Sabtu, 04 Januari 2014

"MATI ITU INDAH"

"Hidup dan "mati" adalah dua peristiwa yang berlawanan dan datang silih berganti". 



Dalam al-Qur’an disebutkan siklus hidup "mati" seseorang ada empat tahap yaitu, "mati", hidup, di"mati"kan dan dihidupkan kembali. Ini adalah siklus umum, meski ada yang tidak mengalami kehidupan normal seperti prematur atau bayi yang "mati" dalam kandungan. 

Ke"mati"an pertama adalah ketidakadaan atau sebelum manusia terlahir di dunia ini. Semua mahluk bermula dari tidak ada dan memang tidak ada sebelumnya. Kemudian melalui proses pernikahan ibu dan bapak maka terlahirlah kita sebagai manusia.

Ada kisah seorang anak yang protes kepada orang tuanya, saat melihat orang tuanya berfoto di tempat rekreasi tanpa ada dia di tengah-tengahnya.
“Kenapa saya tidak diajak rekreasi di tempat itu?” tanya anak.
“Itu foto saat ayah dan ibu masih pengantin baru dan adik belum ada” Jawab ayahnya.
“Lho, koq belum ada, memangnya saya di mana?”
“Iya belum ada dan masih di perut ibu”.
Ibunya mengelaknya, “Ayah, waktu itu ibu belum hamil, kan baru sehari menikah dan belum bulan madu. Mungkin di perut ayah?”
“Ah, tidak mungkinlah di perut ayah!”
“Atau di perut nenek?” Tanya ibunya.
Ayahnya menjawab, “Iya ndaklah, kan dia terlahir dari perut ibu. Mungkin masih di langit??”

Anaknya tambah bingung ayah ibunya berdebat tentang keberadaan dia dulu. Ini adalah gambaran bahwa memang manusia itu asalnya tidak ada kemudian dilahirkan di dunia ini menjadi hidup dan ada.
Kemudian hidup di dunia ini juga bukan akhir dari segalanya. Artinya ada batas waktu yang g ditentukan menurut taqdir yang sudah ditulis Allah. Logikanya kalau manusia ini dihidupkan terus maka sudah lama dunia ini penuh dan tidak muat menampung manusia.

Jadi ke"mati"an adalah kepastian. Hidup di dunia ini sebenarnya untuk bersiap-siap "mati". Walaupun belum diketahui kapan, dimana dan bagaimana caranya kita akan "mati". Hidup untuk "mati" adalah kata singkatnya.

Sungguh dua kelompok manusia yang akan merasakan kerugian besar yaitu yang merasa kekal di dunia ini atau merasa ke"mati"an adalah ke"mati"an. Dua kelompok ini dominan ada di sebagian besar manusia yang beriman setengah dan kafir dengan adanya Allah SWT.

Kelompok pertama, yang merasa kekal di dunia. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengekalkan dirinya yaitu dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, merebut kekuasaan, menjaga keamanan dirinya dengan bodyguard, dokter dan pengawal pribadi yang berlapis dari masalah makan, tidur dan safty-safty yang lain. Seolah malaikat sudah tidak bisa lagi bisa menembus benteng keamanannya. Konskwensinya mereka benci dengan cerita-cerita ke"mati"an dan tidak peduli dengan urusan ke"mati"an sehingga cenderung menjadi manusia dikator atau arogan.

Kelompok kedua, mereka percaya ke"mati"an tapi ke"mati"an adalah akhir dari segalanya. Sebagaimana "mati"nya ayam, sapi, kambing dan hewan-hewan yang lain. Artinya tidak ada lagi kehidupan apalagi pertanggungjawaban atas amal dan perbuatan yang dilakukan selama di dunia ini. Sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia tanpa ada ketakutan tentang dosa dan neraka. Inilah lahirnya pemahaman materialistik yang melahirkan banyak isme-isme yang merusak tatanan kehidupan dunia.
Jika tidak ada kehidupan abadi dengan pertanggungjawaban. Maka sungguh beruntung orang-orang yang selama ini bebas penjara, tidak pernah dihukum selama di dunia karena pengadilan dan hakim bisa dibeli, penjara juga di bawah kendalinya, jual beli perkara menjadi hobbi. Koq setelah "mati" selesai urusan. Tentu Allah dan kehidupan ini adil.

Ada kehidupan abadi yang "indah" harus dijalani manusia. Ada malaikat sebagai saksi yang tidak bisa disuap dan dibeli. Ada hukuman neraka yang pasti dan tidak bisa ditawar lagi. Pengadilan oleh dzat yang maha Adil untuk menimbang dan menakar amal perbuatan selama di dunia.  "Indah"nya ke"mati"an karena mengantar ke surga yang penuh dengan nikmat - nikmat luar biasa




Tidak Percaya bahwa "mati" itu "indah"..?
Hampir setiap malam Manusia diberikan kenikmatan
"mati" ketika Istirahat malam,.
Mereka tidak sadar ketika tidur, akan tetapi banyak Orang yang trauma akan ke
"mati"an yang sebenarnya...

Oleh sebab itu , sebelum mengalami Ke
"mati"an yang sebenarnya , sebaiknya memohon ampunan ,memperbanyak mendekatkan diri juga amal Sholeh selain Shalat...

Jangan hanya berpikir masalah Jodoh , Rizky dan maut..
(berpikir tentang kebahagiaan dan kesenangan Dunia saja, seperti berat ditinggal seseorang , keinginan yang tidak terwujud , Kecewa , Putus asa dan lainnya)

Karena jika hal ini sampai membuat seseorang terlena , maka dirinya akan menghadap kepada Allah ta'ala dalam keadaan yang merugi serta penyesalan seterusnya

Sesuai dengan firman Allah ta'ala:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya
"mati", lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu di"mati"kan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [QS Al Baqarah 2:28].

"Mati" juga dapat dianalogikan seperti pulang. Mudah saja kita membayangkan saat kita selesai bekerja atau sudah lama tidak berjumpa dengan keluarga anak-anak dan istri kita, betapa "indah" dan menyenangkannya pulang menjumpai mereka dan kembali merasakan kebahagian dan kehangatan bersama mereka. Ada penyemangat bagi kita sehingga saat kita akan pulang selalu ada alasan rindu kepada mereka.

Karena pulang, maka tidak lengkap kalau kita tidak membawa oleh-oleh sebagai bukti bahwa kita pernah pergi meninggalkan keluarga. Maka demikian juga,
"mati" akan menjadi soal serius kalau kita tidak membawa oleh-oleh berupa amal kebaikan yang menjadi wasilah bagi Allah untuk menurunkan rahmat dan ridha-Nya sehingga pulangnya kita menuju Allah benar-benar menjadi sesuatu yang membahagiakan. Karenanya, bekal yang harus kita persiapkan menuju "pulang yang hakiki" itu adalah taqwa.

Dalam QS. Almulk :2, Allah menjelaskan pada kita bahwa ke"mati"an dan kehidupan itu merupakan wahana ujian bagi kita untuk melihat kualitas ihsan kita dalam beramal. Rupanya kata ihsan yang dipilih Allah dalam mengukur kualitas kehidupan kita sebelum "mati". Memang ada orang yang tidak berbuat sesuatu setalah dia mendapatkan perlakukan baik dari orang lain. Ada juga yang berbuat sesuatu sebatas membalas jasa bahwa dia pernah diperlakukan baik dengan orang lain, namun ada juga orang yang tidak pernah tidak berbuat baik kepada orang lain, baik ia pernah berbuat baik kepadanya ataupun tidak karena motivasi berbuatnya melebihi dari sekedar sisi kemanusiaan. Tipe yang terakhir inilah yang termasuk kedalam kualitas ihsan.

Berbuat ihsan kepada orang lain mestinya diimplementasikan oleh kita karena Allah juga memperlakukan ihsan kepada kita. Allah senantiasa memberikan kebaikan kepada kita meskipun diantara kita tidak tahu berterima kasih atas semua kebaikan itu. Maka wajar jika Dia menyatakan bahwa yang terbaik diantara kita adalah yang kualitas amalnya paling ihsan.
 

"Mati" itu ibarat pintu yang setiap orang akan memasukinya. Tidak usah terlalu takut "mati" karena "mati" mau atau tidak mau, siap atau tidak siap tetap akan menjemput kita. Sama halnya juga kita tidak usah terlalu berani "mati", karena apapun usahanya menuju "mati" kalau saatnya belum tiba tak akan berhasil. Bukan takut atau beraninya yang penting tapi persiapan dan bekal menuju "mati"lah yang setiap insan mesti memikirkannya. Karenanya penting bagi kita memahami pernyataan Agama tentang semua yang berkaitan dengan ke"mati"an.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan satu hadits Nabi yang shahih dan sangat masyhur yaitu bahwa, "orang yang
"mati" akan terputus amalnya kecuali 3 hal:  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. 

Hadits diatas memang sudah kita ma'lum. Namun dalam tulisan ini patut kiranya diungkap juga dari sisi kebahasaannya karena terkait dengan makna yang dikandung. 


Pertama, kata "Ibnu Adam" yang sering diartikan manusia. Pertanyaannya adalah yang disebut ibnu Adam atau manusia itu berarti mencakup juga non-Muslim bahkan hingga yang kafir, karena bagaimanapun semua manusia berasal dariNya. Yang bisa diterangkan dari sisi kebahasaannya adalah bahwa kata "ibnu" merupakan isim nakirah (bersifat luas dan umum) digabung dengan kata "Adam" yang merupakan isim makrifat (bersifat khusus dan terbatas) sehingga dalam kaidah kebahasaan bahwa jika isim nakirah diidhafahkan -disandarkan- pada isim makrifat maka kata tersebut terhukumi makrifat atau bersifat khusus. Oleh karena itu, penyebutan ibnu Adam merujuk kepada keturunan nabi Adam yang muslim dan beriman.

Kedua, penyebutan kata shadaqah juga menggunakan bentuk isim nakirah sehingga shadaqah yang dimaksud tidak hanya tertentu kepada uang yang dishadaqahkan itu. Bukankah tersenyum kepada orang lain adalah shadaqah, bukankah membuang duri yang bisa menghalangi jalannya seseorang juga bisa menjadi shadaqah bahkan kesombongan yang dicounter dengan kesombongan pula dengan tujuan mengobati kesombongan pertama juga bisa menjadi shadaqah. Walhasil banyak ragam shadaqah yang bisa kita sumbangsihkan demi membina dan mengejawantahkan sifat jujur dengan bersedakah itu, karena sesuai dengan dasar kata shadaqah itu yang seakar dengan kata shidiq yang berarti kejujuran.

Ketiga, kata ilmu pada hadits tersebut juga menggunakan isim nakirah. Itu berarti tidak hanya tertuju pada jenis ilmu tertentu tapi mencakup semua ilmu yang tentu saja kita sepakati bahwa ilmu itu bisa membawa manfaat bagi banyak hal dan siapapun. Memang dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa orang yang menunjukkan pada seseorang tentang suatu kebaikan maka ia seolah orang yang melakukan kebaikan itu. Dalam keadaan seseorang tidak memiliki harta untuk disedekahkan maka dengan ilmu yang dia miliki menjadi "harta" juga yang ia bisa sedekahkan atau ajarkan karena zakatnya ilmu adalah mengajarkannya.

Keempat, dalam hadits yang sama lagi-lagi penyebutan kata "walad" yang berarti anak menggunakan isim nakirah sehingga asumsinya adalah tidak hanya terbatas pada anak kandung saja yang bisa mendoakan orang tuanya namun orang lainpun yang bisa disebut anak bisa mendoakannya. Anak memang secara faktanya terbagi menjadi dua. Ada anak hakiki yaitu yang benar-benar terlahir dari orang tuanya atau anak kita sendiri dan ada juga anak ghairu hakiki yang bukan terlahir dari kita namun sudah kita anggap menjadi anak. Bukankah siswa atau santri yang belajar pada kita misalnya bisa kita anggap anak. Bukankah anak-anak yatim yang kita urus juga bisa kita anggap anak. Bukankah ada anak angkat atau anak orang lain yang kita nafkahi juga bisa disebut anak. Walhasil mereka adalah aset bagi kita untuk mendulang keikhlasan doanya kelak saat kita telah pulang menghadap-Nya.

Kelima, masih terkait dengan doa anak-anak yang shaleh, redaksi hadits tersebut menggunakan kata "yad'u" -selalu berdo'a- yang merupakan fiil mdhari'. penggunaan fiil mudhari' memiliki makna kontinyuitas sehingga doa anak-anak yang shaleh itu bukannya hanya diberikan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat belas, keseratus apalagi keseribu hari setelah meninggalnya saja, tapi diharapkan doa itu berkelanjutan terus kapanpun dipanjatkan yang tiada henti-hentinya. Inilah harapan bagi orang tua yang memilki anak shaleh yang selalu dan senantiasa mendoakannya agar senantiasa diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima segala amal ibadahnya dan Allah meridhainya dengan menurunkan rahmat kepadanya sehingga ia ditempatkan yang layak di sisi-Nya.


Inilah beberapa pengecualian terkait dengan amal yang senantiasa mengalir pahalanya, di saat Allah SWT. menyatakan bahwa untuk manusia tak lain hanyalah amal yang diusahakannya. Artinya bahwa pada saat manusia meninggal maka yang dianggap adalah hanya yang ia pernah lakukan dan usahakan saat hidup. Ini juga sekaligus menjadi penegas bahwa usaha dan amal apapun dengan dalih mentransfer pahalanya bagi orang yang sudah meninggal tidak diperkenankan karena memang kesempatan orang yang meninggal itu sudah habis. Hanya saja, yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup untuk orang yang telah "mati" adalah mendoakannya, memohonkannya ampun, memohonkannya agar Allah menghapus segala dosa dan kesalahannya, memohonkannya agar diberikan rahmat sehingga Allah -dengan penuh harap dari kita- akan memberikan kebahagiaan untuknya.

Sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa menjaga dan membawa diri ini untuk selalu istiqamah berada di jalan-Nya bukan sebuah perkara mudah namun perlu perjuangan untuk mempertahankannya. Tidak hanya itu, tuntutan untuk tidak melakukan sesuatu yang tdak benarpun sedemikian kuat sehingga yang dikerjakan oleh diri kita adalah hanya kebaikan atau fitrah yang telah Allah tentukan. Harapanya perbuatan baik itulah yang akan menjadi bekal bagi kita untuk menjumpai sang Khaliq yang telah menciptakan dan akan mengembalikan kita semua hanya kepada-Nya. 

Wallahua'lam Bishshawab...

Sumber:
1. sosbud.kompasiana.com/.../mati-ternyata-indah-lho-5...
2. bimo.septiadi.facebook/mati-itu-indah....
3. rijalalrebell.blogspot.com/.../mati-itu-pulang-pulang-itu-indah...
4. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-1....
5. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-2....
6. laely.widjajati.photos.facebook/Add-a-description-3....
7. laely.widjajati.photos.facebook/He-he-he-...Senyumnya-manaaaaaa.......

0 komentar: