Rabu, 27 Mei 2009

"ADAB MENUNTUT ILMU DALAM ISLAM"

"Islam" mewajibkan para pemeluknya untuk menuntut "ilmu", apa pun macam "ilmu" itu, dan dimanapun "ilmu" itu berada."



Syarat yang diminta ialah "ilmu" itu bermanfaat bagi kehidupan manusia dan pengamalannya untuk mencari keridhaan Allah. Mencari "ilmu" dalam "Islam" banyak dikaitkan dengan usaha manusia untuk membuktikan adanya Tuhan, keagungan serta kemahakuasaan-Nya. Oleh sebab itu dalam Al-Qur'an digambarkan bahwa orang-orang yang ber"ilmu"lah yang takut kepada Allah SWT. Selanjutnya "Islam" juga membedakan kedudukan antara orang-orang yang ber"ilmu" dengan orang-orang yang tidak ber"ilmu" dengan meninggikan kedudukan orang-orang yang ber"ilmu" beberapa derajat; serta memberikan predikat sebagai orang yang terbaik apabila dia mau mengajarkan "ilmu"nya kepada orang lain, dan sangat mencela "ilmu"wan yang kikir dengan "ilmu"nya.


Rasulullah SAW juga membedakan perlakuan terhadap para tawanan yang pandai membaca dan menulis dengan  mengganti  uang       tebusan  yang  harus  dibayar mereka  dengan mengajar kaum muslimin membaca dan menulis. Ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan pun berkenaan dengan menuntut "ilmu" yaitu perintah membaca yang apabila kita jabarkan akan mencakup segala usaha untuk menuntut dan menyebarkan "ilmu" pengetahuan seperti pendirian balai-balai pendidikan, perpustakaan dan sebagainya.


Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam semesta. Dalam hal mencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih penting dari "ilmu" itu sendiri.


Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, menerangkan bahwa mencari "ilmu" wajib hukumnya atas setiap orang "Islam", baik laki-laki maupun perempuan. Selama manusia layak hidup, dia layak mencari "ilmu".


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi "ilmu" pengetahuan beberapa derajat dari pada orang lain. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Mujaadilah Ayat 11 :

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi "ilmu" pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam semesta.


Dalam hal mencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih penting dari "ilmu" itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin dalam kitabnya "Kitabul Ilmi", menyebutkan beberapa adab dalam mencari "ilmu", antara lain :


1.Ikhlas Karena Allah SWT.

Niat menuntut "ilmu" hendaklah karena Allah SWT. Apabila seseorang menuntut "ilmu" hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang terpandang, arau niat yang sejenisnya, maka Nabi SAW telah memperingatkan, seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :

"Barangsiapa yang mempelajari suatu "ilmu" tidak karena Allah, dia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat".


2. Untuk Menghilangkan Kebodohan dari Dirinya dan Orang Lain.
Semua manusia pada mulanya bodoh, maka dari itu kita harus berniat menghilangkan kebodohan dengan cara menuntut "ilmu". Setelah kita memiliki "ilmu", kita wajib mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilangkan kebodohan dari diri mereka. Rasulullah bersabda : "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat. (HR. Bukhari). Dan kita sebagai umat "Islam" juga diwajibkan selalu untuk menuntut "ilmu" dan menambah "ilmu" pengetahuan yang kita miliki seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 114 :

"Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku "ilmu" pengetahuan".


3. Berniat Menuntut "Ilmu" Untuk Membela Syari'at.
Penuntut "ilmu" harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang (bid'ah), sebagaimana ajaran Rasulullah SAW. Hal ini sulit dilakukan, kecuali oleh orang yang memiliki "ilmu" yang benar, sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.


4. Lapang Dada Dalam Menerima Perbedaan Pendapat.
Penuntut "ilmu" hendaknya menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalan ijtihad, bukan persoalan aqidah. Jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita. Hal ini sesuai dengan Surat Al-Mujaadilah Ayat 11 yang telah dijelaskan di atas.


5. Mengamalkan "Ilmu" Yang Telah Didapatkan.
Salah satu adab yang terpenting bagi para penuntut "ilmu" adalah mengamalkan "ilmu" yang telah diperoleh. Amal adalah buah dari "ilmu", baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. "Ilmu" tidak akan ada manfaatnya kecuali diamalkan.


6. Menghormati Para Ulama dan Memuliakan Mereka.
Penuntut "ilmu" harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai kita mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang awam saja sudah termasuk dosa besar apalagi terhadap ulama.


7. Mencari Kebenaran dan Sabar.
Seorang penuntut "ilmu" harus mencari kebenaran dari "ilmu" yang telah didapatkan. Ketika sampai kepada kita sebauah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dulu tentang keshahihan hadits tersebut, kita harus sabar, tidak boleh tergesa-gesa. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa-apa.


Itulah tadi beberapa adab dalam mencari "ilmu". Semoga kita termasuk orang yang senang mencari "ilmu". Dan semoga Allah selalu melindungi kita dari "ilmu" yang tidak bermanfaat, yaitu "ilmu" yang bisa menghancurkan kehidupan alam semesta ini. "Ilmu" yang tidak bermanfaat juga akan jadi bumerang bagi diri kita. A'udzubillah min dzalik............


Sebagai manusia kita harus menyadari, bahwa sepandai-pandai manusia masih ada yang maha pandai yaitu Allah. Jangan sampai kita merasa sombong hanya karena memiliki "ilmu" yang melebihi orang lain. Allah memiliki "ilmu" yang meliputi segala "ilmu" yang dimiliki oleh manusia, seperti yang difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Israa' Ayat 60 :

"Dan ingatlah, ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya ("Ilmu") Tuhanmu meliputi segala manusia". ........................."


Sedangkan "ilmu" itu sendiri mempunyai banyak keistimewaan apabila dibandingkan dengan harta, antara lain :

1. "Ilmu" merupakan warisan dari para Nabi, alim ulama dan "ilmu"wan; sedangkan harta merupakan tinggalan dari Raja Fir'aun dan para koruptor.


2. "Ilmu" menjaga diri kita sedangkan harta kita yang menjaganya.


3. Orang yang ber"ilmu" banyak saudara, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.


4. "Ilmu" apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah, sedangkan harta apabila dibelanjakan malah akan berkurang.


5. Orang kaya sering mendapat julukan pelit' kikir, sedangkan orang ber"ilmu" sering mendapat julukan yang mulia.


6. "Ilmu" tidak perlu dijaga dari maling karena tidak akan hilang, sedangkan harta dijaga dari maling.


7. Pada hari akhir, orang yang ber"ilmu" akan mendapat pertolongan, sedangkan orang yang memiliki harta akan dihitung.


8. "Ilmu" tidak akan rusak sepanjang jaman, bahkan semakin lama akan semakin lancar atau pintar; sedangkan harta semakin lama akan mengalami kerusakan atau usang.


9. "Ilmu" akan membuat hati kita padang dan empuk; sedangkan harta akan membuat hati kita gelap dan keras.


10.Orang yang punya "ilmu" akan mengaku sebagai hamba Allah; sedangkan orang yang memiliki banyak harta akan mengaku jadi Tuhan.


Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari keadaan miskin "ilmu", karena "ilmu" pengetahuan merupakan modal untuk memperbaiki diri. Alangkah malangnya nasib kita apabila dalam hidup ini "ilmu" pengetahuan kita tidak bertambah. Tidak bertambahnya "ilmu" pengetahuan berarti kualitas kehidupan kita pun akan statis tidak berkembang, bahkan boleh jadi lambat laun kualitas kehidupan kita akan menurun.

Betapa ruginya kita apabila tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang cukup, dalam kehidupannya seringkali dieksploitasi oleh orang lain. Orang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang memadai sering tidak berdaya menghadapi tantangan kehidupan ini.

Hidup ini akan sangat berarti ketika "ilmu" kita terus bertambah dari waktu ke waktu.........

Selasa, 26 Mei 2009

"PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUkAN"

"Pembangunan berwawasan kependudukan" mempunyai ciri: menempatkan "penduduk" sebagai fokus dari upaya "pembangunan", partisipatoris, mendorong pemerataan, non deskriminatif dan pemberdayaan "penduduk", keluarga, kelompok dan masyarakat."









"Penduduk" adalah merupakan modal dasar, pelaku "pembangunan", sekaligus faktor dominan yang menentukan keberhasilan "pembangunan", sehingga harus menjadi perhatian dari seluruh upaya "pembangunan".
 


Sebelum membahas "pembangunan berwawasan kependudukan", perlu diketahui terlebih dahulu apa itu "kependudukan".




Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan "Kependudukan" dan "Pembangunan" Keluarga Sejahtera disebutkan bahwa "Kependudukan" adalah hal ikhwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan "penduduk" tersebut.



Dari definisi tadi, masalah "kependudukan" sangatlah kompleks dan menyeluruh, karena semua aspek yang menyangkut "penduduk" ada dalam '"kependudukan". Dalam Undang-Undang tersebut juga diuraikan bahwa perkembangan "kependudukan" diarahkan pada pengendalian kuantitas "penduduk", pengembangan kualitas "penduduk" serta pengarahan mobilitas "penduduk" untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara kuantitas, kualitas dan persebaran "penduduk" dengan lingkungannya.



Untuk mencapai tujuan kebijakan "pembangunan kependudukan" ditetapkan sasaran-sasarannya, meliputi penurunan jumlah "penduduk" miskin, peningkatan kesejahteraan "penduduk", peningkatan kesejahteraan "penduduk", peningkatan produktivitas "penduduk", penurunan tingkat kelahiran, peningkatan kesetaraan dan keadilan jender, peningkatan keseimbangan persebaran "penduduk", tersedianya data dan informasi "pembangunan" dan "kependudukan", tersedianya perlindungan dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas "penduduk", serta terselenggaranya administrasi "kependudukan" nasional yang terpadu dan tertib.



Setiap kegiatan "pembangunan" dan kebijakan yang dilaksanakan oleh setiap sektor dapat mempengaruhi "kependudukan", baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu pula setiap perkembangan "kependudukan" dapat mempengaruhi "pembangunan" sektoral dan daerah. Oleh karena itu perlu adanya "pembangunan" yang dipertimbangkan aspek "kependudukan" sejak dari perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kegiatan "pembangunan", artinya untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan "penduduk", "pembangunan" harus mempertimbangkan tiga aspek "kependudukan" yaitu aspek kualitas, kuantitas maupun mobilitas dengan tidak mengesampingkan sosial budaya serta lingkungannya.



Pemberdayaan masyarakat bagi kepentingan "pembangunan" untuk mencapai kesejahteraan bersama, merupakan suatu "pembangunan kependudukan" dalam upaya pengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas "penduduk" serta mengarahkan persebaran "penduduk" untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik yang seimbang di seluruh daerah, serta kualitas yang memadai guna mendukung "pembangunan" yang berkelanjutan.



Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, maka pendekatan "pembangunan" yang hanya menjadikan "penduduk" sebagai obyek "pembangunan" sudah harus ditinggalkan, tetapi harus mengedepankan "pembangunan" yang "berwawasan kependudukan", yaitu "pembangunan" yang berkelanjutan untuk, dari dan oleh manusia atau "penduduk". Oleh sebab itu pendekatan yang dipakai adalah dengan mengedepankan pemerataan dan peranan seluruh "penduduk" sebagai pelaku atau pelaksana "pembangunan".



"Pembangunan berwawasan kependudukan" adalah modal "pembangunan". Penerapan yang pro rakyat, modal ini adalah suatu keharusan "penduduk" menempati posisi strategis dalam "pembangunan" bangsa karena "penduduk" merupakan subyek dan obyek dalam "pembangunan".



"Pembangunan berwawasan kependudukan" mempunyai ciri: menempatkan "penduduk" sebagai fokus dari upaya "pembangunan", partisipatoris, mendorong pemerataan, non deskriminatif dan pemberdayaan "penduduk", keluarga, kelompok dan masyarakat.



"Pembangunan kependudukan" harus selalu dikoordinasikan sejak dari perumusan kebijakan, perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan sampai pemantauan, penilaian dan pengendalian dampak "pembangunan" tersebut, yaitu dengan melibatkan seluruh sektor "pembangunan" dan peran serta masyarakat.



Keberhasilan "pembangunan kependudukan" mempersyaratkan kondisi sosial, politik, hukum dan keamanan yang kondusif yaitu untuk mendukung keberhasilan "pembangunan" sosial ekonomi nasional untuk kesejahteraan "penduduk". Disamping itu juga harus didasarkan pada data "kependudukan" yang akurat. Oleh karena itu Sistem Informasi Administrasi "Kependudukan" (SIAK) yang meliputi pendaftaran "penduduk" dan pencatatan sipil (sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi "Kependudukan"), harus dilaksanakan dengan benar dan dilakukan setiap saat, sehingga keakuratan data dapat dijamin dan dipertanggungjawabkan. Data "kependudukan" dari hasil pendaftaran dan pencatatan "penduduk", sangat diperlukan untuk perencanaan "pembangunan berwawasan kepemdudukan", karena data "kependudukan" tersebut jika dijalankan dengan benar dan baik akan merupakan data yang sangat akurat, dibandingkan dengan pendataan melalui survei-survei.



Melalui Sistem Informasi Administrasi "Kependudukan" yang tertib, "pembangunan" nasional yang "berwawasan kependudukan" akan dapat disesuaikan dengan tujuan nasional yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945.

Senin, 25 Mei 2009

"RUMAHKU ADALAH SURGAKU"

"Sebagai orang Islam, harus bisa membuat "rumah"nya menjadi "surga". Anggota keluarga akan merasa kerasan tinggal di "rumah"."



"Rumah" adalah tempat tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Setiap "rumah" diharapkan dapat memberikan kenyamanan, ketenteraman, kedamaian, bagi seluruh penghuninya dalam melakukan interaksi antar anggota keluarga.


Konsep "rumah" ideal yang diajarkan oleh Rasulullah adalah "Baiti Jannati" atau "rumahku adalah surgaku". Permasalahannya sekarang adalah bagaimana caranya agar "rumah" yang kita tempati menjadi "surga" bagi kita dan keluarga, bukan malah sebaliknya, seolah menjadi neraka.


Beberapa ayat dalam Al-Qur'an, bahwa "jannah" hanya diperuntukkan bagi manusia yang memenuhi 2 (dua) syarat utama, yaitu Ilahiyah dan Basyariah. Syarat Ilahiyah misalnya beriman, bertaqwa, berikhlas dan berikhsan. Sedangkan syarat Basyariyah antara lain berakhlaq mulia, jujur, tidak suka menyakiti teman atau tetangga, tidak sering ghibah (suka mempergunjingkan kejelekan orang lain), tidak bakhil, suka menghargai orang lain, yaitu memahami segala kelebihan dan kekurangan orang lain.


Apabila "rumah" yang kita huni telah dikonstruksi - baik infra-struktur maupun supra-struktur - menjadi jannah dengan dua syarat utama tersebut, maka Insya'Allah penghuninya akan merasakan kenyamanan, kenikmatan dan ketenteraman serta yang tidak kalah pentingnya adalah "rumah" itu akan memancarkan sinar kedamaian dan terciptanya ekosistem yang seimbang antara alam kosmos dan keadaan batin dalam radius yang jauh. "Rumah" besar yang mewah mungkin menjadi dambaan setiap orang, akan tetapi suasana "rumah" yang menjadi "jannah" mungkin lebih didambakan.


Setelah "rumah" yang bernilai dan bersuasana "Jannah" dengan fenomenanya memberikan kenyamanan, kedamaian dan ketenteraman bagi penghuninya, maka pada gilirannya setiap orang yang tinggal di dalamnya akan krasan, tidak suka keluar "rumah" dengan tujuan yang tidak bermanfaat.


"Rumah" yang bernilai jannah berbeda dengan "rumah" yang bersuasana neraka yang penuh dengan ketidaknyamanan dan ketidaktenteraman bisa terjadi karena tidak ada keseimbangan dalam suasana batin penghuninya. Gejala penghuni "rumah" panas dapat dilihat dari wajahnya yang selalu cemberut, tidak pernah cocok dengan orang lain. menganggap orang lain lebih rendah, lebih bodoh, lebih miskin, lebih jelek dan sebagainya. Sikap dan tingkah lakunya serta ucapannya tidak mencerminkan sebagai orang yang berakhlaq mulia, kalau berbicara selalu kasar atau tidak menyenangkan lawan bicaranya.


Menciptakan suasana "rumah" menjadi "jannah" memerlukan proses pembelajaran yang dimulai dari diri sendiri, untuk selanjutnya ditularkan kepada anak-anak. Misalnya mengucap salam saat masuk "rumah" atau menghindari kata-kata kotor dan jorok, dalam berkomunikasi harus diberi contoh terlebih dahulu oleh orang-tuanya. Jika kita sebagai orang tua tidak pernah mengucap salam saat masuk "rumah" atau sering misuh saat berkomunikasi dengan orang lain, maka kebiasaan itulah yang ditiru oleh anak-anak. Semoga "rumah" kita betul-betul menjadi "jannah" sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Allah sangat menyukai keindahan.......


Dan Allah mewujudkan bagimu" rumah-rumah"mu sebagai tempat tinggal.........
(Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 80)


Jadikanlah "rumah"mu sebagai "surga" dengan ketenangan, bukan arena kebisingan.
Sesungguhnya ketenangan adalah nikmat........

Sebagai orang Islam,
harus bisa membuat "rumah"nya menjadi "surga".
Anggota keluarga akan merasa kerasan tinggal di "rumah".
Ciptakan suasana "rumah" dengan penuh kedamaian,


Jadikanlah cinta dan kasih sayang bermula dari "rumah"mu, menjadi sumber amalan yang baik dan berkah.

Tetaplah di "rumah"mu kecuali karena urusan yang penting.
"Rumah"mu adalah rahasia kebahagiaanmu.
"Berdiam dirilah kalian di "rumah" kalian............" (A;-Qur'an Surat Al-Ahzaab Ayat 33).


Kamu akan dapatkan kebahagiaan di dalam "rumah"mu.

"Rumahku
adalah surgaku"...................


"Wahai Tuhan, bangunkan untukku sebuah "rumah" di "surga" yang dekat dengan-Mu."


Let's go home !
Meski tidak ada sambutan meriah ketika saya membuka pintu pagar dan yang bisa saya berikan hanya helaan nafas karena letih terjebak macet di jalan, tetapi kembali ke "rumah" sungguh membahagiakan. (Sumber : Well-Being . Memories . Family Vol. 2/2008 - citibank).


Sesungguhnya "rumah" yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Surat Al-Imran ayat 96).




























































Sabtu, 23 Mei 2009

"GUNUNG KAWI SEBAGAI WISATA RITUAL"

"Gunung Kawi" merupakan salah satu lokasi wisata ritual di Jawa Timur, letak tepatnya di Desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang."


Di lereng "Gunung Kawi" ini terdapat beberapa lokasi "wisata ritual"yang dapat dikunjungi, yang paling utama adalah pesanggrahan "mbah Jugo dan Imam Sujono". Sepanjang perjalanan menuju pesanggrahan terdapat banyak penjual bunga untuk nyekar, disamping itu juga penjual aneka suvenir untuk oleh-oleh sepulang dari tempat ini. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa penginapan. Bagi peziarah atau "wisata"wan yang ingin menginap tidak perlu khawatir, karena di tempat ini terdapat penginapan dari tarip murah sampai yang mahal. Sebelum pesa
nggrahan juga ada tempat pemesanan tumpeng bagi pe
ngunjung yang ingin mengadakan selamatan bisa memesan tumpeng di tempat ini.



Selain itu juga terdapat Keraton, yang tempatnya lebih tinggi lagi dari pesanggrahan, yaitu dibutuhkan waktu sekitar 1 (satu) jam untuk sampai ke tempat ini karena harus mendaki lagi sekitar 3 (tiga) kilometer.

Sebelum sampai Keraton, terdapat Belik, yaitu tempat pemandian terbuka yang terdapat beberapa pancuran, sebagian masyarakat ada yang mempercayai kalau seseorang mandi di Belik ini akan menyehatkan badan dan badan akan selalu nampak segar berseri.
Di sekitar Belik terdapat tempat sembahyangan, kalau ada "wisata"wan mau sembahyang di tempat ini, harus membeli sepincuk bunga dan 2(dua) bungkus kemenyan
sebagai sarana untuk berdo'a. Di


bawah tempat sembahy
angan terdapat sumber air. Konon katanya kalau seseorang meminum air sumber ini akan selalu kelihatan awet muda.




O..... iya...... sebelum memasuki Belik jangan lupa beli karcis/tiket dulu seharga Rp. 1000,- (seribu rupiah).



Setelah dari Belik baru melanjutkan
perjalanan ke K eraton. Sebelum sampai di Keraton ada penjual nasi pecel pincuk sebagai pengobat lapar perut karena habis menempuh perjalanan naik turun yang
sangat mengasyikkan..............


Ada sebagian masyarakat yang percaya, bahwa pesanggrahan "Gunung Kawi" ini adalah tempat untuk mencari pesugihan. Pedagang atau apapun profesi mereka kalau ingin sukses, harus tidur di lokasi sekitar pesanggrahan, dan kalau


seseorang kejatuhan
daun poh
on dewandaru, maka ia akan sukses atau akan mendapat kekayaan yang berlimpah.............


Astaghfirullah hal adziim.............
Sebagai umat Islam.........,
kita harus percaya
bahwa seseora
ng dapat kaya
atau
sukses di dunia dan akhirat,
itu karena hasil usaha jerih payah kita
dan utamanya karena Kehendak atau Kekuasaan Allah.......


Bukan karena makam, atau jimat yang kita peroleh dari seseorang,
siapapun orangnya............


Allahu akbar.......................



BERITA TERKINI TENTANG "GUNUNG KAWI".




Hari Rabu tanggal 31 Maret 2010 pada dini hari tepatnya pukul 01.30 WIB, Komplek "wisata ritual Gunung Kawi" terbakar. Kebakaran tersebut mengakibatkan dua gedung tempat persembahyangan habis terbakar, yaitu Ciamsi dan patung Dewi Kwan Im. Api baru padam pada pukul 05.00 WIB.


Api diduga berasal dari lokasi Ciamsi, yaitu tempat "wisata"wan melihat keberuntungan yang di dalam gedung tersebut terdapat beberapa puluh lilin berukuran besar menyala. Api yang selalu menyala tersebut menyambar gedung dan merembet ke gedung lainnya dimana tempat patung Dewi Kwan Im berada hingga tak berbentuk dan meleleh.


Kondisi bangunan itu kini rusak berat dan atap gedung sudah mengelupas. Dalam waktu yang cukup lama, "wisata"wan yang akan berkunjung ke "Gunung Kawi" bakal tidak dapat berkunjung ke "wisata ritual" tersebut. Sebab, mayoritas "wisata"wan yang berkunjung ke "Gunung Kawi" belum merasa


puas, kalau tidak ke tempat Ciamsi.


Juru Kunci "Gunung Kawi", mengatakan bahwa kebakaran itu belum diketahui penyebabnya dari mana. Kebakaran di areal makam ini, baru pertama kali terjadi, sehingga membuat warga di sekitar makam merasa cemas. Menurutnya ini firasat yang tidak baik, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kebakaran. Masih menurut Juru Kunci "Gunung Kawi", kalau kebakaran tersebut dikatakan dari lilin, tidak mungkin. Sebab lilin-lilin itu menyala setiap hari, dan nyalanya tidak satu-dua hari, namun sudah puluhan tahun. Kalau lilin habis langsung diganti, sehingga tidak ada berhentinya nyala api dari lilin itu. Dari peristiwa kebakaran ini ada suatu keanehan.



Dalam peristiwa kebakaran ini, tidak membawa korban jiwa, baik luka maupun tewas. Kerugian akibat kebakaran ditaksir puluhan miliar, karena patung Dewi Kwan Im yang terbuat dari perunggu dan emas termasuk dua bangunan dan seisi ruangannya itu ikut habis terbakar.


Itu barangkali merupakan suatu peringatan untuk kita semua, supaya kita selalu ingat akan kebesaran Allah SWT. Semua yang terjadi pasti kehendak Allah, dan semuanya pasti ada hikmahnya, termasuk peristiwa kebakaran yang terjadi di tempat "wisata ritual Gunung Kawi" dua hari yang lalu.

Rabu, 20 Mei 2009

"BERPAKAIAN MENURUT TUNTUNAN ISLAM"

"Ber"pakaian" termasuk sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT bagi seluruh anak Adam di dunia ini"


Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-A'raf Ayat 31:


"Hai anak
Adam,
"pakai"lah "pakaian"mu yang indah di setiap (memasuki) masjid,makan dan minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Allah juga berfirman dalam Surat Al-A'raf Ayat 26:

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu "pakaian" untuk menutupi auratmu
dan "pakaian" indah untuk perhiasan.
Dan "pakaian" taqwa itulah yang paling baik.
Yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Allah,
mudah-mudahan mereka selalu ingat.
"

Lalu Allah berfirman dalam Surat An-Nahl Ayat 81: ".... dan Dia jadikan bagimu "pakaian" yang memeliharamu dari panas dan "pakaian" (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan...."

Allah kemudian juga berfirman dalam Surat Al-Anbiya' Ayat 80: "dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)."


Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW.: "Makanlah, minumlah, ber"pakaian"lah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tidak sombong."


Nabi Muhammad SAW juga menerangkan mana "pakaian" yang boleh, mana yang tidak boleh dan "pakaian" mana yang disunahkan untuk memakainya. Maka dari itu orang Islam wajib berpakaian sesuai dengan adab Islam sebagai berikut:

1. Laki-laki dilarang ber"pakaian" sutera secara mutlak, baik untuk "pakaian", sorban dan lain-lainnya. Hal ini sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih, Rasulullah bersabda: "Janganlah kamu memakai sutera, karena barang siapa memakai kain sutera di dunia, tidak akan memakainya di akhirat."
Ketika Rasulullah mengambil sutera dengan tangan kanannya dan mengambil emas dengan tangan kirinya, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya dua barang ini haram bagi laki-laki umatku." (Abu Daud, sanad hasan).
Kemudian Rasulullah bersabda: "Haram memakai sutera dan emas bagi laki-laki umatku dan dihalalkan bagi perempuan mereka."


2. Janganlah memanjangkan baju, celana, kopiah, jas atau mantelnya melebihi mata kakinya.
Rasulullah bersabda: "Kain yang di"pakai" di bawah mata kaki berada dalam neraka."
Dan Rasulullah juga bersabda: "Orang yang memakai kain. kemeja dan sorban dengan diturunkan (dipanjangkan) karena kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih, Rasulullah bersabda : "Allah tidak mau memandang orang yang menurunkan bajunya karena kesombongan."


3. Hendaklah mengutamakan memakai "pakaian" putih dari yang lainnya. Dan boleh memakai "pakaian" dengan warna apa saja. Sebagaimana Hadits Riwayat Nasa'i dan Hakim, Rasulullah bersabda: "Pakai"lah "pakaian" putih, karena "pakaian" putih lebih suci dan lebih bagus. Dan kafanilah orang mati di antara kamu dengan kain putih."
Hadits Riwayat Bukhari, hadits dari Barra bin Azib: "Perawakan Rasulullah sederhana, tidak terlampau tinggi dan tidak pendek. Saya pernah melihat Nabi ber"pakaian" merah, belum pernah saya melihat seorang yang lebih bagus dari padanya."


4. Hendaklah perempuan Muslimah ber"pakaian" panjang smpai menutupi kedua kakinya dan kerudungnya menutupi kepala, tengkuk, leher dan dadanya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Ahzab Ayat 59: "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka..."

Dan juga dalam Surat An-Nur Ayat 31: "..... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka..."
Hadits Riwayat Bukhari, Aisyah berkata: "Allah memberi rahmat kepada para wanita yang ikut hijrah pertama tatkala Allah menurunkan perintah: "Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka." Maka mereka merobek selendang tebalnya lalu menggunakannya sebagai kerudung."

Dan hadits dari Ummu Salamah tatkala turun Surat Al-Ahzab Ayat 59; Maka para wanita kaum Ansar ke luar dari rumah mereka memakai kerudung, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak terbuat dari kain.


5. Laki-laki dilarang memakai cincin emas. Rasulullah bersabda: "Haram memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi perempuan mereka."


6. Laki-laki Muslim diperbolehkan memakai cincin perak yang terdapat nama atau tanda tangannya, dan digunakan untuk menyetempel surat-surat, tulisan-tulisan dan lain-lain miliknya. Karena Nabi SAW membuat cincin dengan cap namanya "Muhammad Rasulullah" dan di"pakai"nya di jari kelingking tangan kirinya. Sebagaimana Hadits Riwayat Muslim, Anas berkata: "Cincin Nabi SAW terletak di sini sambil menunjuk kelingking tangan kirinya."

7. Janganlah berselubung kain, yaitu menutup seluruh badannya dengan kain, sehingga kedua tangannya tak bisa keluar dari kainnya. Karena Nabi melarang berbuat demikian. Dan dilarang pula berjalan dengn satu sandal. Sebagaimana Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: "Janganlah salah seorang kamu berjalan dengan satu sandal. Tapi bukalah kedua-duanya atau bersandal kedua-duanya."


8. Laki-laki Muslim tidak boleh memakai "pakaian" seperti perempuan Muslim. Begitu pula perempuan tidak boleh ber"pakaian" seperti laki-laki. Sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda: "Allah mengutuk laki-laki yang ber"pakaian" meniru perempuan dan perempuan yang ber"pakaian" meniru laki-laki."
Dan Sabda Rasulullah: "Allah mengutuk laki-laki yang memakai "pakaian" wanita dan wanita yang memakai "pakaian" laki-laki' Demikian pula Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (Bukhari).


9. Apabila memakai sandal (sepatu) mulailah dengan yang kanan dan bila membukanya, mulailah dengan yang kiri. Sebagaimana Hadits Riwayat Muslim, Nabi Muhammad bersabda: "Apabila salah seorang kamu memakai sandal, maka mulailah dengan yang kanan. Dan bila membuka mulailah dengan yang kiri. Supaya yang kanan menjadi yang pertama ketika di"pakai" dan terakhir ketika dibuka."


10. Hendaklah memakai "pakaian" dari bagian kanan dulu. Sebagaimana Hadits Riwayat Muslim, Hadits dari Aisyah mengatakan: "Rasulullah menyenangi yang kanan dulu dalam segala perbuatan, seperti bersandal, berjalan dan bersuci."


11. Apabila memakai baju baru, sorban baru atau "pakaian" baru hendaklah mengucapkan do'a seperti dalam haditsnya, yang artinya: "Ya Allah segala puji bagi-Mu, Engkau telah beri aku "pakaian". Aku memohon pada-Mu kebaikan dan kebaikan ciptaannya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari bahayanya dan bahaya ciptaannya." (Abu Daud dan Tirmidzi, hadits hasan).


12. Ucapkanlah kepada sesama Muslim, ketika memakai baju baru kata-kata. Rajin dan berdo'alah seperti do'a Rasulullah kepada ibunya Khalid, tatkala dia "pakai" baju baru.


"Dan "pakaian" yang paling indah adalah "pakaian" yang disediakan oleh Allah untuk penghuni surga, seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Faathir Ayat 33 :....."

"(Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan "pakaian" mereka di dalamnya adalah sutera".



Dan "pakaian" yang paling indah adalah "pakaian" yang disediakan oleh Allah untuk penghuni surga, seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Faathir Ayat 33 : "(Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan "pakaian" mereka di dalamnya adalah sutera".

Sutera hijau yang halusadalah "pakaian" yang ada di surga, sesuai dengan Firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Insaan Ayat 21 : Mereka memakai "pakaian" sutera halus yang hijau dan sutera tebal.......".

Subhanallah..... Begitu mulianya para penghuni surga. Semoga kita termasuk orang ahli surga yang telah dituliskan dalam Al-Qur'an.

Amiin.... Ya Robbal alamiin......

"Pakaian" yang dipakai seseorang juga menceritakan siapa sebenarnya seseorang tersebut. "Pakaian" yang dipakai tidak pernah bohong. Kisah yang diceritakannya langsung menyampaikan kepada sesama, apa yang tidak dapat disampaikan oleh kata-kata semata, misalnya :
1. Tingk
at ekonomi seseorang yang sekarang.
2. Kapasitas seseorang
untuk sukses.
3. Keteramp
ilan sosial seseorang.
4. Yang terpenting lagi, kemungkinan seseorang untuk dipromosikan.

Masalah ber"pakaian" ini ada resep praktis yang bisa dilakukan untuk menciptakan citra yang tepat tentang diri seseorang, sebagai
berikut :
1. Agar penampilan anda mendukung anda, pertimbangkanlah sebelum anda ber"pakaian".
2. Lupakanlah mode, ber"pakaian"lah yang sesuai.
3. Berhenti
lah ber"pakaian" sesuai dengan posisi anda yang sekarang. Mulailah ber"pakaian" sesuai dengan posisi yang anda inginkan.
4. Buatlah rencana untuk "pakaian" anda.
5. Mulailah dengan "pakaian" dasar anda.
6. Catatlah "pakaian" yang sudah anda miliki.
7. Putuskanlah berapa banyak uang yang harus anda belanjakan.


8. Berbelanjalah di saat yang tepat.
9. Berbelanjalah "pakaian" secerdik mungkin.
10.Jangan pernah membeli "pakaian" karena menuruti dorongan hati.
11.Berbelanjalah sendiri.
12.Belilah "pakaian" dasar bisnis dengan perencanaan tiga tahun.


13.Berbelanjalah "pakaian" di toko-toko yang memberikan penampilan yang anda inginka
n.
14.Kembangkanlah hubungan dengan pramuniaganya dan penjahitnya.

15.Temukanlah nilai-nilai tersenbunyi dalam "pakaian" wanita maupun pria.
16.Belilah aksesori untuk mempertegas penampilan anda, bukan mengac
aukannya.
(Sumber : Burton Kaplan, dalam bukunya yang berjudul "Winning People Over").


MusicPlaylistView Profile