Sabtu, 18 Februari 2012

"Silaturrahim Kunci Pembuka Gembok Rezeki"

"Silaturrahim" merupakan salah satu kunci pembuka gembok "rezeki".



A. Makna "Silaturrahim".

Makna "Silaturrahim" adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: 'Ar-rahim' secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak.'

Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman, dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.'

"Silaturrahim", sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para karib kerabat dekat baik menurut garis keturunan maupun perkawinan, berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.

B. Dalil Syar'i Bahwa "Silaturrahim" Termasuk Kunci "Rezeki".

Beberapa Hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah menjadikan "Silaturrahim" termasuk di antara sebab kelapangan "rezeki". Di antara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda:
'Siapa yang senang dilapangkan "rezeki"nya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaknyalah ia menyambung (tali) "Silaturrahim".'

2. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah bersabda:
'Siapa yang suka untuk dilapangkan "rezeki"nya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung "Silaturrahim".'

Dalam hadits di atas, Nabi menjelaskan bahwa "Silaturrahim" mmbuahkan dua hal, kelapangan "rezeki" dan bertambahnya usia. Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh makhluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad.
Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu "Silaturrahim". Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan' Bab Orang Yang Dilapangkan "Rezeki"nya dengan "Silaturrahim". Artinya, dengan sebab "Silaturrahim".

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan: 'Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam "Rezeki" Bagi Orang Yang Menyambung "Silaturrahim" .'

3. Dalil lain adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda:
'Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung "Silaturrahim" . Karena sesungguhnya "Silaturrahim"  adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.'

Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan bahwa "Silaturrahim"  ini membuahkan tiga hal, di antaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.

4. Dalil lain adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi, beliau bersabda:
'Barangsiapa senang dipanjangkan umurnya dan diluaskan "rezeki"nya serta dihindarkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung "Silaturrahim".'

Dalam hadits ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, menjelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat: bertaqwa kepada Allah dan menyambung "Silaturrahim". Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan "rezeki".

5. Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar, ia berkata:
'Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung "Silaturrahim", niscaya dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan "rezeki"nya dan dicintai oleh keluarganya.'

6. Demikian besarnya pengaruh "Silaturrahim"  dalam berkembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh "Silaturrahim", harta mereka dapat berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah dari Nabi, bahwasanya beliau bersabda:
'Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah "Silaturrahim". Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka dapat berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling ber"Silaturrahim"  . Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling ber"Silaturrahim"  kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).'

C. Apa Saja Sarana Untuk "Silaturrahim"?

Sebagian orang menyempitkan makna "Silaturrahim"  hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidak benar. Sebab yang dimaksud "Silaturrahim"  lebih luas dari itu.

"Silaturrahim"   adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.

Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: "Silaturrahim"  itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do'a.'

Makna "Silaturrahim"  yang lengkap adalah  memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat).'

D. Tata Cara "Silaturrahim"  dengan Para Ahli Maksiat.

Sebagian orang salah dalam memahami tata cara "Silaturrahim"  dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa ber"Silaturrahim"  dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majelis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.

Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8:
'Allah tiada melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.'

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abu Bakar yang menanyakan Rasulullah untuk ber"Silaturrahim"  kepada ibunya yang musyrik. Dalam haits ini di antaranya disebutkan:
'Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung ("Silaturrahim") dengan ibuku?. Beliau menjawab: 'Ya, sambunglah ("Silaturrahim") dengan ibumu.'
Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka.  Bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat  tersebut. Allah berfirman dalam Surat Al-Mujadilah ayat 22:
'Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.'

Makna ayat ini - sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi - adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.

Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.

Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik:
'Saya berkata, 'Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang-orang dzalim dan yang suka memusuhi.'

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut berkata: 'Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat.'

Sebaliknya, "Silaturrahim"  dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut - dalam kondisi demikian - dapat dikatagorikan sebagai "Silaturrahim".

Dalam hal ini Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: 'Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa, maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) "Silaturrahim"  dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasihati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus mebandel. Kemudian, hal itu (pemutusan "Silaturrahim") dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.                   

(Sumber: 9 Kunci Pembuka Gembok "Rezeki" - Menjadi Milyuner Silent Tanpa Hubbuddunya. Oleh: Dr. M. Mufti Mubarok).

0 komentar: