Minggu, 05 Januari 2014

"MENAHAN HAWA NAFSU MENURUT ISLAM"

"Hawa Nafsu" adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu baik itu berupa kebaikan atau keburukan". 



Seorang muslim haruslah merenung dan selalu introspeksi mengenai pengaruh "Hawa Nafsu" terhadap dirinya, disini kita dituntut Jihad Melawan "Hawa Nafsu"
 
Setiap ayat Al Qur’an yang menyebutkan tentang "Hawa Nafsu" selalu dalam bentuk pencelaan disamping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya.
 
Demikian halnya dgn hadits nabawi jika berbicara mengenai "Hawa Nafsu" senantiasa mengatakannya sebagai hal yang tercela. Kecuali pada sebagian hadits misalnya sabda Rasulullah SAW. “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga "Hawa Nafsu"nya tunduk terhadap apa yang aku bawa.” 

"Hawa Nafsu" adalah sesembahan selain Allah yang paling buruk. Nabi SAW., bersabda “Di kolong langit ini tidak ada tuhan yang disembah yang lbh besar dalam pandangan Allah selain dari "Hawa Nafsu" yang dituruti.” Yang demikian itu karena "Hawa Nafsu" mampu mengubah banyak jiwa manusia dari baik menjadi buruk dari adil menjadi zhalim dari tauhid menjadi syirik dari lurus menjadi bengkok dan dari sunnah menjadi bid’ah.

Oleh sebab itu para ahli bid’ah disebut dengan hamba "Hawa Nafsu". “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan "Hawa Nafsu"nya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” . “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan "Hawa Nafsu"nya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya .”

Dalam Al Qur’an terkadang Allah Ta’ala mengumpamakan para ahli bid’ah dan yang selalu memperturutkan "Hawa Nafsu"nya dengan anjing keledai atau dengan binatang ternak. “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya Kami tinggikan dengan ayat-ayat itu tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan "Hawa Nafsu"nya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya . Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. ” . Di ayat lain Allah Ta’ala berfirman “Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut lari dari singa.”


Allah Ta’ala memperingatkan Nabi-Nya, Muhammad SAW. supaya tidak menuruti "Hawa Nafsu" orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman “Maka kearena itu serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti "Hawa Nafsu" mereka dan katakanlah “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu sekalian.” Juga agar tidak mengikuti "Hawa Nafsu" orang-orang yahudi dan nashrani. “Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti "Hawa Nafsu" mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Selanjutnya Allah menjelaskan penyimpangan dan kebejatan orang-orang musyrik dalam FirmanNya “Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab semua ayat mereka tidak akan mengikuti kiblatmu dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti "Hawa Nafsu" mereka setelah datang ilmu kepadamu sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yg zhalim.”

Allah memerintahkan melalui kitab dan lisan RasulNya agar kita menentukan hukum di antara manusia dengan adil. Disamping memperingatkan kita agar tidak mengikuti "Hawa Nafsu" dengan cenderung kepada salah seorang yang berselisih secara tidak benar. “Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti "Hawa Nafsu" karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Allah memberitahukan bahwa mengikuti "Hawa Nafsu" akan menyesatkan seseorang dari jalanNya. “Hai Daud sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti "Hawa Nafsu" maka ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” Kemudian Allah menjelaskan kesudahan orang-orang yang tersesat dari jalanNya dengan FirmanNya “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam Al Musnad dijelaskan bahwa Anas ra. berkata Rasul SAW., bersabda “Ada tiga buah perkara yang membinasakan dan tiga perkara lain yang menyelamatkan. Adapun yang membinasakan yaitu; kikir yang dituruti "Hawa Nafsu" yang diikuti dan ‘ujub terhadap diri sendiri. Sedangkan yang menyelamatkan yaitu bertakwa kepada Allah baik dalam keadaan rahasia atau terang-terangan adil ketika marah atau ridha dan berlaku sederhana baik ketika miskin atau kaya.”


Ibnul Qayyim dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin menyebutkan “Sesungguhnya orang yang mengikuti "Hawa Nafsu"nya tidak berhak untuk ditaati tidak boleh menjadi imam dan tidaka boleh diikuti. Allah Ta’ala memecatnya dari imamah serta melarang kita mentaatinya.” Adapun pemecatannya dari imamah adalah berdasarkan Firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” Ibrahim berkata dari keturunanku. Allah berfirman “JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang dzhalim.”

Dan tiap orang yang mengikuti "Hawa Nafsu"nya tanpa diragukan lagi ia adalah termasuk orang-orang yang dzhalim Allah berfirman “Tetapi orang-orang yang dzhalim mengikuti "Hawa Nafsu"nya tanpa ilmu pengetahuan.” 

Adapun larangan mentaati orang yang mengikuti "Hawa Nafsu" terdapat dalam Firman Allah “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti "Hawa Nafsu"nya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Dalam kitab yg sama Ibnul Qayyim berkata “Sesungguhnya "Hawa Nafsu" itu adalah suatu larangan yang dengannya sekeliling neraka Jahannam dikitari. Maka barang siapa terjerumus ke dalam "Hawa Nafsu" maka ia terjerumus ke dalam api Jahannam. Disebutkan dalam Shahihain bahwasanya Rasul SAW., bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.” Dalam sebuah hadits marfu’ dari Abu Hurairah diriwayatkan “Ketika Allah menciptakan surga Ia mengutus Jibril ke sana. Allah berfirman “Lihatlah kesana dan lihatlah apa-apa yang Aku sediakan untuk para penghuninya.” Lalu Jibril mendatangi dan melihatnya juga melihat apa yang disediakan Allah untuk para penghuninya lalu ia berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu tidaklah salah seorang dari hambaMu mendengar tentang beritanya kecuali memasukinya.” Kemudian Allah memerintahkannya sehingga ia dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci lalu Allah berfirman kepada Jibril “Kembalilah dan lihatlah surga.” lalu ia kembali dan melihat kepadanya sedang ia telah dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci maka Jibril berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu sungguh aku takutkan tak seorangpun akan memasukinya. Lalu Allah berfirman kepadanya “ Pergilah ke neraka dan lihatlah ia sekaligus apa yang Kusediakan untuk para penghuninya.” Lalu Jibril datang melihat neraka dan apa yang disediakan untuk para penghuninya. Neraka itu sebagiannya tersusun atas sebagian yang lain ia lalu berkata “Demi kemuliaan dan kebesaranMu tidaklah seseorang mendengar tentang-nya kemudian memasukinya.” Kemudian Allah menyuruhnya lalu neraka itu dikelillingi dengan shahwat lalu Allah berfirman kepada Jibril “Kembali dan lihatlah padanya. ” Kemudian Jibril kembali melihat neraka lalu ia berkata “Demi kemuliaan dan keagunganMu sungguh aku takutkan tak seorangpun akan selamat dari padanya.” Imam Tirmidzi berkata hadits ini adalah hasan shahih.

Ibnul Qayyim dalam soal keutamaan melawan "Hawa Nafsu" berkomentar “Sesungguhnya melawan "Hawa Nafsu" bagi seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di badan hati dan lisannya.” Sebagian salaf berkata “Orang yang bisa mengalahkan "nafsu"nya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota dengan seorang diri.” Dalam hadits shahih disebutkan “Tidaklah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai "Hawa Nafsu"nya ketika ia marah.”

Seorang muslim terkadang dalam mengawasi "Hawa Nafsu"nya. Ia bersikap toleran terhadap kebatilan sehingga akhirnya ia condong kepada kebatilan dan membelanya. Dia menyangka bahwa dirinya menyimpang dari kebenaran. Dan menyangka bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Dan ini hampir tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dipelihara oleh Allah SWT. 
Hanya saja manusia kadarnya bertingkat dalam sikapnya terhadap "Hawa Nafsu". Diantara mereka  ada yang sering terbawa arus "Hawa Nafsu"nya sampai melampaui batas sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh "Hawa Nafsu" yang demikian besar menyangka bahwa orang tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Diantara manusia ada yang dapat mengekang "Hawa Nafsu"nya sehingga jarang mengikuti "Hawa Nafsu"nya. 

 
Bisa dikatakan bahwa "Hawa Nafsu" adalah kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Kecondongan ini secara fitrah telah diciptakan pada diri manusia demi kelangsungan hidup mereka. Sebab bila tak ada selera terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis lainnya niscaya tidak akan tergerak untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan biologis tersebut. "Hawa Nafsu" mendorongnya kepada hal-hal yang dikehendakinya tersebut. Sebagaimana rasa emosional mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya.
 
Maka dari itu tidak boleh mencela "Hawa Nafsu" secara mutlak dan tidak boleh pula memujinya secara mutlak. Namun karena kebiasaan orang yang mengikuti "Hawa Nafsu", syahwat dan emosinya tidak dapat berhenti sampai pada batas yang bermanfaat saja maka dari itulah "Hawa Nafsu", syahwat dan emosi dicela, karena besarnya mudharat yang ditimbulkannya.


Sehubungan manusia selalu diuji dengan "Hawa Nafsu", tidak seperti hewan dan setiap saat ia mengalami berbagai macam gejolak, maka ia harus memiliki dua peredam, yaitu akal sehat dan agama. Maka diperintahkan untuk mengangkat seluruh "Hawa Nafsu" kepada agama dan akal sehat. Dan hendaknya ia selalu mematuhi keputusan kedua peredam tersebut.
 
Untuk itu sudah saatnya kita kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah, hanya dengan kedua pegangan itulah kita akan selamat dunia dan akhirat. Bertanyalah kepada para Alim Ulama yang mempunyai wawasan Agama yang mumpuni, apabila terjadi perbedaan pandangan ketika kita belajar kedua pegangan tersebut. Berselisihlah dengan cara bijak dan berpedoman dengan As Sunnah, bukan dengan emosi dan peraturan kita sendiri.

Semoga artikel ini bermanfaat, dan mudah-mudahanAllah SWT. selalu memberikan petunjuk dan hidayahNya kepada kita semua. Aamiiin.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesalahan kealpaan dan cinta kepada "Hawa Nafsu". Semoga pula Ia menjadikan kita di antara orang-orang yang takut dan bertakwa kepadaNya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin......

Sumber:
1. www.untukku.com/.../cara-menahan-hawa-nafsu-menurut-islam-untukk...
2. sweet-myheart.blogspot.com › AkhlakPendidikan
3. akhlaqmuslim.wordpress.com/.../hawa-nafsu-dan-cara-pengendaliannya/
4. laely.widjajati.photos.facebook/LOMBOK-........TOMAT.............
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Jagoanku.....
7. laely.widjajati.photos.facebook/Anak2-(10-Th-Yg-Lalu).......

0 komentar: