Sabtu, 14 Juli 2012

"Penggunaan dan Pemilihan Warna"

"Newton adalah orang pertama yang mengotak-atik "warna",  mungkin dapat disebut sebagai Bapak "warna" internasional".

Penentuan "warna" bukan sekedar masalah teknik dan fanatik semata, meskipun seringkali diabaikan. Penentuan "warna" sangatlah akademis. Sebab, dapat menentukan perilaku proses dan output. Pada tahun 1740, Louis Bertrand Castel sudah mempublikasikan hasil karyanya tentang "warna". Menurutnya, penentuan "warna" menuntut harmonisasi sistem dan variabel. Di dunia sekolah, "warna" mempunyai dampak psikologis yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta masa depan sistem.

Penentuan "warna" harus diatur dengan baik sehingga tidak berdampak kontraproduktif terhadap sistem. Penentuan "warna" menjadi variabel vital yang mempengaruhi performa sekolah. Penentuan "warna" sebaiknya rasional, terukur dan bertarget.  Goethe, menulis di bukunya yang terbit tahun 1810, yellow is light which has been dampened by darkness and blue is a darkness weakened by the light. Teori "warna" memformulasikan tiga "warna" primitif, red, yellow, blue yang ditulis oleh Yacob Cristoph Le Blone di tahun 1725 untuk belajar mengolah "warna". ""Warna" hangat (warm "color") dan"warna" dingin (cold "color") telah dibahas pada abad 18 dan dimasukkan dalam Oxford English Dictionary pada 1890. Goethe juga mengatakan Blue mountains are distant from us, and so cool colors seem to recede.

Di beberapa buku teks marketing, penentuan "warna" merupakan bentuk tingkat profesionalisme sebuah sistem yang dapat dilihat secara kasat mata dengan mudah. Jika pe"warna"an gedung sekolah kacau, dijamin seratus persen sekolahnya amburadul. Susunan "warna" adalah keharmonisan yang strategis. Singkatnya, penentuan "warna" menjadi salah satu cabang ilmu yang harus dikuasai dalam manajemen modern.

Ada pepapatah para ahli pe"warna"an, bahwa "warna" hangat (warm color) menggambarkan pengerahan tenaga (exertion) dan perasaan bersemangat (ardent feeling); "warna" dingin (cold color) menggambarkan kurang antusias (lack ofenthusiasme), kesosialan (sociability), dan daya hidup (life force).

Penggunaan dan pemilihan "warna" adalah rasional, ilmiah dan profesional. Namun keputusan akhir tetaplah hati secara intuitif. Rasionalkah "warna" gedung, ruangan dan kantor-kantor yang telah dibangun? Jangan sampai sekolah, kantor, toko dan rumah sakit kita tidak ada customer akibat kombinasi "warna"-"warna" yang tidak didesain secara profesional. Jangan meremehkan pe"warna"an ("color"ing). Dia mempunyai dampak sangat kuat terhadap pasar (market). Dengan kombinasi "warna" pakaian yang serasi, anak menjadi senang memakai, kombinasi "warna" gedung yang compatible akan membuat tamu nyaman dan semakin banyak yang datang.

(Sumber: Majalah Al-Falah. Edisi 275. Februari 2011).

0 komentar: