Jumat, 06 April 2012

"Bersikap Benar/Jujur"

"Nabi SAW. bersabda: "Dan seseorang senantiasa berbuat "jujur" dan membiasakan "jujur" sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang "jujur". (HR. Muslim, Ahmad dan At-Tiemidzi.Shahih Al-Jani').


Kedudukan ini tidak tercapai kecuali oleh siapa yang dikehendaki oleh Allah baik agamanya dan dunianya, atau jika tidak maka untuk siapa yang diketahui oleh Allah bahwa ia akan mati dalam keadaan iman dan "jujur". Hal ini sebagaimana Sabda Nabi SAW. tentang Ahli Badr:
"Allah telah tahu (akhir hidup) Ahli Badr, maka berfirman, "Perbuatlah apa yang kalian kehendaki. Aku telah mengampuni kalian." (HR. Muslim dari Ali, Fadhail Ash-Shahabah). Dan kenyataannya mereka semua mati dalam tauhid. 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 119:
"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang "benar".

Dari Syaddad bin Al-Had RA., bahwa seorang laki-laki Badui datang kepada Nabi SAW., menyatakan keimanan dan mengikutinya, kemudian ia berkata, "Saya berhijrah bersamamu", lalu Nabi SAW menitahkan kepadanya menjaga beberapa sahabatnya.

Pada suatu peperangan Nabi SAW. memperoleh rampasan berupa tawanan. Lalu, Nabi membagi-bagi dan memberi bagian untuknya, lalu memberikan kepada sahabatnya bagian Badui itu; Badui itu bertugas melindungi bagian belakang mereka. Ketika Badui datang, maka mereka memberikan kepadanya. Badui berkata, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Bagian yang diberikan Nabi kepadamu". Dia mengambilnya dan membawanya menghadap Nabi, lalu berkata, "Apa ini?" Nabi bersabda, "Saya membaginya untukmu". Dia berkata, "Bukan karena hal ini saya mengikutimu. Akan tetapi, saya mengikutimu agar saya terkena anak panah di sini - sambil menunjuk tenggorokannya- sehingga saya masuk surga". Maka Nabi bersabda, "Jika kamu mem"benar"kan Allah, maka Ia akan mem"benar"kanmu".
Lalu mereka tinggal sebentar, sebelum kemudian mereka berangkat berperang melawan musuh. Setelah itu, ia dipanggil menghadap Nabi dalam keadaan terkena anak panah pada tempat yang ia tunjuk. Nabi bersabda, "Apakah betul ini dia?" Sahabat menjawab, "Betul!" Nabi bersabda, "Dia mem"benar"kan Allah, maka Allah mem"benar"kannya".
Kemudian Nabi SAW. mengkafaninya dengan jubah Nabi SAW. Beliau maju ke depan dan menyalatinya. Termasuk yang terdengar dari doanya adalah:
"Ya Allah ini hamba-Mu, dia keluar berhijrah dan terbunuh syahid, saya menjadi saksi atas hal tersebut". (HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim. Al-Albani menghukuminya Shahih dalam Shahih Al-Jami').

Anas bin Malik mengatakan, "Pamanku Anas bin An-Nadhr tidak ikut perang Badr. Dia berkata, saya absen dari perang pertama bersama Rasulullah SAW. Jika Allah memberi kesempatan bagiku untuk perang niscaya Allah akan menunjukkan apa yang saya perbuat.

Ketika perang Uhud kaum muslimin mengalami kekalahan, maka ia berkata, "Ya Allah saya berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum musyrik - dan saya meminta maaf  kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum muslimin". Kemudian dia berjalan dengan membawa pedangnya dan bertemu Sa'd bin Mu'adz. Ia berkata, "Hai Sa'd, demi Allah sesungguhnya saya mencium wangi surga di Uhud!" Kemudian dia berperang sampai terbunuh.
Lalu Sa'd berkata, "Ya Rasulullah saya tidak dapat melakukan apa yang ia lakukan". Anas bin Malik berkata, "Kami menjumpainya diantara mereka yang terbunuh. Pada tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka akibat sabetan pedang atau tusukan tombak atau bidikan panah. Kami tidak mengenalinya sampai datang saudara perempuannya yang mengenali ujung jarinya".    
Anas berkata, "Kami memperbincangkan bahwa ayat berikut ini,
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merobah (janjinya)." (Surat Al-Ahzab ayat 23) --- diturunkan berkenaan dengannya dan sahabat-sahabatnya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika beredar kabar Nabi SAW. terbunuh, maka semangat juang menjadi surut atau hilang dari diri sebagian besar sahabat Nabi. Sehingga, sebagian mereka ada yang berhenti perang dan meletakkan senjatanya sambil berdiam diri.
Anas bin An-Nadhr berpapasan dengan mereka ketika mereka meletakkan barang yang di tangan mereka. Dia berkata, "Apa yang kalian tunggu?" Mereka menjawab, "Rasulullah SAW. telah tebunuh". Dia berkata, "Apa yang kalian perbuat dengan kehidupan ini setelah kematiannya?" Bangkitlah dan matilah seperti matinya Rasulullah".
Kemudian dia berdo'a, "Ya Allah saya meminta maaf kepadamu dari apa yang diperbuat mereka - yakni kaum muslim - dan saya berlepas diri dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum musrik", Lalu dia maju ke kancah peperangan dan berjumpa Sa'd bin Mu'adz. Dia berkata, "Mana hai Abu Amr? Anas berkata, "Sungguh ada aroma surga hai Sa'd, sungguh saya menciumnya di Uhud". Kemudian dia berlalu dan berperang melawan musuh sehingga terbunuh. Tidak ada yang mengenalinya sampai datang saudara perempuannya setelah pertempuran berakhir, yang mengenali ujung jarinya. Pada tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka tusukan tombak, bacokan pedang dan bidikan panah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Inilah Anas bin An-Nadhr. Ke"jujur"annya menuntunnya kepada akhir yang bahagia. Dia mencium wangi surga sebelum berperang Bahkan Nabi SAW. bersabda:
"Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah secara sungguh-sungguh, maka Allah mengangkatnya ke derajat para syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya".  (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Abu Dawud, Shahih Al-Jami').

Demikianlah, apabila seorang hamba berlaku "benar" terhadap Allah, maka Allah akan menjaga keimanannya, mengokohkan hatinya untuk bertauhid, dan mengkaruniakan kepadanya husnul khatimah.

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat. Oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).

0 komentar: