Rabu, 12 Mei 2010

"POTENSI ALAM DAN POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA"

"Manusia dapat "hidup" dan berkembang dengan bergantung kepada kondisi "alam" lingkungannya yang disebut sebagai natural resource, dan pola ke"hidup"an "masyarakat".



Pola ke"hidup"an pedesaan di Indonesia, sangat dekat dengan potensi "alam". Hal ini dikarenakan:

1. Secara umum geografis Indonesia merupakan sumber "alam" yang sangat potensial dan kaya untuk dieksploitasi.


2. Pada saat ini tingkat teknologi yang dimiliki masih rendah dan belum merata dikuasai di semua wilayah, dalam arti masih dapat ditingkatkan dalam dekade mendatang melalui proses transfer teknologi yang efektif.


3. Jumlah penduduk yang semakin bertambah yang menuntut lebenstraum baru dan dengan profesi baru dalam menguasai "alam".


Akan lebih efektif dan produktif apabila pembangunan desa mendasarkan pada karakter geografis serta karakter dan talent (bakat) "masyarakat" yang bersangkutan. Maka dari itu mekanisme pembangunan desa perlu diusahakan dapat berlandaskan pada potret potensi daerah, sebagai potensi sumber daya "alam" maupun sumber daya insani. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan mapping desa yang dapat menggambarkan kondisi fisik desa sebagai potensi dan gambaran tentang bakat "masyarakat" dalam memahami dan mahir untuk menguasai potensi "alam" tertentu. Hal ini tidak berarti bahwa tidak perlu menghadapi masalah dan hambatan "alam" dan kondisi kemampuan "masyarakat" dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.


Pembangunan "masyarakat" desa harus tetap memelihara nilai-nilai luhur "masyarakat", berupa adat dan tradisi, dan menghargainya untuk tidak menghambat proses pertumbuhan dan perubahan ke"hidup"an "masyarakat" ke tingkat yang lebih baik. Modernisasi yang mendukung cara hidup lebih baik, perlu di"masyarakat"kan, namun disamping itu adat istiadat harus tetap dijunjung dan yang bersifat mengikat dan mengungkung "masyarakat" perlu dimodifikasikan.


Pengaruh teknologi dan ke"hidup"an modern secara perlahan tetapi pasti akan mempunyai pengaruh sampai ke pelosok-pelosok desa. Untuk dekade mendatang, diprediksikan hanya kondisi geografis daerah yang masih merupakan hambatan untuk membuka isolasi, sehingga "masyarakat" desa akan terbuka untuk komunikasi dan informasi. Di samping itu usaha-usaha pemerintah dalam bernagai faktor sudah terasa dampaknya terhadap keterbukaan fisik tersebut.


Hal ini berarti bahwa dalam segi ke"hidup"an sosial, ekonomi dan politik, perubahan-perubahan yang terjadi di bagian dunia lain, akan mempunyai dampak terhadap pola ke"hidup"an di desa, terutama dampak terhadap tingkat ke"hidup"an ekonomi desa. Harga-harga komoditi yang dihasilkan oleh desa, fluktuasinya akan banyak ditentukan oleh fluktuasi harga di pasaran dunia. Ke"hidup"an seperti ini suatu ketika dapat mendorong peningkatan perekonomian desa, pada suatu masa dapat pula memukul pertumbuhan tingkat kemakmuran desa, terutama bagi warga desa yang usaha produksinya sebagian besar memiliki sifat ketergantungan kepada pasaran dunia.


Aspek ekonomi yang dapat mempengaruhi bahkan mendominasi aspek-aspek ke"hidup"an sosial di pedesaan kemungkinan dapat terjadi, dalam kurun waktu mendatang, sebagai akibat tingkat keterbukaan desa, modernisasi desa dan tingkat kemampuan dan kesejahteraan ekonomi "masyarakat" desa. Walaupun akibat negatif yang selalu harus diwaspadai mungkin saja dapat terjadi, akan tetapi mekanisme perkembangan ini memang harus terjadi, karena proses atau mekanisme perkembangan.


Dampak ekonomi internasional dapat pula merambat ke masalah sosial budaya dan politik "masyarakat". Di sinilah sangat diperlukan kesiapan mental ideologis bangsa yang harus mendarah daging di tingkat "masyarakat" desa. Pengaruh ideologis bagian dunia lain, selain belum tentu cocok dengan sifat dan karakter bangsa khususnya "masyarakat" pedesaan juga infiltrasi budaya dan politik yang lambat laun dapat merusak atau menghapus nilai budaya bangsa, yang memang dari beberapa segi pandangan praktis sudah tidak sesuai lagi. Nilai budaya bangsa tidak semata-mata berorientasi kepada ke"hidup"an praktis, namun juga kepada keanggunan dan religius, yang masih sulit ditemui pada budaya asing.


(Sumber: Pembangunan "Masyarakat" Desa; Asas, Kebijaksanaan, dan Manajemen, Oleh H. Sumitro Maskun).

0 komentar: