Senin, 27 Februari 2012

"Anak Siapa?"

"Ada sepasang suami istri yang hidup sangat bahagia yang dikaruniai 5 orang "anak", yang semuanya cantik-cantik. "Anak-anak"nya sangat hormat dan patuh kepada kedua orangtuanya."


Cerita ini adalah kisah nyata. Hiduplah sepasang suami istri yang sangat harmonis. Mereka dikaruniai "anak-anak" yang cantik-cantik. 5 orang "anak" mereka sangat taat beribadah dan sangat patuh kepada orangtuanya.

Pada suatu hari, sang suami (Adi - nama samaran) pulang kerja dari kantor. Adi turun dari angkot, berjalan menuju rumahnya yang letaknya agak jauh dari jalan raya. Pada saat Adi berjalan, bertemu dengan dua orang wanita. Dua orang wanita ini adalah seorang ibu bernama Nani bersama dengan "anak"nya yang sedang hamil yang bernama Titin. "Anak"nya yang sedang hamil ini jatuh tersandung dan kemudian pingsan. Bu Nani teriak-teriak minta tolong.  Akhirnya Adi menolong Titin yang sedang pingsan dengan membopongnya, dan akhirnya diantarkan ke rumah Nani dengan naik taxi. Setelah sampai di rumah, Titin yang pingsan ini oleh Adi ditidurkan di kamar. Pada saat Adi menidurkan Titin, Bu Nani keluar rumah dan teriak-teriak minta tolong. Adi tersentak kaget, dan keluarlah Adi dari kamar Titib. Di luar kamar sudah banyak orang yang bertanya-tanya kepada Bu Nani. Ada apa sampai berteriak-teriak seperti itu? Bu Nani menangis, sambil bercerita kepada orang-orang yang berkerumun ini, bahwa "anak"nya (Titin) telah dihamili oleh Adi. Adi merasa tidak pernah melakukan apa-apa terhadap Titin. Adi pun menyanggah cerita Bu Nani, namun orang-orang itu tidak ada yang mempercayainya. Karena Adi merasa ketakutan, akhirnya Adi pun lari. Namun, sial nasib Adi. Adi pun dikejar oleh orang-orang yang berkerumun tadi dan dipukuli. Akhirnya Adi dilaporkan ke Polisi dengan tuduhan menghamili Titin.

Adi tidak dapat membuktikan, bahwa dirinya tidak bersalah. Adi pun harus menjalani hidup di balik terali besi. Adi tidak pernah mengakui bahwa dia menghamili Titin. Sampai akhirnya Titin melahirkan. Karena Adi tidak pernah mengakui "anak" yang dilahirkan oleh Titin, maka pihak kepolisian ingin membuktikan sebenarnya yang dilahirkan Titin ini "anak siapa"? Dilakukanlah test DNA, hasilnya sangat menggembirakan --- Karena ternyata "anak" yang dilahirkan oleh Titin bukanlah "anak" Adi. Yang lebih mengejutkan lagi,  hasil itu menunjukkan bahwa Adi adalah laki-laki yang selama ini adalah laki-laki mandul. Adi pun dinyatakan tidak bersalah dan dikeluarkan dari penjara.

Keputusan tidak bersalah ini, malah membuat hatinya teriris-iris dan sangat gundah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Adi terus merenung, sejak perjalanan dari penjara sampai rumahnya, Adi malah menangis tersedu-sedu. Adi menyembunyikan perasaannya ini dari istri dan "anak-anak"nya. Adi terus berpikir, kalau Adi dinyatakan mandul, lantas kelima "anak"nya yang telah dilahirkan dari rahim istrinya itu "anak siapa"

Adi sering terlihat melamun. Adi terus berpikir kelima "anak"nya itu "anak" istrinya bersama "siapa"?  Karena wajah kelima "anak"nya itu sangat mirip dengan wajah Adi. Dan selama ini Adi sangat yakin bahwa kelima "anak"nya ini adalah "anak" kandungnya bersama istrinya. Sampai akhirnya Adi tidak dapat menahan perasaan gundahnya ini. Adi menanyakan masalah ini kepada istri tercintanya. Tanpa diduga oleh Adi, istrinya menjawab dengan menangis sambil menyembah Adi.... Istri tercintanya memohon ampunan Adi dan mengakui semua perbuatannya selama ini. Istrinya mengakui bahwa ke lima "anak" yang dilahirkannya memang bukan "anak" hasil hubungannya dengan Adi. Namun "anak-anak" tang dilahirkannya ini  adalah  "anak" hasil selingkuhan istrinya bersama saudara kandung (adik) Adi. Adi pun terdiam sampai tidak dapat berkata-kata. Adi tidak menyangka, bahwa istri yang selama ini sangat dicintainya ini tega mengkhianati cintanya. Setelah beberapa lama terdiam, Adi berbicara dengan lantang dan mengultimatum istrinya, jangan sampai masalah ini diketahui oleh kelima orang "anak"nya.

Kehidupan pun berjalan terus seperti biasa. "Anak-anak" tidak ada satupun yang mengetahui masalah ini. Yang diketahui oleh "anak-anak", bahwa mereka memang benar-benar "anak" kandung Adi.  Dan Adi juga tidak akan pernah menceritakan masalah ini kepada "anak-anak"nya. Adi tidak mau merusak kebahagiaan "anak-anak"nya yang sangat dicintainya. Dan sikap Adi pun tidak berubah terhadap "anak-anak"nya. Adi tetap menganggap kelima "anak" istrinya ini adalah "anak-anak" kandung Adi juga.

Sampai pada suatu hari, istrinya mengalami stroke berat. Dalam keadaan seperti ini, Adi tetap merawat istrinya yang mengalami stroke. Istrinya selalu menangis setiap melihat Adi merawatnya. Adi tidak memperbolehkan "anak-anak"nya merawat ibunya. Adi mengatakan kepada "anak-anak"nya, bahwa perawatan ibunya merupakan tanggung-jawab Adi sepenuhnya. Adi merawat istrinya dengan tulus ikhlas penuh dengan rasa cintanya, walaupun selama ini istrinya telah menyakiti hatinya dengan mengkhianati cintanya.

Adi tidak punya niatan untuk menceritakan masalah rumah tangganya ini kepada "anak-anak"nya. Biarlah "anak-anak" tetap menganggap bahwa mereka adalah "anak" kandung Adi. Sampai kapan pun..... "Anak-anak" berhak berbahagia. Adi tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Adi menginginkan "anak-anak"nya tetap menghormati dan mencintai ibunya. Biarkan istrinya memiliki citra yang baik di mata "anak-anak"nya.

Begitu besarnya cinta Adi kepada istrinya, sehingga Adi mampu menyembunyikan aib istrinya, bahkan terhadap "anak-anak"nya. Dalam keadaan sakitpun Adi tetap merawat istrinya dengan penuh kasih sayang. Bahkan Adi melarang "anak-anak"nya merawat ibunya yang sedang sakit parah itu. Adi tidak mau membebani "anak-anak"nya, karena Adi ingin "anak-anak"nya tetap berbahagia.    

0 komentar: