan dan sumber-sumber penghidupan yang selayaknya sebagai "wanita" yang tanpa kecuali akan ber"peran" secara kodrati sebagai ibu rumah tangga (sebagai istri dan pembentuk generasi baru) dan "peran" kodrati lainnya.


Seiring dengan sifat kodrat, adalah bakat (talent) yang dimiliki oleh kaum alami, tetapi yang lebih penting adalah bakat alami "wanita". Bakat alami yang dikembangkan secara empiris, tradisional akan dapat lebih bernilai apabila dilengkapi dengan skill, informasi dan pengetahuan-pengetahuan yang ditransfer secara pendidikan dan pelatihan. Banyak pekerjaan yang bila diukur efisiensinya, hanya akan lebih efisien apabila dikerjakan oleh pekerja "wanita", dengan alasan ketelitian, kemahiran, terampil dan kesungguhan.

Karakter selanjutnya yang dapat mendukung eksistensi "peranan wanita" adalah kemampuan. Kemampuan disini adalah kemampuan profesional dan teknis. Disini kodrat dan bakat kurang menentukan. Hanya kemungkinan sifat-sifat emosional dan sentimentil terkadang dapat agak terlihat sebagai gambaran sifat feminin dari suatu kaum. Dalam menguasai profesi dalam katagori ini kaum "wanita" adalah sejajar dengan pria dan bersama-sama berkiprah melalui persaingan. Artinya "peranan wanita" telah dapat diukur dengan kualitas dan profesionalismenya. Disini mekanisme yang rasional akan lebih terlihat, dan akan mempunyai dampak yang positif atas usaha-usaha peningkatan "peranan wanita".


"Peranan" kaum "wanita" terutama sebagai ibu, dalam pembinaan mental masyarakat adalah sangat penting, baik atas dasar kodrat, bakat maupun kemampuannya. Pembinaan mental masyarakat, terutama generasi muda, yang dimulai secara dini pada remaja dan anak-anak balita adalah salah satu usaha membina insan kehidupan yang penting.


Dari faktor kodrat, bakat dan kemampuan, yang dapat membentuk pola kehidupan dan "peranan wanita", akan tercipta pula kemandirian dan sikap independen yang menimbulkan kepercayaan diri sendiri dan pengakuan dari kepercayaan masyarakat tentang "peranan wanita".

Aspek-aspek yang memerlukan tingkat perkembangan di kalangan masyarakat, termasuk peningkatan kualitas kaum "wanita" untuk menunjang "peran wanita" di masa mendatang, antara lain terdiri dari aspek perkembangan jasmani, mental dan rohaniah, intelektual/intelegensia, sosial dan spiritual.


Aspek perkembangan tersebut merupakan syarat mutlak untuk menjadikan masyarakat yang berkualitas sebagai sumber daya insani, supaya dapat ber"peran" dalam membangun dirinya dan membangun masyarakat dan bangsanya. Apabila suatu bangsa, terutama kaum "wanita"nya, banyak mengalami perkembangan atas aspek-aspek tersebut, maka dapat dipastikan bahwa proses perkembangan sosial ekonomi bangsa akan lebih cepat geraknya, lebih dinamis sehingga setiap tujuan dan sasaran-sasaran yang direncanakan akan lebih cepat tercapai.

0 komentar: