Sabtu, 12 April 2014

"MENGAPA ADA ORANG YANG SUKA NGEYEL?"

"DI dalam pergaulan manapun juga, baik pergaulan offline maupun online, suatu saat pasti kita akan berhadapan dengan "orang yang suka ngeyel"



Dan celakanya, kita juga ikut-ikutan "ngeyel". Masing-masing merasa benar, lebih benar dan paling benar. Lantas kadang-kadang diselesaikan dengan kalimat “Sudahlah. Kita sama-sama benar. Hanya sudut pandang kita yang berbeda”. Kalimat itu jelas diucapkan oleh "orang" yang tidak menguasai ilmu logika yang sempurna.

APA SIH "NGEYEL" ITU?

"Ngeyel" adalah sebuah perilaku manusia di dalam mempertahankan pendapatnya tetapi biasanya tidak disertai argumentasi atau penalaran yang masuk akal, rasional dan objektif namun semata-mata hanya ingin mendapatkan “kemenangan” atas pendapatnya agar "orang" lain mau mengakui pendapatnyalah yang benar dengan cara setengah memaksa atau memaksa disertai dalih-dalih yang mengada-ada tanpa menyadari atau mengakui bahwa pendapat "orang" lain sudah benar dan bahkan menganggapnya salah dan selalu salah.


"Kenapa ada orang suka ngeyel"?

Ada beberapa penyebab "orang suka ngeyel":

1.Pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang terbatas
2.Salah persepsi
3.Salah berlogika
4.IQ rendah
5.Egosentrik (Terlalu harga diri)

add.1.Pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang terbatas

"Orang" yang pengetahuan atau ilmu pengetahuannya terbatas, menganggap pengetahuannya atau ilmu pengetahuannya yang sedikit merasa sudah cukup memahami suatu persoalan. Padahal, pendapatnya tidak didukung pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang memadai.

Contoh:
"Orang" yang awam ilmu aerodinamika, begitu melihat kanopi/atap motor akan langsung berkomentar, kanopi motor itu tidak tahan angin. Padahal, pembuat kanopi motor yang faham ilmu aerodinamkika itu sudah memperhitungkan faktor aerodinamika. Aerodinamkia adalah ilmu yang mempelajari perilaku angin dan cara mengatasinya. Karena keterbatasan pengetahuan dan ilmu pengetahuan itulah, sampai kapanpun tetap "ngeyel" pada keyakinannya yang salah itu.


add.2.Salah persepsi

"Orang yang suka ngeyel" juga bisa jadi karena salah persepsi. Dari hari ke hari melihat fakta yang itu-itu saja sehingga menimbulkan persepsi bahwa apa yang dilihatnya sehar-hari itulah yang benar.

Contoh:
"Orang" yang tiap hari melihat motor tiga roda ditumpangi "orang" cacat, maka punya persepsi bahwa motor tiga roda hanya untuk "orang" cacat. Ketika ada "orang" tidak cacat naik motor tiga roda, maka dia akan menilai "orang" itu salah. bahkan bisa jadi beranggapan
orang" yang tidak cacat itu telah melanggar undang-undang atau peraturan lalu lintas. Jika pendapatnya dibantah, maka dia akan "ngeyel". Padahal, tidak ada satu undang-undang atau peraturan yang melarang "orang" tidak cacat naik motor tiga roda.

add.3.Salah berlogika

"Orang" bisa saja "suka ngeyel" karena salah berlogika. Kalau dikoreksi, dia tetap akan mempertahankan pendapatnya yang salah itu. Tetap ngeyel dan mengatakan "orang" yang berbeda pendapat dengannya adalah "orang" yang salah. Padahal, sesungguhnya dia tidak memahami cara berlogika yang benar. Melihat satu aspek tanpa mengaitkan aspek lainnya yang bisa berpengaruh.

Contoh:
Banyak "orang" Islam bermimpi agar Indonesia menjadi Negara Islam Indonesia. Atau banyak "orang" Islam beranggapan, hukum buatan manusia itu jelek dan hanya hukum Islam yang baik. Oleh karena itu sebaiknya hukum Islam diterapkan di Indonesia. Logikanya begitu. Dia lupa bahwa, walaupun hukum Islam itu baik, tapi kalau dipegang dan dilaksanakan "orang" yang brengsek, hasilnya brengsek juga. Sebaliknya, hukum buatan manusia kalau dipegang oleh "orang" yang baik, hasilnya adil juga. kalau dikoreksi demikian, "orang" Islam yang logikanya dangkal itu tetap akan"ngeyel" . bahkan, seumur hidup tetap akan "ngeyel". Sebab, logika yang salah telah berubah menjadi keyakinan yang salah pada dirinya.

add.4.IQ yang rendah
"Orang suka ngeyel" juga karena faktor IQ yang rendah. "Orang" yang IQ rendah adalah "orang" yang bodoh. Ada bodoh relatif dan ada bodoh permanen. "Orang" yang bodoh permanen, mau menerima pendapat "orang" lain yang berbeda. Sedangkan "orang" yang bodoh permanen, selalu menolak pendapat "orang" lain yang berbeda.

Contoh:
"Orang" awam sering mengatakan, tanpa belajar ilmu logikapun dia bisa berlogika. Hanya buang-buang waktu saja berlogika. Toh dia merasa punya otak. Merasa bisa berpikir.Dan merasa pendapatnya benar. Dia tidak tahu kalau ada dua kategori logika. Yaitu Logika Awam awat Logika Spekulatif. Yaitu logika yang bisa benar dan bisa salah, tetapi banyak salahnya daripada benarnya. Dan Logika Akademik atau Logika Ilmiah yang pasti selalu benar karena berdasarkan rumus-rumus, dalil-dalil atau format-format logika yang sudah teruji kebenarannya sejak jaman Yunani hingga jaman sekarang dan jaman yang akan datang. Meskipun demikian, dia tetap "ngeyel", karena dia mengalami bodoh permanen atau IQ-nya rendah sekali.

add.5.Egosentrik (Terlalu harga diri)

Yaitu "orang yang suka ngeyel" karena pribadi SNOB (sok tahu, sok mengerti sok pintar). Dia merasa tahu segala-galanya, padahal hanya tahu sedikit atau bahkan samasekali tidak tahu. Kepada tiap "orang" dia selalu berkata seolah-olah pendapatnya yang benar. Apalagi kalau pendapatnya dibantah, maka diapun "ngeyel" tanpa didukung penalaran yang logis dan benar.  Pokoknya pendapat "orang" lain yang berbeda dengan pendapatnya dianggap salah dan pasti salah. Maka, jadilah dia "orang" yang berkepribadian egosentrik dan "suka ngeyel".


Contoh:
Ketika Si A menulis sebuah artikel berjudul “Korupsi Terjadi Karena Rakyat Salah Memilih dan Masih Bodoh”. Maka Si B berkomentar “Jangan membodoh-bodohkan rakyat, sebab sebetulnya rakyat sudah yakin calon pemimpin yang dipilihnya adalah berkualitas. Masalahnya, calon pemimpin tersebut telah menyalahgunakan amanah dari rakyat sehingga melakukan suap,sogok dan korupsi”. Si A memberikan pencerahan “Kalau bodoh ya harus dikatakan bodoh. Kalau salah pilih itu artinya bodoh. "Orang" yang tidak bodoh tentu akan memilih calon pemimpin dengan cara mempelajari track recordnya terlebih dulu apapun parpolnya, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun ras/bangsanya dan apapun antargolongannya. Dan kalau track recordnya bagus (shiddiq, tabliq,amanah dan fatonah),maka "orang" yang cerdas tidak akan salah pilih”. Namun Si B yang egosentrik tetap "ngeyel" bahwa pendapatnyalah yang benar dan berkata “Pokoknya rakyat yang salah memilih bukan rakyat yang bodoh”. Tentu, ini cara berlogika yang salah dan egosentrik.

SOLUSI

Jika kita mendapatkan pendapat yang berbeda, sebaiknya jangan langsung disalahkan, kecuali kita memang tahu benar bahwa itu salah dan kita menyalahkan karena kita benar-benar mengetahui masalah itu dan memahami cara berlogika yang benar. Tapi, jika kita belum memahami masalahnya, sebaiknya kita diam dulu untuk menganalisanya secara cermat. Sesudah menganalisa, kita berkomentar yang didukung logika yang benar apakah masalah itu benar ataukah tidak benar. Jadi, kita tidak boleh berpikir secara apriori (belum mengerti, tapi berkomentar), tetapi harus berpikir secara apostetriori (sesudah mengerti, berkomentar).

CATATAN
Sebuah kebenaran, harus didukung logika yang logis dan benar, objektif,rasional, realistis dan faktual. 
(Hariyanto Imadha, Pengamat Perilaku Sejak 1973)

Sumber: 
1. psikologi2009.wordpress.com/.../psikologi-kenapa-ad...
2. psikologi2009.wordpress.com/.../psikologi-kenapa-ad...
3. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-1.....
4. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-2.....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Bandar-Udara-Lombok-(18012014)....

0 komentar: