Sabtu, 18 Februari 2012

"Faktor Penyubur Klenik (Perdukunan)"

"Klenik" adalah kegiatan "perdukunan" (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang."


Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat pergi ke "dukun". Banyak hal yang menggiring mereka untuk lebih memilih memanfaatkan jasa "perdukunan" dari pada yang lain. Tapi ada beberapa faktor penting yang patut kita garis bawahi, diantaranya adalah:

1. Akar budaya animisme dan dinamisme yang menancap kuat pada sejarah kehidupan bangsa ini, yang akhirnya menjadi doktrin yang turun-temurun dan sulit terpisahkan dari pola berpikir masyarakat. Banyak mitos yang tertanam dalam diri generasi bangsa ini secara sengaja atau tidak. Sehingga setiap kejadian yang tidak wajar selalu dikaitkan dengan ulah makhluk halus.

2. Keyakinan yang salah bahwa hanya para "dukun" tang dapat menolak sihir atau bencana yang akan terjadi, serta mampu menyelesaikan problema yang berbau "klenik" dan mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan sekali sembur.

3. Keyakinan yang salah bahwa dengan "perdukunan" semua permasalahan "klenik" akan selesai dengan cepat dan tepat.

4. Dangkalnya pemahaman aqidah Islam dalam diri mayoritas umat Islam, sehingga mereka menganggap minta bantuan "dukun" adalah wajar dan sah-sah saja. Karena mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari usaha dalam mencari solusi permasalahan.

5. Tipisnya kesabaran dalam menghadapi setiap musibah yang datang. Mereka ingin penyelesaian yang singkat dan instan, yang akhirnya menghalalkan segala cara selagi cara tersebut mampu mereka kerjakan.

6. Cinta dunia yang berlebihan, seperti cinta harta, pangkat dan jabatan, karir dan kekuasaan, begitu juga cinta terhadap lain jenis. Akhirnya mereka berusaha memperolehnya dengan cara apapun, termasuk pergi ke "dukun".

7. Licinnya para "dukun" dalam mengemas produknya dan kepiawaian mereka dalam berpenampilan, sehingga masyarakat pada umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara "dukun" dan ulama atau ustadz. Mereka tidak dapat memilah antara praktek "perdukunan" yang harus dijauhi dan praktek pengobatan yang boleh didatangi. Apalagi banyak "dukun" yang praktek dengan penampilan layaknya seorang ulama atau ustadz. Ada juga yang mengaku sebagai ulama tetapi membuka praktek "perdukunan". Ada yang praktek pengobatannya menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an tapi dicampur dengan mantra-mantra syirik, atau memadukannya dengan ilmu sihir. Dan ada juga yang menggunakan bantuan jin tapi dikemas dalam istilah ilmiah yang dipaksakan, dan berusaha untuk melogikakan hal-hal yang gaib. Sehingga masyarakat luas memandang positip akan keberadaan mereka.

Poin-poin di atas merupakan pekerjaan rumah yang ada di pundak tokoh-tokoh agama dan para kader dakwah. Kita memerlukan waktu panjang untuk membuat perubahan pada pola pikir masyarakat yang menyimpang dan sudah mengkristal. Memerlukan kesinambungan dakwah yang terus menerus untuk memberi pencerahan aqidah kepada masyarakat yang terkontaminasi oleh debu syirik.

Dan yang paling penting adalah kerja sama antara individu Muslim untuk membentengi diri sendiri, anak, keluarga dan kerabat dari arus budaya "klenik" yang disemburkan oleh media-media massa dan manusia yang menjadi antek syetan di bumi ini, dengan mengkaji kembali aqidah Islam yang bersumberkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau kita hanya terdiam, berarti kita sudah siap menanti datangnya adzab Allah yang setiap saat  dan setiap waktu dapat terjadi. 

Referensi:
1. artikata.com/arti-335427-klenik.html
2. Disihir Karena Persaingan Karir, Penulis Tim Majalah Ghoib. 

0 komentar: