Sabtu, 20 November 2010

'IDENTITAS WANITA"

"Wanita", adalah topik yang selalu menarik untuk dibicarakan, baik oleh kaum pria maupun oleh kaum "wanita" sendiri."

Masalah "wanita" adalah suatu masalah yang selalu aktual yang tetap dibicarakan dari masa ke masa, dari berbagai pandangan bauk pandangan yang menghina, memanja-manjakan, mendewa-dewakan sampai pada pandangan yang menghendaki emansipasi.

Pada jaman yang sudah modern ini, masalah "wanita" juga tidak kalah hangatnya dengan masalah teknologi tinggi yang serba canggih dan rumit. Namun pada saat ini, bukan lagi membicarakan siapa "wanita" dan bagaimana haknya terhadap kaum pria, karena hal itu sudah jelas dan gamblang. Bagaimana mendudukkan "wanita" pada proporsi yang sebenarnya; bagaimana memikul tugas rangkapnya, baik sebagai istri, sebagai ibu dan juga sebagai anggota masyarakat; kemudian bagaimana membagi waktu seefisien mungkin sehingga tugas pokok tidak terabaikan; selanjutnya bagaimana mengatasi berbagai efek negatif yang melanda "wanita"-"wanita" modern abad sekarang, demoralisasi, dekadensi moral, kaburnya batas hak dan kewajiban kaum "wanita" dan sebagainya; adalah merupakan topik yang sangat menarik untuk dibicarakan.

Ada pepatah yang menyatakan bahwa "Wanita" adalah tiang negara". Kalau "wanita" itu baik, maka negara akan baik, dan kalau "wanita" itu bobrok, maka bobrok pulalah negara. "Wanita" adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidaklah begitu kelihatan. Akan tetapi bila rumah itu sudah condong, maka periksalah tiangnya. Apa yang terjadi sudah dapat diduga, ternyata tiangnya lapuk. Maka dari itu dalam pembangunan bangsa dan negara "wanita" adalah sangat memegang peranan, walaupun hal ini tidak begitu kelihatan. Hal itu harus kita akui, terutama dalam hal fungsi dan peranan "wanita" sebagai ibu rumah tangga. Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anaknya, maka dari itu ibu mempunyai tanggung-jawab yang besar (disamping ayah tentunya) untuk mengisi mental anak-anaknya yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Apabila dalam pengisian mental tersebut terjadi ketidak-beresan, maka rusaklah generasi penerus yang ada, sehingga tidak akan dapat membuahkan pucuk-pucuk pimpinan yang dapat diandalkan.


Di Indonesia, sejak masa Kartini, "wanita" mulai mendapat perhatian bangsa dalam proses panjang pembangunan bangsa Indonesia. Dan pada masa pembangunan sekarang ini, peranan "wanita" lebih diperhatikan. Pernyataan ini diperkuat dengan diangkatnya seorang Menteri yang mengurusi "wanita". Sebagai salah satu sasaran pembangunan, "wanita" hadir dengan segala permasalahannya yang lebih awal harus ditanggulangi sebelum kita lebih banyak mengharapkan peranannya dalam pembangunan ini. Masalah "wanita" yang diakibatkan karena kompleksnya kehidupan antara lain adalah "Wanita" Tuna Susila, Perawan Tua, janda dan sebagainya. Permasalahan-permasalahan tersebut harus menjadi pemikiran kita dan harus pula dicari alternatif pemecahannya, supaya mereka dapat lebih berperanan antara penuh dan aktif dalam pembangunan nasional yang sekarang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Kaum "wanita" dan permasalahan emansipasi tidaklah perlu repot untuk dipermasalahkan. Karena  apabila kita mau lebih meneliti dan memahami makna ajaran Islam yang tercakup dalam Al-Qur'an dan Sunnah, sudah jelas proporsi kedudukan serta pembagian tugas antara "wanita" dengan pria, baik peran yang berhubungan langsung dengan Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya atau peran "wanita" dalam masyarakat, keluarga, sosial dan negara. Semua itu sudah diterangkan secara jelas, hanya tergantung kita, mau atau tidakkah kita berkiblat pada agama kita sendiri yang berisi ajaran luhur.
 
Selama ini, kita akui atau tidak.... Sebagai "wanita" muslimah kita telah terlena dengan teori-teori ajaran Barat atau budaya mereka yang sepintas lalu kelihatan benar dan modern. Kita banyak terpengaruh dengan propaganda atau iklan-iklan yang dilemparkan kaum Barat. Itu merupakan kenyataan sosial ke-"wanita"-an yang ada sekarang berbicara seperti ini. Sistem pendidikan, mode pakaian, orientasi pemikiran atau budaya-budaya sosial lainnya seperti cara makan, minum, berjalan, bergaul, semuanya sudah dikotori, seolah-olah kita tidak mampu lagi keluar dari sistem yang seperti itu.

Persoalan emansipasi "wanita" sejak dulu masih hangat terus diperbincangkan dan diperdebatkan antara pro dan kontra, ternyata tidak pernah menemukan titik akhir yang memuaskan hingga banyak "wanita" sekarang memperalat emansipasi hanya sekedar untuk memudahkan mencari pekerjaan, bertindak dan bertingkah-laku. Sementara "wanita" kota nebgalami krisis identitas dan harga diri, bersaing dengan laki-laki dalam segala bidang, sedang "wanita" desa tetap tekun dengan ke-"wanita"-annya, setia dengan warisan leluhur mereka... bekerja dengan membanting tulang membantu suami untuk menghidupi asap dapur tanpa pernah tahu apa arti emansipasi itu. Namun dibalik itu semua mereka damai, hati penuh keikhlasan karena suami-suami mereka begitu kasih dan cintanya kepada istri-istrinya. Persoalan ini erat kaitannya dengan tugas dan tanggung-jawab "wanita" untuk dapat meniti kehidupan yang lebih Islami di masa yang akan datang. Hasil dari peranan "wanita" tidak berakhir dalam satu masa saja akan tetapi bertanggung-jawab kepada masa-masa yang akan datang, dimana bekal yang diberikan kepada anak-anaknya di masa kini akan menjadi warisan untuk cucu bahkan abadi sampai keturunan selanjutnya.

Di Indonesia, sebenarnya masalah emansipasi "wanita" sudah tidak menjadi permasalahan kagi. karena hal itu terletak pada "wanita" itu sendiri menyadari kesempatan yang manis ini dan dapat menggunakannya semaksimal mungkin, tanpa kehilangan ciri "wanita"wi. Dan juga pesona "wanita" sekarang adalah perpaduan antara: berpendidikan (intelegensi), berkemampuan, berkepribadian, wanitawi (feminim), fisik sehat dan... cantik (dalam arti menarik), tidak meninggalkan harkat "wanita", sadar sebagai warga negara, berbudi, aktif di masyarakat, punya semangat dan lain-lain. Suatu perbedaan tentang pandangan "wanita" dulu yang cukup dengan penampilan fisik, berbudi, manut-nurut dan lain-lain.

Kecantikan yang merupakan senjata andalan "wanita" (yang merupakan kecantikan lahiriah) semata-mata bukan lagi merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan dalam diri "wanita". Kecantikan yang hanya dapat dilihat dengan mata, sewaktu-waktu dapat saja punah ditelan waktu (proses ketuaan). Mungkin adanya alat kosmetika, operasi macam-macam untuk mempercantik diri, boleh dikatakan hanya merupakan asembling belaka. Namun yang penting dari semua itu adalah percaya diri yang dapat mengalahkan segala sesuatunya..

Pribadilah.... yang memegang peran dan hendaknya kita dari hari ke hari mengadakan perbaikan-perbaikan bukan untuk menjadi sempurna melainkan manusiawi..... Kehidupan ini silih berganti... Suka duka datang silih berganti. Keadaan pribadi yang selalu saja mengeluh bahwa hidup ini penuh dengan kemalangan sebenarnya dia sendiri yang memperlakukan kehidupannya, dirinya sendiri dengan kemalangan. Kekurangan yang biasa dikeluhkan banyak orang mengenal dirinya yang nampak dari luar terlalu pendek, gemuk, wajah tidak cantik dan masih banyak lagi. Namun kekurangan dari luar yang tidak nampak justru yang paling merugikan, inilah yang disebut neuriticism atau keresahan jiwa. Pribadi yang seterusnya merasa terganggu, tidak puas diri dengan keadaan, bukan hanya merusak kecantikannya tapi kelihatannya juga.

Ke-"wanita"-an adalah kebahagiaan sari ujudnya "wanita" dan ini nampak pada penampilannya dan sikapnya. "Wanita" boleh bekerja pada semua bidang profesi, malah dapat melebihi pria, namun harus tetap mempertahankan ke-"wanita"-annya. Hendaknya "wanita" tahu konsep diri yang memotivasi apa yag ingin dicapai. Dan semangat merupakan satu pancaran pesona tersendiri. Kalau kita bersemangat, binar-binar bahagia itu akan terasa, dan bias kebahagiaan merupakan satu pesona tersendiri.

Dalam perjalanan hidup ini, hendaknya kita tengok diri kita sebelum menilai orang lain....Dapat pula harga diri bisa jadi lebih merupakan rasa tinggi hati yang kebalikan dari rasa rendah diri yang tak teratasi... Juga sikap tegas bisa jadi lebih merupakan keras kepala tidak mau merasa salah. Apabila kita tidak mau menelaah diri sendiri, maka kita dapat terjerat dalam ruang lingkup diri sendiri yang sempit. Seringkali kita terjerumus kebiasaan membeberkan kesulitan hidup, ataukah selalu saja berbicara tentang masa silam yang gemilang. Karena orang lainpun mempunyai kesulitan bisa jadi lebih parah dari kesulitan kita. Begitu juga kemungkinan besar sekali masa silam mereka jauh lebih gemilang.

Kecantikan dapat dikembangkan, kebahagiaan dapat diraih hanya apabila kita telah berdamai dengan kehidupan, menerima keadaan diri sendiri. Menyadari akan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita, merubah apa yang perlu diubah serta menerima dengan keikhlasan apa yang tidak dapat diubah. Demikian juga kebahagiaan yang mendalam didapat apabila kita membagi rasa, membagi saat-saat dan waktu serta pemikiran dengan sesama kita... tentu juga membagi keindahan, kecantikan.... Karena keindahan... kecantikan... sebenarnyalah adalah sikap hidup.....

 
Kalau kita bicara pesona pribadi "wanita", seharusnya juga tidak terlepas dari pesona pria. Sebab apabila "wanita" mengembangkan pesonanya, menggosoknya dan berkilau bagai berlian, sedangkan prianya tidak, akan terjadi ketidak seimbangan. Selamanya, tidak seimbang itu tidak baik. Pria, juga perlu menumbuhkembangkan pesonanya......    .  


0 komentar: