Rabu, 09 September 2009

"KEWAJIBAN KITA TERHADAP AL-QUR'AN"

"Al-Qur'an" yang kita kenal sebagaimana tertulis di dalam mushaf, tersusun dalam 30 juz, terdiri dari 114 Surat dan mempunyai ayat sebanyak 6236."


Menurut bahasa "Qur'an" berarti "Bacaan". Didalam "Al-Qur'an" sendiri terdapat pemakaian kata "Qur'an" dalam ayat 17 dan 18 Surat Al-Qiyamah :
"Sesungguhnya mengumpulkan "Al-Qur'an" (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami (Karena itu) jika Kami telah membacanya, hendaklah kamu ikut bacaannya."

"Al-Qur'an" bisa didefinisikan sebagai "Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan membacanya adalah ibadah".

"Al-Qur'an" yang kita kenal sebagaimana tertulis di dalam mushaf, tersusun dalam 30 juz, terdiri dari 114 Surat dan mempunyai ayat sebanyak 6236.

Sedangkan fungsi pokok "Al-Qur'an" secara jelas disebutkan dalam firman Allah dalam "Al-Qur'an" Surat Al-Baqarah ayat 185 :

"Pada bulan Ramadhan, diturunkan padanya "Al-Qur'an" guna menjadi petunjuk bagi manusia dan memberi penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda antara yang haq dan yang batil............"

Ayat "Al-Qur'an" pertama kali diturunkan pada saat bulan Ramadhan. Ketika Nabi Muhammad SAW. menginjak usia 40 tahun, beliau lebih banyak mengerjakan tahannuts (bersunyi diri untuk bertafakkur) dari pada waktu-waktu sebelumnya. Pada bulan Ramadhan beliau membawa perbekalan lebih banyak dari pada biasanya, karena akan bertahannuts lenih lama dari pada waktu-waktu sebelumnya. Dalam melakukan tahannuts, kadang-kadang beliau bermimpi dengan mimpi uang benar (Ar ru'yash shaadiqah).

Pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi, di waktu Nabi Muhammad SAW sedang bertahannuts di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril a,s, membawa wahyu (kalamullah) dan menyuruh Muhammad SAW untuk membacanya, katanya "Bacalah." Dengan perasaan gemetar, Muhammad SAW menjawab : "Aku tidak dapat membaca." Beliau lalu direngkuh beberapa kali oleh Jibril as. sehingga nafasnya sesak, lalu dilepaskannya kembali seraya menyuruhnya membaca sekali lagi "Bacalah". Tetapi Nabi Muhammad SAW masih tetap menjawab : "Aku tidak dapat membaca". Begitulah keadaan berulang sampai tiga kali, dan akhirnya Nabi Muhammad SAW berkata : "Apa yang kubaca", kata Jibril :

"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menjadikan, Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu teramat mulia, Yang mengajarkan dengan pena (tulis baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." ("Al-Qur,an" Surat Al-Alaq Ayat 1 - 5).

Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dan ini pulalah saat pengangkatan beliau sebagai Rasulullah (Utusan Allah) kepada seluruh umat manusia untuk menyampaikan risalah-Nya.

Tercatat dalam sejarah bahwa pada saat menerima pengangkatan menjadi Rasul, umur beliau mencapai 40 tahun, 6 bulan dan 8 hari menurut tahun Qamariah atau 39 tahun, 3 bulan dan 8 hari menurut tahun Syamsiah.

Demikianlah riwayat terjadinya pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul yang ditandai dengan turunnya 5 ayat berisi perintah untuk membaca dan memahami asal kejadian manusia.

Sedangkan ayat "Al-Qur'an" yang terakhir kali turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah :

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri duberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya." ("Al-Qur,an" Surat Al-Baqarah Ayat 281).


Imam Nasa'i telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a, bahwasanya ia telah berkata, "Ayat "Al-Qur'an" yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad adalah firman Allah yang berbunyi : "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri duberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya'. Setelah turun ayat terakhir itu, Rasulullah dapat bertahan hidup selama sembilan hari" (H.R. Imam Nasa'i).

Pendapat inilah yang diyakini banyak orang lebih dekat kepada kebenaran. Karena sebagaimana yang kita perhatikan ayat tersebut :

Pertama, mengindikasikan penutupan wahyu dan agama, seperti mempersiapkan bekal dalam menghadapi hari Kiamat dan kembali kepada Allah kelak.
Kedua, Ibnu Abbas menerangkan bahwasanya Rasulullah hanya mampu bertahan hidup selama sembilan hari setelah turunnya wahyu terakhir itu.

Ada pendapat yang menyatakan, sebagian umat Islam menduga bahwasanya ayat "Al-Qur'an" yang terakhir kali turun adalah Surat Al-Maidah Ayat 3 yang berbunyi :

"Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku serta Aku rela Islam menjadi agamamu."


Untuk menjawabnya dapatlah diterangkan bahwa ayat ketiga dari Surat Al-Maaidah ini turun kepada Nabi Muhammad SAW pada saat pelaksanaan haji Wada' pada tahun kesepuluh hijriah atau dua bulan lebih sebelum wafatnya Rasulullah SAW. Sedangkan ayat 281 Surat Al-Baqarah, turun sembilan hari sebelum hari wafatnya Rasulullah.


Sedangkan kewajiban kita terhadap "Al-Qur'an", adalah :

1. Kita berkewajiban untuk selalu memperbaiki bacaan "Al-Qur'an". Kita membaca "Al-Qur'an" dengan basic pendekatan tajwid. Panjang-pendek bacaan "Al-Qur'an" kalau kita salah membacanya akan memiliki arti yang berbeda. Perintah untuk membaca "Al-Qur'an" dengan benar ini sesuai firman Allah dalam "Al-Qur,an" Surat Al-Baqarah Ayat 121 : " Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka beriman kepadanya. Dan barangsiapa mengingkarinya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

2. Kita wajib meyakini kebenaran semua yang terkandung dalam "Al-Qur'an". Kita harus yakin bahwa "Al-Qur'an" adalah sebagai way of life kita. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam "Al-Qur'an" Surat Fushshilat Ayat 41 :"Sesungguhnya orang yang imgkar dengan peringatan ("Al-Qur'an") ketika peringatan itu datang kepada mereka, dan sesungguhnya (peringatan itu) adalah kitab yang mulia."

Dan bagi orang yang meragukan isi "Al-Qur'an", ada peringatan dari Allah sebagaimana firman-Nya dalam  "Al-Qur'an" Surat Al-Baqarah Ayat 23 : "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ("Al-Qur'an") kepada hamba Kami (Muhammad), maka datangkanlah suatu surat (saja) yang semisalnya, dan ajaklah pembantu-pembantu kamu selain dari Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar."

3. Kita wajib berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan semua isi yang terkandung dalam "Al-Qur'an". Di dalam "Al-Qur'an" ada perintah shalat, zakat, puasa dan perintah-perintah yang lain. Kita wajib melaksanakan perintah-perintah-Nya. Dalam "Al-Qur'an" juga ada larangan-larangan-Nya. Kita wajib menjauhi larangan-laranga-Nya. Semua yang diperintahkan oleh Allah pasti menguntungkan manusia, dan semua larangan Allah pasti merugikan manusia. Bagi orang yang tidak mentaati perintah dan laranga-Nya, dapat peringatan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam "Al-Qur'an" Surat Al-Jumu'ah Ayat 5 : "Perumpamaan orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah ibarat keledai yang mengangkut kitab-kitab yang tebal. (Itulah) seburuk-buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim."
Adanya "Al-Qur'an" menunjukkan adanya Allah SWT. Karena "Al-Qur'an" itu berisi ayat-ayat syariat yang dikenal orang, berisi undang-undang yang sangat baik yang amat besar manfaatnya bagi manusia. Seperti halnya "Al-Qur'an" mengandung teori-teori ilmu pengetahuan yang jitu. Disamping itu "Al-Qur'an" mengemukakan hal-hal gaib dan peristiwa-peristiwa sejarah. Semua itu pasti kebenarannya. Tak ada satupun dari hukum-hukum syari'at "Al-Qur'an" yang menjadi usang sepanjang masa, meskipun dalam ruang dan waktu yang berbeda. Tak ada satu teori ilmiah yang paling bersahaja dalam "Al-Qur'an" yang tidak berlaku. Dan tak ada soal gaib pun yang diberitakan "Al-Qur'an" menjadi usang. Demikian pula halnya tak seorangpun ahli sejarah yang berani menolak satu kisahpun dalam "Al-Qur'an", lalu mendustakannya. Atau mendukung orang yang mendustakan atau menafikan satu kejadian sejarah yang diisyaratkan oleh "Al-Qur'an".

Maka, kata yang penuh hikmah dan benar dari "Al-Qur'an" itu tak mungkin akal manusia menganggap bahwa kata-kata "Al-Qur'an" itu buatan manusia, karena "Al-Qur'an" diluar batas kemampuan manusia. Maka "Al-Qur'an" itu menjadi dalil atas dasar adanya Allah, ilmu, kekuasaan dan hikmah-Nya.

Para penghafal "Al-Qur'an" adalah orang-orang pilihan Allah untuk menjaga kemurnian "Al-Qur'an" dari usaha pemalsuan/penyesatan, "Sesungguhnya telah Kami turunkan Adz Dzikra ("Al-Qur'an") dan Kami-lah yang benar-benar menjaganya. ("Al-Qur'an" Surat Al Hijr ayat 9). 

Kita perlu dan harus menghafal "Al-Qur'an" karena beberapa alasan, di antaranya: (Sumber: Majalah Al Falah Januari 2011):

1. "Al-Qur'an" adalah manhajul hayah (pedoman hidup) bagi seluruh manusia.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat Al-Baqarah ayat 185 seperti yang telah dijelaskan di atas.

2. "Al-Qur'an" adalah ruh bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman dalam "Al-Qur'an" Surat Asy Syura ayat 52: "Dan demikianlah kami wahyukan Ruh ("Al-Qur'an") dengan perintah Kami." 

3. "Al-Qur'an" sebagai Ad Dzikra (peringatan).
Dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat Qaaf ayat 45: "... Maka berilah peringatan dengan "Al-Qur'an" orang yang takut kepada ancaman-Ku."

4. "Al-Qur'an" sumber pengetahuan alam. Misalnya dalam firman-Nya tentang lautan dalam "Al-Qur'an" Surat Ar Rahman ayat 19-20: "Dia biarkan dua lautan bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing." "Al-Qur'an" juga menjelaskan tema pendidikan, ekonomi, politik, biologi, astronomi, kedokteran dan lain-lain.

5. Menjaga Ke-mutawatir-an "Al-Qur'an".
Sejak dahulu "Al-Qur'an" dijaga huffazh (penghafal "Al-Qur'an") hingga akhir zaman. "Al-qur'an" yang teriwayatkan secara mutawatir tidak mudah bahkan tidak mungkin diubah atau dipalsukan sebagaimana kitab sebelumnya.

6. "Al-Qur'an" mengangkat kualitas umat.
Dijelaskan dalam "Al-Qur'an" Surat Al Anbiya ayat 10: "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?."

7. Menjaga kelestarian sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
Sebagian ibadah sangat terkait dengan halan "Al-Qur'an". Hafalan yang terbatas pada surat-surat pendek akan membatasi kita dalam meneladani shalat Nabi SAW secara sempurna.

8. Menjauhkan mukmin dari aktivitas laghwu (tak berguna).
Tanpa disadari kita sering terjebak dalam suasana laghwu. Perjalanan dalam bus, kereta api, pesawat, atau kapal sering menyajikan tontonan/lagu yang laghwu. Solusinya adalah membaca "Al-Qur'an", hafalan maupun dengan mushaf. Saat mengendarai kendaraan pribadi - tgerutama saat macet, kita dapat memutar bacaan "Al-Qur'an" atau membacanya secara hafalan. 

9. Melestarikan budaya salafus shalih.
Apabila kita kaji sejarah orang-orang shalih terdahulu (salafus shalih) akan kita dapatkan kehidupan yang cemerlang, dalam hal ilmu maupun ketaqwaan. Diantaranya perhatian yang besar terhadap "Al-Qur'an". Rata-rata mereka hafal "Al-Qur'an" sejak dini. Imam Syafi'i telah hafidz pada usia 10 tahun. Begitu pula Ibnu Sina.

Rasulullah SAW. bersabda, :Orang yang mahir membaca  "Al-Qur'an" disertai duta-duta  Allah (malaikat) yang mulia lagi baik, sedangkan orang yang membaca "Al-Qur'an" dengan tergagap-gagap (karena belum lancar) lagi sangat payah membacanya, maka ia akan memperoleh dua kali lipat pahala. (HR. Bukhari dan Muslim).

0 komentar: