Rabu, 26 Desember 2012

"ANTROPOLOGI EKONOMI"

"Antropologi Ekonomi" merupakan bagian dari "antropologi" spesialisasi yang kurang berkembang di Indonesia".  


Kondisi ini disebabkan oleh perhatian terhadap aktivitas per"ekonomi"an lebih menitikberatkan pada aspek ilmu "ekonomi" modern dan kurangnya perhatian terhadap aspek-aspek substantif dari aktivitas tersebut.  Pendekatan formalis memandang tahap-tahap perkembangan per"ekonomi"an sebagai sesuatu yang linier, sehingga perkembangan masyarakat di Indonesia disamakan saja dengan perkembangan masyarakat barat.  Inilah kelemahan pendekatan formalis dalam "Antropologi Ekonomi" yang menafikan faktor-faktor sosio kultural yang ada di masyarakat.

"Antropologi Ekonomi" berupaya untuk menjelaskan fenomena aktivitas "ekonomi" masyarakat tidak melulu berdasarkan teori dan konsep "ekonomi" modern, akan tetapi berkaitan erat budaya dan lingkungan fisiknya.  Untuk memahami gejala itu, dibutuhkan sebuah pendekatan yang mampu menampilkan setting keterkaitan antara gejala tersebut dengan baik, yaitu pendekatan holistik.

"Antropologi Ekonomi" adalah suatu kajian dalam "Antropologi" social budaya yang memusatkan studi pada gejala "ekonomi" dalam kehidupan masyarakat manusia. Posisi bidang kajian ini adalah sejajar dengan bidang kajian lain dalam study "Antropologi". Perilaku "ekonomi" adalah saling mempengaruhi factor social budaya yaitu adanya proses produksi, distribusi dan komsumsi adanya barang dan jasa. Dalam  

"Antropologi Ekonomi" mencakup:
(1) bagaimana factor – factor non "ekonomi" dan "ekonomi" berperan dalam kegiatan "ekonomi";
(2) system kekerabatan berperan dalam kegiatan "ekonomi" yang tidak dilihat;
(3) pranata- pranata social yang sering kali terkait didalamnya.
 
Ghathering Society ( Masyarakat Pranata )
Masyarakat yang hidup dalam kelompok – kelompok yang relative kecil dan terpencar- pencar dan sering berpindah- pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk mencari sumber makanan. Dalam proses mata pencaharian manusia yang berawal dari berburu dan meramu menjadi peternakan kerena manusia berhsil menjinakkan binatang buruannya dari tingkat bangsa beternak berevolusi ke bercocok tanam. Ciri-cirinya yaitu:
(1) kehidupan kurang stabil akibatnya bahan makanan kurang cukup sehingga mereka harus hidup berpindah
(2) jumlah penduduk sedikit orang hidup dalam kesatuan keluarga atau kelompok kecil
(3) hubungan social atas dasar kekerabatan
(4) hidup didaerah terpencil kurang kontak dengan dunia luar dan penduduk lainny. 

Dalam evolusi mata pencaharian hidup manusia dibagi atas berburu, beternak, dan berc ocok tanam. Pola hidup masyarakat berburu dan meramu merupakan pola hidup manusia yang paling tua di permukaan bumi, yang ditandai dengan berkelompok dan terkadang bermalam di tempat buruannya yang banyak terdapat hewan yang bisa ditangkap untuk bahan makanan. Pembagian hasil buruannya dengan kaum kerabat, tetangga dan orang lain dalam masyarakatnya. Misalnya dapat kita lihat pada suku bangsa Bgu penduduk pantai utara Irian Jaya yang masih hidup berburu dan meramu. Beternak secara tradisional merupakan mata pencaharian pokok yang dikerjakan secara besar-besaran. Pada masa sekarang beternak dilakukan oleh kurang lebih tujuh juta manusia yaitu kira- kira 0,02% dari 3 milyar penduduk dunia. Suku -suku bangsa peternak cenderung bersifat agresif, karena mereka secara terus menerus harus menjaga keamanan kelompok tetangga suku bangsa peternak juga biasanya hidup mengembara sepanjang musim semi dan musim panas dalam suatu wilayah tertentu yang sangat luas dalam musim dingin mereka menetap dalam suatu perkemahan induk atau desa induk.

Berbeda dengan pola hidup bercocok tanam, bercocok tanam di ladang berpindah, merupakan bentuk mata pencaharian manusia yang lambat laun hilang, diganti dengan bercocok tanam menetap.bercocok tanam di ladang berpindah dilakukan dengan membuka sebidang tanah menebang pohon-pohon kemudian membakar daun dahan dan balok pohon hasil tebangan, lading yang telah dibuka di tengah hutan kemudian ditanami berbagai macam tanaman tanpa pengolahan tanaman yang intensif juga irigasi.

 SEJARAH PERKEMBANGAN "ANTROPOLOGI EKONOMI".

•"Antropologi Ekonomi" berkembang sejak akhir abad ke 19 dan awal ke20 ketika Malinowwski melakukan penelitian di Kepulauan Trobrian
•Dari penelitian tersebut terdapat perhatian dari muridnya yaitu R. Firth, Good Fellow dan Herkofits
•Ahli ilmu "ekonomi" murni yang tertari k dengan pemikiran Malinowski, seperti Manning Nash dan Belsaw
•Ahli sejarah Karl Polanyi dengan latar belakang ilmunya mengkaji system "ekonomi" secara historis
 
FASE PERKEMBANGAN PENDEKATAN "ANTROPOLOGI EKONOMI".

•Zaman Malinoski akhir abad XIX awal abad XX « Argonauts Of The Westen Pacific” sebagai peletak dasar "Antropologi Ekonomi"
•Munculnya ahli "ekonomi" Roymond Firth, Herkovits serta ahli sosiologi "ekonomi" Good Fellew karyanya masing-masing: primitive Polynesian "ekonomi" (1939) , The "Ekonomi" Primitive people(1940), Principle of "Ekonomi" Sosilogy (1939) yang kemudian mereka disebut Formalis.
•Muncul George Dalton, Karl polangi, Paul Bohannan Buku Dalton “Economic" thery and Primitive Society (1961) mereka disebut subtantivist
•Munculnya M Gother, dengan bukunya yang berjudul: Un Domaine Constita "Antropology Economique”(1974).disebut Neo –Marxist.
•Muncul tulisan James Scott. The Moral Of The Peasent "Economi", Rebillion, Subdistence "Economi" in south east Asia (1977), Disebut Neo Subtantif.
•Terbitnya buku S.Poptein yang berjudul”Retional Peasent”(1978), Disebut Neo Formalist.
•. Munculnya tulisan Cyril S Belhsaw:Traditional exchange and Markets.disebut Moderat.
•Terbit karyta dari "Antropologi" dari Leiden Jpm Den Bremen « Onze Aarde Houndt Neet Van Rejs « (1985) daia disebut strukturalis
•Muncul karya dari "Antropologi" Amerika Steven Goodmen (1986) dia disebut sebagai ahli "Antropologi Ekonomi" simbolik
•Muncul karya Dewey, Szanton, dan Davis mengenai “ social Relation in Philipine Market disebut "ekonomi" personalisme.

Pendekatan –pendekatan dalam "Antropologi Ekonomi" meliputi Pendekatan Formal, Pendekatan Subtantif, Pendekatan Neo Formal, Pendekatan Neo Subtantif, dan Pendekatan

PEMBAHASAN
Dalam kajian ilmu "ekonomi" modern, kegiatan "ekonomi" pada intinya berpusat pada kegiatan produksi barang, distribusi (mendeliverkan barang pada konsumen) dan akhirnya pada proses konsumi (menghabiskan atau memakai barang atau jasa). Semua proses ini juga terjadi dalam kehidupan "ekonomi" masyarakat tradisional, walaupun tidak begitu mendapat perhatian dari ahli "ekonomi" karena lebih memusatkan per"ekonomi"an pada tingkat global. Dalam sistem matapencarian hidup para ahli "Antropologi" juga memperhatikan sistem produksi lokalnya, cara pengolahan sumberdaya alam, cara pengumpulan modal, cara pengerahan dan manajemen tenaga kerja. Teknologi dalam sistem produksi, sistem distribusi pasar, dan proses konsumsinya. Kalau dirinci lebih jauh lagi termasuk didalamnya dikaji bagaimana keterlibatan keluarga dalam mengkonsumsi suatu barang juga sistem distribusi seperti apa yang digunakan, siapa saja yang terlibat dalam proses produksi, dan lain sebagainya. Di dalam buku pengantar ilmu "Antropologi" terlihat Koentjaraningrat begitu membatasi kajian "ekonomi" pada sistem mata mencarian hidup hanya dalam ruang lingkup yang kecil saja dan menganggap hal-hal seperti proses distribusi yang besar dengan jaringan yang luas dan sistem "ekonomi" yang berdasarkan pada industri merupakan murni kajian ahli "ekonomi". Sehingga memberikan kesan pemahaman bahwa "Antropologi" adalah ilmu yang tertinggal (membatasi diri pada hal -hal yang seharusnya bisa menjadi kajian "Antropologi", dengan tidak lepas dari akar ilmu "Antropologi" sendiri tentunya).
 
Dalam "Antropologi", terdapat tiga pendekatan yang penting dan berkaitan dengan kegiatan "ekonomi" yakni, pendekatan formal, subtantif, dan marksis serta pendekatan lainnya yang mencoba memperbaharui pendekatan yang telah ada sebelumnya. Ketiga pendekatan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing -masing. Umum terjadi bahwa setiap peneliti akan menekankan studinya pada salah satu pendekatan tersebut. Sebagai peneliti ia akan berusaha untuk menggunakan pendekatan tersbut, dalam analisis data yang ditemukannya atau mencari sintesa dari teori -teori yang terdapat pada pendekatan tersebut. Ahli "Antropologi Ekonomi" awalnya terbelah kedalam pendekatan formal dan subtantif dalam usaha menjelaskan fenomena "ekonomi" dari masyarakat yang mereka teliti. Namun pada perkembangan berikutnya ahli "Antropologi" mengembangkan pendekatan marksis. Pada bagian ini dibicarakan pendekatan formal dan subtantif dan pendekatan Marksis.

A. PENDEKATAN FORMAL
Pendekatan formal adalah pendekatan yang berasal dari teori – teori makro atau teori konvensionalisme atau teory "ekonomi" klasik untuk menjalaskan dan menganalisis gejala social "ekonomi" masyarakat. "Ekonomi" sebagai cara mengklasifikasikan sumber – sumber yang terbatas jumlahnya dan mencapai tujuan – tujuan yang banyak jumlahnya secara maksimal. Secar konvensional ilmu "ekonomi" kemidian mengasumsikan bahwa tindakan manusia bersifat rasional dalam melakukan alktivitas "ekonomi" yang merupakan dasar yang diterima sebagai suatu kebenaran. Pendekatan ini cenderung melihat gejala "ekonomi" sebagai suatu tindakan memilih antara tujuan -tujuan tak terbatas. Secara konvensional ilmu "ekonomi" kemudian mengasumsikan bahwa tindakan manusia bersifat rasional dalam melakukan aktifitas "ekonomi" tersebut. Asumsi tersebut merupakan asumsi dasar yang diterima sebagai suatu kebenaran. 

Gejala "ekonomi" tidak dapat dilihat dari segi subtantifnya, yaitu dari segi proses pemberian makna sumber daya "ekonomi". Tokohnya yaitu Raymond Firth, Herkovits, Good Fellow, Monning Nash, Pospisil, Scott Cook, S. Epstein, Alice Dewey, Peggy Barlent. Pendekatan yang sangatlah "ekonomis", namun "Antropologi" menempatkan diri pada pengembangan ilmu "ekonomi" untuk memahami gejala -gejala yang lebih luas dalam per"ekonomi"an primitive dan peasant, "Antropologi Ekonomi" sebagai pendekatan hubungan-hubungan sosial tentang pemanfaatan sumber daya "ekonomi". , untuk mencapai pemahaman yang akurat tentang keberagaman dan kompleksitas tingkah laku sosial yang diobservasi, bersifat anhistoris, walaupun bukan anti -historis atau sinkronik, meskipun pendekatan ini
bersifat analitisaa dan formala dalam orientasinya, tetapi memiliki kecenderungan yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip abstraksi umum.

Ada enam ciri yang dikemukakan oleh Scoot Cook (dalam Sairin dkk) yang membedakan pendekatan formal dengan subtantif. 
Pertama, telah diutarakan sebelumnya bahwa pendekatan formal terkesan dengan kesukse san ilmu "ekonomi" neo-klasik dalam merumuskan hukum-hukum "ekonomi" untuk menjelaskan dan menprediksi perilaku "ekonomi" masyarakat Eropa pada abad ke -19 dan ke-20 serta masyarakat diluar Eropa pada abad tersebut yang menganut sistem ekonomi pasar.
 
Beberapa prinsip "ekonomi" formal meliputi:
•Scarce/ Limited Of Good atau keterbatasan sumber- sumber atau factor produksi.
•Tujuan cita-cita kebutuhan banyak
•Tujuan, cita-cita atau kebutuhan diarahkan pada kepentingan individu yang berwujud meterial maupun inmaterial
•Perlu "ekonomi"sasi karena sumber – sumber yang terbatas sedangkan kebutuhan tak terbatas / banyak
•Rasionalisasi, eksistensi, evektivitas, dan kulkulasi
 
Kedua, pendekatan formal menempatkan "Antropologi Ekonomi" sebagai studi tentang hubungan-hubungan sosial yang menayngkut proses pemanfaatan sumber daya "ekonomi". Hal ini dilakukan sebagai usaha mendeskripsikan dan menganalisis cara -cara proses pemanfaatan sumber daya "ekonomi" tersebut dalam berbagai setting kultural . Hubungan-hubungan sosial ssebagai gejala proses pemanfaatan sumber adaya "ekonomi" dapat dilihat misalnya dalam hubungan patron -klien, hubungan persahabatan, jaringan kekerabatan dan hubungan-hubungan lainnya yang terpola menurut pranata-pranata dalam lembaga-lembaga
yang hidup di masyarakat.

Ketiga, tujuan pendekatan formal ini adalah untuk mencapai pemahaman yang akurat tentang keragaman dan kompleksitas tingkah laku sosial yang diobservasi. Untuk mencapai tujuan ini, penganut formalist cenderung mengkonstruksi model-model yang bersifat memprediksi tingkah laku yang akan terjadi dalam berbegai latar budaya. Hal ini berakibat terjadinya reduksi data dan fakta -fakta yang ada di lapangan. Penganut formal lebih tertarik terhadap fakta-fakta yang relevan dengan model -model yang telah disusun sebelumnya dan fakta-fakta yang mendukung teori "ekonomi", sehingga mereka kurang memperhatikan fakta yang khas yang muncul di lapangan.

Keempat, para penganut aliran formal ini pada dasarnya bersifat sinkronik atau ahistoris. Dengan kata lain, ciri ini menerangkan misalnya bila meneliti sistem pertukaran dalam suatu sistem "ekonomi", peneliti tidak akan membandingkan sistem pertukaran secara diakronis melainkan hanya pada suatu periode tertentu saja.

Kelima, meskipun pendekatan ini bersifat analitis dan formal dalam orientasinya, tetapi mempunyai kecendrungan yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip abstraksi umum atau dengan menggunakan logika deduktif untuk menganalisis tingkah laku "ekonomi" pada berbagai latar budaya yang berbeda.

Keenam, penganut pendekatan ini melihat gejala "ekonomi" pada tingkah laku individu dan motif-motif yang mendorong tingkah laku tersebut, sehingga per"ekonomi"an dilihat sebagai kumpulan dari pelaku -pelaku, tingkah laku dan motif -motifnya. Dengan demikian, keberadaan sistem "ekonomi" tergantung atas interaksi antar individu, individu yang menetukan sistem "ekonomi".
 
Konsepsi teori "ekonomi" dapat diterapkan pada system "ekonomi" semua masyarakat di dunia baik "ekonomi" masyarakat sederhana pedesaan maupun "ekonomi" industri. Hal ini dapat kita lihat pada mekanisme "ekonomi" meliputi harga, modal, investasi, uang, dan prinsip "ekonomi" meliputi maksimalisasi keuntungan, minimalisasi biaya, mengenal hokum permintaan dan penawaran. Karena sistem "ekonomi" masyarakat sederhana hanya dilihat dari perbedaan tingkat, bukan jenis, maka para penganut pendekatan formalis menyarankan perlunya mengaplikasikan teori "ekonomi" formal untuk mengkaji fenomena "ekonomi" masyarakat sederhana. Beberapa ahli kemudian mencoba mengaplikasikan dengan memodifikasikan dan mengalih bahkan teori "ekonomi" itu sesuai dengan kondisi sosio-kultural di lapangan. Pada kaum formalis prinsip "ekonomi" dapat dilakukan dimana saja dalam masyarakat sederhana hingga yang kompleks objek kajian "ekonomi" formal organisasi tenaga kerja
1. pola pembagian kerja
2. pola kerjasama dengan kelompok
3. pola kepemimpinan dalam kelompok
4. organisasi pranata- pranata untuk menimbun menggunakan modal dalam wujud tanah dan peralatan produksi dan mendistribusikan hasil produksi
5. pranata sosial budaya di luar ilmu gaib produksi serta simboli k dalam tukar menukar hasil produksi.
 
Secara umum, pendekatan formalis telah menarik beberapa kesimpulan umum tentang sistem "ekonomi" masyarakat primitif dan peasant. Hal dikemukakan bahwa sistem "ekonomi" masyarakat tersebut mempunyai banyak kesamaan prinsip dengan sistem "ekonomi" masyarakat Eropa (modern). Oleh karena itu sistem "ekonomi" masyarakat sederhana pada dasarnya tidak jauh berbeda jenis dengan sistem "ekonomi" modern, melainkan hanya berbeda tingkat. Perbedaan tingkat ini terjadi karena tingkat kemajuan perdaban orang Eropa, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Kesamaan dasar antara sistem "ekonomi" Eropa dengan sistem "ekonomi" sederhana dapat dilihat dari : (1) mekanisme "ekonomi", dan (2) prinsip "ekonomi"

Dalam hal ini baik sistem "ekonomi" modern maupun sederhana sama-sama memakai mekanisme dan prinsip "ekonomi" yang fungsinya sama. Mereka sama mengenal apa yang disebut sebagai kategori harga, bank, modal, kredit, investasi, uang dan sebagainya. Mereka mempunyai prinsip "ekonomis", mengenal prinsip memaksimalkan keuntungan, meminimalisasikan biaya dan mengenal hukum permintaan dan penawaran
 
Inti daripada pendekatan formalis ini adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya yang terbatas dan keinginan akan kebutuhan yang banyak. Karena sistem "ekonomi" masyarakat sederhana hanya dilihat dari perbedaan tingkat, bukan jenis, maka para penganut pendekatan formalis menyarankan perlunya mengaplikasikan teori "ekonomi" formal untuk mengkaji fenomena "ekonomi" masyarakat sederhana. Beberapa ahli kemudian mencoba mengaplikasikan dengan memodifikasikan dan mengalih bahkan teori "ekonomi" itu sesuai dengan kondisi sosio -kultural di lapangan.
 
R. Firth (dalam Koentjaraningrat 187:1990) termasuk golongan ahli "Antropologi Ekonomi" yang berpendapat bahwa azas -azas mentalitas manusia pada dasarnya hakikatnya sama dimana-mana. Manusia dalam masyarakat sederhana, masyarakat pedesaaan atau masyarakat industri, semua akan bereaksi dengan cara yang sama terhadap rangsangan-rangsanagn "ekonomi" dan perbedaan antara mentalitas dalam masyarakat non-industri dan masyarakat industri hanya merupakan penjelmaan lahiriah saja dari perbedaan kuat-lemahnya, atau perbedaan susunan dari unsur -unsur mentalitas tersebut. Karena "ekonomi" menurut definisi Firth adalah “… seluruh perilaku manusia dalam organisasi dan pranata yang mengatur penggunaan sumber-sumber terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam suatu masyarakat tertentu”. Maka kita dapat memahami mengapa ia berpendirian bahwa konsep-konsep serta teori-teori yang dikembangkan ilmu "ekonomi" dalam masyarakat industri dapat juga diterapkan pada "ekonomi" masyarakat peasant. Namun ia juga mengakui bahwa metodologi penelitian ilmu "ekonomi" tidak relevan untuk emenliti dan menganalisis "ekonomi" dalam masyarakat peasant, karena metodologi ilmu "ekonomi" sering menggunakan laporan-laporan "ekonomi" tertulis serta data statistik "ekonomi" secara luas. Bahan seperti itu biasanya tidak ada dalam masyarakat ‘primitif’ peasant.
 
Sudut pandang Firth tersebut berkaitan dengan hasil penelitiannya pada masyarakat Haiti. Ia melihat bahwa aktifitas perdagangan dikalangan orang Haiti dicirikan oleh adanya kompetisi antar pedagang, dan kemahiran para pedagang untuk memasarkan dan membeli dagangan dengan membaca perkembangan harga. Kondisi seperti itu menunjukkan bahwa orang Haiti, yang hidup dalam tingkat kebudayaan yang berbedadengan orang barat, telah mengenal hukum permintaan dan penawaran. Bertolak dari kondisi seperti itu Firth melihat
bahwa aktivitas "ekonomi" sangat tergantung dari peran -peran individu-individu dalam suatu jaringan "ekonomi". Aktivitas "ekonomi" di barat pun demikian juga, sehingga kajian mengenai aktivitas "ekonomi" perlu memeperhatikan peran mereka dalam latar budaya.
 
Kelamahan pendekatan formalis terletak pada pengujian di lapangan . Pendekatan formalis ini tidak memberikan jawaban mengapa banyak kegagalan pembangunan "eknomi" di negara berkembang, dan terjadinya penyimpangan arah perkembangan "ekonomi". Inilah kelemahan pendekatan formalis. Ia mengabaikan dimensi sejarah perkembangan "ekonomi". Keengganan masyarakat petani berpartisipasi dalam per"ekonomi"an pasar, misalnya, merupakan suatu hasil dari proses sejarah kapitalisme di dalam masyarakat negara berkembang, masyarakat pernah merasakan penjajahan. Keengganan-keengganan tersebut sangat rasional sebagai jawaban atas kemiskinan dan bahaya dari sistem "ekonomi" pasar yang tidak mengenal kasihan. Bahkan di uraikan kritik tajam terhadap pendekatan ini

B. PENDEKATAN SUBTANTIF
Pendekatan subtantif adalah hekekat, realita, kenyataan, nyata, dan sebagainya. Jadi pendekatan subtantif artinya sudut pandang yang melihat "ekonomi" yang nyata sesuai relitanya atau apa adanya yang diterapkan oleh masyarakat tertentu. Pendekatan subtantif juga menaruh perhatian terhadap upaya untuk menghasilkan teori–teori baru yang cocok di lapangan kecenderunagnnya ini sangat beralasan karena penganutnya tidak lagi berurusan denagn konsep "ekonomi" formal meainkan "ekonomi" subtntif yang melihat gejala "ekonomi" dari proses pemberian makna yang dilakukan manusia dalam memanfaatkan sumber daya "ekonomi". Penganut pendekatan subtantif juga penempatkan per"ekonomi"an sebagai rangkaian dari aturan dan organisasi sosial dimana setiap individu dilahirkan dan diatur dalam suatu system organisasi tersebut. Sebagai suatu system organisasi fenomena "ekonomi" dalam masyarakat terikat pada system pranata dan norma – norma yang sama. Konsepsi ini menempatkan individu sebagai pihak pasif dalam aktivitas "ekonomi" sebagai suatu system menetukan bagaimana individu bertingkah laku. Misalnya pada masyarakat Indian di Irian jaya Tokohnya melipu ti: Karl Polayi, George Dalton, Sahlin, Paul, Bohanna, Goldman.

Sejarah perkembangan pendekatan subtantif berawal dari pengertian "ekonomi" yang dikemukakan oleh ahli "ekonomi" formal yang berpandangan bahwa kebutuhan itu terbatas sifatnya, kemudian lahirlah "ekonomi" subtantif yang berpendapat kebutuhan tidak tak terbatas sifatnya. "Ekonomi" adalah cara pemenuhan kebutuhan/ pemeliharaan kebutuhan fisik/ biologis serta social dan budaya dilakukan melalui :
(1) eksploitasi/ pemanfaatan secara maksimal SDA dilakukan d enagn penerapan teknik/ teknologi local maupun modern yang sudah diterima oleh masyarakat; 
(2) pembagian atau kerja sama (cooperation) pun bagian kerja paengunaan atau pemanfaatan tenaga, pola kerjasama harus diatur dengan baik. Dalam hal ini aturan "ekonomi" adalah pola social dan budaya untuk mengatur dan menentukan eksploitasi dan pemanfaatan a tau pembagian tenaga kerja.
 
Dalam Sairin dkk mengemukakan pandangan penganut pendekatan ini dalam menyimak sistem "ekonomi" peasant. 
Pertama, aliran ini menganggap bahwa dalam per"ekonomi"an peasant tidak ada lembaga yang secara eksklusif hanya melakukan aktivitas "ekonomi". Jadi di masyarakat tersebut tidak ada lembaga "ekonomi" seperti PT atau Bank sebagai institusi-institusi milik sistem "ekonomi" kapitalis. Di masyarakat pra industri institusi yang ada adalah institusi non "ekonomi" yang kegiannya mengandung aspek-aspek "ekonomi". Contoh sederhana adalah keluarga, ia merupakan lembaga kekerabatan, tetapi menjalankan aktivitas "ekonomi".
Kedua, aliran menyimpulkan bahwa aturan -aturan dari organisasi "ekonomi" pada per"ekonomi"an masyarakat sederhana berbeda dengan sistem "ekonomi" modern. Dengan kata lain, sistem "ekonomi"  masyarakat sederhana merupakan sistem "ekonomi" yang berbeda jenis, bukan hanya berbeda tingkat dengan perekonomian modern. Oleh karena berbeda jenis itu pula maka, teori-teori dan konsep ilmu "ekonomi" tidak dapat diterapkan untuk mengkaji sistem "ekonomi" sederhana. Diperlukan suatu teori dan konsep baru untuk menjelaskan sistem-sistem "ekonomi" sederhana yang beraneka ragam.
Ketiga, perbedaan jenis antara sistem "ekonomi" sederhana dan sistem "ekonomi" modern terletak pada mekanisme "ekonomi", institusi atau lembaga "ekonomi" dan prinsip "ekonomi". Mekanisme "ekonomi", seprti uang misalnya, kalau pun di masyarakat sederhana berlaku, tetapi fungsinya berbeda. Dengan mengamati struktur dan fungsi institusi dan prinsip "ekonomi", maka perbedaan jenis semakin nyata daripada perbedaan tingkat. Pola keterkaitan system keyakinan dan sisitem produksi. System keyakinan meliputi aturan atau sanksi, religi, system upacara, kepemimpinan upacara social. System produksi meliputi factor-faktor produksi berupa tanah, modal, tenaga kerja, skill atau knowledge (Proses kerja produksi). Distribusi meliputi alokasi, excange / pemasaran, system bagi hasil (hasil produksi). Konsumsi yaitu penjatahan pemenuhan kebutuhan, pola makan, (system social budaya).
 
Pola keterkaitan pranata social dan "ekonomi", pranata social meliputi garis keturunan, system pemilihan warisan, dan system pemilihan perkawinan terkait dengan system "ekonomi" yamg meliputi produksi (tanah, modal, tenaga kerja, dan skill), distribusi (alokasi/pembagian, excange/pemasaran, bagi hasil, dan hubungan produksi), dan konsumsi (penjatahan/pemenuhan kebutuhan, dan pola makan). Pola makan secara budaya/keyakinan dan keterkaitan dengan "ekonomi" dapat kita lihat pada masyarakat misalnya di Mexico terdapat masyarakat yang menganggap tabuh jika memakan minggo atau srigala sebelum masyarakatnya diinisiasi atau disakralkan. Dapat juga kita lihat pada masyarakat Amborigi n, masyarakat ini menganggap tabuh apabila seorang wanita sebelum menstruasi mengkonsumsi burung gagak. Dan di daerah Sulawesi sendiri terdapat masyarakat yang menganggap tabuh mengkonsumsi pisang yang berdempetan atau bagi yang berkeyakinan/muslim akan sa ngat diharamkan untuk mengkonsumsi daging babi.
 
Terdapat beberapa penganut pendekatan subtantif yang dapat diketahui dari pikiran-pikiran maupun kesimpulan-kesimpulan yang mereka sajikan dari hasil studi mereka termasuk di dalamnya adalah Malinowski. Malinowski sebenarnya bukan tokoh "Antropologi ekonomi". Kendatipun demikian, dari hasil studinya tentang perdagangan Kula di Kepulauan Trobriand, menjadi dasar bagi "Antropolog" membenarkan aliran subtantif ini.
Malinowski menemukan bahwa pertukaran benda berharga berupa kalung dan gelang pada penduduk di Kepulauan Trobriand tidak didasari oleh motif "ekonomi" melainkan motif sosial. Pertukaran ini merupakan ekspresi dasar pikiran orang Trobriand tentang pertukaran Hadiah, yang berfungsi membina hubungan sosial yang tinggi nilainya. Pertukaran tersebut juga merupakan aktivitas ritual, jauh dari ektivitas mencari keuntungan. Bakan kesimpulan diperkuat lagi oleh George Dalton (dalam Keesing 202:1999) untuk mengamati fenomena dunia kesukuan seperti halnya pertukaran pasar (muncul dalam bentuk terbatas pada giwwali di kalangan orang-orang Trobriand dan dikembangkan dengan lebih sempurna); begitu juga pada penggunaan beberapa barang berharga yang berfungsi sebagai uang dalam beberapa kasus. Di kalangan orang Trobriand tidak ada barang yang serupa mata uang. Tetapi di bagian-bagian lain di Melanisia, barang -barang berharga dari kerang lebih mendekati fungsi “mata uang”. Karena Tambu digunakan dalam banyak transaksi, karena segala sesuatu yang bisadimiliki seseorang dapat dibeli atau dijual baik dengan harga mati atau harga penawaran, dan karena tambu bisa saling dipertukarkan dengan mata uang resmi, barang-barang berharga berupa untaian kerang ini dalam banyak segi menyerupai mata uang barat. Namun sebagaimana dinyatakan oleh Dalton (1965), semakin periferal fungsi pasa dalam masyarakat Melanesia dan semakin besar maknanya sebagai barang-barang berharga untuk upacara, makin diperlukan kehatian-hatian dalam mempersamakan “mata uang” demikian tadi dengan mata uang di dunia barat.
 
Pemikiran yang lebih mendalam tentang sudut pandang menganut lairan subtantif dapat disimak dari pemikiran Polanyi, Dalton dan Sahlins. Menurut Karl Polanyi (dalam Sairin dkk 2002:13), pembangunan pendekatan ini, sistem ekonomi pasar didominasi oleh pertukaran pasar, sedangkan sistem "ekonomi" tradisional dan peasant didominasi sistem pertukaran resiprositas dan redistribusi pasar seperti yang ia rumuskan tentang tiga macam
pertukaran di dalam masyarakat manusia :
1. Perbalasan (reciprocity)
2. Penyebaran kembali (redistribution)
3. Pertukaran pasar (market exchange) (dalam Keesing 201:1999)
 
Sedangkan pertukaran yang memakai prinsip pasar selalu memiliki ciri -ciri sebagai berikut :
1. Memakai uang sebagai alat pengukur barang atau jasa yang dipertukarkan
2. Memakai harga yang diatur oleh hukum permintaan dan penawaran, dan
3. Aktivitas "ekonomi" yang didominasi oleh tujuan -tujuan mencari keuntungan sebanyak mungkin dari sumber daya yang tersedia.
 
Sebaliknya, pertukaran yang memakai prinsip resiprositas dan redistribusi merupakan pertukaran yang tidak bermakna ekonomis dan tujuan mencari keuntungan komersil, tetapi bermakna sosial, yaitu membina kepentingan dan solidaritas sosial.
 
Menurut Polanyi, tugas ahli "Antropologi" adalah menunjukkan karakteristik yang khas dari setiap per"ekonomi"an, dan mengkaitkan gejala "ekonomi" dengan organisasi sosial dan kebudayaan. Saran Polanyi ini sejalan dengan konsep-konsep "ekonomi" yang didefinisikan sebagai proses pemberian makna material. Proses ini melibatkan berbagai aspek dalam kehidupan manusia baik aspek organisasi sosial maupun kebudayaan. Dengan memakai makna subtantif, maka dalam mengkaji ekonomi perhatian ditujukan pada bagaimana cara manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis dan sosial. Makna subtantif berbicara tentang apa yang sebenarnya bukan apa yang seharusnya. Makna formal berbicara tentang logika rasional dalam memilih alternatif yang beragam di antara sumber daya yang terbatas.
 
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Polanyi, Sahlins juga rupanya berpendapat sama dengan melihat bahwa yang membedakan per"ekonomi"an barat dengan masyarakat tradisional atau petani, terletak pada sistem pertukaran. Menurut Sahlins, dalam masyarakat sederhana tidak ada alat pertuakaran yang secara umum dapat diterima setiap orang dalam masyarakat itu. Kegunaan uang sangat terbatas sebagai alat tukar yang hanya dapat ditukar dengan produk-produk tertentu dan tidak ada standar nilainya. Dengan tidak adanya alat tukar yang standar inimaka sudah barang tentu orang tidak dapat melakukan pilihan-pilihan bersifat "ekonomi"s. Sahlins mencontohkan bahwa sistem pertukaran dalam per"ekonomi"an tradisional berbeda pada masyarakat modern. Dalam masyarakat tradisional, peranan hubungan kekerabatan dan personal sangat berpengaruh terhadap bentuk pertukaran.
 
Dalam lingkungan rumah tangga, pertukaran yang terjadi adalah resiprositas umum, yaitu individu saling bertukar tanpa mengharapkan suatu pengembalian yang sebanding. Kedua, adalah pertukaran sebanding yang dilakukan individu dengan individu lainnya dalam komunitas masyarakat tradisional. Sebaliknya, ketika masyarakat tradisional melakukan transaksi dengan pihak luar, maka yang terjadi adala resiprositas negatif yang mengarah pada upaya mencari keuntungan dengan mengorbankan pihak lain.
 
Dalton sebagai pengikut Polanyi memberikan beberapa catatan tentang pentingnya melihat perbedaan antara sistem "ekonomi" pasar dan sistem "ekonomi" sederhana. Menurut Dalton, peneliti mungkin dapat menemukan dalam sistem "ekonomi" yang dapat disebut gejala kelangkaan, bunga, uang seperti dalam "ekonomi" pasar. N amun demikian, peneliti jangan menyimpulkan bahwa gejala tersebut sama fungsinya seperti yang berlaku dalam "ekonomi" pasar di barat. Lanjut dalton mengatakan bahwa semua sistem "ekonomi" mempunyai ciri yang sama, yaitu adanya oragnisasi yang terstruktur beserta aturan-aturannya yang menjamin tersedianya benda material dan jasa secara terus menerus. Tugas "Antropolog" adalah memahami organisasi sosial dan aturan tersebut, dan setiap sistem "ekonomi" ditandai oleh adanya mekanisme "ekonomi" seperti uang. Dalam menganalisis "ekonomi" peneliti perlu memperhatikan aspek makna yang hidup dalam alam pikiran masyarakat tentang aspek ekonomi tersebut.
 
Penganut pendekatan subtantif menempatkan per"ekonomi"an sebagai rangkaian dari aturan-aturan dan oragnisasi sosial, dimana setiap individu dilahirkan dan diatur dalam suatu sistem organisasi tersebut. Sebagai suatu sistem organisasi, fenomena "ekonomi" masyarakat terikat pada sistem pranata dan norma-norma yang sama. Konsepsi ini menempatkan individu sebagai pihak yang pasif dalam ak tifitas "ekonomi" karena "ekonomi" sebagai suatu sistem menentukan bagaimana individu bertingkah laku. Kalau diamati lebih lanjut, cara pandang penganut aliran subtantif mengabaikan gejala perubahan "ekonomi" dalam masyarakat. Peranan inidividuterhadap perubahans istem "ekonomi" tidak mendapat perhatian khusus.
 
Pandangan subtantif mengenai fenomena "ekonomi" yang memandang individu bersifat statis juga kurang dapat diikuti. Pandangan tersebut mempunyai kejajaran dengan konsep kebudayaan yang melihat bahwa manusia mener ima kebudayaan sebagai suatu yang diterima begitu saja. Kal au gejala kebudayaan dipandang dari tingkat individu maka akan terlihat bahwa tidak semua individu nempunyai respon yang sama terhadap system social budaya yang membelenggu system "ekonomi". Misalnya dapat kita lihat pada masyarakat Tator dalam pesta kematiannya, semua biaya -biaya atau nilai "ekonomi" pest  tersebut tidak diperhatikan karena sudah menganggap suatu tradisi yang mesti dilakukan. Penganut aliran ini juga menekankan pentingnya menempatkan "Antropologi Ekonomi" dalam suatu studi sistem "ekonomi" komparatif, yang cakupannya meliputi deskripsi dan analisis semua sistem ekonomi, baik sistem "ekonomi" industri dan pra industri, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Dengan melakukan studi komparatif ini, maka peneliti akan menemukan tentang keterbatasan hukum-hukum "ekonomi" dan menemukan universalitas dari hukum -hukum tersebut. Disiplin "Antropologi" sebagai induk yang mengibarkan pentingnya studi komparatif untuk menarik generalisasi empiris pun mengalami kesulitan karena studinya berurusan engan konsep lintas budaya.
Pendekatan subtantif pada akhirnya lebih menghasilkan suatu tipologi daripada universalitas dari suatu teori. Dalam pendekatan subtantif juga ditemukan sifat relativistik yang mengemuk akan bahwa sistem "ekonomi" suatu masyarakat merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat tersebut. Akibatnya, karena kebudayaan masyarakat bersifat relatif, maka gejala "ekonomi" yang terjadi pada masyarakat tersebut relatif pula. Oleh karen aitu, penganut pendekatan ini menghendaki suatu studi komparatif dalam menelorkan teori -teori "ekonomi". Pendekatan ini menolak teori "ekonomi" barat karena teori "ekonomi"  ini dibangun dari masyarakat baratyang kebuadayaannya berbeda dengan kebudayaan suku -suku bangsa di luar Eropa.
 
Dalam mengkaji "ekonomi", penganut aliran ini kemudian mencoba menyelami alam pikiran pelaku "ekonomi" secara induktif. Kecendrungan bersifat relativisme sejalan dengan kecendrungan pendekatan ini bahwa gejala kebudayaan yang ditangkap merupakan sistem makna yang ada dalam masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya. Meskipun individu memiliki sistem kognitif yang berbeda dalam bertingkah laku "ekonomi", tetapi mereka mempunyai kesamaan pandangan tentang ekonomi, karena pandangan "ekonomi" itu berkaitan dengan aspek-asek sosio-kultural yang mereka miliki. Reevan dengan pendekatan tersebut, aliran ini juga melihat per"ekonomi"an sebagai proses pemberian makna material ("ekonomi"). Konseps ini mengarahkan peneliti untuk melihat gejala "ekonomi" bukan pada penampilan (performance), atau barang maupun tingkah laku yang nampak, tetapi pada pikiran-pikiran yang mendasari terwujudnya barang dan tingkah laku tersebut.
 
Seperti aliran formalis, menganalisis "ekonomi" sebagai bidang studi, tetapi perhatian penganut aliran subtantif juga mencakup di luar "ekonomi" dalam arti harafiah, karena mencakup aspek sosio-kultural yang terkait pada perilaku "ekonomi". Hal ini terjadi karena umumnya para penganut subtantif mengabaikan keberadaan gejala "ekonomi" yang lepas dari aspek sosio-kultural seprti yang diperhatikan para ahli "ekonomi". Mereka lebih memberikan perhatian terhadap hubungan antara aktivitas "ekonomi" dengan organisasi sosial serta aspek -aspek budaya dalam masyarakat. Kecendrungan ini kiranya masuk akal karena sesuai dengan kenyataan di lapangan bahwa aktivitas "ekonomi" dalam masyarakat primitif dan peasant terintegrasi dengan sistem sosial dan kultur. Keadaan ini memaksa para "Antropolog" untuk mengkaji masalah "ekonomi" sekaligus pada waktu yang sama mengkaji aspek sosio kultural yang melekat pada masalah tersebut.

C. PENDEKATAN NEO-SUBTANTIF
Pendekatan ini menganggap "ekonomi" sebagai penguasaan barang dan jasa secara teratur untuk memenuhi kebutuhan Bio – sosial. "Ekonomi" Subsistensi merupakan pemenuhan-pemenuhan pokok sehari-hari, tokohnya yaitu James Scoot tentang moral "ekonomi" petani yaitu, kontimyuitas atas sumber – sumber "ekonomi", distribusi resiko yang bersifat sosial, sepenanggungan ada perasaan untuk memberi bantuan. Kedermawanan merupakan wujud distribusi resiko sehin gga ada system Bantu membantu, patro client jalinan kerjasama yang mapan dan kuat berfungsi sebagi pemberitahuan pada yang lemah sehingga keselarasan dapat berjalan secara merata dan keseimbangan kepada semua masyarakatdimana factor- factor produksi selalu terbatas sehingga perlu dijaga keseimbangannya.
 
James Scott dalam bukunya yang terbit tahun 1976 berusaha untuk menerangka tata "ekonomi" masyarakat peasant di Asia Tenggara dan kaitannya dengan peristiwa pemberontakan yang lekat dengan sejarah kontemporer mereka. Sebagai langkah pembuka bukunya, Scott menunjukkan fakta bahwa kehidupan ekonomi peasant hanyalah sedikit diatas garis subsistensi mereka. Secara tegas angka garis subsistensi itu sendiri tidak pernah diterangkan oleh Scott, menurutnya angka terse but cenderung berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain namun berapa perbedaannya juga tetap tidak jelas, kondisi seba miskin itu pula yang memunculkan etika subsistensi. Di mata Scott dan teman-teman satu alirannya, desa peasant yang harmonis yang memberikan jaminan sosial bagi kelangsungan hidup warganya, yang tampil sebagai benteng yang melindungi warganyadari ancaman hidup di bawah garis subsistensi. Bahwa tata "ekonomi" peasant diikat oleh sistem moral peasant, agar beban kerja dan rejeki terbagi secara merata sehingga tidak ada satu warga desa pun yang sampai mengalami kelaparan. Scott juga percaya bahwa perilaku "ekonomi" masyarakat peasant dilangsungkan berdasar prinsip dahulukan selamat. Di bawah tekanan kemiskinan dan ekosistem yang sering banyak ulah, peasant terpaksa mengembangkan prinsip "ekonomi" mendahulukan keselamatan hidup daripada mengeluarkan energi untuk melakukan perbaikan nasib. Dalam kondisi kehidupan yang penuh ancaman itulah peasant baru berani melakukan inovasi, mengeluarkan investa si didalam dua kemungkinana kondisi. 
Pertama, bila keamanan subsistensinya sudah terjaga dan ia yakin benar bahwa investasi tadiakan mendatangkan hasil. Di mata pemikir "ekonomi" moral sistem "ekonomi" pasar yang kapitalistik hadir ke hadapan kaum peasant seba gai suatu ancaman terhadap tata kehidupan desa mereka yang komunal dan memberi jaminan subsistensi. Ketika para peasant berbondong-bondong memasuki pasar, menjual produk pertanian dan menual tenaga kerja hal itu terjadi, dalam pandangan "ekonomi" moral, akibat adanya kekuatan dari luar yang memaksa. Kedua ketika mereka merasa etika subsistensi mereka mendapat ancaman. Inovasi disini termasuk melibatkan diri dalam "ekonomi" pasar dan melakukan makar dan pemeberontakan. Kondisi sosial baru, sisitem pasar yang ka pitalistik, bagi kaum peasant adalah ancaman terhadap harmoni desa dan etika subsistensi yang ada di dalamnya. Pemebrontakan kaum peasant, dalam pandangan Scott, adalah upaya untuk menghilangkan ancaman tersebut, pemberontakan adalah upaya untuk menjaga kea manan struktur sosial lama yang aman dan harmonis.

D. PENDEKATAN NEO-FORMAL
Pendekatan Neo Formalis atau juga biasa disebut dengan "ekonomi" politik adalah aktivitas "ekonomi" yang berarti cara berproduksi, distribusi, dan konsumsi yang dilakukan dengan menggunakan lembaga atau pranata-pranata sosial dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Salah satu tokohnya adalah S. L Popkin (Rational of Peasants). Dalam "ekonomi" formal ia bersifat lepas, bebas dari hubungan institusi atau lembaga-lembaga, sedangkan dalam "ekonomi" neo-formal ia mengandalkan institusi formal politik yang dapat dikelola dalam rangka usaha-usaha "ekonomi".
 
"Ekonomi" yang berkenaan dengan pendekatan neo formalis adalah the study of alocation of source means to al ternative ends, dimana defenisi ini bersangkut paut dengan “choice action” yaitu setrap individu menjalin relasi dengan institusi pengontrol sumber daya yang dibutuhkan dalam rangka keuntungan/usaha-usaha "ekonomi". Dalam choice action terdapat biaya keuntungan, kwalitas skill, dan kondisi sumb erdaya. hal tersebut harus didukung, motivasi yang tinggi, informasi yang luas, kebebasan secara luas full emproyment.
Popkin menyatakan bahwa ketika kaum peasant melibatkan diri dalam "ekonomi" pasar, menanam tanaman komoditi, atau menjual tenaga ke pasar, hal itu terjadi bukan karena mereka merasa subsistensinya terancam (seperti yang diutarakan sebelumnya oleh Scoot dalam tulisannya), melainkan karena mereka melihatbahwa pasar menawarkan peluang kehidupan yang lebih baik daripada yang ada di desa. Pembero ntakan kaum peasant bukanlahupaya resporatif untuk menjaga kelanggengan struktur sosial lama, melainkan upaya untuk menciptakan struktur sosial baru yang lebih menguntungkan, agar akses mereka terhadap sumber -sumber ekonomi menjadi semakin besar.
 
Pandangan romantis seperti yang dituduhkan Popkins terhadap Scott yang memebawa para pemikir moral pada anggapan yang sesat mengenai desa peasant. Di mata Scott dan teman-teman satu alirannya, desa peasant yang harmonis yang memberikan jaminan sosial bagi kelangsun gan hidup warganya, yang tampil sebagai benteng yang melindungi warganya dari ancaman hidup di bawah garis subsistensi. Desa peasant menurut Popkin, sama sekali jauh dari kondisi harmonis dan penuh dengan eksploitasi. Menurut Popkin desa-desa peasant lebih tepat dipandang sebagai korporasi, bukan sebagai komun dan hubungan patron-klien harus dilihat sebagai eksploitasi bukan sebagai hubungan paternal. Ketika kaum peasant samapi pada kondisi desa yang sekarang ini mereka miliki, maka desa itu adalah desa yang lebih baik keadaannya daripada desa tradisional, desa mereka yang terdahulu. Dewasa ini, masyarakat peasant tinggal di desa -
desa yang bercirikan :
1. Tanggung jawab pembayaran pajak secara individual
2. Kekaburan batas desa dengan dunia luar.
3. Tidak ada atau sedikitnya larangan pemilikan tanah bagi orang luar desa.
4. Kekaburan perasaan sebagai warga desa
5. Privatisasi tanah milik

Sebagai kebalikan dar desa terbuka, dahulu kaum peasant tinggal di desa-desa tertutup (corporate village) yang bercirikan :
1. Pajak dibayar secara kolektif sebagai tanggung jawab desa.
2. Batas yang tegas antara desa dengan dunia luar
3. Adanya larangan penguasaan lahan atau tanah sebagai hak milik pribadi.
4. Konsep kewargaan desa yang jelas
5. Tanah merupakan hak ulayat desa.

KESIMPULAN
Kajian-kajian yang luas mengenai perekonomian di tingkat global, per"ekonomi"an negara, ketertinggalan negara -negara dunia ketiga (yang akar permasalahannya juga adalah masalah "ekonomi"), proses pembuatan kebijakan oleh pemerintah, pola perilaku konsumen, bahkan penciptaan dan inovasi produk baru
dalam proses produksi sebenarnya bisa diperdalam dan dipelajari oleh spesilaisasi ilmu "Antropologi" seperti "Antropologi Ekonomi", "Antropologi" terapan dan "Antropologi" perkotaan.

PENUTUP
Dalam kajian ilmu "ekonomi" modern, kegiatan "ekonomi" pada intinya berpusat pada kegiatan produksi barang, distribusi (mendeliverkan barang pada konsumen) dan akhirnya pada proses konsumi (menghabiskan atau memakai barang atau jasa). Semua proses ini juga terjadi dalam kehidipan ekonomi masyarakat tradisional, walaupun tidak begitu mendapat perhatian dari ahli ekonomi karena lebih memusatkan per"ekonomi"an pada tingkat global. Dalam sistem matapencarian hidup para ahli "Antropologi" juga memperhatikan sistem produksi lokalnya, cara pengolahan sumberdaya alam, cara pengumpulan modal, cara pengerahan dan manajemen tenaga kerja. Teknologi dalam sistem produksi, sistem distribusi pasar, dan proses konsumsinya. Kalau dirinci lebih jauh lagi terma suk didalamnya dikaji bagaimana keterlibatan keluarga dalam mengkonsumsi suatu barang juga sistem distribusi seperti apa yang digunakan, siapa saja yang terlibat dalam proses produksi, dan lain sebagainya. Di dalam buku pengantar ilmu "Antropologi" terlihat Koentjaraningrat begitu membatasi kajian "ekonomi" pada sistem mata mencarian hidup hanya dalam ruang lingkup yang kecil saja dan menganggap hal -hal seperti proses distribusi yang besar dengan jaringan yang luas dan sistem "ekonomi" yang berdasarkan pada industri merupakan murni kajian ahli "ekonomi". Sehingga memberikan kesan pemahaman bahwa "Antropologi" adalah ilmu yng tertinggal (membatasi diri pada hal -hal yang seharusnya bisa menjadi kajian "Antropologi", dengan tidak lepas dari akar ilmu "Antropologi" sendiri tentunya).
 
Sumber:
1. fidiyani.wordpress.com/publikasi/buku/2-antropologi-ekonomi/
2. wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/antropologi-ekonomi/
3. laely-widjajati/facebook-photos/Habis Libur, Ayoooo Bekerja Semangaaaaaaat............
4. laely-widjajati/facebook-photos/peningkatan-sdm/

0 komentar: