Jumat, 04 Oktober 2013

"KISAH PARA WANITA/PEREMPUAN BERJENGGOT DAN BERKUMIS"

"Wanita" Cantik "Berjenggot" (Bagian I) Reef - Australia

Dear Dad/Ta's dan KoKiers dimana pun Anda berada. Salam damai dari Oz
Ilustrasi:
"Wanita cantik"
itu berpose setengah menantang. Ia berbaring dengan satu tangan diletakkan di pinggangnya dan tangan lainnya menyangga kepalanya yang berwajah sendu. Kedua matanya setengah terpejam, nampak begitu pasrah sekaligus mengundang.

Dengan baju model korset, bagian dada sangat ketat makin menonjolkan keseksiannya, sementara itu roknya sedikit tersingkap memamerkan pahanya yang mulus. Sekilas foto tersebut nampak normal dan wajar, seorang "wanita" cantik berpose sensual. Yang 'tidak' wajar hanyalah wajah sang "wanita". "Wajah" sendu "wanita" tersebut lebat ditumbuhi "jenggot"!
Annie Jones, Annie Jones carte de visite, 4 x 2.5 inches, circa 1880 photographer’s logo stamped on reverse and signed in pencil "Miss Annie Jones Age 18yrs" photographer: Chas. Eisenmann, 229 Bowery, New York
Dear KoKiers,
 
Sesuai dengan hukum Tuhan, banyak hal normal maupun tidak normal yang kita jumpai dalam kehidupan di dunia ini. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu yang normal, tidak ada manusia yang mempertanyakannya. Tetapi, ada kalanya, Tuhan menciptakan sesuatu yang dianggap tidak normal oleh manusia, banyak orang bertanya-tanya. Lepas dari ketidaknormalan itu, pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Ketimpangan atau ketidaknormalan kondisi fisik adalah satu dari sekian banyak ketimpangan atau ketidaknormalan. Penciptaan fisik tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Kita tidak bisa memilih dalam bentuk yang bagaimana kita akan dilahirkan. Apakah akan berhidung mancung atau pesek, berkulit putih atau hitam? We simply have no choice. Kalau saja boleh memilih, sebagai perempuan, kita mungkin ingin dilahirkan seperti Angelina Jolie. Atau, bagi laki-laki, mereka ingin seperti Tom Cruise, misalnya.

Karena penciptaan fiisk di luar wewenang manusia, rasanya tidak pantas jika kita mengolok-olok kekurangan fisik orang lain yang kita anggap 'buruk'. Pepatah kuno “Don’t judge a book by its cover”, kecantikan fisik hanya sebatas kulit, pas untuk menggambarkannya.

Di beberapa daerah, ada yang menganggap kelainan fisik sebagai berkah. Tetapi ada juga yang mengganggapnya sebagai malapetaka. Ada yang wajahnya cantik atau ganteng, ada pula yang buruk rupa. Ada yang gemuk, ada pula yang kurus. Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit hitam. Apapun kondisinya, semua wajib disyukuri.

Tetapi, ada juga yang mengganggap keabnormalan sebagai sesuatu yang unik. Bahkan, in other word, terkesan menggelikan. Apa sesungguhnya hikmah di balik penciptaan ini? Hanya Tuhan yang mengetahuinya.

"Jenggot" Di Wajah Cantik

Jika kita melihat seorang lelaki, lengkap dengan "kumis" dan "jenggot" panjang, mungkin tidak aneh lagi. Hampir setiap hari, kita banyak menemukan pemandangan seperti ini. Lelaki dari sononya memang mempunyai hormon bulu jauh lebih banyak dibanding "wanita". Bagi sebagian "perempuan", pria "berjenggot" lebih menggairahkan dan terkesan berwibawa. Mereka menganggap aneh jika seorang lelaki berwajah mulus bak pualam.

Lalu, bagaimana jika yang "berjenggot" bukan seorang lelaki, namun seorang "perempuan"? Jika melihat seorang "perempuan" berwajah menarik, lengkap dengan "kumis" dan "jenggot", kita tentu akan melotot dan mengucek mata, seolah tidak percaya.

Memang, kita banyak menemui "perempuan" yang dihiasi "kumis" tipis di atas bibirnya, seperti seorang pelukis legendaris terkenal dari Mexico Frieda. Di Indonesia, siapa yang tidak kenal dengan penyanyi dangdut Iis Dahlia atau Astri Ivo. Mereka memiliki "kumis" tipis yang membuat mereka semakin manis.

"Wanita" "berkumis" tipis mungkin tampak normal. Namun, bagaimana jika "perempuan berjenggot" sekaligus ber"kumis"? Is it a joke? The answer bukan sebuah joke. Ini memang benar-benar ada.

Dear KoKiers,
Menurut Wikipedia, seorang "perempuan"
"berkumis" dan "berjenggot" adalah seorang "perempuan" berwajah lembut tetapi mempunyai "kumis" dan "jenggot" yang terlihat nyata. Ia jelas tidak ubahnya seorang lelaki.

"Wanita berjenggot" atau "berkumis" lebat bisa jadi akan menjadi sebuah fenomena tersendiri bahkan melegenda. Karena keunikan ini akan menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Bukan tidak mungkin, keunikan ini akan menjadi buah bibir, bahan ejekan atau lelucon. Dari sekian "perempuan berjenggot" yang tercatat dalam sejarah, yang paling popular adalah 'The Bearded Lady of Guildford'.

KELAINAN HORMON

Ada sejumlah kecil "perempuan" yang mempunyai "jenggot", meskipun sangat tipis namun jelas terlihat. "Perempuan"-"perempuan" ini banyak kita temukan di ras manapun. Di Yunani, misalnya, "perempuan" di desa-desa tradisional nampak maskulin dengan garis rahang tegas dan kumis tipis. Atau, "wanita" Sicilia yang raut mukanya mirip "perempuan" tradisional di Yunani. Di Indonesia sendiri banyak kita temukan "perempuan" dengan
"kumis" tipis. Bahkan, kadang rambut-rambut di sekitar pipi dan leher yang merupakan cikal bakal "jenggot".

Dari sekian banyak "perempuan" dengan kelainan hormon ini, ada di antara mereka yang memelihara "kumis" dan "jenggot"nya seperti seorang lelaki. Apa yang menyebabkan para "wanita" ini mempunyai "kumis" dan "jenggot" lebat seperti laki-laki?

Munculnya "jenggot" atau "kumis" pada "perempuan" umumnya disebabkan adanya kelainan hormon yang disebut androgen excess. Ada juga yang disebabkan kelainan genetik langka yang disebut hypertrichosis. Kadang-kadang, pada kasus tertentu, juga disebabkan pemakaian anabolic steroids.

"Perempuan berjenggot" bisa jadi memang sengaja menumbuhkan "jenggot" maupun "kumis". Tujuannya untuk menghibur masyarakat seperti yang terjadi di arena-arena sirkus di abad 19 dan 20. Sudah jamak, di dunia hiburan seperti Circus menampilkan hal-hal yang aneh dan unik untuk menarik perhatian penonton. Dari sekian keunikan, tidak jarang mereka memajang "wanita berjenggot". Jika "jenggot" mereka palsu kemungkinan disebabkan pemakaian anabolic steroid.

Namun, yang terjadi baru-baru ini bukan di arena sirkus dimana "perempuan" sengaja menumbuhkan "kumis" dan "jenggot". Kejadian ini benar-benar ada di masyarakat awam. Sekitar bulan Febuari 2010, beberapa media online maupun cetak mengabarkan seorang diplomat Arab yang membatalkan pernikahannya. Ternyata, "perempuan" yang baru saja dinikahinya diketahui memiliki "jenggot"!

Konon, sang diplomat Arab tersebut percaya saja ketika ditawarkan kepadanya foto seorang "wanita" yang kemudian menjadi calon istrinya. Disebutkan, "wanita" yang akan disunting itu bergelar dokter. Karena tinggal di negara Arab, wajar jika "wanita" tersebut mengenakan penutup wajah atau burqa. Demikian pula halnya foto yang ditawarkan ke diplomat tersebut. Prosesi pernikahan pun digelar. Selama prosesi akad nikah berlangsung, sesuai adat setempat, sang mempelai pria yang tak disebutkan identitasnya itu belum dibolehkan membuka burqa untuk melihat wajah calon istrinya. Begitu ijab kabul sah dilakukan, mempelai pria hendak mencium "wanita" yang sudah resmi menjadi istrinya. Namun, dia begitu kaget ketika mengetahui wajah istrinya. "Dia memiliki "jenggot" dan bermata juling," katanya, seperti dikutip kanal berita Arab, Alrabiya, di Uni Emirat Arab, Rabu (10/2).
 
Diplomat Arab untuk Dubai itu pun buru-buru mengajukan pembatalan pernikahan. Dia merasa telah ditipu oleh mertua barunya karena kondisinya tak sesuai dengan cerita diawal. Foto yang diterimanya bukan foto istrinya. Pengadilan telah membatalkan pernikahan itu, tapi menolak pengembalian mahar sebesar 230 ribu dolar AS.

Setelah Melahirkan, Wanita Asal Jerman Ini Mulai Berjenggot!

Bearded-Lady-Mariam-wanita berjenggot 01

Seorang ibu asal Jerman mulai tumbuh "jenggot" setelah kelahiran anaknya 28 tahun lalu. Selama ini dia selalu mencabuti rambut di dagu itu namun sekarang mulai malas dan membiarkannya tumbuh.

Bearded-Lady-Mariam-wanita berjenggot 02Situs asiaone.com melaporkan, Kamis (11/4/2013), "perempuan" bernama Mariam itu terkadang memakai penutup di dagunya seolah-olah habis mengalami kecelakaan.

Dalam sebuah tayangan televisi di Inggris dia mengatakan sudah mulai enggan mencabuti "jenggot" itu maupun menutupinya.

“Setelah dicabuti kulit saya nampak kemerahan. Sudah banyak orang bertanya dan mereka tidak percaya akan semua itu,” ujarnya.

Keluarga Mariam kerap mengkritik agar dia selalu mencabut bulu di dagunya itu.
Bearded-Lady-Mariam-wanita berjenggot 04Pada 2008 dia pernah memanjangkan "jenggot"nya sekedar mengetahui bagaimana rupanya bila rambut itu tumbuh subur di dagunya.

Akhirnya setelah satu dekade hidup tanpa pasangan lantaran malu punya "jenggot" Mariam memutuskan memelihara rambut itu dan merasa seksi karenanya.

Mariam pun ikut dalam rombongan sirkus dan punya waktu pertunjukannya sendiri.

Dokter setempat mengatakan kemungkinan gen ini bisa diwarisi anak "perempuan" Mariam kelak. (asiaone/merdeka/berbagai sumber)
Bearded-Lady-Mariam-wanita berjenggot 03
Video: Bearded lady Mariam, from Germany http://youtu.be/1O1P-BTkwRE

Kisah Agustina Si Wanita Berjenggot

Rabu, 17 Juli 2013 22:45 WIB
Kisah Agustina Si Wanita Berjenggot
Tribunnewsbatam.com/Taufan Wijaya
Agustina (38) warga Kampung Tanah Merah, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau ini dari awal lahir hingga menikah, memiliki jenggot. 

Laporan Tribunnews Batam, Muhammad Ikhsan

BINTAN, TRIBUN - "Jenggot" memang identik dengan kaum pria. Namun di Kampung Tanah Merah, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, seorang ibu dua anak justru punya sejumput "jenggot" khas yang dipeliharanya hingga kini.

Menjadi "wanita berjenggot". Itulah identitas yang melekat pada diri Agustina (38). Dari awal lahir hingga menikah, "wanita" murah senyum ini mengaku tak ada yang aneh dengan wajahnya. Namun sejak anaknya berusia tiga tahun, di suatu pagi, Agustina menyadari ada bebarapa bulu yang tumbuh di dagunya. Hal itu bermula sejak 15 tahun lalu.

Awalnya, istri dari Samen (40) ini mengaku ditumbuhi bulu biasa. Namun lama kelamaan bulu-bulu itu tumbuh subur dan bahkan panjang layaknya "jenggot". Tina pun mulai risih, bahkan pernah ia pernah mencukur "jenggot"nya tersebut. Namun saat itu, entah iya atau tidak, upaya mencukur "jenggot"nya ini justru berbuah kesialan.

"Saye pernah haid tapi tak berhenti hingga 3 bulan sehabis mencukur "jenggot". Saye tak tahu penyakitnye ape. Yang jelas Haid saye berhenti setelah "jenggot" saye tumbuh lagi. Sejak itu saye tak pernah cukur "jenggot" sampai habis, paling cuma dirapikan dan dipendekkan saja," ujar Tina, saat dijumpai Tribun di rumahnya di RT 04/02, Desa Penaga, Rabu (17/7/2013).

Punya "jenggot", menjadikan Tina cukup terkenal di Desa Penaga. Perlahan namun pasti, ia berupaya untuk menghilangkan rasa mindernya itu. Kini Tina pun bisa berbaur biasa, walau tetap banyak yang memperhatikan "jenggot"nya tersebut.

Ibu dari Azizah (19) dan Fauzan (3,8) ini punya sekelumit cerita tak mengenakkan bagaimana ia melakoni pribadi sebagai "wanita berjenggot". Ia mengaku jarang bepergian ke acara kenduri atau nikahan. Bahkan sempat takut keluar rumah dan bergaul. Tapi itu dulu. Kini Agustina mengaku cuek dengan pandangan orang yang tertuju ke dagunya. "Ye macam mane lagi. Tak keluar rumah kite tak bisa ape-ape juge kan? Nak diliat orang saye selambe (cuek) aje ke sana kemari. Pas nonton bola di Kampung Bukit Batu pun tak peduli saye," tukasnya sambil tertawa.

Rasa minder itu, kini sudah tak dirasakannya. Ia pun bersyukur bisa hidup bersama keluarga besarnya di tepi pantai Desa Penaga. Dalam kesederhanaan itu, suaminya Samen yang bekerja sebagai nelayan itu nampak masih romantis bercanda dengan Agustina. Samen sendiri mengaku jika ia tak suka memelihara "jenggot". "Saya cuma malu ditengok-tengok (dilihat-lihat) semua pandangan. Nak dicukur macam mane lah, ini kan tuhan punya kuase. Biasanya saye berjilbab keluar, tapi tetap aje "jenggot" ini nampak," ceritanya.

Ketika melahirkan anak keduanya, Fauzan Agustina sempat akan dioperasi cesar. Namun pihak rumah sakit sempat mengira ia seorang pria. "Mereka orang rumah sakit sempat bertanya, kok pria dioperasi kebidanan pula. Saye sempat dikira pria," kenang "wanita" kelahiran 25 Desember 1974 ini.

Seorang saudara di Malaysia sempat mengabadikan foto Agustina, dan bahkan foto itu membuat heboh orang-orang di Malaysia. Begitu cerita Dormat, bapak Agustina.

Tina menceritakan, jika pegawai di kantor Kecamatan pun sempat kaget lihat fotonya saat akan membagikan e-KTP. Petugas itu lantas mengusap dadanya serasa tak percaya ada "wanita" yang "berjenggot".

Begitupun saat naik kapal Roll in Roll out (RoRo) dari Batam ke Tanjunguban, Tina mengatakan kerap menjadi pusat perhatian penumpang lain.

Tumbuhnya "jenggot" ini rupanya membawa suatu kelebihan pada dirinya semacam kemampuan penerawangan. Tina kerap bermimpi jika ada sesorang yang berniat jahat di rumahnya.  "Ya kadang saye bisa mimpi ada anak kecil datang, memberitahukan kalau ada sesuatu yang ditanam (jimat untuk mencelakakan) dekat rumah saye. Ada yang berniat jahat ke keluarga. Saya biasanya tahu aja letaknya di mana," sebut dia.

Keinginan untuk berwajah seperti "wanita" biasa tanpa "jenggot" sebenarnya ada, namun beberapa kali berobat, dokter mengaku tak tahu penyebab penyakit ini. Ia pun hanya diberikan obat-obat supaya tak tumbuh bulu. Namun hal itu tak berhasil. Tina akhirnya berhenti di sana. Ia kini menjalani hidup apa adanya. Terkait hasil analisa kedokteran terhadap "jenggot"nya ia mengaku tak tahu, karena memang tak pernah diberitahu dokter.

Tina merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Siang itu saat Tribun datang ke tempatnya, Agustina mengaku sedang tak berpuasa Ramadan, pasalnya ia tengah merawat ibunya yang tengah sakit.

Editor: candrappusponegoro 

Mengapa Perempuan Tidak Berjenggot?

 
 
 
 
 
 
1 Vote

Apakah anda seorang pria "berjenggot"? Atau Anda seorang "perempuan" yang menyukai pria "berjenggot"? Terserah sajalah, yang penting Anda bukan pria tapi "wanita" atau "wanita" tapi pria. Kenapa membahas soal "jenggot".

Mungkin sudah banyak orang yang membahasnya, dan saya yakin mereka sudah mengupas segalanya tentang "jenggot". Hanya saja, saya masih penasaran kenapa pria "berjenggot" dan terkadang bisa tumbuh dengan lebat. Sementara "perempuan" tidak. Kalau pun ada "perempuan" yang "berjenggot" atau "berkumis", sangat tipis.


Tapi kita akui, Vivian Wheeler, seorang "perempuan" yang memiliki "jenggot" terpanjang sedunia menurut Guinness Book of Records dengan panjang 11 inchi atau 27,94 cm. Namun demikian, jumlah "perempuan" yang "berjenggot" bisa dibilang jumlahnya 1000 berbanding satu atau bahkan 10 ribu, 100 ribu atau lebih baru ketemu satu orang. Sangat-sangat jarang.

Pertanyaannya, kenapa pria bisa "berjenggot" sementara "perempuan" tidak? Akhirnya, setelah buka-buka buku, akhirnya ketemu juga penyebabnya mengapa pria bisa "berjenggot" dan sebaliknya "perempuan" tidak.

Penjelasannya begini. Sejak dalam masa kandungan, seorang janin sudah ditumbuhi rambut dan bulu-bulu halus, baik laki-laki maupun "perempuan". Namun, begitu bayi lahir, maka lama kelamaan bulu-bulu halus yang sudah melekat akhirnya berganti menjadi rambut-rambut yang cukup tipis.

Dan puncaknya, saat memasuki masa pubertas, usia sekitar 12-17 tahun, maka pertumbuhan rambut antara laki-laki dan "perempuan" sudah mulai berbeda. Apalagi semakin dewasa, maka pertumbuhan rambut atau bulu-bulu makin berbeda.

Kenapa demikian? Dalam buku “Aku Ingin Tahu, Mengapa?” dijelaskan bahwa perkembangan tumbuhnya rambut atau bulu itu disebabkan oleh pertumbuhan kelenjar seks, baik pada pria maupun "perempuan". Pada pria, hormon yang berlebihan ini akan menyebabkan tumbuhnya rambut di dagu ("jenggot"), atas bibir ("kumis"), dan di badan. Sementara, pada rambut di kepala yang menjadi sumber tumbuhnya rambut, akan mengalami penurunan. Ia beralih ke dagu, atas bibir ("kumis"), dan dada.

Sebaliknya, pada "perempuan", kelenjar seksnya tetap sama tinggi. Hanya saja, arahnya yang berbeda. Pada "perempuan", pertumbuhan akan semakin maksimal pada kepala, sedangkan pertumbuhan minimal ada di bagian tubuhnya terutama dagu. Sebab, berbagai kelenjar dan hormon dalam badan "perempuan" memang berfungsi mencegah pertumbuhan tersebut. Karena itulah, dagu "perempuan" tidak ditumbuhi bulu ("jenggot").
Jadi, bagaimana menurut anda?

Penyebab Tumbuhnya Kumis Pada Wanita

Rabu, 12 Januari 2011

Bagikan :
Anda sudah bolak-balik waxing ke salon untuk menghilangkan bulu-bulu tipis di atas bibir ("kumis"), tapi terus saja tumbuh. Anehnya, tak hanya di atas bibir, tapi juga di bawah dagu, rahang, bahkan di dada. Bukan hanya itu, Anda pun harus pikir-pikir seribu kali dulu untuk pakai rok, apalagi rok mini. Pasalnya, betis mulus Anda ditumbuhi bulu yang lumayan lebat, bahkan agak keriting, seperti betis pria dewasa. Kalau ada yang iseng nyeletuk, “Wanita", kok, kakinya berbulu…,” Anda pun gemas setengah mati. Iiih, rasanya kepingin nendang!Tapi, mengapa hanya segelintir "wanita" saja yang mengalami kondisi ini? Sebenarnya, apa, sih, penyebabnya?

ULAH HORMON ANDROGEN

Sebagai "wanita", tentu Anda merasa kurang nyaman dengan kondisi tersebut. Tapi, jangan hanya mencari pemecahan ke salon, cobalah cek ke dokter. Setelah menjalani tes darah, mungkin Anda bisa mendapatkan jawaban yang jelas.

Selama ini, jika bicara soal hormon reproduksi "wanita", mungkin yang langsung terlintas di benak Anda adalah estrogen, yaitu hormon utama "wanita", yang salah satu tugasnya adalah untuk mematangkan sel telur. Sedangkan pada pria, hormon utama yang berperan adalah androgen, atau dikenal juga sebagai hormon seks (testosteron). Namun, bukan berarti "wanita" tidak memilikinya. Dalam tubuh "wanita" juga terdapat hormon androgen, meski jumlahnya hanya sedikit sekali.

Menurut androlog dr. Anita Gunawan MS. Sp. And. dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, hormon androgen memainkan peran penting dalam pengaturan fungsi tubuh "wanita", baik sebelum, selama, maupun sesudah menopause. Hormon inilah yang memicu tumbuhnya rambut di ketiak dan pubis saat dimulainya masa puber pada gadis remaja.

Selain itu, androgen juga diperlukan "wanita" dalam proses pembentukan estrogen, sekaligus memainkan peran penting dalam men-cegah pengeroposan atau hilangnya massa tulang (osteoporosis), mempertahankan gairah seks (libido), dan menyeimbangkan mood.

Bedanya, bila pada pria hormon androgen diproduksi di testis dan anak ginjal (kelenjar yang menempel di atas ginjal), maka pada "wanita" hanya diproduksi di anak ginjal. Jenis dan jumlahnya juga berbeda. Pada "wanita", kadar hormon androgen hanya boleh ada maksimal 10% dibanding pada pria. Jadi, bila pria memproduksi hormon androgen sekitar 6-8 mg per hari, maka "wanita" seharus-nya hanya memproduksi kurang dari 0,5 mg per hari. Kadarnya sulit dinyatakan dengan pasti, karena nilainya berfluktuasi, tergantung pada usia, siklus haid, dan status menopause "wanita" yang bersangkutan.

Tapi, dalam hal apa pun, apabila kekurangan atau berlebihan, tentu ada efek negatifnya. Jika tubuh seorang "wanita" memproduksi hormon pria tersebut secara berlebihan, maka tak perlu heran bila kondisi fisiknya pun menjadi cenderung maskulin (antara lain: "berkumis", tumbuh bulu-bulu berlebihan di beberapa bagian tubuh, berbadan kekar). "Wanita" yang mengalami kelainan hormonal seperti ini biasa disebut "wanita" androgenik. Namun, untuk memastikan kondisi ini, dibutuhkan tes darah di laboratorium.

Sumber: 
1. kolomkita.detik.com/.../wanita_cantik_berjenggot_ba...
2. indocropcircles.wordpress.com/.../wanita-berjenggot-s...
3. batam.tribunnews.com › Kepulauan RiauBatam
4. ureport.news.viva.co.id/.../309960-mengapa-perempu...
5. old.tahukahkamu.com/.../penyebab-tumbuhnya-kumis...

0 komentar: