Jumat, 20 April 2012

"SANGKURIANG - NYI DAYANG SUMBI (Kisah terjadinya Gunung Tangkuban Prahu)"

"Bayi tersebut dinamakan "Nyi Dayang Sumbi". Makin hari, tumbuhlah "Nyi Dayang Sumbi" menjadi remaja putri yang jelita."


Pada zaman dahulu kala, di daerah Parahyangan yang indah nan subur..... Ada kerajaan besar yang diperintah oleh Prabu Sungging Perbangkara. Raja ini terkenal sebagai penguasa yang adil bijaksana. Pada suatu hari, tiba-tiba raja ingin berburu. Dengan diiringi para pengawalnya yang merupakan orang-orang pilihan dan mahir sebagai pemburu, berangkatlah rombongan Baginda Raja ke hutan dengan menunggang kuda. 

Di tengah suasana pemburuan, tiba-tiba Raja melihat seekor kijang yang berlari cepat. Segera Raja mengejar kijang hingga jauh ke dalam hutan meninggalkan para pengawalnya di belakang. Hari hampir gelap, kijang tersebut tidak dapat ditemukan oleh Raja. Akhirnya Raja mulai putus asa. Karena sangat lelah dan terdesak oleh keinginan buang air kecil, Raja lalu turun dari kudanya dan berhajat kecil di antara semak-semak yang ada di sekitarnya. Tanpa disengaja air seni Raja tertampung ke dalam tempurung yang ada disitu.

Tidak lama kemudian lewat seekor babi berbulu putih, yang merupakan jelmaan Dewi yang dikutuk Dewa. Babi putih itu sangat haus. Ketika ia melihat air di dalam tempurung itu dengan segera diminumnya. Selang beberapa lama babi putih tersebut merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, perutnya kian mmbuncit, ternyata ia mengandung.

Setelah genap usia kandungannya, bayinya lahir dengan selamat, berupa seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu diletakkan di atas rerumputan. Kebetulan waktu itu Raja sedang berburu lagi bersama pengiringnya. Tiba-tiba Baginda mendengar suara tangis bayi. Setelah ditelusuri dari mana asalnya, ditemukan seorang bayi yang sebenarnya adalah anaknya sendiri. Dengan segera Baginda menggendong bayi itu dan dibawanya ke istana. Kemudian diserahkan kepada para pelayan. Bayi tersebut dinamakan "Nyi Dayang Sumbi". Makin hari, tumbuhlah "Nyi Dayang Sumbi" menjadi remaja putri yang cantik nan jelita.

Suatu hari "Nyi Dayang Sumbi" menemui ayahnya, dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang perapa dan bersemedi di hutan hanya ditemani anjingnya si Tumang yang merupakan jelmaan Dewa. Mula-mula kedua orang tuanya sangat terkejut mendengar keputusan "Nyi Dayang Sumbi", tetapi setelah ia mengemukakan alasannya, maka dengan berat hati kedua orang tuanya menyetujui rencana "Nyi Dayang Sumbi".

"Nyi Dayang Sumbi" tinggal di rumah bambu di dalam hutan. Pekerjaannya sehari-hari untuk mengisi waktu adalah menenun kain. Pada suatu hari ketika "Nyi Dayang Sumbi" sedang menenun kain, tiba-tiba teropong alat menenunnya jatuh ke kolong rumah melalui sela-sela lantai (bambu).

"Nyi Dayang Sumbi" merasa malas untuk turun mengambilnya dan secara iseng "Nyi Dayang Sumbi" bergumam 'Jika ada seseorang mau mengambilkan teropongku, kalau dia perempuan kuangkat sebagai saudara, jika laki-laki akan kujadikan suami.'

Tiba-tiba si Tumang datang ke hadapan "Nyi Dayang Sumbi" dengan menyerahkan teropong itu di mulutnya.

'Hah? Kau Tumang...! Bukan kau yang kumaksudkan!' pekik "Nyi Dayang Sumbi".

"Nyi Dayang Sumbi" benar-benar kecewa dan lemas sehingga ia tertidur pulas. Dalam tidurnya "Nyi Dayang Sumbi" seakan bermimpi berhubungan suami-istri dengan Tumang jelmaan Dewa. Hal ini menyebabkan dirinya hamil.

Beberapa bulan kemudian "Nyi Dayang Sumbi" melahirkan bayi yang diberi nama "Sangkuriang". "Sangkuriang" makin hari makin tumbuh dan sepuluh tahun kemudian sudah nampak sebagai remaja yang tampan.

"Sangkuriang" suka berburu di hutan, jika berburu ia selalu ditemani anjing si Tumang. Pada suatu hari "Nyi Dayang Sumbi" ingin dicarikan hati rusa. "Sangkuriang" menyanggupi permintaan ibunya dengan  senang hati. Berangkatlah "Sangkuriang" ke hutan bersama si Tumang.

Namun hari itu "Sangkuriang" sedang sial. Sudah sekian lama "Sangkuriang" tidak menemukan seekor hewan pun. Tengah dalam keputus-asaan, tiba-tiba lewatlah seekor babi putih. Segera "Sangkuriang" menyuruh anjingnya mengejar babi itu. Anjing itu segera mengejar si babi putih, namun setelah terkejar ia malah tidak berbuat sesuatu pada babi itu. Sebab si Tumang tahu bahwa babi putih itu adalah mertuanya sendiri yaitu ibunya "Nyi Dayang Sumbi".

'Tumang cepat gigit!' teriak "Sangkuriang".
Namun si Tumang hanya diam saja.
'Anjing bodoh!' teriak "Sangkuriang", lalu ia melemparkan tombaknya ke arah anjingnya sendiri, tewaslah si Tumang seketika itu. Perutnya dibedah hatinya diambil dibawa pulang

Hati itu dimasak dengan lezat oleh "Nyi Dayang Sumbi". Kemudian dimakan bersama-sama dengan "Sangkuriang". Usai makan "Nyi Dayang Sumbi" seperti biasa mencari si Tumang untuk diberi sisa-sisa makanan. Tapi "Nyi Dayang Sumbi" tidak mendapatkan si Tumang - suaminya itu.

'Kemana si Tumang?' Tanya "Nyi Dayang Sumbi".
'Ibu, anjing itu sudah mulai melawan perintahku, jadi dialah yang tadi kutombak dan kuambil hatinya' jawab "Sangkuriang" tanpa merasa bersalah.
'Apa kau bunuh si Tumang?' pekik "Nyi Dayang Sumbi".
'Benar Nu! Dia membendel!'
'Anak durhakaaa!' "Nyi Dayang Sumbi" mengambil centong nasi bekas makan lalu sekuatnya dipukulkan ke arah kepala "Sangkuriang".

"Sangkuriang" menjerit kesakitan dan mearikan diri dari rumah. Hatinya sangat sedih mmikirkan sikap ibunya, tak pernah sekalipun ibunya bersikap kasar kepadanya, tapi kali ini hanya gara-gara seekor anjing ia mendapat pukulan keras di kepalanya hingga terluka dan berdarah.

"Sangkuriang" bertekad tidak akan kembali ke rumah. "Sangkuriang" mengembara tak tentu arah sampai akhirnya bertemu dengan seorang pertapa sakti. "Sangkuriang" diangkat sebagai murid terkasih semua ilmu dilimpahkan kepada "Sangkuriang".  

Setelah gurunya meninggal dunia "Sangkuriang" meneruskan pengembaraannya. Dalam petualangannya "Sangkuriang" berkelahi dengan raja jin dan mengalahkan raja jin tersebut sehingga tunduk takluk dan bersedia diperintah apa saja oleh "Sangkuriang".

"Sangkuriang" terus mengembara hingga pada suatu hari di tepi sungai yang berair jernih, "Sangkuriang" bertemu dengan seorang gadis yang cantik luar biasa. "Sangkuriang" terpesona, si gadis juga menaruh hati. Akhirnya "Sangkuriang" tinggal bersama si gadis untuk waktu beberapa lama.

Pada suatu hari ketika mereka sedang bercengkerama, si gadis mencari kutu di kepala "Sangkuriang". Tiba-tiba si gadis terkejut melihat luka di kepala kekasihnya. Ia menanyakan sebab-sebab terjadinya luka itu. "Sangkuriang" menceriterakan apa adanya. Seketika itu terkejutlah gadis itu, ia bangkit berdiri.
'Kalau begitu kau adalah "Sangkuriang" anakku, anakku sendiri!' pekik gadis itu yang tak lain adalah "Nyi Dayang Sumbi". Sebagai wanita keturunan bidadari "Nyi Dayang Sumbi" memang tak pernah tua, wajahnya tetap cantik dan kelihatan tetap awet muda.

'Tidak mungkin! Jangan mencari-cari alasan!' kata "Sangkuriang".

"Nyi Dayang Sumbi" berusaha meyakinkan "Sangkuriang" dengan menceriterakan kejadian-kejadian paling berkesan di masa kecil "Sangkuriang", namun pemuda itu tetap tidak mau mempercayainya.

'Kisahmu memanh mirip dengan apa yang kualami,' kata "Sangkuriang". 'Tapi tidak mungkin kau ini ibuku. Ibuku pastilah sudah berusia lanjut dan tidak secantik dirimu.'

'Oh, Dewa... bagaimana ini bisa terjadi...' keluh "Nyi Dayang Sumbi".

'Bagaimanapun kau harus jadi istriku!' tegas "Sangkuriang".
'Tidak mungkin aku menikah dengan anakku sendiri' kata "Nyi Dayang Sumbi".

'Kau bukan ibuku. Dan aku bukan anakmu, sementara kita terlanjur jatuh cinta.'
"Sangkuriang" terus mendesak. "Nyi Dayang Sumbi" tak bisa menolak lagi. Ia bersedia menjadi istri "Sangkuriang" kalau pemuda itu mampu membuatkan sebuah telaga di puncak gunung, berikut sebuah perahu besar untuk bulan madu mereka. Semua itu harus dikerjakan dalam tempo semalam saja. Sebelum ayamberkokok semua harus sudah selesai.

"Sangkuriang" menyanggupinya. "Nyi Dayang Sumbi" terkejut, ia berharap pemuda itu menggagalkan niatnya demi mendengar syarat yang tidak masuk akal itu, tapi "Sangkuriang" malah menyanggupinya.

Memang tidak ada masalah dengan "Sangkuriang". Ia segera memanggil jin yang pernah ditaklukkannya. Jin itulah yang bertugas membuat telaga, sementara "Sangkuriang" membuat perahu besar.

Dalam kerisauan hatinya, "Nyi Dayang Sumbi" berdo'a, memohon pertolongan ewa. Sementara menjelang tengah malam semua pekerjaan "Sangkuriang" hampir selesai. Namun Dewa mengabulkan do'a "Nyi Dayang Sumbi". Seketika mentari mulai bersinar di ufuk timur, ayam berkokok, para penduduk bangun dan segera menumbuk padi.

Mengetahui hal ini jin-jin pekerja tak berani meneruskan proyek dari "Sangkuriang". Mereka segera menghilang. "Sangkuriang" sangat marah mengetahui hal ini. Pemuda sakti ini menendang perahu yang dibuatnya, ketika telungkup ke bumi perahu itu berubah menjadi sebuah gunung dan hingga sekarang dinamakan Gunung Tangkuban Prahu.

(Sumber: Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (Legenda), oleh MB. Rahimsyah).

0 komentar: