Kamis, 23 Februari 2012

"Jeruk Nipis dan Kecap Sebagai Obat Batuk"

"Orangtua kita dulu meng"obat"i "batuk" dengan "jeruk nipis" dan "kecap". Sebenarnya apa khasiat "jeruk nipis" dan "kecap"?

"Jeruk nipis" tidak diragukan lagi memang terbukti memiliki banyak khasiat, termasuk meredakan "batuk". Sari "jeruk nipis" banyak  digunakan  di  dalam "obat"-"obat"  tradisional, termasuk di dalam   OB ("Obat""Batuk") Herbal. Tapi "kecap"? Kita tidak pernah menjumpai "kecap" masuk dalam formula "obat" "batuk" buatan pabrik. Banyak "obat" "batuk" sirup berwarna cokelat seperti "kecap", namun jelas isinya bukan "kecap".

Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, mengatakan bahwa: "kecap" bukan "obat" utamanya, ia hanya sebagi pembawa. Yang utama adalah "jeruk nipis". Lalu mengapa orangtua kita memilih "kecap", bukan yang lain? Menurut Sumali, itu hanya perkara ketersediaan di dapur. Mungkin pada saat orang-orangtua kita mencoba-coba resep tradisional ini, mereka merasa sari "jeruk nipis" terlalu asam. Lalu mereka mencampurya dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Dari hasil coba-coba itu, mereka menemukan bahwa hasil kombinasi sari "jeruk nips" dan "kecap" paling manjur meredakan "batuk". 'Sebetulnya tidak harus "kecap". Bisa pakai madu atau air gula', kata Prof. Sumali.

Sekarang kita punya lebih banyak pilihan dari pada orang-orangtua kita. Kini di apotek tersedia banyak "obat" "batuk" tradisional yang lebih praktis dan lebih berkhasiat karena berisi lebih banyak herbal. "Obat" "Batuk" Herbal, misalnya tidak hanya berisi sari "jeruk nipis", tapi juga kencur, jahe, timi, mint dan akar manis. Semua bahan herbal ini sudah diteliti dan terbukti dapat meredakan "batuk".

(Sumber: Majalah Intisari. Edisi Juli 2011). 

Rabu, 22 Februari 2012

"Ide Liburan Tanpa Menguras Kantong"

"Liburan" tidak harus menghabiskan puluhan juta rupiah dengan pergi ke negeri tetangga, apalagi tetangga jauh."


Lihat di sekitar kita, masih banyak tempat yang belum kita kunjungi. Berikut ini beberapa ide "Liburan":
1. "Liburan" ilmiah seperti mengunjungi musium.

2. "Liburan" kreatif seperti mengambil kursus singkat memasak atau melukis.

3. "Liburan" sosial seperti mengunjungi panti asuhan atau panti werda

4. "Liburan" alam, dengan ber"libur" ke alam terbuka seperti perkebunan teh, kebun raya, kebun binatang, pemancingan atau peternakan.


(Sumber: Majalah Intisari. Edisi Juli 2011).

Selasa, 21 Februari 2012

"Agar Tidak Stres Pasca Liburan"

"Berapa kali anda ber"libur" dalam satu tahun? Satu atau dua kali karena jatah cuti yang umumnya hanya 12 hari dalam satu tahun?"


Bagaimana anda ber"libur"? Me"libur"kan diri saat anak-anak "liburan" sekolah agar tidak dobel "libur"? Apa yang anda rasakan saat "liburan"? Senang namun juga pusing memikirkan pekerjaan? Bagaimana "pasca" "liburan"? Merasa segar kembali tapi hanya sebentar karena yang mendominasi adalah "stres" "pasca" "liburan" atau bahkan sama sekali tidak tersegarkan?

Berikut ini tips agar anda tidak merasa "stres" "pasca" "liburan", ada beberapa langkah yang dapat anda lakukan:

1. Apabila hendak melakukan "liburan" panjang, persiapkan dengan matang termasuk anggarannya. Untuk yang satu ini, siapkan dengan cukup detail, termasuk mempersiapkan biaya tidak terduga.

2. Jangan ragu mengerem diri dan anak-anak apabila sudah melampaui budget di tengah-tengah "liburan".

3. Apabila kondisi keuangan tidak memungkinkan, tidak perlu berhutang kesana-kemari atau mengandalkan kartu kredit untuk "liburan". Banyak ide "liburan" menarik yang murah meriah.

4. Siap-siap adanya perbedaan pendapat dengan anggota keluarga atau teman-teman saat "liburan". Sebaiknya sudah disepakati sejak awal beberapa hal penting seperti pilihan objek wisata yang hendak dikunjungi.

5. Apabila anda merasa sulit mentoleransi perbedaan karakter, sebaiknya ber"libur" hanya dengan teman-teman yang sudah anda kenal dengan baik. "Liburan" dapat menimbulkan "stres" dan menciptakan hubungan yang tidak baik ketika anda kesulitan beradaptasi dengan karakter teman-tman baru.

6. Kenali lingkungan yang akan anda kunjungi, misalnya sedang musim apa daerah tersebut pada saat ke sana. Dengan demikian anda dapat mempersiapkan pakaian yang tepat atau hal-hal lain yang diperlukan.

7. Jaga kesehatan selama "liburan" . Jangan menyantap makanan yang seharusnya dipantang hanya karena sedang "liburan" . Sedapat mungkin jangan mengubah jadwal makan dan tidur karena dapat mengganggu ketahanan tubuh.

8. Persiapkan diri dengan obat-obatan yang biasa dikonsumsi dan perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan.

(Sumber: Majalah Intisari. Edisi Juli 2011). 

Senin, 20 Februari 2012

"Pentingnya Do'a Saat Sakit"

"Sesungguhnya ber"do'a" saat "sakit", baik yang "sakit" itu diri sendiri maupun orang lain, sangat penting."


Dalam Surat Al-Mu'min ayat 60, dijelaskan:
'Dan Tuhanmu berfirman, 'Ber"do'a"lah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.'

"Do'a", sebagai kata yang berasal dari bahasa Arab du'a, artinya 'seruan, menyampaikan ungkapan, permintaan, permohonan pertolongan'. Sedangkan sebagai istilah adalah berpalingnya seseorang dengan tulus ikhlas kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya. Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Penyayang, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah wujud yang memiliki kebergantungan.

Penyakit adalah salah satu dari contoh tersebut, yang dengan penyakit manusia paling merasakan kebergantungan ini dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Harus disadari, penyakit adalah sebuah ujian, yang direncanakan menurut hikmah Allah, yang terjadi dengan kehendak-Nya, dan sebagai peringatan bagi manusia akan kefanaan dan ketidaksempurnaan kehidupan ini, dan juga sebagai sumber pahala di akhirat atas kesabaran dan ketaatan karenanya.

Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki iman meyakini bahwa yang menyembuhkan adalah dokter, obat, atau kemampuan teknologi mutakhir dari ilmu pengetahuan modern. Mereka tidak pernah merenung bahwa Allah-lah yang menyebabkan keseluruhan perangkat tubuh mereka untuk bekerja di saat mereka sedang sehat, atau Dia-lah yang menciptakan obat yang membantu penyembuhan dan para dokter yang menolong mereka ketika "sakit".

Banyak orang hanya kembali menghadap kepada Allah di saat mereka sadar bahwa para dokter dan obat-obatan tidak memiliki kesanggupan. Orang-orang yang berada pada keadaan tersebut memohon pertolongan hanya kepada Allah setelah menyadari bahwa hanya Dia-lah yang dapat membebaskan mereka dari kesulitan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Yunus ayat 12:
'Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia ber"do'a" kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat). seolah-olah ia tidak pernah ber"do'a" kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.'

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 186, dijelaskan:
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) behwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang ber"do'a" apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.'

Karena itu, separah apapun "sakit" yang anda derita, jangan sekali-kali berputus-asa akan rahmat Allah. Kewajiban kita meminta kepada Allah, Yang Maha Agung, Tuhan Pencipta singgasana yang agung, agar berkenan menyembuhkan "sakit" kita.

Sekalipun dalam keadaan sehat, atau tanpa cobaan atau kesulitan lain, seseorang wajib ber"do'a" dan bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan, kesehatan dan seluruh karunia yang telah Dia berikan.

Perlu pula diingat, "do'a" tidak semestinya hanya dilakukan untuk menghilangkan rasa "sakit", atau kesulitan-kesulitan duniawi lainnya. Orang beriman sejati haruslah senantiasa ber"do'a" kepaa Allah dan menerima apa pun yang datang dari-Nya. Kenyataan bahwa sejumlah manfaat "do'a" yang diwahyukan di dalam banyak ayat Al-Qur'an kini telah diakui kebenarannya secara ilmiah, sekali lagi bahwa hal itu mengungkapkan keajaiban yang dimiliki Al-Qur'an.

Disamping ber"do'a", seseorang yang "sakit" sepatutnya juga ke dokter,menggunakan obat-obatan yang berkhasiat, dan menjalani perawatan rumah "sakit" jika perlu, atau perawatan khusus dalam bentuk lain. Sebab, Allah mengkaitkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pada sebab-sebab tertentu. Segala sesuatu di dunia dan di alam semesta terjadi mengikuti sebab-sebab ini. Oleh karena itu, seseorang haruslah melakukan segala hal yang diperlukan dalam kerangka sebab-sebab ini, sambil berharap hasilnya dari Allah, dengan kerendahan hati, berserah diri dan bersabar, dengan menyadari bahwa Dia-lah yang menentukan hasilnya.

Minggu, 19 Februari 2012

"Infaq dan Sedekah Sebagai Kunci Pembuka Gembok Rezeki"

"Infaq" berasal dari kata anfaqa yang berarti ’mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu." 


Termasuk ke dalam pengertian ini, "infaq" yang dikeluarkan orang-orang kafir untuk kepentingan agamanya (lihat QS Al-Anfal:36). Sedangkan menurut terminologi syariat, "infaq" berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. 

"Sedekah" berasal dari kata shadaqa yang berarti ’benar’. Orang yang suka ber"sedekah" adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian "sedekah" sama dengan pengertian "infaq", termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika "infaq" berkaitan dengan materi, sedangkan "sedekah" memiliki arti lebih luas menyangkut hal yang bersifat non materiil. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar,  Rasullullah menyatakan bahwa jika tidak mampu ber"sedekah" dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, dan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah "sedekah".

Ada beberapa nash dalam Al-Qur'anul Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif yang menunjukkan bahwa orang yang ber"infaq" di jalan Allah akan diganti oleh Allah di dunia. Di samping tentunya apa yang disediakan oleh Allah baginya dari pahala yang besar di akhirat. Diantara dalil-dalil itu adalah sebagai berikut:

1.Firman Allah dalam Surat Saba' ayat 39:
'Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi "Rezeki" yang sebaik-baiknya.'

Al-Kalby, mengatakan: 'Tidaklah kalian "sedekah"kan suatu "sedekah" atau kalian "infaq"kan suatu harta melainkan Allah akan mengganti bagi orang yang meng"infaq"kannya, adakalanya ganti itu dipercepat di dunia atau disimpan baginya di akhirat.'

Dalam menafsirkan ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: 'Betapapun sedikit apa yang kamu "infaq"kan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkannya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran.'

2. Dalil lain adalah Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 268:
'Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.'

Menafsirkan ayat ini, Ibnu Abbas berkata: 'Dua hal dari Allah dan dua hal dari setan. 'Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.' Setan itu berkata: 'Jangan kamu "infaq"kan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya'. 'Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).' (Dan dua hal dari Allah adalah): 'Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya,' yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, dan 'karunia berupa "rezeki".    

Al-Qadhi Ibnu Athiyah menafsirkan ayat ini, berkata: 'Maghfirah (ampunan Allah) adalah janji Allah bahwa Dia akan menutupi kesalahan segenap hambaNya di dunia dan di akhirat. Sedangkan al-fadl (karunia) adalah "rezeki" yang luas di dunia, serta pemberian nikmat di akhirat, dengan segala apa yang telah dijanjikan Allah.

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziah dalam menafsirkan ayat ini, berkata:
'Demikianlah, peringatan setan bahwa orang yang meng"infaq"kan hartanya, bisa mengalami kefakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepadanya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Adapun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik dari pada yang ia "infaq"kan, dan akan dilipat-gandakan baik di dunia saja atau di dunia dan di akhirat.'

3. Dalil lain adalah Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Nabi memberitahukan kepadanya:
'Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Wahai anak Adam, ber"infaq"lah, niscaya Aku ber"infaq" (memberi "rezeki") kepadamu'

Imam An-Nawawi berkata: 'Firman Allah, ber"infaq"lah, niscaya Aku ber"infaq" (memberi "rezeki") kepadamu' adalah makna Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Saba' ayat 39:
'Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi "Rezeki" yang sebaik-baiknya.'

Ayat ini mengandung anjuran untuk ber"infaq" dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah.

4. Dalil lain bahwa ber"infaq" di jalan Allah adalah diantara kunci-kunci "rezeki" yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Huraitah, bahwasanya Nabi bersabda:
'Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo'a, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang ber"infaq" ganti (dari apa yang ia "infaq"kan)'. Sedang yang lain berkata, 'Ya Allah berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya).'

Dalam Hadits ini, Nabi yang mulia mengabarkan bahwa terdapat malaikat yang berdo'a setiap hari kepada orang yang ber"infaq" agar diberikan ganti oleh Allah. Maksudnya adalah ganti yang besar. Yakni ganti yang baik, atau ganti di dunia dan di akhirat. Hal itu berdasarkan Firman Allah dalam Surat Saba' ayat 39.

Dan, diketahui secara umum bahwa do'a malaikat adalah dikabulkan, sebab tidaklah mereka mendo'akan bagi seseorang melainkan dengan izinNya, Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya' ayat 28:
'Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.'

5. Dalil lain adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda:
'Ber"infaq"lah wahai Bilal! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang Memiliki Arsy.'

Al-Mulla Ali-AlQari menjelaskan kata 'dipersedikit' dalam hadits tersebut berkata, 'Maksudnya dijadikan miskin dan tidak punya apa-apa'. Artinya, 'Apakah  engkau takut akan disia-siakan oleh Dzat yang mengatur segala urusan dari langit ke bumi?' Dengan kata lain, 'Apakah kamu takut untuk digagalkan cita-citamu dan disedikitkan "rezeki"mu oleh Dzat yang rahmatNya meliputi penduduk langit dan bumi, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, burung-burung dan binatang melata?'  

Referensi:
1. bisniskeuangan.kompas.com/.../Apa.Beda.Zakat.Infaq.dan.Sedekah.
2. 9 Kunci Pembuka Gembok "Rezeki" - Menjadi Milyuner Silent Tanpa Hubbuddunya. Oleh: Dr. M. Mufti Mubarok.

Sabtu, 18 Februari 2012

"Bayangan Sukses"

"Jika anda dapat mem"bayang"kannya, anda dapat mencapainya. Jika anda dapat mengimpikannya, anda dapat menjadi yang anda inginkan itu." (William Arthur Ward).

Apa yang dapat di"bayang"kan serta diyakini manusia, dapat dicapainya. (W. Clement Stone).

"Sukses" adalah kondisi pikiran. Jika anda ingin "sukses" mulailah mem"bayang"kan diri anda sebagai orang yang "sukses". (Joyce Brothers).

"Bayang"kan diri anda di ambang pintu "sukses" yang tak tertandingi. Kehidupan utuh yang penuh kemuliaan terhampar di hadapan anda. Capailah! Capailah!. (Andrew Carnegie).

Apa sih yang patut dipuji atau dibanggakan dalam diri kita selain mem"bayang"kan kesempurnaan dan berusaha mencapainya? (Richard Wilbur).

Segala yang anda inginkan takkan menjadi kenyataan sebelum anda mem"bayang"kannya dulu. (Anthony Norvell).

Ada kecencerungan mendalam dalam sifat manusia untuk menjadi persis seperti apa yang kita "bayang"kan tentang diri kita sendiri. (Norman Vincent Peale).

Cara kita mem"bayang"kan diri sendiri mempengaruhi bagaimana dunia memandang kita dan bagaimana kita dapat memandang diri kita dengan "sukses" diakui oleh dunia itu. (Alrene Raven).

Aku tak bisa mem"bayang"kan seseorang yang tidak memberikan segala yang ia miliki dalam permainan hidup ini dapat meraih ke"sukses"an. (Walter Cronkite)

"Faktor Penyubur Klenik (Perdukunan)"

"Klenik" adalah kegiatan "perdukunan" (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang."


Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat pergi ke "dukun". Banyak hal yang menggiring mereka untuk lebih memilih memanfaatkan jasa "perdukunan" dari pada yang lain. Tapi ada beberapa faktor penting yang patut kita garis bawahi, diantaranya adalah:

1. Akar budaya animisme dan dinamisme yang menancap kuat pada sejarah kehidupan bangsa ini, yang akhirnya menjadi doktrin yang turun-temurun dan sulit terpisahkan dari pola berpikir masyarakat. Banyak mitos yang tertanam dalam diri generasi bangsa ini secara sengaja atau tidak. Sehingga setiap kejadian yang tidak wajar selalu dikaitkan dengan ulah makhluk halus.

2. Keyakinan yang salah bahwa hanya para "dukun" tang dapat menolak sihir atau bencana yang akan terjadi, serta mampu menyelesaikan problema yang berbau "klenik" dan mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan sekali sembur.

3. Keyakinan yang salah bahwa dengan "perdukunan" semua permasalahan "klenik" akan selesai dengan cepat dan tepat.

4. Dangkalnya pemahaman aqidah Islam dalam diri mayoritas umat Islam, sehingga mereka menganggap minta bantuan "dukun" adalah wajar dan sah-sah saja. Karena mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari usaha dalam mencari solusi permasalahan.

5. Tipisnya kesabaran dalam menghadapi setiap musibah yang datang. Mereka ingin penyelesaian yang singkat dan instan, yang akhirnya menghalalkan segala cara selagi cara tersebut mampu mereka kerjakan.

6. Cinta dunia yang berlebihan, seperti cinta harta, pangkat dan jabatan, karir dan kekuasaan, begitu juga cinta terhadap lain jenis. Akhirnya mereka berusaha memperolehnya dengan cara apapun, termasuk pergi ke "dukun".

7. Licinnya para "dukun" dalam mengemas produknya dan kepiawaian mereka dalam berpenampilan, sehingga masyarakat pada umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara "dukun" dan ulama atau ustadz. Mereka tidak dapat memilah antara praktek "perdukunan" yang harus dijauhi dan praktek pengobatan yang boleh didatangi. Apalagi banyak "dukun" yang praktek dengan penampilan layaknya seorang ulama atau ustadz. Ada juga yang mengaku sebagai ulama tetapi membuka praktek "perdukunan". Ada yang praktek pengobatannya menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an tapi dicampur dengan mantra-mantra syirik, atau memadukannya dengan ilmu sihir. Dan ada juga yang menggunakan bantuan jin tapi dikemas dalam istilah ilmiah yang dipaksakan, dan berusaha untuk melogikakan hal-hal yang gaib. Sehingga masyarakat luas memandang positip akan keberadaan mereka.

Poin-poin di atas merupakan pekerjaan rumah yang ada di pundak tokoh-tokoh agama dan para kader dakwah. Kita memerlukan waktu panjang untuk membuat perubahan pada pola pikir masyarakat yang menyimpang dan sudah mengkristal. Memerlukan kesinambungan dakwah yang terus menerus untuk memberi pencerahan aqidah kepada masyarakat yang terkontaminasi oleh debu syirik.

Dan yang paling penting adalah kerja sama antara individu Muslim untuk membentengi diri sendiri, anak, keluarga dan kerabat dari arus budaya "klenik" yang disemburkan oleh media-media massa dan manusia yang menjadi antek syetan di bumi ini, dengan mengkaji kembali aqidah Islam yang bersumberkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau kita hanya terdiam, berarti kita sudah siap menanti datangnya adzab Allah yang setiap saat  dan setiap waktu dapat terjadi. 

Referensi:
1. artikata.com/arti-335427-klenik.html
2. Disihir Karena Persaingan Karir, Penulis Tim Majalah Ghoib. 


MusicPlaylistView Profile