Sabtu, 05 Oktober 2013

"KATA ANU"

"Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata "anu" berarti :
yang tidak disebutkan namanya (orang, benda, dsb): simembeli — di toko
–; 2 (untuk menyebutkan) sesuatu yg namanya terlupa atau tidak diketahui: gedung — yg baru selesai dibangun itu akan diresmikan pemakaiannya besok
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
"Anu" dapat berarti :
  1. Kata tunjuk untuk sesuatu yang belum jelas
  2. Kata tunjuk untuk orang yang tidak diketahui, contoh : "Si "Anu" itu namanya siapa?".
  3. "Ānu", nama tokoh dalam Susastra Hindu, salah satu leluhur Pandawa dan Korawa
  4. "Anu", dewa bangsa Mesopotamia
  5. "ānu", kata dari bahasa Sanskerta yang berarti orang
  6. Anann, dewi bangsa Celtik
  7. Singkatan dari Universitas Nasional Australia (Australian National University/"ANU")
  8. Christine "Anu" (lahir 1970), seorang musisi Australia
  9. Mashua, sayuran Andean
  10. VC Bird International Airport, Antigua, dari kode bandara IATA
ENTAH mengapa orang suka memakai kata "Anu" bila bicara. "Anu" adalah sebuah kata bahasa Jawa yang sebenarnya tidak punya arti apa-apa. Kalau punya arti, itu tergantung pada orang itu sendiri yang mengartikannya.  Kata itu hanya berfungsi sebagai kata untuk menyebut sesuatu yang tidak diketahui istilah atau namanya.

Kadang kata "Anu" dipakai untuk menggantikan kata-kata panjang dan lawan bicara dianggap tahu obyek pembicaraan. Tapi tidak sedikit pula orang memakai kata "Anu" karena kemalasan berpikir.

Kata "Anu" bisa sebagai pengganti sesuatu yang mengganjal di ujung lidah untuk diucapkan. "Anu" adalah hasil pikiran bebas. "Anu" meski secara resmi tidak ada dalam bahasa dan kamus tapi punya peranan penting dalam keseharian.  "Anu" seolah bisul yang bisa datang dan menghilang pada siapa saja tanpa diundang dan tanpa meninggalkan bekas yang mengganggu.  Kata "Anu" adalah kata yang berkeliaran dengan bebas di udara dan siap dijemput oleh siapa saja.


Karena banyaknya tersedia dan gampang untuk dipakai, maka tidak sedikit jumlah orang yang menyukainya.  Ia bebas diperoleh bagi siapa saja. Sumbernya tidak terbatas. Tinggal petik di depan kepala. Seolah semua orang pernah pakai kata "Anu".

"Anu" yang sebenarnya netral, tidak kentara, tidak berbau, tidak kelihatan, tidak nyata, tidak resmi ternyata bisa meninggalkan jejak pengaruhnya jika digunakan tidak semestinya.  "Anu" dipakai dengan sengaja untuk hal-hal yang jelas dan sebenarnya bisa tanpa memakai kata "Anu".

Kata "Anu" telah diselewengkan menurut kepentingan. Ketidak pedulian orang lain dengan kata "Anu" telah dimanfaatkan golongan masyarakat tertentu demi kepentingan diri.  Memperlakukan sesuatu yang penting dan menyembunyikan dari orang lain sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya dengan menyebutnya sebagai "Anu". Sesuatu yang digantikan oleh "Anu" tidak lagi akan mengundang pertanyaan, apalagi diutak-atik secara serius.  Paling cuma diganti dengan kata "Anu" lagi yang baru.

Banyak orang memperlakukan "Anu" sebagai anugerah. Orang hanya memicingkan sebelah mata pada kata "Anu". Kata "Anu" tidak dianggap penting karena demikian gampangnya diperoleh dan keberadaannya ada di mana-mana. Orang merasa tidak akan kekurangan, maka tak ada gunanya bertengkar karena masalah "Anu".

Banyak orang membutakan diri dengan eksistensi kata "Anu". Kata "Anu" dianggap tidak penting dan tidak punya peranan meski kata "Anu" selalu dan pasti ada. Tidak mungkin menghilang apapun perlakuan kita terhadap kata "Anu".  Ia tak akan pergi kemana-mana.  "Anu" akan tetap di situ dan tergantung pada keberadaannya. Jadi, kita merasa tidak perlu bersyukur atau berterimakasih pada siapapun atas keberadaan "Anu".

Di tangan orang-orang pemegang kekuasaan, banyak orang tidak tahu bahwa kata "Anu" ternyata bisa menguntungkan. Kata "Anu" bisa menjadi wakil sesuatu yang sebenarnya penting. Pemegang kekuasaan menyebutnya sebagai "Anu" agar terkesan tidak penting.

Seorang pejabat bilang, “Pokoknya kalau ada "Anu"nya pasti bereslah…”, katanya sambil bergurau.

Kata-kata yang diucapkan dengan seloroh itu ternyata mengejutkan dampaknya.  Beberapa hari kemudian, ia dapati rekening bank miliknya bertambah ratusan juta rupiah.

"Anu" yang di kalangan rakyat biasa tidak memberikan apa-apa selain kemudahan berpikir itu ternyata bisa berubah jadi sesuatu yang secara nyata menguntungkan di kalangan pejabat.  Mendapati cara mudah untuk mendapat keuntungan ini, maka berita bagus ini pun menyebar di kalangan orang-orang yang dekat dengannya dengan diam-diam.

Makin populerlah kata "Anu" ini dipakai di kalangan pejabat.  Kata "Anu" selain mudah diucapkan dan menghasilkan keuntungan, tapi ternyata juga amat luwes.  Kata "Anu" tidak kehilangan sifat dasar keluwesannya sejak semula dimanapun dan kapanpun dipakai.

Kata "Anu" bisa dipakai untuk menjelmakan berbagai hal menjadi berbagai macam bentuk. Tergantung bagaimana cara mengucapkan dan konteksnya.

“Sebenarnya mereka tidak mau. Tapi setelah saya sebut beberapa "Anu", dia kasih lebih besar,” kata seorang pejabat lainnya cerita pengalamannya saat berada di luar negeri membicarakan bantuan keuangan dengan donatur dari luar negeri sambil cengengesan.
“Kalau ada masalah, bilang saja kamu lagi "Anu",” kata pejabat lain.
“Yang penting dicantumkan saja "Anu"nya.  Yang sekian persen untuk anggaran kesehatan rakyat dan sisanya tulis saja buat "Anu".  Tidak ada yang bertanya kok. Beres semua.  Sudah aku "Anu",” nasehat pemimpin partai pada sekretarisnya.

“Saya tidak tahu kalau hal itu sebenarnya "Anu",” kata pejabat lainnya lagi berkelak saat menghadapi tuduhan miring padanya.
“Kemarin aku lihat "Anu"nya si "Anu" lagi di"Anu" sama "Anu"nya "Anu".  Kelihatannya kok "Anu" sekali. "Anu"nya juga cuma sebesar "Anu".  Tidak "Anu" kok,” kata pejabat lain tak mau kalah dalam bicara "Anu". "Anu" sering diborongnya sekaligus.

Karena seringnya dipakai dan dalam waktu lama, akhirnya kata "Anu" itu jadi liar dan ada dimana-mana. Para pejabat saling tanya maksud "Anu" dalam waktu tertentu.  Pejabat minta penjelasan maksud "Anu" pada pengusaha karena beda dengan apa yang dikehendakinya. Pejabat tanya pada sesama pejabat lewat rapat internal maksudnya "Anu".  Tapi di waktu lain, ketemu "Anu" lainnya.

"Anu" ada di anggaran keuangan, di rancangan hukum, APBN, rakernas, rapat proyek, sidang tahunan, majalah dinding, di WC, di kantin dan lain-lain tempat.  "Anu" ada di mana-mana.  "Anu" kadang juga ditulis sebagai **** kalau menyebut kata yang tidak ingin dibaca orang lain atau mengganti kata-kata yang tidak sopan. Di majalah dinding ada kalimat, “Dasar orang ********an!”.

Kata "Anu" bahkan menjelma jadi kata jorok, seperti yang terdapat di pintu WC. “"Anu"nya minta dientot”.  Banyak orang menjadi bingung dengan beribu jelmaan wajah "Anu". "Anu" bagai bakteri wabah, macam virus dengan cepat menyebar dan sulit terdeteksi. Bedanya dengan virus atau bakteri beneran, efek samping "Anu" tidak terasa dan tidak kelihatan. Efeknya pelan dan jangka panjang. Kalau tidak teliti orang bakal tidak tahu kalau sebenarnya ia sudah terjangkit bakteri atau virus akibat dari "Anu".

Pemimpin yang jujur dianggap sebagai munafik. Yang tidak sepaham disebut kafir.  Yang suka ceplas-ceplos dianggap tidak tahu adat. Yang mengajarkan kesamaan hak dianggap antek kapitalis.  Orang tegas menegakkan aturan dibilang kejam kayak Fir’aun.  Mengkritik demi kebaikan dianggap provokator. Orang rendah hati dibilang loyo. Atau kadang sebaliknya. Korupsi dianggap sedekah.  Menghujat dianggap pemberani.  Dan lain-lain kesimpang-siuran akibat "Anu".


Negara yang sebenarnya sudah gonjang-ganjing tidak dirasakan oleh rakyatnya. Semua berjalan sebagaimana biasa.  Fenomena "Anu" sudah menjangkiti semua segmen kehidupan. Rakyat masih saja suka dengan kata "Anu". Bahkan mereka setuju saja ketika "Anu" dipakai dalam hukum, politik, pendidikan, birokrasi, media cetak, TV, kebijakan ekonomi.  Orang dengan enteng saja menjawab kebingungannya dengan kata-kata, “Tanya saja pada "Anu".

Negara akhirnya hukumnya berdasar hukum "Anu", moralnya moral "Anu", budayanya budaya "Anu", sistem pendidikannya pendidikan "Anu", cara kerja birokrasi cara kerja "Anu", ekonominya dikelola dengan cara "Anu", riset dan teknologi dengan dana "Anu", kehidupan rakyat diserahkan pada "Anu", kesejahteraan rakyat adalah masalah "Anu".

Kesilang-sengkarutan yang kasat mata.  Kekacauan dalam keteraturan. Keamburadulan dalam ketentraman. Kebohongan dalam kejujuran, kemunafikan dalam kemuliaan. "Anu" berada dalam banyak aspek.  Mondar-mandir tanpa orang ketahui.  Lalu-lalang tanpa orang sadari.  Masa depan bangsa adalah masa depan "Anu".

Bagaimana mungkin sesuatu yang nampak kecil bisa mempengaruhi yang demikian besar?  Karena banyak orang lupa bahwa dari sesuatu yang kecil itulah kita menemukan kekuatan diri. Kalau tidak percaya pada hal-hal yang kecil, lama kelamaan negara pun akhirnya bisa menjadi negara "Anu".

Kata "Anu" sudah mengakar di seluruh pelosok Indonesia untuk mewakili kata atau kalimat yang ingin diungkap oleh pembicara. Misalnya di daerah Jawa kita biasa mendengar dengan pernyataan "Anu" loh, mbak!  Di Makassar kita biasa mendengar "Anu" yang ambilki bukumu! 

Selain gambaran di atas, bisa bahwa kata "Anu" tidak bisa dijelaskan pada aspek morfologi dan sintaksis jika tidak didukung oleh referensi dan konteks yang sama antara pembicara dengan pendengar. Oleh karena itu, pada kajian morfologi dikenal dengan istilah kata, maka dalam kajian semantik dikenal dengan istilah leksem dan pada kajian sintaksis dikenal dengan kalimat, maka pada kajian semantik dikenal dengan istilah proposisi. Pada kajian semantik yang mengkaji tentang proposisi, tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya argumentasi dan predikatif yang mendukungnya. 

Namun, satu yang pasti bahwa bagi penulis jika ditinjau dari segi kualitas, kata ‘anu’ merupakan kata yang lemah (lower word) sehingga kalau dimasukkan dalam kalimat, meminjam istilah Bolinger dalam Aspect of Language dikenal dengan istilah Lower Sentences (kalimat yang sangat lemah). 


Selain kata "Anu" kata yang lemah itu seperti ‘mungkin’. ‘Malam ini mungkin hujan’. Kalimat tadi belum bisa dikatakan kuat kualitas maknanya jika belum dibuktikan. Oleh karena itu, pada kalimat tadi akan menjadi higher sentences (kalimat yang sangat kuat) jika sudah dihilangkan kata ‘mungkin’ menjadi Malam ini hujan’.

Pada konteks kemasyarakatan kata "Anu"  merupakan penyelamat dalam berkomunikasi. Kata "Anu" bisa mewakili kekerabatan. Kata "Anu" digunakan untuk menutupi kata yang dilupa. Kata "Anu" bisa dimaknai sebagai jeda. Kata "Anu" bisa mengganti ‘kata ganti’. Kata "Anu" bahkan bisa mengganti semua kata. Namun, pada akhirnya kata "Anu" merupakan kata yang sangat lemah (lower word). Sama dengan posisi kata ‘mungkin’ yang jika dihubungkan dengan kalimat pada kajian sintaksis atau proposisi pada kajian semantik. 

Sumber:
1. daenggassing.com/2011/03/.../postingan-anu/
2. id.wikipedia.org/wiki/Anu
3. herrybsancoko.wordpress.com/.../anu-itu-sebaiknya-di...
4. andi-karman.blogspot.com/.../untung-ada-kata-anu.ht...
5. laely.widjajati.photos.facebook/ALHAMDULILLAH............Sehari-Halal-Bi-Halal-Dua-Kali........
6. muji.kusrini.photos.facebook/mekarsari.....
7. laely.widjajati.photos.facebook/nyantai-sejenak......

0 komentar: