Rabu, 27 Mei 2009

"ADAB MENUNTUT ILMU DALAM ISLAM"

"Islam" mewajibkan para pemeluknya untuk menuntut "ilmu", apa pun macam "ilmu" itu, dan dimanapun "ilmu" itu berada."



Syarat yang diminta ialah "ilmu" itu bermanfaat bagi kehidupan manusia dan pengamalannya untuk mencari keridhaan Allah. Mencari "ilmu" dalam "Islam" banyak dikaitkan dengan usaha manusia untuk membuktikan adanya Tuhan, keagungan serta kemahakuasaan-Nya. Oleh sebab itu dalam Al-Qur'an digambarkan bahwa orang-orang yang ber"ilmu"lah yang takut kepada Allah SWT. Selanjutnya "Islam" juga membedakan kedudukan antara orang-orang yang ber"ilmu" dengan orang-orang yang tidak ber"ilmu" dengan meninggikan kedudukan orang-orang yang ber"ilmu" beberapa derajat; serta memberikan predikat sebagai orang yang terbaik apabila dia mau mengajarkan "ilmu"nya kepada orang lain, dan sangat mencela "ilmu"wan yang kikir dengan "ilmu"nya.


Rasulullah SAW juga membedakan perlakuan terhadap para tawanan yang pandai membaca dan menulis dengan  mengganti  uang       tebusan  yang  harus  dibayar mereka  dengan mengajar kaum muslimin membaca dan menulis. Ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan pun berkenaan dengan menuntut "ilmu" yaitu perintah membaca yang apabila kita jabarkan akan mencakup segala usaha untuk menuntut dan menyebarkan "ilmu" pengetahuan seperti pendirian balai-balai pendidikan, perpustakaan dan sebagainya.


Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam semesta. Dalam hal mencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih penting dari "ilmu" itu sendiri.


Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, menerangkan bahwa mencari "ilmu" wajib hukumnya atas setiap orang "Islam", baik laki-laki maupun perempuan. Selama manusia layak hidup, dia layak mencari "ilmu".


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi "ilmu" pengetahuan beberapa derajat dari pada orang lain. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Mujaadilah Ayat 11 :

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi "ilmu" pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan alam semesta.


Dalam hal mencari "ilmu", para alim ulama telah sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih penting dari "ilmu" itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin dalam kitabnya "Kitabul Ilmi", menyebutkan beberapa adab dalam mencari "ilmu", antara lain :


1.Ikhlas Karena Allah SWT.

Niat menuntut "ilmu" hendaklah karena Allah SWT. Apabila seseorang menuntut "ilmu" hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang terpandang, arau niat yang sejenisnya, maka Nabi SAW telah memperingatkan, seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :

"Barangsiapa yang mempelajari suatu "ilmu" tidak karena Allah, dia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat".


2. Untuk Menghilangkan Kebodohan dari Dirinya dan Orang Lain.
Semua manusia pada mulanya bodoh, maka dari itu kita harus berniat menghilangkan kebodohan dengan cara menuntut "ilmu". Setelah kita memiliki "ilmu", kita wajib mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilangkan kebodohan dari diri mereka. Rasulullah bersabda : "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat. (HR. Bukhari). Dan kita sebagai umat "Islam" juga diwajibkan selalu untuk menuntut "ilmu" dan menambah "ilmu" pengetahuan yang kita miliki seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 114 :

"Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku "ilmu" pengetahuan".


3. Berniat Menuntut "Ilmu" Untuk Membela Syari'at.
Penuntut "ilmu" harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang (bid'ah), sebagaimana ajaran Rasulullah SAW. Hal ini sulit dilakukan, kecuali oleh orang yang memiliki "ilmu" yang benar, sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.


4. Lapang Dada Dalam Menerima Perbedaan Pendapat.
Penuntut "ilmu" hendaknya menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalan ijtihad, bukan persoalan aqidah. Jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita. Hal ini sesuai dengan Surat Al-Mujaadilah Ayat 11 yang telah dijelaskan di atas.


5. Mengamalkan "Ilmu" Yang Telah Didapatkan.
Salah satu adab yang terpenting bagi para penuntut "ilmu" adalah mengamalkan "ilmu" yang telah diperoleh. Amal adalah buah dari "ilmu", baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. "Ilmu" tidak akan ada manfaatnya kecuali diamalkan.


6. Menghormati Para Ulama dan Memuliakan Mereka.
Penuntut "ilmu" harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai kita mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang awam saja sudah termasuk dosa besar apalagi terhadap ulama.


7. Mencari Kebenaran dan Sabar.
Seorang penuntut "ilmu" harus mencari kebenaran dari "ilmu" yang telah didapatkan. Ketika sampai kepada kita sebauah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dulu tentang keshahihan hadits tersebut, kita harus sabar, tidak boleh tergesa-gesa. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa-apa.


Itulah tadi beberapa adab dalam mencari "ilmu". Semoga kita termasuk orang yang senang mencari "ilmu". Dan semoga Allah selalu melindungi kita dari "ilmu" yang tidak bermanfaat, yaitu "ilmu" yang bisa menghancurkan kehidupan alam semesta ini. "Ilmu" yang tidak bermanfaat juga akan jadi bumerang bagi diri kita. A'udzubillah min dzalik............


Sebagai manusia kita harus menyadari, bahwa sepandai-pandai manusia masih ada yang maha pandai yaitu Allah. Jangan sampai kita merasa sombong hanya karena memiliki "ilmu" yang melebihi orang lain. Allah memiliki "ilmu" yang meliputi segala "ilmu" yang dimiliki oleh manusia, seperti yang difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-Israa' Ayat 60 :

"Dan ingatlah, ketika Kami wahyukan kepadamu, "Sesungguhnya ("Ilmu") Tuhanmu meliputi segala manusia". ........................."


Sedangkan "ilmu" itu sendiri mempunyai banyak keistimewaan apabila dibandingkan dengan harta, antara lain :

1. "Ilmu" merupakan warisan dari para Nabi, alim ulama dan "ilmu"wan; sedangkan harta merupakan tinggalan dari Raja Fir'aun dan para koruptor.


2. "Ilmu" menjaga diri kita sedangkan harta kita yang menjaganya.


3. Orang yang ber"ilmu" banyak saudara, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.


4. "Ilmu" apabila diberikan kepada orang lain akan bertambah, sedangkan harta apabila dibelanjakan malah akan berkurang.


5. Orang kaya sering mendapat julukan pelit' kikir, sedangkan orang ber"ilmu" sering mendapat julukan yang mulia.


6. "Ilmu" tidak perlu dijaga dari maling karena tidak akan hilang, sedangkan harta dijaga dari maling.


7. Pada hari akhir, orang yang ber"ilmu" akan mendapat pertolongan, sedangkan orang yang memiliki harta akan dihitung.


8. "Ilmu" tidak akan rusak sepanjang jaman, bahkan semakin lama akan semakin lancar atau pintar; sedangkan harta semakin lama akan mengalami kerusakan atau usang.


9. "Ilmu" akan membuat hati kita padang dan empuk; sedangkan harta akan membuat hati kita gelap dan keras.


10.Orang yang punya "ilmu" akan mengaku sebagai hamba Allah; sedangkan orang yang memiliki banyak harta akan mengaku jadi Tuhan.


Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari keadaan miskin "ilmu", karena "ilmu" pengetahuan merupakan modal untuk memperbaiki diri. Alangkah malangnya nasib kita apabila dalam hidup ini "ilmu" pengetahuan kita tidak bertambah. Tidak bertambahnya "ilmu" pengetahuan berarti kualitas kehidupan kita pun akan statis tidak berkembang, bahkan boleh jadi lambat laun kualitas kehidupan kita akan menurun.

Betapa ruginya kita apabila tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Seseorang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang cukup, dalam kehidupannya seringkali dieksploitasi oleh orang lain. Orang yang tidak memiliki "ilmu" pengetahuan yang memadai sering tidak berdaya menghadapi tantangan kehidupan ini.

Hidup ini akan sangat berarti ketika "ilmu" kita terus bertambah dari waktu ke waktu.........

0 komentar: