Rabu, 17 Agustus 2011

"Tauhid Menurut Islam"

"Tauhid" menurut "Islam" adalah "Tauhid" I'tiqadl Ilmi (keyakinan teoritis) dengan "Tauhid" Amali Suluki (amal perbuatan praktis). Dua ke"tauhid"an ini tidak dapat dipisahkan."


1. "Tauhid" I'tiqadl Ilmi.
"Tauhid" I'tiqadl Ilmi adalah keyakinan qasd (tujuan), dan iradah (kehendak). Keimanan seseorang tidak akan diterima selama tidak men"tauhid"kan Allah swt secara teoritis dan keyakinan. Yaitu beriman bahwa Tuhan itu hanya Allah Yang Maha Esa dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu dan tidak ada yang menyerupai-Nya, serta tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Begitu pula kita harus men"tauhid"kanNya secara obyektif dan praktis, yaitu meng-Esakan Allah swt melalui ibadah yang sempurna, ketaatan yang mutlak, bertawaqal, takut dan pengharapan kepada-Nya. "Tauhid" I'tiqadl Ilmi ialah apa yang diisyaratkan secara jelas dalam Surat Al-Ikhlas, ayat-ayat di awal Surat Ali Imran, permulaan Surat Thaha, akhir Surat Al Hasyr, dan lain-lain.

2. "Tauhid" Amali Suluki.
"Tauhid" Amali Suluki adalah apa yang diajak oleh Surat Al Kafirun, Surat Al An'am, permulaan dan akhir Surat Al A'raf, dan lain-lain. Bahkan Imam Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa setiap Surat Al-Qur'an mengandung makna kedua bentuk "Tauhid" tadi.


Para penulis Ilmu "Tauhid" pada masa lalu dan sekarang menamakan "Tauhid" I'tiqadl Ilmi dengan "Tauhid" Rububiyah sedangkan "Tauhid" Amali Suluki dengan "Tauhid" Uluhiyah.

1. "Tauhid" Rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan langit dan bumi, Pencipta semua makhluk. Tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya dan tidak ada hakim dalam hukum-hukum-Nya selain Dia. Satu-satunya pemberi rezeki semua makhluk. Hanya Dia yang mengangkat dan menjatuhkan martabat manusia, pemberi manfaat dan penurun bencana, penganugerah kemuliaan dan kehinaan. Tidak akan ada yang mampu memberi manfaat dan mudharat kepada diri sendiri maupun orang lain, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. 
"Tauhid" Rububiyah ini mengakui Allah sebagai Tuhan yang mencipta alam sekaligus yang mengaturnya. Dengan modal keimanan seperti itu, seharusnya mereka menghambakan diri kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Namun sebaliknya, mereka menolak beribadah kepada Allah semata atau tidak ber"tauhid" Uluhiyah. 

2. "Tauhid" Uluhiyah.
"Tauhid" Uluhiyah adalah meng-esa-kan dalam beribadah dan taat secara mutlak kepada-Nya. Tidak menghambakan diri kepada selain Allah dan tidak pula mensekutukan-Nya. Ke"tauhid"an ini tidak akan tercapai apabila tidak menggabungkan "Tauhid" Uluhiyah dengan Rububiyah, karena tidaklah cukup hanya dengan "Tauhid" Rububiyah saja.

Orang musyrikin Arab mengakui  "Tauhid" Rububiyah. Namun mereka tidak termasuk sebagai orang "Islam", karena mereka menyekutukan Allah SWT. Mereka mempertuhankan selain Allah sebagai sarana perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Az Zumar Ayat 3, yang artinya: "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan 0rang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan (sekedar sarana perantara) supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.' Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar."

Sejak dulu banyak manusia tersesat dari  "Tauhid" Uluhiyah. Mereka menghambakan diri kepada berbagai tuhan. Umat Nabi Nuh telah menyembah Wadd, Suwaa', Yaguts, Yau'uq dan Nasr. Umat Ibrahim menyembah berhala. Orang Mesir Kuno menyembah anak lembu. Penduduk Saba' menyembah matahari, orang Shabiun menyembah bintang, orang Majusi menyembah api, Arab jahiliyah menyembah patung dan lain-lain.

Mereka semua musyrik karena tidak men"tauhid"kan Allah dalam beribadah. Dan disadari atau tidak, di tengah-tengah masyarakat muslim telah banyak dan marak berbagai fenomena yang sudah termasuk kategori kemusyrikan, baik ashghar (kecil) maupun akbar (besar), tersembunyi ataupun terang-terangan. Maka yang terpenting , marilah kita tetap waspada dengan senantiasa berupaya menjaga kemurnian "tauhid" kita, supaya tidak terjebak dalam berbagai praktik penyekutuan Allah tanpa sadar. Amiin....... 

(Sumber: Majalah Al Falah, Edisi 278, Mei 2011). 

0 komentar: