Minggu, 10 November 2013

"MENANGIS MENURUT PANDANGAN ISLAM"

"Menangis" adalah hal yang manusiawi pada diri manusia". 



"Menangis" bukanlah menunjukkan kelemahan jiwa seseorang. Salah besar jika ada anggapan bahwa orang yang rajin "Menangis" adalah orang yang jiwanya lemah. Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia perkasa yang ulet, tahan uji, dan jauh dari sifat-sifat lemah. Terbukti beliau dapat menaklukkan semua serangan atas diri beliau, baik yang datang dari manusia, syaitan, bahkan yang datang dari hawa nafsu beliau sendiri.
 
Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Najmi: “ Dan, tidaklah dia (Nabi Muhammad) itu berbicara dengan hawa nafsu, tetapi apa yang dikatakannya adalah berdasarkan pada wahyu yang diwahyukan kepadanya ”Sosok lain adalah Umar “Al Farouq” bin Khattab ra., khalifah Rasulullah yang kedua. Beliau terkenal sangat tegas terhadap kedzaliman, dan mampu membuat kecut perut musuh-musuh "Islam" berbentuk kekuatan super power sekalipun, seumpama Romawi dan Parsi. Namun di balik keperkasaan dan tubuh kekar yang beliau miliki, ternyata beliau sangat mudah "Menangis" sampai mengguguk-guguk bila berdiri sholat menghadap Tuhannya, atau saat berdzikir menyebut dan mengingat asma Tuhannya. Padahal Nabi dalam hadits Bukhari Muslim mengatakan bahwa syaitan tidak akan berani berpapasan dengan Umar bin Khattab!
Sosok lain lagi adalah Muhammad Al Fattah, penakluk Konstantinopel. Beliau adalah seorang Pemimpin "Islam" yang sangat ulet dan perkasa di medan pertempuran, namun acapkali "Menangis" tersedu-sedu saat mengadu kepada Tuhannya di malam hari yang sepi di kemahnya yang sederhana, di tengah-tengah kemah pasukannya yang terlelap kelelahan karena bertempur seharian.

Tegasnya, sekali lagi, "Menangis" bukanlah tanda kelemahan jiwa seorang hamba yang menyebabkan seseorang dapat jatuh ke jurang kehinaan, namun justru sikap terpuji yang mesti wujud pada diri setiap hamba Allah yang senantiasa berdiri pada dua tonggak kehidupan yang sangat penting; khouf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap).
Di masa sekarang ini banyak yang mencela orang yang suka "Menangis". Tidak jarang ketika seseorang melihat orang lain beribadah semisal; sholat, membaca Al Qur’an, berdzikir sambil "Menangis", maka orang yang melihat perbuatannya itu justru mengejek dan merendahkan perbuatan "Menangis" tersebut.
Ada pula sekelompok umat "Islam" sekarang ini, yang sangat rajin membid’ahkan kaum muslimin yang rajin "Menangis". Benarkah "Menangis" sebuah perbuatan yang bid’ah? Apakah ada dasarnya di dalam Al Qur’an dan sunnah Rasul perintah "Menangis" tersebut?
Ternyata ada banyak sekali ayat-ayat suci al-Qur’an yang mengajarkan dan mengkisahkan kepada kita perihal "Menangis" ini, antara lain :

1. Surat Al Isra: 109
“Dan mereka bersujud sambil "Menangis" dan maka bertambahlah atas mereka perasaan khusyu’”

2. Surat An Najmi: 59-60
“Apakah karena keterangan ini kamu merasa heran, lalu tertawa dan tidak "Menangis"?”
3. Surat Maryam: 58
“…apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan "Menangis".”
Kisah-Kisah Tangisan Dalam Hadits
Hadits 1
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda kepadaku: “Bacakanlah kepadaku Al Qur’an. Aku menjawab, “Ya Rasulullah bagaimana aku akan membacakan Al Qur’an kepadamu, padahal kepadamulah Al Qur’an itu telah diturunkan. Rasul bersabda: “Aku suka mendengar Al Qur’an itu dibaca oleh orang lain. Maka aku membaca surat An Nisa’ sampai kepada ayat fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bi syahidin waji’na bika ‘ala haaulai syahidan (bagaimanakah bila Kami telah mendatangkan engkau (Rasulullah) sebagai saksi atas semua mereka itu?) Rasulullah bersabda, “ Cukuplah bacaanmu itu Ibnu Mas’ud. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “maka aku menoleh pada Nabi, maka kulihat mata Nabi berlinang basah oleh air mata. (HR. Bukhari Muslim)
Hadits 2
Anas bin Malik ra. berkata, pada suatu hari Rasulullah berkhutbah yang mana belum pernah aku mendengar khutbah Beliau yang seperti itu. Maka Beliau bersabda dalam khutbahnya itu: “Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak "Menangis"”. Anas berkata, “saat itu para Sahabat Nabi semuanya menutup wajah mereka sambil "Menangis" tersedu-sedu. (HR. Bukhari Muslim)
Hadits 3
Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah "Menangis" karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke putingnya, dan tidak akan dapat bersatu debu saat berjihad fisabillah dengan asap neraka jahannam”. (HR. Tarmidzi)
Hadits ini mengungkapkan bahwa mustahil bagi seseorang yang pernah "Menangis" berurai air mata karena takut kepada Allah saat di dunia, bakal dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah Azza Wa Jalla di hari kiamat.
Hadits 4
Dari Abdullah bin As Syikhkhir dia berkata, aku datang kepada Nabi SAW. saat itu Beliau sedang melaksanakan shalat, maka terdengarlah rintihan Nabi karena "Menangis" seumpama air yang sedang direbus dalam periuk. (HR. Abu Dawwud, Turmidzi)
Hadits 5
Abu Umamah rad. berkata, Rasulullah telah bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah melainkan dua tetes dan dua bekas; Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas perjuangan fi sabilillah dan bekas yang timbul karena memperjuangkan hal-hal yang diwajibkan Allah. (HR. Turmidzi)
Hadits 6.
Rasul bersabda: “"Menangis"lah kamu semua. Dan apabila kamu tidak dapat "Menangis" maka pura-pura "Menangis"lah kamu!” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Dishohihkan oleh Hakim dan Dzahabi).
Dalam hadits ini, "Menangis" jelas ada diperintahkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Dan jika hati kita masih keras sehingga sulit untuk"Menangis" , maka Nabi memerintahkan untuk berpura-pura "Menangis" terlebih dahulu. Pura-pura "Menangis" bukanlah sesuatu yang buruk. Banyak orang hari ini, karena ketidak tahuannya, mereka selalu menghina saat melihat orang lain berusaha keras untuk "Menangis" dengan menuduh mereka pura-pura "Menangis". Di mata mereka pura-pura "Menangis" adalah perbuatan hina dan dosa. Padahal berpura-pura "Menangis" adalah ibadah di sisi Allah Azza Wa Jalla. Kenapa pura-pura "Menangis" disebut ibadah? Jawabnya tidak lain karena pura-pura "Menangis" adalah perintah Rasulullah. Sudah diketahui dalam "Islam" bahwa menjalankan sebuah perintah Nabi adalah ibadah di sisi Allah. Dan, menjalankan sebuah ibadah akan mendapatkan pahala dan ganjaran kebaikan dari Allah Robbul Jalal. Maka apakah pantas orang yang sedang beribadah , dalam hal ini pura-pura "Menangis", mendapatkan ejekan dari mereka yang mengaku muslimin juga?
Hadits 7.

Dari Al Irbad bin Sariyah ra. dia berkata, “Rasulullah telah menasehati kami dengan nasehat yang menyebabkan hati kami bergetar dan airmata kami bercucuran.” ( HR. Abu Daud)
Kisah-Kisah Tentang Tangisan Sahabat Nabi
Saat Rasulullah sakit keras dan tidak dapat mengimami sholat dengan para sahabat, saat itu Rasulullah memerintahkan Abu Bakar Siddiq ra. menjadi imam atas para Sahabat. Siti Aisyah ra. menceritakan bahwa jika Abu Bakar berdiri sebagai imam menggantikan Rasulullah maka beliau akan "Menangis" keras sekali sehingga bacaan qur’annya tertutup (tidak terdengar oleh para Sahabat) karena suara tangisannya itu. (HR. Bukhari Muslim)
Anas ra. berkata, Rasulullah telah bersabda pada Ubay bin Ka’ab, “Allah telah menyuruh aku membacakan surat Lam Yakunil ladzina (Al Bayyinah) kepadamu. Ubay ra. bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku, ya Rasulullah?” Nabi menjawab “Iya. Namamu dan nama bapakmu.” Maka menangislah Ubay bin Ka’ab ra. (HR. Bukhari Muslim).
Suatu hari sesudah Nabi wafat, Abu Bakar dan Umar ra. mendatangi Ummu Aiman. Beliau berdua berziarah kepada Ummu Aiman karena mengikuti perilaku Nabi yang sering menziarahi wanita mulia ini. Saat kedua Sahabat utama Nabi tersebut sampai di rumah Ummu Aiman, serta merta Ummu Aiman "Menangis". Abu Bakar dan Umar bertanya kepada Ummu Aiman, kenapa wanita mulia itu "Menangis", seraya keduanya berkata, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa apa yang tersedia untuk Rasulullah di sisi Allah adalah jauh lebih baik?”. Saat itu Ummu Aiman menjawab, “Aku bukan "Menangis" karena itu, tetapi aku "Menangis" karena wahyu dari langit kini telah terputus dengan wafatnya Rasulullah.” Jawaban Ummu Aiman ini serta merta menyebabkan Abu Bakar dan Umar rad. "Menangis" mengiringi tangisan Ummu Aiman. Kemudian mereka bertiga sama-sama "Menangis". (HR. Muslim)
Beruntunglah orang yang dapat "Menangis" karena takut kepada Allah atau karena terharu dalam agama, terkadang "Menangis" juga bisa terjadi karena besarnya kasih sayang yang diletakkan Allah dalam dada seseorang. Nabi Muhammad pernah "Menangis" saat melihat putra tercinta, Ibrahim dalam sakaratul maut. Beliau berkata: “Air mata ini adalah kasih sayang yang diletakkan Allah dalam hati setiap hamba-Nya.”
Namun demikian, rugi rasanya jika air mata tertumpah untuk hal-hal yang sepele, dan tidak bernilai disisi Allah SWT. Hari ini banyak air mata tertumpah untuk hal yang sia-sia, sementara untuk agama matanya beku tak pernah "Menangis".
Rasul berpesan: “Mata yang beku yang tidak mampu "Menangis" adalah karena hati orang itu keras, dan hati yang keras adalah karena menumpuknya dosa yang telah diperbuat. Banyaknya dosa yang dibuat seseorang adalah karena orang tersebut lupa mati, sedangkan lupa mati datang akibat panjangnya angan-angan. Panjang angan-angan muncul karena terlalu cinta pada dunia, sedangkan terlalu mencintai dunia adalah pangkal segala perbuatan dosa.” Astaghfirullahal Adziim....

"Menangis" itu sendiri juga mempunyai nilai manfaat bagi kesehatan. Air Mata ternyata mempunyai beberapa fungsi yang sangat ajaib, jadi siapa bilang orang yang "Menangis" terus maka air matanya kering? Justeru orang yang "Menangis" mempunyai beberapa kelebihan akibat dari kesan yang ditimbulkan air matanya. 

Siapa kata "Menangis" tak ada gunanya? Akibat dari "Menangis" yang terlalu lama akan membuatkan mata menjadi merah dan bengkak. Tapi jangan salah, "Menangis" dan mengeluarkan air mata ternyata jadi obat ajaib yang berguna bagi kesehatan tubuh dan fikiran. "Menangis"lah karena Allah Taala.

So…jangan ragu… Seringlah "Menangis"lah …terlebih di tengah malam yang sepi, dengan bermunajat dengan Rabb…selain adanya kesehatan pada mata, dan tentunya mata kita akan menjadi mata yang terhindar dari panasnya api neraka…karena kita "Menangis" karena Allah…
Wallahu a’lam.

Sumber:
1. www.facebook.com/.../menangis...dalam-islam/40022...
2. www.eramuslim.com › ... › Mukjizat Quran & Sunnah
3. www.merdeka.com/Hukum-Menangis-Ketika-Menjalankan-P....
4. news.lintas.me/Menangis-Karena-Mengingat-Allah.....
5. maramisetiawan.wordpress.com/Menangis-Karena....
6. remajaislamgaul.wordpress.com/Mencari-Jodoh-Lewat-Pacaran?....

0 komentar: